Because I Need Her

Tittle : Because I Need Her.

Author : Enisa Dildar (@Enisa_D)

// Length : Oneshot // Genre : Romance, Friendship, Comedy // Main Cast : Minho // Support Cast : Taemin, Jonghyun, Key // Rating : General

Disclaimer : Minho is belong to himself, the story is mine, and I’m not take any profit for this story. It just for fun, so please enjoy!😉

 

Jodoh? Uhm, jodoh itu…

Ayam! Sesuatu yang kau tidak bisa hidup tanpanya.

Bodoh! kasian sekali jodohmu disamakan dengan ayam.

Oke, jodoh itu…

Musik! Sesuatu yang setiap kebersamaannya selalu kau nikmati, tanpa mengenal waktu.

Err… cukup masuk akal.

Tidak! Jodoh itu…

Cantik! Sesuatu yang tidak pernah memberikan kebosanan pada matamu. Membuatmu selalu ingin melihatnya lagi, lagi, dan lagi.

Cantik?

Jodoh itu…cantik?

Kalau begitu, aku dan dia dipastikan tidak berjodoh. Karena dia, bukanlah gadis yang cantik.

Bodoh! Jodoh itu…

Saat kau menemukannya kembali setelah sekian lama terpisah, dimana dia kembali padamu setelah sekian jauh pergi meninggalkanmu. Jodoh adalah saat kau membutuhkannya dan dia membutuhkanmu. Saat kau tidak mempedulikan apapun lagi selain kau mencintainya dan ingin bahagia bersamanya. Itulah jodoh.

Sebutkan satu kata yang mampu mewakili sebuah nama bernama Choi Minho. Tanyakan pada seribu gadis di luar sana, dan dapat dipastikan yang keluar dari mulut mereka pastilah kata-kata sempurna diiringi nada memuja.

“Oh, Choi Minho itu tampan!”

Lihatlah matanya, kau pasti akan menemukan dua gambar berlambang cinta pada kedua bola matanya itu. Ugh!

“Choi Minho pintar!”

“Choi Minho kaya!”

“Choi Minho mempesona!”

“Choi Minho keren!”

STOP!

Karena jika diteruskan, kata-kata itu pasti akan berbuntut panjang dengan segala bentuk pemujaan yang menyeramkan. Sungguh, tidak ada yang lebih menyeramkan daripada kekaguman seorang gadis kepada pria sempurna yang disukainya, bukan?

Well, yah…Choi Minho itu sempurna. Satu kata itu mungkin yang paling pantas mewakili segala kata yang diucapkan semua gadis di luar sana.

Karena Choi Minho adalah lelaki tampan yang memiliki tatapan mata yang meluluhkan, maka dia dianggap sempurna. Karena Choi Minho adalah lelaki pintar yang tidak pernah tergeser dari peringkat satu disekolahnya, maka dia dianggap sempurna.  Karena Choi Minho tinggal di sebuah rumah yang bagai istana dengan segala kemewahan menyilaukan, maka dia dianggap sempurna.

Karena Choi Minho…ah, sudahlah. Yang jelas Choi Minho itu sempurna. Segala hal yang ada pada dirinya, baik ataupun buruk, orang-orang pasti akan menganggapnya sempurna. Bahkan sekalipun dia kentut di tengah kantin dengan bau yang aduhay…ah, tetap saja. Dia akan terlihat sempurna. Mau bagaimana lagi, logika tidak pernah hadir di tengah kekaguman, bukan?

Jadi memang begitulah Choi Minho, si lelaki sempurna yang tidak pernah habis pesonanya membuat para gadis bertekuk lutut bahkan tiarap tanda menyerah karena kesempurnaan yang dimilikinya.

.

.

Namun sayang, ada yang gadis-gadis itu tidak ketahui tentang Choi Minho. Tentang satu kelemahan yang mampu menghapus segala kesempurnaan yang dimilikinya.

Itu adalah Ahn Ji Eun.

Kelemahan terbesar, sekaligus pelengkap kesempurnaan seorang Choi Minho.

Ini bukanlah pagi yang istimewa, bukan pula sebuah pagi yang menyenangkan. Tidak ada yang berbeda antara pagi ini dengan pagi-pagi sebelumnya. Semuanya sama saja. Datar.

Oh, ralat. Ada yang berbeda. Tentu saja ada yang berbeda. Setiap paginya selalu ada yang berbeda. Teriakan para gadis yang semakin keras, deretan mereka yang semakin panjang di setiap koridor sekolah, dan umpatan dalam hati yang semakin menumpuk tak terucap dari bibir Choi Minho. Ya, ya, itulah yang selalu berbeda dari hari ke hari, dari pagi yang satu ke pagi yang lainnya.

Choi Minho mengerang seraya menutupi kepalanya dengan topi hingga mencapai hidung, menutup sarana gadis-gadis itu dalam memandangi wajahnya. Sialnya, sikapnya itu malah membuat teriakan mereka malah semakin membahana. Sepertinya Minho tidak tahu, kalau sikap yang dilakukannya justru malah semakin menarik perhatian, semakin terlihat keren di mata gadis-gadis itu.

Choi Minho selalu terlihat sempurna; apapun yang ada pada dirinya, apapun yang dilakukannya. Begitulah hukumnya.

Berbeda jauh dengan Choi Minho, empat lelaki yang berjalan di samping kiri dan kanannya malah terlihat senang dengan teriakan gadis-gadis itu. Alih-alih menutupi wajah dengan topi, mereka justru memamerkan senyuman memikat, tebar pesona, dan Lee Taemin bahkan melambaikan kedua tangannya, kadang melakukan kiss bye seolah dia sedang berada di atas panggung Miss Universe.

Jika BBF memiliki F4 alias Flower Four yang berisi empat lelaki tampan yang kaya raya, maka SHINee High School memiliki S5 alias Shining Five yang berisi lima lelaki tampan nan bersinar yang tak pernah gagal meluluhkan hati gadis manapun.

Oh, oke. Itu berlebihan.

Tidak ada yang seperti itu.

Panggilan S5 beserta deskripsinya hanyalah cetusan asal dari Kim Jonghyun sang cassanova sekolah. Tapi memang tak bisa dipungkiri, dimanapun Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, dan Lee Taemin berada, pusat perhatian pasti mengerubungi mereka. Ya seperti gula yang dikerubungi semut. (perumpamaan konyol!)

Dan setiap pagi, (atas paksaan Kim Jonghyun dan Lee Taemin) mereka berlima selalu datang ke sekolah secara bersamaan. Jika salah satu di antara mereka datang lebih cepat dari yang lain, maka dia wajib menunggu. Alasannya sangat konyol. Supaya mereka terlihat seperti F4 yang mempesona, selalu datang bersamaan, berjalan bersamaan, dan digilai secara bersamaan. Woah! Jalan pikiran Jong-Tae memang tiada bandingan. Choi Minho dulu pernah menolak keras ide konyol tersebut dengan datang ke sekolah seorang diri tanpa menunggu keempat temannya. Dan hasilnya, kupingnya panas luar biasa mendapatkan rajukan menyebalkan Lee Taemin dan beragam ucapan sinis Kim Jonghyun seeeeepanjang hari. Dari situlah Choi Minho memilih menyerah. Dia akhirnya selalu menunggu keempat temannya jika dia datang lebih dulu, dia tidak pernah lepas dari keempat temannya sekalipun efek dari keputusannya itu dia harus bersabar menerima teriakan memekakkan telinga para gadis di sekolahnya.

Ya, bersabarlah Choi Minho.

“Sampai kapan drama seperti ini berakhir?” desis Choi Minho menahan sekuat mungkin untuk tidak berteriak atau membentak atau apa saja yang bisa membuat gadis-gadis itu diam dan berhenti memperhatikannya.

“Oh, Hyung, ini sungguh menyenangkan. Kenapa tidak kau nikmati saja selagi mereka tertarik pada kita? Hal seperti ini tidak akan terjadi saat kau bongkok dan keriput dengan usia yang mau mendekati ajal kan?”

Lee Taemin masih menampilkan senyum berkilaunya, kedua tangannya masih melambai ke sana- ke mari, dan dia mengucapkan kalimat itu dengan santai seolah sedang membicarakan seperti apa cuaca hari ini.

Baby Tae memang cerdas!” Lee Jonghyun menepuk kepala Taemin yang langsung di tepis oleh tangan Taemin. “Itu memalukan, Hyung! Berhenti memanggilku Baby Tae di depan para penggemarku.”

Tidak ada yang bisa dilakukan Choi Minho selain menarik napas panjang dan berusaha untuk bersabar —-lagi.

“Sepuluh meter lagi dan kau akan segera terhindar dari sini,” ucap Onew —panggilan Lee Jinki— yang segera diamini Choi Minho. Ya, sepuluh meter lagi dan ini pasti akan segera berakhir.

Onew kembali berkata, “Besok-besok, seharusnya kau mencoba gaya Key.”

Key adalah panggilan untuk Kim Kibum. Tolong jangan tanya kenapa dipanggil Key karena nama itu muncul begitu saja sejak Kim Kibum hobi menghilangkan kunci rumahnya setiap kali dia berjalan-jalan keluar.

Mata Onew kini melirik ke belakang menatap Kibum diikuti Minho. Seketika, Minho merasa bodoh luar biasa. Kenapa hal semacam itu tidak terpikirkan olehnya? Selama dua tahun dia menderita dengan teriakan gadis-gadis bodoh di sekolahnya, dan dia tidak melakukan apapun selain mengumpat dalam hati.

Mendengarkan musik lewat headset dengan volume yang super keras. Ya, seharusnya itulah yang dia lakukan sejak awal! Besok dia harus melakukannya.

Kantin berada di depan, dan itu berarti Choi Minho hanya perlu beberapa langkah lagi untuk mencapai kelasnya.

.

.

.

“KAU GILA??! SEJAK AWAL BURGER INI MILIKKU!”

.

.

.

Minho berhenti.

Mau tidak mau, Onew, Jonghyun, Taemin, dan bahkan Key pun ikut berhenti. Err, lebih tepatnya Key terpaksa berhenti karena dia menabrak punggung Onew yang tiba-tiba berhenti.

“Ada apa?” tanya Key tidak mengerti.

Tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

“Ada apa?” tanya Key sekali lagi.

.

.

.

Masih hening.

“Sekali lagi aku bertanya dan tidak ada yang menjawab, aku bersumpah kalian ak—“

“Ssst.” Taemin menyela, menyuruh Key berhenti bersuara.

Key pun berhenti dan kini matanya mengikuti petunjuk Taemin untuk melihat ke arah kantin. Oh, jadi ini yang membuat mereka semua berhenti? Ada seorang puteri Kepala Sekolah, puteri paling cantik yang selalu menjadi idaman semua lelaki, Park Min Ah.

Wow.

“Kau merasa aneh tidak? Seorang Choi Minho yang selalu cuek pada semua gadis, kini terpaku memperhatikan Park Min Ah!” Taemin berseru pelan sembari menyikut-nyikut lengan Key.

“Itu artinya uri Minho sudah kembali normal,” sahut Key tersenyum lebar.

“Ji Eun…”

.

.

.

“Eh?” Taemin dan Key saling berpandangan, begitu pula dengan Jonghyun dan Onew.

Ji Eun?

Apa mungkin panggilan Park Min Ah adalah Ji Eun? Kok tidak nyambung ya?

“Ahn Ji Eun!”

.

.

.

Pasti ada yang salah dengan telinga mereka berempat.

Atau Minho pasti telah salah menyebut nama.

Tapi…

“KEROPIN!”

BRUK!

Seorang gadis tambun yang sedang berebut burger dengan Park Min Ah (yang jujur saja terabaikan kehadirannya oleh Key, Onew, Jonghyun, dan Taemin) menyerbu—ehm, maksudnya memeluk— tubuh Minho yang entah saking bersemangat atau memang tenaganya yang kelewat besar hingga membuat tubuh Minho terjungkang ke belakang, jatuh menimpa aspal, dan diakhiri dengan penindihan dari sang gadis.

Err, ini pasti ada yang salah kan?

Hampir lima belas menit berlalu dalam keheningan. Baik Choi Minho ataupun Ahn Ji Eun sama-sama menutup mulutnya. Bel masuk yang berbunyi sejak lima menit yang lalu pun diabaikan mereka berdua. Biarlah hari ini mereka membolos. Toh tidak ada guru yang peduli karena mereka kini sedang berada di taman belakang sekolah, di pojok ruang basket yang terpencil dan jauh dari lalu-lalang siapapun.

Lidah Minho rasanya gatal sekali ingin mengucapkan sesuatu, tapi semua kata yang siap dikeluarkannya pasti akan tertelan kembali setiap kali dia mulai membuka mulut.

Oh, ayolah. Ini memalukan jika orang-orang tahu seorang Choi Minho merasa gugup di depan —ralat— di samping seorang gadis.

“Bagaimana kabarmu?”

Syukurlah keheningan semacam ini tidak bertahan lama. Ahn Ji Eun berhasil mengeluarkan suaranya lebih cepat dibanding Minho.

“Ehm, yah…”

Demi Tuhan, kenapa aku harus merasa gugup?! Choi Minho merutuk dalam hati.

“Aku baik-baik saja.” Choi Minho menoleh. “Kau?”

Ahn Ji Eun tersenyum. “Seperti yang kau lihat, aku baik dan sehat.”

“Sangat sehat,” lanjut Minho terkekeh.

“Ya! Kau menghinaku?” Ji Eun memukul lengan Minho namun senyumannya belum pudar dari bibirnya. Gadis itu memang senang tersenyum. Itulah yang selalu Minho ingat sejak kecil.

“Aku merindukanmu.”

Suara Minho sangat kecil, pelan, hampir tergerus angin. Tapi Ahn Ji Eun masih mampu mendengarnya.

“Kau…merindukanku?”

“Hmm. Sangat merindukanmu.”

“Jodoh… bukan jodoh. Jodoh… bukan jodoh. Jodoh…”

“Apa yang dia lakukan?” Jonghyun yang baru muncul di kamar Minho berbisik pada Taemin saat melihat Minho memotong-motong kelopak bunga di balkon dengan mulut yang komat-kamit tidak jelas. Yang ditanya mengangkat bahu dan bergumam, “Entahlah. Mungkin karena efek jatuh tadi pagi jadi otaknya sedikit rusak?”

Onew yang sedang mengunyah ayam goreng ikut bersuara, “Ini bahkan sudah bunga yang ke lima puluh! Demi ayam enak yang sedang kumakan, otaknya pasti sedang tidak waras!”

Key memutar kedua bola matanya. “Dan demi otakmu yang hanya berisi ayam goreng, kurasa itu wajar menimpa orang yang sedang jatuh cinta.”

“JATUH CINTA—-hmpp!” Onew hampir saja muntah saat disumpal paha ayam super besar ketika dia berteriak tanpa sadar. Yah, karena yang berada di dalam mulutnya adalah ayam, mana tega dia memuntahkannya?

“Jangan berteriak, bodoh!” Key memukul kepala Onew, tidak peduli sekalipun dia sudah bersikap kurang ajar. Ya ampun! Yang dipukul adalah Onew kakak sepupunya! Tapi Key sepertinya tidak peduli.

Baby Tae, ajari aku logaritma! Ah, atau sekalian saja kau kerjakan tugasku. Hmm?”

“Demi keimutanku yang tidak pernah pudar, Jjong Hyung. Mau sampai kapan kau menyalin tugasku?!”

Lee Taemin memang anggota termuda dari S5. Tapi percayalah, otaknya tidak pernah kalah jika diajak bertanding melawan otak anggota tua. Ups, maksudnya…anggota yang berumur tua. Ya, pokoknya begitulah. Taemin selalu menduduki peringkat kedua di sekolahnya, tidak pernah berjauhan dengan peringkat Choi Minho. Ya, angka satu dan dua memang ditakdirkan untuk selalu berdekatan kan? Itulah sebabnya, jika Minho sedang tidak bisa diajak berkoalisi (dalam hal ini ditanyai mengenai pelajaran sekolah), maka anggota yang lainnya akan bergantung pada Lee Taemin si anak bungsu yang berotak jenius.

“Ayolah Taem sayang, pelit itu bisa menciptakan keriput di wajahmu dan kau akan kehilangan keimutan jika tidak mau menolong. Kerjakan punyaku juga ya?” Onew menyodorkan buku miliknya tak lupa dengan bonus senyuman di bibir. Key pun ikut-ikutan, namun bedanya bukan senyuman yang dia berikan, melainkan tatapan memaksa dan sedikit mengancam. Ouch!

Pasrah karena tidak tahu harus berbuat apa dengan pembulian terselubung ini, Taemin pun mengambil buku mereka semua dan berdoa semoga suatu hari dia bisa menumbuhkan otot seperti Choi Siwon—kakak Choi Minho yang sedang kuliah di Inggris— sehingga dia bisa meninju ketiga teman menyebalkannya itu sampai ke antariksa.

.

.

.

“Menurut kalian, jodoh itu apa?”

Keempat orang yang ditanya oleh Minho saling berpandangan, kemudian mengerjapkan mata. “Apa?” sahut mereka berbarengan.

“Jodoh.” Minho duduk diantara Taemin dan Onew lalu kembali berkata, “Apa itu jodoh?”

Jodoh?

Kenapa seorang Choi Minho tiba-tiba bertanya tentang arti jodoh? Apa dia mau mencalonkan diri sebagai peri cinta?

PERI CINTA?

CUPID?

Hahahaha, yang benar saja.

Entah apa karena jalan pikiran Key, Taemin, Onew dan Jonghyun sama atau mungkin hanya karena kebetulan, mereka berempat tertawa secara bersamaan. Mungkinkah di bayangan mereka saat ini adalah Choi Minho yang mengenakan kain putih yang disilangkan di tubuhnya dan membawa panah dengan kepala yang dihiasi mahkota bunga seperti cupid yang ada di film-film? Tawa mereka heboh sekali sampai membuat Minho kesal tak terkira.

“Ya! apa yang salah dengan pertanyaanku?”

“Tidak, tidak, tidak.” Semuanya menutup mulut, berusaha melenyapkan tawa yang terus merangsek ingin keluar. Namun melihat Choi Minho beranjak dan memainkan kelopak bunga di balkon, menerbangkan kelopak-kelopak yang telah patah hingga tertiup angin, tawa Onew dan yang lainnya kembali keluar.

O..ow! bisa-bisa Choi Minho benar-benar marah. Itu akan menjadi petaka bagi mereka. Tidak akan ada lagi traktiran dan makanan enak, itu sungguh berbahaya.

Onew segera menjawab sebelum kemarahan Minho keluar dan membahayakan perutnya. (PERUTNYA?!).

“Menurutku, jodoh itu…AYAM!”

Semua mata tertuju pada Onew sekarang. Kurang lebih, semuanya memikirkan hal yang sama. Diantara semua perumpamaan, kenapa harus ayam yang di sebut?!

Dengan wajah polos tanpa dosa, Onew meneruskan sembari mengelus-ngelus paha ayam yang telah di gigit setengahnya dengan senyuman yang…uh, seolah dia sedang mengelus paha gadis cantik. (Hei, hei!)

“Menurutku, jodoh itu ayam. Sesuatu yang kau tidak bisa hidup tanpanya.”

.

.

.

Hening lama.

.

.

.

Sangat lama.

Dan sementara semuanya diam, Onew malah sibuk dengan ayamnya, bahkan sudah menghabiskan lima potong paha ayam tanpa sadar bagaimana tatapan keempat lelaki yang berada di ruangan itu.

Seandainya bisa, ingin sekali rasanya Minho dan yang lainnya menimpuk kepala Onew dengan sekelompok ayam yang masih hidup.

Ehm.

“Kasihan sekali jodohmu disamakan dengan ayam.” Jonghyun akhirnya berkomentar prihatin. Tapi sepertinya kalimat itu tidak masuk ke gendang telinga Onew, karena kelihatan sekali bagaimana wajah lelaki pecinta ayam itu yang terlihat cuek dan asik dengan dunia dia-dan-paha-ayam—yang lezat.

“Kalau menurutku, jodoh itu…MUSIK!” Lee Taemin mengeluarkan pendapatnya dengan semangat. “Jodoh itu musik. Sesuatu yang setiap kebersamaannya selalu kau nikmati, tanpa mengenal waktu.”

Err…baiklah, cukup masuk akal.

Memang apa yang kau harapkan dari seorang anak yang menggilai dance? Segala jawaban yang keluar dari mulutnya pasti selalu berhubungan dengan musik.

“Bagiku, jodoh itu…” Jonghyun tampak berpikir, “CANTIK!” mulutnya mengeluarkan cengiran lebar sebelum melanjutkan, “Jodoh itu cantik. Sesuatu yang tidak pernah memberikan kebosanan pada matamu. Membuatmu selalu ingin melihatnya lagi, lagi, dan lagi.” tangannya kemudian masuk ke dalam tas, mengambil sebuah majalah yang….err, berlabel dewasa. “SEPERTI INI!” teriaknya semangat. “Mereka inilah calon-calon jodohku.”

Memang dasar cassanova abnormal!

Tinggallah Key yang akhirnya mengeluarkan suara. “Dasar kalian semua itu bodoh!” decaknya menahan kesal. “Jodoh itu… saat kau menemukannya kembali setelah sekian lama terpisah, dimana dia kembali padamu setelah sekian jauh pergi meninggalkanmu. Jodoh adalah saat kau membutuhkannya dan dia membutuhkanmu. Saat kau tidak mempedulikan apapun lagi selain kau mencintainya dan ingin bahagia bersamanya. Itulah jodoh.”

.

.

.

Semuanya sukses melongo.

Dan diantara semua pendapat konyol yang didengar Choi Minho, pendapat terakhirlah yang paling dibenarkan olehnya, dijadikannya sebagai sebuah pegangan.

Saat kau menemukannya kembali setelah sekian lama terpisah,

Saat dia kembali padamu setelah sekian jauh pergi,

Saat kau membutuhkannya dan dia membutuhkanmu,

Saat kau tidak mempedulikan apapun lagi selain kau mencintainya dan ingin bahagia bersamanya.

.

.

.

Deskripsi itu seolah menegaskan bahwa…Ahn Ji Eun adalah jodohnya.

Jodohnya.

Benarkah mereka berjodoh?

Pagi ini tidak sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Ini bukan pagi yang datar. Sebaliknya, pagi ini pasti akan menjadi pagi yang menyenangkan dan istimewa.

Ya, menyenangkan dan istimewa.

Choi Minho melirik jam tangannya, lalu mengedarkan pandangan matanya ke segala penjuru arah, memastikan bahwa tidak ada satu titik sudutpun yang terlewati. Ah, kenapa gadis itu belum datang? Choi Minho sedikit menyesal kenapa kemarin ia tidak meminta nomer ponsel gadis itu? Dasar Choi Minho yang bodoh.

Bel masuk mulai berdentang diikuti oleh suara musik yang mengalun ke seluruh penjuru sekolah. Sekalipun sedang berada di luar, namun Choi Minho masih tetap dapat mendengar suara bel tersebut dengan sangat jelas. Baiklah, lelaki itu mulai bimbang.

Masuk… diam. Masuk…diam.

Choi Minho sudah bersiap untuk berlari sebelum pintu gerbang sekolah ditutup, namun segera diurungkan saat matanya melihat sosok Ahn Ji Eun yang berlari melewati tubuhnya —bersiap menerobos celah gerbang yang hampir ditutup.

Terlambat.

Pintu gerbang nyatanya sudah terlanjur tertutup tepat satu langkah sebelum Ahn Ji Eun menerobos masuk. Dan penjaga sekolah SHINee High School memang semuanya ‘didesain’ untuk tuli dan tidak memiliki hati saat segerombolan siswa yang terlambat menggedor pintu gerbang, meminta ijin dengan segala tatapan memohon agar mereka bisa masuk. Ah, permohonan seperti apapun tidak akan berarti apapun alias sia-sia.

Maka semua siswa pun membalikkan badan dengan pasrah, mulai melangkahkan kaki mereka dengan gontai —tak terkecuali Ahn Ji Eun.

Tanpa sadar, Choi Minho tersenyum melihatnya. Melihat Ahn Ji Eun yang mengerucutkan bibir dan menghentak-hentakkan kaki dengan kesal, entah kenapa terlihat lucu di mata Minho.

Lelaki yang kini mengenakan topi hitam itu menggeserkan tubuhnya untuk menutupi langkah Ahn Ji Eun. “Hai,” sapanya membuat langkah kaki gadis gempal itu terhenti.

“Kau?”

Choi Minho tersenyum hingga membuat kedua matanya menyipit. “Butuh teman?”

Tidak ada kata yang keluar dari mulut Ahn Ji Eun. Cukup satu senyuman kecil, dan itu sudah cukup untuk diartikan sebagai sebuah persetujuan.

Mereka —Ahn Ji Eun dan Choi Minho— duduk saling berhadapan dengan meja berbentuk bundar yang menjadi penghalangnya. Sudah terhidang dua mangkuk jjangjamyeon dan dua gelas lemon tea yang terhidang di atas meja. Ahn Ji Eun sudah langsung menyantap jjangjamyeon-nya dengan lahap sedetik setelah makanan itu tiba di depannya.  Berbeda jauh dengan Choi Minho yang hanya menatap Ahn Ji Eun dan mengabaikan makanannya begitu saja. Objek didepannya terasa jauh lebih menarik dibanding semangkuk jjangjamyeon. Itulah yang dirasakan Minho.

“Kalau boleh memakan punyaku jika mau.” Choi Minho menawarkan diri seraya menggeser mangkuk miliknya ke depan.

“Punyamu ya punyamu. Kapan aku mau mengambil milik orang lain?” Ahn Ji Eun mengangkat wajah, tersenyum dan berujar, “Ini sudah cukup. Dan cepat makan sebelum mie-nya dingin, bodoh!”

Ahn Ji Eun memang tidak pernah berubah. Tidak saat usianya masih lima tahun ataupun sekarang setelah menginjak lima belas tahun. Ahn Ji Eun masih senang makan, tapi juga tak menghilangkan pendiriannya untuk tidak mengambil makanan milik orang lain. Choi Minho masih ingat saat acara pariwisata di Taman Kanak-kanak sepuluh tahun yang lalu, dia pernah memberikan separuh bekal makanannya pada Ahn Ji Eun karena melihat cara makan gadis itu yang sangat lahap. Tapi di luar perkiraan Choi Minho, bukannya mengucapkan terima kasih, Ahn Ji Eun kecil justru malah marah-marah dan meminta lelaki itu untuk menghabiskan sendiri makanannya.

Sekilas itu memang masalah sepele. Tapi dari hal sepele itu, Choi Minho jadi bisa menangkap bahwa sikap Ahn Ji Eun yang tidak mau mengambil milik orang lain itu ternyata diterapkan juga pada masalah yang lain. Barang, mainan, dan semua yang bukan menjadi miliknya, Ahn Ji Eun pasti tidak mau mengambilnya.

Choi Minho mulai memakan makanannya, namun kedua matanya masih mengamati gadis gempal itu. Tidak ada kebosanan sedikitpun bagi mata Minho setiap kali kedua manik cokelatnya merekam segala hal yang dilakukan Ahn Ji Eun.

.

.

.

“Jodoh itu cantik. Sesuatu yang tidak pernah memberikan kebosanan pada matamu. Membuatmu selalu ingin melihatnya lagi, lagi dan lagi.”

.

.

.

Kalimat Jonghyun terngiang lagi di telinga Minho membuat lelaki itu —tanpa sadar—terkesiap.

.

.

.

Ahn Ji Eun, mungkin memang tidak masuk dalam deskripsi cantik yang dibuat semua orang. Tapi bukankah cantik itu tergantung dari sudut mana kita melihatnya? Choi Minho mendapati dirinya terpesona pada gadis di depannya ini, tak bosan melihatnya lagi, lagi dan lagi, bukan sebatas karena kecantikannya. Cantik itu hanya masalah luar. Dan Choi Minho lebih tertarik dengan apa yang berada di dalamnya.

Hati.

Sikap.

Perilaku.

.

.

.

“Menurutku, jodoh itu ayam. Sesuatu yang kau tidak bisa hidup tanpanya.”

.

.

.

Kalimat Onew membuat Choi Minho merinding. Namun kalimat itu kembali menelusup, membuatnya menyadari satu hal.

Oh, tidak, tidak. Ahn Ji Eun bukan ayam!

Tapi Ahn Ji Eun, adalah satu-satunya gadis juga satu-satunya teman yang paling peduli padanya sejak pertama kali mereka berkenalan. Bukan karena Choi Minho yang kaya, tapi karena Choi Minho yang kesepian, maka gadis itu mendekati dirinya. Bukan karena sebatas kasihan atau iba, melainkan karena Ahn Ji Eun peduli dan ingin menjadi temannya, maka gadis itu mendekati dirinya. Ahn Ji Eun yang begini, Ahn Ji Eun yang begitu. Selalu ada kesan istimewa setiap kali nama itu tercetus dari mulutnya.

Ahn Ji Eun yang selalu membuatnya tertawa,

Ahn Ji Eun yang selalu menyuruhnya untuk menyayangi Ibu dan Ayah,

Ahn Ji Eun yang selalu memegang tangannya,

Ahn Ji Eun yang selalu menutupi Choi Minho dengan tubuhnya setiap kali lelaki itu ingin menangis karena ditinggalkan orantuanya bekerja di hari ulang tahun,

Ahn Ji Eun yang….

Choi Minho tak bisa hidup tanpa dirinya.

Kepergian gadis itu ke Jepang saat memasuki Sekolah Dasar dan kini muncul kembali membuat Choi Minho sadar…

Dia tidak bisa lagi kehilangan gadis ini.

.

.

.

“Jodoh itu musik. Sesuatu yang setiap kebersamaannya selalu kau nikmati, tanpa mengenal waktu.”

.

.

.

Oh iya, itulah gambaran dirinya dan Ahn Ji Eun.

Tak ada kebosanan, tak bisa hidup tanpanya dan… setiap kebersamaan dengannya bagaikan anugerah. Selalu dinikmati, selalu disyukuri.

.

.

.

“Jodoh itu… saat kau menemukannya kembali setelah sekian lama terpisah, dimana dia kembali padamu setelah sekian jauh pergi meninggalkanmu. Jodoh adalah saat kau membutuhkannya dan dia membutuhkanmu. Saat kau tidak mempedulikan apapun lagi selain kau mencintainya dan ingin bahagia bersamanya. Itulah jodoh.”

.

.

.

“Ji Eun-ah…”

“Hmm?”

“Tunggu aku lima tahun lagi. Aku akan melamarmu.”

-THE END-

Ngaco! Hehehehe

Tapi makasih banyak kalau ada yang tahan baca dari awal sampai akhir. Makasih juga kalau ada yang berkenan ngasih masukan, koreksi, atau review-nya tentang cerita abal ini. ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “Because I Need Her

  1. ehem ehemm~~ lg makan enak2 trs minho blg tggu 5taun lg nti ak lamar.. yg ada ksedak!!
    choi!! nice one!! hahaha
    keren si kerennn~~ kirain si minho ud d senior year tyataaa~~ msi 15taon yakk…. haha
    itu nama ny jodooohh!!!

  2. ecieee-cieee bang Minong suka ama cewek~
    Ciee~
    Menurut aku sih ceritanya udah oke, tapi mungkin penulisannya aja kali ya yang perlu di koreksi lagi,
    Kayak ‘dimana’ karena menunjukkan tempat jadi harus dikasih spasi ‘di mana’
    Aku tunggu ff kamu berikutnya~ Fighting!

  3. I love this. I really really love this. You write well, and i was truly enjoying your story. I cant say more, but you definitely got my voice for this one! Keep writing, cause you know, i will wait for it😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s