Beautiful Stranger [Chapter Fourteen]

Beautiful Stranger

 

SENA

TEMBOK yang kupakai untuk bersandar terasa semakin dingin hingga menusuk tulang belakang ketika angin yang bertiup menelusup ke tengkuk. Aku menunggu Kris datang, dia yang memintaku kemari dan meninggalkan Jinki di tempat kencan kami―kencan pertama yang takkan pernah kulupakan seumur hidup. Mengingatnya saja cukup membuatku tersenyum sendiri seperti orang tidak waras. Tapi memang Jinki membuatku gila, sayang sekali itu faktanya.

Jinki, Jinki, Jinki… kepalaku penuh dengannya. Rasanya ingin sekali diam di tempat, tidak melakukan gerakan apapun karena khawatir kepingan bayangan Jinki berjatuhan dari dalam kepala saking penuhnya. Yuckkk, kalimatku menjijikkan, tapi aku berani bersumpah memang tak ada lagi kalimat yang mampu mendeskripsikan perasaanku saat ini. Jadi, terima kasih telah memaklumi.

Kris muncul dari balik pintu belakang apartemen, ia mengenakan beanie abu-abu, rambut emasnya berkilauan dan bergoyang tertiup angin, kacamata hitam bertengger di atas hidungnya, ditambah coat berwarna senada membuatnya terlihat semakin tampan. Kuakui itu, Kris memang lah tampan.

“Maaf, sudah membuatmu menunggu di sini,” katanya.

“Ya, terima kasih, aku hampir mati kedinginan.”

Kris nyengir. Sekejap kemudian ia mengeluarkan kunci mobil. “Ayo!” ajaknya.

“Mau kemana kita?”

Fitting pakaian pernikahan. Tinggal satu setengah bulan lagi and you’ll be mine…”

Aku tercenung, hampir saja melupakan masalah pernikahan. Jantung berdebar hebat sementara otak tak berhenti berpikir tentang bagaimana cara yang tepat menolak pernikahan itu. Kris tidak bisa diam, dia terus mengoceh mengenai rencana-rencana yang telah ia buat untuk acara pesta dan bulan madu. Senyumnya mengembang, di matanya berkilat gairah yang luar biasa besar, ia juga tak berhenti bersiul ketika memeriksa pesan di ponselnya.

“Kris…,” panggilku di mana ia terus bergerak kesana-kemari mengikuti letupan di hatinya, “…Kris bisa kau dengar aku sebentar saja?”

Ia berhenti dan menghampiriku, membuat jarak yang sangat dekat denganku.

“Apa? Kau kurang setuju kalau kita bulan madu di Paris?”

“Bu-bukan itu.” Aku menepis tangannya yang akan berusaha mengaitkan rambutku ke telinga.

“Terus?” tanyanya bingung. Aku menarik napas dalam-dalam dan menatap lekat matanya. Mencoba mengirimkan pesan non-verbal melalui mataku yang sudah berbicara lebih dulu. Lambat laun tatapannya melemah, ia bahkan berkedip beberapa kali dan melepaskan tatapannya dariku sambil menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak mau dengar,” tolaknya.

You should! Ini mengenai kita berdua. Dengarkan, Kris, aku tidak akan mengulanginya. Begini, aku belum memikirkan tentang pernikahan untuk saat ini dan aku tidak pernah bilang setuju akan pernikahan yang telah keluargamu rancang untuk kita. Kau bahkan belum bertanya bagaimana perasaanku padamu saat ini.

Keadaan telah berbeda, semuanya berubah, kau seharusnya mengerti bahwa sejak lima tahun yang lalu sudah tidak ada lagi “kita”. Yang ada hanya kau dan aku, tidak lagi terbungkus dengan kita. Perasaanku tidak lagi seperti dulu. Tidak ada lagi cinta ketika sedang bersamamu. Aku tahu ini sangat tidak pantas diucapkan tapi aku hanya ingin berkata sejujurnya padamu. Maaf, Kris, kita tidak bisa menikah. Aku baru bisa menyampaikan ini karena tidak pernah diberi kesempatan untuk bicara, kau dan Mama tidak membiarkanku menyuarakan pendapat. Kita memang pernah bersama, Kris, tapi tidak ditakdirkan sampai menikah. Kisah kita telah lama usai. Pahamilah…”

Kedua alisnya bertaut, matanya memandangku sangat marah. Mimik ‘merasa dikhianati’ tergambar jelas dari wajahnya. Tubuhnya bergetar menahan kepedihan yang merobek-robek hatinya. Kata-kata kasarku tadi memang cukup membuat hatinya terluka dalam. Aku tidak berniat menyakitinya, hanya ingin menyampaikan apa yang seharusnya ia ketahui dan sayangnya itu mutlak menusuk jantungnya. Maaf, Kris, aku tidak punya pilihan lain.

Alih-alih menghampiriku untuk mengguncang tubuhku, menampar, ataupun membenturkan kepalaku ke dinding agar aku sadar dengan apa yang baru saja aku katakan, Kris lebih memilih membalikkan badan untuk memunggungiku. Aku tahu ia sedang menyembunyikan tangisnya.

“Kris,” panggilku sambil menghampirinya dan memberinya sebuah pelukan, “…maafkan aku.”

Ia berbalik dan tanpa bisa kuhindari sejurus kemudian bibirnya telah sampai di bibirku. Aku luar biasa terkejut. Bukan ini yang seharusnya terjadi. Aku mendorong dadanya hingga kami terlepas.

“Apa karena Jiyul pernah menyentuhku?!” tanyanya berang.

“Tidak.  Aku memiliki alasan lain―”

“―karena Jinki?!” potongnya. Aku terpaku cukup lama. “Jadi benar karena dia? Kim Sena, bagaimana bisa kau lebih memilih Jinki dibandingkan aku?!”

Aku menunduk.

“Kalau kau tanya otakku, aku tak bisa jawab. Semua ini terjadi begitu saja, tak bisa dijamah oleh logika.”

Ia memukul dahinya dengan tangan berkali-kali, berusaha mencerna perkataanku sambil jalan kesana-kemari dengan gelisah.

“Tak ada lagi kesempatan untukku?”

Hatiku terenyuh mendengar suara paraunya ditambah dengan tatapan lembutnya yang berkaca-kaca menatapku. “Tidak ada,” jawabku lirih. Air mata merembes begitu saja. “Maafkan aku, Kris.”

Kedua tanganku dicengkeram erat, seperti ini adalah terakhir kali baginya memegang tanganku. Matanya yang teduh lagi-lagi menatapku lekat. Aku merasa bisa membaca semua pikirannya, hatinya, juga kata-kata yang sudah tak mampu lagi ia ungkapkan. Kedua tangan besar tersebut aku lepas dan kugantikan pelukan tererat yang pernah kuberikan untuknya. Perlahan-lahan aku bisa mendengar suara tangis.

Aku tahu ini adalah hari terburuk dalam hidupmu, Kris, because you lost me

Forever

 

***

 

JINKI

Keceriaan beberapa waktu lalu di taman luruh begitu saja. And now, I feel like shit (again). Setelah berjuang menahan diri untuk tidak menyilet-nyilet tangan dengan pisau lipat beberapa waktu lalu, sekarang rasanya aku ingin menenggelamkan diri ke danau, kalau saja sedang tidak beku.

Onew, pemimpin grup pria yang membawahi empat anggota di mana nama kami sudah dikenal hampir di seluruh pelosok dunia, yang karismanya dapat membius jutaan wanita hanya dengan satu senyuman rupanya masih saja belum benar-benar bisa menaklukan hati Kim Sena. Aku yakin sekali dia tidak datang ketika Tuhan membagikan hati, mata, dan otak. Dia tidak bisa merasakan cintaku, tidak bisa melihat ketulusanku, juga tidak berpikir jernih untuk menerima Kris kembali. Ingin sekali teriak, “ADA AKU DI SINI, BUKA MATAMU LEBAR-LEBAR!” Kalau masih tidak berhasil, biar kuantar kau ke salon kecantikan untuk membuat tiga sampai empat eyelids kalau perlu asalkan kau bisa melihat kehadiranku di sini.

Oke, aku hampir gila.

Tiga minggu berlalu setelah kejadian keparat itu. Lagi-lagi aku menghindari Sena. Hati terlalu sakit untuk menerima kenyataan bahwa dia dan Kris akan segera menikah. Tinggal menghitung mundur hari menuju pernikahan mereka yang artinya beberapa hari menjelang ajalku. Setelah hari itu aku akan memasuki fase zombie. Raga bergerak namun jiwa melayang entah kemana. Hampa, kosong, aku hidup hanya akan mendengar permintaan orang-orang untukku melakukan sesuai yang mereka inginkan.

Saat hati sedang kacau, cara paling mudah melampiaskannya adalah main game. Di laptop atau pakai PlayStation portable yang penting bisa mengalihkan pikiran dari perasaan galau dan masalah yang dihadapi. Aku tahu kebiasaan ini biasa sekali tapi ini sangat nyaman. Setiap waktu istirahat yang kumiliki akan kuhabiskan dengan bermain game karena ketika pikiran terpusatkan pada sesuatu, bayangan Sena mengenakan pakaian pengantin dengan si raksasa Kris di sisinya akan menghilang secara perlahan. Mungkin bagi wanita hal yang sedang kulakukan ini memusingkan, tapi bagi pria ini adalah kesenangan. Jika dianalogikan, sama saja seperti shopping untuk para wanita.

Kegiatan merokokku akhir-akhir ini meningkat pesat. Dalam sehari aku bisa menghabiskan dua kotak rokok dan berbotol-botol Soju. Selain itu, di malam hari aku akan meminjam motor besar Jonghyun dan kebut-kebutan di jalan raya. Pernah sekali hampir tertangkap polisi, tapi aku sedang beruntung saat itu, mereka tidak sanggup mengejarku. Aku melakukan ini karena aku tidak tahu harus berpegangan pada siapa. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada tempat bagiku untuk bersandar, tidak ada yang mau berbagi punggung.

Kemudian, salah satu cara lainnya yang bisa membuatku lupa sedang sedih adalah dengan bermain bersama teman-teman, mengobrol berjam-jam hingga aku melupakan kepedihan di hati. Mereka sangat tahu bagaimana cara menyenangkan hatiku walau tidak ada satupun dari mereka yang mengerti isi hati ini. Jika tahu aku sedang dalam keadaan seperti ini, bisa diledek habis-habisan.

Cara terakhir meluapkan kesedihan yang masih aku pakai hingga saat ini, yang selalu kulakukan setiap malam adalah masuk kamar dan menangis. Tidak perlu malu untuk menangis. Kami, para pria, pun memiliki kelenjar air mata sama seperti perempuan. Selama ini pria terjebak dalam stereotif “Boys don’t cry” yang membuat kami malu menitikkan air mata. Bahwa pria menangis itu lemah, tidak jantan, dan cengeng sangat menyiksa kami. Jika sudah di ambang batas kesabaran dan emosi, pria akan menyendiri. Dalam kondisi seperti ini, sangat mungkin kami menangis. Tentu saja tanpa dilihat orang lain. Hanya kami dan Tuhan yang tahu seberapa banyak air mata yang mengalir.

Hyung.”

Tak perlu menoleh, itu Minho.

“Hm.” Aku menenggak bir kaleng ketiga, duduk di kamar sambil menghadap jendela. Sinar matahari yang tidak terlalu menyilaukan memancarkan cahayanya yang merambat lurus ke wajahku. Minho ikut duduk di samping sambil membuka kail kaleng.

“Sebenarnya apa yang telah terjadi?”

“Tak ada.”

“Tidak mungkin. Kau menjadi sangat aneh pasca blind date yang kurancang bersama Jira. Apa yang terjadi, Hyung, apa Sena-noona menolakmu?”

Kenapa pria tampan ini terlahir cacat linguistik, Ya Tuhan? Tidak bisakah dia berbicara sedikit halus? Hei, ini masalah hati. Bicaralah selembut mungkin, Choi Minho, kata “menolakmu” itu seperti godam besar yang memalu jantungku. Aku sendiri juga tidak tahu sudah ditolak atau belum. Yang pasti tiga minggu ini aku menghindarinya. Takut bertemu dengannya. Mendengar namanya saja nyaliku mengkeret.

“Dia akan menikah dengan Kris, aku bisa apa, Minho?”

“Rebut dia!”

Aku bisa melihat api berkilat-kilat di matanya. Gila… aku yang berurusan dengan ini semua tapi kenapa dia yang bersemangat.

“Tinggal beberapa hari menuju pernikahan, apa yang masih bisa kulakukan?!”

“Rebut dia!” Minho mengulangnya lagi membuatku jengkel. “Hyung, memangnya kau tidak tahu kalau Kris sudah lama meninggalkan Korea? Awalnya dia pergi ke China kemudian ke Kanada, hingga sekarang masih di sana. Kudengar dia mengajukan surat pengunduran diri ke perusahaan. Tapi sejauh ini masih berupa rumor sih.”

“Tentu saja dia pergi untuk membawa kabar pernikahan ke keluarganya.”

“Tidak seperti itu, Hyung, aku sering melihat Junmyeon (Suho) mengeluh pada Jonghyun-hyung kalau grup mereka sedang tidak seimbang.”

“Berhenti memberi harapan semu, Choi Minho, aku tidak ingin terjatuh untuk yang kesekian kali. Kau tidak pernah tahu seperti apa sakitnya ditinggal menikah oleh seseorang yang kau cintai.”

Aku membereskan kaleng-kaleng kosong dan memasukkannya ke dalam plastik sampah. Minho masih berdiri di tempatnya, tidak berkutik sedikitpun. Dia hanya memperhatikanku membereskan ruangan.

“Rebut, Hyung, sebelum semuanya terlambat. Jangan mengulang apa yang pernah terjadi beberapa tahun silam ketika kau kehilangan Kim Jira. Aku memang tidak pernah tahu seperti apa sakitnya ditinggal menikah oleh orang yang dicintai. Yang kutahu tak ada yang lebih menyakitkan di dunia ini selain kehilangan orang yang dicintai. Ambil dia kembali, Hyung. Kau tidak sadar kalau kau selalu memiliki harapan hanya saja kau sendiri yang menyia-nyiakannya.”

Hatiku seperti dicubiti oleh kata-katanya hingga lebam. Sakit sekali hingga sulit rasanya hanya untuk bernapas pun. Minho membuatku K.O. hanya dengan satu pukulan.

Aku menggapai jaket dan ponsel dari atas kasur kemudian berjalan keluar kamar.

“Aku keluar dulu, Jungah-noona mengajakku makan siang.”

“Hati-hati. Kita masih dalam perhatian publik karena baru comeback.”

“Hei…,” aku menatapnya sinis, “…jangan mengatakan apa yang seharusnya kukatakan pada anak buahku!”

Minho tertawa dan membentuk tanda “Oke” dengan jarinya.

Kim Jungah―another Kim lady―merupakan seorang noona sekaligus sahabat karibku. Dia sangat baik, ramah, dan menyenangkan. Bisa mengimbangi ketidakjelasan perilakuku dan memakluminya. Kami tidak memiliki hubungan yang canggung karena sudah mengenal cukup lama. Ia menganggapku sebagai adiknya. Kami hanya berteman dan nyaman satu sama lain.

Meski di televisi aku mengatakan bahwa tipe idealku adalah seorang noona, bukan berarti aku mengencani noona cantik satu ini. Aku mengatakan itu karena sebagian besar penggemar SHINee adalah para noona, jadi perusahaan memintaku untuk mengatakan pada publik bahwa tipe idealku adalah seorang noona.

Apgujeong cukup ramai hari ini. Aku tidak menutupi wajah dengan masker ataupun topi, memiliki “me-time” tanpa embel-embel status selebriti sangat kuinginkan hari ini. Jadi, katakan selamat tinggal sejenak pada kepenatan hidup…

“Ah, mereka memotret lagi,” keluh Jungah saat kami menuruni tangga setelah selesai makan dan keluar dari restoran menunggu valet parking. Aku melihat memang ada beberapa orang yang memotret kami dengan ponselnya. Kuakui agak mengejutkan karena di tangan kananku sedang terselip rokok elektrik. Tapi tidak buru-buru kusembunyikan, akan kubiarkan publik mengetahuinya. Aku ingin tahu reaksi mereka. SHINee sudah bukan anak-anak lagi, kami telah berubah menjadi pria dewasa terhitung Taemin telah menginjak usia legal.

“Aku atau kau yang mengemudi?” tawarku.

“Aku, tentu saja. Aku tidak ingin penggemarmu lebih salah paham lagi melihatmu yang mengendarai mobil. Ah, sial, aku akan diserang beberapa saat lagi.”

“Mari kita tunggu sampai foto-foto itu diunggah ke internet.”

“Senang sekali kau!” Jungah merengut sambil menyalakan mesin mobil sedangkan aku duduk santai di sampingnya. Aku tetap akan memasang tampang cute di sini untuk menyelamatkan Jungah. Supaya orang mengira kalau aku adalah anak lelaki yang manis dengan seorang noona cantik di sampingku.

“Semuanya akan baik-baik saja, jangan khawatir.”

 

***

 

SENA

Telunjukku berhenti menyentuh layar ponsel ketika beberapa foto mencuat di halaman depan sebuah portal berita selebriti. Jantungku berdegup tidak wajar, tanganku bergetar dan rasanya ingin menangis saat ini juga. Ada dua orang dalam foto tersebut, salah satunya laki-laki dengan jaket varsity merah dan perempuan cantik berjaket biru. Pemandangan yang mampu merobek dan mengiris hatiku.

Awalnya aku hanya ingin diam, menahan segala kekecewaan dan memendamnya sendiri. Namun seperti ada yang menggodam dadaku. Aku tercekat, kerongkonganku rasanya seperti sesak. Mata semakin panas saat membaca judul beberapa artikel yang baru diposting. Semuanya membicarakan masalah “kencan” kedua selebriti itu.

Sekarang aku tahu kenapa Jinki menghindariku beberapa minggu terakhir, akhirnya dia menemukan cintanya. Tapi kalau memang begitu, kenapa ia harus mengatakan hal-hal yang mengisyaratkan bahwa ia memiliki perasaaan yang sama denganku saat di taman tempo hari?

Kata-katanya semu, tidak nyata, harapan kosong.

Aku memasukan ponsel ke dalam tas dan segera keluar dari coffee shop tanpa menghabiskan kopiku yang baru diesap setengahnya. Kakiku berlari kencang, melewati beberapa shelter bus juga tidak memedulikan taksi yang berlalu-lalang di jalanan. Aku tidak ingin berlari tapi kakiku tidak mau berhenti, jadi kubiarkan saja kemana ia mau membawaku.

Sesak yang menggumpal di kerongkongan mencair seiring dengan tangisan yang keluar hebat, tersedu-sedu sepanjang jalan sampai rasanya mau mati karena kesulitan meraup oksigen. Berlari sambil menangis, ya Tuhan yang benar saja, cinta memang membuatku menjadi gemulai.  Agak menjijikkan. Indeed.

Ketika sampai di sebuah kawasan apartemen, aku menerobos masuk tanpa memedulikan sekuriti yang bertanya di lobi. Aku tahu ini oh-so-drama sekali karena lagi-lagi kakiku tidak memedulikan lift, tapi membuka pintu evakuasi dan berlari semakin kencang menaiki tangga. It’s freaking a high building dan aku memilih menaiki tangga? Oke, kakiku, bukan aku.

Akhirnya kaki berhenti di lantai enam. Seingatku apartemen Kim Jira benar di depan mataku. Tangan menekan interkom sementara tubuh sekuat mungkin menahan kaki yang mulai bergetar hebat.  Dada juga naik turun berusaha menstabilkan napas.

Pintu terbuka, malaikat cantik menyambutku.

“Sena-eonni?” panggilnya. Kakiku tidak kuat lagi menopang tubuh, aku menjatuhkan diri, terduduk di lantai. Air mata masih tidak berhenti mengalir. Tangisku mengeras.

“Tolong aku…”

 

…to be continued…

 

# Hai, sampai jumpa di chapter terakhir ^^/

 

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

77 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Fourteen]

  1. Kenapa harus TBC disaat kaya gini.. aahhh eonn kau menyebalkan T^T

    Ini lagi serius seriusnya baca.. kris kasian huweeeeeeeeeee TT_TT

    Lanjutannya jangan lama lama!!! Hehe

  2. Good FF ! I love it! Kapan Chapter 15 rampung ? saya harap minggu-minggu ini chapter 15 sudah bisa di post kan ya. Kalau bisa dilanjutkan saja sampai chapter 20. Benar-benar bagus ceritanya🙂

  3. Pas TBC nya yaampuunn author..jangan lama-lama please chapter 15nya;;
    Kris kasian..tapi gapapa juga sih /lho
    Jangan bilang chapter 15 itu last chapter…

  4. Tbc nya ga asik banget -.- aaah kasus onew jungah dibahas /.\ brntar lagi end kaaaah??? waw harus happy ending pokoknya please bikin adegan cute jinki sena eon jebal :3
    kris kasian ya pukpuk

  5. aku baru baca bagian awal saat komen di sini. tak sabar untuk komen, ceritanya. arrrrrrrgh sudah menunggu2 chap ini, kukira belum keluar. baru tau hari ini ada Chap 14. kemana saja aku? hehehe.
    rasanya tak sanggup membaca bagian selanjutnya, setelah melihat komen dr yg lain. hahaha.
    next chap-nya ditunggu, SECEPATNYA. #pemaksaan, piiiiiiiiiiiis #padahal blm baca semua chap 14 nya xixixi

  6. Aaaaaa,,, tau2 udah chapter 14 dan menuju ending,,,,

    Aku ngebut bacanya nih, wkwkwk,

    Okeh, berkaki2 tiap baca ff Diya ituh pasti nyeletuk WOW, Hah, what the…..
    haha, emosinya Sena, Jinki atopun Krisseu kerasa banget,
    kadang ikut sedih juga TT_____TT

    Apalagi fakta yg diselipin di chapt ini, bikin aku keinget sm jaman itu, wkwkw,
    shock berat n benci setengah mati sm Jungah, /apaini/

    Selipin “sesuatu” dong sebelum final chapter, xixixi,,,,
    hwaitingggg

  7. Andwe. . . Kalo ch 15 terakhr rasanya masih ada yang kurang,,
    tapi aku tetap harus nunggu ch terakhir… Oke aku tunggu!
    Hari ini aku bca dr ch 3*kalo gak lupa, sampe ch 14 dan melihat knytaan tinggal 1 chapter lg akan selese rasanya belum cukup cerita ini smpe disitu aja . . Fiuh

  8. konfliknya keren2.. kebanyakan sih salah pahamk ya.. tapi itu bikin rame (y) kerennnn!!
    berakhir di chap 15?😦
    I won’t forget this ff..
    i like it! last chapternya buruan yaa..

    1. eh engga deng, rumor nya sih emang dari 2013, waktu mau comeback wolf. makanya comeback 1st album exo dicancel gitu gegara ada sekandal rumor kris out. tapi semuanya ga terjadi dan kris balik lagi ke korea. *maaf kalo ada salah dalam penjelasan* ^^
      dia out kalo ga salah 2014.

      gua lupa-lupa ingat. xD

  9. woah woah woaaaaah
    terakhiiir? yaaaaaah kok ga rela yaaaaaa
    satu-satunya author yang bikin aku ngerasain perasaan dalam satu karakter SENA atau JINKI. pembawaan sudut pandangnya bener-bener the best./?
    MY GOSSHH

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s