Time Paradox

time-paradox

Title : Time Paradox

Author : vanflaminkey91 (@sadakocan)

Main cast : Kim Key SHINee, Alicia Kim (OC)

Support cast : Krystal Jung f(x)

Length : one-shot

Genre : AU, fantasy, angst, sad, family.

Rating : PG13

Summary : Ini merupakan hari ke-100, nyanyian ke-100, dan kalimat cinta ke-100 untukmu. Untukmu. Semuanya untukmu. Oh, dan mungkin ini kali ke-100 terakhir.

A. N : Ini FF jadul aku. Jadul banget. Kata-katanya masih amburadul. Kata asing tidak dicetak miring, EYD tidak terlalu diperhatikan. Selamat membaca~🙂

Also published on my blog.

 Time Paradox

Pagi hari yang menangis. Dingin. Kelam.

Embun-embun terlihat bergelayutan manja kepada daun. Sebuah pohon ek dengan batang yang luas dan kokoh berdiri tegap. Akar-akarnya saling mengikat kuat dengan tanah basah beraroma khas menyegarkan.

Hembusan angin membelai lembut, menjatuhkan helaian daun ke atas permukaan kasar tanah. Memberikan ruang bagi daun lainnya untuk tumbuh.

Sebuah barisan manusia berjalan lambat di jalan setapak, dengan kepala menunduk dan genangan air di mata mereka. Pakaian serba hitam membaluti tubuh mereka, beberapa memegang karangan bunga.

Di barisan depan, ada seorang pria yang tengah berjalan dengan wajah tegak. Satu-satunya yang tidak terlihat hancur seperti barisan manusia di belakangnya. Mungkin jika hanya dilihat dari luar, ia tampak tegar. Mungkin seperti tidak punya perasaan. Tetapi, jauh di dalam lubuk hatinya, ada sesuatu yang mengoyak. Menggores. Melukai perasaannya hingga berdarah.

Bibirnya tetap saling mengunci, membuatnya bisu secara mendadak. Bahkan saat ia harus berdiri dan meletakkan sebuket bunga lily putih di atas sebuah makam, ia tidak terlihat menangis. Ekpresinya tetap kaku sampai beberapa orang di sana mulai berpamitan pulang dan menyisakan dirinya seorang diri bersama beberapa kerabat.

Sebuah tangan mendarat di bahunya, “Bukankah kau profesor Kibum?” Dia perempuan.

“Dia kerabat Alicia,” jawab gadis lainnya, yang berjongkok tepat di sebelah Kibum yang membisu. Perempuan tadi mengatupkan mulut dan mengangguk paham. Sekali lagi ia menepuk-nepuk pundak lelaki itu dan meninggalkannya berdua dengan gadis yang menjawab pertanyaannya itu.

“Oppa.” Si gadis bersuara. “Kau belum mau pulang? Keluargamu menunggu di mobil,” ucapnya sambil menolehkan kepala ke arah sebuah Chevrolet hitam metalik yang terparkir tak jauh dari sana.

Kibum menggeleng, “Pulanglah duluan, Soojung. Biarkan aku menikmati saat terakhir bersama Ahri di pemakaman.” Pria itu tersenyum lemah. Soojung, atau yang akrab dipanggil Krystal, hanya bisa menarik nafas dan mengangguk.

Diberikannya sebuah dukungan dengan menepuk bahu sahabatnya itu, kemudian berdiri dan berjalan perlahan meninggalkannya di sana.

Ia tahu, Kibum butuh waktu sendirian.

***

…waktu itu.

“Kau tak mau pulang ke rumah, Alicia? Kibum oppa terus meneleponku karena ia tahu kau ada di rumahku, tapi aku tak bisa mengangkatnya. Aku tak berani bohong.” Krystal mengeluh khawatir. Majalah yang ia genggam diletakkan di sampingnya, sementara kedua matanya fokus menatap seorang gadis berpenampilan boyish yang sedang duduk di sofa kamar Krystal.

Alicia Kim hanya tersenyum kecil dan mengalihkan pandangan Krystal kepada telepon genggam yang entah kapan sudah ada di tangannya.

“Ah, aku hanya ingin bermain-main dengannya, sedikit. Apa kau lupa ini hari apa?” Alicia tersenyum penuh misteri. Krystal menggelengkan kepalanya. Ia sudah mengenal Alicia dan Key – oppanya – sejak ia masih berusia empat tahun. Tapi, sampai sekarang, ia belum berhasil menebak isi kepala Alicia jika gadis itu mulai bermain misteri dengannya.

Krystal mengerutkan hidung mancungnya, “Tidak. Hari apa?”

Alicia tidak menjawab pertanyaan Krystal, malah membelokkan arah pembicaraan.

“Aku ingin memberi pelajaran pada profesor muda yang gersang seperti dirinya. Key oppa tak punya cinta dan perasaan, aku tak mengerti bagaimana dia bisa hidup tanpa hati seperti itu.” Alicia berdiri dalam satu sentakan dan mengejutkan Krystal karena perkataannya.

Alicia melirik Krystal, “Kau tahu? Sejak dia terobsesi menjadi seorang ilmuwan dan ingin sekali menemukan mesin waktu yang sebenarnya mustahil menurutku, dia menjadi seorang yang miskin cinta kasih.”

“Aku merasakannya.” Krystal menyahut.  “Tapi, serius, ini hari apa? Spesial kah?”

Alicia tersenyum lagi dan Krystal jadi agak merinding. Alicia bukan orang yang senang mengumbar senyum dan jumlah senyuman yang dipamerkannya hari ini cukup memberikan efek ‘aneh’ untuk Krystal.

“Memang kau mau apa?”

Alicia membuka pintu kamar Krystal, “Aku pergi dulu.” Gadis itu mengikat rambutnya menjadi satu, “Kau akan tahu nanti, Kryssie.”

Pintu ditutup dari luar, meninggalkan Krystal yang bengong menatapnya. Dia tak pernah menyangka, pertemuannya dengan Alicia yang penuh hal misterius itu adalah yang terakhir.

Ia tak pernah melihat Alicia tersenyum, tertawa, bahkan bernafas lagi.

***

Benda itu begitu besar dan terlihat sangat canggih didampingi oleh alat elektronik semacam komputer dan kabel-kabel beserta pengendali lainnya. Key berdiri, memandang benda itu dengan wajah muram. Tangannya masih memegang alat yang digunakannya untuk merakit benda ini, sendirian.

Benda ini bukan sepenuhnya rakitan Key. Key hanya meneruskan proyek kakeknya yang sudah keburu meninggal sebelum menyelesaikan dan menemukan apa rahasia mesin yang terkenal di dalam dunia Doraemon ini.

Dan sekarang, setelah bertahun-tahun lamanya dan harus melewati kejadian pahit, pria ini bisa menemukan dan akan menggunakannya.

“Tapi, kenapa hanya bisa dipakai dua kali?” gumamnya sambil menggigiti ujung bolpoin berwarna kuning dalam genggamannya. Hidung dan keningnya berkerut, sementara roda-roda otaknya terus bekerja mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.

Ia melirik jam dinding, “Ke mana juga Krystal? Aku membutuhkan bantuannya saat ini.”

“Aku di sini, Oppa.” Key berbalik dan menemukan Krystal sedang melipat tangan di depan dada dan bersandar di ambang pintu.

“Sudah sejak kapan kau berdiri di…”

“Sejak setengah jam yang lalu. Kau bahkan tidak menyadarinya. Apa yang perlu kubantu, Oppa?” Krystal menghampiri Key dan menatap mesin di hadapannya dengan kagum. “Kali ini apa yang kau temukan, Oppa Pintar? Proyek untuk perusahaanmu?”

Key tersenyum dan meletakkan buku catatannya, “Aku sudah keluar dari perusahaanku.” Ia melanjutkan ketika melihat mata Krystal melebar, “Aku melakukan ini untuk sesuatu yang besar.”

“Aku akan melakukan perjalanan waktu dan berusaha agar dia tetap hidup, supaya kita masih bisa bersamanya 100 tahun lagi.” Key meremas kedua bahu Krystal dan menatapnya penuh semangat. Krystal tidak pernah melihat tatapan seperti ini sebelumnya, sehingga dia hanya balas menatap Key.

“Tapi, karena mesin ini hanya bisa dipakai dua kali, jadi aku tak mengijinkanmu ikut.”

“Apa?” seru Krystal reflek menyingkirkan kedua tangan Key dari bahunya. “D-dua kali? Kau serius? Itu terlalu berbahaya.”

Key tersenyum dan duduk, kemudian menepuk tempat di sebelahnya, “Duduklah. Aku akan menjelaskan padamu.” Senyum pria itu memudar perlahan dan berganti dengan desahan nafas berat. “Aku tahu ini berisiko. Tapi, aku hanya ingin mengembalikan Alicia dan menebus kesalahanku. Karenanya…”

“Oppa, jangan lakukan itu,” potong Krystal tegas. Ia memegang tangan Key dan menatapnya sungguh-sungguh, “Kalau terjadi sesuatu padamu, orang tuamu akan sedih. Mereka hanya punya kau sekarang.”

Key menarik tangannya halus dan menyatukan ke sepuluh jarinya sendiri, “Tidak ada pilihan. Tekadku sudah bulat. Risiko minimal dan maksimalnya memang kematian, tapi aku tak takut.” Krystal membisu. “Karena ini hanya dua kali, aku akan menggunakan kesempatan pertama untuk pergi ke masa lalu dan kesempatan kedua untuk kembali. Tapi…” Disela helaan nafas.

“…tapi, kakek, yang merupakan orang pertama yang merancang mesin ini dan kuselesaikan, sudah pernah mengatakan; kegagalan bukan akhir segalanya.” Ia berdiri.

Krystal mendongak menatapnya sedih, “Jadi, apa maksudmu meminta bantuanku?” Getaran halus terdengar dalam nada suaranya.

Key tidak menjawab dan melepaskan jas laboratorium yang sedari tadi melekat di tubuhnya. Kemudian kakinya melangkah, memperdengarkan ketukan sol sepatu.

Jendela di ruangan itu terbuka lebar sehingga belaian angin dapat dirasakan di sekujur tubuhnya. Tirai berwarna gading itu bahkan bergoyang-goyang indah. Seakan hendak memberikan kenangan pada si empunya kamar yang akan pergi.

“Nyalakan ini dan ini, kemudian ini dan itu.” Key menunjuk-nunjuk setiap tombol yang harus Krystal tekan sambil memberikan instruksi.

Tanpa kata, Krystal hanya bisa menggerakan lehernya ke atas dan ke bawah sebagai respon.

Key berdiri di tengah medium yang berbentuk lingkaran. Di atasnya terdapat atap yang berbentuk sama dengan permukaan yang dipijaknya sementara di sekelilingnya adalah kaca. Lelaki itu melihat Krystal sekilas dan memberikannya senyuman, sebelum menutup pintu kacanya.

Krystal menghela nafas dan perlahan menekan tombol-tombol yang sudah diinstruksikan oleh Key. Membiarkan genangan air di matanya jatuh perlahan sebagai butiran yang meninggalkan jejak basah.

Ketika tombol pertama ditekan, terdengar suara bising yang cukup mengganggu, tetapi tidak bisa didengar oleh Key. Tombol kedua membuat lampu bercahaya biru di atas kepala Key menyala dan cahayanya menyelubungi pria itu. Tombol ketiga, lampu-lampu kecil di sekitar lampu biru besar tadi menyala.

Tombol keempat, tombol terakhir. Krystal terdiam sejenak, sementara Key hanya tersenyum lemah dan menundukkan kepalanya.

“Sampai jumpa, Oppa…” bisik Krystal, kemudian jarinya menekan tombol berwarna merah tersebut. Cahaya di dalam tabung kaca semakin bersinar dan menyilaukan mata.

Key membuka matanya kembali dan memicingkan mata untuk bisa melihat Krystal di balik cahaya yang terlampau silau ini.

“Sampai jumpa, Klee.”

Suara halus itu tertelan suara bising di sekitar Krystal. Key memejamkan matanya sekali lagi dan merasakan tubuhnya perlahan menghilang. Sensasi dingin mengaliri kulitnya.

Detik berikutnya, ia merasakan kecepatan yang luar biasa sehingga ia merasa bahwa ia hampir semaput karenanya.

Cahaya di dalam tabung kaca mati dalam sekejap dan tidak ada Key di sana. Tidak ada lelaki yang belum tentu akan kembali lagi ke sini.

Kedua lutut Krystal bergetar dan akhirnya jatuh diiringi isakan kecil yang keluar dari mulutnya.

***

“I’m home, Ahri Kim!” seru seorang pria sambil menenteng tas kerjanya. Wajahnya terlihat gembira dan penuh semangat. Tak ada sambutan. Rumahnya sepi-sepi saja.

Khawatir, ia mulai melirik ke kanan dan ke kiri, “Alicia?” bisiknya halus. Sambil melangkah, ia terus berpikir akan kemungkinan ke mana Alicia pergi. Jangan-jangan ia salah waktu dan Alicia sudah…

“Hei, Oppa! Kau sudah pulang?” Suara itu membuatnya berbalik dan mendapati seorang gadis dengan topi di kepalanya tengah menatap jam dinding, “Ini bahkan enam jam sebelum waktu pulangmu yang biasa. Amazing. Memang ada hari spesial?”

Key mengerutkan dahi, “Bukankah hari ini sangat spesial? Ini hari spesialku!” Ia tertawa garing dan Alicia menatapnya datar.

“Kau aneh,” desisnya. “Pertama, kau aneh karena jadi periang begini. Padahal kau judes sekali.” Key menelan salivanya. Seburuk itukah dirinya? Sepertinya ia harus ikut kursus keramahan. “Kedua, kau tiba-tiba ingin cepat hari spesialmu. Sudah jelas ulang tahunmu itu besok, Babbo Oppa!” Alicia menjulurkan lidahnya.

“YA! Dasar adik kurang ajar!” Key menjitak Alicia dengan sebal. Namun, tiba-tiba perasaan tidak enak menyelusup hatinya. Tujuannya ke sini untuk bersama Alicia dan mencegah adiknya itu meninggal dengan harapan saat ia kembali ke waktunya, Alicia masih ada. Tapi, sepertinya ia salah mengatur waktunya.

Biarlah, pikir Key sambil menghela nafas.

“Ayo, kita minum kopi saja.” Alicia menarik tangan Key keluar rumah yang hanya ditinggali mereka berdua karena orang tua mereka tinggal di Amerika.

Tak ada salahnya berpura-pura. Tapi, bagaimana dengan Key yang ada di waktu sekarang? Pertanyaan ini berputar di dalam otaknya.

***

Inikah yang namanya hidup?

Selama ini ia selalu bersembunyi di balik rumus-rumus yang berputar dalam kepalanya. Meninggalkan dunianya hanya untuk riset yang sebenarnya menyiksa hidupnya. Dulu, ketika Alicia sering protes atas perubahannya, ia sama sekali tak mendengarkan.

Sekarang ia menyesal.

Dengan modal sepasang kaki, mereka berjalan menelusuri taman kota. Sesekali Alicia membidik pemandangan yang menurutnya menarik dengan kameranya. Sementara Key hanya bisa diam dan melihati adiknya melakukan itu.

Tidak bisa dipungkiri kalau ia masih tak percaya bahwa Alicia telah meninggalkan dunia ini. Karenanya.

“Hei, kenapa kau melamun, Oppa? Aneh sekali.” Alicia mengerucutkan bibirnya kemudian menatap aliran sungai Han di depannya. Key masih membisu dengan sepasang mata yang tertuju pada sekumpulan awan yang sedang berkejaran di langit.

Sekarang ia sudah ada di sini, dengan Alicia yang masih bernafas di sampingnya. Bukan Alicia yang sudah terbujur kaku di dalam tanah. Jadi, apa yang harus dilakukannya?

Tak mau ambil pusing, akhirnya Alicia memutuskan untuk menarik tangan kakaknya menuju ke terminal.

“Kita mau ke mana?” tanya Key mendadak ling-lung. Alicia tak menjawab dan menggamit lengan kakaknya dengan provokatif.

“Hei, Old-man, ikuti saja kemauan adikmu ini. Kekekeke,” bisik Alicia jahil. Ya, usia mereka memang terpaut lima tahun sehingga Alicia dengan bebasnya memanggil Key ‘old-man’.

Jika biasanya Key akan mengejeknya balik, sekarang tidak. Ia hanya tersenyum untuk menutupi keraguannya.

“Ayo, ayo, kau lelet sekali!” seru Alicia mendorong punggung Key yang sedang mendaki tangga bis bercat merah itu. Key tidak memberikan respon kecuali mendengus. Tetapi, diam-diam ia menikmatinya. Momen yang hanya dilaluinya ketika dia SMA. Lulus SMA, obsesi meneruskan mesin waktu kakek mereka membuatnya kehilangan momen seperti ini.

Key duduk persis di sebelah jendela dengan punggung yang bersandar di kursi. Di samping kanannya, Alicia tengah memasangkan headset putih kesayangannya di telinga kiri, kemudian memasangkan yang satunya di telinga kanan Key.

“Mwoya?” tanya Key masih ling-lung, apalagi ketika mendengar alunan musik dari headset kecil itu.

Alicia tersenyum manis, “Itu lagu favoritku, Closer. Dinyanyikan Taeyeon SNSD. Aku suka dengan nada dan suaranya bukan artinya. Kekeke.” Key menggeleng sambil memaksakan seulas senyuman. Adiknya memang tak pernah memerhatikan arti dari sebuah lagu. Ia hanya akan suka karena nada dan suara penyanyinya. Titik.

Keenam roda bis itu berputar teratur menggilas aspal. Detik demi detik berlalu, Key memilih memanfaatkannya dalam diam dan menatap barisan toko-toko yang dilaluinya dari jendela.

Tetapi, ada yang aneh saat bis berhenti di satu pemberhentian bis dekat sebuah kafe untuk mengangkut penumpang lainnya. Matanya terasa agak perih karena cukup lama tidak berkedip menatap sosok pria yang sedang makan di dalam kafe tersebut.

Itu dirinya tempo hari. Ia melupakannya. Apa harus ia bekerja sama dengan dirinya yang saat ini?

Tiba-tiba saja Key berdiri hingga headset di telinganya dan Alicia terlepas. Alicia yang sedari tadi agak menunduk karena tertidur, mendadak terbangun dan menatap Key aneh.

“Kau telepon saja aku jika sudah sampai tujuan. Aku akan menyusul.” Key tersenyum dan mengacak rambut Alicia sebelum berlari dan meminta supir bis untuk berhenti karena bis sudah bergerak lambat meninggalkan pemberhentian tadi.

Setengah melompat, Key berlari sambil menggunakan kacamata dan cap hoodienya masuk ke dalam kafe.

Sosok Key yang ada di waktu itu memang tengah menikmati kimchi di dalam mangkuknya. Menggunakan sumpit dengan lihai ketika ia merasakan seseorang duduk di hadapannya.

Sumpitnya yang sudah separuh terangkat, kembali turun bersamaan dengan mulutnya yang menganga. Tentu saja ia kaget. Ia mengenali benar sosok berhoodie pink tua di hadapannya ini.

“K-kau, b-bagaimana…”

Key yang menggunakan hoodie nyengir sambil mengusap tengkuknya bingung. Apa yang harus ia katakan terlebih dahulu pada…

“Ah!” Key di masa itu berseru dengan senyum lebar hingga beberapa orang melihati mereka aneh. Dia sadar dan tersenyum meminta maaf ke sekeliling, lalu menatap serius pada Key berhoodie itu. “Kau… Key di masa depan kan? Ah berarti aku berhasil menemukan mesin waktu!” Dia hampir mencicit senang jika saja Key berhoodie tidak menepuk tangannya agak keras.

“Ssst! Aku ke sini karena ada perlu. Tolong jangan berlebihan.”

“Cih, aku ini dirimu di masa lalu, Bodoh.” Key berhoodie hanya nyengir saja mendengarnya. Tapi, detik berikutnya mendung sudah menyelimuti wajahnya.

“Aku datang ke sini karena Alicia di masaku sudah…”

Key yang berjas putih khas laboratorium itu termangu mendengar penjelasan itu.

***

Dia dan dirinya di masa lalu sudah sepakat untuk menyenangkan adik mereka, juga menjaganya agar kecelakaan yang merenggut nyawa gadis itu tidak terjadi. Tadinya, Key di masa yang lalu menawarkan diri untuk melindungi Alicia dan menyediakan waktunya yang sibuk bagi Ahri – nama Korea Alicia. Tapi, Key di masa depan itu membantah dan mengatakan jika mereka lebih baik bekerja sama. Dia sudah mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk datang ke sini.

“Bagaimana kalau aku memanggilmu Kibum dan kau memanggilku Key?” usul Key berhoodie sambil merogoh sakunya. Ah, ia lupa. Ia bahkan tidak membawa ponsel karena benda itu tak akan berfungsi di sini karena pergeseran dimensi waktu.

Key yang selanjutnya dipanggil Kibum hanya menghela nafas dan mengangguk.

“Aku harus kembali ke lab. Kau pergi menyusul Ahri kan?” Kibum memberhentikan mobilnya dan menyodorkan ponselnya. Key mengangguk, lalu menerima ponsel itu. Baru saja benda itu sampai di tangannya, panggilan masuk terlihat di layar. Alicia.

“Sepertinya aku harus ke Lotte World.”

“Pergilah,” ucap Kibum menerima ponselnya kembali.

***

Alicia duduk di salah satu kursi dari sekian banyak kursi yang disediakan di Lotte World dengan wahana bermain menarik yang mengundang banyak wisatawan luar negeri mampir. Gadis itu hanya melihati beberapa orang berambut pirang dengan wajah khas Eropa tengah berbicara dengan bahasa yang tak pernah didengarnya sambil lalu lalang di hadapannya.

Ke mana Key oppa?

Gadis itu menunduk dan membaca layar ponselnya. Di sana tertera pesan bahwa oppanya itu akan datang lima belas menit lagi. Pesan ini datang dua puluh menit yang lalu. Ke mana dia?

Tapi, gadis berpenampilan boyish itu menarik nafas lega ketika mendapati sepasang Nike warna hitam berdiri tepat di hadapan sepasang Nike putihnya. Ia mendongak dan hampir meloncat gembira saat melihat Key menyodorkannya gulali.

Meski boyish, sifat girly Alicia memang sering sekali kambuh.

Hari ini Key mengatakan padanya bahwa hari itu adalah hari full untuk mereka bersenang-senang. Alicia sampai terlonjak bahagia mendengarnya.

Saat itu mereka tengah menaikki rollercoaster dan menunggunya berjalan sambil berbicara.

“Aku senang dengan kau yang hari ini, Oppa,” ujar Alicia sambil tersenyum pada petugas yang baru saja membantunya memasangkan pengaman. Key tertegun, tapi diam untuk mendengar kelanjutannya. “Biasanya kau selalu menghabiskan waktu di tempat kerja. Pulangpun kau sibuk dengan rumus-rumus dan mesin waktu itu. Kau mengabdikan dirimu pada pekerjaan, melupakan adikmu sendiri. Kau tahu? Orangtua kita jauh di Amerika sana, tapi kau tak memedulikanku. Aku iri pada teman-teman yang punya oppa. Oppa mereka menyenangkan. Tapi, aku seakan tak punya Oppa.”

Key menganga lebar mendengarnya.

“Tapi, akhirnya kau kembali, Oppa!” Alicia berseru riang setelah mengucapkan separagraf kata yang berhasil membuat Key mulas. Pria itu benar-benar menyesal. Ia membeku ketika rollercoaster mulai berjalan lambat menyusuri lintasan pertama. Bukan takut bahwa benda itu akan tiba-tiba bergerak cepat, tapi takut waktu akan segera habis.

Ia melirik ufuk barat dan menemukan matahari sudah separuh tenggelam. Kenapa waktu cepat sekali berlalu?

Ini berarti waktunya untuk meminta maaf hanya satu hari lagi sebelum ia harus fokus untuk tidak lengah dan mencegah kecelakaan.

Rollercoaster itu akhirnya melesat.

***

Key merasakan lengannya digamit seseorang dan itu sudah pasti Alicia. Keduanya berjalan menuju ke pintu keluar Lotte World setelah mencoba beberapa wahana menegangkan.

“Hari ini keajaiban. Kau bahkan tak takut ketinggian, naik apapun oke saja,” puji Alicia setengah meledek. Ia tengah bahagia hari ini, karena kakak yang selalu dibanggakannya sejak kecil akhirnya kembali seperti dulu.

Pikiran Key sudah penuh. Seburuk itukah dirinya?

Mereka menghabiskan sisa waktu menuju ke rumah dengan canda tawa yang sebenarnya ditanggapi biasa oleh Key. Pikirannya terlalu penuh, ia tak bisa berkonsentrasi. Untunglah Alicia tidak begitu peka dan menganggap Key memang dalam mood untuk bercanda.

Alam pun sepertinya sedang bahagia menyambut kakak adik ini. Bulan bersinar penuh dan langit di sekitarnya hitam bersih dengan taburan bintang-bintang. Berkali-kali seruan ‘wow’ keluar dari mulutnya diiringi tatapan takjub.

Gadis itu berhenti ber-wow ria saat dirinya merogoh saku mantel untuk mencari kunci rumah. Terdengar bunyi ‘klik’ dua kali, barulah pintu terbuka. Alicia segera merangsek masuk, tapi tidak dengan Key yang masih mematung.

Ia melirik jam dinding dan menemukan bahwa sekarang harusnya Kibum pulang. Ia ingat betul hari ini harusnya ia pulang jam segini.

Alicia menghentikan langkah dan berbalik, mengerutkan alis, kemudian menghampiri Key.

“Tidak masuk?”

Key memamerkan senyum garing, “Tidak. Oppa ada urusan dulu sebentar. Bentar kok, tidak akan lama.” Alicia mengangguk dan mengacungkan jempol, kemudian menutup pintu dari dalam. Tak berperasaan sekali, haha.

Key mendongak ke jendela rumahnya, kemudian berlari menuju ke perempatan, dua blok dari rumahnya.

Tepat saat ia menjejakkan kaki di dekat lampu merah, sebuah Chevrolet hitam metalik lewat di depannya dan ia kontan berteriak.

“Tunggu!”

Mengundang beberapa pasang mata, tapi ia tak peduli.

Chevrolet itu berhenti dan kacanya terbuka perlahan. Kibum menatapnya kaget.

“Ayo tukar pakaian denganku. Supaya Alicia tidak curiga.” Baru saja Kibum membuka mulut, Key sudah merangsek masuk ke dalam mobil. Kibum menghela nafas dan menjalankan mobil ke tempat yang dirasanya aman.

Sepuluh menit berlalu, mereka sudah bertukar pakaian dan sekarang Chevrolet itu siap masuk rumah, namun dicegah Key.

“Apa?” tanya Kibum heran. “Jangan bilang kau mengatakan yang aneh soal Chevrolet kita?”

“Benar.” Kibum menarik nafas sebal pada sosok masa depannya itu. “Aku akan membawa Chevrolet ini ke parkiran umum di belokan sana. Besok pagi kau ke sana saja, oke?”

Kibum mengangguk terpaksa dan keluar dari mobilnya setengah memaki. Key tertegun. Sifat buruknya di masa lalu dapat dilihatnya dengan jelas sekarang. Inilah yang membuat Alicia marah setengah mati ketika menelponnya waktu itu, beberapa menit sebelum gadis itu pergi selamanya.

***

Demi Kim Ahri atau yang senang dipanggil Alicia, Key rela tidur di dalam Chevrolet dan dibangunkan oleh Kibum keesokan harinya. Demi Alicia, Key rela mengorbankan nyawa jika saja mesin waktu yang masih membayanginya itu mendadak rusak dan ia akan mati bukan menjadi tinggal di masa yang saat ini dijelajahinya. Ia akan mati. Mati.

Hari ini, dia mengatakan pada Alicia bahwa dirinya libur karena ingat akan hari khususnya.

“Jinjja?!” seru Alicia senang sekali kedengarannya. “Baiklah, ganti bajumu, Oppa! Aku ada sesuatu berkaitan dengan hari khususmu ini.” Alicia berlari dengan cepat ke kamarnya.

Dengan linglung, Key berjalan ke kamarnya dan mencari stelan baju yang sekiranya trendy.

Sambil mengancingkan kemeja di depan cermin, ia menatap kedua matanya di sana. Hari ini jika ia gagal, Alicia akan meninggal di hadapannya dan itu akan membuat dirinya bunuh diri karena melihat kenyataan pahit.

“Ah, apa yang kubicarakan?” gumamnya sambil merapikan lengan kemejanya sekali lagi dan menghampiri Alicia di luar. Rupanya ia sudah ditemani Krystal di ruang tamu. Cepat sekali Krystal datang.

“Hei, Klee!”

“Hei, Oppa. Kau tampak tampan dengan kemeja itu, baru?” Krystal berhenti tertawa bersama Alicia dan melirik Key dengan seulas senyum.

“Ayo!” Alicia berdiri ceria dan berlari (lagi) menuju ke pintu.

***

“Saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnida~!” Alicia dan Krystal bernyanyi dengan hebohnya sambil bertepuk-tepuk riuh sementara Key menatap takjub pada lilin-lilin merah yang disusun di atas kolam renang rumah Krystal yang memang dua kali lebih besar dari rumah mereka.

“Karena masih siang jadi kurang bagus, sih. Tapi, kami menyiapkannya dalam satu malam!” seru Alicia bangga. Key mengerutkan kening dan melirik mereka.

“Satu malam? Kau kabur dari rumah semalam, Alicia?” tanya Key dengan nada menyelidik.

Alicia langsung cemberut, “Tidak! Begini, Krystal yang mengapungkan semua lilin yang belum menyala semalam dan aku menginstruksi dari telepon. Krystal menyalakannya tadi pagi. Bagaimana? Suka? Maaf tidak ada kue. Tadinya aku malah tak mau merayakan ulang tahunmu karena cukup marah padamu. Tapi, kemarin aku berubah pikiran.”

Kelebihan Alicia yang sama seperti dirinya adalah blak-blakan dan jujur.

Key tersenyum miris dan merangkul bahu Krystal juga Alicia dengan kedua tangannya.

“Terima kasih dan maafkan aku kalau selama ini melupakan kenangan kita bertiga ketika kecil.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Key dan membuat suasana happy tadi berubah menjadi haru.

Alicia tersenyum dan melepaskan diri dari rangkulan Key, begitupun Krystal. Dua gadis itu menatapnya dalam.

“Kami menyayangimu, Oppa. Jangan ragukan cinta kasih kami padamu. Kau oppa kami. Tapi, sayang sekali kau masih menjomblo, cih.” Alicia meledek Key sambil menjulurkan lidahnya. Key melotot kaget. “Bahkan Nicole pun tidak bersamamu karena kau boring dan…”

PLETAK

Key menjitak Alicia dengan ilmu ttakbam Jinki – teman kerjanya. Kemudian tertawa keras menyaksikan wajah Alicia yang tampak jengkel.

“Ayo, matikan semua lilin itu. Aku akan mentraktir kalian!” Sambutan meriah langsung terdengar dari mulut kedua gadis itu. Dua gadis seperti sepuluh orang. Key menggeleng dan tersenyum lebar. Seketika melupakan bahwa setelah ini akan ada sesuatu.

***

Hampir seharian matahari tidak menampakkan dirinya dan memilih tidur di balik awan mendung yang menyelubungi Seoul. Krystal senang akan cuaca ini karena ia tak suka cuaca panas. Apalagi ia, Alicia, dan Key sedang berjalan kaki menikmati suasana kota Seoul.

Mereka tampak senang sekali dan Key terlihat bahagia. Baru kali ini ia merasakannya setelah hampir sepuluh tahun melupakan yang namanya ‘kebahagiaan’.

Dalam hati Key bersorak riang. Ini sudah dua jam lewat sejak jam seharusnya Alicia kecelakaan seperti yang dijelaskan polisi yang menangani kasus kecelakaan itu kepadanya. Ia berhasil menyelamatkan Alicia, berarti di masa depan ia akan melihatnya!

“Hari ini menyenangkan sekali,” gumam Alicia dan Krystal bersamaan. Key tertawa melihat keduanya dan mengawasi mereka dari belakang. Mereka tengah menyusuri jalanan yang cukup sepi dan meramaikannya dengan canda tawa yang terus menerus mengalir dari mulut masing-masing.

Tapi, mereka terhenti saat mendengar teriakan keras di belakang mereka.

“TOLONG! Ada copet!” Seorang ibu-ibu berlari mengejar lelaki bersweater hitam yang tengah berlari ke arah Alicia. Pria itu tampak memegang pisau belati tajam yang mengkilat.

Alicia yang kebetulan bisa karate bersiap menghadang lelaki itu.

Tetapi, Key melihat sesuatu. Ia mengerjapkan matanya saat menatap bayangan hitam di samping Alicia. Ia mengucek lagi matanya dan bayangan itu terlihat mengacungkan sebuah tombak di belakang Alicia.

Apa-apaan ini? Apa dirinya bisa melihat hal aneh sejak melakukan perjalanan waktu ini?

Krystal membeku pucat menatap Alicia yang tidak juga menyingkir. Krystal melihat posisi pisau di tangan lelaki yang semakin dekat itu dan ia tahu bahaya mengintai Alicia.

“Minggir!” teriak pria copet itu marah dan memasang ancang-ancang untuk menusuk Alicia yang masih menghalangi. Key menggeleng sekali dan melompat ke hadapan Alicia, tepat saat pria itu sudah mau menghunus Alicia.

Alhasil, pisau berkilau itu menembus tepat di jantung Key. Seketika darah merembes keluar melalui pori-pori T-shirt putih yang dikenakannya. Rembesan itu melebar cepat hanya dalam beberapa detik. Key tidak mengedipkan mata sama sekali dan jatuh tersungkur ke belakang.

Sang pelaku bukannya menolong. Dilemparkannya pisau itu ke tengah jalan, kemudian sepasang kakinya bergerak cepat membawanya pergi dari sana.

“Oppa!” pekik Alicia kaget saat Key jatuh dalam pelukannya dan keduanya jatuh ke atas trotoar. Krystal dengan sigap menghubungi polisi dengan tangan gemetaran. Alicia meletakkan kepala Key di atas kedua kakinya dan menangis. Gara-gara dia, oppanya tertusuk.

Sementara orang-orang mulai mengerumuni mereka.

Key sama sekali tidak merasakan apa-apa, seakan semua syarafnya sudah mati. Pandangannya buyar dan hanya mampu melihat Alicia yang terlihat buram. Setidaknya ia sudah menuntaskan semuanya, kan?

“Ahri-ya,” bisik Key sambil mengulurkan lima jarinya yang bergerak-gerak lemah dan menggenggam kelima jari adiknya yang sudah basah oleh darahnya. “Mianhae.”

Nafasnya tersengal ketika tangan lemah berlumuran darah  itu merogoh saku dan menaruh sesuatu ke dalam genggaman tangan Alicia yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Mendadak semua kenangannya kemarin berputar jelas dalam otaknya. Mendadak semuanya terlihat seperti film.

…dan mendadak ia menyesal menggunakan konsep Time Paradox untuk mencoret garis takdir Alicia. Ia sadar, kematian Alicia sudah takdir Tuhan.

Tapi, ia tak menyesal telah menggantikan Alicia untuk mati dan membiarkannya hidup. Ia hanya menyesal karena ia tak bisa membahagiakan adiknya… sekali lagi.

“Oppa,” gumam Krystal membiarkan aliran air di matanya mengalir  semakin deras.

Key tersenyum sekali lagi dan kepalanya terkulai lemas begitu saja di pangkuan Alicia.

***

Daun jendela yang terbuka lebar itu bergerak-gerak pelan disentuh angin. Sementara tirai-tirainya berterbangan. Angin sengaja masuk untuk membelai-belai gadis yang tengah terisak di atas kedua tangannya yang sedang memegang mesin waktu itu.

Mesin waktu yang tidak juga mengembalikan Key padanya.

Setitik penyesalan muncul. Ia harusnya tak usah membantu Key dan menyaksikan Key menghilang di depan matanya. Krystal menangis lagi.

Isakan dan rengekannya terdengar keras ketika seseorang membuka pintu ruang kerja yang empunya saja sudah tidak diketahui nasibnya.

“Ige mwoya?”

Krystal berusaha menghentikan tangisnya dan memperjelas pendengarannya. Ia mendengar suara wanita yang sangat familier di telinganya. Benarkah? Mustahil!

“Kenapa kau ada di ruangan Key oppa?” Pemilik suara itu mendekati dan jongkok di sebelahnya. Krystal termangu dengan wajah penuh bekas air matanya. Wanita di hadapannya terkejut dan memeluk Krystal.

Krystal tak mengerti.

“Aku tahu kau merindukan Key oppa, aku juga merindukannya. Aku hargai usahamu untuk membuat mesin waktu ini bekerja.” Wanita itu, yang diyakini Krystal sebagai Alicia, menunjuk jas lab milik Key yang entah sejak kapan sudah membalut tubuh Krystal. “Tapi, tidak ada yang pernah berhasil membuat mesin ini bekerja, Klee. Key oppa pun sampai akhir hayatnya tidak.” Suara Alicia terdengar parau.

Krystal masih membisu saat Alicia menyodorkan sebuah kertas yang dipenuhi bercak darah kering dan menepuk bahunya. Alicia menangis dan berlari keluar ruangan.

Krystal yang ling-lung membuka kertas itu bergetar.

Dear Kim Ahri, Jung Soojung, dan Orangtuaku.
Maafkan tingkahku selama ini. Maafkan aku. Aku menyayangi kalian. Kalian semua permataku.
Dan Soojung, aku mencintaimu.

Kibum.

Kertas itu terlepas dari genggaman Krystal. Melayang pelan dan tertidur dalam diam di atas permukaan lantai dari granit mengkilat itu.

Angin kembali berhembus dari jendela, mengusik kertas itu hingga terbangun dan kembali berjalan pelan walau hanya beberapa senti. Krystal menatap kosong pada tabung mesin waktu di hadapannya.

Tiba-tiba saja ia bangkit berdiri.

“Alicia! Bantu aku menggunakan mesin ini!” serunya dengan suara bergetar dan berlari keluar ruangan mencari Alicia.

Di sudut ruangan, sepasang mata bersorot tajam itu mengikutinya dengan tatapan dan seulas senyum terukir di bibirnya sebelum angin sekali lagi bertiup dan menghilangkannya dari sana.

***

Aku akan melakukan perjalanan waktu dan berusaha agar dia tetap hidup.
Supaya kita masih bisa bersamanya 100 tahun lagi…

End.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “Time Paradox

  1. di bagian akhir yg di sudut ruangan itu malaikat maut ya?
    jangan2 kristal mau balik ke masa lalu buat nyelamatin Key, nanti Kristal-nya yg meninggal.. *sok tau**

    Saya suka ide ceritanya Van..
    Ditunggu cerita lainnya ya..🙂

  2. Jinjja daebak! Mskipun aq hrus ekstra memahami critanya, krna aq emg agak odong klo critanya agak rumit(?) dn detile gni,,tp keren author! Aq kira ahri itu yeochin key, trnyata adiknya, dn klee aq pkir spupu mrka tp trnyata mlah yeoja yg d cntai key😥 huaaa dmi apa brkaca2 baca endingnya! Gak ketebak!!!!!

  3. mantap ceritanya!!! krystal mau kembali kemasa lalu terus dia nyelametin key dan akhirnya dia yang meninggal dan begitu seterusnya, biasa thor saya ini reader yang sotoy hahaha tapi sumpah ini keren banget! aku suka bahasanya meskipun tadi ada sedikit yang melenceng dari EYD tapi sedikit kok sisanya bagus semua. dan aku juga suka jalan ceritanya. disini di ungkapkan semua secara detail. pokoknya sukalah!! SMANGAT AUTHOR!!! keep writing!

    1. hihihi klo urusan itu sih, itu terserah spekulasi readers, karena aku sengaja dan paling seneng klo bikin cerita yg ambigu xD
      ya soal EYD, klo boleh jujur aku ga ahli EYD xD nulis tuh asal nulis dan berdasar dari yg sering dibaca aja kayak gimana xD /pemalas/
      kwkwk makasih ya😀

  4. Aku suka ceritanya, kata2nya jugaaaaaa
    nice fic! ^^
    Eum, tp iseng mikir gini sih. Kibum (key di masa lalu) itu kemana ya? Apa aku ada kelewat baca? Otak ngawurku sih sempet mikir, Kibum bisa ga ya tetep ada di masa mendatang? Eh, ga usah dipeduliin pikiran ngacoku ini sih #eaaaaaa

  5. aduh aku tuh jadi sedih tahu.
    em, aku juga sepemikiran sama bibah eonie. Key yang di masa lalu menghilang ke mana? klo ada cerita begini aku jadi inget sama cerita harry potter yang pas mereka pergi ke masa lalu (tepatnya sih beberapa jam yang lalu) dan masa lalu dan masa sekarangnya nyambung banget.
    secara keseluruhan aku suka, banget malah. aku sampe nyesek.
    keep writing!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s