Who I am? I am an Eve – SPY 13

By           : ReeneReenePott

Cast       : Key, Jessica, Jung Yoogeun, Ariana Clearwater, Chase Lee

Minor cast : Hero, Taylor Kim, Gyuri, Elias, Madeleine, Baek Chan Gi

Genre   : Alternate Universe, Fantasy, Mystery, Sad, Romance

Length  : Sequel

Rating   : PG – 15

Credit poster by : cutepixie artposter/pinkhive.wordpress.com

Credit Spells : Any spells that mentioned in this fiction are belong to JK Rowling in her Harry Potter novel series.

Disclaimer : This plot of fiction and the concept of creature “Eve” are MINE, except the casts and some knowledges—ReeneReenePott

SPY 13

Ariana si penyihir lagi-lagi bisa meng-Imperius serang pemilik hotel bintang tiga dan menyediakannya tempat untuk tinggal  dan makan. Hotel tersebut terletak mengarah ke jantung kota tapi sayangnya hotel tersebut sulit untuk dilihat, tersembunyi dari beberapa ruko dan bangunan, yang hanya dengan mata yang jeli bisa ditemukan. Gadis itu sedang bersantai di kamarnya, duduk di salah satu kursinya yang menghadap ke jendela. Di sampingnya ada sebuah meja dan secangkir kopi pekat. Tongkat sihir kayu ek nya berada di genggamannya, ia mainkan dengan jari-jari lentiknya.

Sekarang ia telah menemukan partner. Lee Chase, yang kini sedang bekerja sama dengannya. Ah, tidak. Yang sedang ia kendalikan. Baru pertama ini ia mengendalikan seekor serigala dan itu memang agak susah—namun semuanya lancar. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Api masih ada satu hal yang harus ia pikirkan. Koloni. Ia harus punya koloni atau “pengikut” agar bisa semakin kuat. Ia tak mungkin hanya mengandalkan Chase, kan?

Pintu ruangannya terbuka dan nampaklah Chase dengan wajah datar di depannya. “Kau sudah kembali? Kenapa cepat sekali?”

Chase diam dan tak mengucapkan sepatah katapun. Ariana berbalik menatapnya, dan tersenyum. “Tapi kerjamu bagus. Hei, kita harus menambah anggota lagi kan? Bagaimana dengan seorang penyihir lagi…” Ariana mengerutkan keningnya dan mulai bepikir, siapakah penyihir lemah yang sekarang sedang longgar dan bisa ia gunakan? “Seth Clearwater? Ah,  kalau begitu kita harus ke London, Lee,”

Sebenarnya, ada beberapa fakta di sini. Namun Chase menyimpannya erat-erat. Pertama Ariana mengikatnya dengan mantra Imperius Chase tidak langsung terkena. Ia shock. Tubuhnya menolak sihir itu, seperti penolakan sihir oleh elf. Tapi ia  terpaksa berpura-pura karena… Ariana akan melakukan hal gila. Ia harus mengambil venom vampire atas keinginan Ariana, dan apapun yang akan terjadi nanti ia akan memertanggung jawabkannya.

Dan fakta kedua, setelah Ariana menguatkan sihirnya atas Chase, barulah wererolf itu sepenuhnya terkena mantra Imperius. Namun, sebagai efeknya ia tak bisa berubah menjadi serigala semaunya. Ia tetap akah berubah tiap purnama namun akan berubah menjadi serigala liar.

Sekarang… Chase bahkan tidak mengenali siapa dirinya. Ia tak tahu siapa Jessica, dan siapa Key. Ia juga tidak tahu siapa Hero itu. ia hanya mengerti dan mendengarkan kata-kata si penyihir setengah veela itu. Dan Ariana tidak mengetahuinya.

__

Jessica merapikan coat hitamnya dan menggelung rambut blonde-nya sebelum memakai topi. Dengan sekali dengusan ia sudah melesat keluar dari kastil. Ia lapar, dan mangsanya telah menanti. Perjalanan ke Busan tidak akan memakan waktu lama baginya, kan? Keningnya berkerut tiap kali merasakan titik debu yang menghantam kulit wajahnya, namun ia terus berlari dengan lincah. Sudah lama ia tidak berlari seperti ini.

Baru beberapa menit ia berlari, terasa sesuatu seperti mengikutinya. Tidak dekat sih, sekitar 3 kilometer di belakangnya. Tapi baginya tetap terasa, bukan? Baunya seperti ia kenal… dan astaga. Anak itu. Untuk apa mengikutinya? Mengawasinya? Oh ayolah, ia lebih tua ratusan tahun dari bocah itu! kalau Taylor atao Gyuri yang mengawasinya sih wajar tapi…

“Hey, Jess. Menikmati perjalanan, eh?” Tuh kan, benar. Key sudah beberapa meter di belakangnya, berdesis pelan dan Jessica bisa mendengarnya. Jessica tidak menjawab karena perjalanannya makin dekat ke kota. Belum sampai Busan, masih setengah perjalanan lagi. Korea Selatan memang padat perkotaan. Seiring dengan larinya yangmakin melambat, Key semakin mensejajarkan langkahnya dengan Jessica. “Hey! Kenapa tidak menjawab?”

Jessica menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebagai pengalih konsentrasi. “Kenapa kau di sini?” akhirnya Jessica bersuara. Baiklah, baiklah. Ia mahkluk yang tak hanya membutuhkan cinta, jadi keadaan Key tidak terlalu memengaruhi keadaannya saat ini.

Key mengangkat bahunya. “Aku hanya ingin pergi. Melihat kau tidak ada, aku mengikutimu,”

“Kau cari mangsalah, tapi jangan mangsaku,” gumam Jessica pelan. Key berdecak.

“Siapa juga yang tertarik dengan mangsamu. Jantung seorang manula tidak begitu menggiurkan,” balas Key acuh. Jessica melirik sinis.

“Baiklah. Apa ada tujuan lain untukmu? Shopping?” interogasi Jessica lagi. “Hero tak mungkin menyuruhmu mengawasiku kan,”

“Hey, kenapa kau begitu meremehkanku hah? Aku dapat memangsa lebih lihai darimu,” cibir Key. Jessica megangkat sebelah alisnya sembari berjalan cepat di belakang gedung kota.

“Tetap saja, Hero tak akan pernah menyuruhmu mengawasiku. Buktinya kau juga diawasi Taylor, kan?” Jessica mendekatkan diri ke padang belukar yang semakin dekat, berlari semakin cepat lagi. Key mengikutinya dengan reflek.

“Kau benar-benar menyebalkan, Jess,” gerutu Key. “Kau benar-benar teman seperjalanan yang buruk,”

Jessica memutar kedua bola mata indahnya. “Kau juga bodoh, aku kan tidak mengajak siapapun untuk pergi, anak kecil!”

Whatever,” Key mendengus dan tetap mengikuti Jessica.

“Hey, kenapa kau tetap mengikutiku, sih? Aku akan ada di Busan sampai 2 hari,” cetus Jessica lagi. Key menatapnya enggan.

“Memangnya kenapa sih? Kau mengusirku?” Jessica terdiam tapi akhirnya ia membuang muka dan melanjutkan langkahnya.

“Bukan,” lirih Jessica kecil. “Aku takut aku semakin menyukaimu kalau kau selalu di dekatku,” lanjutnya.

“Apa?” tanya Key. Jessica mengangkat wajahnya lalu menggeleng kecil.

“Bukan hal penting,”

__

“Jelaskan.Padaku.Semuanya.Sekarang!” setelah menarik Madeleine ke ruangan sepi miliknya Hero langsung menyemburkan desisan yang amat sangat di tekan. “Madeleine! Jangan hanya diam!”

Elf itu merasa pusing sejenak ketika udara di sekitarnya menjadi berat, Hero sangat menekannya. Ia mengedip-ngedipkan matanya sejenak baru berani menatap Hero. “Kau bisa membaca pikiranku kan?”

“Tapi aku ingin kebenaran itu keluar dari mulutmu, Elf,” desis Hero lagi. Madeleine mendelik.

“Kau ingin semua tahu? Cukup dengan membaca pikiranku makau kau akan mengerti, Eve,” tukas Madeleine balik. Hero masih menatapnya tajam.

“Buat aku mengerti,” akhirnya Madeleine bernapas lebih tenang ketika nada Hero sudah lebih tenang. Ia memejamkan matanya lalu memutar segala sesuatu yang bersangkutan dengan Ariana, dari awal sampai terakhir ia bertemu penyihir itu. Tak ada satupun yang terlewat, ia usahakan itu. Pikirannya berhenti, baru ia kembali membuka mata dan menatap Hero.

“Harusnya kau bisa membaca pikiranku saat itu. Harusnya kau tahu bahwa aku sama sekali tidak tahu,” ujarnya ragu. Namun Hero bergeming dan tetap menatap Madeleine diam. “Katakan sesuatu! Aku bingung sekarang!”

“Kenapa kau baru memberitahukan hal ini padaku?” bisiknya. “Aku bisa memangkas mahkluk itu kalau kau bercerita dari awal!”

“Kupikir dia semacam ingin bertemu Key. Dan… aku sama sekali tak memberi informasi apapun padanya. Ia akhirnya mengetahui siapa Jessica dan…”

“Mengetahui siapa Jessica!” Hero berseru nyaring sebelum menatap Madeleine lagi. “Dia nampak bodoh, bukan? Dia tahu apa itu Jessica tapi menganggap Key masih setengah penyihir,”

“Karena Key berkata seperti itu,” balas Madeleine. “Lagipula, kalian tidak punya aura. Ariana tidak akan tahu sebelum dia melihat sendiri,”

“Kau tahu apa yang dilakukannya sekarang?”

Madeleine menggeleng sebagai jawaban. “Mengumpulkan koloni, mungkin. Kau tahu, yang dialaminya bukan cinta melainkan obsesi. Entah apa yang akan dia lakukan pada Key setelah mendapatkannya. Mengawetkannya? Memutilasinya? Mengawininya?” ungkap Madeleine pusing. “Hero, aku bingung. Sebenarnya tak apa dia mengetahui siapa kita tapi…”

“Tidak boleh. Mahkluk itu tidak boleh tahu. Dia terobsesi pada malaikat pencabut nyawa dan ingin memilikinya? Bah,” Hero membalikkan badannya lalu memutar otaknya. “Tapi yang jelas, kita harus melindungi Key. Kau tahu kan dia spesies kami yang pertama lahir dalam dua dekade ini,”

“Dia masih muda, dan tugasnya baru dimulai,” gumam Madeleine. “Ariana bukan manusia…”

“Aku tahu!” sela Hero. “Anak itu berbahaya. Aku tidak ingin ada perang tapi sepertinya aku mencium aroma perang. Ck! Menyusahkan sekali!”

Kening Madeleine berkerut. “Perang di abad ke-21? Hei, kau gila? Kau mau mengekspos keberadaan kita terang-terangan?”

“Tidak, tidak. Bukan seperti itu maksudku, tapi sepertinya akan terjadi sesuatu. Kau harus ikut membantu, gadis kecil,” Hero akhirnya melirik Madeleine dengan ujung matanya yang tajam, membuat yang ditatap ikut menyipitkan matanya.

“Baik!”

“Keluarlah, Elias mencarimu,” sahut Hero pelan. Madeleine menatapnya terang-terangan tanpa suara, lalu membuka pintu dan pergi.

“Dia tahu tentang Ariana?” tanya Minho langsung, pria itu bersandar di dinding sambil melipat kedua lengannya. “Apa reaksinya?”

“Dia tahu semuanya. Aku yang membiarkannya membacaku jadi…” kalimatnya terhenti sebentar, “Bagaimana menurutmu? Apa ini akan menjadi makin rumit? Jujur saja, aku yakin sekali Ariana akan membuat koloni khusus.”

“Hero meledak?”

“Tidak juga, dia hanya sedikit tegang. Well, kita tak pernah menghadapi mahkluk seperti ini, kan? Bagaimana kalau ia dan koloninya memiliki jenis yang sama? Apa kelemahan mereka?” oceh Madeleine, dia mulai lagi. “Ck, ini masalaah simpel tapi kenapa bisa jadi serius seperti ini sih,”

“Kalau begitu dibawa enjoy saja. Hei, kau mau jalan-jalan?” Madeleine menerjapkan matanya berulang kali mendengar tawaran Elias. Elf wanita itu hanya menatap Elias dalam diam.

“Apa? Untuk apa?”

Elias menghindari tatapan curiga Madeleine dan memalingkan wajahnya. “Kau tidak mau? Yasudah,” jawab Elias akhirnya, dan pergi menjauh. Meninggalkan Madeleine yang pusing sendirian.

__

Jessica dan Key jalan berdua menelusuri salah satu trotoar pertokoan yang terletak di pinggir kota Busan. Mereka melewati stand tteopokki dan Jessica menghentikan langkahnya sebentar. Kepalanya menoleh ke stand itu membuat Key bertanya-tanya karena Jessica jadi diam dan nampak sedang melamun.

“Jessie,” Key memanggil eve itu sambil menyentuh pundaknya. “Jess,”

“Oh?” Jessica langsung tersadar lalu menatap Key. “Ada apa?”

“Harusnya aku yang bertanya , Nona. Tempat tinggal korbanmu masih jauh, kenapa kau berhenti di sini? Hari akan semakin larut dan waktu semakin menipis,”

Jessica kembali menatap stand itu sekali lagi dan mulai berjalan, membuat kening Key merenyit heran. Ada apa dengan gadis ini? “Kau tahu, dulu aku pernah ditugasi memangsa seorang mahasiswa bernama Kim Kibum, dua puluh tahun lalu. Tapi aku tak bisa membunuhnya dan Hero yang melakukannya,”

Key hanya menyimak kata-kata Jessica, belum mau memberikan tanggapan. “Kenapa aku tak bisa membunuhnya? Itu karena salahku sendiri. Aku terlalu gampang mencintai, dan aku jatuh cinta pada Kim Kibum,” mata tajam Key menghujam ke trotoar di hadapannya, merasakan bahwa ia sedikit kesal karena Jessica menceritakan hal itu dengan emosional. “Kata Taylor, sifatku itu merupakan keturunan. Ibuku manusia. Ayahku seorang Eve yang dibunuh oleh Hero karena menikahi manusia tanpa sepengetahuannya. Anak Eve dan manusia hanya akan menjadi dua kemungkinan, Eve lagi atau manusia. Dan untungnya, aku Eve. Ibuku melahirkanku dengan memuntahkanku seperti Eve normal. Tapi, sifat manusianya terbawa padaku,”

Jessica terkekeh sebentar lalu melanjutkan, “Hero tahu. Dia memeliharaku dan ia sangat baik padaku. Kau mungkin berpikir bahwa aku pantas dibunuh karena kemanusiaanku itu, tapi sebaliknya, Hero membela dan memertahankanku. Ia seperti ayahku,”

Key terdiam. Ia tak tahu kalau Jesicca akan bercerita tentangnya. “Benarkah? Aku tidak pernah tahu bahwa Eve bisa menghamili manusia,” Jessica terkekeh.

“Aku juga sempat berpikir begitu dan tak ingin memercayainya. Tapi begitulah keadaanya, bahkan ayahku adalah teman baik Taylor,”

“Kenapa kau menceritakannya padaku?”

Jessica diam dulu tak menjawab, lalu mengangkat bahunya. “Hanya ingin kau tahu saja,” matanya terarah ke langit. “Oh, mulai senja, kupikir kita harus lari,”

Key memutar kedua bola matanya jengah. “Seharusnya dari tadi. Aish,” umpatnya kesal lalu ikut berlari menyusul Jessica.

Jessica menghentikan kakinya ketika sepatu boot nya mulai menginjak pasir pantai. Hari sudah gelap dan semilir angin laut menerpa wajahnya, ia memandang ke laut lepas dan merasakan Key yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Kepalanya terarah ke sebuah rumah dari gubuk dengan jendelanya masih menyinarkan sinar lampu. Ia melangkah mendekat sementara mendengar kepakan sayap Key yang mengangkasa.

“Aku tunggu kau, batwoman,” bisik Key dengan seringai, dan tanpa melirikpun Jessica tahu bahwa Key sedang mengejeknya.

Srakk

Jessica mengembangkan sayang kelelawar hitamnya, menghiraukan Key yang sedang menontonnya dari atas pohon.

__

Ariana bukannya tidak tahu kalau seorang Seth Clearwater selalu jadi gelisah kalau ada di dekatnya, yah namanya juga setengah Veela. Tapi, setidaknya ia bisa memanfaatkan keadaan ini untuk merekrut Seth dan membuat penyihir itu membantunya merebut Key. Jemari lentiknya mengelus jubah beludrunya perlahan, sementara lengan kanannya mengamit lengan Chase anggun. Werewolf—yang terkena Imperius—di sampingnya tak bergeming sambil mengamati orang yang lalu lalang. Ariana menarik tangannya dan keduanya pun berjalan di tengah kerumunan penyihir itu. ya, cara paling cepat untuk mencari Seth itu ada di Kementrian Sihir.

Burung-burung kertas beterbangan membawa surat kabar, dan Ariana mendapat satu. Ia mengantongi koran itu dan tetap menarik Chase menuju ke salah satu lift yang akan membawa mereka ke departemen dimana Seth bekerja. Setelah pintu tertutup Chase langsung kaget ketika tiba-tiba lift itu mundur dengan suara berisik ke belakang, lalu naik ke atas. Setelah beberapa penyihir turun di masing-masing departemennya, tinggal mereka berdua yang menuju ke Departemen Penyalahgunaan Barang-Barang Munggle. Departemen itu nampak agak berantakan dengan beberapa penyihir yang nampak lalu-lalang dengan beberapa keributan di masing-masing ruangannya. Ariana mencari ruangan dengan tulisan Mr. Clearwater – Junior Inspector dan mengetuknya perlahan.

“Masuk,” jawab suara dari dalam. Ariana tersenyum dan membuka pintu itu.

Seth Clearwater memang tak pernah berubah—bocah yang jangkung dan kurus, dengan rambut kecokelatan dan wajah yang agak tirus, namun mata abu-abunya memberikan kesan lain dari wajahnya yang nampak lelah. “Hai Seth. Ingat aku?” sapa Ariana riang.

Seth mendongak dari bukunya dan mentap Ariana. Senyumnya langsung mengembang namun keningnya berkerut ketika melihat tangan Ariana yang mengamit lengan seorang pria. “Hai, Ariana. Tumben kau mengunjungiku?”

Ariana tersenyum tipis lalu melepas tangan Chase. “Kenalkan, temanku, namanya Chase,” Ariana menatap Chase sambil memberikan perintah, membuat Chase tersenyum lalu mengulurkan tangannya.

“Chase,”

Seth menatap Chase penuh selidik, merasa curiga karena mata Chase sesaat nampak kosong. Namun dikilahkannya firasat itu dan menyambut uluran tangannya. “Seth,”

“Dia seorang werewolf,” jelas Ariana, “Namun ia sedang mendapat pengaruh Imperius dariku. Meskipun begitu, kurasa ia masih bisa berubah menjadi serigala,” lanjutnya yang membuat Seth syok.

“Apa? Kau lakukan apa padanya?” Seth membanting buku yang sedang di pegangnya dan bersiap mengambil tongkat sihirnya di saku, namun ternyata ia kalah cepat dengan Ariana yang tiba-tiba sudah menodongkan tongkat sihirnya ke arah Seth.

Brukk!

Ariana sudah meng-Imperius-nya duluan, memberikan efek pingsan sesaat pada Seth karena syok. Chase tak bergeming di tempatnya, sementara Ariana berjongkok dan memerhatikan Seth dengan seksama. “Wah, dia jadi tampan ya,” gumamnya. Kepalanya perlahan menoleh ke Chase. “Ayo kita bawa dia. Kita akan ber-Apparette keluar,”

Chase menyenderkan tubuh jangkuk Seth dengannya, sementara Ariana mengunci ruangan itu dari dalam. Ia langsung mengamit lengan Chase yang sudah siap dan mereka bertiga langsung menghilang dalam sekejap.

__

Elias baru saja pulang praktek dan ia langsung mendapati Madeleine di ruang tengah dengan perlengkapan Elf lengkap. “Kau mau kemana?” tanya Elias dengan suara rendah, membuat Madeleine langsung mendongak sambil memasang sabuk panah ke punggungnya.

“Joon membutuhkan sedikit bantuanku, aku akan pulang tengah malam,” Madeleine berpikir sejenak, “Atau mungkin besok. Atau lusa. Tak lebih dari dua hari,”

“Ke Ellesmera?” tanya Elias lagi, nada tak suka mulai nampak jelas dari suaranya.

Madeleine menggeleng lalu memasukkan beberapa botol butterbeer ke sebuah ransel kecil. “Dia menungguku di Mongolia, karena itu daerah yang paling sedikit mendapat radar dari Ellesmera. Kami tidak bisa bertemu secara terang-terangan di depan para Elf setelah menolakan lamaran itu,”

“Memangnya dia perlu bantuan apa?” interogasi Elias lagi, kini sudah melipat lengannya di depan dada dan melihat-lihat bawaan Madeleine.

“Ada wabah tanaman di Ellesmera. Dia tidak tahu namanya apa, tapi yang jelas itu membuat tanaman mandul. Mereka bisa tumbuh tapi tak bisa bereproduksi. Semua putik dan benang sari dari bunga tidak berfungsi. Lalu aku meracik obat penangkalnya,” jelasnya lagi dan setelah ia menutup ranselnya ia langsung mendongak menatap Elias sambil tersenyum. “Aku pamit duluan,”

Grep

“Tunggu sebentar. Aku ikut,” Elias menahan tangan Madeleine sebentar lalu berbalik menuju ke ruangannya. Madeleine sekarang bengong.

“Hei, aku hanya mengeluarkan seekor kuda,” seru Madeleine ke punggung Elias.

“Aku akan menggunakan Aaron! Sudah tunggu saja aku, awas kalau kau pergi duluan!”

Madeleine berdecak mendengarnya. Ia mengambil busurnya dan menenteng ranselnya, melangkah keluar dimana kuda favoritnya, Smoothie—kuda milik Madeleine yang warna rambutnya keperakan—sedang berdiri manis menunggunya. Di kastil itu ada 5 kuda, dan semuanya tak pernah diikat. Jadi, kalau kuda-kuda itu ingin digunakan untuk bepergian mereka harus dilatih terbiasa dengan pelana dan tali kekang dahulu. “Tunggu sebentar ya, Elias mau ikut,” gumam Madeleine sambil mengelus bulu kepala Smoothie lembut. Beberapa detik setelah ia berkata demikian, suara derap yang familier terdengar dari balik kastil. Madeleine menoleh dan mendapati Elias sudah menunggagi Aaron—kuda milik Elias yang keras kepala dan nakal, sama seperti pemiliknya.

“Cepat sekali,” gumam Madeleine lalu menaiki Smoothie. “Jangan cepat-cepat ya, mood-nya Smoothie sedang kurang baik,”

Elias berderap mendekat, menyiapkan ancang-ancang untuk berangkat. “Kenapa memilih kuda yang mood-nya sedang buruk? Nanti akan lebih lama sampainya,”

Tapi tetap saja, meskipun Elias mengatakannya dengan pelan Madeleine bisa mendengarnya. Elf wanita itu hanya melirik Elias kesal lalu mulai melaju dengan kecepatan sedang. Kecepatannya semakin bertambah seiring masuknya mereka ke hutan-hutan yang ada. Elias mempercepat derapnya, menjajari Madeleine yang masih fokus.

“Hei, Elf bodoh,” panggil Elias, membuat Madeleine langsung merenyit dan melirik Elias kesal.

“Apa?”

“Omong-omong, bagaimana caranya kita melewati perbatasan antar Korea? Bukannya tempat itu dijaga 24 jam? Dan meskipun kau bisa menyamarkan diri menjadi invisible, tapi apa kudamu bisa melompati pagar perbatasnya?”

“Oh iya ya, kenapa aku bodoh sekali,” gumam Madeleine, seakan tersadar ia memperlambat laju kudanya, begitu juga Elias. “Tapi kurasa Smoothie bisa,”

“Kuingatkan kau, Madam, ketinggian pembatas itu 50 kaki dan Smoothie maupun Aaron hanya kuda biasa. Kau mau membuat mereka perlahan jadi pegasus atau ingin kita ditangkap seabagai tukang-cosplay-KorSel-yang-nekat-masuk-KorUt?”

Madeleine berdecak lagi, dan benar saja. Perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan sudah di depan mata, tepat di seberang sungai. Mereka berdua berhenti sebentar lalu menyusuri sungai itu perlahan di balik semak. Mereka tak ingin terlihat, kan? “Kita lubangi salah satu bagiannya, lalu tutup lagi. Bukankah itu mudah?”

“Dan kau mau melubanginya saat sedang dijaga oleh tentara tiap satu meternya? Astaga Lee Soon Hee, aku baru tahu kau setolol itu,”

“Ck, memang kau ada ide?”

Elias nampak berpikir sejenak lalu menatap Madeleine. “Kita mencari daerah perbatasan yang bukan daerah militer. Kita bisa memantrai mereka dengan mantra tidur, dan menyelinap masuk. Soal bagaimana menyelinapnya, kita bisa bicarakan itu nanti,”

“Ngg… Elias, bagaimana kalau kita lewat China saja? Kor-Sel juga memiliki perbatasan darat dengan China, kan?” gumam Madeleine tiba-tiba. Elias memutar kedua bola matanya.

“Kenapa tidak keidean dari tadi. Ayo cepat!”

“Hey, kau ini kenapa sih? Ini kan urusanku, kenapa nampaknya kau berlebihan sekali sih?” oceh Madeleine kesal lalu menggerakkan Smoothie lebih cepat. Elias mendengus.

“Jangan cerewet kau,”

__

Key menatap gubuk yang dimasuki Jessica dengan diam. Ia menyenderkan tubuhnya di batang pohon yang dipanjatnya sementara sayapnya yang hitam legam terbuka lebar. Ia mendengar sebuah rintihan kesakitan dan tak lama kemudian senyum kecil terukir di bibirnya karena Jessica sudah keluar dengan membawa mayat si nenek. Memang sih, dia masih kurang familier dengan sayap Jessica yang berupa sayap kelelawar, namun ia juga suka menatap sayap itu. Jessica menemukan sosoknya dan menatapnya sesaat, sebelum mengangkasa sambil membawa si nenek. Segera saja ia bergerak menyusul Jessica, mengangkasa di sampingnya.

“Masih lapar?” tanya Key tiba-tiba. Jessica meliriknya.

“Setidaknya beiarkan aku menyelesaikan tugasku terlebih dahulu, baru ajak aku bicara,” sergah Jessica dan terbang menjauh, meninggalkan Key yang menyunggingkan senyum tipis dan kembali terbang menginjak tanah.

Akhirnya, Key memilih untuk pergi ke daerah yang lebih dekat dengan kota, dan beprikir bahwa Jessica pasti bisa menemukan dimana ia berada. Ia masuk ke sebuah diskotek dan hingar-bingar langsung menyerang indra pendengarannya. Bau alkohol tercium kuat dimana-mana dan satu lagi—seks. Nampaknya ia salah masuk diskotek. Ia rasa ini salah satu diskotek ilegal yang dijadikan tempat sebagai perdagangan narkotika, perempuan dan miras. Ng, lupakan kalau soal miras, Korea termasuk negara yang butuh alkohol, kan? Narkotika dan perempuan kalau begitu.

Benar saja, tiba-tiba seorang perempuan dengan pakaian-kurang-bahan menempalkan tubuhnya ke bagian samping tubuh Key. Ia berusaha menjauhkan diri, namun nyatanya wanita itu terus mendekat dan berusaha membisikkan sesuatu. “Baru, ya? Apa yang kaubutuhkan di sini? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya,”

Key mendengus sebal. “Maaf, sepertinya saya salah masuk tempat,” kalau saja Key mengerahkan tenaga untuk menyingkarkan perempuan ini, ia pasti bisa diserang manusia. Tidak, tidak.

Tapi wanita itu tertap bersikeras. “Apa yang kau butuhkan? Perempuan? Jarang ada pria tampan yang masuk ke sini, dan kalau ada, mereka selalu mendapat pelayanan yang paling ‘memuaskan’ dari kami,” Key bisa mencium bau alkohol bercampur dengan parfum murahan dari tubuh wanita itu, dan tangannya berusaha melepas cengkeraman tangan wanita itu dengan ‘kemanusiawian’.

“Maaf—“

“Hei, b*tch, lepaskan tanganmu,” suara Jessica terdengar tajam dan siap meledak ke arah wanita itu. Key menghirup napas lega, terutama ketika wanita itu melepaskan tangannya dan melangkah pergi. Ia menatap Jessica yang ternyata telah berdiri di sampingnya, kerahnya sedikit terciprat darah. “Ayo keluar. Disini terlalu bising,”

Key akhirnya mengikuti Jessica keluar, tapi wanita itu tidak berhenti dan terus melangkah. Mulai kesal, akhirnya Key melebarkan langkahnya hingga menjajari Jessica. “Urusanmu sudah selesai? Cepat amat,”

Jessica hanya melirik Key tajam, lalu mengalihkan lirikannya lagi. “Oh, jadi kau memang memanfaatkan waktu luangmu untuk berada di situ ya,”

Ia memang tidak mengatakannya dengan nada yang tinggi, bahkan terdengar seperti berbisik. Tapi reaksi Key sangat membuatnya menyesal berkata demikian. Eve pria itu nyengir amat sangat lebar—membuat Jessica mendengus kesal karena Key pasti mulai berpikir yang aneh-aneh sekarang. “Jadi kau cemburu? Kau tidak suka kalau aku ada di dalam situ?”

Jessica memutar bola matanya kesal. “Tidak, kok. Kau saja yang kepedean—“ Jessica hendak melanjutkan kata-kata kesalnya namun ia tahan. Bisa-bisa Key tambah meledeknya lagi kalau ia makin nyerocos. “Mau cari mangsa? Atau langsung pulang?”

Ia merasakan tangan Key menyentuh miliknya, jemarinya menaut jari Jessica erat. “Kita baru saja punya waktu berdua, kenapa kau ingin cepat pulang?”

Wajah Jessica langsung memerah saat itu juga, sehingga ia membuang wajahnya. Dalam hatinya ia metrasa kesal, bagaimana mungkin seorang Eve muda seperti ini bisa membuat pertahanannya goyah?

Jujur saja, Jessica sudah tak lagi mengingat-ingat tentang Kibum. Bila dirasa lebih dalam, Kibum dan Key merupakan pribadi yang berbeda. Sangat berbeda. Kibum lebih pendiam, dewasa, dan lebih punya sisi charming. Sementara Key? Mulut anak itu hampir tak pernah tertutup. Sekalinya tertutup pasti karena sedang badmood atau sedang marah. Dia juga selalu terang-terangan terhadap perasaannya sehingga sepertinya Jessica sudah muali terbiasa dengan pernyataan cinta Key yang selalu tiba-tiba dan dalam waktu yang—tidak—tepat. Emosi Key juga mudah meledak, mudah surut juga. Jessica sampai terkadang pusing menghadapi mahkluk itu.

“Jadi, kau tidak mencari mangsa dan berencana berjalan berkeliling sampai mati kelaparan?” balas Jessica sambil mentapa Key pada akhirnya setelah banyak diam dan berpikir. Membalas ledekan seorang Key memang harus pandai-pandai memutar otak.

Tapi Key nampaknya tak peduli dengan apa yang dikatakan Jessica. Ia tetap berjalan sambil menggandeng Jessica, memandang ke sekeliling dengan nyaman. “Yah, kalau soal mangsa mah gampang,”Jessica mendnegus lalu mengalihkan pandangannya. “Omong-omong, terimakasih sudah menyelamatkanku. Aku hampir diterkam tadi,”

Jessica tertawa kecil. “Salah sendiri masuk ke sarang perempuan begitu. Apa harusnya kubiarkan saja ya, tapi bukankah itu akan menyenangkan?” ledek Jessica setengah tertawa.

__

Tuk tuk

Kuku berwarna magenta yang dihias dengan ornamen kupu-kupu itu mengetuk-ngetuk meja dengan pelan, tapi tetap saja menghasilkan suara yang keras. Raut wajah seriusnya sama sekali tak memengaruhi kecantikan di wajahnya. Tongkat sihirnya tergeletak begitu saja, dan di sampingnya ada seorang pria yang menatap ke arah pintu dengan pandangan kosong. Ariana memiringkan kepalanya lalu menatap laki-laki itu. “Dimana Seth?”

“Ada di kamarnya,” jawab Chase kalem. Ariana mengangguk ringan, dan sedetik kemudian matanya membelalak teringat sesuatu.

“Jung Yoogeun…” gumamnya kecil, lalu menyambar tongkat sihirnya dan menatap Chase. “Dia manusia, kan?” tanyanya namun Chase tak menjawab. “Kurasa dia bisa sedikit berguna untuk kita,”

__

Sreek..

Madeleine menarik tali kekang yang sedang di pegangnya hingga kudanya berhenti, demikian pula Elias. “Aku akan menemuinya di sini,” gumam Madeleine menyadari tatapan bingung dari Elias.Tapi Elf pria itu hanya diam saja setelah mendengar Madeleine.  Ia mengarahakn kudanya untuk berderap berbalik, dan gantian Madeleine mengerutkan keningnya. “Kau mau kemana?”

Awalnya Elias tak mau menjawab, tapi beberapa detik kemudian ia menoleh sedikit ke belakang. “Jalan-jalan sebentar,”

Madeleine menurunkan bahunya, dan akhirnya memerhatikan ke sekitar.

Sreeekk

Sreeek

“Madeleine?” panggil sebuah suara yang membuat Madeleine mengalihkan pandangan.

“Joon?”

Sesosok yang menunggangi kuda cokelat itu makin jelas dan membuat Madeleine mengembangkan senyumnya. “Terimakasih mau datang,”

“Sudah menjadi tugasku juga kan,” jawab Madeleine enteng. Ia meraih sebuah botol yang tersimpan di salah satu ransel bebannya, dan memberikannya pada Joon. “Aku tidak tahu apa penyebabnya, karena kau bilang nyanyian Elf tidak berpengaruh sama-sekali,”

Joon menerima botol itu dari tangan Madeleine dan memasukkanya ke sakunya. Ia mengangguk kecil mendengar kata-kata Madeleine. “Seluruh Ellesmera bingung. Gandum-gandum tidak berbuah demikian pula beri-berian. Para dewan sudah banyak mendiskusikan hal ini namun hasilnya sama—nihil,”

Madeleine menatap Joon prihatin. “Kau pasti menanggung banyak beban sekarang. Ramuan yang kuberikan hanya akan membuat reproduksi mereka meningkat, tapi aku tak tahu apakah itu akan berpengaruh,”

Joon tersenyum kecil lalu memandang wajah Madeleine. “Ya, kau benar. Tapi kurasa semua beban itu akan terasa ringan kalau kau di sampingku,” ujarnya yang membuat raut wajah Madeleine berubah.

“Kenapa jadi membahas tentang hal ini?” kesal Madeleine. Joon terkekeh dan bersiap untuk pergi lagi.

“Aku hanya bercanda, jangan dimasukkan ke dalam hati dong,” tukas Joon cepat sambil tersenyum jenaka. Seketika rautnya kembali serius, dan itu membuat Madeleine merinding lagi. “Tapi aku juga serius, loh. Kalau kau ingin bersamaku, bilang saja, maka aku akan segera menujumu,”

Madeleine mendesah panjang sambil memandang derap kuda Joon yang perlahan menjauh. “Maaf,” gumamnya lalu kembali meraih ke dalam ransel dan meraih sebotol butterbeer. Ia membuka tutup botol itu dan langsung meneguk isinya, dan kemudian menyadari derap kuda Elias yang mendekat.

“Sudah selesai, reuniannya?” sindir Elias, membuat Madeleine hampir tersedak dan menjauhkan botol yang sedang dipegangnya dari mulutnya. Wanita itu memasang ekspresi kesal dan Elias langsung terbahak.

“Jangan bicara omong kosong,” gumam Madeleine kesal lalu menarik tali kekang yang dipegangnya dan mulai berkuda dengan arah berlawanan, membuat Elias terpaksa mengikutinya.

“Aku tidak bicara apa-apa. Hei—“

__

“Sebenarnya siapa kalian?” suara berat itu terdengar mengintimidasi. Seorang pria yang menajdi pemiliknya hanya bisa menautkan jari-jarinya dan meletakkannya di atas meja, raut wajahnya nampak serius. “Yang kalian bicarakan bukan hal yang logis,”

Tapi wanita cantik berambut bergelombang di depannya hanya terkekeh pelan. “Aku susah-susah belajar bahasa Korea untuk berkomunikasi denganmu dan beberapa orang. Setidaknya gunakan kemampuan otakmu untuk menelaah dengan maksimal, manusia,”

Sebelah alis pria itu terangkat. “Kalian datang dengan tindak-tanduk aneh ke perusahaanku. Dan kalian langsung berniat bernegoisasi denganku tanpa perkenalan. Kau pikir aku akan semudah itu untuk mencoba membuka pikiranku pada kalian?” ujarnya dengan mata menyipit. Tiba-tiba tautan tangannya terlepas dan mengalihkan pandangan. “Kalian bisa datang besok kalau sudah tak ada yang ingin dibicarakan,”

Tapi wanita itu mendengus meremehkan. “Kau mengusir kami?” mendengarnya, si pria hanya berdecak.

“Aku bukan pengangguran,”

“Baiklah. Namaku Ariana. Dia Chase dan Seth. Dan kau Yoogeun, bukan?”

Ekspresi Yoogeun berubah. Dia tak tahu darimana wanita aneh ini tahu namanya, tapi dia berusaha memasang wajah datar dan tetap menatapnya, tapi tak ingin membalas kata-kata wanita itu. Ariana tersenyum kecil.

“Nampaknya perkiraanku benar. Nah, bukankah kau punya dendam dengan mahkluk itu? Aku bisa bekerja sama denganmu, jadi bayangan yang selalu menakutimu tak akan datang lagi,” katanya tenang dan penuh percaya diri.

“Takut?” tanya Yoogeun dengan kening berkerut.

“Ah, atau yang kau inginkan? Well, aku sudah tahu kalau kau pernah memendam perasaan pada gadis Eve bernama Jessica,”

JEEENG

“Jadi… aku bisa memenuhi harapanmu, asal kau sedikit membantuku. Tak akan memengaruhimu juga sih, tapi kurasa bila kau ikut ambil andil, pekerjaanku akan sedikit lebih mudah,”

Yoogeun melempar pandangannya ke jendela, nampak berpikir selama beberapa menit. Dan Ariana nampak sabar menunggu hingga Yoogeun kembali berpaling menatapnya. “Memang apa yang bisa kubantu?”

Ariana tersenyum senang. “Yang pertama…”

To Be Continued…

Hello~~~~ maaf lama. Bentar lagi kelar. Jadi sabaaaaaaarr yaaaa :3 Bentaaaaar lagi. Tahun ini kelar. Janjiiiii!!!!! *sodorin kelingking* Mungkin sekitar 2 SPY lagi selesai. Kalau gamuat, mungkin bakal dikasih epilog. Kalau muat, yaaah yasudah hehe :3 Terimakasih sekali sama yang udah bersedia baca cerita abal begini T^T setelah ini selesai bakal fokus ke TCM. TCM selesai? Hmm…. fantasy  project berikutnya dong huahahaha😄

See you xD

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3siOfficially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

3 thoughts on “Who I am? I am an Eve – SPY 13

  1. wahhhhhh……………. tambah menegangkan nih..!!!! ariana bener2 dah terobsesi banget ma key, mpe mau ngumpulin koloni??? bener2 mengerikan!!! semoga aja hero bisa melindungi key… key lo pergi2 hati2 ya, hehehehe……..
    wah, jessie dah suka beneran ma key ya?? hehehe…..
    lanjut ya thor…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s