Kacamata

KACAMATA

Main Cast:

  • Lee Jinki
  • His Girl

Support Cast:

  • Kim Jonghyun

Length: Oneshot

Genre: Semi-Romance, Life

Rating: General

~~~~~~~

 

Selama delapan tahun terakhir, Jinki tinggal di dunia yang teramat indah. Saat malam tiba, jajaran lampu di jalanan akan tampak memanjang, meluber bak luapan emas mengkilap dalam bohlamnya masing-masing. Ketika siang menjelang, matahari menyajikan berkas-berkas putih cemerlang, terlihat seperti jejak kaki malaikat yang baru saja turun ke bumi. Kabut tipis nyaris transparan selalu mengikuti ke mana mata Jinki menjelajah, menyelubunginya dari kenyataan tentang wajah nyinyir orang-orang, corat-coret tak senonoh di fasilitas umum, serta detail-detail kecil seperti karat dan bercak kotor. Jinki tidak pernah melihat itu semua. Ia memang tidak bisa melihatnya.

Bukannya tidak sadar, Jinki hanya enggan beralih dari dunia miliknya ini, yang hanya dimengerti oleh dirinya seorang. Selama ia masih memiliki Jonghyun, sahabat yang dengan senang hati menjadi matanya, ia tidak ingin mempertajam penglihatan yang mulai mengaburkan sebuah garis tegas menjadi layaknya bersitan kuas tipis. Cukup menunggu Jonghyun selesai membuat catatan—jika ia membutuhkan sebuah catatan—maka ia tidak pernah ketiggalan satu materi pun. Selama Jonghyun tak keberatan, Jinki juga merasa nyaman-nyaman saja dengan kondisinya.

Tapi malam ini, agaknya dunia kecil penuh fantasi milik Jinki harus diakhiri.

“Minus empat, silindris tiga perempat. Aku bertanya-tanya bagaimana kau bisa bertahan di kelas dengan kondisi seperti ini.”

Jinki hanya mendengus kecil, setelah memperhatikan uap putih napasnya meninggalkan permukaan kaca beralih melirik kekasihnya di bangku kemudi. Tangan putih mungil itu mencengkeram setir lebih kuat dari seharusnya. Barangkali kesal, tapi tidak menutup kemungkinan merasa bingung dan heran. Memang pantas merasa heran karena, selama empat tahun mereka bersama, tak ada keganjilan dari cara Jinki memandang sekitar.

“Jonghyun…,” Jinki merasa seperti anak kecil yang berusaha membela diri dari vas bunga yang ia pecahkan, “Jonghyun membantuku. Dia yang menawarkan diri.”

“Menawarkan diri?” Kekasihnya membuat suara decakan dan dengusan. “Jadi kalian bersekongkol?”

“Aku tidak melakukan tindak kriminal.”

“Tidak, tapi kau hanya menyiksa matamu. Kita tidak hidup di zaman purba, Jin, kacamata bukan hal yang memalukan untuk dikenakan—malah menjadi fesyen sendiri di kalangan selebriti muda,” kekasihnya mulai mengoceh, tanpa sadar melibatkan topik yang biasa digelutinya dalam pekerjaan paruh waktu di kantor majalah fesyen.

Iya, ya. Jinki tahu itu. Ia bukannya malu atau merasa enggan mengenakan alat bantu penglihatan, hanya saja, dengan begitu, berarti ia akan meninggalkan dunianya yang cantik dan bagai negeri dongeng—kabut, cahaya berhamburan, wajah orang-orang yang terlihat lebih tampan dan cantik. Mengetahui kenyataan, meski hanya sejenak, akan dapat merusak keindahan dunia tempatnya bergelung nyaman selama ini.

“… atau kau bisa pakai softlens. Tapi kupikir model kacamata yang kau pilih tadi bagus.” Kini pidato itu berakhir, menyisakan keheningan menggantung karena seharusnya Jinki memberi respon, apapun itu. Dengung AC sekaligus sayup-sayup musik country mengisi atmosfer yang mengepung mereka dalam Vios bercat hitam mengkilap keluaran tahun 2004 tersebut.

“Yah…,” gumam Jinki akhirnya, meski matanya tak juga lepas dari lampu-lampu kendaraan yang berpapasan dengan mereka. Tidak akan dimengerti orang lain, lampu putih membosankan itu akan terlihat seperti segi-banyak tak beraturan yang memukau, berangsur-angsur menjadi segi-empat, segi-tiga, lalu menyusut menjadi bongkah bundar lampu kala berada dalam jarak yang teramat dekat. Pereduksian galur-galur cahaya yang tersebar itu tidak pernah gagal menarik perhatian Jinki.

Vios berbelok di tikungan, lalu melambat setelah memasuki kawasan permukiman sederhana di pinggiran kota. Di depan pekarangan rumah bercat kuning cerah, kekasih Jinki menghentikan mobil. Memandangnya dengan tatapan tak terbaca.

Jinki tahu ia hanya akan mengurangi waktu tidurnya jika bertanya “ada apa”, maka ia melepas sabuk pengaman, tersenyum seolah tak menyadari sorot mata itu, dan berkata, “Terima kasih sudah mengantarku. Sampai jumpa besok.”

“Tunggu, Jin,” cegah gadisnya. Sebenarnya sentuhan ringan di lengan itu tak perlu, Jinki bahkan belum benar-benar mengumpulkan tenaga pada tungkainya untuk mengangkat tubuhnya keluar dari mobil.

Lelaki itu menoleh, menyipitkan mata agar semakin fokus pada wajah kekasihnya. Oh, dia dapat melihat pipi gembil dengan mata sipit dan rambut lurus dipotong sebahu—gadisnya tidaklah secantik para model ataupun selebritis, tapi dia berhasil memikat Jinki begitu saja.

“Ada apa?”

Gadis itu agak ragu pada awalnya. “Kau… selama ini kau bisa melihatku, kan?”

Tawa Jinki pecah. Alih-alih mencondongkan tubuh ke kanan—ke luar mobil—ia menjulurkan kepalanya ke kiri dan mengecup kilat pipi kekasihnya. “Aku terpesona pada halo yang mengelilingimu, Sayang, bukan hidung bangir atau mata lebar.” Jinki menambah satu kecupan lagi pada pucuk hidung gadis itu.

“Dasar gombal,” olok kekasihnya, tetapi tetap tersipu malu. “Sampai besok, Jin. Aku akan menjemputmu pukul tiga, seperti biasa.”

Jinki mengangguk, keluar, lalu memberikan lambaian tangan sebelum menutup pintu dan memandangi sampai Vios itu tertelan kegelapan malam—yang baginya hanya beberapa puluh meter di depan sana. Setelah benar-benar menghilang, senyumnya meredup dan ia mengembuskan napas pelan. Ia mulai bertanya-tanya bagaimana rupa dunia yang selama ini terpancang di depan mata orang normal.

~~~

Hal pertama yang Jinki perhatikan seusai mengenakan kacamata berbingkai hitam itu adalah wajah kekasihnya. Putih, bundar, dan menggemaskan seperti remaja. Ada binar yang tak pernah disadari Jinki sebelumnya di sepasang mata itu tatkala mereka saling beradu pandang.

“Astaga,” desah gadis itu. “Kau tampak semakin seksi dengan kacamata. Aku bersumpah.”

Jinki merengut, tak mengatakan apa-apa. Mobil melaju meninggalkan perumahan tempat Jinki tinggal seorang diri sejak menyandang status mahasiswa. Matahari bersinar begitu terik di atas, sedikit tergelincir ke barat. Meski terlapisi kaca  film, Jinki tetap merasa pening. Sakit kepala yang terasa asing baginya hingga ia merasa nyaris panik.

“Kau terlihat tidak senang, Jin. Padahal kini kau bisa melihat segalanya,” kata kekasihnya sambil membelokkan mobil ke tikungan. Kemarin, Jinki tidak akan menyadari banyaknya jumlah bekas sisa sobekan pamflet-pamflet yang ditempel di tiang lampu itu. Sampai kemarin Jinki mengira tiang lampu tersebut bersih dan tidak… seramai ini.

Kemudian Jinki mengalihkan tatapan ke luar jendela, ke arah jalan raya dengan pembatas beton di tengahnya. Karat di bemper, siluet pengemudi yang mengantuk dan berminyak, noda di kaca jendela, pesok samar di bagian pintu… Jinki melihat semuanya sekarang. Bopeng-bopeng dari realita yang selama ini teplester rapi  dan rapat oleh ketidakfokusan matanya.

Ia mulai merasa mual. Warna-warna yang berseliweran di sekitarnya sangat menusuk, cahaya matahari membakarnya, detail-detail kecil terasa memenuhi matanya. Ia bahkan bisa melihat tiap helai daun sesemakan di pembatas jalan. Terlalu ramai. Terlalu memusingkan. Rupanya ia terperosok terlalu dalam di dunianya sendiri tahun-tahun terakhir ini.

“Jin, kau tidak apa-apa? Kau terlihat pucat,” celetuk gadisnya, yang dengan sangat mengesankan dapat menyadari perubahan ekspresi Jinki sekaligus menjaga mobil tetap dalam lajur dan kecepatan yang tepat.

“Ya, mungkin hanya belum… terbiasa,” jawab Jinki serak. Ingin rasanya ia mencopot dua lensa cekung ini dan menggosok-gosok matanya, mengembalikan dirinya dari belenggu kecermatan dunia kepada kabut-kabut yang selalu menemaninya. Punggungnya semakin membelasak ke sandaran jok.

Tangan kekasihnya berpindah, dari setir ke paha Jinki, dan menepuk-nepuk pelan sarat rasa keibuan. “Kau akan terbiasa. Kau mudah beradaptasi, aku tahu itu.”

Jinki menggigit bibir. Ia mudah beradaptasi, karena ia tidak pernah dipusingkan oleh keberadaan tiap retakan dan lekukan yang jelek sekali pada aspal jalan raya. Entah bagaimana cara menyesuaiakan diri dengan pandangan yang sama sekali berbeda ini.

.

Man, kau tampan sekali!”

Jinki harus memegangi gagang kacamata agar tak terjatuh ketika Jonghyun merangsek dan merangkulnya dengan kekuatan berlebih. Ia tertawa garing, lalu menyamakan langkah lelaki yang lebih pendek itu menyusuri koridor menuju kelas mereka.

Oh, pernahkah ia menyangka bahwa tembok koridor yang mengepungnya berwarna oranya mencolok, bukannya warna krem lembut? Tidak, begitu pula dengan timbunan bungkus-bungkus makanan yang mengintip dari tutup sampah, jejak sepatu kotor pada lantai, juga noda-noda kotor pada sepanjang dinding. Ia selalu mengira koridor kampusnya ini adalah ruangan panjang yang elegan dan anggun.

Dan sahabatnya tidak setampan yang ia sangka. Ada kerut halus di antara alis karena banyak berpikir, juga bulu-bulu tipis di dagu, belum bercukur. Praktis, pandangan Jinki tentang Jonghyun yang tampan dan perlente bak aktor film action kini teruntuhkan. Ia sedikit tidak rela, tapi senang juga karena kepercayaan dirinya dapat sedikit meningkat ketika mereka berjalan bersisian.

“Baguslah, dengan begini aku tidak perlu meminjamkan catatan lagi padamu,” seloroh Jonghyun, mengabaikan tatapan Jinki yang tak terlepas darinya sejak lima menit lalu.

Perasaan bersalah menyiram dirinya bak air dingin. “Maafkan aku, sungguh,” sesalnya.

“Hei, aku hanya bercanda. Jangan dipikirkan, Kawan,” kekeh Jonghyun sembari melempar pantat ke bangku kayu di deret terakhir, tempat favoritnya. Jinki duduk tanpa suara di sebelahnya, lalu melempar pandangan ke depan, terkesima oleh ketajaman penglihatannya yang baru—ia bahkan dapat melihat garis kecil dari kapur luput terhapus dari papan tulis.

Terkesima, tapi tidak nyaman. Ia merasa apapun terlalu tajam dan tak pantas direguk ke dalam otaknya, termasuk belahan dada teman sekelas mereka yang kebetulan melintas. Menunduk, merasakan kacamata hampir melorot dari pangkal hidung, Jinki mengembuskan napas pelan.

Ia menyukai dunianya yang serba kabur dan berkilauan, tapi ia tahu tak bisa selamanya memiliki jarak pandang kurang dari sepuluh meter.

~~~

Terhitung lebih dari seminggu kacamata berbingkai hitam itu bertengger di pangkal hidung Jinki, selama itu pula ia menyaksikan berbagai hal remeh yang luput dari pengamatannya. Seperti bayi yang baru lahir, Jinki mengamati semua lebih lama dari seharusnya. Diam, berusaha memaknai, kemudian menahan diri dari desah nestapa yang mulai membandingkan antara dunianya dulu.

Sungguh mengejutkan realita yang terbentang di depan mata—atau kacamata—Jinki. Semuanya bergerak sedemikian cepat, tajam, dan egois. Tidak pernah sebelumnya ia menyadari betapa manusia gemar memasang tampang cuek dan tak peduli ketika berpapasan satu sama lain. Tidak pernah ia mengetahui bibir-bibir itu menggulir umpatan tatkala sebuah kesalahan kecil terjadi. Dan, tentu saja, ia juga tidak pernah menyangka betapa sering bola mata bergerak ke arah ponsel atau arloji, mengecek jam alih-alih saling bertegur sapa dengan orang di sebelahnya.

Jinki tidak bermaksud menghakimi seolah dia adalah orang paling kudus; ia hanya terkejut, itu saja. Bisa dibilang ia terjebak di masa lalu—delapan tahun lalu, ketika perkembangan teknologi tak sepesat sekarang—yang menjadi rentangan waktu para manusia lebih menjunjung tinggi nilai kepedulian dan sosial. Delapan tahun ia tumbuh menjadi remaja yang polos dan menyangka semua orang tetap seramah ketika ia masih sekolah dasar dulu dengan kemampuan penglihatan yang masih teramat jernih.

“Hai, Jin.” Gadisnya berjinjit untuk mengecup pipi Jinki ketika mereka bertemu di halaman kampus.

“Hei,” sapa Jinki serak, pening. Masih teringat barisan rumus yang memenuhi papan tulis tadi. Ia belum terbiasa dengan huruf-huruf kapur putih yang seolah menyala di papan hitam tersebut. Dulu, yang terlihat di sana adalah gambar rerumputan yang terpangkas rapi.

“Bagaimana harimu?”

“Melelahkan.” Kikik pelan dari sisi kiri membuat satu alis Jinki terangkat. “Apa yang lucu?”

“Ah, aku sudah menduga kau akan menjawab hal itu: melelahkan. Selalu sama tiap aku menanyaimu. Aneh, bukan?” goda gadis itu sambil mengerling.

Jinki memutar bola mata, mengambil-alih buku berat bersampul tebal yang dari tadi didekap kekasihnya. “Memang melelahkan. Kau tidak tahu perasaanku.”

“Masih menyalahkan lensa cekung itu?”

“Yah….”

“Jangan dipikirkan, kau akan terbiasa.”

“Aku merasa seperti baru saja terlempar ke mesin waktu,” gumam Jinki sambil mengulurkan tangan ke depan melewati bahu mungil kekasihnya, mendorong pintu kaca kafe favorit mereka agar gadisnya dapat masuk terlebih dulu.

“Apa yang membuatmu berpikir begitu?” tanya si gadis dan memilih duduk di salah satu meja kosong di dekat jendela.

“Ini bakal terdengar gila, tapi aku merasa benar-benar sumpek dengan orang-orang di sekitar sini,” kata Jinki lugas. Tidak pernah sebelumnya terbersit untuk menahan gagasannya dari gadis di seberang meja, senaif apapun itu.

“Hmm?”

“Aku baru sadar orang-orang di Seoul masa bodoh dengan sekitar mereka, maksudku, ayolah, kau tidak mungkin berjalan menunduk terus-menerus dengan telinga tersumpal earphone, kan?” Jinki membahas setitik ide yang bercokol dalam benaknya, yang turut berkontribusi dalam penyebab kepeningan tiada ujung ini.

Gadisnya menyerahkan pesanan kepada pelayan sebelum melipat lengan di meja, memajukan tubuh hingga aroma mint-nya dapat tercium jelas oleh Jinki. “Lalu?”

“Aku hanya merasa, ‘ah, jadi begini lingkungan tempat aku tinggal’. Sejujurnya ini agak mengejutkanku,” kata Jinki sambil melempar pandangan keluar. Ah, ia melihatnya lagi, tipe orang yang baru saja ia ajukan sebagai contoh. Gadis SMA yang berkutat dengan ponsel, berjalan cepat dan nyaris tak sadar teman-temannya membubarkan diri di tikungan terdekat.

Jinki merasakan dua tangan menyelimuti tangannya yang berada di atas meja. Ada remasan pelan di sana, lembut dan mengalirkan semangat. Ia menoleh, kekasihnya tersenyum kecil.

“Kau hanya terkejut, Jinki. Ini adalah kenyataan di sekitarmu yang belum kau sadari keberadaannya,” kata kekasihnya. “Kau tidak bisa menyangkalnya. Ini bukan hal yang tiba-tiba terjadi, Lee Jinki. Ini adalah kebenaran. Kenyataan yang luput dari pandanganmu beberapa tahun terakhir ini.”

Lelaki itu menunduk, memandangi garis-garis pembuluh darah kebiruan yang terlihat dari balik kulit putih gadisnya. Tanpa sadar bibirnya mengerucut. Ya, ia juga sadar semua yang baru saja dikatakan kekasihnya, ia hanya belum rela.

“Kalau kau menentang kenyataan, jangan bersikap seperti itu. Mudah sekali, kan?” kata kekasihnya ringan, mengakhiri perbincangan dengan melepaskan pegangan tangan dan meraih sumpit yang berada di atas mangkuk yang baru saja diantarkan.

Jinki tercenung agak lama. Menggigit-gigit bibir, lalu menoleh cepat kepada pelayan yang sedang meletakkan mangkuk di hadapannya. Sepersekian detik ia ragu, kemudian sepintas senyum kikuk tersungging di bibirnya.

“Terima kasih banyak.”

Pelayan itu sedikit terguncang akibat terkejut, namun membalas senyum Jinki dan berlalu pergi. Gadis Jinki tertawa kecil.

“Wah, wah.”

“Jangan tertawakan aku,” potong Jinki tajam, tetapi tersenyum di detik selanjutnya.

Jinki memang tak lagi tinggal di dunia yang indah dan menyenangkan. Tidak ada lagi cahaya memanjang, keremangan malam yang sendu, maupun paras orang-orang yang makin rupawan. Ia juga tidak menemukan kemulusan tanpa cela dari objek yang ia pandang, berkas sinar matahari yang lembut, juga hamburan benda-benda yang artistik meski misterius. Ia telah kehilangan itu semua, dunia di mana realita dan imajinasi dapat bercampur seliar yang ia inginkan.

Tapi setidaknya, di balik kacamata yang berat ini, ia dapat melihat bagaimana air muka keras menjadi lunak dengan seulas senyum yang cenderung kaku dan ragu. Masih satu orang, ia akan memastikan dirinya melihat yang lainnya.

..::END::..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

53 thoughts on “Kacamata

  1. Pendeskripsianny bagus, pemilihan diksi nya tepat, dan ide ceritanya jarang aku temukan.🙂 bnr2 sbuah realita khidupan, fakta. Baca setiap klimatny sprti baca novel, sip aku suka😉 aplgi maincast ny lee jinki😀 apapun ff ny asal dy maincast nya aku psti suka :* oke keep writing buat author , dtunggu karya selanjutnya😀

  2. kacamata oh kacamata..

    saya kalau nggak pake kacamata malah pusing, apalagi kalau lupa pake, papasan sama tetangga jd gk tau 0_0

    dengan ide yg sederhana gini, Zaky bisa bikin ff yg bermakna^^

    like it🙂

  3. Ceritanya detail bgt. Aku juga pke kacamata tapi ga separah itu. Bner klo baru make rasanya beda. Keep writing thor! Bagusss ini ;;)

  4. WOW. Ini cerita terkeren dari banyaknya cerita yang aku baca!
    Begitu detail dan aku suka itu!
    Semuanya bener-bener di gambarin dengan baik.
    Aku tunggu karya selanjutnyaaa~

  5. first of all, ini kereeen banget!!
    Aku suka ceritanya, sederhana tapi unik.
    Terus, aku juga suka cara penulisannya, cara author mendeskripsikannya detail banget.
    Lagi, ceritanya nggak buru2 dan santai.

    Oh ya, panggilan ‘Jin’ buat jinki dari ceweknya itu entah kenapa kelihatannya cool, dan aku nggak bisa berenti senyum ngebayangin jinki berkacamata, maklum aku glassesboy maniac, hee –a

  6. woww isi pesannya bener bener realita di sekitar kita😀
    aku suka ceritanya, suka pemilihan katanya, suka deskripsinya, suka castnya! wkwkwk author jjang
    ditunggu karya selanjutnya yaa

  7. Woaaaaaaahhhhh
    pendeskripsiannya detail,dan penggunaan diksi nya juga bagus.. Keren keren
    ceritanya juga aku suka, berasa real banget. Feel nya juga dapet.
    Ringan tapi menarik, pokoknya DAEBAK…
    Aku suka aku suka
    kekasihnya pengertian banget. Awalnya aku pikr jinki gak bisa gombal atau skinship tp ternyata hahahaha lucu…
    Author, ditunggu karya lainnya yang bagus. FIGHTING🙂

  8. wah,,, bagus banget, aku juga pakek kacamata sih.. cuma klo di kelas jarang bgt make’nya (aneh kan)
    kyk jinki sebelum pkk kacamata, aku suka minjem catatan temen -_-
    eh, kok jadi curhat, okedeh pokoknya ini daebak bgt! keep writing yahhh

  9. Nggak ada clue kalo ini ZaKy-ssi punya, dan aku juga nggak pandai menebak tulisan penulis yang sebelumnya pernah aku baca meskipun feel yang aku dapetin hampir sama waktu aku baca grafiti.

    Soal kepenulisan rasanya udah banyak yang komen jadi aku komennya soal genre cerita ini yang real life banget, ini bukan tentang cinta mainstream anak muda, tapi ini kehidupan sosial yang anak muda banget, dan bahkan bukan cuma anak muda yang sudah begini. Mudahan yang bca karya ZaKy jadi lebih peka sama lingkungan termasuk aku sendiri. This is Great ff, thanks for making this!

    Keep writing!

    1. Ahaha, ada degradasi antara Graffiti sama ini. Aku ngerasa payah banget nyusun kata-kata sekarang ._.

      And thanks for reading, Megian ^^ aku juga tunggu cerita kamu yang lain ^^

  10. Zaky-ah, Zaky-ah…

    Eh, kok malah kayak lagu dangdut arab yang sering diputer appa-ku…?

    Zaky…. Aku seneng banget deh, kamu akhir2 ini sering post cerita Jinki-ku…

    OUEMJI…. Oh, My Jinki…..
    Love this story very much….!!!
    Aku suka banget pendeskripsianmu tentang ‘dunia’ Jinki sebelum pakai kacamata dan setelah pakai kacamata
    Bener-bener detail dan mungkin gak terpikir oleh orang-orang yang bermata normal
    (Maksudnya mata orang yang gak minus….)
    Pemilihan kata, gaya bahasa, semuanya bener-bener pas….mantap….
    (Ni gak maksud promosi acara tv tertentu, ya….)
    Dan juga pinter, menurut aku…
    Aku sempet mikir, mungkin itu, ya, yang ada di benak para ‘minus-er’
    (Heh…? Istilah apaan, tuh?)
    Bahwa dibalik dunia mereka yang serba ‘gak fokus’ terkesan sempurna tanpa detail ‘cacat’…
    Aku pikir nih bisa jadi sedikit bentuk protes Zaky terhadap
    penuduk dunia yang makin individualis dan ‘ignorant’ di zaman gadget dan ‘streaming’
    alias serba cepat, instan, dan tanpa jarak seperti sekarang

    Bumbu romantis Jinki dan aku dalam cerita….
    (Eh, salah, yeojanya gak ada nama, ya…)
    juga buat jalan ceritanya makin kaya rasa….
    Sang yeoja sepertinya sangat memahami Jinki…
    (Aku juga memahamimu, yeobo… *gandeng Jinki)

    Ntar…, tuh siapa maksudnya yang sedikit berjanggut…?
    Jjong…? Masa iye…? Gak nyadar selama ini…
    Tapi Jjong beneran tampan lho, sejak Dream Girl…
    *dibully blingers…
    Jjong tampan dari dulu, kali, ya…. Mataku aja, yang selalu pakek kacamata kuda bergambar Jinki

    Singkat kate…
    Acung jempol deh buat Zaky di cerita ini….

    Keep writing…
    (9^__^)9

    1. sebenernya ini terinspirasi dari suatu saat aku jalan-jalan ga pake kacamata, dan baru sadar kalo, yah, semuanya keliatan lebih indah. Haha. Gataulah Jjong aslinya punya janggut apa enggak, aku cuma iseng (?) aja kok :3

      Makasih yaa ^^

  11. baca fanfict ini berasa baca novel. diksinya keren banget. pendeskripsiannya juga detail, bener-bener bikin pembaca bisa ikut ke dalam dunia Lee Jinki. ide cerita gak biasa + bahasa yang oke -> cerita ngalir, enak banget buat dibaca. daebak!

  12. “Dan sahabatnya tak setampan yang ia kira.” #ngakak #ditendangJjong
    FFmu emg keren y Zaky… ^^
    Heyyy Jinki, kebandelanmu susah pke kacamata persis ky aku. Udh pernah nyaris nabrak orang pas bw mobil, ttp aja ga mw pke kcmt silindris. hehe High-five dong Jin! #ditendangJinki #duakkkk

  13. AAAAAARRRGGGHHH!!!
    Zaky ya ampun *standing applause*
    ini sumpah lucu banget, so jinki *hayolo*
    kayak kebayang why jinki selalu jatoh-jatoh gitu karena matanya yang enggak beres begitu
    ini liatnya kaya jinki itu bayi yang lama-lama bisa ngelihat
    dan entah kenapa aku ngerasa dia holy bener hahaha
    kaget juga ya kayaknya dari dunia yang so pure terus mendadak tercemari sama hal-hal yang begitu

    aku nggak tau mau komen apalagi hahaha
    soalnya kalo diksi tralala itu udah kokoh terpercaya
    aku suka caramu ngegambarin kagetnya jinki trus pemikirannya kenapa dia suka sama dunia blur dia
    daebaaakkk
    keep writing dan semangat buat ujiannya!!!

    1. aaaaaw, kak Kuku ~ datang ke sini juga rupanya *hug*

      nah, semoga bukan gara-gara rabun dia sering kesandung gitu yaa, haha

      huhuhu, makasih yaa, jadi inget bentar lagi ujian T___T

  14. wow! so blur sight trkadang jauh lebih nyaman daripada clear sight ya? haha
    nice ff yang bikin aku lebih jeli tengok kanan kiri sampai speechless mau komen apa.

  15. keren. seriusan
    tata bahasanya bagus banget ngaliiiiiiiiiiir banget dari awal sampe akhir dan endingnya keren banget. pokoknya keren hoaaaaaaa

  16. Mungkin gak penting, tapi, fanfic ini yang bikin aku decide untuk stay di blog ini. Aku belum pernah (oke, dan memang sama sekali tidak mau awalnya) baca fanfic berbahasa Indonesia. Karena aku sama sekali juga belum lancar dan masih bingung dengan beberapa kata-kata sulitnya (aku nulis komentar disini, berjam-jam lamanya karena takut salah pilih kata, lol).

    Entah kenapa, aku dapat sampai di sini, trus fanfic yang aku baca pertama kali adalah Kacamata. Dan Author-nim harus tahu, first impression is everything to me. I mean, if the first story could have me intrigued THAT much, i will stick to the rest that much, too. Well, it depends, sometimes.

    Untungnya, Kacamata ini buat aku stay, trus subscribe.

    Pemilihan kata yang bagus, detail banget, dan memang menggambarkan apa yang dirasakan Onew tentang dunia nya itu. Jadi, pembacanya bisa ikut merasakan. Ketika aku lagi baca ini, aku senyum-senyum sendiri, mikir, “Score! That was so me when i had my first glasses…” Minus tiga perempat, dan aku juga benci pakai kacamata.

    Maaf komentarnya yang terlalu panjang. Aku apresiasi yang satu ini, Author! Makasih lho, sudah mau nulis cerita yang light kayak gini. Nothing better than a sweet-light story for a starter of the day, isn’t it?

    1. wah wah, jangan-jangan kamu bukan native indonesia? OuO;;

      aku merasa terhormat bisa jadi author dari fic yang bikin kamu subscribe blog ini. Ada banyak fanfic keren loh di sini, haha. dan mungkin memang sebagian besar orang yang pertama kali pake kacamata pasti mikir gitu juga, hehe.

      makasih ya sudah datang dan komentar ^^

  17. ASTAGA ZAKKKYYYYY
    Bisa-bisanya aku baru baca FF kece macem ini sekarang. Gilak, aku keterlaluan banget
    Kamu mau jadi MA sekalian gaaaaaaaakkkkkkk??? *founder nyusahin* hahaha

    Seriusan… ini masalahnya, eh maksudku, inti pembicaraannya sangat sederhana, tapi cara kamu ngemasnya tuh… wow *O*
    Ajarin aku please nulis sebagus ini… ._.v

    btw, kamu pake kacamata? minus 4, silindris 3/4?
    Aku gak pernah tahu dan penasaran… parahan minus atau sillinder sih?
    Karena… gini.. aku udah minus 2 sillinder 3 dari umur 9 tahun.. dan… yeah, jarak pandangku cuma sekitar 8 meter kalau lagi baik, dan sekitar 3 meter kalau lagi parah. Tapi aku gak pernah ngerasa burem dan gak pake kacamata. Kecuali pas main komputer, itu juga jarang.
    Dan yang aku penasaran… orang2 yg minusnya dan sillindernya masih dibawah 2 aja kadang burem pas lepas kacamata. Kamu gitu juga? aku sampe gak ngerti loh parahan minus atau silinder, dan ataukah angka sekedar angka, dan jarak pandang jadi berhubungan dengan ketergantungan mata akan lensa cekung itu
    eh.. kok aku jadi konsultasi mata gini sih ._. *salah fokus*

    Si Jinki itu komentarnya ngaco juga yah hahahha… Jonghyun aslinya tidak setampan aktor film xD
    dan aku kehabisan kata2 untuk komen karena aku telat banget dan ini sudah hampir sempurna, like really, aku bahkan belum bisa nulis yang begini ._.
    *peluk zaky*

    1. K-kak Lana, open invitation itu agak… O_O;;

      aku juga ga tau sih parahan mana minus sama silinder, tapi pas nyoba pake soft lens, minusnya harus ditambah soalnya aku punya silinder. Nambahnya pun lumayan banyak. Jadi mungkin… silinder? Tapi mungkin bener juga sih, tergantung sama sering enggaknya pake kacamata. Ah gatau ah, aku ga punya optik juga xD

      nooo, semua orang punya ciri khas sendiri pas nulis, huaha. Makasih sudah mampir, kaak *balas peluk*

  18. Oh sumpah aku tau apa yg Jinki rasain, karna aku juga belom lama pakai kacamata dan langsung dapet minus tiga dengan silinder haha. Jadilah sepanjang cerita ini aku senyum-senyum plus ngangguk-ngangguk karna yg dibilang Jinki tuh bener adanya. Daebak deh buat author😀 (y)

  19. kereeeennn banget.
    bener2 keren, aku jg berkacamata lho..
    iya pas pertama kali pake kacamata pusing.
    apa2 keliatan jelas banget, malah sampe silau.
    pernah jg aku lepas kacamata di angkot, eh malah kelewat wkwkwk :v
    aku udh bergantung sama kacamata jg sih, klw gak pake kacamata ntar disangka sombong, padahal mah gak keliatan orang itu siapa. jadinya selalu pke kacamata. nice ff, nice story (Y)

  20. kak zaky emang selalu sukses sih yaaa kalo buat ff
    ooooh ternyata gak pake kaca mata itu indah /?/ aku gak pake kaca mata sehari aja udah pusing,ngamuk, betek, lala yeyeye soalnya liat muka kecengan mirip amuba /eh/ berasa di dalem mikroskop gtu hnya warna warni tanpa bentuk wks…

    dari ceritanya aku baru paham gimana rasanya menikmati hamburan cahaya dan amuba amuba yang indah /?/ ini sarat makna banget ya ceritanya lope lope lope deh apalagi castnya jinki aaah udah deh emg seksi kalo pke kacamata wks xD

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s