A Decision [2.2]

A Decision

Title  : A Decision [2.2] END

Author : Natali Tamashii

Main Cast  :

  • Lee Tae Min
  • Kang Rae Mi (OC)

Support Cast :

  • Kim Jong Hyun
  • Lee Jin Ki
  • Kang Min Hyuk
  • Park Min Ri (OC)
  • Cho Hye Ra (OC)
  • Kim Hyun Ae (OC)

Length : Twoshots

Rate : PG-16

Genre : Life – Friendship – Romance

Summary : ~Apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan dan apa yang kita butuhkan belum tentu yang kita inginkan~

Disclaimer : All of plot, OC, and this fanfic are mine. Made by my own brain. Other cast belongs to God, themselves and their family.

 

Sebelumnya….

Rae Mi berjalan dengan gontai di sepanjang trotoar. Peluh membanjiri wajahnya. Rambut yang biasanya ia gerai kini ia ikat rapi. Terik matahari dengan teganya memanggangnya. Seharusnya ia pulang sekolah diantar oleh Tae Min seperti yang sudah-sudah sejak empat bulan belakangan. Namun karena Tae Min ada urusan, maka dengan terpaksa ia pulang menggunakan bus seperti rutinitasnya sebelum diantar jemput Tae Min. Matanya membulat kala mendapati halte tempatnya biasa menunggu bus kini cukup padat. Dengan langkah yang semakin lesu pun ia menuju halte tersebut untuk andil dalam kegiatan berdesak-desakan tersebut.

Ia mendapat tempat di ujung halte dan berdiri di dekat namja yang jika tak salah tafsir seusianya tengah menyesap sebatang racun perusak hati. Asap yang dihasilkan racun tersebut melayang-layang di depan wajah Rae Mi hingga membuatnya menahan napas, tak ingin merusak pernapasannya dengan racun tersebut. Tangannya aktif mengibas-ibas di depan wajahnya guna menghalau asap racun yang melambai-lambai minta dihirup. Namun namja si penghisap batang racun tersebut seolah tak mengacuhkan reaksi Rae Mi yang terganggu atas asap racun tersebut. Semakin lama ia melihat asap tersebut, semakin banyak keringat yang membanjiri wajahnya. Bukan hanya keringat biasa akibat sengatan matahari, namun keringat dingin karena memori buruk yang telah rapi disimpannya kini menyeruak ke permukaan.

Flashback on…

 

Four years ago…

 

Seorang gadis tengah berdiri di depan namja yang beberapa tahun lebih tua darinya dengan melipat tangan di depan dada. Menatap namja yang tengah asyik dengan kegiatannya menyesap sebatang racun paling nikmat –bagi pecandunya- sekaligus mematikan dengan tatapan tajam seolah hendak menguliti namja di depannya. Sedangkan yang ditatap tak acuh dengan gadis di depannya yang berstatus sebagai yeodongsaeng-nya.

“ Min Hyukie Oppa, berhentilah merusak diri Oppa sendiri dan orang di sekitar Oppa dengan menyesap rokok itu, “ ujar gadis tersebut jengah.

Di usianya yang masih sangat belia, gadis itu sangat tahu bahaya apa saja yang dapat ditimbulkan oleh batang racun laknat itu. Entah sudah berapa kali ia mengingatkan Oppa-nya yang beranjak remaja itu untuk tidak merokok terlebih merokok di dalam rumah. Sejauh ini orang tua mereka tak mengetahui tabiat buruk putra sulung mereka. Hanya gadis tersebut yang mengetahuinya. Beruntung orang tua mereka tengah terlelap di kamar. Jika tidak Min Hyuk pastilah dimarahi habis-habisan.

“ Berhentilah untuk ikut campur dengan urusanku Rae Mi-ya. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini. Jangan mengganggu keasyikanku. “

‘ Selalu saja seperti itu. Dasar Min Hyuk Oppa menyebalkan, ‘ batin Rae Mi jengkel lalu keluar dari rumah.

“ Dasar dongsaeng menyebalkan, “ ujar Min Hyuk lalu membuang punting rokok yang –menurutnya- telah mati ke rumput belakang rumah mereka lalu pergi.

………

Suara sirine pemadam kebakaran memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya termasuk Rae Mi yang tengah bermain ke rumah Hyun Ae yang terletak beberapa rumah dari rumahnya.

“ Memang rumah siapa yang terbakar? “ tanya Rae Mi ketika melihat mobil pemadam kebakaran yang beberapa detik lalu melintas di depan rumah Hyun Ae.

Hyun Ae menggendikkan bahu. Ia pun berjalan menuju pagar rumahnya untuk melihat di mana mobil pemadam kebakaran itu berhenti.

Part 2

 “ Rae Mi-ya!! “

Rae Mi yang diteriaki Hyun Ae segera menghampiri sahabatnya tersebut. “ Ada apa? “ tanyanya setelah sampai di samping Hyun Ae.

“ Itu. Mengapa mobil pemadam kebakarannya sepertinya berhenti di depan rumahmu? “ tanya Hyun Ae sembari menunjuk rumah Rae Mi yang dari rumahnya kini ramai dikerumuni orang-orang.

Rae Mi yang melihatnya langsung terkejut. Berbagai pikiran negative mulai bersarang di otaknya. Tanpa berpikir lagi, Rae Mi langsung melesat menuju rumahnya dengan air mata yang terurai. Ia pun menerobos kerumunan orang-orang yang mengerubungi rumahnya. Raungannya langsung menggelegar, menyayat hati siapa saja yang mendengarnya kala melihat rumahnya dilalap si jago merah.

Eomma….Appa….Oppa…..!!! “ raungnya berusaha melewati petugas kepolisian yang menjaga rumah tersebut.

“ Dik, tenang dik. Tenang. “

“ Bagaimana saya bisa tenang sedangkan keluarga saya tengah meregang nyawa di dalam sana???!!!! “

Tiba-tiba seorang polisi datang dan membisikkan sesuatu kepada polisi yang tengah menenangkan Rae Mi hingga tanpa sengaja ia mendengarnya.

“ Lapor Pak. Kebakaran tersebut disebabkan oleh puntung rokok yang masih menyala di halaman belakang rumah. Kedua korban yang terjebak dalam kebakaran tersebut telah meninggal. “

Mendengar itu tubuh Rae Mi menegang dan diliputi amarah yang membuncah. Ia yang tadinya meraung-raung kini bersimpuh di tanah, menangisi kepergian keluarga yang amat dicintainya untuk selama-lamanya.

Eomma…Appa… jangan tinggalkan Rae Mi sendiri. “

“ Rae Mi, apa yang terjadi? Mengapa rumah kita terbakar? Mana Eomma dan Appa? “

Sebuah suara yang amat dikenal Rae Mi membobol gendang telinganya. Rae Mi yang tadinya bersimpuh di tanah kini berdiri dengan amarah yang siap meledak.

“ Kau! “ tunjuk Rae Mi tepat di wajah Min Hyuk lalu melanjutkan ucapannya dengan napas tersengal-sengal, “ gara-gara kebodohanmu Eomma dan Appa meninggal. Seharusnya kau dengarkan aku untuk berhenti merokok, namun kau selalu tak acuh. Lihat perbuatanmu. Orang yang paling kusayangi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Kau pembunuh! Aku tak akan pernah mengakuimu sebagai Oppa-ku lagi. Kau laiknya pembunuh! Enyahlah kau dari hadapanku dan membusuklah kau di penjara! “

Min Hyuk yang mendengarkan perkataan adiknya langsung lemas. Ia berlutut di depan sang adik dengan air mata yang mengalir deras dari kelopak matanya.

“ Rae Mi!! “ raungnya kala mendapati sang adik pingsan.

 

Flashback off…

 

Semenjak saat itu Rae Mi tak pernah lagi mau menemui Min Hyuk. Setiap dipertemukan dengan Min Hyuk ia selalu histeris dan merapalkan kata ‘pembunuh’ berulang kali laiknya sebuah mantera. Karena keadaan psikologisnya yang saat itu terguncang, Rae Mi yang masih sangat muda harus berurusan dengan seorang psikiater. Setelah berbulan-bulan terapi akhirnya ia sembuh walaupun membawa trauma yang mendalam baginya hingga ia sangat membenci perokok. Selama dua tahun ia tinggal di rumah Hyun Ae, namun memasuki tahun ketiga kepergian orang tuanya ia memutuskan untuk mandiri dengan menyewa apartement sederhana. Ketika bus sampai, buru-buru ia menaikinya untuk menghindari asap rokok tersebut.

@@@

“ Huft, kenapa masih sepi? Bukankah ini sudah siang dan sebentar lagi bel masuk berbunyi? “ gumam Rae Mi yang tengah menjelajahi koridor sekolah.

Sudah hampir setengah jam yang lalu ia sampai di sekolah, namun sejak setengah jam yang lalu pula tak ada satu siswa pun yang menampakkan batang hidungnya. Saat ini ia tengah menjelajahi koridor sekolah guna mencari siswa karena setahunya ini bukanlah hari libur. Ia juga sudah menghubungi Hyun Ae namun tak diangkat oleh yeoja tersebut. Langkahnya terhenti tepat di depan aula kala telinganya menangkap suara dentingan tuts piano yang sangat merdu. Keningnya berkerut heran karena setahunya di aula tak ada piano. Piano hanya ada di ruang musik. Lama kelamaan dentingan piano tersebut membentuk sebuah lagu. Karena penasaran, akhirnya Rae Mi pun memberanikan diri membuka pintu aula. Matanya membulat kala mendapati semua murid tengah berada di aula yang bisa dibilang cukup luas itu. Lagi-lagi matanya membulat kala mendapati sebuah grand piano berwarna putih berada di tengah-tengah aula. Seorang namja dengan terampil memainkan jemarinya di atas tuts-tuts piano.

Achim haessali geudaewa gatayo

Cahaya matahari pagi sepertimu,

Jogeum yuchihagaetjyo, Geuraedo nan eerungae joeun geol

Mungkin ini agak kekanak-kanakan, tapi aku suka itu.

 

Suara merdu dari sang namja mengalun lembut menyatu dengan dentingan tuts piano. Rae Mi yang seolah terhipnotis pun perlahan mendekat.

 

Nareul kkaeweojun geudae yeopae ramyeon

Jika kamu disisiku saat kau membangunkanku,

Deo baralgae eopgaetjyo, Eereokhae geudael bogo shipeun geol

Aku tak banyak berharap , Aku ingin melihatmu

Sarangi eodirago mot.hal geora saenggakhaji malayo

Jangan berpikir  kita tidak bisa cinta karena kita muda,\

Nareul deo neutgi jeonae

Sebelumnya… Itu sudah terlambat…

Na deo keugi jeonae japajul su itjyo?

Sebelum aku tumbuh lebih tua, bisakah kamu terus padaku?

Saranghaeyo geudaemaneul jeo haneulmankeum

Aku hanya mencintaimu, setinggi langit

Jeongmal geudaeneun naega saneun eeyu.in geolyo

Kau benar-benar adalah alasan aku hidup

Geudaereul aju mani geudael michidorok anajugo shipeo

Aku benar-benar, Aku ingin memelukmu seperti orang gila

Ajik mani ppareungeojyo geureongeojyo

Kita masih terlalu cepat, benar?

 

Tak ada suara apa pun selain dentingan piano yang indah serta alunan merdu dari hati. Beberapa orang –terutama yeoja– menutup mata untuk menikmati lagu yang mengalun dari hati.

Geunyeoae nooni majuchil ddaemada

Kapan saja disaat mata kita bertemu,

Nae eolgoolae bunjineun misoga, Hokshina geudae maeumae hankyeonae daeulkka

Aku bertanya-tanya apakah senyum yang tumbuh di wajahku, mungkin akan mencapai sudut hatimu

Aseurahan neoae maeum geu sokae areumdaoon, Gwitgaye soksakyeo neol saranghaneun naye maeum

Aku berbisik ke telinga yang indah, dalam hatimu pasti, rasa cintaku untukmu

I’ll be taking you Girl, I know without you

Aku akan bersamamu, aku tahu bila tanpamu

Without you, I miss you

Tanpamu, Aku merindukanmu

 

Rae Mi berjalan mendekati grand piano tersebut. Ia terkejut karena mendapati Tae Min-lah yang memainkan serta menyanyikan lagu tersebut.

 

Eonjekkajina geudaereul wonhajyo

Aku akan ada untukmu selamanya

Wonhago baraneun mam

Perasaanku penuh dengan keinginan dan harapan

Ddo gipeojineun sarang

Hatiku tumbuh lebih dalam lagi

Deo eesang soomgil su eopseo

Aku tidak bisa lagi menyembunyikannya

Geudaeneun nain girl

Kau untukku, Girl

Nae maeumi geudael japgo nochil anjyo

Hatiku akan menangkapmu dan tidak akan membiarkanmu pergi

Geudaedo neukkyeojinayo

Bisakah kau merasakan itu dengan baik?

Nareul, oh, deo neutgi jeonae

Sebelumnya, itu sudah terlambat

Na deo keugi jeonae japajul su itjyo

Sebelum aku tumbuh lebih tua, bisakah kamu terus padaku?

Oori gatchi one, two, three, oh ja shijakhaeyo

Ayo ucapkan bersama, satu, dua, tiga, Ayo kita mulai

Geudae naye hanajyo naye jeonbuingeolyo

Kau My One, Segalanya untukku

Geudaereul aju mani geudael michidorok saranghago shipeo

Aku benar-benar, Aku mencintaimu hingga seperti orang gila

Eejeneun geuraedo dwaejyo geurungeojyo?

Aku bisa lakukan itu sekarang, benar?

( SHINee _ One )

Lagu tersebut ditutup dengan indah oleh Tae Min. Ia lalu berdiri dan berjalan menghampiri Rae Mi yang berjarak beberapa meter di depannya. Digenggamnya kedua tangan Rae Mi hingga membuat Rae Mi serta orang-orang di sana terkejut.

“ Tae Min? “ lirih Rae Mi.

“ Mungkin bagimu ini terlalu cepat, namun bagiku inilah waktu yang tepat. Lagu tadi untukmu karena kamu adalah satu-satunya gadis yang berhasil singgah di hatiku. Would you be my one? “ tanya Tae Min menatap dalam manik coklat Rae Mi.

Rae Mi memejamkan matanya sesaat lalu membukanya perlahan. “ Mian I wouldn’t, “ ujarnya lirih dan menghempaskan genggaman tangan Tae Min lalu meninggalkan aula tersebut yang menimbulkan tanda tanya bagi semua orang yang ada.

@@@

“ Kang Rae Mi, sebenarnya apa yang ada di otakmu? Mengapa kamu menolak Tae Min yang mencintaimu? Bukankah kamu juga mencintainya? “

Siang ini ketika Rae Mi tengah bersantai di apartement-nya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan Hyun Ae dengan wajah merah padam. Belum sempat ia meletakkan tulang duduknya, Hyun Ae telah menyemprotnya. Rae Mi hanya diam mendengarkan segala ocehan sahabatnya. Hyun Ae duduk di depan Rae Mi dan mulai menstabilkan napasnya yang memburu. Peluh sedari tadi menghiasi wajahnya. Rae Mi pergi ke dapur untuk mengambilkan minum sahabatnya. Dengan kalap Hyun Ae meminum minuman yang disediakan Rae Mi setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. Setengah gelas telah berhasil ia tenggak hanya dengan beberapa kali tegukan.

“ Bisakah kamu berikan alasan mengapa kamu menolak Tae Min padahal kamu mencintainya hampir tiga tahun belakangan? “ tanya Hyun Ae setelah dapat menguasai emosinya.

Rae Mi terdiam sebentar. Matanya menyapu tiap sudut. Ia pun menghembuskan napasnya sesaat sebelum membuka suaranya.

“ Kamu ingat cerita tentang Hye Ra? “

Memang beberapa hari setelah peristiwa pertemuannya dengan Hye Ra, Rae Mi menceritakan hal tersebut yang tentu saja seizin Hye Ra karena banyak kabar simpang siur mengenai kandasnya hubungan Jin Ki dan Hye Ra yang menyebabkan multi tafsir. Setelah mendapatkan anggukan dari Hyun Ae, Rae Mi melanjutkan, “ Aku belum siap berakhir seperti Hye Ra. Aku belum siap sakit hati. “

Hyun Ae membelalakkan matanya. “ Mwoya? Kau gila? Alasan apa itu? Jika kamu mencintai seseorang kamu harus siap sakit hati Rae Mi. Kamu mencintainya namun kamu tak siap sakit hati karenanya. Lalu rasa apa yang tumbuh selama hampir tiga tahun itu untuknya? “

Napas Hyun Ae kembali memburu. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Rae Mi yang tak tertebak. “ Kau! Selama bertahun-tahun kita bersahabat, selama itu pula aku tak bisa meraba pikiranmu.”

“ Jika begitu kamu belum sepenuhnya mengenalku Hyun Ae. “

Braakkk

Hyun Ae menutup kasar pintu apartement Rae Mi dengan penuh amarah. Rae Mi tak bergeming setelah kepergian Hyun Ae. Ia tahu sahabatnya itu sangat kecewa padanya seperti Tae Min yang juga kecewa padanya. Tanpa sadar sebulir air mata menetes mengaliri pipi Rae Mi. Isakan lirih mulai menyembul dari bibirnya.

Mianhae. “

@@@

Rae Mi berjalan di koridor diiringi oleh tatapan tajam orang-orang yang seakan hendak mengulitinya. Bukan hanya di koridor, namun sejak ia menginjakkan kaki di sekolah.

“ Lihat dia. Dia tak cantik namun mengapa Tae Min Oppa mencintainya? “

“ Dasar gadis bodoh. Sudah untung Tae Min Oppa menembaknya, namun mengapa ia menolaknya? “

“ Ternyata ia masih berani bersekolah? Dasar tak punya malu. “

Cibiran demi cibiran menyelinap ke telinga Rae Mi namun gadis itu menuli dan tetap berjalan menuju kelasnya. Ketika matanya dan Hyun Ae bertemu, Hyun Ae dengan sigap mengalihkan pandangannya. Rae Mi yang melihatnya hanya tersenyum miris. Ia sudah memprediksikan situasi ini, bahkan ia tahu jika sahabatnya ini sangat marah padanya. Ia kembali berjalan menuju tempat duduknya. Lagi-lagi senyum miris melekat di wajahnya kala melihat bangku di sebelahnya kosong, tak ada lagi tas punggung berwarna hijau. Sepertinya aku harus membiasakan diri sendirian hingga akhir tahun ajaran, batinnya.

~~~~~~

Sisa tahun ajaran ini dihabiskan Rae Mi sendirian. Cibiran demi cibiran pun masih bergaung ketika Rae Mi berjalan. Ia terlihat tak peduli dengan semua itu. Ia tetap menjalani hari-harinya seperti biasa walaupun tanpa sahabat di sampingnya. Ya, Hyun Ae masih tak mengacuhkannya walaupun Rae Mi telah meminta maaf atas kata-katanya tempo hari pada Hyun Ae. Selama dua bulan setelah kejadian tersebut, Tae Min selalu mengejar Rae Mi meminta penjelasan. Namja itu merasa tak terima dengan alasan Rae Mi yang –baginya- sangat tak masuk akal. Namun perlahan Tae Min mulai menerimanya. Setiap bertemu dengan Rae Mi, namja tersebut selalu menyapa Rae Mi walau hanya ditanggapi dengan anggukan kepala saja.

Saat ini Rae Mi tengah meringkuk di kamarnya. Tubuhnya ia sandarkan pada kepala ranjang serta kedua kakinya ditekuk. Sebuah figura berukuran sedang tengah digenggamnya. Sebuah potret dua orang yeoja yang berangkulan dengan senyum ceria yang menghiasi bibir keduanya. Seketika air mata Rae Mi luruh begitu saja. Ia sangat merindukan Hyun Ae. Ia menyesal tak mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa ia menolak Tae Min pada Hyun Ae. Rae Mi justru memberikan alasan yang bodoh dan tak masuk akal. Matanya pun mengelana ke setiap sudut kamar dan pandangannya terhenti pada sebuah figura kecil berwarna coklat di mana terdapat potret sepasang yeoja dan namja yang tengah melahap ice cream dengan wajah cerah.

“ Lee Tae Min. Mianhae. Bogoshippo. Saranghae, “ ujarnya lirih dengan air mata yang masih setia mengaliri wajahnya.

@@@

Rae Mi berdiri di depan aula sekolahnya dengan pandangan ragu. Hari ini adalah perayaan kelulusan bagi angkatannya yang dipusatkan di aula. Harusnya ini merupakan hari yang membahagiakan untuknya karena ia tercatat sebagai lulusan terbaik tahun ini yang nantinya akan menerima penghargaan yang akan diwakilkan oleh walinya. Pandangannya tertuju pada kakinya.

“ Haruskah aku masuk? Namun nanti siapa yang akan mewakili untuk menerima penghargaan itu? Mana mungkin Kim ahjumma mau mewakili sedangkan hubunganku dengan Hyun Ae memburuk? “ tuturnya risau.

Setelah kepergian orang tuanya memang hanya keluarga Hyun Ae yang menjadi walinya. Sedangkan Oppa-nya, Kang Min Hyuk, tak diketahui keberadaannya. Entah mengapa ia masih saja membenci sang Oppa karena kejadian beberapa tahun yang lalu. Bahkan terkadang ia tak menganggap jika ia memiliki Oppa. Rasa bencinya pada Min Hyuk serasa mendarah daging. Ia pun sangat membenci perokok karena sang Oppa. Akhirnya dengan segala keberanian, Rae Mi memasuki aula tersebut dan mulai mencari tempat duduknya. Dengan lesu ia pun menghenyakkan diri di atas bangku. Tatapannya nanar memandang bangku di sebelah kanannya yang kosong. Seharusnya bangku itu ditempati oleh Mrs. Kim, sama seperti yang sudah-sudah.

Tibalah acara di mana adanya penerimaan penghargaan siswa-siswa berprestasi. Keringat dingin mulai membasahi wajah Rae Mi. sekarang Tae Min tengah berdiri di panggung bersama orang tuanya. Terpancar kebahagiaan dari wajahnya ketika menerima penghargaan sebagai siswa berprestasi di bidang seni yaitu dance. Tiba-tiba Tae Min memandang Rae Mi yang juga tengah memandangnya. Tae Min memberikan seulas senyum terbaiknya pada Rae Mi namun dengan cepat yeoja itu mengalihkan pandangannya yang mampu membuat Tae Min tersenyum kecut.

“ … Kang Rae Mi, silakan maju ke depan.”

Suara berat sang kepala sekolah membuat Rae Mi terkesiap. Sebelum melangkahkan kakinya, Rae Mi menghembuskan napas panjangnya. Dengan perlahan Rae Mi melangkah menuju podium, tak lupa ia menundukkan wajahnya. Langkah demi langkah ia menaiki tangga podium hingga ia kini berdiri di tengah-tengah podium, sendirian.

“ Rae Mi-ssi, di mana walimu? “

Rae Mi terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. “ Emm…”

Mianhamnida kami terlambat. “

Suara seorang yeoja paruh baya menggelegar di aula tersebut. Semua mata kini tertuju pada tiga orang yang berdiri di depan pintu aula. Rae Mi membelalakkan matanya. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Yeoja paruh baya tadi segera menuju podium dengan langkah tergopoh-gopoh.

“ Kim ahjussi? Kim ahjumma? Hyun Ae? “

Hyun Ae yang saat ini telah duduk di tempatnya kini tersenyum pada Rae Mi sehingga mau tak mau membuat Rae Mi menarik kedua sudut bibirnya.

Satu jam kemudian…

 “ Rae Mi! “

Rae Mi yang tengah duduk di bangku taman menoleh ketika ada yang meneriaki namanya. Ketika ia menoleh ke belakang, ia mendapati Hyun Ae yang sekarang tengah berlari ke arahnya lalu memeluknya.

“ Maafkan aku Rae Mi. Aku tahu aku terlalu egois padahal kamu sudah meminta maaf padaku. Apakah sekarang kita masih bersahabat? “ tanyanya dengan air mata yang terurai setelah melepaskan pelukan.

Pletak

“ Bodoh. Tentu saja, “ ujar Rae Mi terisak setelah memukul ringan kepala Hyun Ae.

“ Rae Mi. “

Suara yang sangat dihafal mereka menyeruak begitu saja membuat mereka mencari sumber suara. Di depan mereka telah berdiri Tae Min dengan senyum yang masih setia bertengger di wajah tampannya. Perlahan Tae Min mendekat ke Rae Mi, sedangkan Hyun Ae mulai menyingkir.

“ Rae Mi-ya, bolehkah aku memelukmu sebagai tanda perpisahan? Aku akan melanjutkan study-ku ke luar negeri, “ tutur Tae Min lembut.

Rae Mi menegang mendengar ucapan Tae Min. Tak lama kemudian ia mengangguk. Tae Min memeluknya erat. Ia membenamkan kepalanya di ceruk leher Rae Mi cukup dalam. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Rae Mi yang sangat ia sukai lalu menyimpannya di memori otaknya karena sebentar lagi ia tak dapat memeluk tubuh itu lagi. Rae Mi balas memeluk Tae Min tak kalah erat. Ia baru menyadari jika pelukan Tae Min begitu nyaman dan juga hangat. Rae Mi memejamkan mata menikmati hangatnya pelukan Tae Min. Air matanya luruh tiap mengingat Tae Min. Ia terus mengucapkan ini keputusan yang terbaik dalam hati seolah tengah merapalkan sebuah mantera. Ia terus meneguhkan hatinya agar tak goyah dengan keputusan yang diambilnya. Tak lama kemudian Tae Min membisikkan sebuah kata yang membuat tubuh Rae Mi menegang.

Saranghae, “ bisiknya lalu pergi tanpa melihat Rae Mi.

Nado saranghae. Jeongmal mianhaeyo, “ ujarnya lirih setelah Tae Min menghilang dari jarak pandangnya.

@@@

Several years later…

Seorang gadis tengah berdiri di depan bangunan yang sangat megah. Dekorasi berwarna peach mendominasi bangunan tersebut. Ia berdecak kagum melihat dekorasi bangunan tersebut.

“ Selera Min Ri memang selalu bagus, “ ujarnya kagum.

Kkaja Chagi. “

Suara seseorang mengagetkannya. Ia segera menoleh ke kanan dan mendapati namja  yang sudah hampir tiga tahun mendampinginya. Ia pun menautkan tangannya ke lengan namja tersebut lalu memasuki bangunan di mana diselenggarakan sebuah pesta pernikahan. Di depannya telah berdiri sepasang pengantin yang baru saja mengikrarkan janji suci di hadapan Tuhan.

“ Ia tampan bukan? Aku takut kau berpaling kepadanya. “

Suara namja di sebelahnya membuatnya menoleh dan mendapati senyuman yang selalu mengiringi harinya.

“ Iya dia tampan. Bahkan semakin tampan. Apakah kau mau melepasku untuknya? “

Senyum tulus yang tadinya terukir kini berubah menjadi senyum masam. Yeoja itu melepaskan tautan tangan mereka lalu berjalan menuju pengantin yang tengah tersenyum bahagia hingga membuatnya ikut tersenyum.

“ Ternyata kau masih sangat mencintainya Rae Mi. Sia-sia sudah usahaku untuk membuatmu berpaling padaku selama tiga tahun ini, “ ujar namja itu lesu dan memandang nanar tautan tangan mereka yang dilepaskan yeoja yang sangat dicintainya selama lima tahun belakangan.

“ Tae Min. “

Suara lembut yeoja yang sangat dikenalnya membuat Tae Min terkejut.

“ Rae Mi? “

Chukkae untuk pernikahanmu dengan Min Ri. Tolong jaga dongsaeng-ku ini. Jangan sampai kamu menyakitinya. “

Rae Mi mengangsurkan tangannya dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Tae Min pun menerimanya.

Dongsaeng? “

Eonnie.”

Min Ri segera memeluk Rae Mi sangat erat. Tae Min melihatnya dengan kerutan di keningnya. Setahunya istrinya itu merupakan anak tunggal sehingga mana mungkin Rae Mi menjadi saudara istrinya. Ada seberkas kebahagiaan mencuat di hatinya kala melihat Rae Mi di depannya setelah tujuh tahun tak bertemu. Ia mengakui jika Rae Mi bertambah cantik dan dewasa.

“ Jangan memelukku terlalu lama Park Min Ri atau Lee Min Ri? Lihatlah suamimu melihat kita, “ goda Rae Mi yang sukses memunculkan semburat merah di kedua pipi Min Ri ketika ia menekankan kata Lee.

Oppa, kau tahu bukan siapa dia? Jadi aku tak perlu mengenalkannya padamu karena kutahu kau lebih mengenalnya daripada diriku. Dia adalah kakak angkatku yang sering kuceritakan padamu. Sepertinya kalian perlu menuntaskan masa lalu kalian. Aku permisi. “

Min Ri meninggalkan Tae Min yang masih terkejut dengan ucapan istrinya dan Rae Mi yang hanya tersenyum tipis melihat tingkah adik angkatnya. Hening menyelimuti mereka.

“ Berikan alasan yang sebenarnya mengapa dulu kamu menolakku. Jangan alasan murahan seperti dulu, “ ujar Tae Min memecah keheningan.

Rae Mi tersenyum. “ Kamu tak pernah berubah Tae Min. Baiklah. Namun sebelumnya aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu. “

“ Kamu ingin bertanya apa? “ Kini mereka saling berhadapan.

“ Kamu tentu tahu mengenai kisahku tentang…Min Hyuk…Oppa. Hyun Ae pasti sudah menceritakannya padamu. Beberapa hari yang lalu ia mengaku sudah menceritakan kisah itu padamu saat masih sekolah. “

Tae Min awalnya terkejut namun tak lama kemudian ia mengangguk.

“ Beberapa hari sebelum kamu menyatakan perasaan itu padaku, aku tak sengaja melihatmu menyesap batang laknat itu. Seketika bayangan Min Hyuk Oppa muncul. Entah mengapa amarahku padamu mencuat. Aku pun berjanji akan menghapus rasa ini untukmu, maka dari itu aku menolakmu. Alasan bodoh memang. Dan aku menyadarinya. Namun setiap melihatmu, bayanganmu yang menikmati batang laknat itu muncul seiring amarahku padamu. Aku sangat benci perokok. “

Tae Min menegang lalu tak lama kemudian terkekeh. “ Ternyata ajang coba-cobaku membawa petaka bagi kisah cintaku sendiri. Aku menyesal telah mencobanya. Jikalau aku tak mencobanya pasti sekarang kita telah bersama. “

Rae Mi menggeleng pelan. “ Tidak. Aku tak pernah menyesal telah menolakmu dulu. Justru aku bersyukur kita tak bersama dulu. Walaupun kurasakan sakit, namun itu lebih baik. Coba kamu bayangkan jika dulu kita bersama, akan banyak pihak yang terluka sekarang. “

“ Maksudmu? “

“ Kamu dan Min Ri dijodohkan bukan? “ Rae Mi melihat Tae Min mengangguk lalu melanjutkan, “ jika dulu kita bersama, Min Ri akan terluka karena calon suaminya menolak perjodohan itu. Begitu pun keluarga kalian. Dan aku akan lebih terluka saat melihat orang yang aku cintai menikah dengan orang lain. “

“ Ya, kamu benar. Dan sekarang aku beruntung memiliki istri seperti Min Ri. Ia tahu aku masih mencintaimu saat kami berhubungan, namun ia tak pernah marah. Ia justru membantuku melupakanmu. Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah menemukan orang yang tepat? “

“ Aku sudah menemukannya. Jong Hyun Oppa. Dia adalah orang yang membantuku melupakanmu sekaligus orang yang telah membuatku memaafkan Min Hyuk Oppa. Kamu tahu? Terkadang apa yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan dan apa yang kita butuhkan belum tentu yang kita inginkan. Aku menginginkanmu dulu, namun sekarang aku sadar jika kamu bukanlah yang kubutuhkan. Dulu aku tak menginginkan Jong Hyun Oppa, namun lagi-lagi aku sadar jika ia adalah orang yang kubutuhkan. “

“ Semoga kamu bahagia dengannya. “

“ Kamu juga semoga bahagia dengan Min Ri. “

Setelah mengucapkan selamat pada mereka sekaligus berpamitan, Rae Mi menghampiri Jong Hyun lalu menggamit tangannya dan secara tiba-tiba mencium pipinya. Jong Hyun terkejut bukan main dan menatap Rae Mi tak percaya.

Gomawo sudah setia menungguku dan juga selalu ada di sisiku. Saranghae, “ ujar Rae Mi lembut.

Jong Hyun terbelalak. Ternyata penantiannya selama ini tak sia-sia.

Nado saranghae. “

Fin

Huuuaaaaaaa…akhirnya selesai. Semoga tidak mengecewakan.

Don’t forget comments and critics for me and this fanfic.

Friendly ,

Natali Tamashii

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

3 thoughts on “A Decision [2.2]

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s