Who I am? I am an Eve – SPY 14

By           : ReeneReenePott

Cast       : Key, Jessica, Jung Yoogeun, Ariana Clearwater, Chase Lee

Minor cast : Hero, Taylor Kim, Gyuri, Elias, Madeleine, Baek Chan Gi

Genre   : Alternate Universe, Fantasy, Mystery, Sad, Romance

Length  : Sequel

Rating   : PG – 15

Credit poster by : cutepixie artposter/pinkhive.wordpress.com

Credit Spells : Any spells that mentioned in this fiction are belong to JK Rowling in her Harry Potter novel series.

Disclaimer : This plot of fiction and the concept of creature “Eve” are MINE, except the casts and some knowledges—ReeneReenePott

SPY 14

Jessica melompat turun dari pohon yang tadi sempat ia panjat dan jadikan tempat istirahat. Ia melihat Key sekilas sebelumnya, jadi memutuskan untuk mengikuti Eve pria itu. Jessica sedang memasang topinya dan merapikan bajunya saat seseorang menepuk bahunya. “Mau pulang sekarang?”

“Kau sudah cukup berburu?”

“Tidak terlalu banyak yang kudapatkan di sini,” balas Key sambil mengangkat kedua bahunya. “Kurasa masih bisa bertahan untuk lima sampai enam hari. Sebaiknya kita kembali,”

“Kenapa terburu-buru? Siapa tahu kita bisa dapat mangsa  di tengah jalan,” tukas Jessica smabil melihat ke arah lain.

“Aku merasakan firasat aneh,”

Kalimat Key barusan membuat Jessica langsung berpaling menatapnya. “Firasat aneh? Maksudmu?”

Tapi Key hanya bisa menggaruk tengkuknya. “Tidak tahu. Yang jelas aku merasakan firasat aneh. Akan terjadi sesuatu yang tidak beres di kastil nanti,”

“Apa menurut firasatmu itu akan berkaitan dengan Elf?” tanya Jessica was-was. Tapi Key hanya menggeleng.

“Aku hanya merasakan firasat aneh. Aku tidak bisa mengetahuinya, kan, Sica, aku tidak bisa membaca atau mengintip masa depan,” gerutu Key lalu berjalan duluan dari Jessica. Eve wanita itu hanya mendengus, tahu kalau dia sudah membuat mood Key rusak. “Kau terlalu gampang penasaran,”

“Karena kau mengatkan hal yang tidak-tidak,”

“Firasat bukan suatu hal yang aneh, kan?”

“Tapi, kau membuatku takut,”

“Takut?”

“Kalau sampai terjadi perang di kastil kita bagaimana? Mau perang antar Eve, Elf, Werewolf, atau manusiapun, akan membawa kerusakan yang sama parahnya dan bisa-bisa itu menjadi perhatian manusia yang tidak bersangkutan,” cerocos Jessica tanpa jeda. Key hanya tersenyum mengejek.

“Bilang saja kau malas bertarung,”

“Ya, ya, ya, kau hampir benar. Pertarungan terakhirku tak berjalan mulus,” sahut Jessica lalu mendengus lemah. “Sebaiknya kita cepat, Key. Sudah malam,”

Key tak memberi jawaban. “Jess, waktu nanti kita sampai Seoul, kau mau jalan-jalan sebentar?” tanya Key tiba-tiba.

Jessica mengedipkan matanya berulang kali. “Mau jalan-jalan? Kemana?”

Tapi Key tersenyum miring. “Aku akan memangsa Jihyun malam ini,”

Langkah cepat Jessica berhenti, tapi Key terus melangkah. “Malam ini?” Jessica berpikir sejenak, lalu menyusul Key yang hampir jauh di depan. “Apa tidak terlalu cepat?”

“Yah, menurutku sih tidak. Dia sudah terlalu lama menunggu untuk dimangsa,”

“Adiknya?”

“Adiknya? Hm, entahlah,”

__

Madeleine dan Elias sudah kembali ke kastil dengan selamat—tanpa ketahuan—dan utuh. Biasanya, apalagi di daerah Mongolia ke barat-utara, bila Elf berkelana mereka akan mendapat sambutan dari para troll. Yeah, lagipula mereka sudah cukup berpengalaman dengan troll. Madeleine pernah membunuh tiga saat perjalanannya kembali dari Ellesmera. Dan Elias? Jangan ditanya. Elf pria itu sudah sangat biasa dengan troll.

“Kau mau kemana?” tanya Elias ketika Madeleine berjalan keluar kandang kuda dengan arah berlawanan dengan pintu kastil.

“Mengunjungi para pegasus. Semalam tidur mereka tidak nyenyak,”

“Mau kutemani?” tawar Elias sambil merapikan pelananya. Madeleine menggeleng.

“Aku sudah biasa mengurus pegasus sendiri, kan?”

“Hm, kalau begitu aku ingin ikut kau jalan-jalan. Aku kan tidak telaten soal merawat mahkluk. Sekalian, aku bosan berasa di kastil,” kata Elias lalu menyamakan langkah dengan Madeleine.

“Memangnya tidak ada siapa-siapa di dalam kastil?” tanya Madeleine heran. “Kalau kau ingin istirahat, istirahatlah,”

Elias hanya mengangkat bahunya dan mengikuti Madeleine. Elf wanita itu tidak meletakkan busur dan panahnya, tapi langsung saja menuju ke hutan belakang. Ia membawa sebotol butterbeer yang masih sisa dari ranselnya, dan berpura-pura cuek pada Elias yang mengikutinya. Karena err… well, entah kenapa Madeleine akhir-akhir ini merasa bahwa pria itu sedikit lebih menyebalkan dari biasanya. Di rumah sakit, Elias selalu mengajaknya makan siang. Elias juga selalu minta ditunggu saat pulang, supaya mereka bisa pulang bersama.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Elias ketika Madeleine membuka sebuah peti yang ada di dekat gudang dan mengeluarkan sebuah botol wiski dari sana.

“Pegasus hanya mau minum wiski gandum. Sebaiknya kau bawa satu, mereka jutek pada laki-laki,” senyum jahil Madeleine sambil berlalu. Elias menatap datar peti itu meski akhirnya ia mengeluarkan sebotol dari dalamnya. Dengan cepat ia menyusul Madeleine yang sudah hampir benar-benar masuk ke dalam hutan.

“Hei, kenapa jalanmu cepat sekali,” celetuk Elias tapi Madeleine sama sekali tak menanggapinya. “Kau tidak merasa aneh di hutan ini?”

“Aneh apa?” tanya Madeleine dengan santai sambil membuka gabus penutup botolnya dengan tangan kosong, menuangkannya ke sebuah mangkuk yang sudah tersedia di bawah sebuah pohon. “Mungkin kau saja yang aneh karena tak pernah ke sini. Di sini banyak mahkluk unik,”

Elias menatap Madeleine tajam. Dia tidak terlalu bodoh untuk menyadarinya, tapi ia sudah merasa bahwa seorang asing menjelajah tempat itu. “Kurasa kita harus kembali,”

Madeleine mengangkat kepalanya. “Pegasus-nya saja belum kupanggilkan. Kita akan kembali setelah mereka minum,”

“Madeleine…”

Jleb!

Keduanya tersentak ketika sebuah panah tiba-tiba menancap di batang pohon besar, tepat di sebelah Madeleine. “Ada ap—ARGH!”

Jleb!

Srakkk

Dengan sigap Elias langsung menangkap tubuh Madeleine yang hampir ambruk karena lengannya yang ikut terpanah, seper sekian detik kemudian. Dan Elias tidak bisa memprediksinya. “Kita kembali!”

Dengan pasrah Madeleine ikut saja ketika Elias tiba-tiba menggendongnya dan dengan cepat mereka sudah sampai di kastil. Elias mendudukkannya di sofa dan kembali ke kamarnya berusaha mencari beberapa yang dapat meringankan luka panah itu, sementara dengan lemah Madeleine berusaha mencabut panah yang masih menancap di lengannya. “Akh!” rintih Madeleine.

“Aku sudah bilangkan, aku merasakan sesuatu yang aneh tadi. Dan kau ngeyel,” celoteh Elias terdengar seperti gumaman, sementara yang dicelotehi hanya bisa bungkam.

“Sudahlah, jangan buat hari cuti kita ini menjadi rusak,” sela Madeleine dan memerhatikan lukanya yang perlahan dibalut dengan sejenis ramuan dari daun obat yang ditumbuk.

“Hari cuti kita sudah rusak,” balas Elias, seperti menahan emosi. Madeleine hanya tersenyum lemah dan memerhatikan panah yang tergeletak di atas lantai.

“Tapi sepertinya bukan elf atau mahkluk lainnya yang memanahku. Itu seperti buatan manusia,” ujarnya seakan mengalihkan pembicaraan. “Panah manusia jaman modern,”

Kedua mata Elias menyipit. “Manusia tahu tempat ini? Bukankah tidak mungkin?”

Madeleine mengangkat bahunya. “Sebenarnya mungkin saja,” Elf itu merintih ketika lengannya sedikit ditekan agar Elias bisa membalutnya dengan kencang. “Kalau mereka benar-benar ingin menuju tempat ini, mereka pasti menemukannya,”

Elias memandang ke arah lain lalu menghembuskan napas berat. Sedetik kemudian pintu kasti terbuka, membuat keduanya terkejut. “Oh, Hero,”

Hero, yang muncul di ambang pintu hanya menatap keduanya bingung. “Apa? Kenapa?” akhirnya matanya menangkap lengan Madeleine yang sudah dibalut, dan sebuah anak panah di genggamannya. “Ada serangan?”

“Tidak tahu persisnya serangan atau tidak. Tapi begitu dia terkena, serangan itu langsung berhenti,” jawab Elias datar. “Anak panahnya milik manusia modern,”

Hero nampak diam sesaat. “Ini benar-benar terjadi,” gumamnya yang membuat Elias maupun Madeleine menjadi bingung. “Blokir hutan belakang dengan sihir, supaya jangan ada siapapun yang bisa menerobos lewat sana,” ujar Hero yang nampak seperti titah, dan keduanya hanya mengangguk.

“Tapi itu tak akan berpengaruh kalau nantinya Ariana yang masuk,” tukas Madeleine pelan. “Sihir kami tak akan berpengaruh apapun padanya,”

“Seidaknya blokir para manusia yang mencoba menerobos masuk ke sini. Aku khawatir akan ada serangan yang lebih besar lagi,”

“Takut akan ada perang?” tanya Madeleine polos. Hero mendengus keras.

“Kalau kami, kaummu, werewolf, ditambar militer manusia saling berperang, bukankah itu menandakan akan ada penjatuhan bom dari langit? Manusia yang paling tidak punya kekuatan magis, tapi teknologi mereka berkembang jauh dari kita. Bagaimana kalau itu memancing manusia lainnya? Kau mau kalau wajahmu masuk ke berita sebagai seorang elf? Kau bisa jadi buronan seluruh dunia,” Hero berceloteh panjang lebar. “Kalau Key sudah pulang, minta dia memasang sihir di hutan belakang,”

__

Ariana mengetuk-ngetukkan kuku jari lentiknya di atas meja kaca itu, ia sekarang bisa bermarkas di kantor Yoogeun.  Matanya tidak memandang Seth yang sedang berdiri menghadapnya, tapi menerawang seakan merencanakan rencana selanjutnya.“Oh, jadi dokter Elf itu benar-benar di sana?”

“Ya,”

“Kau bisa menerobos mantranya?”

“Ya,”

“Sekarang tanggal…” Ariana melirik kalender yang tergantung di dinding. “Dua puluh lima. Tanggal tiga puluh kita semua akan ke sana,” bibirnya yang indah melengkungkan sebuah seringai.

“Lima hari lagi?” tanya Chase yang sedang duduk diam di sofa. “Itu bulan purnama…”

Seringai Ariana makin nampak kejam. “Ya. Di bulan purnama, mereka bisa menyaksikan satu-persatu dari mereka jatuh, dan mereka bisa dengan jelas melihat lautan darah di rumah tercinta mereka,”

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Ariana mendongak dan melihat Yoogeun yang mulai melangkah mendekat. “Yoogeun,” panggilnya dengan aksen aneh.

“Orangku bisa masuk ke sana?” tanya Yoogeun to the point. “Aku kurang percaya pada hal-hal itu, tapi, apa benar ada sesuatu yang bisa menjadi penghalang?”

Ariana mengangkat alisnya, membutar kursinya dan berdiri. “Yah, itu pasti. Mereka akan memperkuatnya jika ketahuan ada yang bisa menyelusup. Dan mereka akan selalu tahu,”

“Lalu bagaimana selanjutnya?”

“Biarkan aku bertanya dulu padamu, kau mau Jessica hidup-hidup, atau kepalanya saja?” tanya Ariana dengan nada rendah. “Atau, kau mau mengambilnya?”

Yoogeun menarik napas dalam lalu menghembuskannya. “Itu akan kupikir nanti. Lalu kau, apa yang akan kau lakukan jika kau mendapatkan Key? Setidaknya, beri aku inspirasi,”

Ariana menatap Yoogeun lekat. “Key? Oh, aku akan membuat perhitungan dengannya. Asal kau tahu, aku sudah mengubah tujuanku ke sini. Kupikir ini kejam—ya, aku terlahir untuk berbuat kejam. Tapi dia membuatku marah. Aku akan membunuh siapapun yang membuatku marah,” Ariana berkata dengan intonasi seperti mendendam, dan Yooguen bisa merasakan udara di ruangan itu tiba-tiba mencekam. Bagi yang bisa melihatnya, hawa aura Ariana berubah. “Aku bukan manusia biasa sepertimu. Jadi,”

“Apa?”

“Kita akan bergerak tanggal tiga puluh bulan ini. Jadi pastikan orangmu siap,”

Sekali lagi Yoogeun menatap Ariana, sudut matanya melirik Chase dan Seth bergantian. “Dan kau? Kau cuma bertiga?”

“Jangan meremehkan kami. Kami bukan orang biasa, tidak sepertimu,” balas Ariana jutek dan kembali duduk di kursinya. “Oh ya, ternyata masakan orangmu enak juga,”

Yoogeun tidak membalas Ariana. Ia hanya tersenyum simpul lalu melangkah keluar. Berbagai macam pikiran berkecamuk di dalam pikirannya. Jessica… ia sudah lama tidak melihat wanita itu. sebagian kecil hatinya ingin sekali melihat wanita itu, tapi di sisi lain ia akan merasa normal jika ia membunuh dan membenci wanita—oh, mahkluk itu. Mereka yang membuat tunangannya harus merasakan kepahitan menjadi mangsa.

__

“Mau lihat?” kepala Key menoleh menatap Jessica yang berdiri di sampingnya sambil melipat kedua tangannya.

“Apa?”

“Aku kan mau memangsa Jihyun malam ini. Kau mau lihat?” tanya Key lagi. Kedua mata Jessica menyipit bingung.

“Hah? Kau bisa tahu darimana?”

Key mengetuik-ngetukkan pelipisnya dengan telunjuk. “Insting, nona,”

Tanpa berkomentar, Jessica hanya mencibir. “Jadi kau memintaku untuk mengawasimu?”

“Oh yeah? Yah tidak juga sih. Sebenarnya tidak perlu mengawasiku,” jawab Key dengan suara rendah, “Tapi, aku sudah menemanimu. Setidaknya balas aku dengan ikut menemaniku,”

“Kita belum kembali ke kastil,”

“Sudahlah. Hanya satu malam, lalu kita akan kembali. Oke?” Key tersenyum jenaka lalu melesat meninggalkan Jessica yang bengong sebentar.

“Hey, katanya kau minta ditemani,” protes Jessica kesal lalu ikut menyusul Key. “Kenapa duluan sih? Di sini ramai, tidak bisa terlalu cepat,”

Key memelankan laju larinya, lalu menengok arlojinya sebentar. “Sudah jam sebelas. Sebentar lagi pasti akan sepi sekali,”

“Seoul tidak pernah tidur,” celetuk Jessica. “Cepat, sebentar lagi tengah malam,”

“Kalau begitu kita harus bagaimana?” tanya Key lalu benar-benar berhenti, di sebuah halte bus. Jessica juga ikut berhenti beberapa detik kemudian, lalu kepalanya mengadah menatap langit malam yang gelap dan berawan.

“Kita bisa…”

“Terbang? Wow, itu terlalu ekstrim nona,” sahut Key. Tapi ia kembali berpikir. “Apa ada tempat yang tersembunyi?”

Jessica tersenyum miring. “Di belakang halte ini ada pagar kawat yang tak pernah terawat. Lagipula, kita tak akan kelihatan jika terbang,”

Sraakkk

“Baiklah,” Key langsung membuka sayapnya yang hitamk legam dan besar.

Srakk

Kini Jessica yang membuka sayap kelelawarnya. “Apa lihat-lihat? Kau mau mengejek lagi?” sinis Jessica. Key terkekeh lalu menggeleng pelan. Mereka berdua akhirnya mengangkasa, membuat diri mereka tersamarkan dengan langit yang hitam kelam saat itu.

“Itu tempatnya,” gumam Jessica dan mulai terbang rendah, mengikuti Key di depannya. Kepalanya mendongak ke atas lalu ia mendarat di sebuah pohon besar, bersembunyi di balik batang-batangnya. “Pukul setengah dua belas malam,”

“Aku akan cepat,” balas Key yang mendengar gumaman Jessica. Namun Eve wanita itu hanya tersenyum kecil.

“Kurasa agak sulit untuk mempercepatnya,” balas Jessica dengan suara kecil. “Kau tak ingat betapa tertariknya Jihyun padamu,”

Tapi Key hanya menyeringai sebentar dan berbalik, langsung melesat ke salah satu jendela rumah bertingkat besar yang masih menyala. Jessica memenadangnya tanpa berkedip, lalu memutuskan untuk mengepakkan sayapnya, berpindah dari tempatnya sekarang menuju ke atap rumah itu.

__

“Kalian selalu pulang berdua, telat lagi,” sembur Madeleine lugas segera setelah Taylor maupun Gyuri menginjakkan kakinya di lantai ruang utama kastil kecil itu. Madeleine sedang bersandar di sofa, ia tak bisa melakukan banyak hal karena luka di lengan kiri atasnya. Sebuah buku berada di pangkuannya namun matanya sudah menatap Jonghyun dan Gyuri bergantian. “Jadi, apa ada sesuatu yang perlu kuketahui?”

Gyuri terkekeh lalu mengibaskan tangannya, dan melangkah anggun untuk duduk di sebelah Madeleine. “Bukankah itu normal? Tanganmu kenapa?”

Madeleine melirik tangannya, ujung matanya juga sekalian menangkap sosok Taylor yang melangkah ke belakang, tidak emngatakan apapun kecuali sebuah seringai yang nampaknya ditujukan untuk dirinya sendiri. “Ada sekelompok tentara yang berlatih memanah dan mengenaiku,”

Gyuri mengedipkan matanya. “Bukankah mereka tidak bisa masuk atau memasukkan apapun ke sini?”

Madeleine tersenyum lemah. “Tentara-tentara itu memang mengincar apa yang ada di dalam sini. Mereka bisa masuk jika mereka benar-benar ingin menemukannya,” mata hazelnya bergerak menatap wajah Gyuri, memandangnya serius. “Kurasa ini ulah Ariana,”

“Masalahnya Ariana bukan manusia atau mahkluk lain. Dia setengah Veela, dan ia bisa membunuh siapa saja yang membuatnya marah. Yah, aku tidak bisa memungkiri kalau Key benar-benar membuat Ariana marah saat disekolah—dan aku tak pernah mengharapkan akan menjadi serumit ini,”

Taylor yang berada di belakang mereka menyipit. “Rumit? Apa maksudmu? Ariana hanya ingin balas dendam, sederhana saja,” singgungnya lalu beranjak menyalakan televisi. “Apalagi, sepertinya dia sudah mengenai Yoogeun,” Mata Madeleine maupun Gyuri langsung menatap tajam Taylor. Yang ditatap hanya bisa mengangkat bahu. “Aku melihat keduanya keluar dari gedung mantan tempat kerja Jessica,”

“Oh, good. Yoogeun itu seseorang yang punya kuasa, pantas saja manusia-manusia itu bisa memanahku,” sembur Madeleine kesal. “Dan kenapa aku tidak bisa merasakannya yah?”

“Mana Elias?”

“Dia tidur,” Madeleine ikut menyandarkan punggungnya ke sofa, ikutr menikmati saluran berita yang ditonton Taylor. “Dia terlalu lelah untuk mengomeliku,”

“Anak itu sudah banyak berubah,” tukas Taylor cuek, dan Gyuri hanya bisa tertawa tanpa suara. “Akhirnya dia punya teman juga di sini,”

“Maksudmu aku?” Madeleine menunjuk dirinya sendiri. “Well, itu gara-gara aku yang dibuang ke sini,”

SRAK

“Astaga Hero!” Gyuri melebarkan matanya kesal menatap sosok yang baru datang tiba-tiba itu. “Halus sedikit kenapa sih? Bangunan itu sudah sangat tua, nanti keropos!”

Namun Hero hanya bisa memutar kedua bola matanya tidak peduli. “Key sudah pulang?” tanyanya langsung. Tapi Madeleine hanya menggeleng.

“Aku belum melihatnya sejak sore,”

Hero memejamkan matanya, berkacak pinggang lalu kembali mengedarkan pandangan. “Seharusnya dua anak itu sudah kembali. Dan nampaknya mereka bersenang-senang dulu, sementara di sini ada serangan langka,”

“Kau bisa menjemput mereka,” jawab Madeleine acuh lalu bangkit dari duduknya. “Aku tidur dulu, terlalu lelah untuk hari ini,” namun Hero hanya menatapnya sinis.

“Kalian, bersiaplah untuk besok,”

Mata Gyuri dan Taylor berkedip, lalu menatap Hero. “Akan ada lagi?”

Hero mendengus. “Tentu saja. Bahkan lebih parah,”

__

Keesokan harinya, seharusnya semua kegiatan berjalan normal. Madeleine sudah bersiap dengan seragam prakteknya, namun tanpa Elias karena Madeleine tidak dapat membangunkan Elf kebluk satu itu. Dan saat itu juga Jessica keluar dari ruangannya. “Hei Jess,”

Jessica mendongak lalu tersenyum. “Hei,”

“Key mana?”

“Ada di ruangannya. Kenapa?”

Madeleine menatap ke sekeliling dengan ragu, lalu menatap Jessica lagi. “Katakan padanya, sebaiknya ia memasang beberapa mantra pelindung di sekitar sini. Sihirku tidak mempan,”

Kening Jessica mengerut. “Apa maksudmu? Memang ada apa sehingga harus memasang mantra pelindung segala?”

“Kemarin ada serangan mendadak dan meskipun itu tidak memberikan efek apapun, tapi itu memberi kita informasi yang cukup jelas. Ariana kenal dengan Yoogeun. Mana mungkin sekelompok tentara berseragam lengkap mencoba memanah apa yang ada di dalam sini?”

Jesssica hanya menatap Madeleine seksama, pikirannya belum konsen. “Lalu?”

“Ya ampun,” umpat Madeleine jengah lalu menggaruk kepalanya dan bersiap pergi. “Pokoknya, Nanti tanya Gyuri saja,”

“Oh, oke. Hati-hati,” Jessica nyengir dan melambaikan tangannya, yang disambut dengan senyum kikuk Madeleine. Dia kenapa? Masa gara-gara tiga hari tiga malam dihukum berdua sama Key terus jadi kerasukan panah cinta dewi Amor?

Baru saja Madeleine membuka pintu depan…

DUG

DUG

DUG

Baik Madeleine maupun Jessica langsung membeku. Masa itu…

“Oh, snap,” umpat Madeleine lagi, ketika ia melihat jauh ke halaman depan. “Jess, panggil semuanya,” Secepatnya ia melempar tasnya entah kemana, masuk lagi dan terbirit ke ruangan Elias.

Tok tok!

Tangan Madeleine langsung menggedor-gedor pintu Elias,  rasa panik mulai menyerangnya. “El, bangun hei! Choi Minho! Jangan tidur terus! Ada lima troll di depan dan—“

Cklek…

“Huh?” Elias keluar kamarnya dengan bingung, wajahnya masih seperti wajah baru bangun tidur. “Apa? Troll?”

DUG

DUG

DUG

“Oh, sh*t!” Elias langsung keluar kamarnya.

Sementara itu, Jessica juga ikutan ngibrit ke kamar Taylor. Dia belum berani mengusik kamar Hero karenya yah—orang itu akan tahu sendiri akhirnya. Pikiran-pikiran yang beredar seisi kastil pasti sudah menjadi koran pagi baginya.

Tok tok!

“Taylor! Gyuri! Heran kenapa pagi-pagi belum pada bangun sih,” umpat Jessica dan membuka paksa pintu kamar mereka.

Cklek

Siiiiinggg

Jessica bengong ketika ruangan itu bersih. Tidak ada siapa-siapa, tidak ada apa-apa, seperti tidak ada yang menempati. Jessica melangkah mendekat, dan kaget ketika keca jendela sudah hilang. Kusennya nampak dicongkel—dan herannya tidak ada suara sama sekali sejak subuh. Angin semilir masuk membuat tirai-tirai melambai.

DUG

DUG

DUG

PRANG!!

“KEY!!” sedetik kemudian Jessica menjerit dan kabur keluar. Sudah tidak ada siapa-siapa lagi di kastil, dan pilihannya sekarang adalah keluar. Ia mengerem langkahnya ketika Elias, Madeleine, Key dan Hero tengah berdiri di depan 5 troll ssebesar bukit—jujur ini pertama kali baginya melihat troll.

Snap! Bagaimana mereka kesini?!” pekik Madeleine garang. Namun Elias hanya memasang tampang marah dan menatap kelima troll yang mulai bergerak itu dengan penuh konsentrasi.

Berbeda dengan Hero, ia hanya menatap troll-troll itu dingin sambil mengepalkan tangan. “Jess, mana Taylor dan Gyuri?”

“Mereka tidak ada,” jawab Jessica hampir kehilangan suaranya. Troll-troll itu sangat besar, darimana mereka? “Apa yang akan troll-troll itu lakukan?”

“Memakanmu? Mencincangmu? Menambahkanmu ke dalam sup,” jawab Madeleine lalu mengambil sebuah anak panah dari punggungnya. “Mereka belum melihat kita, mereka sedikit bodoh namun mematikan di saat yang bersamaan,”

Hero menyeringai lalu mengeluarkan cakarnya. “First fight with trolls? Sounds interesting,” sedetik kemudian Hero melesat menyerang seorang troll.

“Jangan bodoh!” teriak Elias tiba-tiba, pada Hero yang sudah melayangkan cakar beracunnya pada salah satu bagian tubuh troll yang terdekat.

JLEB!

Erangan marah seorang troll langsung membahana. Hero berniat menyerang lebih lanjut, tapi troll itu sudah melemparnya hingga melewati kastil.

“HERO!” suara Jessica melengking dan ia ikut berlari mengikuti arah Hero.

BRAAAAAKKKK

PRANGGG

Seorang troll ternyata menghancurkan sisi sebelah barat kastil. Dengan berang Madeleine langsung berlari dan menyerang troll itu dengan panahnya. Key tidak tinggal diam, ia mulai mencabut tongkat sihirnya dan memasang mantra agar tak makin banyak troll yang datang. Dalam waktu lima menit saja sudah menjadi enam, nanti mau jadi berapa?

Elias celingukan namun ia berhasil mencabut pedangnya dari sarung yang terikat di pinggangnya. Ia menyerang troll yang tadi di serang Hero, dan ia berhasil membuat troll itu kehilangan keseimbangan hingga terjatuh.

Jessica menghampiri Hero yang terlempar dan mengangkatnya. Hero sedikit shock, darah hitamnya sedikit mengalir lewat sudut bibirnya. “Aku tidak tahu bagaimana cara melawan troll,” ujar Jessica dengan kening berkerut. “Dan kau sok slebor. Kau mengetahui dimana Taylor dan Gyuri?”

Dari salah satu sisi, nampak Taylor dan Gyuri yang baru muncul dari salam hutan. Mereka baru saja berburu, dan nampaknya mereka tidak mengetahui dan tidak mencurigai suara dentuman yang semakin keras terdengar.

DUG

DUG

“Taylor!” teriak Elias ketika ia berusaha melawan satu troll dan menangkat Taylor dari sudut matanya. “Coba tahan mereka,” begitu menoleh, Taylor maupun Gyuri langsung shock.

Taylor menatap Elias kaku lalu mengangguk, ia langsung menghampiri troll yang lain, yang sedang berusaha menghancurkan kastil. Mereka memang tak begitu mahir melawan troll, namun Taylor tepat menghujam troll itu tepat di ginjalnya. Erangan kesakitan bergemuruh, sementara Elias sudah berhasil melumpuhkan dua troll sekaligus.

Di lain sisi, Key dan Madeleine berusaha mengalihkan perhatian troll yang sedang mereka hadapi dengan Madeleine yang terus-terusan memanah si troll ditempat yang sama. Sekali panah lagi, Madeleine mengarahkan anak panahnya tepat ke jantung si troll dan menembaknya.

SYUT

BRUGH

“AAAAAAAAAAARRRGGGHHHHH!!”

KRAK

Semuanya menoleh ketika terdengar lengkingan wanita bersamaan dengan suara berdentum yang keras itu. Madeleine langsung menghampiri suara tersebut, sementara Elias kembali terpaksa sibuk menyerang karena kini ia membantu Taylor dengan troll yang ukurannya palking besar. Jessica membuka sayapmnya dan akhirnya berencana untuk menusuk kepala troll yang sedari tadi di permainkan oleh Hero dangan sebuah batang pohon.

“GYURIII!!!” suara Madeleine melengking ketika melihat seekor troll mengangkat kakinya yang tadi menginjak tubuh Gyuri, lalu mencoba mengambil tubuh Gyuri. Berang, Madeleine langsung menggunakan tiga anak panah dan mengarahkannya ke jantung si troll.

Erangan keras kembali terdengar. Elias dan Taylor baru saja selesai berurusan dengan dua troll dan segera menuju tempat Madeleine berdiri. Madeleine tetap memanah troll itu dan ahkirnya troll itupun mati, sebelum Madeleine akan diinjak juga.

BUM

Kepala Madeleine langsung pusing dan hampir ambruk bersama dengan tubuh troll yang jatuh itu. Namun Elias dengan sigap menahannya, sedangkan Taylor menghampiri Gyuri. Dari sisi sebelah barat Jessica dan Key sedang memapah Hero mendekat.

“Gyu-gyuri…” Madeleine lemas, namun ia tetap berusaha untuk dapat duduk tegak sendiri. “Setengah tubuhnya remuk, namun ia bisa disembuhkan,”

Taylor yang menatap Gyuri dengan mata berkaca menoleh manatap Madeleine. “Apa?”

“Tapi sembuhnya butuh waktu. Untung saja troll tadi tidak menginjak lebih keras lagi. Cepat bawa ia ke dalam,” titah Madeleine berusaha berdiri, namun tangannya ditahan oleh Elias.

“Kau juga beristirahatlah,”

“Kau bantu aku mengobati Hero,” ujar Madeleine kalem saat melihat Hero di bantu masuk ke dalam kastil lewat sudut matanya. “Kalau terlambat bisa fatal,”

Mendengarnya, Taylor langsung membawa tubuh Gyuri perlahan dan masuk ke dalam kastil, diikuti Elias dan terakhir Madeleine.

__

“Enam troll saja bisa mereka atasi, apa sebaiknya aku mengirim dua belas, ya?” suara selembut beledu itu terdengar menyeramkan, membuat yang mendengarnya seperti jantungnya berhenti berdetak. Tapi, kalau yang mendengarnya Chase dan Seth, bagaimana?

“Maaf, aku belum memprediksi kalau mereka akan sekuat itu,” jawab Chase sedikit menunduk.

“Tapi tak apa,” suara Ariana kembali terdengar. “Mereka kehabisan energi. Jika kita menyerang mereka lusa, mereka pasti belum sanggup mengumpulkan energi,”

Baik Chase maupun Seth diam. “Chase, kau harus berubah menjadi serigala,” wajah Ariana menatap Chase serius. Namun wajah Chase tetap tanpa ekspresi.

To Be Continued…

Dikit lagi kelar yey. Bagi yang udah bosen sama FF ini tunggu bentar lagi yey, nanggung #waks (?)

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3siOfficially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “Who I am? I am an Eve – SPY 14

  1. Hoaaah Rennn.. udah berapa part aku ketinggalan… ternyata udah 14 ajaaahh… dannn… kenapa tiba-tiba ARiana jadi gini… ah haru ngulang dari yang terlewat.. oke deh Rennn… aku ngulang duluuuu… BYE!!!!

  2. Aaakkk…
    Knp baru ngeh part ini udh terbit *eh

    xixixi,
    agak gmn gt sm Ariana, bawaannya pgn nampol
    xD
    xD

    Key Sica mulai ada tanda2 kemajuan nih, xixixi

    lanjuuutttttttt

  3. Alaah ariana seneng banget ya ngebuat masalah aku mendingan mereka semua mati dari pada key harus ke ariana tapi ya jangan mati jugaaaa siih next chap aku tunggu yeeay~~~

  4. wah… berasa baca novel loh reene.. sadis amat sih tubuh gyurinya remuk diinjek troll. ihhh…

    jd ariama terobsesi membunuh key bkn mendapatkannya ya? bkin pertarungan key ama ariananya plng seru ya. sampai skrng ariana blm tau kl key itu eve ya.

    sempet lupa kl key tuh eve yg bisa sihir. tp agak lupa bedanya eve ama elf apa?

    1. Bukankah ini fic yang agje? huakakak #diinjek
      Yeaps, jadi Ariana akhirnya ngincer nyawa Key yang sebenernya gak punya nyawa (??)

      kalo elf kan kayak yang di The Hobit atau LOTR gitu, kalo Eve lebih kayak shinigami, kayak malaikat penjemput maut gitu hehe xD (??)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s