A Decision [1.2]

A Decision

Title  : A Decision

Author : Natali Tamashii

Main Cast  :

  • Lee Tae Min
  • Kang Rae Mi (OC)

Support Cast :

  • Kim Jong Hyun
  • Lee Jin Ki
  • Kang Min Hyuk
  • Park Min Ri (OC)
  • Cho Hye Ra (OC)
  • Kim Hyun Ae (OC)

Length : Oneshot

Rate : PG-16

Genre : Life – Friendship – Romance

Summary : ~Apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan dan apa yang kita butuhkan belum tentu yang kita inginkan~

Disclaimer : All of plot, OC, and this fanfic are mine. Made by my own brain. Other cast belongs to God, themselves and their family.

 

~Author’s PoV~

 

Torehan gradasi warna yang didominasi warna jingga mulai men-difusi langit. Warna biru yang tadinya terhampar sejauh mata memandang di langit pun kini mulai terkikis perlahan namun pasti. Sang pusat tata surya yang tak hentinya membagi sinarnya pun mulai meredup dan perlahan menuju horizon. Angin yang tadinya sepoi-sepoi kini mulai mendingin.

Taman kota yang tadinya ramai pengunjung kini mulai menyepi. Hanya ada segelintir orang yang masih bertahan di taman untuk sekadar menghabiskan sore yang beranjak petang atau hanya ingin mengamati perubahan langit yang sangat sayang untuk dilewatkan. Mengagumi karya termasyur Sang Pencipta yang mampu membuat setiap orang berdecak kagum hanya karena melihat lukisan abstrak alami dengan langit sebagai kanvasnya.

Namun sepertinya keindahan dari lukisan alami yang terhampar itu tak membuat seorang yeoja yang berdiri di bawah pohon besar dengan akar gantung yang menjuntai nyaris menyentuh tanah ikut berdecak kagum menikmatinya karena manik hazel-nya tak terpagut di langit. Kelopak mata lentiknya hanya tertuju pada namja yang duduk di bangku taman tak jauh dari tempatnya berdiri.

~End of Author’s PoV~

^^^^^

~Rae Mi’s PoV~

 

“ Sampai kapan kamu hanya memandanginya saja? Tak adakah niatan menghampiri untuk sekadar berbincang dengannya Rae Mi-ya? ”

Kudengar suara yeoja tepat di belakangku. Tak perlu membalikkan badan pun aku sudah tahu siapa orangnya. Siapa lagi jika bukan Hyun Ae, yeoja super cerewet yang berstatus sebagai sahabatku. Aku hanya tersenyum simpul padanya ketika ia telah berdiri di sampingku. Lagi. Aku ketahuan olehnya tengah mengamati seorang namja yang duduk di bangku taman kota sambil mendengarkan musik melalui earphone yang menggantung di kedua telinganya.

“ Kamu tahu? Aku sudah bosan melihatmu mengamatinya dari jauh tanpa pernah mendekatinya. Kamu memangnya tak lelah hanya mengamatinya dari jauh selama satu tahun ini? Oh, come on Rae Mi-ya setidaknya menyapanyalah. ”

See? Cerewetnya kambuh. Aku yang sedari tadi menyandarkan tubuh di pohon yang cukup besar dengan akar gantung yang berjuntaian nyaris menyentuh tanah sehingga membuatnya menjadi spot yang tepat untuk tempat mengamati karena tak terlalu terlihat dari arah mana pun hanya memutar bola mataku jengah. Aku pun segera bergegas pergi dari tempat pengamatanku. Tak kuhiraukan teriakannya yang memanggil-manggil namaku. Aku sedang malas mendengar ocehannya yang mampu membuat telingaku panas.

~End of Rae Mi’s PoV~

^^^^^

~Tae Min’s PoV~

 

Entah sudah berapa lama aku berada di sini menikmati alunan musik melalui earphone yang menyumbat telingaku. Sebenarnya tak benar-benar menikmati karena ekor mataku sedari tadi melirik seorang yeoja yang berdiri di bawah pohon dengan akar gantung yang menjuntai ke bawah, nyaris menyentuh tanah. Ia memang tak begitu terlihat dengan berdiri di bawah pohon itu, namun dengan posisiku yang duduk di bangku taman beberapa meter di depannya maka dengan mudah aku dapat melihatnya. Bahkan gerak-geriknya pun terekam dengan jelas melalui ekor mataku.

Sudah hampir enam bulan ini aku mendapatinya berdiri di sana dengan posisi dan waktu yang sama. Entah apa yang dilakukannya. Pandangannya selalu lurus ke depan, tak pernah ke arah lain. Sejak aku menyadari keberadaannya di sana enam bulan yang lalu, aku selalu mengamatinya walau dengan ekor mataku. Sebenarnya aku tak mengenalnya sehingga aku menyebutnya dengan ‘gadis pohon’ karena kebiasaannya yang berdiri di bawah pohon. Namun tiga bulan yang lalu aku berhasil mendapatkan informasi tentangnya. Namanya Kang Rae Mi dan ia ternyata satu sekolah denganku bahkan satu angkatan walaupun di kelas yang berbeda. Dan bodohnya aku baru mengetahuinya tiga bulan yang lalu. Tsk, sungguh menyedihkan. Awalnya aku tak terlalu peduli dengannya yang terlihat cuek di sekolah, namun pandanganku padanya mulai berubah saat melihatnya menolong seorang hoobae yang terluka. Bukan hanya itu saja yang membuatku ‘memandangnya’, namun selama tiga bulan belakangan ini sebelum ke mari aku melihatnya mengajar anak-anak yang ada di kompleks ini padahal yang kutahu rumahnya terletak beberapa kompleks dari kompleks ini. Sungguh sangat berbeda dengan yeoja zaman sekarang yang kebanyakan menghabiskan waktu dengan perawatan tubuh atau ke mall. Ya, itulah yang membuatku jatuh cinta padanya. Kebaikan dan kecintaanya akan anak-anak.

Ketika aku kembali mengamatinya –melirik lebih tepatnya-, ia tengah berbincang dengan seorang yeoja yang jika aku tak salah ingat bernama Kim Hyun Ae yang merupakan sahabat Rae Mi. Sebenarnya bukan berbincang melihat hanya Hyun Ae yang berbicara sedangkan Rae Mi tak bergeming. Tak lama kemudian kulihat Rae Mi pergi meninggalkan Hyun Ae yang sepertinya berteriak-teriak memanggil namanya namun tak diacuhkan oleh Rae Mi. Ternyata sifat cueknya juga berlaku pada sahabatnya. Apakah mungkin jika ia telah menjadi yeoja chingu-ku sifat cueknya akan lenyap? Haish, kenapa aku berpikir ia akan menjadi yeoja chingu-ku? Aku bahkan tak pernah mendekatinya jadi mana mungkin ia mau menjadi yeoja chingu-ku. Baiklah, mulai besok aku akan mencoba mendekatinya agar dapat mengetahui tentangnya secara langsung. Bukan sekadar mengetahui dari orang lain.

Aku pun bangkit dari bangku yang kududuki entah sejak kapan. Memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana lalu berjalan meninggalkan taman ini karena hari sudah petang tentu saja dengan earphone yang masih menyumbat telingaku.

~End of Tae Min’s PoV~

^^^^^

~Hyun Ae’s PoV~

Huh, percuma aku berteriak padanya. Sampai suaraku habis pun pasti ia tak akan peduli. Dasar yeoja cuek. Bahkan sikap cueknya pun berlaku untukku yang merupakan sahabatnya. Sebenarnya terbuat dari apa otak dan hati anak itu? Mengapa ia tak juga menyatakan perasaannya kepada Tae Min? Padahal ia telah mencintai namja itu sudah hampir dua tahun, namun sampai sekarang ia belum juga menyatakannya. Apa ia tak takut jika Tae Min menjalin hubungan dengan yeoja lain? Bahkan hampir setiap hari ada saja yeoja yang menyatakan cinta pada Tae Min. Sungguh, aku yang telah bersahabat dengannya semenjak junior high school– pun masih meraba-raba sebenarnya apa yang ada di otaknya.

Sudah satu tahun ini dia mengamati Tae Min yang ternyata sering menghabiskan sore hingga petang di taman ini. Sejak tiga tahun yang lalu –setahun sebelum mengenal dan jatuh cinta pada Tae Min- Rae Mi dan aku mengajar anak-anak berusia 4-6 tahun yang berada di kompleks ini. Bukan mengajar mata pelajaran, hanya menemani mereka bermain dan mendidik moral mereka secara perlahan. Awalnya ini tugas Eonni-ku, namun karena ia sibuk dengan tugas kuliahnya maka ia menyerahkannya padaku. Karena kutahu Rae Mi sangat menyukai anak-anak karena –katanya-  tingkah polos mereka, maka aku pun mengajaknya dan ia langsung menyanggupinya. Ketika ia melakukan rutinitasnya –mengajar anak-anak-, ia tanpa sengaja melihat Tae Min berjalan menuju taman yang memang tak jauh dari kompleks ini. Setelah selesai mengajar mereka, ia pun memberanikan diri menyusul Tae Min ke taman dan berdiri di tempatku sekarang untuk mengamatinya dan tentu saja telah dilakukannya sejak satu tahun ini sehabis mengajar anak-anak, maka dari itu dia pulang saat petang.

Aku pun membalikkan badan untuk melihat Tae Min. Namun ketika badanku telah berbalik sempurna, yang kudapati hanya bangku kosong tanpa ada seorang pun yang mendudukinya. Aku lalu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku dan mendapati jika sekarang pukul enam petang. Pantas saja Rae Mi pulang, ternyata ini sudah waktunya Tae Min pulang. Aku pun kembali membalikkan badan untuk pulang.

~End of Hyun Ae’s PoV~

^^^^^

~Author’s PoV~

Rae Mi merenggangkan otot-otot tangannya setelah selesai belajar. Buku-buku yang tadinya berserakan di meja belajarnya mulai ia bereskan. Ketika tengah membereskan buku, tanpa sengaja manik coklatnya menatap jam yang menggantung di atas ranjangnya.

“ Tsk, ternyata sudah pukul sembilan malam.”

Dengan menahan lelah dan kantuk, Rae Mi pun melanjutkan acara beres-beres bukunya. Sepuluh menit kemudian, Rae Mi telah membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang memanjakan punggung lelahnya.

“ Lee Tae Min,” lirihnya sambil menerawang ke langit-langit kamarnya yang dihiasi bintang-bintang buatan berwarna emas.

Tanpa diminta, memorinya menyeruakkan kenangan dua tahun yang lalu saat ia pertama kali bertemu –mengamati lebih tepatnya- Tae Min.

Flashback on…

Two years ago…

 

“ Tsk. Mengapa perpustakaan harus berada di lantai dua sih? Sungguh menyusahkan. “

Rae Mi menggerutu tak jelas sambil menghentakkan kakinya ke lantai yang tak bersalah. Dengan menekuk wajahnya, ia pun berjalan menuju perpustakaan yang berada di lantai dua. Sebenarnya di sekolah tersebut ada dua perpustakaan, yang satu di lantai satu sedangkan yang lain berada di lantai dua. Sebelum istirahat sang guru menugaskannya untuk mengambil buku di perpustakaan karena akan digunakan setelah istirahat. Dengan setengah terpaksa dan meruntuki diri karena hari ini adalah jadwal piketnya dan teman piketnya yang namja tak masuk sehingga hanya dirinya yang mengambil buku-buku tersebu, Rae Mi pun menuju perpustakaan bawah. Sialnya buku yang dibutuhkannya tak ada di perpustakaan bawah, alhasil ia pun harus ke perpustakaan atas.

Ketika sampai di lantai dua, ia pun berbelok ke kanan tempat perpustakaan tersebut berada. Namun baru beberapa langkah, suara dentuman musik yang menghentak menyelinap ke gendang telinganya. Karena didera rasa penasaran, akhirnya Rae Mi pun berbalik ke kiri, tempat musik itu berasal. Semakin ia melangkah, semakin jelas suara dentuman musik tersebut hingga Rae Mi akhirnya berhenti tepat di depan sebuah ruangan. Pintu ruangan yang sedikit terbuka memudahkan Rae Mi untuk mengintip apa yang sebenarnya terjadi.

“ Lee Tae Min? “ lirihnya sambil mendekap mulutnya.

Ia melihat teman seangkatannya, Lee Tae Min tengah berada di dalam ruangan yang baru diketahuinya sebagai ruang dance. Tak susah baginya untuk mengetahui jika namja tersebut adalah Lee Tae Min. Selain karena beberapa kali ia melihat Tae Min –walau sekadar melihat tanpa memerhatikan lebih detail-, ia juga sering tanpa sengaja mendengarkan teman-temannya membicarakan Lee Tae Min. Tae Min tengah meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti hentakan musik yang ada. Peluh bercucuran membasahi wajahnya serta rambut coklatnya.

“ Tampan, “ gumam Rae Mi tanpa sadar.

Walaupun ia mengakui jika Tae Min tampan, entah mengapa saat melihat Tae Min menari ia merasa Tae Min lebih tampan dari biasanya. Ia mengamati gerakan Tae Min yang selaras dengan hentakan musik yang ada. Sungguh ia baru menyadari jika teman seangkatannya ini sangat pandai menari. Rae Mi sangat menyukai musik terutama dance walaupun ia sendiri tak bisa menari. Dan ia beruntung dapat menyaksikan secara eksklusif tarian Tae Min yang –baginya- setara dengan dancer internasional yang sering ditontonnya di televisi. Tanpa sadar ia pun mengamati tarian Tae Min hingga melupakan tujuan awalnya.

Deg…

Deg…

Deg…

Rae Mi memegangi dadanya yang berdentum kencang saat melihat Tae Min mengibaskan rambutnya yang basah. Darahnya berdesir sangat cepat mengalir melalui pembuluh darahnya. Ia pun segera menyandarkan tubuhnya di dinding samping pintu sambil memegangi dadanya.

“ Oh God. Jangan katakan jika aku jatuh padanya hanya karena melihatnya mengibaskan rambut basahnya,” bisiknya.

Ketika memegangi dadanya, tanpa sengaja Rae Mi melihat jam tangannya. Seketika matanya terbelalak bahkan hampir keluar dari kelopak matanya. Dengan terburu-buru, ia pun pergi ke perpustakaan untuk segera menunaikan tugasnya jika tak ingin mendapat hukuman dikarenakan sebentar lagi bel masuk berbunyi.

Flashback off…

Rae Mi tersenyum sendiri mengingat betapa konyolnya ia dulu. Awalnya ia tak menyangka ternyata jika benar ia jatuh cinta pada Tae Min hanya karena melihat namja tersebut mengibaskan rambut basahnya seusai latihan dance. Namun setelah termenung, akhirnya ia menyadari jika benar ia jatuh cinta pada Tae Min hanya karena melihatnya mengibaskan rambut yang basah. Setelah hari itu, jika ada waktu senggang maka Rae Mi mengintip Tae Min yang sedang latihan dance dan ia selalu berdecak kagum setiap melihat gerakan dance namja tersebut. Akhirnya Rae Mi tertidur karena terlalu lelah.

@@@

“ Hai Rae Mi-ssi. ”

Sebuah suara yang sangat dikenalnya –bahkan dihafal- kini menyusup indera pendengaran Rae Mi. Yeoja yang tengah membaca buku di bawah pohon rindang yang berada di taman belakang sekolah itu pun mendongak dan mendapati Tae Min tengah berdiri di hadapannya dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.

“ Tae Min-ssi? Mengapa kamu ada di sini? “ tanya Rae Mi heran sambil mengerutkan keningnya. Pasalnya taman belakang sekolah ini sangat jarang bahkan tidak pernah didatangi siswa. Maka tak salah jika Rae Mi bertanya seperti itu pada Tae Min.

“ Apakah salah bila aku berada di sini? Aku tadi sedang berjalan-jalan dan tanpa sengaja menemukan taman ini. Karena melihatmu di sini, maka aku pun menghampirimu. ” Tae Min mendudukkan dirinya di samping Rae Mi.

“ Ah, bukan begitu. Hanya tak menyangka saja kamu berada di taman tak terurus ini. Setahuku kamu merupakan siswa yang sibuk, jadi heran saja mendapatimu di sini,” ujarnya tak melepaskan pandangan dari buku yang dibacanya.

Tae Min yang tadinya memfokuskan pandangan ke hamparan rumput hijau yang tak terurus kini mengalihkan pandangannya ke samping kiri di mana Rae Mi duduk. “ Kamu memperhatikanku? “ tanyanya heran.

“ Setiap siswa yang berprestasi pasti akan menjadi topik perbincangan diantara siswa lainnya bukan? Begitu pula dengan dirimu. Jadi tak heran aku mengetahuinya secara tak langsung, “ tuturnya sambil menutup buku yang dibacanya lalu menatap Tae Min.

Tae Min hanya mengangguk membenarkan pernyataan Rae Mi. Terlihat raut kekecewaan di wajahnya saat mengetahui ternyata Rae Mi tahu secara tak langsung, bukannya sengaja mencari tahu seperti anggapannya. Hening mengungkung mereka. Hanya terdengar hembusan angin yang menabrak apa saja yang dilewatinya termasuk helaian rambut Rae Mi yang sengaja digerai.

~End of Author’s PoV~

^^^^^

~Rae Mi’s PoV~

Aku sangat terkejut mendapati Tae Min berada di taman ini. Padahal taman ini tak terurus sehingga kotor terlebih letaknya yang cukup jauh dari area gedung. Mendengar alasannya yang bisa dibilang tak masuk akal –menurutku- membuatku curiga. Memang ada orang yang jalan-jalan hingga keluar dari area gedung sekolah, kecuali aku tentunya.

“ Kamu memperhatikanku? “

“ Setiap siswa yang berprestasi pasti akan menjadi topik perbincangan diantara siswa lainnya bukan? Begitu pula dengan dirimu. Jadi tak heran aku mengetahuinya secara tak langsung, “ tuturku sambil menutup buku yang kubaca lalu menatap Tae Min.

Ya, memang benar aku mengetahuinya karena mendengarnya dari siswa lain. Walaupun aku menyukainya namun aku bukanlah orang yang keranjingan mencari tahu tentangnya. Bagiku masih banyak  hal yang berguna yang bisa kulakukan. Toh meski pun aku tak mencari tahu aku tetap mendapatkan informasi dari teman-temanku yang hobi membicarakannya. Jadi untuk apa repot-repot mencari tahu jika bisa tahu dari orang lain. Setidaknya aku masih bisa mengamatinya dari jauh tanpa harus mengganggu privasinya. Begitulah pola pikirku.

Tiba-tiba keheningan menyelubungi kami. Hanya terdengar hembusan angin yang mengoyak apa saja yang dilaluinya termasuk rambutku yang kugerai. Aku yang tadinya hendak melanjutkan membaca buku harus tertunda karena sibuk merapikan helaian rambut yang diterjang angin. Ketika tengah sibuk merapikan helaian rambutku yang diterbangkan angin, tanpa sengaja manik coklatku terpagut pada jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Mataku langsung terbelalak melihatnya. Buru-buru aku bangkit sambil menenteng dua buah buku yang tadi kubawa.

“ Ah Tae Min-ssi, maaf aku harus segera pergi. Aku harus mempersiapkan speaking yang akan diambil nilainya setelah jam istirahat habis. Annyeong, “ ujarku sambil membungkukkan badan beberapa kali setelah itu aku pun pergi. Yah walaupun aku duluan yang berada di sini rasanya tidak sopan bila pergi begitu saja tanpa pamit.

“ Rae Mi-ssi! “

Baru beberapa langkah Tae Min memanggilku. Aku pun berhenti lalu berbalik dan mendapatinya tengah berdiri sambil membersihkan dedaunan yang menempel di celananya lalu berjalan mendekatiku. Semakin ia mendekat aku semakin mengerutkan kening. Bukan apa-apa, aku hanya heran melihat senyum yang masih bertahta di bibirnya. Sejak kapan seorang Lee Tae Min murah senyum? Padaku pula. Karena setahuku Tae Min merupakan salah satu namja di sekolah ini yang bisa dibilang sukar untuk membuat lengkungan sabit ke atas di bibirnya. Ia lebih sering membuat lengkungan sabit ke bawah di bibir para yeoja yang menyatakan perasaan padanya.

“ Bisa kita berjalan beriringan menuju kelas? Bukankah kelas kita searah? “ tanyanya dengan senyum yang masih terlukis di bibirnya saat telah tiba di depanku.

Aku semakin heran dengan perilaku Tae Min. Bukan, bukannya aku tak senang melihatnya baik padaku. Sekarang orang bodoh mana yang tak senang mendapati orang yang disukainya ramah bahkan dekat dengannya. Hanya saja melihat perubahan sikapnya yang terkesan mendadak semakin membuatku curiga. Setahuku ia jarang bahkan tak pernah ramah pada seseorang terlebih itu seorang yeoja. Aku hanya mengangguk pasrah. Kami pun berjalan beriringan.

“ Em, Tae Min-ssi­, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu? “ Aku pun membuka suara. Berusaha membunuh keheningan yang serasa mencekik kami.

“ Boleh saja. Memang kamu ingin bertanya apa Rae Mi-ssi? “

“ Hm, dari mana kamu mengetahui namaku? Bukankah aku tak memakai name tag atau apa pun yang mengindikasikan namaku? “ Sungguh aku penasaran dari mana ia mengetahui namaku. Aku tahu pasti jika Tae Min bukanlah orang yang sangat rajin hingga mau menghafalkan nama teman-teman seangkatannya yang jumlahnya pasti ratusan.

“ Siapa yang tak kenal dengan Kang Rae Mi? Seorang yeoja yang terkenal dengan kecuekannya namun kemurahannya menolong orang lain dan kepandaiannya yang selalu memenangkan lomba kebahasaan yang ada.”

Aku berhenti melangkahkan kakiku dan menatapnya dengan kepala yang kumiringkan serta mata yang mengerjab-erjab. Dari mana ia tahu tentang itu semua? Walaupun ia tak secuek diriku namun tetap saja terkesan aneh. Aku pun menggeleng-gelengkan kepalaku. Untuk apa aku memikirkannya? Mungkin saja ia mengetahuinya dari orang lain. Aku pun menggendikkan bahuku, tak ingin mempermasalahkan ini.

“ Tae Min-ssi, aku harus segera ke kelas. Annyeong.”

Setelah membungkukkan badan, aku segera melangkahkan kaki meninggalkannya. Saat ini kami –aku dan Tae Min- sebenarnya masih berada di area taman belakang sekolah yang bisa dibilang cukup luas. Beberapa meter lagi memang kami akan memasuki gedung sekolah. Maka dari itu aku berpisah darinya. Aku hanya tak ingin mendapatkan tatapan intimidasi dari berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus pasang mata yang melihatku beriringan bersama Tae Min. Walaupun aku merupakan orang yang cuek, namun tetap saja aku risih mendapatkan tatapan seperti itu. Aku hanyalah orang yang cuek, bukanlah orang yang anti sosial.

“ Rae Mi-ssi! “

Baru beberapa langkah, suara Tae Min menginterupsi langkahku. Aku pun berhenti lalu berbalik dengan kedua alis yang bertautan. Kulihat ia menyungging sebuah senyum.

“ Terima kasih sudah menemaniku mengobrol, “ ujarnya lalu berjalan melaluiku yang masih berdiri dengan alis yang saling bertaut ditambah kerutan yang tercipta di keningku, heran dengan ucapannya. Menemaninya mengobrol? Tsk, ternyata ia butuh teman mengobrol. Tapi, bukankah tadi tak bisa disebut obrolan? Aku pun kembali melangkah. Membiarkan belasan pertanyaan tentang perilaku aneh Tae Min yang masih dengan nyamannya bersemayam di pikiranku tanpa terjawab sekalipun. Cepat atau lambat pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab seiring berjalannya waktu.

@@@

Kurasakan senggolan di tangan kiriku ketika tengah memberesi buku-buku yang ada di mejaku usai jam pelajaran hari ini. Kutolehkan kepala ke kiri sambil menautkan alis, sedangkan Hyun Ae terlihat menggerakkan dagunya ke arah pintu. Dengan malas aku pun menoleh ke pintu dan mendapati Lee Tae Min tengah berdiri di sana, tentu saja dengan senyum yang menghiasi bibirnya serta lambaian tangannya padaku. Aku pun membalas lambaiannya lalu kembali berkutat dengan buku-buku yang masih berada di meja.

“ Cie… dijemput sang pangeran, “ bisik Hyun Ae jahil tepat di telingaku.

Aku hanya diam saja melihat kelakuannya. Semenjak ia tahu aku dekat dengan Tae Min, ia selalu saja menggodaku. Sudah hampir empat bulan ini aku dekat dengan Tae Min, terhitung dua bulan sebelum ujian kenaikan kelas. Semenjak pertemuan di taman belakang sekolah, ia sering menemuiku. Awalnya aku heran dan curiga dengan Tae Min. Bagaimana tidak bila orang yang kau sukai selama hampir 3 tahun tiba-tiba saja mendekatimu padahal kamu tahu ia jarang mengobrol apalagi akrab dengan yeoja. Tapi toh seiring berjalannya waktu aku tak memusingkannya lagi. Biarlah ini menjadi rahasia yang akan terkuak hingga waktunya tiba. Namun setelah aku dekat dengan Tae Min, aku semakin sibuk. Bukan sibuk dengan Tae Min tentu saja. Namun sibuk dengan Hyun Ae yang selalu menggodaku hingga semburat merah muda merayapi pipiku setelah itu ia akan tertawa terbahak-bahak melihat semburat tersebut serta para yeoja anarkis yang selalu menggangguku dengan kelakuan-kelakuan konyol mereka semenjak mengetahuiku dekat dengan Tae Min. Setelah semuanya selesai, aku pun menyandang tasku.

“ Hyun­-ah, aku pulang dulu, “ pamitku padanya yang masih sibuk dengan buku-bukunya.

“ Selamat menikmati kencan romantis dengannya ya. Kekeke.”

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan anehnya. Aku pun segera menghampiri Tae Min yang masih berdiri di depan pintu kelas. Kencan apanya? Aku hanya pulang bersama Tae Min.

Mian lama,” tuturku sambil tersenyum simpul.

“ Tak apa-apa. Kkaja. “

Kami pun berjalan beriringan. Tentu saja dengan puluhan bahkan mungkin ratusan pasang mata yang mengiringi perjalanan kami dengan tatapan menusuk padaku. Awalnya aku risih, namun sekarang mulai terbiasa.

~End of Rae Mi’s PoV~

^^^^^

~Author’s PoV~

 

Rae Mi hanya menunduk saat berjalan bersama Tae Min di sepanjang koridor. Tanpa aba-aba tangan Tae Min berada di pucuk kepala Rae Mi yang selanjutnya mengusak lembut rambut Rae Mi yang tergerai. Itu membuat Rae Mi menatap Tae Min yang kini memandangnya dengan senyum yang selalu bertengger di wajahnya serta tatapan lembut seolah berkata tak-perlu-pedulikan-tatapan-mereka.

Deg…

Deg…

Deg…

Blush…

Tanpa aba-aba dentuman jantung Rae Mi berpacu cepat serta semburat merah muda menyeruak di kedua pipinya hingga mau tak mau membuatnya menunduk dalam sepanjang perjalanan.

@@@

Seorang yeoja dengan rambut bergelombang sepunggung yang diikat kuda tengah berjalan di koridor sambil membaca buku di tangannya melalui kacamata minus ber-frame hitam yang membingkai matanya. Iris coklatnya dengan teratur bergerak dari kiri ke kanan sesuai deretan kata-kata yang tercetak rapi di atas lembaran buku tersebut.

“ Hiks…hiks…hiks…”

Tiba-tiba langkahnya terhenti kala mendengar suara isakan tangis. Iris coklatnya yang sedari tadi terpagut pada deretan kata yang tercetak di atas lembaran buku kini bergerak liar menjelajah tiap sudut koridor yang baru disadarinya sepi. Bahkan bisa dibilang hanya dirinyalah yang kini berada di koridor tersebut. Namun sayang, tak ditemukan asal suara isakan tersebut. Ia hanya menggendikkan bahu lalu melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda –membaca- sambil berjalan.

“ Hiks…hiks…hiks…Nappeun. Hiks…hiks…”

Lagi. Suara isakan itu terdengar dan kini sangat jelas. Yeoja itu pun segera menutup buku yang dibacanya lalu menggenggamnya erat. Telinganya ia pasang guna mencari sumber suara tersebut. Langkahnya terhenti tepat di taman belakang sekolah yang biasa dikunjunginya. Keningnya mengernyit kala manik coklatnya menangkap punggung seorang yeoja yang duduk bersimpuh di dekat pohon yang biasa ia duduki. Dengan amat perlahan ia berjalan mendekati yeoja tersebut agar tak menimbulkan bunyi yang dapat mengganggu.

“ Hiks…kenapa Op-oppa ja-hiks..jahat padaku hiks…hiks…”

“ Cho Hye Ra-ssi ? “ gumamnya lirih namun dapat didengar oleh si empunya nama.

Yeoja yang dipanggil Cho Hye Ra segera menoleh ke belakang dan mendapati Rae Mi tengah memandangnya dengan alis bertautan. Buru-buru Hye Ra menghapus air mata yang masih menghiasi wajahnya sedangkan Rae Mi mendudukkan diri di samping Hye Ra.

“ Jika ada hal yang mengganggumu kamu bisa bercerita padaku. Aku tahu kita tak pernah berbincang sebelumnya, namun siapa tahu jika kamu bercerita mungkin sedikit bebanmu akan berkurang. Aku tak janji bisa memberi saran setelahnya, namun aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik. Itu pun jika kamu mau bercerita padaku, “ jelas Rae Mi dengan pandangan lurus ke depan.

Hye Ra memandang Rae Mi heran. Pasalnya ia tak pernah mengobrol dengan yeoja yang duduk di sampingnya ini namun tiba-tiba Rae Mi menawarkan suatu hal yang membuatnya tercengang. Hye Ra terlihat menimang-nimang apakah ia akan menceritakannya pada Rae Mi yang tak pernah bertegur sapa dengannya atau justru bungkam.

“ Jin Ki Oppa…”

Ketika Rae Mi hendak bangkit karena tak jua mendapati Hye Ra membuka suaranya setelah sepuluh menit berselang akhirnya Hye Ra membuka suara. Rae Mi kembali duduk sambil mengernyitkan dahi mendengar ucapan Hye Ra yang –baginya- aneh.

“ Jin Ki Oppa memutuskanku hiks…hiks…hiks…”

Tangis Hye Ra yang tadinya reda kini kembali pecah. Dengan sigap Rae Mi menepuk-nepuk bahu Hye Ra agar tenang.

“ Jika aku boleh tahu, mengapa Jin Ki-ssi memutuskanmu Hye Ra-ssi? “ tanya Rae Mi setelah Hye Ra kembali tenang.

“ Ia…ia ternyata memacariku hanya…hanya untuk taruhan dengan temannya. “

Rae Mi terkejut bukan main. Ia sungguh tak percaya jika Lee Jin Ki sang ketua OSIS yang ramah, murah senyum dan baik ternyata mampu mempermainkan hati yeoja dengan menjadikannya taruhan. Tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Jika saja Jin Ki ada di hadapannya sekarang, pastilah namja itu sudah merasakan bogem mentah darinya.

“ Sudahlah Hye Ra-ssi, untuk apa kamu membuang air mata demi namja sepertinya yang hanya mempermainkan hatimu? Setidaknya kamu bersyukur karena telah mengetahui kebusukannya saat ini. Itu tandanya Tuhan masih sayang padamu karena Dia telah menunjukkan kebusukan Jin Ki-ssi. Jadikanlah rasa sakit yang kamu alami saat ini sebagai penyemangat dan pengalaman agar di depannya tak mengalami hal yang sama. “

Hye Ra menatap Rae Mi takjub. Ia merasa beruntung bertemu dengan Rae Mi. Yeoja yang terlihat cuek bahkan terkesan anti sosial ini ternyata sangat perhatian dan dewasa. “ Terima kasih Rae Mi-ssi telah mendengarkan ceritaku. Ya, kamu benar. Seharusnya aku tak mengeluarkan air mataku hanya untuk namja sepertinya. “

@@@

Rae Mi berjalan dengan gontai di sepanjang trotoar. Peluh membanjiri wajahnya. Rambut yang biasanya ia gerai kini ia ikat rapi. Terik matahari dengan teganya memanggangnya. Seharusnya ia pulang sekolah diantar oleh Tae Min seperti yang sudah-sudah sejak empat bulan belakangan. Namun karena Tae Min ada urusan, maka dengan terpaksa ia pulang menggunakan bus seperti rutinitasnya sebelum diantar jemput Tae Min. Matanya membulat kala mendapati halte tempatnya biasa menunggu bus kini cukup padat. Dengan langkah yang semakin lesu pun ia menuju halte tersebut untuk andil dalam kegiatan berdesak-desakan tersebut.

Ia mendapat tempat di ujung halte dan berdiri di dekat namja yang jika tak salah tafsir seusianya tengah menyesap sebatang racun perusak hati. Asap yang dihasilkan racun tersebut melayang-layang di depan wajah Rae Mi hingga membuatnya menahan napas, tak ingin merusak pernapasannya dengan racun tersebut. Tangannya aktif mengibas-ibas di depan wajahnya guna menghalau asap racun yang melambai-lambai minta dihirup. Namun namja si penghisap batang racun tersebut seolah tak mengacuhkan reaksi Rae Mi yang terganggu atas asap racun tersebut. Semakin lama ia melihat asap tersebut, semakin banyak keringat yang membanjiri wajahnya. Bukan hanya keringat biasa akibat sengatan matahari, namun keringat dingin karena memori buruk yang telah rapi disimpannya kini menyeruak ke permukaan.

Flashback on…

 

Four years ago…

 

Seorang gadis tengah berdiri di depan namja yang beberapa tahun lebih tua darinya dengan melipat tangan di depan dada. Menatap namja yang tengah asyik dengan kegiatannya menyesap sebatang racun paling nikmat –bagi pecandunya- sekaligus mematikan dengan tatapan tajam seolah hendak menguliti namja di depannya. Sedangkan yang ditatap tak acuh dengan gadis di depannya yang berstatus sebagai yeodongsaeng-nya.

“ Min Hyukie Oppa, berhentilah merusak diri Oppa sendiri dan orang di sekitar Oppa dengan menyesap rokok itu, “ ujar gadis tersebut jengah.

Di usianya yang masih sangat belia, gadis itu sangat tahu bahaya apa saja yang dapat ditimbulkan oleh batang racun laknat itu. Entah sudah berapa kali ia mengingatkan Oppa-nya yang beranjak remaja itu untuk tidak merokok terlebih merokok di dalam rumah. Sejauh ini orang tua mereka tak mengetahui tabiat buruk putra sulung mereka. Hanya gadis tersebut yang mengetahuinya. Beruntung orang tua mereka tengah terlelap di kamar. Jika tidak Min Hyuk pastilah dimarahi habis-habisan.

“ Berhentilah untuk ikut campur dengan urusanku Rae Mi-ya. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini. Jangan mengganggu keasyikanku. “

‘ Selalu saja seperti itu. Dasar Min Hyuk Oppa menyebalkan, ‘ batin Rae Mi jengkel lalu keluar dari rumah.

“ Dasar dongsaeng menyebalkan, “ ujar Min Hyuk lalu membuang punting rokok yang –menurutnya- telah mati ke rumput belakang rumah mereka lalu pergi.

………

Suara sirine pemadam kebakaran memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya termasuk Rae Mi yang tengah bermain ke rumah Hyun Ae yang terletak beberapa rumah dari rumahnya.

“ Memang rumah siapa yang terbakar? “ tanya Rae Mi ketika melihat mobil pemadam kebakaran yang beberapa detik lalu melintas di depan rumah Hyun Ae.

Hyun Ae menggendikkan bahu. Ia pun berjalan menuju pagar rumahnya untuk melihat di mana mobil pemadam kebakaran itu berhenti.

To be continoue……

Don’t forget comments and critics for me and this fanfic.

Friendly ,

Natali Tamashii

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

4 thoughts on “A Decision [1.2]

  1. Lee TaeMin dan Lee JinKi jangan” bersaudara
    RaeMi yang malang, harus merasa trauma akan benda paling berbahaya yang dikonsumsi oleh beberapa orang
    Lanjutkan author

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s