Beautiful Stranger [Chapter Fourteen]

Beautiful Stranger

 

SENA

TEMBOK yang kupakai untuk bersandar terasa semakin dingin hingga menusuk tulang belakang ketika angin yang bertiup menelusup ke tengkuk. Aku menunggu Kris datang, dia yang memintaku kemari dan meninggalkan Jinki di tempat kencan kami―kencan pertama yang takkan pernah kulupakan seumur hidup. Mengingatnya saja cukup membuatku tersenyum sendiri seperti orang tidak waras. Tapi memang Jinki membuatku gila, sayang sekali itu faktanya.

Jinki, Jinki, Jinki… kepalaku penuh dengannya. Rasanya ingin sekali diam di tempat, tidak melakukan gerakan apapun karena khawatir kepingan bayangan Jinki berjatuhan dari dalam kepala saking penuhnya. Yuckkk, kalimatku menjijikkan, tapi aku berani bersumpah memang tak ada lagi kalimat yang mampu mendeskripsikan perasaanku saat ini. Jadi, terima kasih telah memaklumi.

Kris muncul dari balik pintu belakang apartemen, ia mengenakan beanie abu-abu, rambut emasnya berkilauan dan bergoyang tertiup angin, kacamata hitam bertengger di atas hidungnya, ditambah coat berwarna senada membuatnya terlihat semakin tampan. Kuakui itu, Kris memang lah tampan.

“Maaf, sudah membuatmu menunggu di sini,” katanya.

“Ya, terima kasih, aku hampir mati kedinginan.”

Kris nyengir. Sekejap kemudian ia mengeluarkan kunci mobil. “Ayo!” ajaknya.

“Mau kemana kita?”

Fitting pakaian pernikahan. Tinggal satu setengah bulan lagi and you’ll be mine…”

Aku tercenung, hampir saja melupakan masalah pernikahan. Jantung berdebar hebat sementara otak tak berhenti berpikir tentang bagaimana cara yang tepat menolak pernikahan itu. Kris tidak bisa diam, dia terus mengoceh mengenai rencana-rencana yang telah ia buat untuk acara pesta dan bulan madu. Senyumnya mengembang, di matanya berkilat gairah yang luar biasa besar, ia juga tak berhenti bersiul ketika memeriksa pesan di ponselnya.

“Kris…,” panggilku di mana ia terus bergerak kesana-kemari mengikuti letupan di hatinya, “…Kris bisa kau dengar aku sebentar saja?”

Ia berhenti dan menghampiriku, membuat jarak yang sangat dekat denganku.

“Apa? Kau kurang setuju kalau kita bulan madu di Paris?”

“Bu-bukan itu.” Aku menepis tangannya yang akan berusaha mengaitkan rambutku ke telinga.

“Terus?” tanyanya bingung. Aku menarik napas dalam-dalam dan menatap lekat matanya. Mencoba mengirimkan pesan non-verbal melalui mataku yang sudah berbicara lebih dulu. Lambat laun tatapannya melemah, ia bahkan berkedip beberapa kali dan melepaskan tatapannya dariku sambil menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak mau dengar,” tolaknya.

You should! Ini mengenai kita berdua. Dengarkan, Kris, aku tidak akan mengulanginya. Begini, aku belum memikirkan tentang pernikahan untuk saat ini dan aku tidak pernah bilang setuju akan pernikahan yang telah keluargamu rancang untuk kita. Kau bahkan belum bertanya bagaimana perasaanku padamu saat ini.

Keadaan telah berbeda, semuanya berubah, kau seharusnya mengerti bahwa sejak lima tahun yang lalu sudah tidak ada lagi “kita”. Yang ada hanya kau dan aku, tidak lagi terbungkus dengan kita. Perasaanku tidak lagi seperti dulu. Tidak ada lagi cinta ketika sedang bersamamu. Aku tahu ini sangat tidak pantas diucapkan tapi aku hanya ingin berkata sejujurnya padamu. Maaf, Kris, kita tidak bisa menikah. Aku baru bisa menyampaikan ini karena tidak pernah diberi kesempatan untuk bicara, kau dan Mama tidak membiarkanku menyuarakan pendapat. Kita memang pernah bersama, Kris, tapi tidak ditakdirkan sampai menikah. Kisah kita telah lama usai. Pahamilah…”

Kedua alisnya bertaut, matanya memandangku sangat marah. Mimik ‘merasa dikhianati’ tergambar jelas dari wajahnya. Tubuhnya bergetar menahan kepedihan yang merobek-robek hatinya. Kata-kata kasarku tadi memang cukup membuat hatinya terluka dalam. Aku tidak berniat menyakitinya, hanya ingin menyampaikan apa yang seharusnya ia ketahui dan sayangnya itu mutlak menusuk jantungnya. Maaf, Kris, aku tidak punya pilihan lain.

Alih-alih menghampiriku untuk mengguncang tubuhku, menampar, ataupun membenturkan kepalaku ke dinding agar aku sadar dengan apa yang baru saja aku katakan, Kris lebih memilih membalikkan badan untuk memunggungiku. Aku tahu ia sedang menyembunyikan tangisnya.

“Kris,” panggilku sambil menghampirinya dan memberinya sebuah pelukan, “…maafkan aku.”

Ia berbalik dan tanpa bisa kuhindari sejurus kemudian bibirnya telah sampai di bibirku. Aku luar biasa terkejut. Bukan ini yang seharusnya terjadi. Aku mendorong dadanya hingga kami terlepas.

“Apa karena Jiyul pernah menyentuhku?!” tanyanya berang.

“Tidak.  Aku memiliki alasan lain―”

“―karena Jinki?!” potongnya. Aku terpaku cukup lama. “Jadi benar karena dia? Kim Sena, bagaimana bisa kau lebih memilih Jinki dibandingkan aku?!”

Aku menunduk.

“Kalau kau tanya otakku, aku tak bisa jawab. Semua ini terjadi begitu saja, tak bisa dijamah oleh logika.”

Ia memukul dahinya dengan tangan berkali-kali, berusaha mencerna perkataanku sambil jalan kesana-kemari dengan gelisah.

“Tak ada lagi kesempatan untukku?”

Hatiku terenyuh mendengar suara paraunya ditambah dengan tatapan lembutnya yang berkaca-kaca menatapku. “Tidak ada,” jawabku lirih. Air mata merembes begitu saja. “Maafkan aku, Kris.”

Kedua tanganku dicengkeram erat, seperti ini adalah terakhir kali baginya memegang tanganku. Matanya yang teduh lagi-lagi menatapku lekat. Aku merasa bisa membaca semua pikirannya, hatinya, juga kata-kata yang sudah tak mampu lagi ia ungkapkan. Kedua tangan besar tersebut aku lepas dan kugantikan pelukan tererat yang pernah kuberikan untuknya. Perlahan-lahan aku bisa mendengar suara tangis.

Aku tahu ini adalah hari terburuk dalam hidupmu, Kris, because you lost me

Forever

 

***

 

JINKI

Keceriaan beberapa waktu lalu di taman luruh begitu saja. And now, I feel like shit (again). Setelah berjuang menahan diri untuk tidak menyilet-nyilet tangan dengan pisau lipat beberapa waktu lalu, sekarang rasanya aku ingin menenggelamkan diri ke danau, kalau saja sedang tidak beku.

Onew, pemimpin grup pria yang membawahi empat anggota di mana nama kami sudah dikenal hampir di seluruh pelosok dunia, yang karismanya dapat membius jutaan wanita hanya dengan satu senyuman rupanya masih saja belum benar-benar bisa menaklukan hati Kim Sena. Aku yakin sekali dia tidak datang ketika Tuhan membagikan hati, mata, dan otak. Dia tidak bisa merasakan cintaku, tidak bisa melihat ketulusanku, juga tidak berpikir jernih untuk menerima Kris kembali. Ingin sekali teriak, “ADA AKU DI SINI, BUKA MATAMU LEBAR-LEBAR!” Kalau masih tidak berhasil, biar kuantar kau ke salon kecantikan untuk membuat tiga sampai empat eyelids kalau perlu asalkan kau bisa melihat kehadiranku di sini.

Oke, aku hampir gila.

Tiga minggu berlalu setelah kejadian keparat itu. Lagi-lagi aku menghindari Sena. Hati terlalu sakit untuk menerima kenyataan bahwa dia dan Kris akan segera menikah. Tinggal menghitung mundur hari menuju pernikahan mereka yang artinya beberapa hari menjelang ajalku. Setelah hari itu aku akan memasuki fase zombie. Raga bergerak namun jiwa melayang entah kemana. Hampa, kosong, aku hidup hanya akan mendengar permintaan orang-orang untukku melakukan sesuai yang mereka inginkan.

Saat hati sedang kacau, cara paling mudah melampiaskannya adalah main game. Di laptop atau pakai PlayStation portable yang penting bisa mengalihkan pikiran dari perasaan galau dan masalah yang dihadapi. Aku tahu kebiasaan ini biasa sekali tapi ini sangat nyaman. Setiap waktu istirahat yang kumiliki akan kuhabiskan dengan bermain game karena ketika pikiran terpusatkan pada sesuatu, bayangan Sena mengenakan pakaian pengantin dengan si raksasa Kris di sisinya akan menghilang secara perlahan. Mungkin bagi wanita hal yang sedang kulakukan ini memusingkan, tapi bagi pria ini adalah kesenangan. Jika dianalogikan, sama saja seperti shopping untuk para wanita.

Kegiatan merokokku akhir-akhir ini meningkat pesat. Dalam sehari aku bisa menghabiskan dua kotak rokok dan berbotol-botol Soju. Selain itu, di malam hari aku akan meminjam motor besar Jonghyun dan kebut-kebutan di jalan raya. Pernah sekali hampir tertangkap polisi, tapi aku sedang beruntung saat itu, mereka tidak sanggup mengejarku. Aku melakukan ini karena aku tidak tahu harus berpegangan pada siapa. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada tempat bagiku untuk bersandar, tidak ada yang mau berbagi punggung.

Kemudian, salah satu cara lainnya yang bisa membuatku lupa sedang sedih adalah dengan bermain bersama teman-teman, mengobrol berjam-jam hingga aku melupakan kepedihan di hati. Mereka sangat tahu bagaimana cara menyenangkan hatiku walau tidak ada satupun dari mereka yang mengerti isi hati ini. Jika tahu aku sedang dalam keadaan seperti ini, bisa diledek habis-habisan.

Cara terakhir meluapkan kesedihan yang masih aku pakai hingga saat ini, yang selalu kulakukan setiap malam adalah masuk kamar dan menangis. Tidak perlu malu untuk menangis. Kami, para pria, pun memiliki kelenjar air mata sama seperti perempuan. Selama ini pria terjebak dalam stereotif “Boys don’t cry” yang membuat kami malu menitikkan air mata. Bahwa pria menangis itu lemah, tidak jantan, dan cengeng sangat menyiksa kami. Jika sudah di ambang batas kesabaran dan emosi, pria akan menyendiri. Dalam kondisi seperti ini, sangat mungkin kami menangis. Tentu saja tanpa dilihat orang lain. Hanya kami dan Tuhan yang tahu seberapa banyak air mata yang mengalir.

Hyung.”

Tak perlu menoleh, itu Minho.

“Hm.” Aku menenggak bir kaleng ketiga, duduk di kamar sambil menghadap jendela. Sinar matahari yang tidak terlalu menyilaukan memancarkan cahayanya yang merambat lurus ke wajahku. Minho ikut duduk di samping sambil membuka kail kaleng.

“Sebenarnya apa yang telah terjadi?”

“Tak ada.”

“Tidak mungkin. Kau menjadi sangat aneh pasca blind date yang kurancang bersama Jira. Apa yang terjadi, Hyung, apa Sena-noona menolakmu?”

Kenapa pria tampan ini terlahir cacat linguistik, Ya Tuhan? Tidak bisakah dia berbicara sedikit halus? Hei, ini masalah hati. Bicaralah selembut mungkin, Choi Minho, kata “menolakmu” itu seperti godam besar yang memalu jantungku. Aku sendiri juga tidak tahu sudah ditolak atau belum. Yang pasti tiga minggu ini aku menghindarinya. Takut bertemu dengannya. Mendengar namanya saja nyaliku mengkeret.

“Dia akan menikah dengan Kris, aku bisa apa, Minho?”

“Rebut dia!”

Aku bisa melihat api berkilat-kilat di matanya. Gila… aku yang berurusan dengan ini semua tapi kenapa dia yang bersemangat.

“Tinggal beberapa hari menuju pernikahan, apa yang masih bisa kulakukan?!”

“Rebut dia!” Minho mengulangnya lagi membuatku jengkel. “Hyung, memangnya kau tidak tahu kalau Kris sudah lama meninggalkan Korea? Awalnya dia pergi ke China kemudian ke Kanada, hingga sekarang masih di sana. Kudengar dia mengajukan surat pengunduran diri ke perusahaan. Tapi sejauh ini masih berupa rumor sih.”

“Tentu saja dia pergi untuk membawa kabar pernikahan ke keluarganya.”

“Tidak seperti itu, Hyung, aku sering melihat Junmyeon (Suho) mengeluh pada Jonghyun-hyung kalau grup mereka sedang tidak seimbang.”

“Berhenti memberi harapan semu, Choi Minho, aku tidak ingin terjatuh untuk yang kesekian kali. Kau tidak pernah tahu seperti apa sakitnya ditinggal menikah oleh seseorang yang kau cintai.”

Aku membereskan kaleng-kaleng kosong dan memasukkannya ke dalam plastik sampah. Minho masih berdiri di tempatnya, tidak berkutik sedikitpun. Dia hanya memperhatikanku membereskan ruangan.

“Rebut, Hyung, sebelum semuanya terlambat. Jangan mengulang apa yang pernah terjadi beberapa tahun silam ketika kau kehilangan Kim Jira. Aku memang tidak pernah tahu seperti apa sakitnya ditinggal menikah oleh orang yang dicintai. Yang kutahu tak ada yang lebih menyakitkan di dunia ini selain kehilangan orang yang dicintai. Ambil dia kembali, Hyung. Kau tidak sadar kalau kau selalu memiliki harapan hanya saja kau sendiri yang menyia-nyiakannya.”

Hatiku seperti dicubiti oleh kata-katanya hingga lebam. Sakit sekali hingga sulit rasanya hanya untuk bernapas pun. Minho membuatku K.O. hanya dengan satu pukulan.

Aku menggapai jaket dan ponsel dari atas kasur kemudian berjalan keluar kamar.

“Aku keluar dulu, Jungah-noona mengajakku makan siang.”

“Hati-hati. Kita masih dalam perhatian publik karena baru comeback.”

“Hei…,” aku menatapnya sinis, “…jangan mengatakan apa yang seharusnya kukatakan pada anak buahku!”

Minho tertawa dan membentuk tanda “Oke” dengan jarinya.

Kim Jungah―another Kim lady―merupakan seorang noona sekaligus sahabat karibku. Dia sangat baik, ramah, dan menyenangkan. Bisa mengimbangi ketidakjelasan perilakuku dan memakluminya. Kami tidak memiliki hubungan yang canggung karena sudah mengenal cukup lama. Ia menganggapku sebagai adiknya. Kami hanya berteman dan nyaman satu sama lain.

Meski di televisi aku mengatakan bahwa tipe idealku adalah seorang noona, bukan berarti aku mengencani noona cantik satu ini. Aku mengatakan itu karena sebagian besar penggemar SHINee adalah para noona, jadi perusahaan memintaku untuk mengatakan pada publik bahwa tipe idealku adalah seorang noona.

Apgujeong cukup ramai hari ini. Aku tidak menutupi wajah dengan masker ataupun topi, memiliki “me-time” tanpa embel-embel status selebriti sangat kuinginkan hari ini. Jadi, katakan selamat tinggal sejenak pada kepenatan hidup…

“Ah, mereka memotret lagi,” keluh Jungah saat kami menuruni tangga setelah selesai makan dan keluar dari restoran menunggu valet parking. Aku melihat memang ada beberapa orang yang memotret kami dengan ponselnya. Kuakui agak mengejutkan karena di tangan kananku sedang terselip rokok elektrik. Tapi tidak buru-buru kusembunyikan, akan kubiarkan publik mengetahuinya. Aku ingin tahu reaksi mereka. SHINee sudah bukan anak-anak lagi, kami telah berubah menjadi pria dewasa terhitung Taemin telah menginjak usia legal.

“Aku atau kau yang mengemudi?” tawarku.

“Aku, tentu saja. Aku tidak ingin penggemarmu lebih salah paham lagi melihatmu yang mengendarai mobil. Ah, sial, aku akan diserang beberapa saat lagi.”

“Mari kita tunggu sampai foto-foto itu diunggah ke internet.”

“Senang sekali kau!” Jungah merengut sambil menyalakan mesin mobil sedangkan aku duduk santai di sampingnya. Aku tetap akan memasang tampang cute di sini untuk menyelamatkan Jungah. Supaya orang mengira kalau aku adalah anak lelaki yang manis dengan seorang noona cantik di sampingku.

“Semuanya akan baik-baik saja, jangan khawatir.”

 

***

 

SENA

Telunjukku berhenti menyentuh layar ponsel ketika beberapa foto mencuat di halaman depan sebuah portal berita selebriti. Jantungku berdegup tidak wajar, tanganku bergetar dan rasanya ingin menangis saat ini juga. Ada dua orang dalam foto tersebut, salah satunya laki-laki dengan jaket varsity merah dan perempuan cantik berjaket biru. Pemandangan yang mampu merobek dan mengiris hatiku.

Awalnya aku hanya ingin diam, menahan segala kekecewaan dan memendamnya sendiri. Namun seperti ada yang menggodam dadaku. Aku tercekat, kerongkonganku rasanya seperti sesak. Mata semakin panas saat membaca judul beberapa artikel yang baru diposting. Semuanya membicarakan masalah “kencan” kedua selebriti itu.

Sekarang aku tahu kenapa Jinki menghindariku beberapa minggu terakhir, akhirnya dia menemukan cintanya. Tapi kalau memang begitu, kenapa ia harus mengatakan hal-hal yang mengisyaratkan bahwa ia memiliki perasaaan yang sama denganku saat di taman tempo hari?

Kata-katanya semu, tidak nyata, harapan kosong.

Aku memasukan ponsel ke dalam tas dan segera keluar dari coffee shop tanpa menghabiskan kopiku yang baru diesap setengahnya. Kakiku berlari kencang, melewati beberapa shelter bus juga tidak memedulikan taksi yang berlalu-lalang di jalanan. Aku tidak ingin berlari tapi kakiku tidak mau berhenti, jadi kubiarkan saja kemana ia mau membawaku.

Sesak yang menggumpal di kerongkongan mencair seiring dengan tangisan yang keluar hebat, tersedu-sedu sepanjang jalan sampai rasanya mau mati karena kesulitan meraup oksigen. Berlari sambil menangis, ya Tuhan yang benar saja, cinta memang membuatku menjadi gemulai.  Agak menjijikkan. Indeed.

Ketika sampai di sebuah kawasan apartemen, aku menerobos masuk tanpa memedulikan sekuriti yang bertanya di lobi. Aku tahu ini oh-so-drama sekali karena lagi-lagi kakiku tidak memedulikan lift, tapi membuka pintu evakuasi dan berlari semakin kencang menaiki tangga. It’s freaking a high building dan aku memilih menaiki tangga? Oke, kakiku, bukan aku.

Akhirnya kaki berhenti di lantai enam. Seingatku apartemen Kim Jira benar di depan mataku. Tangan menekan interkom sementara tubuh sekuat mungkin menahan kaki yang mulai bergetar hebat.  Dada juga naik turun berusaha menstabilkan napas.

Pintu terbuka, malaikat cantik menyambutku.

“Sena-eonni?” panggilnya. Kakiku tidak kuat lagi menopang tubuh, aku menjatuhkan diri, terduduk di lantai. Air mata masih tidak berhenti mengalir. Tangisku mengeras.

“Tolong aku…”

 

…to be continued…

 

# Hai, sampai jumpa di chapter terakhir ^^/

 

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

78 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Fourteen]”

  1. owh,,owh,.jinki-sena mengambil asumsi sendiri lagi deh,,kpn bersatunya? ?#gregetangigithp

    scandal jinki,,kira2 dia perokok beneran g y???

    itu sena nemuin jira semoga jd titik terang,,

  2. aigooooo…
    Dua orang ini bikin otakku keriting..
    Jadi jinki nyesek.. Jadi sena nyesek..
    Huah.. Ikutan nyesek deh..

  3. aigoooo lagi dan lagi.. jeongmal… kapan masalahx selesai..
    aku harap next part mereka bahagia…
    ttp semagat ya athour

  4. haaaa demi apa chap depab udah tamat? huweeeee
    oh jadi yg kris potong cepak trus mudik ke kanada itu krn batal kawin sm sena?pfftt 😀
    ditunggu ya unnie ditunggu next chapt nya :p

  5. Poor Kris.. -_-

    Wooow… pidatonya Minho membakar semangat..

    bener itu Jinki, saya juga Noona yg sukaaaa bgt ma Shinee, terutama sama kamu.. *tunjuk Jinki**

    Ok, skandal Jinki-Jungah seperti yang di beritakan di media akhirnya nongol juga disini..

    aaah, udah mau chap terakhir, syukurlah..
    ditunggu banget Diya.. 🙂

  6. huwaaa…Sena..di jaman canggih gini…sms kek..nelp kek…ngejelasin..Babo…Jinki babo…
    Diya onnie,masa chapter terakhir??panjangin dikit dung,pleaseee..i lop u,diya onnie 😛 jinki-aah,i lop u…apalg abis liat royal villa,ngakak ama style dia wkwkwk..

  7. almost everyday I check for this update.
    finally, it’s here…

    seriusan yah thor yang selanjutnya ending??
    aduuuhh, kenapa ngerasa ga rela ya… hahaha..

    ini salah satu chapter yang gw suka, I’m really love it.
    oke, aku akan menunggu chapter selanjutnya.
    penasaran dengan keadaaan kris,
    penasaran dengan ending keluarga jiyul itu,, itu emaknya endingnya diapain yah…kesal tiap kali klo ngingat perlakuannya ke sena.
    dan yang paling penting penasaran ending jinki-sena..

    please, don’t be so long for the next chapter.
    fighting Diya 🙂

    by the way salam kenal diya 🙂
    biasanya aku selalu pake username mee-icha, tapi kali ini aku pake username WP-ku,, hehe #plakkk… ga penting

  8. heuu.. ya ampun, berasa berabad2 menunggu lanjutannya.. (jadi, berapa umurku skrg? -___-)

    semua kejadiannya beruntun. pas begitu. kris yg waktu itu menghilang, rumor kedekatan Jinki dan Jungah, semuanya pas…
    keren..
    Diya-ssi begitu pandai merangkai semuanya menjadi satu, menyisipkan fiction kedalamnya…
    keren, keren.. (kemudian mencapai ribuan ‘keren;)
    cant wait for the last.. ^^

  9. aduh bacanya deg degan… daebak eon!!!!!!!!!!!! :O
    jadi chapter selanjutnya ending nih? semoga happy ending deh ya…… amin….

  10. Yah2 ga tau musti komeng apa T_T yg jelas ngejleb aja jd keinget “scandal” jingky yg ITU u.u huhuhhuu… Btw gregetan bnget ini ,,,huaaaa next chap serius jgn lama2 thor #digampar

  11. akhir x keluar jga….

    seperti x hub sena sma jinki penuh sma salah paham…
    semoga ini kesalahpahaman yg terakhir,,supaya mereka cepat bersatu…

  12. ya ampun, mereka salah paham lagi. jangan please,. aduuhh jangan bwt asumsi sendiri coba.
    kapan jinki sena bener-bener jadi pasangan yang sah,eh banyak bgt halangannya,.
    mudah”an happy ending.

  13. Ini kan? Ini kan? Pasti pas bersambungnya selalu nyesek.
    Jadi abis ini ending nih? Yah, udah abis dong~
    Okelah gak apa-apa, aku tunggu chapter berikutnyaaa~
    Fighting!

  14. tadi pagi aku buka ini blog dari HP dan teriak teriak gak karuan dikampus, oke memang freak tapi setiap hari aku nungguuin ini fanfic tanpa kenal lelah ceiillleehh~ akhirnya baru bisa komen setelah sampe rumah. akhirnyaa~
    tapi kenapaaaa udahh ending chapter selanjutnya ya ampun aku rasanya gak relaaaa 😦
    tapi gak apa asal jangan ada salah paham lagi antare jinki dan sena. setiap chapter selalu menusuk jangan sampe sad ending nanti aku banting laptop
    oke sampe disini ditunggu yaaa chapter terakhirnya:D

  15. huaaaaa~~ sena sm jinki bnran pgn ak gigitttt….
    yg satu terlalu pengecut.. yang satu lg ga mw maju duluaannnn…
    konflik ny simpel sbnr ny mrk ny aj yg bkin ribet….
    jinki oppaaaaa~~~ rebut sena eonni… minho itu emang tampan tp cacat linguistik yang sangat bisa ditolerir kalo lg keadaan ky gini…
    minho jjanggg!!!
    i hope happy endimggg…

  16. Kenapa tambah rumit??? Tidaaakkk #lebay
    Ah, sekarang Jinki ngira Sena sama Kris (padahal Sena minta buat batalin pernikahan) dan Sena ngira Jinki sama Jungah. Hmm… U.U
    udah mau abis ya eon? ._.
    Ditunggu last chapternya ya eon 😉

  17. *sigh
    nahhh bner kn.. jinki salah paham sama sena..tapi kenapa sena jg ikutan salah paham sama jinki?!?!?!!!! sama tante jungah pula..aaaaaargghhhhhhh!!!
    Kpn bersatunya kalo gini?!! sumpahhh gregetan sama dua org ini!!! ><

  18. akhirnya…. akhirnya…..
    Setelah nunggu ampe mata belel…..
    *gak ada hubungannya….
    Sebulan Diya… sebulan….
    Berasa kayak nungguin bisul pecah….!
    *yyyaaaakkkk…!!!

    Tuh bagian awal jelasin bagian yang sempet bingung kemaren, ya…
    tentang asumsi para readers atas ‘kelabilan’ Sena,
    ternyata, eh ternyata,… Sena tegas!

    Mwo…! Tiga minggu setelah kejadian tu, gak ada komunikasi
    lagi antara suamiku (digetok), maksudku, antara jinki dan Sena…
    Hallooo… Ni jaman udah canggih,
    kalo bisa bulu ketekpun di ‘hair-do’…
    *amit, ngomong apaan aku
    Telpon atau sms, kek, ngapa…

    Cue

    “Hai, Sena… Apa kabar? Seneng ya, bisa permainkan aku.
    setelah kita jalan-jalan, ternyata kamu ketemuan sama Kris,
    pakek cium segala…”
    “Lho, abang tau dari mana? Nggak kayak gitu, bang…
    Abang salah paham… bla… bla… bla…”
    “Oh, jadi gitu, beneran, kamu nolak Kris waktu itu. Maafin abang, ya…
    Abang salah paham… Ntar malem, kita nonton layar tancep yuk.
    Ada film Naga Bonar jaman jadoel…!”

    NG!!!

    Blog didemon!

    Ya, udah, deh, kayaknya emang versinya Diya yang pas…
    Emang readersnya mesti disuruh asthma dulu kayaknya
    ama mereka bedua…

    Nah, tapi, pas bagian Sena yang cemburu emang kurang pas…
    Sena gak mestinya langsung maen lari sambil nangis gitu…
    Kan Jinki-Jungah sama2 selebritis, gak mungkin segampang itu
    buat ngepublikasikan hubungan kalo mmg ada…
    Walaupun ketemuannya selalu ‘after school’ dan gak ganggu
    pelajaran sekolah… *ngaco…
    Tapi lagi2, aku bakal berkata ‘biarin’,
    Biarin Diya mau ngapain disini…
    Biarin Jinki-Sena-readers dibuat kayak orang stress di cerita ini…
    Karena semuanya bakalan terbayar di akhir cerita, di Part End nya…
    *mudah2an… (gigit pepes ikan…)

    Ya, mesti dong, Diya….
    Mereka mesti sweet ending ntar…
    Aku gak mau mereka gantung2 aja, nanti….
    Walau betapa aku cintanya ma abang Jinki,
    kalo nasibnya ma yang namanya ‘cinta’ gak beruntung
    terus2an… aku juga patah hati….
    *getokMinho…
    (Tuh, untuk patah hatinya yang pertama…)

    Buruan chapter selanjutnya, ya…
    jangan lama2…
    gak mesti pas sebulan, kan…
    siklus menstruasi aja 28 hari…
    *dikeroyok yeoja seblog…

    Annyong… *ngumpet di otot abang Jinki…

      1. Mau ngakak, silahkan, Diya….
        Part akhirnya jangan lama-lama…
        Jinkiku jangan sampe patah hati lagi, ya…

        OU,EM,JI…
        Oh My Jinki…

        Kalo sampe abang menderita terus di cerita-ceritanya Diya…
        Yok, Bang…, kita tebarin bibit Raflesia di rumah Diya…

  19. AAHHHHH AKHIRNYA FF INI LANJUT. Aku suka sama ff ini. Sena sama Jinki terlalu banyak salah paham. Mungkin karena mereka suka menduga-duga. Gengsi ngomong langsung. Penasaran sama endingnya. Kris biass harus tabah. Ga k sabar nunggu part terakhir. Tolong jangan lama-lama. T. T Sekali lagi aku suka jalan ceritanya. Terimakasih sudah membuat ff bagus seperti ini ❤

  20. aaah selalu gini!! salah paham lagi lagi dan lagi!
    ngga bsa ya mereka itu saling jujur n terbuka satu sama lain! *emosi
    smoga next part bsa cpet publish..
    nice^^

  21. ahhh konflik lagi…
    chap selanjutnya udah tamat ?? semoga happy ending deh..
    jinki-sena aku mendukung kalian berdua hahaha

    ditunggu chap selanjutnya…
    fighting thor…

  22. Ya ampuuuuun, sampe kapan nih bakal salah paham mulu. Pengen cepet baca moment romantis jinki-sena thor. Semoga next part ud mulai ada kebahagiaan deh 😀 next part jgn lama2 ya thor. Fighting!!!

  23. “pernikahan mereka sebentar lagi,itu artinya aku semakin mendekati ajal” kurang lebih gitu tadi kalimatnya wkwk itu harusnya sedih,tapi aku ngakak kaaak ,yay one chapter again!

  24. Aaah mau ending Ɣää
    Pasti kangen nih sama ni ff
    Semoga endingnya banyak sweet momentnya
    ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ •”̮• ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ

  25. Aaah, udah mau end… antara seneng sama gak seneng sebenernya. Senengnya sih karena konfliknya bakal cepet selesai dan (semoga) happy ending. Gak senengnya? Ntahlah, FF ini yang paling aku tunggu di sini… jadi, gitu deh :c

    Aww, sayang biasku Xiumin gak muncul di fic ini. (ini kode lol gak lah) Anw, ditunggu last chappienya ^^

  26. Heheh seru bener eon ^^ next chap nya lebih panjangin , kalau bisa update next partnya lebih cepat ya eon. Soalnya lama bgt dan udh ga sbaar nunggunya. Fighting eon!

  27. kece.. keren.. hebat,.. ahh gak rela next chapter udah ending..
    tpi gpp kok.. yg penting jinki-sena happy ending.. ahh gak sabar nunggu next chapter.. smoga happy ending utk semuanya.. hohoho

    fighting eonni… 🙂

  28. Gak bisakah mereka ini gak salah paham terus?? Kayak gak ada waktu buat menjelaskan gitu na. Greget betul sama Jinki-Sena ini
    Semoga happy ending & ada after storynya ya thor ( ԓ’̀ , ‘́)ԓ

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s