Di Balik Jarak

Author: Bibib

Cast: Kim Ahreum (OC), Choi Minho

Genre: Friendship

Length: Vignette

Rating: General

Time is the longest distance between two places – Tennessee Williams

***

 

“Kau tidak keberatan aku duduk di sebelahmu?”

Bus terus melaju dan meninggalkan bebunyian mesin yang mampu memberikan jeda bisu sejenak setelah Choi Minho melontarkan pertanyaannya.

Malam itu suasana di dalam bus memang cukup padat penumpang, mengingat ini adalah jam pulang anak sekolah. Tidak sedikit dari mereka yang terpaksa berdiri, bergelayutan pada gelang-gelang yang disediakan untuk tempat berpegangan. Biasanya Minho memilih untuk menawarkan bangkunya pada salah satu dari gadis yang kedapatan berdiri, terutama mereka yang tinggi badannya tidak seberapa jangkung sehingga sulit meraih tempat pegangan di atas sana. Namun, untuk kali ini saja—Minho berjanji hanya kali ini—ia mencoba untuk menutup mata pada keadaan sekelilingnya. Ia ingin duduk di satu bangku, di sebelah Kim Ahreum.

Gadis itu … ah, entah bagaimana ia selalu bisa membangun dinding pemisah yang seolah melarang Minho untuk merobohkannya ataupun sekadar memanjatnya. Terlalu kokoh, pun tidak ada satu pun pijakan yang bisa menjadi perantara untuk melewati batasnya. Tidak dengan pertandingan olah raga, tidak dengan diskusi pelajaran, bahkan tidak pula dengan membicarakan tokoh idola ataupun hobi.

Bukan, Choi Minho tidak setuju jika ada orang yang menilai gadis itu sebagai Si Dingin, Si Pendiam, apalagi Si Pemalu. Semua deskripsi itu tidak cocok dilekatkan pada Ahreum. Gadis itu masih sering kedapatan mengobrol atau bercanda pada jam makan siang, tetapi Minho tidak pernah melihat keberadaannya di tengah genk manapun untuk urusan hang out. Gadis itu bukan pula orang yang selalu bergerumul dengan buku—meskipun ia termasuk ke dalam peringkat 10 besar di kelasnya—kelas khusus perempuan. Gadis itu tidak pemalu berbicara di depan, bahkan Minho pernah melihatnya berpidato Bahasa Inggris di depan siswa-siswa pertukaran pelajar yang berasal dari beberapa negara Asia. Apalagi melihat gadis itu tertunduk, tidak pernah. Ia selalu berjalan dengan pandangan lurus dan sorot mata berisi.

Tapi, mengapa Minho tidak menemukan celah untuk menciptakan pembicaraan yang mengalir dengan gadis itu? Setiap kali keduanya terjebak di bus yang sama dan Minho menawarkan kursinya, gadis itu selalu menolak. Jika kebetulan bertemu di kantin dan Minho duduk di depannya, gadis itu tidak menolak duduk semeja, tetapi tidak juga bereaksi heboh seperti kawan-kawannya. Oh, apa jangan-jangan gadis itu merupakan satu-satunya yang tidak menganggap Choi Minho tampan? Bisa jadi, Minho tidak bisa memaksa gadis itu untuk mengagumi keindahan parasnya.

Atau … jangan-jangan gadis itu sombong? Apa iya? Minho tidak yakin.

“Ahreum-ssi, kurasa mengobrol lebih baik daripada melamun. Kecuali kau tidur atau menyolokkan earphone yang menyuarakan musik, itu lain cerita.”

Ahreum menengok, menyeringai sekilas lalu mengeluarkan sebuah kotak makanan. “Lebih baik makan roti. Masih ada sisa bekalku, kau lapar?”

“Tidak, tapi aku tidak akan menolaknya.” Tentu Minho tidak akan menolak tawaran gadis yang begitu membuatnya bingung ini. Dugaan terakhir Minho termentahkan, gadis ini sama sekali tidak sombong. Mana ada orang sombong yang menawarkan roti bekalnya untuk teman sebangku di Bus? Lain cerita kalau orang itu adalah penjahat yang menyisipkan racun pada lembaran roti.

Mereka berdua sama-sama melahap pelan roti berisi selai blueberry itu. Minho masih memikirkan cara untuk mencari topik pengisi hening yang tepat. Tentang sepak bola, siapa tahu Ahreum termasuk gadis tomboy? Ah, tidak, gadis berbando pink seperti Ahreum sepertinya sama sekali tidak menaruh minat pada sepak bola. Bagaimana dengan membahas seorang siswa keturunan Cina yang berani mencalonkan diri menjadi ketua OSIS? Ah, rasisme, Minho menghindari topik-topik seperti ini dibahas bersama gadis incarannya.

“Minho-ssi,”

“Eh?” Minho tidak menyangka Ahreum duluan yang memecah sunyi, ia bahkan tidak pernah berpikiran bahwa Ahreum mengingat namanya. Ya, ya, rasanya tidak aneh juga kalau semua gadis di sekolah mengetahui nama Minho,bahkan tidak sedikit dari mereka yang hapal tanggal ulang tahun Minho.

“Aku tidak melarangmu angkat bicara, itu hakmu.” Ahreum tersenyum. Sebuah senyuman yang sama sekali tidak bermaksud tebar pesona, tidak bernada menertawakan Minho yang kentara canggungnya, dan sama sekali tidak berbau candaan.

Minho menggaruk tengkuknya. Memalukan, ini memalukan. Bagaimana bisa seorang Choi Minho yang populer dan tidak sulit mendekati gadis—kini berubah menjadi manusia paling terlihat linglung yang cuma bisa menunjukkan anggukan malu sebagai balasan awal atas kalimat lawan bicaranya.

“Dan kurasa hakmu juga untuk tidak mendengarkanku. Jadi apa gunanya aku terus mengoceh sementara kau memalingkan pandanganmu?” Lewat kalimatnya itu Minho baru saja meminta Kim Ahreum untuk menanggapi ucapannya, Minho tidak ingin ia bercerita satu pihak tanpa timbal balik.

“Norma kesopanan menyuruhku untuk menyimak ucapanmu. Aku akan mendengarkanmu, tenang saja.”

“Tapi kau tidak akan menimpalinya juga, ‘kan? Ahreum-ssi, aku tidak paham alasanmu. Apa kau membenciku?”

Ahreum tertawa untuk beberapa saat, pelan saja, tetapi tidak terkikik seperti orang bodoh. “Tidak. Aku tidak berpikir begitu.”

“Aaa, begitu, syukurlah.” Minho lega sekaligus kecewa. Ia lebih berharap Ahreum menanyakan alasan di balik pertanyaannya tadi, dengan begitu Minho bisa merambah ranah yang selalu ingin dibicarakannya; tentang Kim Ahreum yang terkesan tidak tertarik untuk sekadar berteman dekat dengan Minho,  ia ingin tahu fondasi macam apa yang ada di bawah tembok kokoh yang Ahreum ciptakan. Sementara jawaban Ahreum tadi merupakan jawaban mati.

“Ahreum-ssi, kau mengenalku? Ah, maksudku, kau memang tahu namaku, tapi apa kau tahu aku ikut organisasi apa saja, aku siswa kelas mana, aku jago dalam hal apa. Sejenis itu.”

“Menurutmu aku mesti tahu?” Ahreum membalas pendek, kalem saja, tidak sinis dan tidak pula menyindir.

“Ah, aku tidak merasa begitu. Jangan salah paham, aku tidak bermaksud pamer atau apapun. Aku hanya memastikan apa kau memang menganggapku sebagai temanmu,” Minho buru-buru meralat. Ia sadar pertanyaannya tadi begitu kekanakan, bahkan bisa membuat Ahreum tidak simpati terhadapnya. Pertanyaan tadi, kalau orang yang mendengarnya mempunyai sensitifitas tinggi, akan terdengar seperti, ‘Hei, aku ini orang populer. Harusnya sih kau mengenalku.’

“Tidak ada yang perlu disalahpahami. Aku tahu di sekolahku ada pria bernama Choi Minho. Kapten basket, populer, ramah pada semua orang, penuh pesona tapi tidak pernah sekalipun memacari gadis selama di SMA.”

Minho tidak tahu harus tersanjung atau tertohok. Penjabaran awal Ahreum tentang dirinya cukup membuat senyum Minho merekah. Tetapi poin terakhir terdengar begitu miris di telinga Minho. Kibum, temannya yang tidak terkenal saja sudah dua kali ganti pacar sejak awal tahun ajaran. Lalu Minho?

Ahreum melahap potongan terakhir rotinya, mengunyahnya pelan-pelan untuk membiarkan Minho menggigiti bibir tebalnya sendiri. “Yang aku tidak tahu, mengapa orang yang bernama Minho itu suka mengamatiku kalau aku sedang duduk di antara deretan lemari buku. Aneh juga kenapa Si Minho itu sering minta izin untuk semeja denganku di kantin, padahal itu tempat umum dan aku bukan pemilik bangkunya. Dan yang lebih mengherankan lagi, kenapa Minho—yang biasanya memberikan bangkunya di bus pada orang yang lebih membutuhkan—mendadak egois mempertahankan bangkunya yang ada di sebelahku.”

Minho tahu Ahreum sengaja menggantungkan kalimatnya. Tidak ada titik yang bisa Minho taruh, tidak cocok pula dibubuhi tanda tanya karena itu sama sekali tidak memerlukan jawaban. Minho menyimpulkan gadis itu sudah mengetahui hal yang selama ini menjadi satu-satunya alasan bagi Minho untuk melakukan semua hal tadi.

“Kadangkala, wartawan yang tidak gencar memburu publik figur justru merupakan orang yang sebenarnya mempunyai pikiran mendalam tentang tokoh terkenal tersebut,” Minho menegakkan duduknya—berkebalikan dengan Ahreum yang justru menyerahkan punggungnya pada sandaran kursi penumpang.

“Karena ia tidak menyadari bahwa orang yang tengah dikerumuni itu merupakan tokoh populer, kurasa,” Ahreum memberikan jawaban yang membuat Minho bersemangat untuk menimpali.

“Jadi menurutmu, kalau si wartawan itu sadar, apa ia juga akan mengincar si tokoh terkenal tadi?”

“Aku bukan wartawan, jadi aku tidak tahu. Bisa jadi tidak, kalau si wartawan merupakan tipikal yang apatis. Tapi bisa jadi juga iya, kalau ia sedang dituntut untuk mengisi satu kolom berita.”

Lagi-lagi jalan buntu. Minho tidak mendapatkan ide untuk membalas kalimat Ahreum dengan cara seperti apa. Pria itu takluk pada keheningan yang seketika memenuhi ruang di antara dirinya dan Ahreum. Minho hanya membiarkan suara dua gadis–yang sedang membahas grup-grup indie yang mulai populer di Korea selatan–di bangku belakang untuk mengambil alih udara di sekelilingnya. Bunyi itu merambat melalui medium udara, dengan cepat menggelitiki kuping Minho karena mendadak ia mendengar gadis itu mengakui dirinya terobsesi untuk mencium pipi Yun Lunafly. Apa gadis-gadis selalu seperti itu jika sudah terobsesi pada satu sosok? Minho berharap suatu saat nanti Ahreum akan seperti itu juga, terobsesi mendapatkan satu kecupan dari Minho tentunya—seperti yang sering diteriakkan oleh para gadis di sekolahnya, ‘Oppa, andai pangeran tampan seperti kau menciumku, lengkaplah sudah kenangan indah masa remajaku.’

Nah, usai tertawa Minho mendapat ilham. Ting tong. Seperti itu kira-kira bunyi imajinernya.

“Ahreum-ssi, kau bukan wartawan, tapi aku yakin kau seorang gadis tulen. Sebagai seorang gadis, apa pendapatmu kalau ada pria yang menyukaimu dan ia ingin berbincang banyak denganmu?”

Jangan bilang ‘Aku tidak tahu, karena aku bukan gadis yang berada dalam kondisi seperti itu’, Minho akan membutuhkan waktu cukup panjang lagi untuk memikirkan pertanyaan pancingan yang selanjutnya. Bisa-bisa kebersamaannya dengan gadis itu usai duluan, Minho tahu Ahreum akan berhenti di halte yang letaknya tidak jauh lagi.

“Karena dia artis, dia bebas saja mengisahkan tentang dirinya. Tapi jelas seorang gadis wartawan tidak akan balik menceritakan tentang dirinya pada si artis pria itu.”

Minho tidak menyangka Ahreum akan menggabungkan jawabannya dengan kisah si wartawan. Ah, Minho tidak merasa perlu memprotes lompatan itu. Ia jelas lebih tertarik pada hal lain. “Kenapa begitu? Bercerita adalah hak setiap orang.”

“Tidak bercerita juga hak orang,” Ahreum mengatakannya dengan tegas. Sepanjang pembicaraan—yang mengalir untuk pertama kalinya—baru kali ini Minho mendengar ‘tekanan’ dalam nada bicara Ahreum.

“Ah, benar juga. Tapi dengan begitu akan tercipta tembok pemisah antara si artis dan si wartawan tadi hanya karena si wartawan tidak ingin memperkenalkan identitasnya. Ada jarak yang akan membuat mereka tidak bisa mengenal dua arah. Si wartawan bisa tahu tentang artis, tapi si artis bagaikan orang bodoh yang tidak tahu mengenai jati diri wartawan tadi. Dari media mana asal wartawan itu, si artis tidak tahu.”

“Nanti juga tahu kalau satu atau dua kali lagi ditakdirkan perjumpaan selanjutnya. Time is the longest distance between two places. Minho-ssi, permisi, aku turun di depan.”

Malam itu Kim Ahreum memberikan senyuman manis pertamanya untuk Minho. Kali ini Minho paham apa maksud senyum itu. Lengkungan menyerupai parabola ke atas itu menandakan bahwa sudah ada retakan halus di dinding yang tadinya berdiri kokoh tanpa celah.

Minho sudah mendapatkan kesimpulan atas kemisteriusan seorang Kim Ahreum. Minho rasa malam ini ia akan memejamkan mata dengan senyum terkembang. Untuk seorang gadis wartawan yang begitu memikatnya pada wawancara panjang pertama.

End

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

25 thoughts on “Di Balik Jarak

  1. Aciee~ Si Minho geregetan gituu,
    Kok ceweknya kayak super misterius gitu yah? Kayak gak mau cerita banyak tentang dirinya sama orang lain yang baru dikenal gituu
    Tapi, aku suka ceritanya! Aku tunggu karya berikutnyaa~

      1. bener. tapi klo kita memperjuangkan argumen ujung-ujungnya dibilang ngeyel, keras kepala, kepala batu, dll. ini yang bikin saya sebel.
        ya, sama-sama, Bibah Eonni.

        1. Argumen ama prinsip beda, kan? Di sini Ahreum punya prinsip. Prinsip tuh kan hal mendasar yang harus dipegang teguh ama seseorang. Kalo argumen kesannya cuma opini atas sesuatu, dan masih ga masalah kalo dikalahkan dan dibantah

  2. aaaa…ahreum mengagumkan,kalau aku udah slah tgkah dulu diajak ngobrol seorang minho,,hihihi

    daebak lah lo karya bibib.. ^,^

  3. waaa, aku kagum sama ahreum. jawabannya bisa bikin orang mati kutu, kalau dipinjem buat jadi pengacara boleh? ^^v, mau nanya ahreum belajar dari mana kata kata kaya gitu, mau ikut berguru juga. hehe, aku suka sama ceritamu thor, keep writing!

  4. sulit banget mau ngobrol ajaa .__. Ahreum ini susah ditebak deh, kasian Minho jadinya, hahaha

    keren, kak Bibah. Sering-sering nge-post di sini doong😀

  5. si Ahreum inget dan tau bgt apa yg Minho lakukan klo di deket dia.
    Berarti si Ahreum jg merhatiin si Minho jg ya..🙂

    jadi berharap bgt ada pertemuan selanjutnya deh^^

  6. Hahaha oppa kepo, mau juga di penasaranin sama namja semacam choi minho.

    Tapi kayaknya ahreun juga bingung kenapa minho baik banget sama dia

  7. hah kak bib ternyata aku belum komen #digeplak
    awalnya baca gegara namanya mirip sama namaku ㅋㅋㅋ
    dan jadinya lucu plis
    baca ini entah kenapa jadi sejenis bangga gitu bisa nyekakmat si choi minho kampret yg kepo abis

    kurasa yang ahreum jawab pake perumpamaan wartawan itu harus diacungin empat jempol *telentang ala panda*
    kali2 tu orang biar agak kalem dikit keponya dan sedikit mikir
    kan ya enggak semua orang harus ngurusin apa yang diurusin orang lain huh
    dan bagus banget si ahreum nggak langsung ngomongin secara denotatif
    hah aku ngoceh apa aja sih ini

    semoga buruan dapet ide lagi ya kak
    makasih ceritanya
    ditunggu cerita yang lainnya🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s