Thank You for The Love

Tittle                : Thank You for The Love

Author             : Lee Hana

Main cast         : Lee Taemin

Support Cast    : Yoon Anna, Lee Taemin Jr, and Kim Danbi

Genre               : Romance, Life and Family

Length             : Vignete

Rating              : M

Aku  berjalan memasuki sebuah gedung di hadapanku. Gedung itu tak tampak besar maupun mewah.  Sebuah tempat yang terlihat cukup murahan, dan kebanyakan orang akan berpikir di dalamnya juga berisi orang-orang murahan.

“Aku mau bertemu dengan Danbi. Kim Danbi.”

“Tapi ….”

“Ya, ya, aku mengerti tentang bayarannya dan kamar,” selaku mengingat terakhir kali penjelasan dari orang yang memiliki jabatan sama.

“Bukan. Bukan itu maksudku, Tuan. Orang yang bernama Kim Danbi sudah tidak bekerja di sini lagi.”

“Kenapa?”

“Eumm ….” Orang di hadapanku tampak ragu-ragu bicara.

“Anyeonghaeyo. Apakah Anda bernama Lee Taemin?” tanya seseorang yang ternyata sejak tadi mencuri dengar diam-diam tak jauh dari kami. Dia adalah seorang gadis molek dengan balutan baju malam yang mini dan seksi.

“Ne.”

“Kalau begitu bisa ikut Saya sebentar?”

Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya dengan bokong yang terus bergoyang ke kiri dan ke kanan seperti ingin menarik perhatian setiap pria yang melihatnya.

“Silakkan masuk!” Dia mempersilakkanku memasuki sebuah ruangan, namun bukanlah sebuah kamar yang kalian kira. Di sana cukup tertutup dengan tembok kedap suara. Tempat yang tenang dengan pencahayaan yang baik. Benar-benar berbeda dengan bisingnya di luar dengan lampu yang berkerlap-kerlip membuat mata sakit.

Dia mempersilakkan aku duduk pada sebuah sofa. Dia mengambil sesuatu dari lokernya yang kemudian diberikannya padaku. Selanjutnya kami saling berpandang ketika kami sudah saling duduk berhadapan.

“Apa ini?” tanyaku setelah melihat sebuah amplop disodorkannya pada meja di hadapanku.

“Bukankah Anda tahu apa itu? Itu surat.”

“Untukku?”

Dia mengagguk.

“Dari?”

“Danbi.”

Aku terdiam senbentar lalu membacanya. Beberapa menit berselang dan tak terasa tubuhku terasa begitu lemas. Kepalaku terasa pening. Penglihatanku pun terasa samar. Aku memegangi kepalaku sesaat lalu berteriak, “Apa-apaan ini?!! Aku tak suka lelucon ini!”

Dia menghela napas panjang lalu menatapku dengan tenang. Aku benar-benar kalap sekarang. “Ini bukan lelucon, Tuan. Anda boleh tak percya, tapi inilah kenyataannya. Terkadang kehidupan tak seindah dari bayangan kita. Atau bahkan lebih mengerikan dari pada mimpi buruk,” ujarnya sendu.

Aku terdiam lalu menangis sebentar. “Bagaimana …? Katakan bagaimana bisa dia meninggal?”

“Bunuh diri. Setelah ibunya meninggal, dia bunuh diri.”

“Hanya karena itu?”

Gadis dengan wajah penuh riasan itu menggeleng pelan. “Tentu saja tidak. Dia terkena HIV. Perusahaan kami mengeluarkannya, lalu dia bunuh diri,” ujarnya berat.

“LALU KENAPA KALIAN JUSTRU MEMECATNYA, SIALAN?!!” teriakku marah seraya bangkit dan memelototinya. Dadaku kembang kempis, sedangkan wajahku merah padam. Kini bukan hanya kesedihan yang menggerayangiku, tetapi kemarahan yang rasanya tak akan berkesudahan.

“KARENA JIKA DIA TETAP DIPEKERJAKAN PUN TAK AKAN ADA YANG MAU MEMAKAINYA!!” Ia bicara tak kalah lantang.

Aku enghempaskan tubuhku lemas dan menyandarkannya pada punggung sofa. “Kau benar,” ucapku lemas. “Maaf, aku terbawa emosi.”

“Tidak apa-apa,” suaranya mengecil mengikuti suaraku. “Semua orang begitu, akan berteriak atau diam ketika marah. Setidaknya Anda tidak memukulku.”

“Kau tahu di mana anak itu sekarang?”

“Aku sesekali mengunjunginya. Anda tidak akan kecewa. Dia anak yang baik dan penurut. Wajahnya mirip dengan Anda.”

Aku tersenyum kecil. “Benarkah?”

Dia mengangguk sambil tersenyum miris.

Author POV

“Taemin! Taemin!” panggil seorang ahjumma pada seorang anak kecil berumur enam tahun yang tengah bermain dengan teman-temannya.

Anak laki-laki itu segera menoleh. Dan mendapat seorang wanita tua tengah tersenyum kepadanya. Ia menghampirinya dan berdiri sambil mendongak untuk dapat menatap wajah di hadapannya. Tetapi sang wanita lebih pengertian untuk berjongkok dan menyamai tinggi si anak berwajah perempuan di hadapannya. “Taemin, ada yang ingin bertemu denganmu,” ucapnya lembut.

“Siapa, Nyonya Kim?”

“Ayahmu,” jawanya cepat lalu tersenyum lebar.

“Ayahku?”

“Ne. Ayahmu.”

“Aku punya ayah?” tanyanya polos.

“Ne. Kau punya ayah.”

“Aku tidak mau betemu dengannya.” Tolak sang anak dengan wajah khawatir.

“Kenapa?”

“Aku takut dia galak, seperti ahjussi di seberang jalan itu.”

“Tidak. Dia sangat baik, Taemin.”

Taemin terdiam sebentar lalu mengagguk sambil tersenyum. Karenanya orang tua itu segera beranjak dan menggandeng sang anak menuju ruangan yang dimaksud.

Ketika pintu dibuka. Taemin kecil melihat seorang laki-laki muda tengah memandangnya takjub. Ia diam saja. Tak bergerak atau bersuara, bahkan matanya tak juga berkedip. Taemin kecil bingung hingga ia berdiri tepat di hadapan si laki-laki. Sampai detik ini, ia masih memperhatikan wajah yang ia pikir mungkin adalah ayahnya. Tetapi dia bingung, kenapa orang ini tak kunjung bicara? Kenapa dia diam saja?

“Anyeonghaseyo, Ahjumma,” sapa Taemin terlebih dahulu kepada orang yang ia kenal. Seorang wanita cantik dengan rambut tergerai indah. Seingatnya, wanita itu adalah wanita yang pernah memberikannya cokelat, permen dan pakaian ketika natal ataupun tahun baru.

“Anyeonghaseyo,” jawab wanita itu sambil tersenyum. “Taemin, aku bawa seseorang untukmu. Dia ayah kandungmu. Beri salam pada ayahmu!”

Taemin segera membungkuk hormat dan berucap dengan suara khas anak-anak, “Anyeonghseyo, Ahjussi!”

“Anyeonghaeyo, Lee Taemin,” sapa sang laki-laki lembut lalu tersenyum. Dia mengusap-usap rambut anak itu dengan penuh kasih sayang.

“Jadi, Ajussi ayahku?” tanyanya polos.

Taemin beranjak dari sofa empuknya dan memilih bersimpuh di hadapan si kecil. “Ne. Aku ayah kandungmu. Kau tahu, namaku juga Lee Taemin?”

“Benarkah?!” tanya anak itu antusias bercampur takjub. “Bagaimana bisa?” lanjutnya.

“Karena ibumu sangat mencintaimu, sama seperti dia mencintaiku. Dia mencintai kita,” ujarnya kemudian tersenyum lebar. Tetapi sejurus kemudian tawanya pupus. Mata wibawa sang ayah tak mampu menatap mata polos anaknya. Ia lebih memilih menatap ubin yang dingin dan mulai berujar lagi. Kali ini dengan nada bersalah, “Maaf, Taemin, aku tak bisa menjaga ibumu. Aku tak bisa membawanya bertemu denganmu.”

“Tidak apa-apa, Appa. Yoon Ahjumma bilang Eomma sudah bahagia di surga.” Taemin bicara dengan tenang sambil melirik ke arah wanita yang datang bersama ayahnya. Wanita itu pun tersenyum mendengar ucapan polos anak  yang tak sepenuhnya mengerti apa yang ia ucapkan sendiri.

“Boleh aku memelukmu?” tanya Taemin dengan mata berkaca-kaca setelah mendengar ucapan anaknya yang tampak begitu tegar.

Taemin kecil mengagguk, dan tak butuh satu detik tubuh mereka berdua sudah berpeluk. Sang ayah menangis haru, sedangkan Taemin kecil yang mendengar isakan yang terbilang sangat kecil itu hanya diam karena tak mengerti. Beberapa saat kemudian lelaki  itu segera melepas pelukannya dan menatap bahagia anaknya seraya berkata, “Terima kasih, anakku. Terima kasih telah memanggilku Appa.

Noona, terima kasih kau memberikan dia kehidupannya dan membiarkan aku tahu tentang dia. Aku sangat bahagia. Kau memberikan aku sebuah hadiah terbaik di dunia. Aku  pikir aku takkan bisa hidup tanpamu, tapi ternyata aku salah, karena kau memberikanku sebuah cinta dengan bentuk yang lain. Memberikan aku kebahagiaan dengan Lee Taemin kecil.

Flashback

Seorang anak SMA tengah duduk di tepi ranjang seraya mengancingi seragam yang ia biarkan tergeletak selama malam hari di lantai kamar. Wajahnya masih merah karena terbayang apa yang baru saja dilakukannya tadi malam. Namun wanita yang masih terduduk di atas ranjang yang berantakan segera memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya pada bahu Taemin untuk bermaja lagi. Wanita itu masih belum memakai sehelai pun pakaiannya. Ia lebih memilih menutupi tubuhnya dengan selimut.

“Taemin, terima kasih untuk malam ini,” ucapnya sendu.

Taemin tak menjawab. Dia yang baru selesai mengancingi kancing terakhir hanya terdiam dan merunduk malu.

“Tapi maaf, aku tak bisa memberikan apa yang kau berikan padaku. Aku benar-benar menyesal. Harusnya kau yang aku pilih bukan ….”

“Noona ….”

“Maaf karena aku memaksamu melakukan ini setelah aku menolakmu mentah-mentah tiga tahun lalu. Entah kenapa aku menyesal sekarang, meski tak bisa kupungkiri malam ini kulewati dengan begitu bahagia.”

“Noona, kumohon jangan bicara begitu. Aku taka pa-apa.” Anak itu segera berbalik dan menatap sang wanita. “Aku takkan seperti Minho Hyung atau laki-laki lainnya. Setelah melakukan ini, aku akan bertanggung jawab. Setelah lulus sekolah aku ….”

“Sssht!” Sebuah jari telunjuk yang lentik mendarat di atas bibir sang pemuda dengan lembut. “Tidak! Kau tidak boleh melakukannya. Jangan ke mari lagi. Jangan habiskan uangmu untuk mendatangiku seperti ini lagi. Gunakan itu untuk biaya kuliahmu nanti. Jadilah laki-laki yang baik dan dapatkan pekerjaan yang lebih layak.”

“Tapi Noona, setelah sekolah aku pun bisa ….”

“Pekerjaan macam apa yang bisa kau dapat dengan ijazah SMA? Harus lebih baik dari itu. Setelah itu, kau baru boleh mendatangiku lagi. Kau tak perlu memikirkan hutangku atau bagaimana cara untuk menghidupi diriku juga ibuku. Yang perlu kau lakukan hanyalah menjadi mapan dan menjadikan aku tempat untuk berbagi kebahagiaan, bukan sebuah beban. Bukankah sejak dulu kau tahu aku tak pernah suka menjadi beban untuk siapapun?”

Taemin mengangguk mengerti lalu diam.

“Aku akan mengunggumu Taemin. Aku mencintaimu,” ucap sang wanita seraya mengusap wajah Taemin yang tampak sendu.

The End

‘Hayooo. Gimana? Gimana? Ff manusia cacat romance gimana? Selalu senang buat cerita bergenre family dan life. Tapi, AAARGH! Pasti otak aku udah mandeg buat genre lain  tanpa romance. Selalu ada ide buat romance, tapi pasti kurang gimana gtu di feel bagian romancenya. Tapi aku malah mau nangis kalo baca scene Taemin kecil ketemu sama appanya #dasar aneh.

 Eh, ya, aku baru buat WP nih. Mampir-mampir ya, di www.hanabaca.wordpress.com trus banyak –banyak komentar. Makasih buat yang mau baca, dan lebih berterima kasih buat yang yang mau komentar. Dan saya akan jauh-jauh-jauh lebih berterima kasih kalau ada yang mau kasih kritik dan saran. Makasih semuanya!’

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “Thank You for The Love

    1. q juga terharu. aku suka berubah jadi melankolis kalo ketemu genre family.
      kenapa danbi terlalu baik? menurut aku Taemin yang terlalu baik #abaikan yang ini.
      makasih, komentarnya ya sari.

  1. kabar baiknya, ceritanya ringan dan enak dibaca. kabar buruknya, feelnya masih kurang sedikiiiiit lagi. mungkin tinggal dipoles di gaya bahasa aja. keep writing!

    1. ya, mungkin gaya bahasa aku nggak terlalu cocok dengan genre mellow begini, soalnya, aku sendiri tipe yang nulis dengan narasi yang waw. lebih kedetil, dan lebih simpel. udah coba lebih mellow malah jadi gagal melulu tapi jadinya ambigu dan aneh..
      tapi, makasih sarannya. keep writing!!

  2. Noona yang malang
    TaeMin senior ternyata telah terlambat balik kepada si noona
    Author masih ada typho
    TaeMin sr dan TaeMin jr bertemu (ᵄ̴̶̷́ॢ ˙̮ ᵄ̴̶̷̀∗ॢ)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s