Musisi Jalanan

Musisi Jalanan

Author: Bibib

Main Cast: Lee Jinki, Kirana (OC)

Support Cast: Choi Minho, Hwayoung (OC), Kim Jonghyun

Genre: Life, friendship

Length: Vignette

Rating: General

 

Kirana namaku, warga negara Indonesia yang memilih merantau di negeri orang.

Sejak berkuliah di Seoul National University, ini baru pertama kalinya aku menjejakkan kaki kemari. Sejujurnya, tempat sejenis pusat perbelanjaan ini bukan favoritku. Aku lebih ingin mengunjungi kuil-kuil bersejarah, setidaknya itu jauh lebih bermanfaat plus lebih hemat.

Kalau saja bukan karena Hwayoung, teman sejurusanku, aku tidak akan sudi jauh-jauh datang ke Sinchon. Mengelilingi deretan toko penjaja produk fashion sama saja dengan membuang waktu, meskipun tidak bisa sepenuhnya disebut demikian.

Kalau kau mau tahu, sepanjang perkelanaan ini aku tidak hentinya menekuk wajahku. Kesal, jemu, sedikit ingin marah. Bagaimana tidak? Hwayoung mengajakku kemari untuk menemui Choi Minho, kekasihnya yang berkuliah di Yonsei University—yang kampusnya terletak di sekitar sini. Dan kau tahu apa? Setelah bertemu Minho, Hwayoung langsung menempel di lengan pria berwajah tampan itu, berjalan di depanku seolah aku ini tak kasat mata. Memilih baju pasangan untuk berdua, saling menjilat es krim kepunyaan pasangannya, dan yang terkonyol, dua sejoli sok mesra itu bahkan membuat stiker bertuliskan nama mereka. Ckck, norak dan seolah dunia hanya milik berdua.

Huh, kalau saja tidak ingat Hwayoung sangat berjasa membantuku memahami budaya Korea, kalau saja bukan Hwayoung yang menemaniku sejak pertama kali berkuliah di negeri Gingseng ini, aku sudah pasti akan mengamuk  padanya, detik ini juga, tidak perlu menunggu sampai Choi Minho berpamitan. Kacang lupa pada kulitnya, begitulah yang sempat terlintas dalam benakku.

Aku masih bisa menahan diri. Untung saja aku berasal dari Jakarta, ibu kota Indonesia yang penduduknya terbilang individualis. Aku mencoba bersikap layaknya warga Jakarta yang tengah duduk di atas bangku kereta listrik, yang tak peduli meski ada seorang nenek tua berdiri di dekatnya. Ups, perumpamaan yang terlalu sadis. Baiklah, singkatnya, aku mencoba untuk cuek. Hanya membuntuti tanpa protes lebih lanjut. Mereka beli baju pasangan, aku menjauh sedikit mencari coat untuk persiapan menghadapi musim dingin. Mereka beli es krim, aku bergeser ke penjual di sebelah kedai es krim, membeli ddukbokkie kesukaanku. Saat sepasang kekasih itu memasuki sebuah restoran… hei, tidak bisa. Aku tidak ingin duduk sendirian di meja restoran, salah-salah aku bisa melamun dan membuat orang berpikir bahwa aku adalah jomblo kesepian—yang berjalan-jalan seorang diri pada hari minggu ini.

Untunglah, kali ini Hwayoung masih sadar diri, ia mengajakku duduk bersama di satu meja. Aku patut berlega hati karena ini. Yah, meski…

“Kirana-ssi, kau ingin memesan makanan apa?”

Choi Minho yang bertanya barusan. Bagaimana dengan Hwayoung—temanku itu? Sepertinya wajar kalau aku menghembuskan napas panjang, melirik ke arah Hwayoung yang terlalu asik memandangi Minho sembari menopangkan dagu di punggung tangan.

“Terserah saja. Sama dengan kalian pun tidak apa,” kujawab singkat dan malas. “Aku sedang tidak lapar,” tambahku. Tentu bohong. Sesungguhnya aku sangat lapar, tapi aku sedang enggan makan. Setidaknya, makan di depan orang yang sedang pacaran memang terasa menyedihkan. Bukan hal yang mustahil, dua manusia terlanjur mesra di depanku ini akan saling bersuapan ria nanti—seperti bocah norak yang baru pertama kali punya pacar.

Oh, jangan pernah berpikir bahwa aku benci kenorakan ala kekasih hanya karena aku tidak punya kekasih. Aku punya, pernah punya, dan sekarang sudah putus karena kami tidak sanggup berhubungan dalam jarak yang terpisah jauh. Long distance relationship itu hanya wacana, keinginan selingkuh itu nyaris selalu ada—terutama bagi mantanku itu, pria tukang lirik wanita.

“Kau tidak lapar? Bagaimana bisa? Kita nyaris seharian berkeliling. Dalam keadaan normal saja sanggup menghabiskan dua porsi makanan berat. Sekarang kau mengaku tidak lapar?” Ternyata Hwayoung masih sadar juga, ia baru saja bertanya dan melontarkan tatapan curiga. Menelisik raut wajahku, mungkin.

Baguslah, setidaknya ia hafal kebiasaanku. Ckck, harusnya dia juga tahu bahwa aku tidak suka diabaikan.

Kudapati Hwayoung terdiam. Makin mengamatiku seolah ia baru saja bertemu seorang buronan yang sedang dicari dan ia harus mengingat wajahnya untuk bisa melapor pada polisi. Aku asumsikan dia sedang berpikir, menebak lebih tepatnya. Semoga saja ia sadar bahwa aku telah dibuat kesal olehnya. Orang Indonesia itu gemar tersenyum, sementara aku sama sekali tidak tersenyum. Harusnya ia tahu, aku tidak sedang baik-baik saja.

“Kirana-ya, kupesankan kau yangnyeom tongdak saja ya? Katamu, kau suka sekali ayam goreng. Kau wajib mencoba ayam goreng ala Korea yang satu ini.”

“Boleh juga, ide bagus.” Kuanggukkan kepala sebagai balasannya, sekarang aku mulai punya alasan untuk memaklumi tingkah lupa daratannya tadi. Setidaknya sekarang dia mulai memedulikanku.

Oppa, aku dan Kirana pesan ayam ya… Oh ya, bolehkah aku mengajak Kirana keluar sebentar? Kerumunan orang di seberang restoran sepertinya cukup menarik. Kau tidak keberatan menunggu di sini sampai pesanannya datang? Tidak akan lama, aku hanya ingin mengajak Kirana melihat sisi lain negara kita.”

Choi Minho mengangguk, tersenyum setelahnya. Aku menyerah, melihat wajah pria seperti itu memang akan membuat yeoja manapun terhipnotis.

“Kirana-ya, kajja!”

Lagi-lagi aku hanya menurut. Andai aku bisa seperti ini pada ibuku, menuruti apapun perintahnya tanpa membantah, tentulah aku sudah tidak takut mati karena dijamin masuk surga. Ah, aku berpikir terlalu jauh.

Hwayoung membawaku ke seberang jalan, menerobos kerumunan beberapa orang yang sedang berdiri hening mengelilingi dua orang … errr, di sini disebut apa? Kalau di negaraku, yang seperti ini disebut pengamen.

Mungkin inilah sisi lain yang dimaksud Hwayoung. Korea, negeri gudangnya boyband dan girlband, negeri yang penduduknya mulai berbondong-bondong menjadi artis, negeri dengan koleksi penyanyi bersuara indah yang namanya mulai merambati gelombang udara negara lainnya, ternyata punya juga sekumpulan orang yang disebut pengamen—pengais uang di jalanan, bahasa kasarku.

Yeah, di Jakarta sana jumlah pengamen membludak. Pemuda dengan gitar atau gendangnya, sampai kakek-kakek dengan rebananya—menyesaki jalanan ibukota, mengusik suasana di dalam angkutan umum, dan membuatku menggerutu setiap kali mendengar suara mereka.

Ini bukan perihal suaranya yang bagus atau jelek, ini tentang kemauan bekerja. Bagiku, mengamen tidak ada bedanya dengan mengemis, menadahkan tangan pada orang lain. Dan para pemuda, bisa-bisanya mengotori negara sendiri dengan menjadi kaum super pemalas. Ya, masih muda saja enggan mencari kerja.

Ralat, mengamen juga bekerja, memberikan penghasilan yang bahkan jauh lebih besar dibandingkan hanya menjadi penjaga toko kelontong. Aku tidak suka dengan orang-orang seperti itu, asal kau tahu.

Lupakan soal pengamen, bisa-bisa aku makin emosi hari ini.

Aku tahu, sebenarnya Hwayoung mengajakku bukan untuk satu tujuan saja. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Betul saja, dugaanku sepenuhnya tepat. Tidak lama, setelah kami berdiri di dalam kerumunan, ia berkata di telingaku, tidak bisa disebut berbisik karena suaranya masih bisa kudengar jelas di antara alunan gitar dan suara si musisi jalanan tadi.

“Kirana-ya … kau marah padaku? Iya, kau pasti kesal padaku karena sejak tadi aku terlalu sibuk dengan Minho. Maafkan aku … sejak kuliah, ini pertama kalinya aku bertemu Minho kembali.”

“Yah, alasanmu masuk akal. Tetapi kau tetap harus bertanggung jawab. Kau mengajakku, kau tidak boleh mengabaikanku. Kalau kau memang ingin berduaan saja dengan Minho, untuk apa kau mengajakku? Sesederhana itu saja.” Kutanggapi pelan. Tapi sepertinya tidak terbilang pelan, mengingat hanya aku dan Hwayoung yang berbincang di tengah khikmadnya alunan petikan gitar dan lagu yang dilantunkan. Entahlah, aku tidak tahu mengapa orang-orang itu bisa-bisanya serius menyimak, karena sejak tadi aku sama sekali tidak tertarik mendengarkan sajian musik dua orang musisi itu. Mereka pengamen, hanya peduli uang. Musik yang mereka persembahkan biasanya standar saja.

“Ya, ya, aku tahu aku salah. Baiklah, aku tidak akan beralasan lagi. Intinya aku salah, dan aku minta maaf padamu.”

“Kumaafkan, tapi jangan diulang. Kebiasaan ini akan terus kau bawa sampai tua, sampai kau kerja juga. Bagaimana kalau nanti kau mengabaikan bosmu hanya karena kau sedang asik berbincang dengan kekasihmu via telepon?”

Musik berhenti. Apa suaraku yang barusan itu terlalu keras? Orang-orang memutar kepalanya, mulai memandangku karena sang vokalis jalanan itu mulai menatapku tajam lebih dulu. Separah itukah kesalahanku? Bukankah sah-sah saja berbincang di tengah pertunjukan jalanan seperti ini?

Aku terdiam, meraih ponselku untuk mengetikkan beberapa deret kalimat—mengalihkan pembicaraan kami ke dalam ponsel.

Bisa kudengar permainan musik dilanjutkan. Syukurlah, aku tidak suka ditatap banyak orang dengan sorot mata aneh. Terlebih ini bukan di negaraku sendiri.

Kuhentikan tarian jemariku, selesai sudah aku mengetikkan pesan lumayan panjang untuk kawanku di sebelah, bunyinya:

Hwayoung-ah, aku mengatakan yang barusan bukan karena aku benci. Tapi kau memang perlu ingat kalau manusia manapun tidak suka keberadaannya tidak dianggap, kecuali ia adalah introvert tulen. Jadi, berjanjilah padaku untuk tidak melakukannya lagi, ya? Choi Minhomu itu memang tampan, tapi bahaya juga kalau ia sampai membuatmu melupakan dunia.

 

Hwayoung mencolek lenganku, meminta izin untuk meminjam ponselku. Mungkin ia akan mengetikkan balasannya. Aku tersenyum. Sekesal-kesalnya aku padanya, aku selalu bisa memaafkannya, terlebih ini hanya kejadian kecil. Dalam kisah pertemanan, pasti ada hal-hal pelik lainnya yang harus bisa diselesaikan dengan kepala dingin, yang membutuhkan kemampuan untuk saling memaafkan pula.

Ara, ara. Hei, tapi aku tidak suka kau mengatakan Minhoku tampan. Jangan-jangan besok kau naksir padanya dan merebutnya dariku?

Begitulah balasannya, dan aku spontan terkikik. Ya, pelan saja. Aku tidak ingin jadi sorotan orang-orang tadi lagi.

Balasan Hwayoung lucu. Bukan hal yang mustahil kalau besok-besok aku naksir Choi Minho, tetapi tentu aku tidak akan pernah tega mengambilnya dari temanku sendiri. Lagipula aku lebih tertarik dengan Kim Kibum, kawan sekelasku yang hobi sekali mencoret-coret kertas selama perkuliahan—menggambar sketsa ekspresi wajahnya sendiri, dan lantas memberikannya pada kawan yang duduk di sebelahnya, yang entah kenapa orang itu nyaris selalu aku. “Untukmu, agar kau selalu ingat bahwa kau punya kawan yang tampan selama berkuliah.” Bagaimana aku tidak jatuh hati jika nyaris setiap hari ia selalu berpesan demikian padaku.

Musiknya berhenti lagi, aku tahu ini bukan akhir lagunya. Apa aku melakukan sebuah kesalahan lagi? Apa tadi aku sempat tertawa tanpa sadar? Kuakui, mengingat Kim Kibum berhasil membuatku girang bukan main. Tapi aku tidak pernah tahu bahwa aku juga bisa sampai tidak sadar diri hanya karena pria.

“Nona, dengan hormat kuminta kau untuk mendengarkan.” Sang Vokalis bersuara, lalu menitahkan gitarisnya untuk melanjutkan petikan gitarnya.

Perkataannya barusan jelas membuat alisku mengernyit. Bisa-bisanya ia meminta dengan wajah dingin seperti itu. Kalau kau meminta, setidaknya ucapkan dengan ekspresi ramah.

Baiklah, baiklah, aku mengalah, malas ribut. Aku memperingatkan diriku untuk lebih berhati-hati. Tidak akan mengobrol, tidak akan berbisik, pun tidak akan terkikik. Aku memberi kode pada Hwayoung yang ternyata sudah lebih dulu diam, menyimak.

Sejujurnya aku tidak habis pikir, mengapa Hwayoung juga jadi bersedia menyimak? Apa memang diam-diam ia memperhatikan sejak tadi dan menyukai lagunya? Atau aku saja yang bebal? Orang Indonesia yang katanya paling sulit mendengarkan. Dalam rapat sarkal saja masih mengobrol.

Oke, mungkin salahku menampakkan sikap yang mengganggu. Memilih mundur ke belakang saja mungkin ada baiknya, menunggu Hwayoung selesai menonton. Setidaknya di belakang sana mataku lebih bebas bergerak mengamati pet shop yang terletak beberapa toko di sebelah koordinatku. Sepertinya tadi, sebelum masuk ke dalam kerumunan, sekilas aku sempat melihat seekor hamster lucu di etalasenya.

Kakiku baru saja akan melangkah mundur, dan olala … lagi-lagi musik berhenti.

Lama-lama aku keki pada dua orang musisi tadi. Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Mereka tidak mengizinkanku mundur?

Oh, atau apa ada aturan yang mengatakan ‘aku harus bayar kalau sudah menikmati persembahan mereka’, dan mereka barusan itu diam karena aku mundur sebelum melemparkan won ke depan keduanya? Baik, baik, beberapa won saja tidak apa. Meskipun sebenarnya aku benci harus membiasakan budaya yang tidak baik. Memberi pada pengemis hanya akan membuat mereka bertambah betah dengan profesinya dan membudayakan kemalasan pada mereka.

“Nona, kami ingin kau memperhatikan kami, itu saja, tidak banyak. Mungkin menurutmu suara kami masih kalah bagus dibandingkan dengan penyanyi profesional. Tetapi kami, aku dan kawanku, menyanyi untuk didengarkan. Kalian menikmati, berarti sebuah kesenangan dan penghargaan bagi kami. Uangmu bukanlah yang terpenting bagi kami. Semua hal di dunia ini memang membutuhkan uang, tapi bukan berarti uang adalah segalanya. Setidaknya kami tidak berpikir seperti itu.”

Kutarik kembali uangku, yang belum sempat keluar dari saku celana jeans-ku. Baru kali ini aku mendengar pengakuan seperti itu. Kulihat kesungguhan pada ekspresi wajahnya maupun nada bicaranya yang terdengar tegas. Baru kali ini pula aku tahu bahwa ada musisi jalanan yang tidak berorientasi pada uang.

Lantas, untuk apa mereka bersusah payah mempersembahkan suara mereka kepada orang-orang secara gratis? Tidak mungkin, meskipun mimik wajahnya meyakinkan, aku jamin dia mengatakannya hanya karena marah padaku. Sebenarnya dia tetap butuh uang dari para penonton. Karena itulah sumber penghasilan mereka, bukan?”

Aku tetap berpikir seperti itu hingga akhir, sampai mereka menyudahi pertunjukannya dengan sebuah pose membungkuk.

Namun, ternyata aku salah. Mereka memang tidak meminta uang, dari awal memang tidak ada tanda-tandanya. Hingga akhir, mereka sama sekali tidak mengeluarkan kotak, kaleng bekas susu, atau kantong apapun.

Selesai membungkuk, sang gitaris mulai buka suara. “Perkenalkan, aku Kim Jonghyun. Temanku ini adalah Lee Jinki. Dia akan mengikuti sebuah audisi pencarian bakat yang diadakan SM Entertaiment. Kami senang melihat respon kalian, artinya persembahan kami berhasil. Setidaknya Jinki punya peluang untuk lulus audisi, meski usianya sudah tidak lagi muda untuk menjadi trainee sebuah agensi. Kami mohon doannya dari kalian semua. Terima kasih banyak!”

Kalau sudah begini, aku baru percaya. Terlebih saat Hwayoung memekik keras sembari bertepuk tangan lantang, “Keren, kalian keren! Suara Jinki-ssi sangat bagus, ditambah permainan gitar Jonghyun-ssi yang enak didengar. Kau pasti sukses!”

Penonton yang lain menimpali dengan sorakan, menyemangati dua pria yang mulai melangkah undur diri itu. Aku Pasrah, aku hanya bisa tertunduk. Beku.

***

“Sial sekali nasib kita, Hyung. Gara-gara gadis itu kita jadi tidak dapat uang, padahal yang nonton banyak. Kita harus pulang ke gedung SM dengan menggunakan apa? Besok ada latihan olah vokal dari Yesung Sunbae.” Kim Jonghyun merutuk, menendang-nendang kerikil di sepanjang jalan pulang.

“Sudahlah, tidak apa. Kita bisa tampil di sudut lain. Lagipula, aku terhibur dengan reaksi para penonton. Kau sadar tidak kalau mereka begitu terpesona dengan penampilan kita? Hmmm, paling tidak ini pertanda bagus. Siapa tahu besok-besok Lee Sooman akan memilih kita untuk didebutkan karena faktanya kita berdua memang punya talenta. Kita tidak terlalu rugi. Kurasa sesekali gadis seperti tadi harus diberi pelajaran, dia harus belajar mendengarkan dan mengapresiasi seni.” Lee Jinki merangkul bahu adik seperjuangannya, sesama trainee SM yang sedang mengejar impian.

Keduanya melangkah, mulai ber-acapella ria menuju ‘tempat pentas baru’.

End

Cerita ini terinspirasi dari kisah temenku Lusi. Jadi, Lusi cerita ke aku tentang pengamen di angkot yang nyuruh diem ke mbak-mbak yang berisik dan mainin hape, ga denger dia nyanyi. Dan si pengamen itu beneran ga minta uang setelah itu, karena dia bilang cuma minta didengerin meski suaranya biasa aja

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

32 thoughts on “Musisi Jalanan

  1. ya, ampuuun. aku ngakak eonie dibagian terakhir. ternyata mereka emang pengen uang tapi gengsi. mungkin harus ditambahin komedi genrenya dan mereka juga boong. aduh, duh, duh.
    oh, ya, eon, forward-nya masih lamakah?

    1. Komedi ya? Hmmm, aku engga ngerasa ada lucunya soalna, lebih ke ironi kayakna🙂

      Forward? Hmmm, aku belom bahas lagi ini sama Vero Eon krn kmaren2 aku lg ngejer skripsi, yg bentar lg kelar urusannya. Semoga bisa cepet yaaa…

      Makasih untuk kunjungannya ^^

  2. huwahahahahaa…. *ngakakalaKey
    Ternyata, mereka memang pengen duit…
    Dassaarrrrr!!!
    Lucu juga nih, kalo ampe nasib pengamen begini
    gengsinya tinggi… ketebak sejak dari awal…
    Bagus, bibib… aku sukaaa…..
    *manggut2 liat komen atas,
    Forwardnya emang ditungguin banget!

    1. nyatanya ada pengamen macem ini, konyol sih emang😀
      Alhamdulillah kalo pada suka ama ff ini mah, makasih ya udah berkunjung. Forwardnya semoga bisa cepet nyusul

  3. Huahahahahahaaaaa…… Ya Ampyunnn Ojjong!? UUD deh jadinya, ujung-ujungnya duit..wkwkw

    Diluar ekspektasi… Maap ya bib. Awalnya sih ga niat baca, tapi pas baca koment2 diatas jadi tertarik baca dan voilaaaaa….. Ngakak di akhir….

    Btw, ada saty typo diatas. Harusnya Hwayoung mengajakku bla. Bla. Bla… Ketuker sama nama Kirana. Sebelum adegan pengamen itu.

    Dan scene paporitku tetep waktu nama Kim Kibum muncull.. Apa banget deh pesannya. Coba ya, sehari aja ga usah narsis Key….:D

    good job Bibib. Pesan moralnya dapet. Aq juga sepaham sama Kirana. Pengamen itu kayak ga ada kerjaan lain aja. Dan fenomenanya, jadi pengamen skrg buat gantungan hidup, siapa tahu bisa terkenal kayak tegar, klantink dll.
    Oke Bib!! Trisms!!

    1. TYponya di bagian itu, eon? Td aku cari ga nemu, apa yg ini: Kirana membawaku —> harusnya Kirana mengajakku

      Itu bukan eon?

      Wkwkwk, Kibum emang selalu jadi favoritku juga, hueheheh

      Nah, itu jeleknya pengamen. Sepanjang pengembaraanku di jalanan (?), pengamen yg emang suaranya oke cuma 2 orang aja. Yang lainnya, seringnya ngasal nyanyinya, semacem cuma mau uangnya aja, mengamen itu pekerjaan untuk dapet uang, bukan seni. entah sih bener apa engga

      Makasih juga eon udah bersedia mampir kemari🙂

  4. Hahaha…tnyata pengen duit juga
    Tp salut lah ma onyu n jjong yang ngrelain ga dapet apa2 demi harga diri musisi jalanan
    Yaa…apapun pekerjaannya…kadang mmg perasaan di hargai lebih penting dari penghargaan itu sendiri…
    *ngomong opo tho niek…hahaha

    Good job Bib^^

    n.b gimana kabarnya one yaa??hehe
    Eh, lupa…emg one udh apa blm rilis disini? *gubrak

    1. Yaaaa, jarang ya pengamen yg macem ini, hihihi

      One? FF itu emang ga akan pernah aku masukin kesini krn aku mutusin buat ga ngelanjutin yg itu, mian😦
      Yg bakal aku lanjut tuh Forward ama Namja, dua2nya masih ngadat di halaman kesekian

      Tararengkyu atas kunjungannya, eonniiiii!

    1. Key emang terlanjur narsis sih abisnya, hiihi

      makasih ya Elgi untuk kunjungannya ke ff-ku, ini pertama kalinya aku liat username-mu di tulisanku, rajin2 mampir yaahhh ^^

  5. kereeenn.. Ceritanya tentang kehidupan banget (y)
    part terakhirnya bikin aku ketawa haha lucu banget deh OnJong😀
    nice story (y)

    1. Yah, sebagai penggemar Kibum, rasanya gimana gitu klo ga bawa nama dia sekali aja #apaini?

      Seneng deh kalo pada bilang suka, makasih banyak juga ya untuk kunjungannya ^^

  6. Wah, aku telat banget ternyata. Keren nih, temanya unik. Aku juga suka (sok) menganalisis fenomena kehidupan sosial, seperti pengamen ini.

    Emang sih, pengamen itu beragam, ada yang suaranya bagus, ada yang standar, ada yang halusnya, masih perlu latihan lagi, ada yang lebih keren permainan gitarnya daripada suaranya, ada juga pengamen cilik yang nyanyiin lagu yang terlalu dewasa.
    Kadang aku suka tersentil kalau ada pengamen yang nyanyi lagu kritik sosial, yang isinya itu mereka ngamen karena nggak ada kerjaan lain yang halal, atau mengkritik pemerintah yang nggak bisa mengentaskan kemiskinan..tapi kalau mood-ku lagi jelek, kesannya mereka kayak ngeluh gitu. Sejauh ini sih, pengamen yang paling berkesan buatku adalah duo pengamen yang kulihat pas lagi di Bandung tahun lalu. Mereka nggak nyanyi, yang satu main gitar, yang satunya lagi main biola. Mereka juga bukan pengamen yang cuma ngarep duit kayaknya, mainnya serius dan memang layak diapresiasi.

    Aku belum pernah ketemu pengamen yang minta didengarkan gitu sih *penasaran*.

    Key, seperti biasa, narsis gilaa. Minho, juga seperti biasa, cowok yang bisa bikin ceweknya klepek-klepek.
    Pada kondisi normal, harusnya sih Kirana bisa menyimak penampilan Jinki-Jonghyun, secara suara Jinki bagus banget dan Jonghyun, siapa sih yang meragukan musikalitasnya? Tapi karena Kirana punya mindset sendiri tentang pengamen, makanya dia jadi nggak tertarik gitu. *sotoy*
    Kirain Jinki beneran nggak mengharapkan uang sama sekali, ternyata harus menahan diri gara-gara Kirana.Udahlah, Jjong, ngesot aja sampai gedung SMent, nggak perlu bayar😉

    Cerita yang keren, Bib.🙂

    1. pengamen yg paling berkesan buatku, dia nyanyi lagu I’m yours, dan itu enak bgt!

      iya, orang yg udh ga tertarik biasanya jd ga peduli, trus kn si Kirana tadinya lg kesel ama Hwayoung

      Kkkkikikk, jahat amat Jjong disuruh ngesot mi…

      makasih udah berkunjung ya amiii

  7. keren kereen kereeen~!!!!
    la ngerasa nyeseknya itu pas si Jjong ngasih penutup. Ugh, berasa real kalau mereka itu sebelum debut pernah jadi musisi jalanan😉
    dan lagi2 banyak terselip pesan moral dari kalimat sarkasnya si Kirana. yaah, Indonesia harus banyak berbenah😀

    la juga lebih kagum sama style luar negeri kalo lagi ‘ngamen’, setidaknya mereka itu niat. dan beberapa tempat di Indo juga udah ada beberapa yg ngamen buat sekadar nyalurin bakat/hobi.

    lagi2 pengen banget punya temen macem kim kibum ini. ya ampuun, kk bikin envy mulu ih..xD
    dan Minho itu dianggurin aja di resto? hahahaa.. #plakk
    salut sama onjjong. perbanyak duetmu nak😉

    bikin lagi kaaak!!! ^o^
    makasi y kak udah diinvite ke sini..hohohoho…

    1. hihihi, siapa tau emang pernah jd musisi jalanan, la. eh klo si Onyu kan orang kaya, kykna engga deh. Klo ojong aku kurang tau asal-usulnya(?)
      yeahh, kalimat sarkas emang mantep

      Eh tp la, ini bukan kelakuan kibum yg tempo hari kita bahas yaaa, ini cm ngarang2 aja, jd dikau ga perlu envy, mwahahaha
      Minho? Molla….

      Omong2 soal musisi jalanan di korea, aslinya mah bisa kita temuin di Hongdae, pasti ada di sana. Sayangnya, aku baru tau tt itu stlh ff ini terbit. Dan omong2 lg, ada satu musisi jalanan yg aku suka bgt, Lee Jonghyun pas maen Gentleman’s Dignity | Lupakan, Bib. Itu cuma drama

      Iyap, nanti bikin lg kl lg pingin nyelenting sesuatu, hohoho
      makasih ya udah berkunjung kemariii ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s