A Person From Paradise [1.2]

A Person From Paradise

Title                 : ‘A Person From Paradise’

Author              : Aidazzling

Main Cast        :

  • Gam Gyurin (Ren)
  • Choi Minho

Support Cast   :

  • Lee Jinki
  • Choi Jinri (Sulli)
  • Kim Kibum (Key)

Length              : Twoshot

Genre               : Angst, Fantasy, Romance

Rating                          : Teen

Summary          : ‘Pria itu. Pria itu berada di tempat yang tak dapat di jangkau. Tempat indah dimana salju berjatuhan tanpa merusak bunga-bunga yang bermekaran. Tapi, pria itu.

Dia tetap berdiri di tempatnya dan menunggu. Menunggu separuh jiwanya yang hilang untuk kembali bersamanya. Menunggu untuk bersama di dalam keabadian yang menentramkan.

Tepat di atas benda berwarna putih yang berdiri dengan begitu anggun dia meletakkan kepalanya. Menjadikan kedua tangannya sebagai bantal dan memejamkan kedua matanya dengan tenang.

Gadis dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya itu tak menyadari sebuah derap langkah dari seorang pria yang melangkah ke arahnya. Sebuah senyum terpatri di wajah lembut milik pria itu.

Tanpa suara, dia mengendap mendekati benda bernama grand piano tersebut. Dengan begitu bersemangat ia menekan tuts sehingga membuat gadis berambut hitam itu kembali dari dreamland miliknya.

“Ya ! OPPA!” dengan sigap lelaki itu menghidar, “Kenapa kau ada disini lagi eoh?” tanya laki-laki itu.

Wae? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Mengganggu saja.” gerutu gadis itu. Ia segera meraih tas ranselnya dan berjalan meninggalkan lelaki itu.

“Ya! Ren!”

Gadis itu membalikkan badannya dan menatap pria itu dengan tidak sabar. Dengan sebuah senyuman pria itu melangkah dan membawa gadis bernama Ren itu kedalam pelukannya. Ren mungkin kaget, tapi selain itu dirinya tak merasakan apapun.

Saranghae.

Dirinya masih tak berkutik saat laki-laki itu membisikkan sebuah kata yang seharusnya menggelitik setiap gadis yang mendengarnya. Ren untuk sesaat tak bisa menatap kedua bola mata milik pria itu, yang ia bisa hanya merasakan sebuah tangan yang mengelus rambutnya.

“Kau boleh pulang.” Ren segera melangkah pergi meninggalkannya. Ia pikir otaknya sekarang sedang terfokus pada hal yang baru saja terjadi.

BUK.

Jeongsongmnida, jeongsongmnida.” Ren menunduk meminta maaf pada seorang gadis yang bertubrukkan dengannya.

Ne, gweanchanayo.” Ren memandang gadis itu dengan sekilas. Rambut bob berwarna coklat gelap dengan paras wajah yang manis. Choi Jinri.

Ren dan gadis bernama Choi Jinri itu kembali membngkukkan badan sebelum Jinri benar-benar melangkah pergi. Baru saja hendak melangkah kedua matanya menangkap sebuah benda yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri.

Ia mengambil benda tersebut dan memperhatikan setiap bentuknya. Ini adalah sebuah buku –lebih tepatnya novel biasa-, ada bekas lipatan di bagian ujung covernya. That Boy? Apa ini milik yeoja itu?

Ren membalikkan badannya dan mencari-cari gadis bernama Jinri yang sempat bertubrukkan dengannya tadi. Ia membalikkan badannya kembali begitu tak menemukan Jinri sejauh mata memandang dan akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan pada gadis itu besok.

Ren menguap berkali-kali saat mengerjakan tugas yang bertumpuk di atas meja belajarnya. Ia melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan hampir tengah malam dan dirinya harus segera tidur jika tak ingin ia terlambat di keesokkan hari.

Ia sebelumnya berniat untuk mengambil barangnya yang ada di dalam tas sekolahnya tapi malah menemukan novel yang bukan miliknya. Tanpa berfikir lagi ia duduk di atas ranjangnya dan mulai membuka halaman novel tersebut.

Pria itu. Pria itu berada di tempat yang tak dapat di jangkau. Tempat indah dimana salju berjatuhan tanpa merusak bunga-bunga yang bermekaran. Tapi, pria itu.

Dia tetap berdiri di tempatnya dan menunggu. Menunggu separuh jiwanya yang hilang untuk kembali bersamanya. Menunggu untuk bersama di dalam keabadian yang menentramkan.

“Gyurin? Belum tidur? Ini sudah lewat waktu tidurmu,” Ren memegang dadanya, mencoba memeriksa jantungnya yang masih tetap berdetak.

Araseo Eomma!” dengan terpaksa gadis itu meletakkan novel yang baru saja dibacanya di atas meja yang berada di samping ranjangnya.

Ren pikir ia baru saja menutup kedua matanya untuk mencoba tidur sebelum Ibunya menendangnya keluar dari rumah. Tapi kenapa ia malah menemukan dirinya tengah berdiri di sebuah tempat yang tak di kenalnya? Apa ia sudah berada di alam mimpinya?

Ia mengedarkan pandangannya menyisir setiap beluk dari tempat di mana dirinya berada sekarang. Ada yang aneh dari tempat ini. Butir-butir salju yang jatuh sama sekali tidak membuat bunga rusak, mereka tetap bermekaran dengan anggun.

KRSSKK

Gadis berbalut piyama polkadot itu menoleh ke asal suara yang mengusiknya. Dirinya  melangkah tanpa memperdulikan dinginnya salju yang menyelimuti tanah saat bersentuhan dengan telapak kakinya.

Perlahan benda berwarna putih bagai kapas tersebut hilang dari pandangannya, semuanya berganti dengan rumput dan tanaman tropis yang tumbuh di dalam hutan kecil yang ia jelajahi.

Dirinya terkagum-kagum dengan apa yang direkam oleh kedua bola matanya, ia bagai menjelajahi miniatur dunia yang begitu indah. Bagaimana kedua matanya begitu berbinar-binar menemukan padang rumput yang luas di balik hutan mungil tersebut.

“Gyurin-ah?” kedua matanya berhasil menangkap sebuah punggung milik seorang pria yang berdiri di bawah pohon yang rindang.

“Gyurin-ah?” ingin sekali dirinya melangkah mendekati sosok tersebut, tapi kedua kakinya terasa begitu berat untuk digerakkan.

“Gyurin?”

“Gam Gyurin?”

“Gam Gyurin-ssi!”

Ren mengangkat kepalanya. Sial, ia tertidur di kelas. Kenapa ia bisa tertidur di kelas? Terlebih di kelas guru Song?

“Keluar! Jika kau hanya ingin tidur, lebih baik kau keluar!” Ren menundukkan badannya perlahan sebelum benar-benar meninggalkan kelasnya.

“Ini pasti karena novel itu! Semalam aku membacanya dan sampai terbawa di mimpiku, bahkan sampai di kelas tadi. Ah~ Jincha! Semuanya harus segera selesai!” ujar Ren dengan berapi-api kemudian melangkah tak teratur menyelusuri lorong sekolah.

Dirinya memandangi jejeran tuts yang ada di hadapannya. Sejak tadi dirinya terus terdiam sementara pria bermbut caramel yang berada tak jauh darinya membaca buku yang tak ingin ia ketahui.

Oppa… Ada yang menggangguku akhir-akhir ini,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari tuts yang berbaris layaknya serdadu.

“Apa?” sang pria masih tetap terfokus pada bacaannya.

“Seseorang tak sengaja menjatuhkan novelnya saat kami bertabrakkan di lorong. Karena aku tak dapat menemukan orang itu maka aku membawanya pulang dengan niat akan mengembalikan padanya esok hari,”

“Lalu?”

“Karena keisenganku, aku membaca beberapa halaman di novel itu. Novel aneh yang menceritakan kehidupan seorang namja yang menunggu yeoja-nya di tempat sama saja anehnya dengan novel itu…”

“Di mana anehnya? Ada banyak buku fiksi romantis di luar sana, jadi itu biasa saja.” sahut Jinki tanpa menyepelekan masalah novel milik Ren. Tapi, bukankah ia memang benar? Yang dikatakan Ren memang hanya hal-hal biasa yang tak perlu di khawatirkan.

“Tapi, menurutku novel itu membuatku terus bermimpi tentang seorang namja…” kini Jinki menonggakkan wajahnya, menatap wajah kegelisahan dari Ren yang tak ia sadari sejak tadi.

Namja? Kenapa kau memimpikan namja eoh? Mungkin kau hanya terbawa cerita novel itu, jangan baca lagi jika itu hanya membuatmu pusing. Cepat kembalikan pada pemiliknya.” Jinki kembali mengarahkan kedua bola matanya pada bacaannya.

“Aku juga bermaksud seperti itu. Tapi… Namja itu seperti mencoba memberitahuku sesuatu… Sesuatu yang tak kuketahui.” ujarnya sebelum meraih tasnya dan meninggalkan Jinki di tempatnya.

“Ada yang bisa dibantu Sunbae?” tanya seorang siswa yang sedari tadi memperhatikan dirinya yang terus saja menunggu gadis pemilik novel yang digenggamnya kini.

“Apa Choi Jinri ada?” tanya Ren, “Jinri? Ah, Sulli~ Dia sudah pindah hari ini.” jawab gadis berambut lurus itu.

“Pindah? Kenapa tiba-tiba sekali?” gumam Ren kemudian menunduk perlahan dan melangkah pergi.

Noona!” Ren menoleh mendapati seorang laki-laki berwajah manis menghampirinya. “Taemin-ah,” Taemin melekukkan bibirnya hingga menciptakan senyum indahnya.

Noona, aku benci bertanya ini. Tapi, apa kau dan Jinki Hyung benar-benar pacaran?” Ren menahan sentakkannya, menatap wajah Taemin yang tak bercanda dengan pertanyaannya.

“Kau… Siapa yang mengatakannya padamu?”

“Jinki Hyung. Maaf Noona, tapi sepertinya kau tidak ingin membahas ini ya? Habisnya Jinki Hyung terus saja mengganggu, jadinya aku pastikan saja pada Noona.” Ren terdiam, otaknya masih sibuk menyambungkan kabel-kabel yang ada.

Noona?”

“Eh? Taemin-ah, apa kau lihat Key?” Taemin mengerutkan dahinya, gadis itu sama sekali tak merespon pertanyaannya sama sekali. “Ada sesuatu yang harus ku selesaikan dengannya.”

Noona yakin? Noona tak terbentur sesuatu pagi ini kan?”

“Ya! Taemin-ah, jangan bercanda!” Taemin menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Rasanya begitu sulit untuk menjawab pertanyaan mudah dari Ren.

*****

Disinilah dia. Berdiri di trotoar dan memandangi setiap mobil yang melaju melewatinya. Punggungnya bersender pada tiang yang ada di halte bus, salah satu ujung sepatunya ia ketukkan pada tempatnya berpijak.

Gadis bermata coklat itu kembali mendesah, diliriknya jam yang melingkar di lengannya lalu mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ditunggunya. Pandangannya terhenti pada sebuah titik. Sebuah titik di mana seorang sosok pria yang asing menatapnya dengan tatapan aneh.

Pria jangkung itu menatapnya dengan tatapan nanar, kedua mata bulatnya bagai menariknya perhatiannya. Tanpa sadar, dirinya menggerakkan kakinya dan melangkah maju.

TIIIIIN

Kesadarannya akhirnya kembali, membuat dirinya tersadar bahwa ia tengah berjalan di tengah jalan raya. Tubuhnya masih membeku, terlebih ketika ia menyadari bahwa sosok pria jangkung itu tak pernah ada di titik yang sama.

“Ren! Kau baik-baik saja? Kenapa kau berjalan di saat mobil-mobil itu melaju?” tiba-tiba sosok pria berambut coklat itu muncul di hadapannya, memengang kedua tangannya yang membeku dengan erat.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu seperti habis melihat hantu.” tanya pria tersebut sambil memandangi Ren yang menundukkan wajahnya menatap coffee latte pesanannya.

“Ren, jika kau terus diam seperti itu lebih baik aku pulang.” ujarnya bersiap mengambil tas. “Aniya! Ada sesuatu hal yang ingin ku tanyakan padamu.” sahut Ren menatap tatapan tajam Key.

“Bisa kau berikan alamat rumah Sulli atau siapalah namanya itu? Aku membutuhkannya.” Key memiringkan kepalanya dan berfikir sejenak. “Untuk apa? Bukankah kau tak pernah mengenalnya?”

“Ada yang harus kukembalikan padanya.” jawabnya dengan singkat. Key kembali berfikir sejenak sebelum menarik sebuah kertas dan menulis diatas kertas tersebut.

Igeo, ada lagi?” Ren menggeleng perlahan, “Tapi aku ada.” lanjutnya.

“Kenapa namja berotak sinting itu tidak ada di sampingmu? Biasanya dia selalu membuntutimu terlebih ketika kau bersama namja lain.” kata Key dengan ketus.

“Key, berhenti berkata seperti itu. Tidakkah kau sadar dia adalah Sunbae­-mu juga? Kenapa kau masih bertingkah kekanak-kanakkan?” Key menyerigai, “Lihat, kau mengatakan aku kekanak-kanakkan. Kau selalu memihaknya, entah karena dia seorang yang lebih tua darimu atau kau benar-benar tertarik dengannya.”

“Apa kau bahagia bersamanya?” Ren menatap kedua mata elang milik Key. “Aku bahagia.” Key terkekeh perlahan.

“Bohong. Aku dapat melihatnya dari kedua bola matamu, ada paksaan di dalam sana.” Ren menundukkan kepalanya lemah, ia tak mampu mengelak. “Aku berkata seperti ini bukan ingin merebutmu dari namja itu. Aku berkata seperti ini, karena aku mencintaimu. Aku ingin melihatmu bahagia, walaupun kebahagiaan itu bukan berasal dariku.”

Ren merasakan ada belati yang menusuknya, begitu sakit hingga meruntuhkan pertahanannya. “Kibum-ah, mianhaeyo. Maaf jika aku pernah menolakmu dan itu membuat kau tersakiti.” Ren bangkit dan melangkah meninggalkan Key yang masih terpaku di tempatnya.

Ren berlari, sesekali ia menyeka dengan asal air mata yang sudah meluncur di pipinya. Dengan cepat ia masuk ke dalam bus dan mengambil tempat di bagian paling belakang.

Ren baru menyapu air matanya yang kembali mengalir saat riuh orang di luar sana mengusik dan membuatnya menoleh ke belakang. Apa yang didapatkan gadis itu membuat kedua matanya membulat, tubuhnya bergetar hebat begitu melihat sebuah kontainer tergelincir ke arah bus yang ditumpanginya.

Ia dapat merasakan tubuhnya terhempas ke belakang dan jatuh di atas pecahan kaca jendela. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi kekuatannya hilang begitu saja. Perlahan pandangannya pun memudar dan bergantikan kegelapan.

“Gyurin?”

“Gyurin-ah?”

Ren akhirnya dapat membuka matanya, walaupun masih terasa berat. Gadis itu kemudian berkedip beberapa kali untuk dapat menyesuaikan cahaya yang diterimanya. Ia terbaring di bawah pohon yang rindang, lebih tepatnya terbaring dengan kepala di atas paha milik sosok pria.

“Sudah bangun?” tanyanya dengan lembut.

Dengan cepat Ren mengangkat kepalanya dari paha pria itu dan menoleh ke segala penjuru sampai akhirnya ia yakin bahwa tempat ini memang familiar. “Tempat apa ini?” gumam Ren namun dapat didengar oleh pria berambut coklat tersebut.

“Bukankah tempat ini indah? Kau menyukainya?” Ren menatap pria yang tengah menyunggingkan senyum ke arahnya. Pria itu memiliki hidung mancung, mata bulat yang dibingkai oleh wajah yang mungil. Dia tampan.

“Tempat ini benar-benar cantik. Tapi, siapa anda sebenarnya? Bukankah tadi aku berada di bus dan bus-” pria itu mendekatinya dan mendekapnya tanpa permisi.

“Itu sudah selesai. Jangan takut, aku akan terus menjagamu.” Bisiknya. Ren terdiam, semuanya bagai berkecamuk. Sebutir air mata jatuh membasahi pipinya.

Bagaimana pria ini tahu jika ia sedang ketakutan? Ren bisa merasakan tepukkan lembut di punggungnya dari pria itu. Tidakkah pria itu tahu jika ia telah membuat Ren merasakan kenyamanan tersendiri karenanya?

*****

Jinki memandang jemarinya yang kini telah besatu dengan jemari milik Ren. Ini adalah suatu hal yang sangat ia ingin lakukan, seharusnya ia bahagia. Tapi, bukan kebahagian seperti ini ia yang ia inginkan.

Jika ia selalu berkhayal bisa menggenggam tangan Ren dan merasakan kehangatan tangan gadis itu, kini yang terjadi berbanding terbalik dengan khayalannya. Sekarang dialah yang harus menyalurkan kehangatan yang dimilikinya pada Ren yang terbaring tak sadarkan diri.

Ia masih ingat bagaimana paniknya dirinya begitu mengetahui Ren kecelakaan. Secepat kilat dirinya berlari ke rumah sakit untuk menemui Ren dan berharap gadis itu baik-baik saja. Ia berharap dapat melihat Ren yang berlarian di koridor rumah sakit, tapi ia sama sekali tak menemukannya disana. Yang ditangkap penglihatannya adalah Ren yang tergeletak di atas ranjang dengan berbagai alat bantu pada gadis itu.

Sebuah ketukan pintu membuat pria itu menonggak untuk mengetahui siapa si pembuat ketukan tersebut.  Dia –Lee Jinki- nyatanya mendapati seorang gadis berambut bob yang memegang seikat bunga baby breath dengan kedua tangannya. Tak hanya gadis itu, seorang pria dengan mata kucing –yang ia benci- berdiri tepat di samping gadis itu.

Annyeonghaseyo~” sapa gadis itu sambil membungkuk rendah ke arahnya. “Apa keperluan kalian?” tanya Jinki to the point.

“Tentu saja menjeguk Ren, ia juga ingin mengambil barangnya yang ada pada Ren.” Jinki menatap tajam pria tersebut, membiarkan gadis dengan rambut bob itu melangkah mendekati ranjang Ren.

Jinki membalikkan badannya menatap bunga gadis itu letakkan di atas meja mungil yang ada disamping ranjang Ren. Jinki kemudian meraih sebuah tas berwarna hitam dan mengambil sesuatu yang ada disana.

“Apa novel ini milikmu?” gadis itu menggangguk pelan melihat Jinki yang mengangkat sebuah novel yang ada digenggamannya. “Sudah kuduga. Aku tak pernah melihat Ren membacanya, ini.” dia menyodorkan novel tersebut, tapi sang pemilik hanya menatapinya.

“Sebenarnya aku ingin dia menyimpannya.” ucapnya dengan lirih. “Maaf, apa kau dan Ren saling mengenal?” gadis itu terdiam sesaat.

“Tidak, kami hanya sering melewati satu sama lain.” jawabnya. “Kalau begitu ambil ini. Aku yakin ia takkan suka menyimpan barang milik seseorang yang tak dikenalnya.” Jinki terus menyodorkan novel itu pada Sulli sampai gadis itu mengambilnya kembali.

“Oh, ya. Kim Kibum, kudengar sebelum Ren kecelakaan kau bertemu dengannya. Apa yang kalian bicarakan?” Jinki melirik seorang pria yang menatapi Ren.

“Kenapa? Kau ingin mengatakan kecelakaan ini karena aku?” sahutnya tanpa mengalihkan padangan dari wajah Ren yang tertidur dengan damai.

“Tidak, hanya untuk menyakinkan diriku bahwa kau memang menemuinya. Dan kurasa itu benar.” kata Jinki masih terus memandang pria bernama Kim Kibum yang kini meraih tangan Ren dan menggenggamnya.

“Sebenarnya. Gadis ini yang memintaku untuk bertemu dan tenang saja, aku tak merasukinya untuk meninggalkanmu. Aku hanya berkata untuk hiduplah bahagia dengan orang yang kau cintai, jangan menyiksa dirimu terlalu lama karena takkan ada gunanya.” tutur Key setelah membalikkan badannya dan menatap Jinki tak kalah tajam.

“Terserah apa yang kau katakan Key. Aku tak peduli.” Jinki mengambil tempat di sofa panjang yang ada di ruang rawat Ren, memandangi kedua orang itu dari tempatnya.

Jinki memperhatikan wajah gadis itu yang terasa familiar. Ia mencoba membongkar memori-memorinya untuk mendapatkan informasi tentang gadis berambut bob hitam itu.

Chogiyo, kami permisi dulu. Annyeonghiseyo.” gadis itu menghampirinya dan menundukkan badannya. Sementara itu sang pria –Key- tetap berdiri di belakangnya dengan angkuh.

Ne. Tapi, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Anda terlihat familiar.” gadis itu tersenyum. “Aku berada di club yang sama dengan Sunbae.” Jinki mengangguk pelan, rupaya gadis itu anggota clubnya.

Akhirnya kedua orang itu menghilang di balik pintu, menyisahkan dirinya yang bergelut dengan keheningan. Ia terdiam, perlahan ia menolehkan wajahnya ke arah Ren yang masih memejamkan matanya.

Ia pun menyadari sesuatu, sesuatu yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Sebuah kepingan memori penuh debu di otaknya muncul ke permukaan menyingkirkan setiap memori yang menyembunyikannya.

 “Kau mengenalnya?” pria jangkung itu terkekeh pelan lalu membuat lengkungan indah di bibirnya.

“Dia calon tunanganku.”

to be continued-

A.N:

Everybodyy~ Saya kembali dengan ff fantasy pertama saya ahahaha dan well agak gaje ya? Penasaran gak? Atau aneh dan gak connect sama ceritanya? Mohon maaf banget~ Aku harap ff ini lebih baik dari ff-ku yang sebelum-sebelumnya. Secara, aku bikinnya dengan jiwa raga *mulaiberlebihan*.

Mohon untuk mengapresiasi karyaku ini walaupun tak sebagus dengan ff lainnya. Ingat motto dong Comment Like Oxygen~ Oh, ya hampir lupa. Buat Likenya juga~ Makasih buat yang udah mau baca sekaligus memberikan saran dan kritiknya~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

4 thoughts on “A Person From Paradise [1.2]

  1. sebenernya aku agak bingung bacanya, tapi overall itu keren.. masih penasaran sama cowo yang dimaksud Ren, Minhokah?

    entah aku ga nyadar atau emang apa, karena aku baru sadar alurnya berubah setelah baca bagian itu agak lama:/ ah sudahlah next chap ditunggu ya!😀

  2. Liat sekilas aku gak suka. Tp setelah baca ternyata bgus juga… Jinki dan Ren ternyata couple, ku kira hanya tman…
    Well, fighting! Di tunggu lanjutannya:-)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s