Just Confession: I. Kebetulan

Kebetulan

Just Confession I: Kebetulan

 Author : Megian

Main Cast : Renata Kim, Kim Kibum

Other Cast : Park Aerin

Genre  : Romance

Rating : PG – 17

“….berbohong di depan orang saat ditanya siapa orang yang aku sukai, meredam detak jantung yang tiba – tiba muncul saat melihatnya sehingga rasanya aku ingin menangis,”

 

Selamat Membaca^^

 

Apa yang bisa kau harapkan dari seorang cowok berandal yang tidak peduli pada akademisnya menjadikan sekolah hanya sebagai tempat untuk adu keren? Tidak ada.

Lalu bagaimana jika kau menyukainya? Menyukai seorang cowok berandal. Apa kau akan mengatakan perasaanmu padanya? Berharap dia merubah sikap dan sifat berandalnya itu demi dirimu? Lalu setelah itu kalian pacaran? It’s too fiction.

Kalau kau adalah tipe manusia yang takut akan sebuah kekecewaan, yang mudah putus asa, lebih baik kau berhenti untuk menyukainya.

Tapi bagaimana jika perasaan suka itu tidak bisa dihentikan? Terus mendesak hingga rasanya kau mau mati jika tidak kau ungkapkan. Jangan tanya aku! Akupun tidak tahu.

“Hei, aku lama ya?” Aerin menyentuh bahuku dari belakang. Mengejutkanku yang sedang menatap lurus sekelompok anak yang berkejaran di taman sore itu. Dia menyodorkan segelas kopi instan.

“Apa menyukai itu salah?” tanyaku tanpa menoleh setelah terdiam cukup lama.

“Kau sedang naksir siapa?”

“Jangan bertanya sebelum kau menjawab pertanyaanku!” titahku kesal. Dia hanya tersenyum senang.

“Tidak, tidak ada yang salah, bukannya sudah pernahku bilang bahwa perasaan suka itu adalah anugerah?” aku mengangguk mengiyakan.

“Kau sudah tahu, kenapa masih bertanya? Memangnya siapa orang yang kau taksir itu?”

“Dia seorang cowok,”

“Jadi selama ini kau suka sesama jenis?” dia menatapku tidak menyangka. Memikirkan cowok berandal itu saja sudah cukup membuatku frustasi ditambah dengan ucapan bodohnya itu, itu bisa memasukkan aku ke rumah sakit jiwa.

“Jangan berkomentar sebelum aku selesai bicara atau kau tidak akan melihat matahari besok pagi,” ancamku. Dia bergidik ngeri lalu meneguk habis kopi instant miliknya.

“Dia cowok berandal yang sekelas denganku saat kelas satu. Aku mengalami  kebetulan – kebetulan yang aneh dengannya. Hal itu membuatku mau tidak mau memikirkannya dan akhirnya aku menyukainya, dan aku baru menyadarinya saat kita naik kelas dua, saat aku tidak sekelas lagi dengannya,”

“Jadi sudah satu tahun kau menyukainya?” aku mengangguk. Sekarang aku sudah berada di tahun kenaikan ke kelas tiga, perasaan itu seperti ingin mencekik jika dirasakan lama – lama.

“Apa kau tidak tersiksa?” tanyanya dengan wajah yang prihatin.

“Tersiksa yang bagaimana?”

“Memikirkan dia, menyukai dia yang berandal, he isn’t you, rite?” aku tersenyum, menertawakan diriku dan tersenyum mendengar Aerin yang tahu aku begitu jelas. Aku bukannya sudah memasang tipe cowok yang akan aku jadikan pacar hanya saja aku suka tipe cowok yang bisa menghargai dirinya, hidupnya, dan juga orang di sekitarnya. Dan cowok berandal tidak punya ciri seperti itu.

“Ya, tentu ini sangat menyiksa, menyukai dia tapi hanya bisa memendamnya, merindukannnya tapi malah menoleh tidak peduli, berbohong di depan orang saat ditanya siapa orang yang aku sukai, meredam detak jantung yang tiba – tiba muncul saat melihatnya sehingga rasanya aku ingin menangis,” jelasku.

“Lakukan!” anjurnya tanpa tendensi memerintah.

“Aku tidap punya keberanian untuk itu Aerin,” elakku lemah.

It’s not you Renata!” Aerin menggeleng tidak suka.

Ya, Aerin benar, tidak seharusnya aku bersikap pengecut seperti ini. Penakut bukan nama belakangku.

***

Aku bukan berniat melakukan pernyataan cinta dan memintanya menjadi pacarku. Aku hanya ingin meluruskan semua kejadian ini. Kebetulan yang terjadi antara aku dan dia. Kebetulan yang mungkin saja disalahartikan si cowok berandal itu bahwa aku memang sengaja memperhatikannya, padahal itu kebetulan saja aku menoleh di saat yang bersamaan dengannya. Dan anehnya kejadian itu terjadi berulang kali. Aku benci mengingat ini.

 Selain itu, aku juga ingin mengungkapkan perasaanku, sekedar mengungkapkan saja. Tidak lebih.

Aku menunggu di ujung lorong kelasnya. Berharap dia lewat sini dan aku akan menstalkingnya. Aku memilih hari ini, karena kelasnya punya jam sore hari ini.

Pintu terbuka dan aku mulai memperhatikan satu persatu wajah orang itu. Tidak lama, dia keluar dengan wajah penuh senyum, dia senang karena mendapat ilmu baru atau sudah bebas dari neraka?, batinku mengejek.

Aku menghirup oksigen pelan, berusaha menenangkan diri. Rasa gugup menggerayangi pikiranku. Ini membuatku takut. Tapi mengingat hatiku akan lepas setelah ini itu membuatku sedikit tenang.

“Kibum!” panggilku dengan jarak tiga meter darinya.

Dia berbalik kemudian dia menatapku heran. Selama ini aku tidak pernah menyapanya saat berpapasan, bahkan saat masih sekelas dengannya sekalipun.

“Ya?”

“Ada yang ingin aku sampaikan, bisa ikut aku sebentar?” pintaku mengendalikan degup jantung sendiri. Menatapnya dalam keadaan seperti ini sama saja cari mati.

Dia melirik kelas salah satu teman kelompoknya yang juga punya kelas sore hari ini. Dia mengangguk. Aku segera melangkah menuju perpustakaan. Diikuti dia di belakangku.

Aku menuntunnya ke salah satu meja. Apa dia pernah ke perpustakaan?, batinku bertanya jahil lagi.

Aku mengeluarkan sebuah amplop peach dari tasku dan menyodorkan padanya

“Ini, bacalah! Aku hanya ingin kau tahu, setelah itu silahkan anggap semua yang berhubungan denganku tidak pernah terjadi dalam hidupmu,” instruksiku padanya yang menerima amplop itu dengan tatapan bingung.

Hi Kibum, aneh ya rasanya aku menyapamu?

Ini mengenai kejadian aneh yang terjadi antara kita. Semoga kau masih ingat.

Kauingat saat tatapan kita bertemu dengan ekspresi datar yang sama? Saat itu aku menganggapnya cuma kebetulan biasa. Tapi tidak, itu bukan kebetulan biasa, itu adalah awal dari kebetulan aneh yang terjadi selanjutnya. Berulang kali kita bertabrakan mata, dan lucunya ekspresi yang aku tunjukkan sama dengan ekspresi wajahmu saat itu. Aku mengingat semuanya, saat kau baru saja tertawa dengan temanmu, saat kau sedang kesal, saat kau tersenyum setelah menatap ponselmu, dan saat kau sedang tertawa keras memegangi perutmu dan saat itu mata kita bertemu dengan kondisi ekspresiku yang sama.  

Hal itu membuatku memikirkan kejadian itu, apa yang membuat ini terjadi berulang kali. Apa kau pernah berpikir bahwa hal itu terjadi karena aku menyukaimu? Sehingga kau sering mendapatiku sedang menatap kearahmu? Kalau kau menganggap begitu, berarti benar dugaanku, kau sudah salam paham. Aku sama sekali tidak menyukaimu, setidaknya saat kebetulan itu terjadi.

Aku memikirkan kejadian itu, dan tentunya kau juga. Kenapa Tuhan membiarkan hal aneh itu terjadi padamu dan juga aku. Aku tidak menemukan jawabannya. Itu terlalu misterius. Dan akhirnya aku malah menyukaimu.Terlalu sering memikarkanmu aku jadi menyukaimu. Ah, kau mengerti sekarangkan mengapa aku berbicara padamu melalui surat? Pengakuan perasaan ini membuatku malu dan gugup.

Tapi tenang saja, aku tidak memintamu untuk mengatakan ‘Iya, aku juga menyukaimu’ aku hanya ingin mengeluarkan semua perasaan yang aku pendam. Agar aku tidak merasakan yang namanya sesak lagi. Supaya aku bisa menetralkan hatiku dan aku bisa memfokuskan studiku dan tidak tercampuri dengan urusan cinta seperti ini. Kau tahukan, ini tahun terakhir kita di SMA? Itu artinya kita harus belajar lebih giat. Aku rasa ini sudah cukup. Setelah kau baca ini, aku berharap kau bisa melupakan semua yang terjadi di antara kita, karena aku juga akan melakukannya.

Terimakasih atas waktunya, dan terimakasih telah membuatku merasakan bahagia dan sakit dari rasa suka.

Your Old Classmate, Renata.

Dia melipatnya setelah beberapa menit membaca tulisan di kertas itu. Kemudian menatapku, tersenyum tipis.

“Aku masih mengingatnya, setiap kali aku melihatmu,” ujarnya setelah beberapa menit keheningan.

“Apa kau salah paham?”

“Iya,” jawabnya langsung.

Aku menghela nafas, “Kau percaya diri sekali,” aku tertawa sangsi. Dia mengedikkan bahu.

“Kau ingat saat ekspresi kesalku waktu itu kan?” aku mengangguk,”Berarti kau ingatkan drama kelas kita waktu itu? Aku dipilih sebagai salah satu tokoh cowok tampan idola cewek – cewek sekolah, dan bagiku itu adalah alasan yang mungkin saja membuatmu menyukaiku,”

“Tampan? Kau mengirau aku menyukaimu karena kau tampan?” tanyaku mengejek sambil mengingat ekspresi kesalnya saat dia ditahan tidak boleh pulang karena harus latihan drama.

“Jujur saja  ̴,” godanya menaikkan emosiku. Aku tidak menyangka dia bisa bikin jengkel seperti ini

“Ok, kau tampan, tapi kau tidak pintar, dan aku suka cowok pintar,” setujuku sekaligus debatku telak. Ekspresi wajahnya yang tadinya senang sekarang berubah datar. Apa aku salah bicara?

“Aku lupa aku ini berandal dan kau cewek yang suka cowok baik – baik, makanya itu kau tidak berharap aku juga bilang suka padamu, benarkan?” tanyanya sinis dengan tatapan sendu yang membuatku merasa tertohok setengah mati. Ternyata ada juga kalimat tersinggung karena dihina dalam hidupnya.

“Semua pernyataan yang aku tulis di kertas itu jujur, dan kau sudah bacakan kenapa aku tidak berharap kau juga bilang suka padaku?” tanyaku berdalih walaupun tidak sepenuhnya berdalih.

“Karena kau ingin fokus? Itu alasan klise Renata,” ujarnya kesal. Hei, kenapa dia malah mendebatku seperti ini?

“Lalu kau mau apa?” tanyaku meninggi, untung saja ini jam pulang. Kalau tidak aku sudah habis  dimarahi oleh petugas perpustakaan yang sudah kenal dekat denganku. Mau ditaruh di mana nama baikku?

“Jawab jujur, kau mau berhenti menyukaiku karena aku tidak seperti yang kau harapkan?” tanyanya penuh nada keseriusan

Aku menatap matanya tajam, mencari pengalihan untuk tidak menjawab ‘Iya’.

“Untuk apa aku menjawab pertanyaan itu?”

“Jangan bertanya sebelum kau menjawab pertanyaanku,” titahnya.

“Iya, kau puas?” aku beranjak sambil merenggut amplop tadi, beranjak pergi. Tapi dia menarik kertas itu duluan. Aku terpaku. Rasa takut menyelubungi pikiranku. Apa dia mau membunuhku?

“Kalau begitu jadilah alasanku untuk menjadi yang kau harapkan,” kali ini aku terpaku lebih lama, mencerna maksud perkataannya yang membuatku berharap senang, meredam rasa gugup dan girang yang berlebihan, dan juga menghindari untuk menoleh ke arahnya. Surat yang tadinya berada di tanganku tadi terlepas refleks begitu saja. Saking lemahnya tubuhku karena harus memompa darah begitu cepat ke jantung.

Aku menarik nafas dalam dan panjang, “Kalau kau ingin berubah, berubahlah karena dirimu, bukan karena aku atau siapapun,” ucapku berusaha mengendalikan nada suaraku. Aku menutup mata pelan, berharap semua rasa yang campur aduk ini hilang. Dia sudah berdiri di hadapanku.

“Baiklah, tunggu aku, aku mau saat aku sudah menjadi orang yang pantas untukmu dan bisa kau harapkan, kau ada di sampingku dan menjadi milikku,” aku menatapnya penuh tanya. Apa aku salah dengar?

“Dan tulisan ini biar menjadi lecutan saat aku mulai putus asa, untuk berubah dan sebagai pengingat bahwa kau sedang menungguku,” ujarnya lagi. Air mataku keluar. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, semua rasa berkecamuk di dalam pikiranku, gugup, senang, takut, tidak percaya, semuanya membuatku menangis.

“Kenapa menangis? Kau terharu?” dia bertanya dengan wajah polos yang narsis, itu membuatku terkekeh dalam tangis.

“Aku tidak menyangka ada cowok berandal bodoh yang menyukaiku dan mau merubah prediket berandalnya untuk bisa bersamaku,” bodoh, bodoh. Untuk apa dia merubah diri hanya untuk perempuan sepertiku? Aku hanya menatap tidak percaya padanya.

“Kau senang?” dia tersenyum lembut. Ya Tuhan, aku benar – benar mau pingsan rasanya. Aku tidak tahu kebaikan apa yang pernah aku perbuat sebelumnya hingga aku bisa sebahagia ini.

“Iya, aku senang,” jawabku sambil tersenyum lega.

“Dasar cewek!” dia memukulkan amplop yang ringan itu di kepalaku yang setara hidungnya.

“Kau?!” dia tertawa aku pun juga ikut tertawa.

“Pulanglah anak rajin, belajar yang benar, aku tidak mau punya calon istri bodoh,” titahnya memancong pelototan tajam dariku.

“Seharusnya aku yang bilang begitu, belajar yang benar, kelas itu bukan neraka,” nasehatku menghasilkan ekspresi kesal di wajahnya.

“Kalau begitu pindah jurusan saja, sekelas denganku,” ajaknya gila. Dia kira sekolah ini dia yang punya?

“Aku pulang,” pamitku cepat sebelum kata – katanya memancing emosiku lebih absurd lagi.

“Renata!” panggilnya tidak begitu kencang, “Aku lupa bilang, kalau aku menyukaimu juga,” aku berhenti lalu menoleh “Aku tahu,” jawabku tanpa suara.

Ternyata aku salah, masih ada yang bisa diharapkan dari seorang cowok berandal. Tekad kuat dan keberanian dalam bersikap. Aku lupa setiap manusia, cewek ataupun cowok berandal mereka punya kekerasan hati dan jika orang di sekitarnya adalah orang yang positif maka kekerasan hatinya bisa berpengaruh baik tapi jika tidak, maka yang terjadi adalah pengaruh yang tidak baik.

Dan sekarang tidak ada yang terlalu fiksi dalam hidup ini, tidak ada yang terlalu drama. Karena pada dasarnya hidup ini adalah cerita dan drama itu sendiri.

Tapi jangan terlalu berharap jika kau belum siap untuk kecewa. Karena jika begitu kau bisa saja mati bunuh diri saat tahu bahwa apa yang kau harapkan tidak sesuai dengan kenyataan.

Sekarang berharaplah, berusahalah, dan bersiaplah atas hasilnya. Pasrahkan dirimu, hatimu, dan juga pikiranmu pada Tuhan. Seburuk atau sebaik apapun hasilnya, itu bukan alasan untuk kecewa. Percayakan dirimu bahwa suatu hari nanti ada kebahagiaan yang sedang menunggumu.

18-7-2012

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

25 thoughts on “Just Confession: I. Kebetulan

    1. Anyeong juga D.K-ssi
      Bukan, ini bukan part 1, ini edisi 1. Ada edisi selanjutnya, dan mereka bisa dicari dan dibaca secara acak tanpa harus dibaca edisi lainnya. Dan semuanya udah di publish kok😀

  1. Woah. . . Ki bum seorang berandal? Tapi sejelek2nya tingkah laku orang pasti punya sisi lain yg lembut yg mungkin tdak diketahui atau sengaja ditutupi..
    Two thumbs up for this story ^^
    tapi ada beberapa kalimat yg sedikit rancu hingga *menurutq, agak bingung di pahami. But overall is good!
    Gomawo author*lupa namanya ^^

    1. Yah dia lupa nama aku, Annyeong Megian imnida😀
      Nggak cocok ya kalau Kibum berandal? aku ngerti kok, aslinya dia gimana, fikisinya dia gimana jadi mungkin itu yang bikin jadi gak cocok.
      Makasih jempolnya, Ulfa-ssi

    1. Sungguh? beneran mau nunggin? lama lho? *digemplang
      Ada, ada kok, tapi belum dikirim kesini. Aku usahakan secepatnya.
      Tengkyu Aidazzling^^

  2. aaa..gak sengaja singgah ke sini dan ketemu ff dari kamu, Megian.
    as usual, aku selalu suka sama serial confession yg kamu punya. gaya nulisnya simpel, tapi ngejlebb parah. berhasil lecutin para-para secret admirer di luar sana
    #DOR

    Untuk best dialog yg ini sih menurutku : “Dan tulisan ini biar menjadi lecutan saat aku mulai putus asa, untuk berubah dan sebagai pengingat bahwa kau sedang menungguku,”
    sweet kali ya ampuun!!! #lebai

    Ditunggu edisi confession berikutnya, Megian! Aku pengen tau lebih lanjut makna tersirat dari sebuah confession😉

    1. Ini ff udah edisi terakhir, tapi kalo sempet dan mendapat inspirasi dari angin yang berhembus maka akan kulahirkan edisi selanjutnya *kibasalis *dilemparreceh
      And, thankyou for visiting this ff Dhila~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s