BEAUTIFUL STRANGER [CHAPTER FIFTEEN]

Beautiful Stranger

 

SENA

DUA hari berlalu. Hatiku masih sangat hancur, setiap pemberitaan skandal Jinki-Jungah baik di situs website maupun di televisi muncul, duniaku seperti dijungkirbalikkan. Tak adanya konfirmasi langsung dari Jinki membuat perasaanku teriris menyakitkan. Hingga saat ini pun hubungan kami masih belum membaik. Dia seakan-akan menjauh setelah menemukan cintanya. Aku masih saja seperti ini, menerka-nerka apa yang ada dalam pikiran Jinki, hubungan apa yang mereka berdua miliki, dan apa maksud tatapan Jinki tempo hari di taman saat kami melakukan “kencan”.

Kurasa aku adalah makhluk yang terlupa setelah ia menemukan seseorang yang menjadi labuhan akhirnya. Memikirkan hal itu saja perlahan-lahan luka lama di hatiku kembali menganga. Menangis memang tidak menyelesaikan masalah, tetapi bagiku inilah satu-satunya jalan untuk meluapkan segala kepahitan yang ada di hati. Karena menendang banyak kaleng di jalanan tidak cukup mengurangi kekesalan.

Aku kecewa. Selalu berakhir seperti ini. Kukira dia masih mencintai Jira, tapi ternyata lebih memilih memulihkan luka bersama wanita itu. Padahal, di sini, aku bersedia menjadi apapun yang ia butuhkan. Aku bersedia dicaci maki lagi olehmu seperti dulu kalau memang hal itu bisa membuat kita dapat bertemu dan berkomunikasi lagi.

Namun, sebuah keputusan telah kuambil hari ini. Selembar kertas bernodakan tinta hitam telah berpindahtangan pada atasan. Aku mengundurkan diri… kulakukan hal ini jika memang ini yang terbaik. Aku sudah tidak bisa lagi bekerja satu manajemen dengan Jinki. Canggung, tidak nyaman, dan yang terpenting hubungannya dengan artis itu bisa membuat hatiku lebam terus menerus.

Hingga akhirnya, tawaran YG Entertainment itu kuambil. Semoga ini adalah jalan yang benar.

Aku menyambar kotak rokok dari atas meja dan mendesah ketika melihat tutupnya ditempeli selotip. That Park Chanyeol guy benar-benar tidak pernah menyerah memintaku untuk berhenti merokok. Cara yang ia pakai selalu saja berhasil membuatku tertawa. Akan kuunggah rokok berselotip ini kapan-kapan ke Instagram.

Kumasukkan beberapa barang milik pribadi ke dalam kotak lalu mengangkutnya keluar ruangan, ketika melewati practice room, aku mendengar ingar-bingar seperti di pasar. Kurasa anak-anak berbuat ulah. Terakhir yang mereka lakukan adalah mengotori ruangan dengan beberapa sampah plastik bekas makanan, untuk kali ini aku harus mencegahnya sebelum mereka diomeli habis-habisan oleh manajer. Anggap saja ini adalah pengabdianku yang terakhir pada SM.

Suara berisik semakin keras ketika pintu terbuka. Aku menaruh kotak berisi barang di sisi ruangan. Anak-anak terlihat sangat liar ketika pria jangkung berambut pendek membagikan oleh-oleh. Hatiku mencelos dan spontan tersenyum girang bukan main. Dia telah kembali, akhirnya, setelah puluhan kali kutelepon untuk membujuknya kembali.

“Kris,” panggilku. Ia menoleh.

“Sena…,” ia datang menghampiriku, “…lama tidak ketemu.”

“Ya. Aku suka rambut barumu.”

Dia tertawa malu. “Ah, ini memalukan. Terlihat sekali aku habis patah hati.”

Aku tertawa.

Sudah hampir lebih dari sebulan dia mengasingkan diri ke kampung halamannya di China maupun Kanada. Awalnya ia bertolak ke Kanada untuk menghadiri peringatan ‘Canada Family’s Day’, namun ia tak pernah kembali. Perusahaan kalang kabut, mereka agak takut kehilangan salah satu anak didiknya yang berpotensi bagus di masa depan. Hal ini diperkuat dengan dukungan penuh dari Mama yang meminta anak kesayangannya itu untuk mundur dari perusahaan. Aku mengerti kalau ia amat sangat kecewa dengan keputusan sepihak dariku, tapi bukankah ia juga membuat keputusan sepihak mengenai pernikahan itu? Impas sekarang. Kami sama-sama kecewa karena toh aku pun tidak begitu bahagia selepas menjatuhkan keputusan itu. Tidak ada siapapun di sisiku. Tidak ada Jinki yang menjadi alasanku melakukan itu.

Semenjak sebulan yang lalu di setiap harinya aku tak pernah berhenti menghubungi Kris, membujuknya untuk kembali kemari dan berkali-kali mengulang kata maaf padanya yang selalu ia tolak karena menurutnya aku tidak salah. Setahuku dia tidak akan pernah mengubah pikirannya untuk keluar dari perusahaan. Bayar penalti bukan masalah besar untuk ukuran keluarganya yang kaya, hingga bukan masalah besar jika ia ingin keluar. Itulah yang membuat perusahaan sebesar SM panik ketika mendengar pernyataannya disusul dengan surat pengunduran diri. Mereka tahu akan menjadi apa karir Kris nanti. Mereka bisa membaca apa yang pasar inginkan melalui fisik dan kemampuan yang dimiliki Kris.

Namun, setahuku Kris adalah pria yang teguh dengan apa yang telah ia putuskan, jadi agak sedikit surprise mengapa ia ada di sini dan menjadi pria labil keputusan.

“Berubah pikiran?” tanyaku. Saat ini kami sudah berada di atap perusahaan.

“Ketampananku terlalu sia-sia kalau dibiarkan begitu saja tanpa mondar-mandir di layar kaca,” candanya. Aku memasang ekspresi mual. Dia tertawa dan menepuk pelan lenganku. “Hmm… Sena-ya, aku mendengar berita tentang Jinki.”

Aku terhenyak. Hal yang sama sekali tidak ingin kuingat tiba-tiba diucapkan oleh Kris, seperti sedang dihempaskan ke dinding berkali-kali. Lukaku kembali menganga seperti sedang dihujani air garam. Perih bukan main.

“Seperti yang kau lihat. Dia telah menemukan pilihannya.” Suaraku bergetar hebat menahan tangis.

Kris yang menyadari hal itu langsung mengaleng bahuku. Aku tahu ia tak lagi memiliki nyali untuk memelukku, jadi inilah yang bisa ia lakukan. Tapi aku tidak memedulikan harga diriku ketika rasa sakit menghunjam jantung seperti ini, aku memeluknya sangat erat mencoba mengurangi rasa sakit dengan menempelkan tubuhku padanya. Kris membalas, tentu saja.

Aku menangis tersedu-sedu sampai tidak tahu lagi bagaimana caranya mengatur napas. Sebelah baju Kris telah basah. Air mataku keluar terlalu banyak hanya untuk menangisi pria yang belum tentu juga menangisiku.

Mungkin dia memang tidak pernah menangisiku. I’ve been played again and it’s my fault

“Aku benci melihatmu seperti ini. Kau tidak lagi mencintaiku karena dia hadir dalam hidupmu dan mengisi kekosongan hatimu. Setelah aku memutuskan untuk benar-benar tidak lagi menganggumu, dia menyia-nyiakanmu seperti ini. Berani sekali si Jinki itu!”

Air mataku masih saja merembes hebat sedangkan Kris masih asyik mengoceh.

“Sebenarnya aku kembali kemari untuk sekali lagi meluluhkan hatimu setelah mendengar skandal Jinki beberapa waktu lalu. Tapi melihatmu seperti ini sepertinya aku harus benar-benar menyerah. Aku menyerah bukan karena si Payah Jinki itu, tapi karena perasaanmu padanya. Ini berbeda, kau tidak pernah seperti ini dulu padaku. Tatapanmu pada Jinki dan padaku sangat berbeda. Aku benar-benar jadi ingin membunuhnya!”

“Aku mau pulang.” Aku melepaskan pelukanku darinya dan merapikan riasan wajah juga rambut. Kusambar tas dari atas bangku dan berjalan ke pintu menuju tangga.

“Biar kuantar!”

Aku berbalik. “Tidak usah. Er, Kris, dengan wajah seperti ini aku tidak bisa menemui anak-anak. Jadi, tolong sampaikan pamitku pada mereka.”

“Besok kan ketemu lagi. Kau ini berlebihan sekali.”

I officially quit today. Jadi, please… sampaikan pamitku pada mereka.”

Setengah berlari ia menghampiriku dan mengguncang tubuhku berkali-kali. “Kau ini bicara apa?!”

“Dua hari lagi akan ada perjanjian tanda tangan kontrak dengan YG ent. aku akan menjadi bagian dari mereka nanti.”

Kedua tangan Kris yang mencengkeram erat lenganku terlepas begitu saja.

“Apa karena si brengsek itu? Kau mengundurkan diri karena tidak ingin terlalu sering bertemu dengan Jinki. Begitu ‘kan?”

As expected ia akan selalu tahu isi kepalaku.

“Aku sudah tidak bisa berlama-lama bekerja di sini. Karirku berkembang sangat lamban, kau tahu sendiri aku tipe orang yang tidak sabaran―”

“―aku kembali karena kupikir masih bisa melihatmu setiap hari meski tidak bisa memilikimu, Kim Sena. Kumohon batalkan pengunduran dirimu!”

“Perusahaan sudah menyetujuinya. Sidik jariku di beberapa pintu pengaman sudah dihapus, namaku tidak ada lagi di data karyawan, jadi tidak mungkin dibatalkan begitu saja.”

Kris mengacak rambutnya kasar. “Terserah kau saja. Aku lupa kalau kau gemar sekali membuat keputusan sendiri,” ujarnya jengkel. Kemudian ia menatap mataku lekat, “I’m walking on my dream already. It’s time for you to chase yours.”

Ia lantas berjalan melewatiku dan turun ke bawah lebih dulu.

 

JINKI

Beritaku dengan Jungah menyebar ke seluruh dunia dalam sekejap. Noona-ku itu sedang berjuang melawan celaan dari berbagai pihak yang tidak menyukai hubungan kami meski hanya teman. Penggemarku terlalu posesif, entah harus bangga atau sedih. Tapi terlepas dari itu semua, jika hampir seluruh dunia tahu, itu artinya Sena juga mengetahui skandal-salah-paham ini. Berakhir sudah hidupku. Padahal aku sudah sangat senang si Raksasa Kris itu mengundurkan diri, tapi kudengar hari ini ia membatalkan pengunduran dirinya itu dan datang kembali. Sial.

Kabar mengenai batalnya pernikahan mereka pun sudah merebak di perusahaan. Aku tidak ingin terlalu senang, takut kalau itu kabar angin dan hanya akan membuat hatiku kembali teriris.

Ngomong-ngomong adakah suatu periode di dalam hidup di mana kamu merasa setiap lagu sedih yang ditulis di semesta ini adalah tentangmu? Well, aku sedang dalam periode itu. Entah sejak kapan jika aku merasa sedih, aku akan mendengarkan lagu-lagu balada yang membuat kondisiku semakin buruk. Panggil aku pecundang, aku tidak peduli. Dengan membiarkan diri menikmati kesakitan seperti ini, aku juga tidak tahu harus sampai kapan ku harus bertahan melawan sedih ini sendirian.

Mungkin banyak orang butuh penyembuh. Mereka memiliki teori bahwa patah hati akan sembuh jika jatuh cinta kembali―jatuh cinta pada yang lain. Namun hal itu tidak berlaku bagiku. Ya, memang benar akan sembuh jika jatuh cinta kembali, tapi aku hanya ingin jatuh cinta pada orang yang sama bukan yang lain. Aku hanya ingin Kim Sena. Otakku hampir menggembung karena terlalu banyak memikirkan dia. Aku  hampir gila.

Jujur saja kepalaku sangat kacau bahkan hanya untuk memikirkan apa yang akan kumakan untuk makan siang hari ini. Jadi jangan harap aku memikirkan kebahagiaan mana yang harus kupilih. Aku tidak punya pilihan. Bisa bahagia hanya jika bersama Sena, bukan yang lain. Tidak ada pilihan ‘tanpanya’, aku bahkan tidak mau sadar ada pilihan itu. Haha. Otakku saja sudah sangat brengsek tidak mendukungku untuk menjadi bahagia.

Lihat, Kim Sena! When I lost you, I lost myself.

Ponsel berdering. Nomor tidak dikenal jadi kubiarkan saja. Mungkin para sasaeng kembali menemukan nomor baruku.

Selang beberapa detik kembali berdering. Ah sial, aku harus mengganti nomor lagi sepertinya.

Setelah berhenti. Tiga menit kemudian ponselku menyala lagi. Aku menyambar kasar dan menjawab panggilannya, “Halo?”

“Temui aku di atap gedung perusahaan!”

“Siapa ini?”

“Kris.”

 

Aku bisa melihat Kris yang sedang menyandarkan dadanya ke pagar pengaman sisi gedung. Dilihat dari belakang saja dia sudah terlihat sangat tampan. Sial, kenapa harus dia yang menjadi sainganku?! Choi Minho saja sudah sangat berat menurutku. Si Raksasa yang menguasai empat bahasa ini terlalu jauh jika dibandingkan denganku. Aku bisa menang melawannya hanya dari segi vokal. Aku seribu kali lebih baik tentu saja.

“Ada apa?” tanyaku.

Dia berbalik. Ekspresinya seperti akan memakanku. Harusnya aku yang marah, bukan?

“Lihat keadaanmu saat ini, tidak jauh lebih baik dariku meskipun seharusnya aku yang terperosok ke dalam jurang kesedihan.”

Aku mengerutkan kening. “Kau akan bermain drama? Sedang menghafal naskah dan memintaku untuk memberikan komentar? Sayang sekali saat ini aku hanya aktor musikal bukan drama televisi, Wufanah.”

“Kau menjadi aktor yang sangat buruk kalau begitu. Hanya berakting menyembunyikan perasaanmu saat ini saja sudah sangat payah! Kau tahu, Jinki, kau itu sangat bodoh.”

Tanganku otomatis mengepal ketika ia mengucapkan namaku tanpa hormat.

“Langsung saja, mau apa kau memanggilku?” Rahangku mengeras, darah mulai bergolak. “Ingin pamer tentang pernikahanmu?”

Dia berdecak menyebalkan.

“Kami tidak jadi menikah.”

Kalimatnya tadi seperti oksigen kualitas terbaik yang pernah ada di muka bumi. Hatiku perlahan-lahan menjadi ringan, secercah perasaan girang muncul tiba-tiba. Kabar angin itu sudah benar-benar dikonfirmasi oleh pihak terkait.

“Wow, baguslah kalau begitu.”

Aku tak bisa menyembunyikan ekspresi riangku di depannya. Kris perlahan-lahan datang menghampiriku, tanpa bisa kuhindari ia memukul wajahku hingga aku tersungkur.

“Semua ini karenamu!” teriaknya. “Pukulan itu karena kau menjadi alasan mengapa ia membatalkan pernikahan kami. Sedangkan yang ini…”

Brengsek kali ini dia memukuliku berkali-kali. Tidak hanya di wajah tapi seluruh tubuh. Tenagaku yang sangat besar, lebih besar dibandingkan anggota SHINee lainnya, bahkan tidak mampu mengimbangi kekuatan Kris. Dia memiliki keuntungan dari tubuh jangkungnya. Samar-samar aku bisa melihat tatapan penuh marahnya seperti ingin menjadikanku daging cincang. Oh tidak, rasanya tulang-tulangku perlahan-lahan mulai terlepas.

Kris berhenti menghabisiku, dia duduk di sampingku yang masih terlentang tak berdaya dengan darah mengucur dari hidung dan sudut bibir. Napas sudah sangat sesak. Oh tidak, jangan bilang rusukku remuk.

“Itu…,” katanya sambil menstabilkan napas, “…itu karena kau telah menyakiti Sena. Kau membuat air matanya yang berharga jatuh hanya untuk menangisi lelaki pengecut sepertimu. Dia perempuan pertama yang membuatku merasakan kebahagiaan. Untuk itulah aku harus melindunginya. Tapi kau menyakitinya begitu saja. Brengsek kau, Lee Jinki, benar-benar brengsek!”

Dia teriak-teriak tanpa kendali. Dan aku masih seperti ini, terlentang menunggu mati.

Kemudian dia bangkit, aku masih bisa melihatnya samar-samar. Penampilannya sangat kacau, aku yakin aku jauh lebih kacau.

“Jangan sakiti dia lagi. Kalau kau masih terus melakukannya, aku akan menghancurkanmu hingga menjadi kepingan. Act like a man, Jinki, you make me sick!”

Perkataannya itu menohok jantungku. “That’s true but remember this, Kris, no one can love Sena as much as I do. No one. Not even you!”

Dia terpaku sejenak. Kulihat tangannya mengepal, tapi ia pergi begitu saja.

 

***

 

Seharian kemarin aku mengobati diri dengan tidur panjang. Aku minta libur, badanku sakit sekali. Lebam-lebam di wajahku pun masih belum hilang. Brengsek si Kris. Bagaimana bisa aku muncul di depan kamera dengan keadaan seperti ini. Belum lagi kedua manajer yang tidak berhenti mengomel dan menginterogasi siapa yang sudah menghajarku. Beruntunglah, Kris, harusnya kau bersujud berterima kasih padaku karena aku masih melindungimu. Kubilang aku terjatuh di basement meskipun anak bayi pun tahu itu adalah alasan bodoh, tapi aku tetap memakainya. Terlalu malas meladeni omelan mereka dan sejuta pertanyaan para member. Mereka terus memaksaku bicara di saat rahangku nyaris lepas. Entah mereka itu bodoh atau khilaf.

Hari ini pun aku masih tergeletak di atas kasur. Umur benar-benar membuatku menjadi lebih lemah. Aku ingin perpanjangan libur. Katakan saja pada penggemar kalau aku terkena diare atau apapun aku tak peduli, yang penting aku masih ingin istirahat hari ini. Jangan paksa aku untuk menyanyi, rahangku bisa benar-benar jatuh.

Hyung!” Taemin masuk ke kamar sambil menggebrak pintu. Aku hanya bisa memutar bola mata. “Jongin baru saja memberitahuku kalau Sena-noona mengundurkan diri.”

Keningku mengerut hebat. “Apa?!”

“Dua hari yang lalu resmi keluar dan hari ini ia akan menandatangani kontrak kerjasama dengan YG. Hyung, jangan sampai menyesal untuk ke sekian kalinya, bawa dia kembali.”

“Badanku sakit semua, Lee Taemin.”

“Akan jauh lebih sakit ketika kau benar-benar kehilangannya, Hyung. Aku bersumpah akan meminta pada perusahaan untuk mengganti posisi leader kalau membawa kembali Sena-noona saja kau tak mampu.”

“Baiklah, baiklah. Jangan bicara sembarangan. Selamanya aku pemimpin kalian. Jangan bermimpi mengganti posisiku!” Aku menyingkirkan selimut dan mulai bangkit dari kasur. Rasanya tulang-tulangku perlahan-lahan meremuk. Benar apa kata Taemin, selamanya aku akan merasa remuk jika tak bisa membawanya kembali. Tapi rasanya tidak apa-apa kalau dia memang ingin mengejar karir di tempat yang menurutnya lebih baik, aku akan selalu mendukung impiannya. Jadi, yang harus kulakukan saat ini bukan memboyongnya kembali ke perusahaan, tapi untuk kembali mengisi hatiku. “Ambilkan coat-ku, Taemin-ah!”

Taemin menyodorkan coat abu dan membantuku mengenakannya.

“Kali ini kau harus bahagia, Hyung, ini giliranmu. Jangan sampai yang lain mengambilnya lagi.”

“Tae-ya, tidak sadarkah kalau kau sedang menyindir Minho?”

Taemin melipat bibirnya. Aku terkekeh. Lelaki ini… masih anak-anak! Mau berapa kalipun ia mengatakan telah dewasa karena liburan di Switzerland beberapa waktu lalu berhasil melalui berbagai permainan ekstrim, itu tidak akan mengubah pemikiran kami kalau dia selamanya adalah bayi besar kami yang lucu.

“Biar kuantar.”

Aku mengangguk. Kubiarkan Taemin mengantarku ke gedung YG.

 

Kami memarkirkan mobil beberapa meter dari gedung. Diam menunggu Sena datang. Menurut info yang kudapat, ia memiliki janji pukul sepuluh. Berarti masih ada waktu setengah jam lagi. Semoga dia belum datang dan masuk ke dalam.

Sesuai harapan, Sena datang dari seberang blok dan aku buru-buru keluar dari mobil untuk menghampirinya sebelum ia masuk ke dalam gedung.

Hyung, pelan-pelan kau belum sepenuhnya pulih!” teriak Taemin.

Aku terus berjalan ringkih. “Kim Sena,” panggilku. Akhirnya, setelah beberapa minggu perang dingin. “Kim Sena, kembalilah ke SM. Aku mohon…”

Dia berhenti sejenak dan menatapku lekat, namun setelah itu ia justru mempercepat langkahnya. Aku berusaha mengejar namun tubuhku tidak begitu baik untuk berlari. Baru setengah jalan aku sudah berhenti, membungkuk sambil memegangi dada. Si Raksasa itu menghantam dadaku berkali-kali. Beruntung tidak ada satu tulang pun yang retak.

Aku pasrah, sangat pasrah kalau Sena sudah masuk ke dalam. Aku akan menunggunya di sini hingga ia selesai. Yang terpenting adalah aku harus menyampaikan perasaanku. Untuk masalah ancaman Taemin yang ingin mengganti posisi leader itu bisa kuurus lain waktu kalau memang Sena tak bisa kuboyong kembali ke SM.

Aku duduk di sisi parkiran di bawah pohon rindang. Menunggu Sena keluar sambil tak berhenti menggosok-gosok dadaku.

“Kau sakit?”

Aku mendongak. Malaikatku tepat berada di hadapanku. Aku belum mati dan ini bukan surga ‘kan?

“Bisa bicara sebentar?”

“Kupikir sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan.”

Kutarik tangannya ketika ia berbalik akan pergi. “Ada yang harus kusampaikan. Ikut aku!”

Aku mencengkeram tangannya erat. Ia tidak memberontak sama sekali tetapi dengan tenang berjalan di sampingku. Setelah berjalan beberapa menit akhirnya kami sampai di sebuah taman air terdekat. Ada kolam bulat besar di tengah taman yang bisa memancarkan air mancur, sayangnya cuaca masih terlalu dingin hingga air di kolam membeku.

Kami duduk di sebuah bangku. Aku membuka topi, kacamata, dan masker satu per satu. Sena yang memperhatikan setiap gerakanku memekik.

“Kenapa dengan wajahmu?”

“Tidak apa-apa. Hanya luka kecil.”

Dia memandangiku dengan tatapan cemas. Kemudian perlahan-lahan tangan lembutnya membelai wajahku. Aku memejamkan mata, menebak-nebak apa yang sedang ia rasakan. Apakah kami memiliki perasaan yang sama atau tidak.

“Aku memberimu cinta tapi kau menyia-nyiakannya.”

Mataku terbuka dan mendapati Sena sudah menangis. “Apa maksudmu?”

“Kencan kita beberapa minggu lalu, kupikir kau sama denganku. Tapi ternyata aku salah. Kau sudah menjatuhkan pilihan. Jadi aku bisa apa sekarang. Kalau pacarmu melihat tanganku sedang berada di mana saat ini, kau dalam masalah besar, Lee Jinki.”

Pacar? Nah, benar kan Kim Sena juga termakan rumor itu.

“Pacarku banyak. Mereka dinamakan SHINee World, jadi maukah kau memberitahuku namanya secara spesifik?”

Sena memutar bola mata. “Kim Jungah!” ujarnya dengan nada meninggi.

Are you jelly?”

Nope. I’m not jelly at all!”

Stupid liar.”

Aku memeluknya erat, sangat erat seperti besok akan kiamat. Aku bersumpah tidak akan pernah melepasnya lagi. Lee Jinki ini juga berhak bahagia seperti pria normal lainnya ‘kan?

“Kenapa kau memelukku seperti ini, bukankah kau membenciku?”

“Siapa yang bilang begitu? Sejak dulu aku tak pernah membencimu. Aku hanya bingung bagaimana harus bersikap di depanmu. Kau tegas, berkarakter, dan tidak mudah lumpuh dengan karismaku. Jadi aku menjaga harga diri juga. Dan kupikir kau juga sangat mencintai Kris.”

“Aku memang pernah memiliki hubungan dengannya. Kami dekat karena ia banyak membantuku saat masih di Vancouver. Selama masa itu aku tersenyum dan tertawa hanya karenanya. Aku tidak kesepian karena dia. Setiap hari aku hidup mengandalkan dia. Ketika aku kesepian, sedih, dan kembali mendapatkan siksaan dari ibuku, Kris selalu ada di sisiku. Aku jadi sangat tergantung padanya. Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi.”

“Sekarang kau harus bergantung padaku kalau begitu.” Aku tertawa sambil meringis menahan sakit di sudut bibir.

“Siapa yang telah membuatmu jelek seperti ini?”

“Mantan calon suamimu.”

“Kris?!” Matanya membulat. “How come?!”

“Sudah jangan dipikirkan. Yang penting sekarang aku bisa bersamamu. Perlu kau tahu, aku dan Jungah-noona hanya teman biasa. Dia sangat baik padaku, memperlakukanku seperti adiknya. Ibuku juga mengenalnya dengan baik. Aku free kau juga free jadi sudah seharusnya kita bersama.”

“Percaya diri sekali kau! Memangnya aku mau?!”

“Kalau tidak mau, untuk apa mengadu dan menangis pada Kris…”

“Ish. Sial Kris.”

Kutarik tubuhnya mendekatiku. Kutaruh bibirku di telinganya. “Saranghae…,” bisikku. Terdapat jeda beberapa detik hingga akhirnya ia memelukku lebih erat dari sebelumnya. Aku menatapnya lekat dan menciumnya lembut. Setelah penantian panjang dan perjalanan yang berkelok, akhirnya kami bisa seperti ini. Aku janji tidak akan pernah melepasmu lagi. Sampai kapanpun.

 

Sena menendang salju-salju yang menumpuk di ujung sepatunya. Aku menikmati pemandangan ini. wanita cantik ini akhirnya menjadi milikku. Mengatakan hal itu saja dalam hati, sudah membuatku malu dan senyum-senyum sendiri.

“Jinki, ayo kita berdoa!”

Aku mengerutkan kening. “Berdoa?”

“Hm.” Ia memejamkan matanya dan mulai berdoa. “Tuhan, terima kasih sudah mempertemukanku dengan Jinki. Ini lebih baik bertemu dengannya sebagai Lee Jinki. Jinki yang kulihat kemarin, hari ini dan di masa yang akan datang kuharap Engkau akan memberinya perlindungan. Menjadikan ia lebih baik dari sebelumnya dan membuatnya menjadi sangat menakjubkan dari semua orang-orang yang kukenal―”

“―tidak peduli seperti apa masa lalu gadis yang ada di sampingku, aku akan terus berada di sisinya. Dan tidak akan pernah meninggalkannya. Amin.”

Kami membuka mata dan saling pandang kemudian terkekeh geli. Ia mencium pipiku. Aku benar-benar bahagia. Sungguh, Tuhan, terima kasih banyak.

 

***

 

SENA

Aku tidak jadi menandatangani kontrak dengan YG. Saat masuk ke dalam gedung, aku hanya mondar-mandir di depan resepsionis dan kembali keluar. Memberitahu mereka via telepon kalau aku berubah pikiran kemudian bersama Jinki kembali ke perusahaan untuk menarik kembali surat pengunduran diri, mencocokkan lagi sidik jariku dengan beberapa pengaman pintu dan mendapatkan kembali pin baru interkom. Biasanya mereka akan mengubah pin interkom ketika ada karyawan yang keluar dari perusahaan dan memberitahukan karyawan lainnya melalui email. Jadi intinya, aku sudah sangat merepotkan mereka. Bersyukur mereka masih mau menerimaku.

Hari ini aku menikmati waktu istirahat dengan menyaksikan anak-anak berlatih. Aku suka lagu yang repackage mereka yang berjudul Growl. Beruntungnya bisa mendengar lebih dulu dibandingkan penggemar di luar sana. Aku takkan meninggalkan pekerjaan ini lagi. Setidaknya aku masih bisa mendesain beberapa sambil mengurus anak-anak nakal ini.

Chanyeol duduk di sampingku.

“Jangan menyegel rokokku lagi, Yeollie-ya!”

Dia mengerutkan dahinya, terlihat sangat marah. “Kau harus berhenti merokok, Noona, itu tidak bagus untuk kesehatanmu.”

Dia terus mengoceh menceramahiku tentang bahaya merokok. Aku jadi ingat kemarin dunia Instagram sempat heboh ketika aku mengunggah foto rokokku yang disegel oleh Chanyeol. Kebanyakan dari penggemar memuji niat baik Chanyeol tentu saja. Aku juga luluh dengan permintaannya.

“Aku sedang belajar berhenti merokok. Mungkin tidak bisa sekaligus, harus pelan-pelan. Mau membantuku?”

“Dengan senang hati!” ujarnya penuh semangat.

“Berikan aku lollipop ketika aku merasa ingin merokok!”

“Mulai besok isi tasku penuh dengan lollipop. Tenang saja, aku pasti membantumu.”

Gomawo.”

Kai berlari menghampiriku. “Noona, Jiyul menunggumu di depan pintu.”

“Jiyul? Oh ya, terima kasih.”

Aku berjalan menuju pintu dan benar saja Jiyul sedang bersandar ke tembok menungguku keluar. Setelah melihatku ia berjalan menyusuri koridor dan menaikki tangga tanpa bicara sepatah kata pun. Namun aku tetap mengikutinya.

Setelah sampai di atap, dia berbalik dan menatapku hampa. “Apa?” tanyaku. Kemudian dia mengulurkan tangannya. Aku hanya bisa menatap tangan itu tanpa ada keinginan untuk menjabatnya. “Untuk apa?” tanyaku lagi.

“Selamat atas hubunganmu dengan Jinki.”

Aku mendengus, masih tidak ingin menjabat tangannya. Aku takut ia tiba-tiba menarik tangan dan melemparku ke bawah. Menyiramku dengan air keras sudah cukup membuktikan bahwa dia ada kelainan jiwa. Sadis!

“Langsung saja. Apa maumu?”

“Aku mau pulang.”

Aku mengangkat sebelah alis. “Vancouver?”

“Hm. Berangkat nanti malam. Aku juga mengundurkan diri menjadi trainee.”

“Oh ya? Kenapa? Kau kan kandidat utama untuk debut beberapa tahun lagi.” Kurasa nadaku sangat menyebalkan. Tapi siapa peduli.

“Aku mau pulang, tidak ingin berada di sini melihatmu bersama Jinki. Kau tahu, Kim Sena, kau telah menghancurkan dua impian besarku untuk menjadi penyanyi dan pasangan hidup Jinki, kau juga―”

“―kau pikir sudah berapa banyak impianku yang pudar karena ulahmu? Saat masih sekolah kau melumpuhkan impianku untuk mengikuti Prom Night karena kau menyiramku dengan air raksa sehari sebelumnya hanya karena pria yang kau taksir lebih menyukaiku. Malam itu aku memiliki janji akan berpasangan dengan Kris, satu-satunya pria yang kusuka saat itu, tapi kau menghancurkannya. Lalu kejadian memuakkan saat malam natal… tidak usah kuceritakan rincinya, kau sudah sangat hafal detailnya. Tapi terima kasih banyak, Park Jiyul, karenamu aku melihat Jinki di Paris dan mengejarnya kemari. Kau sedikit berjasa atas hubunganku dengan Jinki. Terima kasih.”

Terdapat jeda beberapa detik sebelum akhirnya dia menangis.

“Aku membencimu karena semua orang menyukaimu. Eomma tak pernah berhenti memujimu meski ia juga suka menyakitimu baik secara fisik maupun psikologis. Dia sangat menyayangimu tapi juga benci melihat wajahmu yang sangat mirip dengan mantan suaminya. Aku selalu mendapatinya menangis karena menyesal telah berbuat jahat padamu, tapi dia juga tidak ingin dekat denganmu karena wajah sialmu itu membuatnya trauma, mengingatkannya pada ayahmu yang brengsek!”

Tanganku mengepal erat.

“Tidak ada gunanya membicarakan ini. Kalau mau pulang ya pulang saja tidak perlu pamit padaku toh aku juga tidak peduli.” Jiyul kesal, dia jalan melewatiku. Sebelum ia menuruni tangga, aku kembali menembaknya dengan pertanyaan, “Did it hurt?”

“Did what hurt?”

      “Knowing the bitter reality that Jinki never be yours?” Tubuhnya bergetar, aku tahu dia sedang menahan tangis. “Itulah yang kurasakan lima tahun lalu. Ini bukan dendam, tapi pelajaran berharga untukmu melanjutkan hidup. Berbuat baiklah pada yang lain kalau kau ingin disukai banyak orang terutama pria.”

Tanpa menjawab apapun dia pergi.

 

***

 

Malam yang melelahkan. Aku beralan gontai setelah turun dari bus dan memasuki gang rumahku. Lampu mati, mungkin Appa lupa lagi menyalakannya. Pagar mengayun ke dalam ketika kudorong. Kutekan bel berkali-kali namun tak ada jawaban. Aku merogoh tas untuk mengambil kunci dan membuka pintu.

Gelap sekali, tak ada cahaya sedikitpun. Tiba-tiba dari belakang ada yang menyergap tubuhku, suara ledakan memekakkan telinga, lampu menyala.

Appa! Lee Jinki!” teriakku.

“Selamat ulang tahun, Kim Sena,” ujar mereka bersamaan dengan topi kerucut menghiasi kepala mereka. Lucu sekali.

Jinki melepaskan sergapannya dan berjalan ke meja mengambil kue yang sudah dihiasi lilin. Appa menyalakan lili tersebut dan mereka mulai menyanyikan lagu ulang tahun.

Aku menangis haru. Setelah membuat permohonan, kutiup lilin dan Jinki dengan riang menyanyi dengan suara keras.

Begitulah, dua jam ke depan kami habiskan waktu bersama. Makan malam, bongkar kado, karaoke, bahkan minum bersama hingga Appa mabuk berat. Aku dan Jinki duduk bersama di meja pantry, saling bertukar pikiran, menikmati waktu berdua saja sebelum ia diculik ke Jepang oleh jadwal gilanya besok pagi.

“Terima kasih untuk semua ini.”

“Tidak ada kata ‘terima kasih’ pada pacarmu,” goda Jinki yang berhasil membuat wajahku merona. “Semoga kau bisa mengerti dengan profesiku. Kita tidak bisa sering bertemu seperti pasangan lainnya.”      “Jira saja bisa, masa aku tidak.”

Jinki tersenyum lebar. Lantas ia mencuri cium. Aku sedikit memberontak hinggal ia melepaskan kecupannya dari bibirku.

“Kenapa?”

“Ada Appa!”

“Dia sedang tidur.”

Ia menarik tanganku dan mengajakku keluar rumah. Kami berjalan menyusuri jalan yang tidak terjamah cahaya. Wajahnya tanpa penutup, bukan karena ia ingin menciumku lagi.

Genggaman tangannya yang hangat membuatku sangat nyaman. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada kami…

Never ending story,” ucap Jinki. Ia menatapku lembut dan menunjukkan senyum manisnya.

Jari-jarinya yang besar mengunci jari-jariku dalam genggamannya, dan menarikku ke dalam sebuah dekapan hangat. Ia berputar dengan gerakan seperti robot.

“Apa yang kau lakukan?” bisikku.

Creating our universe.”

Aku tertawa geli. Lantas ia melepaskan pelukannya dan menyuruhku masuk rumah.

“Jadi kita bertemu minggu depan?” Ia mengangguk. “Oke, bukan hal yang berat bagiku asalkan kau tidak mematikan ponselmu.”

Jinki tersenyum. Saat aku akan memasuki rumah, Jinki teriak.

“Kau tahu apa kesanku saat pertama kali melihatmu?”

“Apa?”

“BEAUTIFUL STRANGER.” Ia tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya, senyum favoritku. “I started to like you even before knowing your name. Aku mencintaimu, Sena. Selamat malam.”

“Malam, Jinki.”

Jantungku seperti mau melompat dari dalam dada. Terima kasih, Tuhan, aku selalu yakin dengan seluruh rencana besarMu. Lepas seseorang yang kiranya sudah tidak patut lagi dipertahankan, maka Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik sesuai dengan yang kau butuhkan di saat yang tepat.

 

– End of Beautiful Stranger story.

 

# Alhamdulillah akhirnya selesai juga. Hihi ^^

# Mohon maaf bagi yang tidak puas dengan endingnya. Saya ngerampungin ini di tengah padatnya jadwal dinas luar kota dan lembur tiap hari even hari libur nasional pun kerjaan terpaksa dibawa ke rumah, jadi kecil banget kesempatan buat ngelanjut fic ini. Tapi syukurlah bisa selesai tepat waktu \(^o^)/

# Terima kasih banyaaaaakkkkkk buat kalian yang setia menunggu dan membaca-baca ulang juga menumbangkan pemikirannya melalui komentar. Saya hargai itu semua. I LOVE YOU~~~

# Sampai jumpa lain waktu😀

 

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

74 thoughts on “BEAUTIFUL STRANGER [CHAPTER FIFTEEN]

  1. mian ya thor baru bisa komen di chapter terakhir saking serius baca’-‘
    ngga kerasa banget bacanya padahal baru kemaren konfliknya klimaks eh udah selesai aja, kesannya alurnya kaya buru2:))
    aduh sekali lagi jeongmal mianhae kalo komennya kaya gini
    author jjang!! hwaiting and keep writing!!^^

  2. Waw.. Is waw…
    Aku baca part pertama di pagi dan kelar sekarang, haha rekor !
    Mbak diya yang keceh badai, terimakasih atas karyanya yang luar biasa ini..
    Meskipun sempat sebel karna menistakan pacarku (baca:kris), tapi tetep puas dengan ceritanya…
    Sekali lg, terimakasih mbak diya😀

  3. Sebelumnya mian ne karena bru ninggalin jejak di chap akhir ini😦 ak kebawa arus bacanya jdi ketagihan ‘-‘)
    Setiap chap nya keren bangettt.. Ak ga bsa jelasin perasaan aku, pokoknya hati ak lega ++ senanggggggg bangettttttt… The ending it’s very sweet romance >< jinjja daebak~~
    Huhuh~~ ditunggu ff selanjutnya dri kaka yaaa.. Fightinggg!!!😀

  4. Oalahhh love banget ama nih ff… Authorr juga love banget.. Kissnhug for u.. Ni ff so damn! Make me be a crazy girl., senyam senyum sendiri baca ni ff, bahkan bisa teriak2. Ni ff topcer lahh..

    Senang banget waktu jinki blang kalo pertama liat sena kesannya itu.. Beautiful stranger, padahal pertemuan pertamanya buruk.. Heheh~ siap ini aku lanjut ke ff lain dehh. Bye all

  5. Anyeong… aku readers baru disini, setelah aku ngubek2 google nyari ff yg bagus akhirnya aku terdampar d blog ini
    daebak!!! Jjang!!!
    aku sangat suka ceritanya.. ini membuat aku jadi jatuh cinta pada sosok jinki…haha

  6. kereeen banget ff nya. rasanya sayang/? mau namatin, tapi penasaran jugaa xD asli keren. tetap berkarya. semangat author!!~

  7. Aku suka kseluruhan crita, tp pas bebrapa chapter mndekati akhir, critnya jdi kya muter2

    Tp tetep suka endingnya🙂

  8. yeaah.. tamat! maaf ua thor aku gak komen dia tiap chapternya.. aku kira lebih efektif kalau aku komen di chap terakhit sekalian hehe.. oke.. pertama.. aku suka banget sama alur ceritanya. bikin greget sekaligus penasaran. bahasanya juga enak banget buat dibaca. dan.. penggambaran author sama jadwal mereka itu sesuai banget. jadi kita yg jadi readers bisa membayangkan dengan baik. aku suka banget thor, serius deh! tapi ngomong kris aku jadi kangen sama dia #curcol .. good luck ya thor.. sampai jumpa di karya yang berikutnya.. terima kasih atas cerita yang keren ini🙂

  9. end? gua kok ga relaaaaaa :”(
    Diya authoooor…. demi apapun. gua suka banget. endingnya jelas, tegas dan berisi/?. ofc. so sweet🙂
    ga sia-sia baca sampe ngelembur.
    ini ff klasik yang bikin gua flashback. pengen fangirlingan, nulis dan ngerumpiin ff ini ke temen”.

    aku suka banget. banget banget bangeeeeet pokoknya the best banget buat Diya eonni author.
    kek nya ga ada kata yang bisa ngewakilin perasaan gua dah tiap baca ff inim segalanya campur aduk jadi satu dan salut sama Diya eonni yang udah bisa ngebawa para readers nya sampe ke perasaan itu. dan ini ending ff yang ga pernah mengecewakan yang pernah aku baca. ohhh Diya eonni. semoga kamu bisa baca komentar aku. dan sukur” bisa bales. sejak baca ff BEAUTIFUL STRANGER aku jadi fansmu🙂 haha oke ini berlebihan.
    tapi sebelumnya terima kasih buat *gua lupa nama blog nya apa.* yang ngasih rekomendasi ff ini. awalnya ngiseng pengen baca ff cast nya onew. dan ketemulah dengan ffmu eonni.

    I love onew’s voice. i love your FF. this story make me asdfghjkl😀

    30 Juni 2015.

  10. Hi~ aku reader baru di sini. Aku suka ceritanya, dari awal sampe akhir ceritanya menarik. Seneng karena akhirnya happy ending. Maaf karena aku nggak komen di setiap chapter. Btw ini ff yg cast nya member SHINee pertama yang aku baca.

  11. T.T huaaaaah~~~~
    seneng banget akhirnya bisa nyelesain cerita ini…… lega banget rasanya..
    beneeran! serasa speechless !
    can’t convey how awesome this story!
    I’m really big thanks to the writer for wrote this amazing story !
    THANKS Really!
    I Thank with sincerely all my heart *bow180°*

  12. daebak eonni…aq nympe baper bacanya.dan rekor aq bca ini stengah hari langsung dari part 1 ampe end..aq tunggi ff slnjtx eonn..keep writing eonn..fighting

  13. Aaaahhh happy ending..
    Tapi aku gak rela ini end, gak minat bikin sequel thor???
    Ff ini bagus banget, penggunaan bahasa yang ringan dan mudah di terima. Terus berkarya…!!!🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s