Is He or Him? – Part 2

Is He or Him? Chapter II

Author : Lyn

Cast : Lee Jiseok, Choi Minho, Kim Keybum, Choi Sulli

Others :-Lee Jinki,Jang Hyuna,Kim Jonghyun,Lee Taemin, Jessica Jung.

Length: Chapter

Genre : Romance,Sad,Friendship,School Life

A/N : Thanks for posted this ff…^^

Happy Reading^^

****
Lapangan basket

” Tapi aku sudah punya yeoja chingu Sulli-ya.. Kumohon kau mengerti ”

Hyuna segera menghentikan langkahnya dan Jiseok. Setelah mendengar suara berat seorang namja yang cukup mereka kenal.

”A..araseo..” Lalu di ikuti suara mungil yeoja.

”Minho oppa, Choi Sulli…” Gumam Jiseok menatap 2 orang yang berdiri tak jauh darinya.

“Gwenchana Jiseok-ah? ”

”Hm? Ya, sebaiknya kita kembali kekelas Hyuna-ya. Bel akan berbunyi. ”

”Aish bel masih lama. Kenapa kita tak coba mendekati mereka saja. Siapa tahu Minho itu berani menghianatimu ”

Jiseok tak berkomentar. Setelah menatap Hyuna dengan tatapan ‘terserah’ yeoja manis itu berbalik pergi.

”Aish ya ! Lee Jiseok…! ”

” Minho terima saja! Toh yeojamu tak tahu …” Hyuna segera menatap kembali lapangan. Suara Oh Sehun dari kelas 2-3 diikuti tawa yang lain. Satu tim basket dengan Minho.

”Ya! Diam saja kau kodok…”Balas Minho ketus, mengundang tawa semakin keras.

”Huuhh.. Aku akan berpura-pura tak dengar dan kuharap kau Choi Minho..” Hyuna menunjuk tubuh atletis Minho dari jauh.

” Kau tak menyakiti sahabatku.. Ya, kuharap begitu.

……..

” Jiseok ah … “

Suara Jinki bagai kicauan burung yang menyambut pagi Jiseok. Hari ini libur akhir pekan. Entah karena apa ia ingin menikmati hari ini dengan nyaman. Tanpa jam weaker, tanpa ayam berkokok dan tentu saja tanpa kicauan Jinki.

”Jiseok-ah ? Jiseok ? Lee Jiseok? Ya! Bibu Jiseok..”

Huh oppaku mulai lagi seperti orang gila. Pikirnya

krieeet… terdengar pintu kamar yang terbuka. Dan langkahnya yang terdengar kesal ketara dengan cara menghentak keras.

”Jiseok, apa yang sedang kau lakukan hah? Kau tak mendengarku memanggilmu? Aku ingin meminta bantuanmu ? Kenapa jam 8 pagi seperti ini kau tidur…bla bla bla…”

Ya Jiseok tahu Jinki akan mengomel panjang lebar dan mengganggu istirahatnya. Memang tak biasanya Jiseok begini. Hanya karena cinta dapat mengubah kebiasaan baiknya yang selalu bangun pagi? What the hell ?  Kemarin itu bukan apa – apa. Yakinnya.

”Ya! Bibu Jiseok…!!!” Jinki mulai kesal dan melempar selimut yang masih setia membungkus Jiseok.

”Jangan memanggilku seperti itu…”

”Ada apa denganmu? Kau tahu ini sudah siang? Kenapa kau tak juga bangun? ”

”Aku malas oppa. Aku ingin bermain bersama selimutku hari ini. ”  Tegas Jiseok sambil menarik selimut keujung kepala. Tapi Jinki tak menyerah. Dia menyibaknya hingga dirasa angin benar – benar membekukan tubuh adik cantiknya yang hanya dibungkus piyama tipis.

“Aisshhh… Kau bukan anak kecil lagi. ” Hardiknya kesal.

”Siapa perduli? Aku tetaplah yang termuda dirumah ini…” Jinki kesal dan menyeret tangan Jiseok terduduk dari posisi telungkupku. ”Ya! Oppa..!! ”

”Cepat buatkan aku sarapan. Aku lapar.. “

”Kau kan bisa membuat sarapanmu sendiri ”

“‘Ish ada Kibum. Aku malu jika harus memasak di hadapannya Lee Jiseok. “

Jiseok membulatkan matanya langsung. Mwo? Kibum? Maksudnya Keybum? Dia kesini lagi? Wae?

” Keybum Sunbae kemari? ” Tanyanya memastikan.

” hmm … Tentu. Dia harus ikut olimpiade tahun ini jadi aku yang bertanggung jawab mengajarinya. Kau tahukan bagaimana jeniusnya aku? ” Oppa berkata sambil tersenyum. Hhuuhh perkataanya memang benar tapi tidak bisakah dia lebih berendah hati? Sedikit saja… pikir Jiseok.

Jiseok memutar bola matanya. ” hhuhh ya terserahlah. ” Lalu mencoba mengambil lagi selimut yang sedikit tercecer dilantai. Tapi belum sempat menggapainya Jinki sudah menyingkirkannya lebih jauh.

” Ayolah, kau kan juga sering membuat masakan untuk Minho. Sekali ini saja untukku..Jebal. ” Ish memuakkan sekali melihat aegyo nya itu.

”Waktu sarapan sudah usai Paman Lee. Nanti siang saja. Aku mengantuk ”

“Baiklah. Kalau begitu … ” Matanya menarik setiap barang dikamar Jiseok lalu pandangannya tertuju pada kasur. Senyumnya menjadi seringai. ” Aku ambil ini. “

”Ya! Minji ? Andwae… Itu dari Minho. “

”Jadi boneka ini bernama Minji ? Bagus. Aku akan menyitanya.”

Hanya teriakan bagai angin lalu saat Jinki keluar membawa Minji. Boneka Teddy Bear super besar dari Minho untuk Jiseok. Aish jeongmal!

”Bangun sebelum dia terbunuh Jiseok.” Teriak Jinki lagi dengan nada meledek diiringi tawa khasnya yang menyebalkan. Itu menurut Jiseok.

*****

Jiseok terlihat fokus dengan peralatan dapur dihadapannya. Sebenarnya ia belum memasak. Hanya memastikan apakah peralatan dapurnya cukup bersih atau tidak untuk memasak sarapan bagi Oppanya. Entah kenapa ia jadi begitu kesal setelah mengingat – ingat apa yang telah dilakukan Jinki padanya pagi tadi. Jika bukan karena Minji, tak akan ditinggalkannya kasur hangatnya hari ini.

Jiseok bergegas membuka kulkas. Sedikit kecewa karena ternyata tak ada bahan makanan apapun dikulkas rumahnya.

” Aishh … Aku lupa berbelanja kemarin. Bibi Kang juga belum datang. Bagaimana ini? “

Jiseok teringat Bibi kang , pembantu rumah mereka yang seharusnya membantu Jinki dan Jiseok selama ini terpaksa harus meminta izin untuk menjaga putra kecilnya yang tengah sakit. Sebenarnya sudah seminggu ini ia dan Jinki berbaur menjaga rumah secara bergantian. Tapi karena kelalaian Jiseok, ia lupa berbelanja. Padahal Jinki sudah memberinya uang jauh hari setelah bibi Kang cuti.

Iapun menutup pintu kulkas sedikit kasar. Dan ia terlonjak saat tiba – tiba menangkap seorang namja yang ternyata sudah dihadapannya. Tepatnya disamping kulkasnya.

” Su … Sunbaenim? “

” Eumhh Jinki bilang aku bisa mengambil soda disini. ” Ucap lelaki itu yang tak lain adalah Keybum.

” Ah? Oh nde … Silahkan saja. “

Jiseok menggeser tubuhnya sedikit dan berbalik. Membiarkan Keybum menarik kembali pintu kulkas yang sekarang terasa alot dibuka karena hentakan keras Jiseok tadi.

Sesekali ia menguap. Semalaman ia memikirkan hal yang memusingkan, membuatnya tak dapat tidur dengan nyenyak. Bagaikan disetrum secara spontan, ia berbalik saat merasakan tepukan pelan dibahunya.

” Gomawo. ” Ia melihat Key mengacungkan dua kaleng soda dihadapannya. Bahkan dengan wajah dinginpun ia tetap tampan. Tampan sekali. Jiseok mengangguk kaku, entah kenapa ia merasa dipaku. Setelah kepergian Key pun ia masih berdiri ditempat sampai kemudian Jiseok menggeleng kuat dan membuat rambut lurusnya terombang kemana – mana.

Saat ini ia memilih masak Mie instan untuk jinki. Jinki sebenarnya lebih suka makanan rumahan seperti halnya Jiseok. Tapi mau bagaimana, toh memang tak ada apapun kecuali minuman dan Mie dikulkas.

Dan saat ia mengambil panci ditangannya, tak sengaja ia menangkap bayangan wajahnya. Sontak iapun memekik.

” Omo … Aku belum cuci muka. “

***

Memasuki jam istirahat. Tapi 10 menit sudah Minho menunggunya. Biasanya dia akan menemui kapten itu dikantin, lalu kenapa belum datang? Apa aku kekelasnya saja? pikir Minho.

” Kau menerimanya? ” Baru ingin beranjak tapi ada suara datang. Bagai menahan kepergian Minho dari bangku itu.

”Aishh Oh Sehun. Lepaskan tanganmu itu..” Ketusnya kesal. Aku sedikit tak suka saat ada orang yang tiba-tiba menumpukan tangannya pada bahuku. Dan namja jail ini benar-benar tak mengindahkannnya walau berapapun aku mengingatkannya.

‘Sehun mengerucutkan bibirnya sebelum kemudian mengambil tempat disamping Kapten tim basketnya. ”Aish ya baiklah. Lalu bagaimana ? ”

”Apa ? ” Tanya Minho balik dengan sikap tak perduli. Dia tahu kemana arah pembicaraan namja yang terkenal sok akrab ini. Tapi Minho malah sengaja memilih meminum jus lemon tea yang dipesannya. Menurutnya bercerita tentang masalahnya yang itu tidaklah terlalu penting.

” Tentu saja Choi Sulli. ” Kini Luhan, namja keturunan cina ini yang datang kehadapan Minho.

”Gwechana. Aku menolaknya dan dia bilang dia tidak papa. ”

”Kenapa kau tak menerimanya saja? Sepertinya dia tidak papa walau kau jadikan yang kedua. Kau ingat, sudah berapa kali dia mengejarmu huh? Kau tidak kasihan? ”

”Tapi aku bukan orang yang seperti itu Sehun-ah. Lebih baik aku menolaknya dari pada mempermainkannya. “

”Cobalah untuk tidak mengacuhkannya sekali-kali. Barang kali saja setelah itu dia akan menyerah.” Komentar Luhan

”Maksudmu ? ”

”Terima ajakannya makan malam.Setelah itu kau boleh kembali tak mengenalnya. “

”Benar. Lagipula dia tak kalah manis dari Lee Jiseok.”

”Ish benar-benar kodok Sehun ini. “

”Ya! Kaulah yang kodok Choi Minho. Kau tak sadar mata besarmu itu. ”Lalu mereka tertawa kecil menanggapi rajukan Sehun.

Terkadang Minho memang kasihan pada yeoja itu, Choi Sulli. Sudah berapa kali dia datang pada Minho hanya sekedar untuk mengatakan perasaannya dengan harapan Minho akan memberikan jawaban berbeda dari yang sebelumnya. Sayangnya tidak.

Sejak awal kelas tahun pertama dimulai kembali, Minho memang hanya tertarik pada sosok Lee Jiseok. Hobae yang menurutnya paling manis kala itu. Dia juga ramah dan tentu pintar seperti oppanya Lee Jinki. Tapi bagaimana jika benar Sulli terus mengejarnya
dan menyatakan cintanya berkali-kali? Lambat laun pasti akan mempengaruhi hubungan Jiseok dan Minho nantinya.

”Oh! Kami pamit dulu. Sepertinya si Princess sudah datang. ” Ucap Luhan tiba-tiba membuat Minho dan Sehun mengarah pada pandangannya. Secara teratur kedua parasit bagi Minho itupun pergi.

Setelah mereka pergipun Minho tak sekalipun mengalihkan jarak pandangnya pada yeoja itu. Yeoja yang berjalan dan tengah tersenyum padanya. Membuat aliran darah serasa membeku.

”Oppa aku mengganggumu ? ”

Hanya menggeleng. Sebuah kebiasaan baru yang akhir – akhir sering dilakukan si flaming charisma.  Merasa malu saat mengingat Jiseok pernah memcubit pipinya sbil berkata gemas.

” Oppa, kau begitu manis dan menggemaskan.”

Sejak saat itulah, ia jadi suka menggelengkan kepalanya. Hanya karena Jiseok berkata bahwa
Minho sangat manis saat melakukan itu. Siapa sangka cinta memang bisa membuat gila.

”Duduklah jagi.. Kenapa kau terus berdiri? ” Akhirnya Minho membuka suaranya yang membuat Jiseok menurut dan duduk ditempat Luhan tadi.

”Wae? Kenapa menatapku seperti itu? ”

Menggeleng. Sekali lagi Minho melakukan itu. Hanya sekedar membuat gadisnya tertawa kecil.

”Oppa… Jangan lakukan itu, kau tampak menggodaku. ”

Kini Minho tertawa kecil. Jiseok tidak tahu betapa Minho sangat suka saat melihatnya merajuk.

”Baiklah… Apa yang kau bawa untukku hari ini jagi ? ” Minho meredakan tawanya.

”Mh…hanya roti panggang ? ”

”Jinja ? ” Sedikit kecewa atas jawaban Jiseok kali ini. Dikiranya akan makanan unik seperti Nasi Goreng waktu itu. Tapi ternyata…

”Tadaaa… Ini untukmu oppa. ”

”I… ige mwoya? ” Minho terkejut saat Jiseok membuka bekal diatas meja mereka.

”Nun Lavos..” Ucap Jiseok seakan tahu kebingungan yang melanda namja chingunya itu.

” Mungkin rasanya akan berbeda karena aku memanggangnya diwajan tapi kurasa itu tetap enak. Waktu itu kau bilang ayahmu pulang dari Iran dan membawakan itu bukan? Kukira kau mungkin merindukan ayahmu jadi… “

Jiseok terhenti saat Minho meraih tangannya dan mengecupnya lembut. Dengan pelan ia berbisik.

”Gomawo, aku tahu kau yang terbaik. “

Jiseok mengerjapkan matanya berkali – kali. Ribuan kembang api meledak. Kenapa  rasanya sebahagia ini? Padahal Dia hanya mengecup tanganku apalagi kalau ….

Dilain pihak Minho terus tersenyum menatapnya. Dia melebihi kata sempurna untukmu Choi Minho. Kenapa harus berniat membelok darinya? Bukankah dia yang terbaik? Kau harus menghilangkan niatan tentang Sulli tadi. Ya,harus.

****

Membosankan. Itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan Jiseok saat ini. Setelah semalaman ia harus bergadang karena PR. Hari inipun ia harus kecewa karena Hyuna, sahabatnya tak memasuki kelas karena suatu alasan yang tak ia ketahui. Tapi bukan sakit sepertinya. Karena kalau itu terjadi Hyuna pasti akan meminta Jiseok menjenguknya. Kebiasaan Hyuna yang ingin dimanja seperti anak kecil.

Setelah kelas usai, Jiseok memutuskan berjalan dengan cepat kearah kelas Oppanya Jinki. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat matanya mendadak buta. Itu karena ada sepasang tangan jail yang menutupnya.

” Lee Jiseok -ssi, coba tebak siapa aku ? ” Suara orang dibelakangnya itu tampak dibuat-buat hingga membuat Jiseok tertawa.

”Minho oppa, itukah kau? ” Tebak Jiseok terkekeh. Orang dibelakangnya tersenyum. Dikiranya Jiseok tidakkan mengenalinya. Ia melepas 10 jarinya.

” Huh kenapa mudah sekali kau tahu itu aku? ” Minho tampak merajuk walau jauh dilubuk hatinya ia sangat senang.

”Tentu saja. Aku tahu bagaimana persisnya tanganmu. ”

”Jinja ? Aishhh…” Minho tampak malu-malu mengurut tengkuknya. Dan itu membuat Jiseok tertawa kecil.

”Ah! Ya sudahlah kajja. Aku ingin pulang bersamamu, kau mau ? ”

”eemhh… ” Jiseok mengangguk dan tangan Minho langsung menggenggam dan menyeretnya.

”Apa Hyuna tidak masuk kelas? ”

”Ani. Dia meminta ijin hari ini. Sepertinya… ” Ucapan Jiseok terpotong saat langkahnya terhenti karena Minho menahan langkahnya.

Seorang yeoja terlihat menghadang mereka. Dengan tingginya yang melebihi tinggi badan Jiseok, yeoja itu pantas disebut semampai. Cantik. Satu kata yang  langsung tertulis dikepala Jiseok. Apalagi dengan pita merah dirambut yeoja itu yang menambah kesan anggun.

”Sulli…” terdengar gumaman Minho ditelinga Jiseok. Membuat kupingnya terbakar.

” Minho oppa… Annyeong! ”

Keduanya terdiam. Membiarkan Sulli membungkuk tanpa berniat membalas sapaannya. Minho bisa merasakan Jiseok meremas tangannya kuat.

”Maaf aku mengganggu sebentar. ”

”Oh iya..” Minho melepas genggamannya. ”Waeyo ? ” Tanyanya ramah. Bagaimanapun ia masih ingin menghargai yeoja yang punya perasaan padanya itu.

Jiseok mengepal kuat. Apa – apaan. Minho asik melepas tangannya begitu saja setelah kedatangan yeoja itu. Ia tidak suka. Tentu saja.

”Aku mendengar kau memenangkan debat bahasa jepang dikelasmu, chukaeyo? ”

”Oh itu, ya gomawo, tapi darimana kau tahu? ”

”Aku bukan pembual saat aku bilang aku menyukaimu. ”

Hening. Atmosfir panas mulai terasa saat tak ada satupun suara yang mengudara. Minho melihat tatapan Sulli mengarah pada Jiseok. Dan saat ia memalingkan wajahnya pada Jiseok. Daebak.  Bukan tatapan kemarahan yang ia lihat saat yeoja itu membalas tatapan Sulli. Melainkan tatapan sedih dan terabaikan.
Minho cukup tahu Jiseok memang selalu berusaha menyembunyikan sebesar apapun kemarahannya.

”Sulli-ya sepertinya hari akan malam. Pulanglah, aku juga harus pulang. ” Ucap Minho tak tahan dengan keadaan.

” Gidaryo…” tapi Sulli menahannya lagi.  ”Ige, Untukmu. Hanya hadiah kecil. ” Ia menyodorkan sesuatu.

Minho menatapnya bimbang. Ia sangat ingin menolaknya. Bukan karena ada Jiseok semata, tapi karena ia juga tak ingin Sulli beranggapan ia akan memberikan harapan.

”Ani goma…”

”Terima saja…” Tiba-tiba ucapan Minho tersela suara Jiseok. Namja tampan itu menatap yeojanya terkejut.

“Terima saja oppa. Tidak baik menolak pemberian orang. Apalagi seorang yeoja yang sangatt menyukaimu. ” Terdengar sedikit nada penekanan di akhir kalimat.  Tapi karena tak ingin keadaan ini berlanjut dengan berat hati Minho menerima uluran Sulli.

”Gomawo. Kuharap kau suka…” Setelah berpamitan,Sulli menjauh. Berjalan dengan senyum riang di bibirnya. Meninggalkan Jiseok yang hanya bisa terdiam. Apalagi setelah ia tahu Minho terus menatap kepergian.Sulli.

Ada apa dengan namja itu?

Tbc…..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s