She Is..

She Is..

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (chandrashinoda)

Cast:
•    Lee Jinki
•    Im Yoona
•    Kim Jonghyun

Length: Drabble

Genre: Horror, Crime

Rating: G

Inspired by: After School Horror – Terlambat Datang

Disclaimer: I don’t own all SHINee members, they are God’s. They belong to themselves and SM Entertainment. I’m just the owner of the story.

***

Halo reader, kali ini aku datang dengan FF drabble dadakan ini. FF ini aku angkat dari sebuah cerita pendek horror di novel After School Horror  yang berjudul Terlambat Datang. Hmm.. sebenernya aku janji sama beberapa reader untuk publish lanjutan TSTM awal bulan ini. Tapi sepertinya belum bisa aku penuhi karena jadwalku yang padet *sok sibuk banget dehh*. Bisa aja sih aku ngerjain kebut-kebutan, tapi kalau hasilnya nggak maksimal reader juga pasti nggak akan puas. Jadi sabar dulu yaa. Kalau ada jadwal kosong bulan ini aku pasti akan publish lanjutannya bulan ini.

Happy reading ^^ Maaf untuk typonya.

***
Aku, Lee Jinki, 25 Tahun. Aku seorang guru bahasa di Seoul High School. Rutinitas ini telah aku jalani selama 2 tahun. Sebagai namja yang menyandang status single, dan berhubung usiaku tak terpaut jauh dengan siswa-siswi di sini, aku cepat akrab dengan mereka dan bisa mengenali karakter mereka dengan mudah.

Pagi ini aku memulai aktivitas dengan merapikan meja kerjaku di ruang guru. Berkas-berkas kerja yang belum sempat kurapikan kemarin mengganggu pemandanganku. Kupercepat gerakanku mengingat 15 menit lagi kelas akan dimulai.

Hari ini cuaca kurang bersahabat. Rintik-rintik hujan yang berjatuhan perlahan berubah menjadi deras. Sesekali terdengar petir menggelegar, membuatku refleks memejamkan mata. Aku mempercepat langkah menuju kelas. Kurapatkan lengan kananku yang memegang 3 buah buku, memastikan agar tak ada yang jatuh.

Kubuka pintu kelas 3-2 perlahan. Suara riuh di dalam mendadak sepi begitu aku menginjakkan kakiku di lantai kelas. Awalnya kukira akan banyak siswa yang terlambat karena dalam cuaca seperti ini kupikir mereka lebih suka bergelut dengan selimut dan bantal daripada harus repot-repot ke sekolah, namun ternyata dugaanku salah. Seluruh penunggu bangku kelas sudah hadir. Ah tidak, ada satu orang, Im Yoona, siswi yang duduk di bangku depan.

Aneh, biasanya dia yang datang paling rajin. Sepengetahuanku dia anak yang pintar, periang, dan selalu datang paling pagi. Namun kali ini…. ah, mungkin dia ada halangan atau semacamnya.

“Baiklah, anak-anak, untuk pemanasan pagi ini, aku ingin kalian menulis sebuah karangan tentang hal paling berkesan yang kalian alami selama 1 minggu ini.” Paparku di depan kelas. “Tulis dalam selembar kertas, selesaikan dalam 30 menit.”

Aku duduk dengan santai di bangkuku sementara para siswa mulai sibuk merobek kertas dan segera menulis. Sekitar 15 menit berlalu, terdengar seseorang membuka pintu depan kelas. Sesosok gadis dengan pakaian basah kuyup datang dengan tertunduk. Im Yoona, ia melirikku dengan tatapan takut. Naluriku mengatakan bahwa ia takut kumarahi. Dengan tertatih-tatih ia menghapiriku.

“Mianhaeyo, Seonsaengnim,” ucapnya terbata. Ia tetap menunduk sadar akan kesalahannya.

Aku merasa iba dengan keadaannya. Meski terlambat, ia telah berusaha datang ke sekolah meski dalam keadaan basah kuyup.

“Buatlah karangan tentang hal yang paling berkesan yang kau alami dalam seminggu ini. Buat dalam selembar kertas dan kumpulkan padaku 15 menit lagi,” jelasku dan mempersilakannya duduk.

Yoona mengangguk. Ia berjalan dengan hati-hati kemudian segera duduk di bangkunya. Sejak awal kedatangannya aku merasakan suatu keganjilan. Seluruh isi kelas sunyi sama sekali, seolah tak sadar ada yang datang. Atau mereka sedang berkonsentrasi dengan tugasnya? Hanya kulihat Kim Jonghyun, siswa yang duduk 2 bangku di belakangnya, menoleh sesaat. Mungkin ia juga heran mengapa Yoona bisa datang dalam keadaan seperti itu. Seingatku mereka berteman baik. Jadi hal yang wajar jika ia merasa asing dengan keterlambatan Yoona.

Merasa bosan menghabiskan lima belas menit terakhir, aku berkeliling kelas, melihat seberapa jauh anak didikku mampu mengembangkan kosa kata mereka dalam menulis karangan. Ada yang menulis sampai 2 halaman, 1 halaman, dan ada juga yang baru menyelesaikan beberapa kalimat saja.

Aku kembali merasakan keanehan saat sampai di depan bangku Yoona. Tubuh anak itu sangat menunduk saat menulis, bahkan mungkin jika ia lebih membungkuk 5 cm saja wajahnya akan menempel dengan meja. Tubuhnya bergetar hebat, ia pasti sangat kedinginan. Gerakan tangan kanannya tak karuan, sepertinya ia sulit menulis sambil menahan rasa dingin yang menususk tulangnya.

30 menit waktu yang kuberikan  telah selesai. Satu persatu dari mereka mulai mengumpulkan hasil karangannya padaku, dan terakhir Yoona, ia mengumpulkan karangannya dengan tertatih-tatih seperti saat masuk ke kelas tadi. Aku mengerutkan kedua alisku. Karangan yang ia kumpul sangat buruk, dengan tulisan cakar ayam dan tinta yang luntur oleh air di beberapa bagian.
Ada apa dengan anak itu? Biasanya ia sangat rapi dan telaten.

***

Pukul 4 sore seluruh kelas berakhir. Suasana sekolah mulai tampak sepi. Ruang guru juga mulai kehilangan penunggunya. Hanya aku dan beberapa gutu muda lain yang masih betah duduk di ruangan penat ini. Aku mulai menelaah karangan yang dibuat oleh oleh siswa kelas 3-2. Satu persatu, hingga aku menemukan 2 karangan yang membuatku tertegun. Salah satunya tentu karangan Im Yoona yang hampir tak terbaca, dan satu lagi karangan Kim Jonghyun. Beberapa kalimat yang ia tulis membuatku merinding. Seperti ini kalimatnya..

“Hari ini bayangannya melintas di depanku. Sulit untuk dipercaya, salah seorang yang selalu mengisi keseharianku telah pergi. Dan ia menunjukkan penghormatan terakhirnya dengan datang kemari. Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi esok hari. Entah menyenangkan, menyedihkan atau mungkin kita akan meregang nyawa.”

Siapa yang ia maksud? Apakah salah seorang dari keluarganya meningggal hari ini? Atau ada hubungannya dengan Im Yoona?

Tit..tit..tit.. ditengah bergelut dengan pikiran kalut, ponselku berdering. Sebuah panggilan masih dari nomor asing.

“Ne, yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, benar anda Lee Jinki?” terdengar suara serak seorang wanita paruh baya di ujung sana. Seperti sedang menangis.

“Ya, saya sendiri.”

“Saya ibu dari Im Yoona. Maaf saya terlambat memberitahu ini pada anda. Putriku mengalami musibah tadi pagi. Ia mengalami kecelakaan, dan  meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit,” suara serah wanita yang ternyata ibu dari Im Yoona berubah menjadi tangisan.

“Ne?” aku bingung harus mengatakan apa. Seolah ini semua hanya bualan. Jelas-jelas tadi pagi Yoona datang ke sekolah. Tapi dibalik semua itu ibunya tak mungkin berbohong. Orang tua macam mana yang berani berkata sembarangan tentang kematian anaknya?

Aku menutup ponselku, segera bergegas ke rumah Yoona dengan perasaan tak karuan. Sebelumnya aku sempat mampir ke rumah anak itu saat ia mendapat juara baca puisi yang diadakan seantero kota Seoul, jadi tak akan sulit bagiku untuk menemukan rumahnya.

***

Suara tangisan memekakkan telingaku saat masuk ke ruang duka. Aku terperanjat, dadaku seperti dihantam benda berat. Di depanku kini terbaring sosok yang tadi pagi datang padaku dengan tertatih-tatih. Aku terduduk lemas, dan tak tahu harus berkata apa.

“Dialah yang kau lihat, Seonsaengnim.” Terdengar suara di sampingku. Dia salah satu muridku, Kim Jonghyun. Kedua matanya sembap. Tentu saja, ia pasti seharian menangisis kepergian sahabatnya.
Aku bungkam, tak tahu harus berkata apa.

“Kau lihat di samping jenazahnya?”

“Ne?” aku refleks melihat ke arah yang ditunjuk Jonghyun. Im Yoona, gadis itu berdiri di sana, tepatnya arwahnya. Pandangan gadis itu kosong dengan raut wajah datar dan menunjukkan kesedihan. Tangannya menunjuk ke arahku. Bukan, tepatnya pada kertas yang sedang aku genggam.

“Jonghyun-ah, kau mengerti apa yang ia maksud?” aku menatap Jonghyun bingung, tetap dengan perasaan tak percaya dan tak mengerti. Heran mengetahui Jonghyun bisa melihat hal-hal yang tak kasat mata, dan frustasi mengapa aku juga harus mengalaminya.

“Sepertinya dia ingin menunjukkan sesuatu padamu. Dikertas itu.” Jelas Jonghyun.

Aku membuka karangan Yoona dengan sedikit gemetar. Tulisan cakar ayam dan tinta luntur, apa yang ingin dia sampaikan?
Jonghyun menimpaliku memperhatikan tulisan Yoona. Ia menelitinya dengan seksama sampai ia menemukan keanehan di akhir tulisan Yoona, sebuat nomor plat mobil.

“Ini maksudnya? Orang dengan plat mobil ini yang menabrak dia?” tanyaku.

“Aku rasa begitu.” Ujar Jonghyun. “Im ahjumma mengatakan Yoona mengalami kecelakaan di pertigaan di dekat sekolah. Tabrak lari tepatnya. Kurasa kita harus melaporkan hal ini ke polisi.”

“Tapi, bagaimana mungkin polisi akan percaya dengan hantu yang datang ke kelas dan menuliskan siapa pembunuhnya?” aku menghela nafas, frustasi.

“Anda bisa bisa berpura-pura sebagai saksi mata, katakan bahwa anda melihat mobil yang menabrak itu. Dan sebagai penguatnya, cctv yang terpasang di pinggir jalan akan menunjukkan siapa pembunuhnya.” Papar Jonghyun panjang lebar.
Aku mengiyakan saran Jonghyun. Yang dikatakannya masuk akal dan mungkin akan bisa menguak tersangka dari kasus ini. Dengan begitu Yoona akan tenang.

Begitu acara selesai aku segera pergi bersama Jonghyun. Berbekas secari kertas, kekuatan amanat Yoona dan dorongan Jonghyun, aku berani  mempertaruhan diriku datang ke tempat para pemegang senjata api. Demi anak didikku, kuharap yang kulakukan akan membantu.
***
Epilog
Dua minggu setelah aku melaporkan tentang musibah yang menimpa Yoona, berita tentang tabrak lari itu dimuat diberbagai media. Di surat kabar dikatakan orang yang menabrak Yoona seorang preman jalanan bernama Kim Kibum. Saat itu ia menyetir dalam keadaan mabuk, jadi tak bisa menguasai dirinya dengan baik sehingga ia menabrak pengendara motor yang tak bersalah, yang mengemudi di kiri jalan dengan hati-hati.

Kejadian itu membuatku banyak belajar. Aku mulai memahami bahwa ada anak didikku yang memiliki sixth sense seperti Jonghyun. Mengerti bahwa kehidupan tak selalu berjalan seperti yang kita inginkan, dan kapanpun ajal bisa menjemput. Intinya kita harus siap dengaan segala kondisi.

Kini saat mengajar di kelas terkadang aku melihat sosok Yoona hadir menyaksikan kami semua. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, namun aku tahu ia telah tersenyum lepas, terbebas dari kesedihannya.

FIN

©2011 SF3SI, Chandra.

Officially written by Chandra, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

26 thoughts on “She Is..

  1. Hii.. Serem yaa rasanya kalau kita ngerasa ketemu orang tapi ternyata orang itu udah meninggal.
    Meski pendek ini bermakna banget. Keep writing yaa

  2. Chanchan….
    Welcome back….

    Bener Chan… TSTMnya banyak buanget yang nungguin
    Buruan, ya…. Semoga gak terlalu sibuk lagi agar bisa konsen nulis, publish, and finish…
    hehehehheeee….

    Oke sekarang ke ‘She is’ dulu…
    Sejak kedatangan Yoona ke kelas yang rada ganjil,
    aku udah prediksi, nih si Yoona pasti sumber horornya…
    Cuma rada syerem ketika dia muncul lagi di samping jenazahnya dan menunjuk ke arah suamiku, Jinki
    Waduh, nih, aku bacanya berasa aku jadi jinki dan liat sosok tak kasat mata nunjuk ke arahku…
    *pingsan bbok… (walaupun nunjuknya sebenernya ke arah kertas yang lagi dipegang…)
    Nih juga berarti, meskipun orangnya ketika masih hidup itu pun sebaik sosok Yoona di sini,
    tetep aja bikin merinding DJ kalo udah jadi sosok dari dunia lain… *peyukJinki…

    Ringkas kata, feel horornya dapet
    aku gak nemuin typo seperti yang kamu wanti-wanti sejak awal…
    (mungkin akunya yang rada juling…)
    Very nice ff…

    Keep writing…
    TSTM dinanti…

  3. CHANDRA EONNIE
    OH.MY.DEAR.GOD
    DEMI LUHAN, AKU KANGEN DIRIMUUUUU~

    Tempat ku berkeluh kesah jaman-jaman galau sf3si huhuhu~
    apa kabar? eh well, mustinya aku komen FF nya ya?
    Soal typo.. hehe.. nemu sih, tapi bodo amat ah

    Duh, si Kibum ini, kasian bener perannya hahaha. Muncul namanya doang tapi jelek banget karakternya.
    Awalnya, kupikir si yoona meninggalnya kemarin loh. Soalnya karangannya Jonghyun seolah bilang kalau dia udah tahu Yoona meninggal, padahal baru pagi itu kan ya?
    Si Jinki ini kenapa bisa ngeliat Yoona juga ya? apa diem-diem dia punya sixth sense? *ngarep ada kelanjutan*
    Mungkin kebiasa baca oneshot horor eonnie, aku jadi berasa yang ini cepet. Kurang puas gitu ._.
    Tapi teteeeepp.. kalau soal horor sih Chan eon jagonya😀
    d^O^b

  4. Chan eonnn, akhirnya kamu muncul
    Seperti biasaa dengan genre FF andalanmuu
    Wuaaahhhh sumpah kangen banget baca tulisanmuuuu

    Biarpun pendek tetep baguss, feel horrornya dapet
    Aku ngerti kok eon pasti sibuk bangett,
    Aku tetep setia pastinya nunggu kelanjutan TSTM
    Semangat ya, eonnn ^^

  5. bwa ha ha ha ha! Kibum jadi kambing hitam. aku suka loh sama tulisan author yang satu ini, yang punya sixth sense biasanya Jonghyun, yang lain kena tumbal jadi pembunuh klo nggak jadi hantunya. kasian, kasian, kasian.

  6. Bingung mau ngomong apa. tapi gamau jadi silentrdrs.
    semua yang pngen aku bilang udah ketulis dikomen2 sblmnya. Keep Writing!! :3 xD

  7. Seperti biasa,,,, karya eonni selalu daebak,,,, keren banget ad sih satu typo yang kutemuin,,, klo ga salah kata guru jd gutu,,, apa aq yg salah liat,,,,
    no problem gede,,,,
    Aq bisa ngerasain feel x dn juga ngerasa klo eonni bner bner punya gaya bahasa yg enak d mengerti, keren, dan nggak ngebosenin.
    Yg kurang cuma satu,,,, tolong eonni,,, TSTM x dilanjutin,,, bentar lg aq mau ujian,,, #hubungan x apa,,,,
    dn salam knal eonni,,,

  8. Tiap baca ff Chandra, kbanyakan brhubungan ma sixt sense*gk tw tlsn.a bner gk?* atau smacam indigo g2,. Tp itu yg bkin akk trtarik n penasaran.. Ehmm.. kalo blh tw Chandra anak indigo ya? Kog tw bnyakk tntng mereka? #mulai_kepo
    hihihi mian

  9. HUAAA… lagi2 ttg sixth sense… kkk… tp menurut aku sixth sense jjong msh mendingan.. aku kenal seseorg yg sixth sensenya parah..😦
    jd inget tmn mama aku.. suaminya yg lg dinas k luar kota pulang mlm2.. trs ngobrol smp tante ketiduran.. paginya pas bngun, suaminya g ada lagi dan tante dpt telpon kalo suaminya kecelakaan d jln pulang n meninggal. pas dicek, wktu kejadian kecelakaannya itu justru sblm suaminya dtg ke rumah mlm itu…😦

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s