Heart [1.2]

Title            : Heart#1

Author             : Metaemin

Main Cast        : Lee Taemin, Choi Minho

Support Cast   : Jung Soojung

Length             : Two Shoot

Genre              : Romance, Angst

Rating             : General

Note:

Salam 2min Shipper^^

FF ini udah saya publish sebelumnya si Fb saya,

Saya membuat FF  ini  karena  saya pecinta FF 2min, well bagi yg gak suka cerita boyxboy saya saranin jangan baca, soalnya percuma^^

Ini hanya Fiksi, Selamat membaca..

Candle light dinner.

      Berdua dalam satu meja kecil yang dialasi sehelai marun, dengan lilin-lilin kecil sebagai penghias di atasnya. Lilin-lilin itu seolah menjadi teman untuk menerangi dua piring steak dan dua gelas wine yang tersedia di atas meja.

       Masing-masing steak dan wine itu dinikmat oleh idua orang namja yang tengah merayakan 1st anniversary hubungan mereka. Namja yang satu memiliki mata bulat terang dengan tatapan tajam namun mengagumkan, sedang namja yang satunya lagi memiliki mata sipit khas orang korea dengan tatapan lembut yang memesona,

         Tak ada suara, selain suara gesekan violin yang mengalun indah memenuhi sudut ruangan cafe. Entah karena terlalu hanyut menikmati musik atau kah memang tak ada yang ingin mereka bicarakan hingga tak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan.

         Perayaan satu tahun usia pertunangan mereka terkesan kaku. Romantic dinner yang di angan-angan kan sang namja bermata sipit dari jauh-jauh hari ternyata tak jauh beda dari dinner-dinner mereka sebelumnya. Dinner yang entah kapan terakhir kali ia lakukan. Ia bahkan lupa kapan terakhi kali ia melakukan dinner bersama namja yang masih asyik memotong steak di depannya ini.

      Sebulan yang lalu kah?

      Dua bulan yang lalu?

      Atau bahkan tiga bulan yang lalu?

      Lupa. Namja itu tak lagi mengingatnya.

      Taemin. Begitu namja cantik bermata sipit itu biasa di panggil. Ia menundukan kepalanya membiarkan untaian poni nya jatuh menutupi sebagian wajah. Tangan nya masih terus memotong steak dan hanya sesekali ia masukan potongan steak itu ke mulutnya. Steak itu hanya ia potong-potong menggunakan pisau tanpa niat untuk memakannya lebih.

Tak berselera. Sungguh ia tak menikmati moment ini.

       Tangan Taemin masih terus memotong steak hingga daging di piring nya itu terisis begitu tipis. Setelahnya ia lalu menusuk-nusuk daging steak itu menggunakan garpu dengan pelan. Amat pelan seolah ia tak ingin menyakiti daging itu jika saja daging itu adalah sebuah hati.

        Namun tetap saja, selembut apapun penusukan itu sangatlah terasa sakit. Sungguh sakit karena ia tahu hatinya kini umpanya sepotong daging yang di iris tipis lalu di tusuk dengan pelan. Amat pelan namun mampu membuat hati itu berlubang.

        “Hyung, aku ke toilet sebentar ya” pamit Taemin pada namja di depannya. Namja di depan nya itu lantas mengangguk meng’iyakan ucapan Taemin lalu tersenyum tipis. Sangat tipis hingga di rasakannya senyum itu terlihat begitu di paksakan.

         Taemin berjalan cepat menuju toilet. Namun setibanya disana ia hanya diam mematut dirinya di depan cermin yang menggantung di dinding atas wastafel.

         Tatapannya kosong. Ia tak mampu melihat hal lain selain sosok namja menyedihkan yang ia lihat di dalam cermin. Namja dengan kemeja putih bergaris hitam serta jas putih vanilla diluarnya. Jika di lihat lebih cermat, diantara kelopak mata sipit namja itu mengenang setitik air yang siap jatuh ketika ia menutup matanya.

       “Mengapa seperti itu? Mengapa bersikap semanis itu jika kenyataannya semua hanyalah sebuah keterpaksaan? Mengapa tak berterus terang? Mengapa mempermainkan ku? Tak tahu kah bahwa ini rasanya sungguh sakit?” lirihnya pelan.

    Taemin memegang dadanya kuat lalu mengepalkan tangannya disana. Ia menundukan kepalanya. Membiarkan butiran air matanya jatuh membasahi pipinya.

       Tak ada isakan. Hanya sebuah pelepasan rasa sesak yang selalu saja menghimpit dadanya ketika ia bersama tunangannya itu. Namja bernama Minho. Choi Minho lebih tepatnya.

       Tak lama. Taemin kembali mengangkat kepalanya. Menatap wajahnya sekilas di dalam cermin, lalu menengadahkan kepalanya dan beralih menatap sendu langit-langit di toilet itu. Sekedar untuk menahan air mata yang masih terus keluar.

Sakit. Bahkan hatinya terasa lebih sakit ketika ia mencoba kuat untuk tak menangis.

    Taemin kembali menatap wajahnya di cermin. Ia menutup mata sekilas lalu kembali membuka matanya. Namun matanya kini kian meredup ketika ia mengingat sesuatu.

        Hari ini, tepat tanggal 27 Agustus ia dan Minho merayakan first anniversary hubungan mereka. Hubungan ini, bukan sekedar hubungan pacaran sepasang kekasih yang bisa kapan saja menyatakan putus jika hati sudah tak lagi bersatu.

        Hubungan yang mereka -Taemin dan Minho – jalani ini lebih terikat juga lebih terjerat. Mereka terikat oleh dua cincin yang mereka pakai di jari manis masing-masing. Mereka terikat oleh satu kata ‘pertunangan’ yang tidak bisa seenaknya saja menyatakan putus bahkan jika hati sudah tak lagi bersatu. Mereka terjerat. Terjerat oleh janji kedua orangtua mereka, terjerat oleh hubungan yang berawal dari perjodohan yang di atur kedua orangtua mereka bahkan dari sebelum mereka lahir.

           Mereka tak bisa. Tak bisa jika harus memutuskan hubungan bahkan ketika hati mereka sudah tak lagi bersatu. Bukan, bahkan hati mereka memang tak pernah bersatu.

           Taemin dan Minho. Mereka hanya saling bertukar cincin tanpa pernah sekalipun bertukar hati.

Memang. Semula terjadi seperti itu. Paling tidak dalam kurun waktu satu hingga dua bulan tak ada perasaan selain perasaan ‘menuruti kehendak orang tua’ yang mereka rasakan.

          Namun, siapalah yang bisa tahu apa yang terjadi dengan sebuah hati. Sebuah hati, terjerat kuat dalam tubuh manusia namun rentan tercuri. Seperti hati seorang Taemin yang entah sejak kapan telah tercuri oleh namja bernama Minho, tunangannya sendiri.

           Awalnya Taemin merasa tidak ada yang salah dengan perasaanya. Toh pada dasarnya Minho merupakan tunangannya sendiri. Lagi pula setelah ia lulus sekolah SMA dan Minho lulus kuliah, ia dan Minho akan melangsungkan pernikahan. Jadi apa salahnya mencintai calon suami sendiri dari sekarang?. Ia bahkan tak masalah ketika orangtuanya menyuruhnya menikah muda. Asal bersama Minho, Taemin akan melakukan itu dengan senang hati. Karena menurut Taemin, Minho juga pastilah memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Buktinya Minho selalu menuruti apa yang ia minta, membelikan barang yang ia inginkan bahkan ketika ia tak meminta. Dan lagi, sikap Minho yang selalu baik terhadapnya. Tidak salah jika Taemin mengartikan sikap itu sebagai balasan perasaan dari Minho. Meskipun sampai saat ini tak pernah ada pengakuan dari keduanya, namun apalah arti sebuah ucapan, bukan kah cinta itu bukan sekedar kata-kata?

         Yah, awalnya Taemin berfikir seperti itu. Namun, sejak satu bulan yang lalu Taemin menyadari bahwa pemikirannya selama ini keliru.

       Satu bulan yang lalu~

       Siang itu, Taemin sedang makan di temani Minho di sebuah cafe. Ia yang 30 menit lalu baru saja pulang sekolah meminta Minho yang memang -selalu- menjemputnya untuk mampir dulu ke sebuah cafe. Pasalnya, sewaktu istirahat di sekolah ia tak sempat makan di kantin karena harus mengerjakan beberapa tugas di perpustakaan.

       “Hyung, setelah makanan ini habis, boleh aku meminta ice cream?” pinta Taemin pada Minho yang duduk di depannya.

        Minho yang saat itu tengah asyik bermain dengan ponselnya hanya menatap Taemin sejenak lalu mengangguk dan tersenyum.

        “Eum, tentu” jawab Minho lalu kembali pada aktivitas semulanya.

         Selalu sepert itu. Hal yang mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa Taemin bisa menyukai Minho  adalah karena namja di depannya ini selalu bisa membuatnya senang, selalu mengabulkan permintaan Taemin tanpa protes, selalu tersenyum dan meng’iyakan kemauannya.

      Taemin langsung memanggil pelayan saat itu juga dan mulai membuka-buka menu ice cream yang di berikan pelayan cafe itu.

        “Eung… Aku pesan–“

        “Soojung?” ucap Minho tiba-tiba yang langsung saja membuat omongan Taemin terputus.

         “Soojung?” ulang Taemin heran lalu mengalihkan pandangannya ke arah Minho di depannya, namun Minho yang di pandangnya justru melihat ke arah lain, membuat Taemin ikut melihat juga arah pandang mata Minho.

         Di belakang Taemin, berdiri seorang yeoja yang mengenakan pakaian serba pink, rambut merah bergelombang, tubuh langsing, dan badan tinggi, tengah mematung melihat kearahnya. Bukan, lebih tepatnya ke arah Minho.

       Taemin lalu kembali melihat kearah Minho, dilihatnya Minho yang masih belum merubah ekspresinya. Ekspresi yang sulit Taemin baca.

         “Hyung apa dia–“

Teman mu? Itulah kata-kata yang ingin Taemin tanyakan pada Minho, namun pertanyaannya lebih dulu terpotong oleh ucapan yeoja di belakangnya.

         “Hai Minho, lama tak berjumpa” ucap Yeoja itu manis. Suara yeoja itu begitu lembut hingga terdengar begitu manis.

         Minho yang memang menjadi objek pertanyaan yeoja itu tersenyum seketika. Bahkan senyumnya kali ini terlihat berbeda.

          “Ne Soojung-ah lama sekali” jawab Minho lalu bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Soojung untuk duduk di kursi di samping Taemin. Tanpa bertanya pada Taemin.

           “Soojung-ah kapan kau pulang?” tanya Minho lagi.

Yeoja yang Minho panggil Soojung itu tersenyum sekilas sebelum mulai menjawab pertanyaan Minho. Tidak butuh waktu lama untuk membuat Minho dan Soojung menghidupkan suasana diantara mereka. Bahkan sekarang Minho mulai memberondong yeoja di depannya itu dengan berbagai pertanyaan yang langsung di jawab cepat oleh yeoja itu tanpa harus berpikir lama. Dan tidak jarang, dari apa yang mereka bicarakan terjadi sebuah candaan yang akhirnya membuat mereka tertawa berdua. Seolah tak ada oranglain yang duduk semeja dengan mereka saat ini.

        Taemin yang saat ini sudah mulai memakan ice cream hanya sibuk dengan ice cream nya saja. Dari apa yang ia dengar dari obrolan dua orang yang ada di samping dan di depannya, Teamin tahu bahwa yeoja bernama Soojung itu merupakan teman semasa SMA Minho yang setelah lulus sekolah melanjutkan kuliah nya di Jepang. Namun bukan hanya itu saja yang Taemin tangkap dari obrolan mereka.

         Hari ini, untuk pertama kalinya Taemin melihat sosok Minho yang berbeda. Minho yang banyak bicara, Minho yang ternyata suka tertawa dan tidak hanya tersenyum, juga Minho yang menatap langsung lawan bicaranya saat ia berbicara.

         Taemin melihat sosok Minho yang lain dari sosok Minho yang selama ini ia kenal. Sikap yang Minho berikan pada yeoja di depannya sungguh berbeda dengan yang biasa Minho berikan padanya. Namun ada hal lain yang tiba-tiba saja membuat hati Taemin serasa teriris begitu tipis. Binar mata Minho terlihat begitu hidup ketika ia menatap yeoja itu. Binar mata itu tak pernah sekalipun Taemin lihat kecuali hari ini. Binar mata itu…. Penuh kerinduan.

         Dari sejak saat itu, Taemin akhirnya menyadari satu hal. Perasaanya selama ini tak pernah terbalas.

         “Permisi, boleh menggeser sedikit?” tanya seorang namja berbadan besar yang akhirnya membuat lamunan Taemin buyar.

        “Ah ne, mianhae”

        Taemin lalu memberi ruang bagi namja tersebut untuk lebih leluasa berkaca di depan cermin.

         Taemin melihat jam tangan kuning nya sekilas. Rupanya sudah hampir sepuluh menit lebih ia berdiam di toilet. Taemin lalu buru-buru keluar meniggalkan tempat itu dan berjalan kembali ke mejanya. Namun setibanya disana, Taemin tak mendapati Minho di meja itu.

        Ia lalu menebar pandangannya ke seluruh sudut cafe. Menelisik dengan seksama sampai akhirnya ekor matanya menangkap sosok Minho tengah berdiri di luar depan pintu cafe.

       Taemin menyipitkan matanya sekilas. Heran dengan apa yang Minho lakukan disana. Lalu tanpa berfikir panjang lagi Taemin lantas berjalan menghampiri Minho.

          Dari jarak sekitar dua meter akhirnya Taemin tahu bahwa Minho tengah berbicara lewat ponselnya. Dengan siapa Minho berbicara tentu Taemin tidak tahu, yang ia pikirkan adalah mengapa Minho harus meninggalkan meja untuk sekedar menerima telpon? Mengapa harus beranjak dan memilih tempat yang cukup jauh dari tempat mejanya berada.

         Taemin menghentikan langkahnya dan berdiri beberapa langkah di belakang Minho. Dari sini Taemin dapat mendengar percakapan Minho dengan seseorang di sebrang telpon nya.

            “Ne, mianhae aku ingin sekali datang ke pesta ulang tahunmu, tapi aku sudah lebih dulu ada janji bersama Taemin. Aku janji akan menebusnya Soojung-ah”

           Soojung??

            Deg!

            Bahkan ketika Minho bersama Taemin, Minho masih saja membuka ruang untuk yeoja bernama Soojung itu masuk diantara mereka.

        ‘Aku ingin sekali datang ke pesta ulang tahunmu, tapi aku sudah lebih dulu ada janji bersama Taemin’

Perkataan itu, mengapa begitu terasa panas di telinga Taemin? Saking panasnya hingga Taemin tak mampu melupakan kata demi kata yang tersusun dari kalimat itu?

         Bukankah arti sebenarnya dari kalimat itu sama saja dengan ‘Minho terpaksa bersama dirinya malam ini’

Taemin mengepalkan tangannya kuat. Menghilangkan rasa gemetar yang menyerangnya tiba-tiba. Apa yang harus dilakukannya kini?

            Mengapa ia merasa dirinya seperti pengunjung baru di negeri asing?

Ia tak tahu apa-apa, tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini tersesat. Dan namja yang masih sibuk dengan teman di telponnya itulah yang membuatnya tersesat sejauh ini.

Taemin melangkah semakin mendekat. Kini samar-samar ia dapat mendengar suara lembut Soojung dari ponsel Minho. Bahkan di dalam ponsel saja suara yeoja itu terdengar begitu lembut. Tak jauh beda lembutnya dari nada bicara Minho pada yeoja itu.

           “Ne Soojung-ah, annyeong”

Minho mengakhiri telponnya, ia menatap layar ponselnya sekilas lalu memasukkan ponsel itu ke saku celana nya.

Sementara Taemin, ia cepat-cepat berbalik lalu berjalan kembali ke meja nya. Ia mengatur nafasnya pelan. Mencoba menyembunyikan apa yang ia dengar.

           Tak berapa lama, Minho pun kembali ke mejanya. Ia melihat Taemin sudah duduk manis di kursi itu.

           “Oh, mianhae Taemin, tadi aku menerima telpon dulu” ujar Minho setibanya disana lalu kembali duduk di kursinya.

           “Gwenchana Hyung, aku juga baru kembali”

      Taemin mengatur nafas sejenak. Menimbang-nimbang tentang apa yang ingin ia katakan pada Minho yang sekarang sudah kembali memotong steak nya. Dan tepat ketika Minho akan memasukkan steak itu ke dalam mulutnya, Taemin berbicara.

             “Hyung aku ingin pulang” ucapnya cepat membuat Minho sontak mengangkat kepalanya dan kembali menaruh garpunya di atas piring. Membiarkan steaknya tetap tertusuk di garpu itu. Belum sempat ia makan.

         “Apa?”

          Minho menaikkan sebelah alisnya “Pulang?” tanyanya mencoba memastikan apa yang ia dengar.

         Taemin menghela napas sebentar lalu mengagguk mantap.

          “Ya Hyung! Pulang,makanan disini tidak enak, aku juga lelah, ingin segera istirahat” setelah mengatakan itu, Taemin lalui berdiri dari kursi dan beranjak menuju keluar. Tak memberi kesempatan Minho untuk sekedar menjawab atau bertanya lebih lanjut. Ia tahu, setidaknya ia tak harus membuat Minho menemaninya lebih lama.

       Minho yang masih duduk di kursinya mengikuti kepergian Taemin dengan ekor matanya, ia menatap punggung namja mungil yang mulai menjauh itu.

         ” Jinjja Lee Taemin, kau mempermainkanku” gumam Minho pelan lalu beranjak dari kursinya dan berjalan keluar mengikuti Taemin yang sekarang tengah duduk manis di mobilnya.

***

          Bel sekolah Taemin baru saja berbunyi. Menandakan bahwa kegiatan belajar di sekolah itu telah usai.

Taemin keluar dari kelasnya. Ia ingin segera pulang namun hujan yang tiba-tiba saja turun memaksanya untuk diam di sekolah lebih lama. Sekedar untuk menunggu hujan reda.

         Tiga puluh menit berlalu, dan hujan tak kunjung reda. Mau tak mau Teamin memutuskan berlari hingga keluar gerbang dengan menggunakan tas ranselnya untuk menutupi kepalanya agar tidak terlalu basah.

Ia lalu berhenti di sebuah kedai di depan sekolahnya. Disana, ia diam memerhatikan ponselnya yang sedari tadi ia genggam. Ia ingin menelpon Minho dan meminta Minho untuk menjemputnya. Namun secara cepat perasaan ragu dan takut merayapi hatinya, membuatnya mengurungkan kembali niatnya itu.

          Taemin mendongak melihat langit yang penuh dengan gumpalan awan hitam. Jika dulu tanpa memintapun Minho akan telaten menjemputnya, akhir-akhir ini ia bahkan bertemupun sudah jarang. Sejak malam perayaan dinner waktu itu, entah mengapa Minho terkesan seperti menghindar darinya. Sebenarnya sejak kehadiran Soojung pun Minho terasa begitu jauh dan sering lupa menjemputnya, namun puncaknya adalah setelah dinner malam itu.

          Taemin ingat betul, Ia dan Minho bahkan pernah bertengkar gara-gara Minho tak bisa menjemput Teamin setelah kejadian malam itu. Dan Taemin tentu tak ingin kejadian itu terulang kembali.

          Namun hujan tak kunjung reda. Haripun semakin gelap. Mau tak mau Taemin akhirnya memencet dial panggilan no satu ‘Minho Hyungie

          “Yoboseyo”

           Suara bass Minho terdengar di sebrang line telpon. Taemin menghela nafas sejenak sebelum mulai berbicara.

           “Eumm.. Hyung, bisakah….”

          Namun yang terjadi setelahnya, perbincangan yang terjadi diantara mereka tak jauh berbeda seperti perbincangan-perbincangan sebelumnya. Perbincangan yang akan berakhir dalam pertengkaran jika tak ada salah satu diantara mereka yang mengalah. Jika dulu Minho yang akan terus mengalah dan akhirnya menuruti permintaan Taemin, kali ini terbalik sudah. Taemin yang jika Minho sadari akhir-akhir ini sudah tak lagi sering merajuk dan bersifat manja kepadanya mulai bisa belajar bagaimana caranya ‘mengalah’

           “Gwenchana Hyung, aku bisa pulang sendiri, sampai jumpa”

Taemin mengakhiri telponnya. Ia memasukkan ponselnya ke saku blazer nya lalu mulai beranjak dari kedai itu. Satu jam berlalu dan hujan belum juga reda. Berbekal sebuah tas ransel yang ia gunakan kembali sebagai penutup kepalanya ia memutuskan untuk pulang.

           Kakinya ia tapakkan menyusuri pinggiran-pinggiran depan toko untuk menghalangi jatuhnya air di kepalanya. Tas ranselnya sudah terlalu basah dan Taemin tak mungkin menggunakannya lagi mengingat banyaknya buku yang ia simpan di tasnya itu. Taemin anak yang pintar, tentu ia memerhatikan buku pelajarannya.

       Taemin  diam sejenak di depan sebuah cafe untuk sekedar berteduh dan menunggu taxi. Ia memeluk lengannya sendiri, mencoba mencari kehangatan lewat dekapan tangannya itu. Namun nihil. Angin yang berhembus kencang bersama tetesan hujan terlalu mendinginkan tubuh dengan semilirnya. Membuat Taemin sedikit menggigil.

       Di saat seperti ini, tiba-tiba Taemin merasa perutnya menjadi lapar. Mungkin karena pengaruh udara dingin. Sudah bukan hal aneh lagi jika saat udara dingin perut akan semakin sering terasa lapar. Dan mungkin itu yang terjadi padanya.

       Taemin melirik jam tangannya sekilas. Masih pukul 05.12 pm KST.

       Taemin akhirnya memutuskan untuk mengisi perutnya dulu di sebuah cafe yang halaman depan nya sudah sedari tadi ia jadikan tempat berteduh. Ia beranjak menuju pintu masuk. Namun ketika ia baru mencapai beberapa langkah di depan pintu, matanya menangkap sosok seorang namja yang tengah duduk di sudut cafe bersama seorang yeoja di depannya. Meskipun hanya terlihat dari samping, namun Taemin tahu benar bahwa namja itu adalah Minho, dan yeoja yang duduk di depan Minho adalah Soojung.

        Taemin mematung di tempat. Ia enggan untuk melanjutkan langkahnya karena tiba-tiba saja pandangannya memburam oleh setitik air yang entah sejak kapan hadir di kelopak matanya. Tak butuh waktu lama untuk membuat setitik air itu menggenang dan akhirnya jatuh melewati pipinya.

         Pada matanya yang mengabur oleh air mata. Taemin melihat Minho mengusap puncak kepala Soojung dengan lembut. Sangat lembut dan terlihat begitu mesra.

           Taemin menggigit bibir bawah nya pelan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak terima. Ia sungguh tak terima dengan apa yang matanya lihat. Bukan, bukan tentang Minho yang memperlakukan Soojung dengan mesra, bukan tentang Minho yang makan berdua dengan orang lain. Namun ia tak terima dengan kebohongan yang Minho lakukan terhadapnya.

            Taemin masih mengingat dengan jelas apa yang Minho ucapkan sebagai alasan tak bisa menjemputnya hari ini. Dan pada kenyataannya apa yang Minho ucapkan sungguh berbeda dengan apa yang Minho lakukan saat ini.

           “…mianhae Taemin, aku ada urusan di kampusku, sepertinya aku akan pulang larut dan tidak mungkin sempat menjemputmu hari ini…”

            Urusan di kampus?

            Pada kenyataannya Minho tengah berada di cafe saat ini. Bersama Soojung.

O-oh Soojung. Meskipun tidak tertarik, Taemin sebagai namja pun mengakui betapa cantiknya yeoja itu.

Tak heran bahkan jika mungkin Minho menaruh perasaan terhadap yeoja itu.

           Taemin akhirnya memutuskan untuk kembali keluar dari cafe itu. Ia tak peduli dengan lapar yang masih menyerangnya. Rasa lapar itu terganti dengan rasa sakit yang kian menghimpit dadanya.

            Rasa sakit nya itu, terjadi bukan hanya karena Minho yang mungkin saja memang mencintai orang lain. Rasa sakit nya ini terasa lebih perih. Lebih perih karena untuk pertama kalinya Minho berbohong terhadapnya.

            Selama ini, Taemin sudah mulai mempersiapkan dirinya untuk siap di tinggalkan Minho. Ia sudah mulai belajar bagaimana caranya untuk tetap tersenyum ketika saatnya tiba Minho mengakui perasaanya bahwa ia mencintai orang lain.

          Namun yang tidak Taemin persiapkan adalah, ia tak belajar dan tidak mengetahui bagaimana caranya mengobati rasa sakit yang sekarang ini ia rasakan.

          Taemin berlari menorobos hujan. Ia tak lagi memikirkan baju atau tas ranselnya yang akan basah. Karena untuk hari ini, untuk pertama kalinya Taemin menyukai hadirnya hujan yang membasahi tubuhnya. Setidaknya, ia merasa bahwa langit pun ikut merasakan rasa sakit yang ia rasakan. Langit ikut menangis dan mengeluarkan hujan yang pada akhirnya menyapu air mata yang membasahi pipinya.

TBC

Salam cinta 2min shipper🙂

Terimakasih atas apresiasinya terhadap karyaku yang tak seberapa.

Maaf untuk typo TT

Siapa tahu ada yg ingin saling berbagi cerita >> @Metaemin24

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

2 thoughts on “Heart [1.2]

  1. Pairing namja namja, orang tua mereka menjodohkan antara anak lelaki dengan lelaki?
    Binggung juga jalan pikirnya?
    Lanjutkan author

    1. aku rasa mereka ga tau klo anak mereka ternyata sama-sama namja, makanya mereka udah jodohin disitu tertuliskan “bahkan sebelum kami lahir” klo ga salah

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s