Beauty And The Beast

Beauty and The Beast

Title                : Beauty and The Beast

Author            : Keyeoja / Keyanae

Main Cast      : Lee Taemin (a.k.a Nikky), Kim Aeri (OC)

Support Cast : Kim Kibum (a.k.a Aiden)

Length            : 1.129 words

Genre              : Romance, fluff (maybe?)

Rating             : PG-13

A/N                 :

Hello readerdeul~~ ^^

Sebelum kalian ngebaca ff abal buatanku ini, mungkin ada baiknya aku ngenalin diri. Cybername saya Keyeoja atau Keyanae. Ini ff pertama yang aku publish di dunia maya (selain yang ada di blogku). Aku masih pemula dalam urusan tulis menulis, dan juga mungkin ffku yang ini agak abal dan pasaran, karena ini juga sebenernya tugas cerpen bahasa Indonesiaku  yang dibikin dengan setengah hati #heh –“

Aku udah lama kenal SF3SI tapi baru sekarang berani nongol, biasanya cuman jadi Anon reader a.k.a silent reader *ditimpuk author sejagad raya SF3SI*Mianhae *bow 90 degree* tapi janji deh mulai sekarang bakal berenti jadi sider.

Maaf cuap-cuapnya kepanjangan, silahkan menikmati. Kritik dan saran dibutuhkan ^^

 

JANGAN PLAGIAT!!

“Kalau kali ini kau gagal lagi. Aku benar-benar tak tahu bagaimana cara membantumu lagi”, Nikky menghela nafas mendengar apa yang Aiden katakan. Nikky akan menembak Aeri hari ini. Jujur saja, sebenarnya, pemuda itu sudah sering merencanakan pernyataan cintanya kepada gadis bernama Aeri yang merupakan sahabatnya semenjak kecil itu, tapi semua usahanya selalu gagal, dan semua kegagalan itu biasanya disebabkan hal-hal yang sangat konyol.

Nikky ingat, bagaimana pernyataan cinta pertamanya kacau karena ia tak sengaja terkena flu dan bersin-bersin selama ia mengungkapkan perasaanya, dan Aeri bahkan tidak memahami satu pun yang Nikky ucapkan gara-gara bersin sialan itu.

Nikky juga ingat bagaimana dia mengacaukan pernyataan cintanya yang kedua saat ia melemparkan kerikil ke arah jendela kamar Aeri saat malam minggu, tujuannya sih untuk sekedar memberitahu Aeri kalau ia sedang berada di luar. Tapi entah memang Nikky yang bodoh, atau memang karena sial, kerikil yang dilemar Nikky, berukuran cukup besar untuk bisa disebut kerikil. Bukannya memberi tanda keberadaannya, dia malah membuat jendela kamar Aeri pecah. Dan ia harus bersembunyi agar terhindar dari amukan abang Aeri yang membawa sapu dengan tampang seram keluar rumah.

Belum lagi pernyataan cintanya yang ketiga, keempat, kelima, hingga kedelapan. Mengingat itu semua membuat Nikky meneguk ludahnya dengan susah payah. Dia tak ingin ada kejadian konyol lagi, sudah cukup Tuhan menyiksanya dengan delapan pernyataan cinta yang gagal karena hal konyol itu. Dia benar-benar tak tahu dosa apa yang dia lakukan hingga Tuhan begitu tega mempermalukannya di depan Aeri hingga delapan kali, ia hanya ingin pernyataan cintanya yang kesembilan ini tidak berakhir dengan konyol.

Nikky tidak berharap yang muluk-muluk kok, pemuda itu hanya ingin prosesi pernyataan cintanya berjalan lancar dan mudah, serta sebuah penerimaan dari Aeri, dengan sedikit bumbu romantis. Apa permohonannya cukup berat untuk sekedar dikabulkan dengan mulus oleh Tuhan?

“Nikky, sekali lagi aku mengingatkanmu. Kalau kali ini kau gagal lagi, aku benar-benar tak tahu dengan cara apa lagi aku akan membantumu”, Aiden berkata dengan nada sedikit mengancam. Bukan salahnya kalau dia berkata begitu pada Nikky, tapi dia juga sudah lelah melihat usaha Nikky yang selalu berakhir konyol dan tidak membuahkan hasil yang baik. Aiden bukannya sahabat yang tidak setia, tapi batas kesabarannya pun juga ada.

Aiden benar-benar tak habis pikir bagaimana usaha Nikky selama ini selalu berakhir aneh dan hampir saja mencelakai Nikky dan juga dirinya. Dan bagaimana otak Aeri, sang gadis cantik pujaan Nikky itu tidak bisa menangkap perasaan Nikky padanya setelah delapan kali Nikky gagal menyatakan cintanya.

Kalau mereka akhirnya bersama dan menjadi pasangan, aku tidak tahu akan seberapa aneh akhirnya nanti, bathin Aiden, seraya menggelengkan kepalanya sambil memandang Nikky yang berjalan menjauh, yang berusaha mendekati Aeri.

***

“Aeri”, Nikky memanggil Aeri dengan hati-hati, seolah-olah nama gadis itu begitu rapuh untuk sekedar terlontar dari bibirnya. Gadis yang memiliki nama Aeri itu menoleh, mendapati Nikky yang terlihat sedikit gugup yang memanggilnya tadi.

“Ya, ada apa Nikky?”, Aeri balik bertanya. Raut wajah heran terukir di wajahnya. Tidak biasanya Nikky segugup ini. Tampang Nikky yang gugup dan gelisah cukup menjadi perhatian dan sebuah tanda tanya bagi Aeri.

Nikky bergerak-gerak dengan gelisah, tak tahu harus berbuat apa. Semua skenario tentang bagaimana-menembak-Aeri-dengan-baik-dan-benar hilang dari kepalanya, semua latihannya di depan cermin selama berhari-hari menguap dan benar-benar tak membantu sama sekali. Aiden yang melihat hal itu hanya bisa menggeleng dan menundukkan kepalanya pasrah. Benar-benar merasa malu dengan sikap sahabatnya itu.

“Aku mau bicara sebentar, kau punya waktu?”, Nikky benar-benar berusaha sekuat tenaga melawan rasa gugup dan gelisahnya. Aeri hanya mengangguk sebagai jawaban, dan mengikuti Nikky yang berjalan di depannya. Mereka berhenti di depan perpustakaan.

“Kau mau bicara apa sih?”, Aeri yang penasaran tak tahan lagi untuk bertanya. Namun Nikky hanya diam, ia menarik sebelah pergelangan tangan Aeri dan menariknya masuk ke dalam perpustakaan yang suasananya sedikit sepi, Nikky baru berhenti menyeret Aeri setelah sampai di depan salah satu rak yang ada di perpustakaan.

“Nikky? Kau mau ngomong apa?”, lagi Aeri bertanya. Sungguh, gadis itu benar-benar penasaran dengan sikap Nikky yang aneh dan di luar sikap normal. Namun Nikky hanya diam, tak berniat untuk menajwab pertanyaan Aeri dan malah mengambil salah satu buku dari rak yang ada di depannya, dan menyerahkan buku itu pada Aeri.

Aeri membaca judul buku itu, Beauty and The Beast. Dongeng kesukaannya dan Nikky, tapi tetap saja Aeri tak mengerti maksud Nikky dia menoleh pada Nikky dengan raut kebingungan di wajahnya.

“Nikky, mak—”, kata-katanya terputus saat ia melihat apa yang dilakukan Nikky. Nikky berlutut di depan Aeri, sambil memegangi sebuah toples transparan tertutup yang berisi sekuntum mawar merah segar yang disodorkan ke arah Aeri.

“We are like the characters in that story, I’m the Beast and you are the Beauty. So, Beauty, the Beast is falling in love with you, can you accept his feeling?”, Nikky bertanya dalam bahasa Inggris yang fasih. Dia benar-benar berada di puncak kegelisahannya saat ini, dia takut hal konyol akan terjadi lagi. Sementara itu Aeri terpaku di tempatnya berdiri, tidak mampu berkata-kata. Gadis itu benar-benar tidak menyangka kalau Nikky akan melakukan hal seperti ini.

Nikky masih menunggu sebuah jawaban dari mulut Aeri, keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di keningnya. Sedangkan orang-orang yang ingin tahu berkerumun di sekitar mereka, membuat Nikky bertambah gugup.

Sayangnya, walaupun Aeri gadis yang pintar tapi otaknya justru malah jadi lemot di saat-saat krusial seperti ini, gadis itu hanya memandangi Nikky dan toples yang diulurkan Nikky kepadanya. Tapi tak lama kemuadian dia sadar, dan segera mengambil toples itu dari tangan Nikky, bersiap memberikan jawabannya pada Nikky.

“Nikky, maaf”, kata-kata maaf dari Aeri membuat Nikky menghela nafas, dia tahu akan seperti ini akhirnya. Berakhir konyol dan dipermalukan. Sekarang dia mulai menyesali sikapnya yang sok berani. Nikky sudah beranjak dan akan berbalik saat sebuah tangan mencegatnya, mengurungkan niatnya meninggalkan tempat itu.

“Aku belum selesai bicara”, Aeri berujar.

“Beauty and The Beast itu dongeng klasik kesukaan kita. Kamu nggak mirip Beast kok”, Aeri tersenyum, membuat Nikky ikut tersenyum, tapi kegelisahan kembali mengurung hati Nikky.

“Kamu lebih mirip poci teh, dibanding Beast”, kata-kata Aeri itu sontak membuat orang-orang yang melihat prosesi penembakan Nikky terkikik geli, begitu pun dengan Aiden, lelaki itu malah hampir tidak bisa menahan tawanya kalau saja dia tidak mengingat Nikky sedang dalam keadaan di ujung tanduk sekarang.

“Tapi nggak pa-pa. Lagipula, ending ceritanya Beauty and The Beast falling in love each other, and live happily ever after kan? Kalau gitu, aku mau ending cerita kita kayak Beauty and The Beast”, Aeri tersenyum. Nikky ikut-ikutan tersenyum mendengar jawaban Nikky. Tuhan ternyata mengabulkan doanya, Tuhan ternyata masih menghargai harga dirinya. Nikky senang, bahagia, gembira, ah nggak tau deh, pokoknya perasaan Nicky campur aduk.

Nikky segera memeluk Aeri, membuat para penonton tersenyum senang dan bersorak sorai. Tapi euforia itu tak berlangsung lama saat Mrs. Jung, penjaga perpustakaan yang terkenal killer di seantero sekolah datang dan menghunuskan pandangan tajamnya ke setiap siswa, tak luput Nikky dan Aeri. Ups, tampaknya ada yang akan dapat masalah.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Beauty And The Beast

  1. Aduuh, ini unyu sekaliii alamaaak…
    Ini anak bedua umurnya pada berapaan sih? 12 tahun kali ya? Beneran aku bayangin anak SD yg saling suka malah #dor!
    Untunglah nembak kesembilannya berhasil. Semoga aja dia gak dihukum gurunya ya..Trus langgeng sampai pernikahan #eh

    Ditunggu cerita lainnya Keyanae!😀

  2. wuih, ajaib si ntem 8 kali gagal nembak cewek, kayaknya harus masuk guiness book of record *bener ga nulisnya?*. khe khe, aku suka ceritamu thor! apalagi yang pas bagian nembaknya, keep writing thor!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s