Heart [2.2]

Title            : Heart#2-End

Author             : Metaemin

Main Cast        : Lee Taemin, Choi Minho

Support Cast   : Jung Soojung

Length             : Two Shoot

Genre              : Romance, Angst

Rating             : General

Note:

Salam 2min Shipper^^

FF ini udah saya publish sebelumnya si Fb saya,

Terimakasih bagi yg udah baca part sebelumnya^^

Ini hanya Fiksi, Selamat membaca..

            ***

           “Minho-ya, apa kau mencintai Taemin?”

Suara halus Soojung memecah keheningan yang terjadi di dalam sebuah mobil yang sedang yeoja itu tumpangi bersama Minho.

           “Minho-Ya” ujar Sojung kembali pada Minho yang kini telah menghentikan mobilnya di depan apartement mewah miliknya. Namun lelaki di sampingnya itu tak kunjung mengeluarkan suara sedikitpun.

           Merasa kesal karena tak juga mendapat jawaban, yeoja berambut merah itu mencoba menyentuh lengan kekar namja di sampingnya.

          “Kau mencintainya Minho” tanya yeoja itu kembali.

          “Aku tidak tahu Soojung-ah, kau tahu sendiri aku hanya pernah jatuh cinta sekali”

Mata bulat minho menatap lurus jalanan beraspal yang terlihat jelas lewat kaca depan mobilnya.

           “Mianhae Minho-ya, untuk kedua kalinya aku harus meninggalkan mu lagi”

            Kali ini Minho mengalihkan pandangannya. Matanya menatap sendu yeoja di sampingnya.

            “Dan untuk kedua kalinya pula kau kembali menghancurkan harapanku Soojung-ah” Suara Minho berdesis dingin. Ia memejamkan matanya sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya. Menatap lurus ke depan.

           Tangan besar Minho mengepal keras stir mobil di depannya. Ia ingin mencoba meredam sebuah gejolak yang berkobar hebat di hatinya saat ini. Untuk kedua kalinya, Soojung, cinta pertamanya akan pergi meninggalkan nya lagi. Setelah dulu yeoja itu sempat membuat hatinya hancur, kini yeoja itu akan kembali membuat hatinya hancur seperti tiga tahun lalu, saat yeoja itu meninggalkannya ke Jepang untuk melanjutkan kuliahnya.

        “Kau tahu Minho, kau lebih membuat hatiku hancar saat kenyataannya apa yang dulu pernah kau janjikan padaku justru kau ingkari”

         Gadis berambut merah itu menatap Minho di sampingnya. Matanya sendu, penuh kekecewaan. Namun namja yang dilihatnya masih menatap lurus ke depan.

         “Kau tahu aku tak punya pilihan Soojung-ah”

         “Kau pun tahu aku tak punya pilihan Minho-ya”

         Dengan gerakan cepat Minho mengalihkan pandangannya. Menatap Soojung yang juga balas menatapnya.

          “Beri aku waktu, aku akan berbicara pada orangtua ku untuk memutuskan pertunanganku dengan Taemin”

          “Aku sudah memberimu waktu selama hampir dua bulan Minho, dan pada kenyataan nya kau tak sekalipun melakukan itu” suara lembut yeoja itu bergetar, membuat hati Minho seakan tertekan.

         Minho menelan ludahnya yang entah mengapa terasa pahit kemudian berdecak kesal. Apa yang harus di lakukan nya kini?

         Memutuskan pertunangan bersama Taemin dan menemani Soojung ke Jepang? Atau membiarkan Soojung pergi untuk kedua kalinya? Membiarkan yeoja itu kecewa karena untuk kedua kalinya ia mengingari janjinya pada yeoja itu?

          Dulu, tiga tahun lalu saat Soojung pergi ke Jepang, Minho pernah berjanji bahwa ia akan menunggu yeoja itu sampai ia kembali. Namun pada kenyataanya, Minho mengingkari janjinya karena ia harus menerima perjodohannya bersama Taemin.

           Dan dua bulan yang lalu, saat Soojung kembali ke Seoul, ia pernah berjanji bahwa ia akan segera memutuskan pertunangannya bersama Taemin dan menemaninya ke Jepang. Namun pada kenyataanya, ia tak juga menepati janjinya sampai saat ini, sampai saat yeoja itu harus kembali ke Jepang esok hari.

         Entah mengapa, Minho merasa hatinya begitu enggan untuk memutuskan pertunangannya dengan Taemin. Seperti ada sebuah batu ganjalan yang selalu saja menghalanginya.

          “Mianhae Minho, aku harus segera masuk, banyak yang harus aku persiapkan untuk kepergianku besok” Soojung berucap pelan lalu membuka pintu mobil. Namun belum sempat yeoja itu keluar, tangan besar Minho sudah lebih dulu menahannya, memegang tangan yeoja itu kuat.

           “Soojung-ah, aku–“

           “Aku hanya akan memberimu satu pilihan Minho..” potong Soojung cepat lalu menoleh memandang namja di sampingnya, “Aku atau tunangan mu itu” ia menghela nafas berat sebelum melanjutkan “Kau harus ingat Minho, cinta itu hanya untuk dua orang saja, tidak ada tempat untuk orang ketiga bahkan untuk bayangannya saja” lanjutnya lalu melepaskan tangan Minho dan keluar dari mobil.

      Sementara Minho, ia memandang kepergian Soojung lewat kaca mobilnya. Tatapan namja itu berubah sendu, seolah penat menghujamnya penuh sesak. Perkataan Soojung terngiang-ngiang di kepalanya dan menusuk ulu hatinya.

            Ia ingin sekali mencegah yeoja itu, namun entah mengapa lidahnya seolah kelu untuk sekedar mengucap ‘jangan pergi’. Ada yang lain dari kepergian Soojung saat ini. Ia merasa rasa kehilangan yang dulu menderanya begitu besar kini terasa lebih kecil. Ia tak sesedih dulu saat yeoja itu meninggalkannya tiga tahun lalu. Ia yakin bahwa ia masih mencntai yeoja itu seperti tiga tahun lalu. Ia tak pernah berniat melupakan yeoja itu atau bahkan mengganti yeoja itu di hatinya. Tapi mengapa? Mengapa ia membiarkan yeoja itu pergi lagi?

       Apa yang terjadi dengan nya sekarang?

       Entahlah. Yang ia tahu bahwa kini ia dilema.

       Soojung? Atau kah Taemin?

       Cinta pertamanya? Atau tunangannya?

       Minho memukul stir keras. Ia seperti orang bodoh, ia bingung dengan perasaannya sndiri.

       Soojung?

       Taemin?

Kedua nama itu terngiang-ngiang memenuhi fikirannya.

***

           Di dalam kamarnya. Taemin memasukan semua barang-barang yang pernah Minho berikan padanya ke dalam sebuah kotak besar lalu menutup kotak itu dengan pita perekat.

           Sudah cukup. Ia akan memindahkan semua barang dari Minho sebagai awal baginya untuk menghapus namja itu dari hatinya.

          Tinggal satu benda lagi yang belum Taemin pindahkan dari tempatnya. Taemin menatap benda itu sendu. Sanggupkah ia melepas cincin itu dan mengembalikan cincin itu pada Minho?

           Setitik air hadir melewati pipi putihnya dan jatuh tepat membasahi cincin yang masih tersemat di jari manisnya. Tidak, sepertinya memang ia belum sanggup melepas cincin itu. Namun percuma, cepat atau lambat pun ia tahu cincin itu pada akhirnya akan lepas pula dari jarinya.

            “Terimakasih telah menemaniku selama ini” ucapnya pelan lalu melepaskan cincin itu dari jarinya dan memasukkan nya ke dalam kotak kecil berwarna merah.

             Air mata yang semula hanya setitik itu kini mulai mengenang memenuhi mata coklatnya lalu merembes turun melewati pipinya. Taemin berharap, air matanya itu ikut menghapuskan perasaan yang telah terlalu dalam bersemayam di hatinya. Perasaan yang mulai saat ini akan ia coba untuk ia hilangkan secara perlahan.

            Semua yang ia lihat dua bulan terakhir ini sudah menjadi jawaban yang jelas bahwa Minho memang tak memiliki perasan yang sama dengan nya. Perasaan namja itu tertuju pada orang lain. Setidaknya itulah yang dapat ia simpulkan dari semua kejadian yang ia dengar dan ia saksikan oleh mata dan telinganya sendiri.

            Tangan mungil Taemin bergerak menghapus kasar air mata di pipinya. Setelahnya ia lalu mengambil ponsel dan mengetik sebuah pesan kepada Minho, meminta namja itu untuk bertemu.

***

        Minho menghentikan mobilnya di pinggiran sungai Han. Ia melihat Taemin tengah berdiri di depan pembatas sungai itu sambil menyaksikan airnya yang berkilauan terkena sinar lampu.

           “Taemin”

            Taemin membalikkan badannya. Tersenyum lembut kearah namja yang kini tepat berada di depannya.

            “Hyung” Taemin mencoba menahan getaran suaranya sebisa mungkin “Maaf memintamu menemuiku malam-malam seperti ini”

           “Gwenchana” jawab Minho cepat “Ada apa?”

           Taemin tersenyum menanggapi pertanyaan Minho, sesaat ia mengingat apa yang akan ia bicarakan sebentar lagi. Namja manis itu mencoba mengumpulkan tenaga lewat tangannya yang ia kepal kuat-kuat lalu  berjalan ke sebuah bangku panjang tak jauh darinya dan duduk disana. Minho berjalan di belakang Taemin lalu ikut duduk di samping namja manis itu.

          Angin malam yang berhembus kencang menerbangkan rambut brown Taemin ke kanan dan ke kiri . Namja manis itu menunduk, mengambil nafas pelan dan memejamkan mata sejenak.

           “Awalnya aku merasa baik-baik saja selama apa yang terjadi selama ini masih bisa aku tutupi. Aku mencoba tak melihat, tak mendengar dan mencoba tak menggubris apa yang sudah jelas terjadi di depan mataku sendiri..” Taemin menghentikan ucapannya sejenak. Sekedar untuk membasahi bibir bawahnya yang mengering.

           “….saat itu, aku berharaf bahwa dugaanku salah. Aku tetap yakin bahwa mungkin saja apa yang aku lihat itu tak sesuai dengan kenyataanya. Namun dengan berlalunya waktu, aku tahu bahwa ada sesuatu dalam

Bagian diriku yang menjadi patah dan akan semakin hancur jika aku tak segera mengambil keputusan”

             Taemin kembali menghentikan ucapannya. Kali ini ia mengangkat kepalanya lalu beralih menatap Minho yang memandang tak mengerti kearahnya.

            “Gomawo untuk selama ini Hyung, aku beruntung bisa bertemu dan mengenalmu hingga saat ini” alis Minho bertaut mendengar ucapan Taemin, ia tak tahu harus menjawab apa, karena sungguh ia tak mengerti arah perkataan taemin,

          “Taemin apa yang ingin kau-“

          “Sssttt~” telunjuk tangan Taemin terangkat menyentuh bibir tebal Minho. Memberi isyarat pada Minho untuk jangan bertanya.

       Hanya beberapa detik, tangan mungil taemin kembali terjatuh diatas kedua lututnya. Namun mata Minho masih memandangnya penuh tanya, dan itu membuat sekujur tubuh Taemin menegang. Tangan Taemin yang gemetar lalu merogoh sesuatu yang tersimpan di saku jaketnya.

            “Setelah semua ini berakhir, kuharap kita masih bisa berteman dengan baik Hyung” ucap Taemin cepat lalu menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Minho.

           Minho mengambil kotak itu ragu. Ia memandangi kotak itu sekilas lalu beralih menatap Taemin lagi.

           “Apa ini Taemin?”

           “Cincin pertunangan kita”

            Minho mengerutkan keningnya, mata bulatnya kembali memandang Taemin penuh tanya.

Angin malam yang berhembus semakin kencang membuat rambut hitam Minho berantakan. Sementara tangan besarnya mencengkram kotak kecil ditangannya. Fikirannya mencoba mencerna dan memahami perkataan yang telah Taemin lontarkan.

           Hingga…. Wajah tampan namja itu berubah tegang.

           “Apa maksud semua ini Taemin?”

Minho tiba-tiba bangkit dari duduknya. Suara namja itu bergetar. Sarat dengan ekspresi kaget dan takut.

           “Jung Soojung, yeoja yang Hyung cintai. Cincin itu mungkin akan lebih indah jika di pakai olehnya”

           Taemin berusaha menahan isakannya kuat. Andai Minho tahu, hati Taemin kini berdesir sangat hebat. Namja manis itu kembali menundukan kepanya. Ia tak menyadari bahwa ucapannya berhasil membuat tatapan mata Minho bergerak risau. Kaget.

         “Maaf telah menjadi penghalang diantara kalian Hyung, maaf membuat waktumu banyak terbuang, maaf selalu menyusahkanmu, maaf membuatmu terjebak dalam pertunangan ini, dan maaf karena—“

            “Hentikan” potong Minho dingin, membuat Taemin mendongak menatapnya “Cukup…Hentikan” lanjutnya. Kali ini nada bicaranya terdengar lebih pelan namun tegas.

            Dari sudut matanya, Minho melihat  mata Taemin  basah. Tangan besarnya terulur menyuruh Taemin untuk bangkit dan berdiri tepat di depannya.

           Taemin memandang Minho dengan matanya yang basah dan menggigit bibir bawahnya pelan, sambil menahan isakannya ia mencoba kembali berbicara “Maaf membuatmu memaksakan diri lebih lama Hyung, aku–“

          “KUBILANG HENTIKAN LEE TAEMIN” bentak Minho keras.

           Taemin menundukan kepalanya. Minho membentaknya. Kali ini Taemin tak bisa lagi menahan air mata yang memang sudah banyak keluar dari tadi. Ia menangis. Di hadapan Minho. Untuk yang kesekian kalinya.

          Mungkin ini memang bukan pertama kalinya Minho melihat Taemin menangis di depannya. Ia pernah melihat namja manis itu menangis ketika ia tak membelikan barang yang di inginkan namja manis itu atau jika ia terlambat menjemputnya dari sekolah. Hal itulah yang selama ini membuatnya selalu bersikap baik pada Taemin. Ia tak ingin di persalahkan.

           Namun kali ini. Untuk pertama kalinya Minho merasa hatinya terisis melihat mata itu basah. Taemin menangis, tanpa isakan.

           Ketika tangan minho hendak mengusap pipi Taemin. Namja manis itu segera menolehkan kepalanya ke arah lain. Ia lantas mengusap kasar air matanya sendiri lalu tertawa kecil.

         “Nan gwenchana Hyung, aku hanya sedih karena sekarang tak ada lagi benda kecil yang melingkar di jari manisku. Aku jadi tidak bisa pamer lagi pada teman-teman ku di sekolah.”

            Taemin mengakhiri ucapannya dengan tertawa kecil. Namun sayang, tawa itu tak dapat menutupi kesedihan yang tergambar jelas di matanya. Dan Minho melihatnya.

           Hanya sesaat. Tawa kecil itu kini tak terdengar lagi. Benar bukan? Tawa itu memang di paksakan.

           Dalam kedekatan terdengar pelan salah seorang diantara mereka menarik nafas berat.

              “Sudah malam Hyung, aku harus pulang” ucap Taemin tanpa melihat kearah Minho lalu berjalan pergi meninggalkan Minho yang masih tertegun dan mencoba memahami apa yang terjadi dengan kejadian-kejadian hebat yang menimpanya hari ini.

              Baru sekitar tiga langkah Taemin berjalan. Kaki jenjang namja manis itu kembali terhenti mendengar suara bass di belakangnya.

              “Sejak kapan?” Minho berbicara pelan namun masih mampu Taemin dengar dengan jelas. Namja bertubuh tegap itu kemudian berjalan ke arah Taemin dan berdiri tepat di depan namja manis itu.

              “Taemin” suara Minho bergetar, tangannya hendak ia angkat untuk menyentuh pipi putih Taemin namun kembali ia urungkan. Minho menelan ludah sesaat sebelum berhasil berucap “Sejak kapan kau……. Mencintaiku?”

              Mata sipit Taemin melebar.  Pertanyaan Minho berhasil membuat Taemin mematung seketika. Kakinya seolah tertimpa beban berat dan membuat namja manis itu tak bisa pergi. Taemin sungguh ingin lari. Jangan lagi. Namja manis itu sungguh ingin melupakan kenyataan bahwa ia mencintai namja di depannya. Namun pertanyan dari Minho kembali menusuk hatinya saat ini.

          Taemin tak mampu menjawab. Ia hanya menggeleng lemah. Sejak kapan? Ia lupa dari sejak kapan ia mencintai namja di depannya ini.

          “Maaf”

          Satu kata itu kini terlontar dari mulut Minho. Namja itu gemetar tiba-tiba.

          “Maaf karena aku tak pernah peka pada perasaanmu selama ini Taemin” Kerongkongan Minho rasanya tercekat. Hanya kalimat itu yang mampu ia ucapkan. Ia bahkan tak berani menatap taemin, pandangan matanya bergerak gelisah.

           Sementara Taemin, namja manis itu tersenyum miris menatap Minho. Demi apa ia tak ingin mendengar kalimat itu.

          “Tidak ada yang salah denganmu Hyung. Kau tak perlu minta maaf”

           “Kau egois” timpal Minho cepat sambil menatap Taemin lemah. Taemin menatap tak mengerti namja di depannya.

           “Kau mengucapkan banyak kata maaf padaku tapi kau menolak permintaan maaf ku” lanjut Minho. Namja itu menghela nafas sebelum melanjutkan.

           “Kau tahu Taemin, semuanya telah terjadi. Sebuah kata maaf tak kan bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Semua yang kau ucapkan memang benar Taemin. Kau menghalangi hubunganku dengan Soojung, kau membuat waktuku banyak terbuang, kau membuatku terjebak dan tak bisa keluar dari perturangan ini, dan kau lalu membuatku terus memaksakan diri. Kau benar, semua yang ucapkan memang benar Taemin”

          Tatapan Minho berubah tajam kearah Taemin. Rahang namja itu sedikit mengeras.

          “Dan sekarang kau ingin pergi begitu saja? Setelah semua yang kau lakukan membuatku terjerembab dan tak bisa keluar, Kau ingin pergi begitu saja Taemin? Begitukah?”

         Minho memekik kesal kepada Taemin. Sebenarnya apa yang membuat namja itu kesal? Ia sendiri bahkan tak tahu dan tak mengerti dengan apa yang terjadi kepadanya saat ini.

        “Hyung”

        “Jika kubilang jangan pergi, apakah kau akan tetap pergi Lee Taemin?”

        Tubuh Taemin membeku. Lututnya melemas seketika. Matanya yang basah mengerjap tak percaya. Mulutnya terbuka, ingin mengucapkan sesuatu. Namun kembali tertututp ketika ia tak berhasil menemukan apa yang ingin ia ucapkan.

          Tak butuh waktu lama untuk membuat mata Taemin kembali memanas.

          “Soojung cinta pertamaku tiga tahun lalu. Ia yang pertama mengenalkanku sebuah perasaan yang membuat jantungku berdebar. Namun ia pula yang pertama mengenalkanku sebuah perasaan yang membuat hatiku berdecit sakit saat ia meninggalkanku. Kepergian Soojung membuatku sangat terluka saat itu, lalu kedatangannya kembali kesini seolah membawa obat yang membuat luka itu sembuh”

         Minho menghentikan ucapannya sejenak. Ia beralih menatap langit dan menerawang jauh.

         “Besok Soojung akan kembali meninggalkanku seperti tiga tahun lalu. Aku memang sedih, tapi rasa sedih ini berbeda. Aku tak merasakan lagi luka yang dulu membuat hatiku berdecit. Aku tak lagi merasakan kekosongan seperti tiga tahun lalu saat ia meninggalkanku. Aku bahkan tak bisa atau mungkin tak berniat mencegah ia pergi.” Minho berhenti sejenak. Ia kemudian beralih menatap mata Taemin.

        “Namun entah mengapa, aku justru merasakan rasa sakit yang tiba-tiba membuat hatiku sangat berdecit saat kau yang akan meninggalkanku Taemin. Kau membuatku takut kehilanganmu”

            Air mata Taemin tumpah saat itu juga. Saat Minho mengunci mata coklat Taemin dengan tatapan matanya yang berbeda.

        Dua mata yang saling terpaut itu seolah saling menceritakan apa yang tak bisa lidah ucapkan sekalipun. Binar mata mereka memancarkan sesuatu yang saling terhubung. Sesuatu yang selama ini tak mereka sadari bahwa ada sebuah perasaan yang pada kenyataannya saling menunggu. Menunggu untuk saling terbuka dan terucap.

         Cinta memang bukan sekedar kata-kata. Namun ada kalanya kata-kata itu menjadi penting dan di butuhkan.

         Minho berjalan mendekat. Mempersempit jarak yang kian sempit diantara mereka. Hanya tersisa dua langkah. Dan jarak tubuh mereka benar-benar hilang ketika masing-masing kaki mereka melangkah bersama.

         Sebuah dekapan hangat kini dapat dirasakan oleh keduanya. Entah siapa yang memulai, yang jelas dengan kejadian ini membuat mereka saling memahami apa yang hati mereka rasakan.

          Inilah alasan mengapa Minho enggan untuk menahan kepergian Soojung, inilah alasan mengapa Minho justru merasa tak mampu membiarkan kepergian Taemin.

          Hatinya telah tercuri oleh orang lain. Hatinya bukan lagi untuk cinta pertamanya. Hatinya dengan sendiri telah memilih pelabuhan lain. Cintanya yang baru.

          Karena ketika lidah tak lagi dapat menjawab semua yang ingin di ucapkan. Maka hanya hati lah yang mampu menjawab semuanya. Tak perlu banyak teori, cukup hati yang mampu menjelaskan dan membuat semuanya terjadi.

          Cinta memang tidak mekar dalam semalam. Namun seberapa lama pun cinta itu berlayar, ia takkan salah untuk pergi ke tempat seharusnya ia berlabuh.

         Minho dan Taemin sama terdiam. Keduanya saling menikmati dan membagi kehangatan. Enggan untuk mengakhiri moment ini. Hanya ingin tetap merasakan dan menyadari bahwa ada debaran dalam diri masing-masing.

         Hingga, pelukan itu sedikit terlepas. Pandangan mereka bersatu. Mata bertemu mata, saling mengungkapkan sebuah pengakuan yang tak terucap. Lalu, kedua sudut bibir mereka terangkat, menyuguhkan senyum. Saling memperhatikan dan mengagumi.Tak ada komando, tak ada kompromi, tak ada paksaan. Bibir mereka bertemu. Untuk pertama kalinya.

         Di bawah sinar perak rembulan yang menggantung indah di langit kelabu. Beriramakan suara air sungai yang mengalir merdu bagai kepingan mozart yang dimainkan seorang pianis handal. Bersama hembusan angin malam yang menyelimuti dua tubuh yang saling memeluk erat.

        Kedua tubuh itu saling menempel, mendekap, berbagi rasa. Terwakilkan oleh ciuman panjang yang akhirnya terlepas ketika oksigen menjadi penting bagi tubuh mereka.

       Mata mereka kembali bertemu, kembali memandang. Dalam keheningan yang tercipta, kedua bibir mereka berbisik lembut bersama “Saranghae~”

      Hingga waktu yang melilingi mereka seakan berhenti berputar ketika kedua bibir itu kembali bersatu.

       “Saranghae… Saranghae… Saranghae…” Dan kalimat itupun seolah menjadi gema di sela-sela kecupan hangat nan basah mereka.

       “Tetaplah bersamaku Taemin. Aku mencintaimu”

       “Aku mencintaimu”

       Satu hal yang pasti. Memulai kembali dari awal adalah pilihan yang mereka ambil dari saat ini.

THE END

Salam cinta 2min shipper🙂

Terimakasih atas apresiasinya terhadap karyaku yang tak seberapa.

Maaf untuk typo TT

Siapa tahu ada yg ingin saling berbagi cerita >> @Metaemin24

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

3 thoughts on “Heart [2.2]

  1. aku suka ff nya…
    jujur yg aku suka adalah ketika ngeliat main cast atau cast lain tersakiti dan menderita huahahaha *ketawa nista #ditampartaemin wkwk

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s