Letter From Heaven

Letter From Heaven

1

Author             :  Rina Cho

Genre              :  Romance & Fantasy

Rate                 :  PG 13

Main Cast        :  1. Kim Jonghyun SHINee

2. Park Boyoung as Yoon Hyena

Length             :  Vignette

Poster              :  Cafeposterart.wordpress.com (Melurmutia)

A/N   :  Ini FF pertama yang saya kirim kesini. Jadi, tolong tinggalkan komentar, kritik, saran, ataupun pertanyaan, ya. Please don’t be silent reader.

=====LETTER FROM HEAVEN=====

07.00 PM

Seorang namja (laki-laki) berpostur tubuh 175 cm dalam beberapa menit lagi akan tiba di ambang pintu rumahnya. Dari tempatnya saat ini saja, sudah mulai kelihatan rumah bertingkat dua milik namja itu. Namja itu adalah Kim Jonghyun. Ia biasa dipanggil Jonghyun oleh orang-orang terdekatnya. Jonghyun membuka pintu gerbang rumahnya. Ia lalu melewati kotak surat yang dalam keadaan setengah terbuka sambil berjalan ke arah rumahnya. Tangan Jonghyun yang hendak membuka pintu rumahnya, terhenti sejenak begitu sesuatu mengganggu pikiran Jonghyun.

“Sepertinya tadi ada surat” gumam Jonghyun sendiri.

Jonhyun berjalan ke arah kotak surat yang terletak di pekarangan rumahnya. Jonghyun lalu membuka kotak surat yang sudah berkarat karena termakan waktu itu. Benar! Di dalamnya terdapat sepucuk surat. Tadi, kotak surat itu dalam keadaan setengah terbuka. Sehingga, Jonghyun dapat melihat keberadaan surat itu. Jonghyun membuka amplop surat itu, lalu membaca surat yang terdapat di dalamnya.

(Jl. Yongsan-Gu No. 152, Seoul)

Ternyata, isi surat itu hanyalah sebuah alamat yang entah alamat apa itu. Jonhyun mengernyitkan dahinya. Alamat apa itu, bahkan ia tidak mengetahuinya. Yang pasti, alamat itu dekat dengan rumahnya yang terletak di Jl. Yongsan-gu No. 2. Parahnya, tidak ada identitas dari si pengirim. Apakah si pengirim itu lupa mencantumkan identitasnya? Tidak mungkin! Jika ya, bagaimana bisa surat ini sampai di tangan Jonghyun ? Lalu, apakah orang jahil yang sengaja memasukan surat ini ke dalam kotak surat Jonghyun? Apapun itu yang pasti Jonghyun tidak mau ambil pusing mengenai hal ini. Jonghyun membuang surat itu ke bawah. Lalu, ia memasuki rumahnya. Selama 3 tahun terakhir ini, Jonghyun memang tinggal sendiri di rumahnya.

Jonghyun membuka bungkus kopinya, lalu menuangkannya ke dalam secangkir gelas. Dituangkannya lah air panas untuk menyeduh kopi itu. Sebelum diseduh, tentunya harus diaduk terlebih dahulu. Jonghyun lalu mengaduk kopinya itu. Kopi pun sudah siap untuk diminum. Jonghyun lalu meminum kopinya. Tiba-tiba, ia tersedak hebat.

“Panas! Aku lupa kalau kopiku masih panas!” gerutu Jonghyun.

Jonghyun tersedak karena ia meminum kopi yang faktanya masih dalam keadaan panas. Bagaimana bisa Jonghyun lupa kalau kopinya itu masih panas? Apakah karena saat ini masalah surat tadi masih mengganggu pikirannya? Yang jelas, jawabannya hanya Jonghyun dan Tuhan lah yang tahu.

Jonghyun membawa secangkir kopinya ke kamarnya yang berada di lantai dua. Tentunya, ia harus menaiki belasan anak tangga untuk sampai di lantai dua, tempat kamarnya berada. Jonghyun duduk di sofa yang berada di depan televisi yang terdapat di dalam kamarnya. Kamar milik Jonghyun bahkan lebih luas dari luas dua kelas di sekolahnya. Jonghyun lalu meletakan secangkir kopinya di meja di sebelah sofa tempat ia duduk. Tangan Jonghyun meraih remote televisi, lalu jari tangannya menekan tombol berwarna merah untuk menyalakan televisi itu. Televisi itu pun menyala. Jari-jari Jonghyun dengan lihai menekan-nekan tombol remote itu untuk mengganti-ganti channel. Jonghyun berdecak kesal. Tidak ada channel yang menayangkan acara yang menarik menurutnya untuk saat ini.

“Mengapa semua channel menayangkan drama? Oh ayolah, aku ini bukan gadis remaja ataupun ahjuma. Jadi, tidak mungkin aku menyukai drama. Dan dimana film-film action dari barat? Apakah Korea Selatan sudah bangkrut sehingga tidak bisa membeli film dari luar negeri?” gerutu Jonghyun.

Jonghyun menghela nafas panjang. Lalu, ia memutuskan untuk mematikan televisi kemudian pergi tidur. Ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur yang dapat menampung dua orang. Lalu, Jonghyun memejamkan matanya. Tidak lama setelah itu, Jonghyun mulai tertidur lelap. Namja bernama Kim Jonghyun itu memang sangat mudah untuk tertidur.

*****

06.15 AM

Jonghyun mengunci pintu rumahnya. Dengan seragam sekolahnya yang melekat rapi di tubuhnya dan juga tas punggungnya yang menggantung di bahu, Jonghyun sudah siap untuk berangkat ke sekolahnya, yaitu Jaewon High School.

Jonghyun memang selalu membiarkan kotak suratnya dalam keadaan setengah terbuka. Alasannya sudah dapat diketahui bukan? Agar Jonghyun dapat mengetahui apakah di dalamnya terdapat surat atau tidak. Jonghyun membelalakan matanya. Ia bahkan sampai mengernyitkan dahinya.

‘Surat lagi? Apakah surat yang sama? Ah, tidak mungkin!’ batin Jonghyun.

Jonghyun mempercepat langkahnya ke arah kotak surat itu. Lalu, ia membuka kotak surat itu dengan kasar. Diambilnya surat itu, lalu dibukanya amplop berwarna biru tua itu. Kemudian, didapatinya sebuah surat didalamnya.

(Jl. Yongsan-gu No. 152, Seoul)

Warna amplop itu biru tua dan hal itu sama seperti amplop pembungkus surat yang kemarin. Isi surat itu? Sama persis seperti surat kemarin. Apakah terdapat identitas si pengirim? Jangan harap! Surat yang dipegang Jonghyun kini sama persis dengan surat yang kemarin, bahkan tidak ada bedanya. Siapa yang berani memasukan kembali surat yang faktanya sudah dibuang oleh si penerima surat ke dalam kotak surat itu lagi?

‘Mungkin, orang ini benar-benar ingin mempermainkanku. Tapi, sebenarnya alamat apa ini?’ tanya Jonghyun dalam hati.

Kini, Jonghyun merubah tempat tujuannya. Tadinya, tempat tujuannya adalah sekolah, tapi ia mengubahnya menjadi alamat yang tertera di surat itu. Mengenai membolos sekolah, hal itu tidak dipedulikan lagi oleh Jonghyun. Yang jelas, jika Jonghyun sudah penasaran, ia pasti akan terus mencari tentang hal itu sampai ia dapat.

*****

Tidak ada! Jonghyun sudah mengelilingi Jl. Yongsan-gu, tetapi yang terakhir hanya sampai no.151. Artinya tidak ada Jl. Yongsan-gu No. 152 seperti yang tertera di surat itu. Jonghyun berdecak kesal. Seharusnya, ia menyadari bahwa hal itu hanya tipuan konyol dari orang yang tidak bertanggung jawab. Jonghyun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Tapi, tunggu dulu! Tadi, Jonghyun melalui jalan yang mana? Sekarang, ia harus ke kiri atau ke kanan atau mungkin lurus? Jonghyun berdecak kesal lagi sambil mengacak rambutnya frustasi.

“Dan hebatnya sekarang aku tersesat. Sekarang, aku harus kemana?” tanya Jonghyun putus asa.

Tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi, Jonghyun berjalan ke kiri. Sewaktu berumur 9 tahun, Jonghyun pernah tersesat dan saat itu, ia selalu ke kiri setiap ada persimpangan jalan dan akhirnya ia berhasil bertemu orangtuanya yang sedang mencari-carinya kembali. Semenjak saat itu, Jonghyun beranggapan kalau kiri adalah yang terbaik. Jonghyun menguatkan hatinya kalau ia pasti mengambil jalan yang benar. Setelah berjalan beberapa langkah, Jonghyun tersenyum lebar ketika matanya mendapati tulisan Jl. Yongsan-gu No. 152.

“Jl. Yongsan-gu No. 152 benar-benar ada!” pekiknya kegirangan. Setidaknya, walaupun Jonghyun tidak menemui jalan pulang menuju rumahnya, ia berhasil menemukan Jl. Yongsan-gu No. 152.

Jonghyun membelalakan matanya ketika mendapati sebuah tempat yang sangat indah. Jonghyun mempercepat langkahnya untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tempat itu. Jonghyun pun sampai di tempat itu. Ternyata tempat itu adalah sebuah taman yang sangat indah. Karena terlalu indah, bahkan jika kita berada disana, kita akan menanggapnya sebagai surga. Jonghyun memutuskan untuk berkeliling taman itu sebentar. Jonghyun lalu duduk di sebuah kursi panjang yang terletak di tengah taman. Ia lalu mengamati sekelilingnya dengan senyuman yang tak henti-hentinya.

“Indah sekali taman ini! Jika aku punya pacar, aku pasti akan membawanya kesini. Ia pasti akan senang sekali” gumam Jonghyun sendiri.

Jonghyun bangkit berdiri dari kursi panjang itu. Ia memutuskan untuk berkeliling taman itu lagi. Taman itu ditumbuhi oleh berbagai macam bunga. Bunga mawar, bunga lavender, bunga lili hadir menghiasi taman itu. Oh, dan lebih mengesankannya lagi, bunga tulip juga dapat kita temui disitu yang merupakan bunga kesukaan Jonghyun.

Hari sudah mulai gelap. Sebenarnya, sangat aneh jika matahari mulai tenggelam. Bagaimana bisa hari ini cepat sekali berakhir? Bukankah tadi Jonghyun berangkat jam 06.15 AM? Kira-kira, perjalanan Jonghyun kesini ditambah waktu Jonghyun berkeliling taman hanya 3 jam. Jadi, seharusnya sekarang ini masih jam 09.15 AM. Entah hari ini yang aneh ataupun tempat ini yang aneh, yang jelas Jonghyun memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena hari mulai gelap.

“Tolong…” teriak seseorang.

Telinga Jonghyun dengan jelas mendengar teriakan seorang perempuan yang meminta tolong. Sifat ringan tangan yang dimiliki Jonghyun, jelas membuatnya tidak bisa menolak untuk membantu perempuan itu. Jonghyun berlari ke arah sumber suara itu. Lalu, diadapatinya sebuah rumah kaca yang sangat bercahaya, bahkan sampai mengganggu pengelihatan Jonghyun. Jonghyun mengerjap-ngerjapkan matanya untuk beberapa saat. Sekarang ini, ia dapat melihat bahwa ada seorang perempuan di dalam rumah kaca itu walaupun samar-samar.

“Tunggu sebentar, nona. Aku akan mendobrak pintu ini, jadi harap mundur beberapa langkah” kata Jonghyun.

“Tidak! Jangan dobrak pintunya!” perkataan perempuan itu membuat Jonghyun yang hendak mendobrak pintu rumah kaca itu, mengurungkan niatnya.

“Katakan aku ingin pintu ini terbuka, maka pintu ini akan terbuka. Aku mohon, siapapun kau yang ada di luar. Aku ingin keluar dari sini” lanjut perempuan itu. Meskipun perkataan perempuan itu sebenarnya tidak dapat diterima oleh akal sehat, Jonghyun mempercayai hal itu. Ia menuruti perkataan perempuan itu.

“Aku ingin pintu ini terbuka” kata Jonghyun sesuai perintah perempuan itu.

Klekk

Pintu rumah kaca itu terbuka. Perempuan itu langsung berlari, lalu memeluk Jonghyun erat. Perempuan itu menangis histeris tanpa melepaskan pelukannya. Jonghyun mengelus punggung perempuan itu secara berulang-ulang. Ia berusaha untuk menenangkan perempuan itu. Akhirnya, tangisan perempuan itu mereda. Lalu, perempuan itu melepaskan pelukannya.

“Ma…maafkan aku, tuan. Aku…“ perempuan itu menggantung perkataannya. Jonghyun tersenyum manis pada perempuan itu.

“Tidak apa-apa” katanya lalu menepuk pelan bahu perempuan itu.

“Aku terjebak disini selama 20 tahun dan kau membantuku untuk keluar dari rumah kaca itu. Terimakasih, tuan” kata gadis itu lalu membungkuk 90 derajat. Jonghyun mengernyitkan dahinya. 20 tahun? Sekarang ini saja umur Jonghyun 19 tahun. Lalu, berapa umur perempuan yang terlihat seumuran dengannya itu?

“Lalu, umurmu berapa, nona?” tanya Jonghyun perlahan.

“Maaf, aku lupa. Aku benar-benar tidak ingat. Yang pasti, aku dapat keluar dari rumah kaca itu setiap 20 tahun sekali jika ada orang yang mengucapkan kalimat yang tadi. Oh ya, setelah matahari terbit, aku akan kembali terkurung di rumah kaca itu” jelas gadis itu.

“Terkurung lagi? Bagaimana bisa? Siapa yang mengurungmu? Katakan saja padaku. Aku… ingin terus bersamamu” kata Jonghyun. Perempuan itu tersenyum simpul pada Jonghyun, lalu menarik tangan Jonghyun untuk membawa Jonghyun ke suatu tempat.

“Kita mau kemana?” tanya Jonghyun. Perempuan itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Jonghyun sambil tersenyum.

“Ke tempat yang paling indah di taman ini. Ayo, matahari akan terbit 2 jam lagi”

Mereka berdua berlari sambil berpegangan tangan layaknya adegan romantis di drama Korea. Jonghyun mulai merasakan ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Mengapa irama jantungnya tidak seperti biasanya? Saat ini, iramanya lebih cepat dari biasanya. Mungkinkah? Tapi, jika Jonghyun menyukai perempuan itu, artinya ia harus rela sebentar lagi akan berpisah dengan perempuan itu dan harus menunggu 20 tahun lagi. Lagipula, 20 tahun itu bukanlah waktu yang sebentar.

Perempuan itu membaringkan tubuhnya di atas hamparan rumput yang hijau, lalu Jonghyun mengikuti perempuan itu. Mereka berdua menatap ke atas sambil mengamati bintang-bintang di langit. Dengan diam-diam, Jonghyun mengamati wajah perempuan itu yang sedang serius menghitung bintang-bintang.

“Aku hitung ada 13 bintang. Bagaimana denganmu?” tanya perempuan itu tanpa menoleh ke arah Jonghyun. Jonghyun tidak menjawab. Tapi, ia masih mengamati wajah perempuan itu tanpa berkedip sekalipun. Perempuan itu akhirnya menoleh ke arah Jonghyun dan mendapati Jonghyun sedang mengamati dirinya. Perempuan itu mengerucutkan bibirnya.

“Mengapa kau tidak memperhatikan perkataanku?” tanyanya kesal. Jonghyun tidak menjawab lagi. Tapi, dia masih mengamati wajah perempuan itu.

“Cukup!” kata perempuan itu lalu bangkit berdiri. Jonghyun pun juga bangkit berdiri. Perempuan itu  hendak meninggalkan Jonghyun. Tapi, Jonghyun lebih dulu menarik tangannya. Perempuan itu berbalik, lalu menatap Jonghyun geram.

“Kenapa? Ada apa lagi?” perempuan itu meninggikan nada bicaranya.

“Hey, aku minta maaf. Sudah bisakah?” tanya Jonghyun santai.

“Aku memaafkanmu. Tapi, mengapa kau lakukan itu semua?” tanya perempuan itu. Jonghyun mengangkat bahunya asal.

“Tidak tahu kenapa aku ingin terus mengamati wajahmu, nona. Mulai dari wajahmu ketika kau tersenyum, wajahmu ketika kau serius, dan wajahmu ketika kau marah. Aku ingin mengamati wajahmu dalam ekspresi apapun” jelas Jonghyun. Wajah perempuan itu memerah. Perempuan itu tersipu malu karena perkataan Jonghyun. Jonghyun lalu tersenyum pada perempuan itu.

“Oh ya, dan juga wajahmu ketika kau tersipu malu” Jonghyun terkekeh. Perempuan itu mengerucutkan bibirnya, lalu memukul bahu Jonghyun pelan.

“Ah, hentikan! Aku mohon hentikan” pinta perempuan itu. Ekspresi Jonghyun langsung berubah 180 derajat. Sekarang ini ekspresinya sangat serius, seperti ingin mengungkapkan sesuatu.

“Sebenarnya… aku menyukaimu, nona” ungkap Jonghyun. Perempuan itu terlihat bingung dengan perkataan Jonghyun. Tapi, ia lalu tersenyum.

“ Tapi, kau tidak akan mungkin bersamaku, tuan. Lagipula, sebentar lagi aku akan terkurung di rumah kaca itu lagi”

“Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa” jawab Jonghyun cepat, “Tapi, maukah kau menjadi pacarku?” lanjut Jonghyun.

“Tapi, waktuku tinggal 15 menit. Kau tidak apa-apa?” tanya perempuan itu khawatir.

“Ya, aku tidak apa-apa. Meskipun, aku  hanya mempunyai waktu 15 menit bersama pacarku. Meskipun, aku harus menunggu 20 tahun lagi. Meskipun, aku harus menunggu beratus-ratus tahun lagi. Aku tidak apa-apa. Aku akan menunggumu sampai kapan pun, nona” ungkap Jonghyun.

“A…aku juga menyukaimu, tuan” kata perempuan itu. Jonghyun tersenyum manis pada perempuan itu. Tapi, tiba-tiba, Jonghyun mengernyitkan dahinya.

“Oh ya, namamu siapa?” tanya Jonghyun.

“Maaf, aku lupa. Aku tidak ingat apapun, tuan”

“Baiklah, kalau begitu namamu Hyena. Ya, bagaimana kalau Yoon Hyena?” tanya Jonghyun. Hyena mengangguk sambil tersenyum.

“Aku menyukainya. Jadi, namaku Yoon Hyena, ya? Dan kau?”

“Kim Jonghyun. Oh ya, tolong tunggu sebentar. Aku ingin ambil kamera di tasku” kata Jonghyun. Jonghyun lalu membuka tasnya, lalu mencari-cari keberadaan benda bernama kamera itu. Ia berniat untuk mengabadikan kenangannya bersama Hyena sebelum Hyena kembali terkurung di rumah kaca itu lagi.

“Hyena, senyum, ya?” tanya Jonghyun. Hyena mengangguk pelan.

Satu..dua..tiga..

“Ok, sudah. Mau lihat hasil fotonya? Pasti-“ perkataan Jonghyun terpotong begitu ia mendapati Hyena sudah tidak berada disampingnya lagi. Jonghyun panik, bahkan sangat panik. Jonghyun melihat hasil fotonya terlebih dahulu. Jonghyun berdecak kesal, lalu mengacak rambutnya frustasi.

“Sial! Di foto ini hanya ada aku. Berarti, Hyena sudah menghilang saat kami berfoto” gerutu Jonghyun.

“Rumah kaca! Ya, aku harus kesana” lanjut Jonghyun.

Jonghyun berlari sekencang yang ia bisa saat ini. Nafasnya terengah-engah, bukannya makin melambat, ia justru makin mempercepat langkahnya. Ia menghentikan langkahnya ketika rumah kaca tinggal beberapa langkah lagi dari tempatnya. Lalu, berusaha menstabilkan nafasnya sambil berjalan perlahan mendekati rumah kaca itu. Kira-kira, tinggal 4 langkah lagi.

Satu langkah…dua langkah…tiga langkah…

Brukk

“Aarrgghh…” rintih Jonghyun kesakitan.

Jonghyun membuka matanya. Dilihatnya, ia kini berada di lantai. Dan didapatinya pula teman-teman sekelasnya mengerumuninya. Ada apa? Mengapa semua orang menatapnya khawatir?

“Kim Jonghyun, kau gila! Bagaimana bisa kau tidur lalu jatuh ke bawah? Apakah kau tidak bisa diam jika tidur?” tanya salah seorang teman Jonghyun, yaitu Lee Taemin. Jonghyun lalu bangkit berdiri, kemudian duduk kembali di tempat duduknya.

“Apa? Apa maksudmu? Tadi, aku berjalan mendekati rumah kaca, tapi mengapa aku ada di sekolah sekarang?”

Kring…Kring…Kring…

Bel berbunyi. Itu artinya, semua kelas di Jaewon High School segera dimulai. Murid-murid di kelas Jonghyun yang merupakan kelas 3-3 sibuk untuk kembali ke tempatnya masing-masing secepat mungkin sebelum guru yang mengajar masuk ke dalam kelas. Sementara itu, Jonghyun masih terdiam kebingungan mengenai masalah tadi.

‘Jadi, yang tadi hanya mimpi,  ya? Tapi, seperti sangat nyata’ gumam Jonghyun dalam hati.

“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru” kata Guru Cho setibanya di depan kelas. Anak-anak kelas 2-3 menyambut hal itu dengan teriakan histeris. Murid perempuan berharap kalau murid barunya itu adalah seorang laki-laki, sedangkan murid laki-laki berharap murid barunya adalah seorang perempuan. Tapi, hal itu tidak dapat mengambil perhatian seorang Kim Jonghyun.

“Ayo, masuk” kata Guru Cho pada murid itu. Murid baru itu masuk. Ternyata, murid barunya adalah seorang perempuan. Rambutnya panjang, kulitnya seputih susu, matanya sipit. Murid itu tersenyum pada teman-teman barunya.

“Hai, semuanya. Aku Yoon Hyena. Salam kenal semuanya” kata Hyena ramah.

‘Apakah aku tidak salah dengar? Yoon Hyena katanya? Apakah dia Hyena…yang ku kenal?’ tanya Jonghyun dalam hati.

Jonghyun langsung menoleh ke depan. Lalu, didapatinya gadis yang mirip dengan Yoon Hyena pacarnya tengah berdiri di depan kelasnya. Jonghyun terus mengamati wajah Hyena yang tak henti-hentinya mengumbar senyuman.

“Hyena, kau bisa duduk disana di sebelahnya Kim Jonghyun” kata Guru Cho sembari menunjuk bangku di sebelah Jonghyun.

Irama jantung Jonghyun mendadak lebih cepat lagi. Semakin Hyena mendekat ke Jonghyun, semakin cepat pula irama jantung Jonghyun. Jonghyun berharap kalau gadis itu adalah Yoon Hyena pacarnya.

Hyena menaruh tasnya, lalu duduk di bangkunya. Ia mengamati sekeliling kanannya. Lalu, sekarang ia mengamati sekeliling kirinya, sehingga ia bertemu pandang dengan Jonghyun. Hyena tersenyum pada Jonghyun.

“Hai, salam kenal, ya” sapa Hyena ramah.

“Apakah aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Jonghyun perlahan.

“Tentu. Apa itu? Aku senang jika bisa membantu orang lain”

“Yoon Hyena, apakah kau mengingatku?” tanya Jonghyun.

===END===

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

24 thoughts on “Letter From Heaven

  1. errr, gantung banget. aku punya saran, kayaknya kamu terlalu detil dalam penyampaian kegiatan Jonghyun dan terlalu banyak menggunakan kata Jonghyun di dalamnya. tapi, nggak papa. baru latihan nuliskah?
    keep writing, ya!

  2. suka bikin cerita yang ngegantung ya? Hahaha sama aku juga.
    Kalo ceritanya aku udah suka sih, tapi mungkin paragrafnya ya? Jangan bikin terlalu panjang, malahan jadi susah mau baca bahkan jadi keliatan males gitu kalo numpuk panjang gitu.
    Aku tunggu karya berikutnya, Fighting!

  3. Untuk yg udh lama baca ff tolong kasih tau aku ya.. Aku baru pertama kali baca ff x_x aku bingung ini msh part 1 ato udh the end?

  4. Teganya kau gantung rasa ingin tahuku… thor…
    Tapi lumayan buat aku penasaran sepanjang cerita…
    Boleh juga kalau mau dibuat sekuelnya nih…
    idenya udah bagus…
    Jadinya kayak ‘I knew I loved You Before I Met You…’
    Insting akan kehadiran soulmate…
    *ngomong apaan sih…

  5. Endingnya gitu bgt yah, tor? U_U
    tapi ceritanya bagus.. hihihihihhiii… Jjong , oh Jjong udah tau juga kopi baru disiram udah langsung minum aja xD xD xD
    Bikin sequelnya yah…🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s