[FFP 2013 – 2] Ilusi di Istana Ilmu

Title: Ilusi di Istana Ilmu
Genre: AU, psychology, sad, angst, friendship
Length: one-shot
Rating: G
Main cast: Choi Minho, Lee Jinki
Support cast: Kim Keybum

Ilusi di Istana Ilmu

Tempat bacaan ini, yang mungkin lebih pantas disebut istana ilmu dengan berbagai koleksi bukunya di rak, sungguh menarik. Kau akan menemukan berbagai ukiran bertema alam di tiap kusennya yang dipoles putih keabuan.

Satu-satunya tempat yang membuatku tenang, begitulah pikirku ketika pertama kali menjejakkan kaki di sini. Di sini aku pertama kali bertemu dengan Lee Jinki—psikolog yang usianya hanya terpaut dua tahun di atasku. Dia orang yang menyenangkan, bahkan begitu dewasa—hingga mampu mengganti posisi ayah yang tidak jelas ada di mana sekarang, padahal beliau yang paling dekat denganku.

Seperti biasa, kami bertemu sebagai teman di perpustakaan umum berukuran mini milik Ibu Sung yang sejak SMP sudah kukenal baik. Duduk berhadapan dengan dua gelas kertas kopi yang mengepulkan asapnya bulat-bulat ikut duduk di tengah kami. Bokong kami berkontak dengan lantai pualam itu. Jinki hyung duduk menyandar pada rak buku, sesekali bergeser ketika ada yang hendak mengambil buku di belakangnya. Aku duduk di depannya, sibuk mendengarkan nasihatnya sambil membaca buku kumpulan puisi Shakespeare.

“Hari ini kau ulang tahun, Minho-ya. Kenapa tidak pulang? Keluargamu pasti khawatir. Sung ahjumma bilang kau sudah duduk di dekat sepeda di depan itu sejak pagi buta.”

“Keluarga?” dengusku sinis. “Sekedar mengingatkan, hanya ada Key hyung di apartemennya. Aku menumpang di sana sebagai “pasien”. Keluargaku tidak mau tahu.” Ya. Aku tinggal bersama psikologku, Key hyung. Keluargaku yang membayarnya. Aku tidak gila. Aku hanya suka berkhayal, tapi keluargaku benar-benar…. argh, sudahlah. Toh, si psikolog seumuran itu juga tidak memperlakukanku seperti orang gila.

Lalu takdir mempertemukanku dengan seorang psikolog lain, Lee Jinki, yang entah kenapa membuatku menceritakan segalanya dan membuatku merasa memiliki keluarga yang sesungguhnya.

“Jangan begitu,” tukas pria itu melepaskan kacamatanya. “Lembaran tipis waktumu telah dirancang teliti oleh Sang Hidup. Titik-titik air berderit di atasnya bukan kuman.” Ia nyengir.

Kurasakan keningku berkerut. “Apa?”

“Masalah di atas kehidupanmu bukan halangan. Tuhan sudah mrancangnya untukmu.” Jinki hyung tertawa tanpa suara. Aku menggeleng. Dasar. Sampai kapanpun rasanya aku tidak akan bisa membuat kata-kata seindah untaian katanya—tidak peduli betapa aku sangat menggemari karya Shakespeare.

“Kau bisa. Kau pasti bisa.” Aku mengerutkan keningku lagi mendengar Jinki hyung yang sekarang sedang meneguk kopinya. Apakah aku menyuarakan pikiranku?

“Tapi adanya psikolog di rumahmu berguna.”

Aku mendengus.

“Kau bisa cerita apapun. Percayalah. Psikolog paham hatimu, meski tidak benar-benar paham seperti Tuhan.”

Kurasa tak ada lagi yang.mampu kulakukan untuk membantahnya. Jadi, aku berdiri. Berpamitan sebelum berbalik untuk keluar dari tempat nongkrongku sejak SMP ini.

“Choi Minho!”

Aku berbalik.

“Selamat ulang tahun!”

Hatiku menghangat. Terimakasih, Hyung. Aku menggerakkan mulutku.

*

“Hei, ke mana saja?” Key hyung tampak sudah rapi dalam balutan jas putih panjang itu. Ia berdiri di dekat meja makan ketika aku masuk lewat pintu dapur. Aku melirik jam.

“Oh, mau ke tempat praktek, Hyung?” Kelima jemari kananku mengambil sebuah roti yang agaknya sudah disiapkan Key hyung untukku.

“Ya. Ke mana saja kau? Sejak pagi buta. Ibumu menelepon, hendak.mengucap ulang tahun. Lalu aku bilang kau tidur pulas karena obat barumu—yang padahal kau belum menyentuhnya sebutirpun. Lalu—”

“Aku sudah meninggalkan pesan di bawah telepon. Kau saja tidak melihat.” Aku membalas setengah menggerutu. “Lagian aku tidak butuh obat. Aku tidak gila. Jinki hyung yang psikolog sepertimu saja bilang tidak. Aku tak butuh ucapan dari keluargaku, peduli apa mereka pada orang gila ini?”

Oh, sial. Aku benci mengutarakannya.

“Jinki hyung?” Sekarang terdapat beberapa lapis kerutan di dahinya.

Secara garis besar aku memberinya penjelasan. Dimulai dari pertemuan di Starbucks bulan lalu hingga betapa aku sudah bisa mengenalnya dan begitu kuga sebaliknya. Betapa aku menghormatinya sebagai kakak sekaligus sosok ayah untukku.

Tapi raut wajah Key hyung membuatku getir. Bagaimana jika ia menganggap aku hanya terlalu mengada-ada?

Untuk beberapa saat aku hanya bisa mendengar bunyi jam menggema. jadi, aku menambahkan, “Aku mengundangnya makan malam ke sini sebagai syukuran ulang tahunku. Bertiga saja denganmu. Setidaknya kau tidak seburuk keluargaku.”

Lalu Key hyung berkata ia akan pulang cepat untuk merayakan ulang tahunku. Bagus. Ia memang tidak menganggapku gila.

*

Siang itu aku kembali ke perpustakaan. Duduk di tempat Jinki hyung tadi pagi dengan buku Shakespeare di atas pangkuan.

“Sudah kuduga. Kau kembali ke sini belum sampai tiga jam. Dasar pengangguran.”

Aku mendongak dan mendapati Jinki hyung—masih dengan atasan kaus biru—berdiri. Ia terkekeh kecil, membuatku ikut tertawa.

Hyung,” panggilku.

“Hmm?”

“Aku mau menceritakan sesuatu.” Kudengar nada.nicaraku berubah serius. Begitupun ekspresi Jinki hyung. “Kemarin malam aku melihat Taemin hampir gantung diri. Lalu aku berlari ke arahnya, berteriak kepadanya. Tapi orang-orang itu malah menenangkanku, mengatakan aku hanya berhalusinasi.”

“Di mana kau melihatnya?”

“Dekat apartemen.”

“Kau melakukan hal yang baik. Jangan dipikirkan.”

Aku mengangguk. Setidaknya aku menurunkan Taemin dari kursi—secara langsung menggagalkan niatan bodoh anak muda itu—dan tidak memedulikan orang-orang yang malah melihatiku aneh. Dasar gila.

“Oya, apakah Key memberi obat padamu?”

“Ya. Kenapa memangnya?” Aku menatapnya curiga. Curiga bila ia juga menganggapku mengidap penyakit kejiwaan.

“Tenang, hanya bertanya. Oh, ya, apakah kau sudah bisa merangkai kata-kata dan membuat puisi sekarang?”

Well, aku memang berniat membuat sebuah puisi dengan kata-kata yang “berat”, tapi sampai detik ini ketika aku mengalihkan tatapanku dari Jinki hyung ke buku di pangkuanku, aku hanya mampu menggeleng lesu.

“Dua untai kamboja, putus ternganga di antara samudera.”

Aku menoleh cepat dan berpapasan dengan Jinki hyung yang malah nyengir sehabis mengeluarkan kata-katanya.

Ck.

*

Ulang tahunku kali ini benar-benar membosankan, tapi jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya. Sekarang aku dan Key hyung sedang mengobrol di meja makan, sambil menunggu kedatangan Jinki hyung.

Wajah Key hyung—yang kuakui cukup tampan, meski… yah, tidak setampan diriku—itu terlihat letih dan prihatin, terlebih saat aku cerita tentang kisah Taemin. Entah prihatin kepadaku atas dasar yang tidak jelas atau pada si Malang Taemin?

“Jam berapa Jinki ini datang?”

“Sebentar lagi.”

“Baguslah, aku tidak sabar untuk mengajaknya kerjasama untuk membuatmu minum obat barumu.”

Obat?

“Oh, ayolaah. Sudah setahun ini aku minum obat terus dan sekarang? Obat baru? Kau mau bereskperimen atau apa?” cetusku agak marah. Key hyung memasang wajah datarnya. Seolah tidak mendengarkan apa yang baru kukatakan, ia mengulurkan tangan untuk mengambil gelas teh hijaunya.

“Obat ini untuk memperbaiki ketidakseimbangan cairan kimia di otakmu. Kau akan lebih rileks dan—”

Ting. Tong.

 

Thanks, God!

Aku melesat gembira ke arah pintu, tak kuhiraukan Key hyung yang menyerukan pertanyaan kenapa aku lari ke pintu. Duh, di mana telinganya?

“Hai, masuk saja,” begitu kataku ketika Jinki hyung berdiri di hadapanku. Ia menggumamkan ‘permisi’ sambil melepas sepatu dan menaruhnya di undakan bawah. Aku menutup pintu dan langsung mengantar Jinki hyung ke ruang makan, membuat sedikit perbincangan kecil sambil menuju ke sana.

“Minho, kenapa kau—”

Hyung, ini Key hyung. Key hyung, ini Jinki hyung.” Tapi senyum lebarku dan senyum sopan Jinki dibalas tatapan kosong Key hyung. Alisnya berkerut. Tatapannya semakin tajam dan ekspresinya tidak menyenangkan. “Key hyung?”

Ia tersentak, lalu tersenyum dan manggut. Ada apa ini? Biasanya Key hyung sangat sopan dan ramah pada tiap orang, terlebih setiap tamunya. Kenapa—

“Tidak apa, Minho,” bisik Jinki hyung membuatku tidak enak. Aku menggiringnya duduk di seberang Key hyung yang memandang.kami berdua horor—seolah kami pembunuh yang dibayar untuk menghabiskan nyawanya.

Selama makan, hanya aku dan Jinki hyung yang bicara. Key hyung hanya menanggapi seperlunya, itu juga kalau ditanya olehku. Oleh Jinki hyung ia tak pernah menjawab. Wajahnya datar. Kaku. Seperti sedang memikirkan sesuatu, terbukti dari betapa seringnya ia tersentak ketika kupanggil.

“Maafkan dia, Hyung,” kataku saat aku mengantar Jinki hyung ke bawah dengan lift.

“Tidak apa. Mungkin dia lelah.” Untuk beberapa saat kami diam. Lalu ia merogoh saku Lea-nya, menyodorkan secarik kertas kosong untukku. “Hanya ini yang dapat kuberikan sebagai hadiah. Tulis puisimu di sini.”

Itu kata-kata terakhirnya sebelum melangkah keluar lift dan meninggalkan aku sendiri di dalam. Terpaku berdiri menatap punggungnya yang semakin kecil dan akhirnya tertutup oleh pintu lift.

Ketika sampai di kamar apartemenku, kutemukan pintu kamar Key hyung tertutup rapat.

*

14 Desember.

 

Pluk.

Aku tidak jadi menggigit croissant-ku ketika sebungkus plastik bening dengan sachet obat yang belum.pernah kulihat sebelumnya jatuh di dekat piringku.

“Minum itu. Ikuti anjuran dosis yang kutinggalkan di dalamnya. Sampai bertemu nanti.” Suara Key hyung yang dingin membuatku keheranan. Ia berubah sejak tanggal 9. Dingin dan sering melamun, seperti memikirkan sesuatu.

Baiklah. Tidak ada salahnya.

Aku menyimpannya di saku, berencana meminumnya di perpustakaan saja. Sekarang aku hanya harus menyelesaikan puisiku dan croissant-ku tentu saja.

Sembilu tembikar dalam lipatan tanah

Lalu permata itu timbul

Menggendangkan simfoni kebahagiannya

…..

 

Oh, kata apalagi yang harus kupakai?

Cepat-cepat aku menghabiskan croissant-ku dan berangkat ke istana ilmu, membawa puisi yang belum rampung dengan tangan-tanganku.

*

Aku sampai setengah jam kemudian dengan jalan kaki. Suasana kota Seoul di pagi hari masih terlihat agak lengang, meskipun bisa dibilang cukup padat untuk ukuran ‘pagi’. Sudah banyak orang yang berjalan di trotoar, entah untuk lari pagi atau untuk bekerja. Aku salah satu di antara mereka yang hanya berjalan untuk menikmati pagi dan menepikan kakinya di pelabuhan istana buku.

Seperti yang kuduga, tempat beraroma khas buku itu masih sepi ketika aku mendorong pintunya hingga bel di atasnya bergerak.

“Pagi, Minho.” Ibu Sung.

“Pagi, Bu. Apa Jinki hyung sudah datang?” Senyum lebar tersungging. Tapi beliau menatapku keheranan dan bahkan mengejutkanku dengan perkataan yang meluncur dari kedua lapis bibirnya yang membetot.

“Jinki siapa, Nak?”

“Ah, tidak,” ucapku akhirnya. “Oya, aku ke tempat biasa. Anda tampak segar dengan atasan itu, Bu,” pujiku mengundang senyum dan seruan ramahnya. Tatapan aneh itu segera tertepis sekejap mata.

Jadi aku duduk menyandar, persis di posisi Jinki hyung biasanya. Tapi bila biasanya aku membaca buku, sekarang aku hanya duduk. Merenungkan kata-kata pas yang hendak kutuang di atas kertas untuk Jinki hyung.

“Taemin itu tidak nyata. Sooyoung juga tidak. Krystal, Sulli, tidak. Mereka hanya ilusimu, tidak ada yang terjadi. Itulah kenapa orang-orang melihatimu dan tidak membantu menyelamatkan Taemin tempo hari. Itulah kenapa, Minho! Kau skizofrenia. Kau harus terima.”

 

Aku memegang kepalaku yang berdenyut. Itu suara Key hyung yang terngiang di jaringan otakku. Aku kontan membungkuk sedikit, menempelkan wajah di antara lututku, membenamkan seluruh jerih keringat yang tiba-tiba muncul di dahiku.

“Tidak ada yang nyata. Kau harus kembali. Kau harus terima kenyataan. Kau skizofrenia! Bahkan Jinki pun TIDAK ADA.”

 

Argh! Cukup!

Aku meremas kertas di tanganku, dan memasukkannya ke saku. Tanpa pamit pada Ibu Sung, aku berlari kembali ke apartemen.

*

“Hanya satu pil sehari, Minho. Lalu istirahatlah. Jangan menangis, aku mendengarnya.” Terdengar kekehan pilu dari seberang sana. Aku tidak menjawab dan segera memutuskan sambungan. Aku menceritakan semuanya. Berteriak marah padanya.

Kenapa aku seperti ini?

Kenapa aku tidak.normal?

Kenapa aku gila?

Kenapa semua orang meninggalkanku? Termasuk Jinki hyung?

KENAPA.

KENAPA.

KENAPA.

Aku menghapus air mata di sudut mataku sendiri. Tangisan pertama selama belasan tahun yang baru kukeluarkan hari ini. Aku duduk di sudut tempat tidurku. Rapuh dan hancur.

“Satu pil. Kalau lebih taruhannya nyawamu, Ho.”

 

“Hanya ini yang dapat kuberikan padamu. Tulis puisimu di sini.”

 

Jinki hyung nyata. Ia nyata. Kalau tidak, kenapa ia bisa memahamiku? Mendukungku? Menyayangi aku seperti adiknya sendiri?

Aku terdiam. Lalu menghela napas.

Kubuka semua pil yang ada di dalam sachetnya. Menelannya satu persatu dengan berbekal sebotol besar air mineral.

Lalu aku berbaring. Mencoba menatap langit-langit kamar berwarna kelam itu.

Napasku semakin berat dan tinggal satu-satu, ketika aku memutuskan untuk mulai menghitung bunyi ‘tik-tok’ yang muncul dari jam dinding di atas pintu. Kepalaku sakit—sakit sekali, seperti ada yang menghantamnya dengan paku. Seluruh tubuhku mulai kaku, seolah syarafnya mulai mati.

Di tengah kesadaranku yang semakin redup, aku merogoh sakuku. Mengambil pulpen di atas nakas. Tersenyum pahit ketika melihat jari-jariku bergetar. Aku menahan mual dan sakit itu, bangkit sedikit untuk menggoreskan tulisan di atas kertas itu.

Aku percaya tuliaan ini akan sampai pada Jinki hyung. Satu-satunya yang.paham perasaanku.

Entah berapa lama ini berlangsung. Sakit dan perih itu berangsur hilang. Aku ingat bagaimana aku menggunakan kakiku sebagai tumpuan dan kepalaku mendorong. Lantas aku mulai merasa sehat. Seluruhnya.

Semua terasa aneh sekarang.

Aku seperti lahir kembali.

Hingga kudengar suara pulpen terjatuh, suaranya memekik memenuhi ruangan, berdentuman dengan tangis jam dinding itu. Aku mengangkat kepala, tak kusadari kapan aku mulai berdiri. Membiarkan mataku beberapa detik menatap lurus ke depan, berhadapan dengan tembok yang dilapisi wallpaper krem. Ketika aku membalikkan tubuh, kulihat seorang pria terkulai di atas tempat tidur. Tetes mata itu perlahan mengalir dari sudut mataku.

Hal serupa terjadi padanya.

Inikah akhir?

*

Sembilu tembikar dalam lipatan tanah

Lalu permata itu timbul

Menggendangkan simfoni kebahagiannya

Lalu sang bunda melengkungkan lengkung kebahagiaan

Menyambut buah hatinya di antara manusia

Menyiapkannya menjadi gelantungan bintang di antara perkakas tua

Menorehkan kisah di atas untaian hidupnya

Hingga disambut rintih maut

Dan gerbang penuh kamboja

 

Saengil chukkae, Lee Jinki.

Minho.

Key merebut kertasitu dari tangan sang pejuang berita dengan nametag ‘Kim Jonghyun’ di dada kirinya, mencoba pergi darisana secepat mungkin.

“Siapa Lee Jinki ini, Tuan Kibum?”

“Teman imajiner Minho.”

“Apakah ia benar-benar skizo—”

Key tak menanggapi. Ia hanya melambaikan tangannya—yang lebih mirip dengan gerakan mengusir—ke arah Jonghyun. Ditinggalkannya sang kuli tinta di belakang, sementara ia berjalan menyusuri lorong dengan angkuh—menuju peristirahatan kawannya.

*

Minho duduk di atas kursi persis di sebelah pintu perpustakaan. Kedua kalinya dijulurkan sepanjang ukurannya dengan sebuah buku bersampul merah di atas pangkuan.

“Masih membaca buku?”

Ia mendongak dan dengan kedua mata belonya yang bening ia tersenyum, “Ya. Kau sudah baca puisinya?”

“Ya.”

“Bagaimana menurutmu?” Seperti anak kecil yang baru menyelsaikan sebuah karya besar, kedua bola mata bening itu berbalur sebuah semangat. Lee Jinki tertawa.

“Lumayan.” Ketika dilihatnya Minho mendelik, ia cepat-cepat menambahkan sambil tertawa, “Bagus. Tapi tidak sebagus buatanku!”

Minho lantas berdiri. Merapikan celana panjang putihnya yang agak naik akibat posisi duduknya. Lalu menggamit lengan “kakak”-nya kekanakan. Ia tertawa dengan suara besarnya itu, menarik Lee Jinki ke arah pintu keluar.

“Ayo, kita kunjungi Key hyung.

*

END

Kepada author mohon untuk tidak membalas komen hingga FFP13 dinyatakan selesai ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

58 thoughts on “[FFP 2013 – 2] Ilusi di Istana Ilmu

  1. Masih bingung thor -,- aku bingung tapi suka ffnya/? Keren sih kata2nya, gk gampang dimengerti😄 Bikin lagi thor yg lebih seru! Fighting ya!! ‘-‘)9

  2. Maaf, ini authornya siapa ya?

    pagi2 disuguhin ff yg lumayan berat, sambil mikir bacanya..

    Minhonya meninggal ya -__-

    saya suka genre-nya, tapi masih agk bingung di akhir..

    ditunggu karya lainnya ya author-ssi^^

  3. sudah nebak ini dari awal Jinki ga nyata. Ending yang agak menyedihkan, tapi toh Minho bahagia sama Jinki miliknya :’) Aku suka kata-katanya. SUKA! *iya iya, tenang* Puisinya juga jos ini. Haha ^^

  4. CRAZY!!! TOTALLY CRAZY!!!
    aku kaget pas tau jinki itu cma imajinasi minho doang..alamak, biasanya aku bisa nebak di awal..

    Mgkin saran aja sih. Aku mikir key ini sebenarnya psikiater, bukan psikolog, soalnya dia bisa ngasih obat ke org skizo kan ya..hehe..mgkn deskripsi latar lebih ditingkatin lg ya..hehehe..

    Puisinya berhasil bikin aku berkaca2, entah napa..hohoho..
    Penasaran sama authornya ini siapa..:D

    1. I’m not crazy ;_____; hanya sedikit ga waras (?) XDDD
      baguslah kalo ga ketebak saya bahagia xD

      nah! nah! nah! aduh aku malu banget dong -_- pas udah dipublish baru sadar, harusnya aku nulis psikiater kan. Aku jadi panas dingin, terlebih waktu ada komen yang menyadarkan soal ini .___. makasih banyak ya udah mengingatkan, astaga itu fatal banget u___u oke soal deskripsi latar aku akan coba lagi😀

      ngehehe syukurlah klo puisiku bisa bkin org berkaca2😀
      ini aku authornya ^^

  5. Akhir bahagia walaupun agak horor *apasih*
    pokoknya intinya cerita ini kereeen
    Ka Vania! Aku fan kamuu *bawabanner*
    Tau aja sih kalo aku baru abis ulangan bhs.indo jadi disuguhin puisi dah hahaha
    Dukung Ka Vania menaang~

  6. ga tau kenapa pas di bagian. Inilah akhir. mataku berkaca kaca. abis ulangan mtk langsung disuguhin ff yang yaa menurutku sih berat#curhat dikit #bunuh sajalah saya. saran dikit boleh ga? #ga boleh diceknya yang teliti yah eon! #yaelah udah keles *belum tentu cewe udah main panggil panggil eonni aja* itu tuh masih ada sedikiiiiittt lagi typonya. udah ah. aku jadi nyepam disini*bow*. 1 lagi, aku boleh ya kenalan sama authornya? yayaya? dah, tetap berkarya yaa!*lambailambai*

    1. hahahahahah xD tenang aja, aku cewe kok, pacarnya minho xD ayo kenalaaaaan xDDD
      iya nih, aku ngetiknya di hape sih. Terus diedit kan di word di laptop, rasanya sih udah rapi semua. Tapi gatau juga kalo masih ada human error mah ya u___u
      anyway makasih banyak atas komen dan mau kenalan sama aku :DDDD /tebarbunga

  7. awalnya agak bingung Minho tidur atau meninggal. pas dibaca lagi, arrrrgh! why?! bagus meski endingnya menyedihkan.
    tapi, sejujurnya aku dah bisa nebak kalo emang Jinki itu khayalan. hadeuh. di hari membahagiakan ini perasaanku menjadi begini. mellow.

  8. Baguss…aku suka. Author-nya puitis ya? Aku nggak bisa bikin puisiiii..huhu *malah curhat*
    Ketebak sih Jinki hanya khayalan Minho, tapi malah nggak ngeh kalau Taemin dan lain-lain juga ilusi. Yah, pokoknya begitulah. Dan soal Key yang psikolog, tetapi bisa memberikan obat dan instruksi penggunaannya, itu agak kontradiktif, sih. Berarti Key di sini adalah seorang psikiater, seperti komen sebelumnya.
    Mungkin bakal lebih bagus juga kalau deskripsi latar tempatnya dikembangkan, supaya ceritanya tidak terkesan melompat-lompat.
    Semangat!

    1. ah aku engga puitis kok, itu lagi kebetulan aja bisa bikin puisi (?) .___.v
      iya…. aduh itu kesalahan yang sangat memalukan ;A; harusnya psikiater, dan aku baru menyadarinya setelah dipublish *telat* -__-”
      sip akan dicoba kalo soal deskripsi~🙂 makasih😀

  9. Ah… Akhirnyaaa… FFP 2013 di mulai jugaaaaaa…. Dan FF pertama langsung disuguhi genre sad… Ah…. Sungguh…

    Ini FF nya keren… Singkat dan mengena… Cuma di bagian endingnya sedikit bingung aja akunya…wkwkw
    Tapi over all.. Aku ngerti alur ceritanya… Ah, klo orang mengidap skizofrenia tuh kayak gitu yah… Suka menghayal yang tidak2…. Wih… Sampe punya temen imajiner segala…. Ngeri cuy…

    Oke… Semangat author tanpa nama (akhirnya bener2 di laksanakan nih rencana peniadaan nama authornya).. Btw, aku sedikit nebak author FF ini… Dia bukan yah… Klo betul aq dapet apa yah..hehehe

    Good job!

    1. kalau aku baca di beberapa ff yang mengangkat tema skizofrenia, sama di beberapa artikel ttg skizofrenia.. aku nangkepnya sih begitu ya. Soalnya aku sendiri belum pernah ngalamin sih (?) *amit2 dah xD*
      hayo siapa yang dirimu tebaaaaak? meleset gaaaa? =))
      makasih ya anyway😀

  10. whoa..
    Keren..keren..
    Tapi kasian ojjong jadi kuli tinta.. Tapi gapapa deh.. Masih lebih baik dibanding taemin.. Hohoho..

  11. UWAAAAAAAAAA
    Ini kece sekaliiii~
    Well, iya, aku udah bisa ngebaca kalau Jinki itu hayalan.. tapi cara nyeritainnya ini bikin aku penasaran😀
    Dan…. ini human error atau memang ada gangguan di wp ya?
    soalnya aku sempet dapet keluhan, dia ngirim udah rapi tahu2 pas di publish jadi berantakan. Semacem ada kata yang mepet2 gitu
    Nah kalau ini, aku sempet nemuin tanda titik di antara kata yg mepet tapi belum akhir kalimat. Kalau ini bener kesalahan WP maaf yaaa~ aku coba cari tahu masalahnya apa
    tapi kalau kata2 lain yg kupikir typo, coba hayoo lain kali lebih teliti😀

    dan untuk puisinya… oh oh oh, itu kamu buat sendiri?
    indah masaaaaa huhuhu~

    Oh, untuk skizofrenia awalnya kupikir sama kayak GID/DID loh, ternyata beda.
    Aku sempet belajar soal penyakit ini sedikit.. menurut yang aku tahu, penderita biasanya sulit membaca emosi atau raut wajah. Apa gak semuanya begitu?
    Kayaknya sih.. kalau ini ff lebih mendalam risetnya bakalan oke punya deh *author: Eh woy, sadar! Lu ngasih deadline singkat banget!*

    Anyway, segini aja udah cetar tingkat durjana ^O^b
    KECEEEE~

    1. Iya typonya banyak banget, udah gitu ketuker psikolog sama psikiater, udah gitu publish pertama… aku… panas dingin ;AAA; /plak xD

      jadi gini, aku lagi uas kan waktu itu. Aku ga ada kesmpatan buat ngetik lewat lappy, jadi aku paksain nulis di hp (ini touch screen dan itu asli, ngetiknya susah kalo dipake ngetik ff -_-). Itu ada beberapa typo yg aku biarkan, karena aku pikir bkal diedit juga di lappy nanti, bbrp hr sebelum deadline. Trus aku pindah ke lappy hasil kerjaku dan hasilnya bikin kaget. Paragrafnya gak 1,5 lines dan itu gbs dibenerin, sizenya ga 12, typonya banyak bgt. Jd aku benerin dulu semuanya, termasuk typo. Aku gatau klo typo yg dihasilkan itu hasil aku apa error di mananya, karena aku yakin banget itu udah bersih typo (keculi klo ada yg kelewat sih). tp yg terpenting ff ini loloss!! aku bahagiaaaaa ;______;

      puisi aku biasa aja ah u__u hehe tp makasih😀

      soal skizofrenia, boleh dibilang ini penyakit jiwa favoritku (?) lol. Klo dr artikel2 ttg skizofrenia dan fiksi2 yg mengangkat tema inisih, kurang lbh skizofrenia begitu (menciptakan dunia sendiri, hmm jd berkhayal gitu) dan setauku skizofrenia ada beberapa biji jenisnya dan aku ga berani jabarin skizofrenia jenis apa yg diderita Minho, takut salah .___. dan ya aku ga riset xDDD hahahahaha xD

      makasih banyak kak lana😀

  12. Gila, setelah selesai ujian aku langsung ketemu ff yang bikin nyesek.

    Jujur, aku kurang ngerti endingnya .___. Mungkin juga akunya yang agak lemot kali ya -_- aku juga ga nyadar kalau Jinki cm khayalan, baru pas Ibu Sung bilang Jinki siapa aku baru ngeh.

    Btw ceritanya sedih😥 feelnya terlalu dapet. Aku suka :’)

  13. Keren..
    Ada beberapa yang sedikit membingungkan, api tetep bagus
    Aku agak kasihan sama Minho-nya~

    aku nemu typo sedikit, aku bacanya buru-buru, karena sebenarnya aku nggak boleh buka laptop lag UAS T.T

    ‘nada.nicaraku’

    aku nggak tau ini kesalahan dari WP atau dari sananya kayak yang kak Lana bilang. Tapi sejauh ini, dengan baca cepat2, aku cuma nemu itu. Seharusnya itu
    ‘nada bicaraku’
    bukan??

    Good luck thor~

  14. Kayaknya aku tau siapa author yang sering make nama Kim Keybum… *mikir dulu* belakangnya minkeeeyyyy!!! (??) *bener gak yah*
    Aku muter otak bacanya. PUISINYA KEREEEEENN ASTAGAAA!!! AKU BENER-BENER PENGEN BIKIN BANNER JADI FANSMU AH!!! (??)
    Ada kesalahan WP ya?? spasi jadi titik._. terus emang ada beberapa typo, tapi yahhh gak bakal keliatan kalau gak teliri wakakaka xD
    Jadi itu akhirnya Minho mati, nah ilusi dia itu roh atau gimana?? *ganyambung* masalahnya dia beneran ketemu sama Jinki sih.. jadi rada bingung ._. Maafkan otakku yang gak nyampe ini ya -_-
    Gud luck yaaaww~~~~ xD

    1. YOOOOO~~~~ ANDA BENARRR XDDDDDDDDDD
      wedeh keren otaknya bisa muter xD /plak/
      bikin fandom juga, terus warna official dan lainnya (?) XDDDD /dilempar
      kesalahan aku kayaknya .___. itu ngetik di hp beb, spasi sama titik deket bgt .___. dan pas edit ga keliatan -_____-
      itu ending yg kaya gitu aku sengaja kasih, buat nimbulin persepsi yg beda2 dr tiap pembacanya meeedd😀 biar endingnya ga klise ^^
      klo buatku sih itu minho sampe di surga ato alam kematian gitu deh, ada jinki sebagai roh malaikatnya🙂
      iya makasih med XDDD

  15. ceritanya keren banget thor!! yah meskipun harus baca berulang kali buat memahami puisinya._.v
    awalnya aku pikir jinki itu beneran temen imajiner si minho eh ternyata dia emang ‘ada’ toh (yah walopun dalam bentuk roh) apa aku benar thor? hehe *reader sok tahu*
    ditunggu karyamu selanjutnya thor~

    1. sebenernya klo soal ending itu aku sengaja buat gitu buat menimbulkan persepsi2 yg berbeda dr pembacanya🙂 tp klo dlm benakku sendiri, iya emang begitu. Jd Jinki semacam ‘pelindung’ Minho yg muncul dr keputusasaan si Minho sendiri, jd karakter yg diciptakan oleh dirinya sendiri😀
      makasih ya ^^

  16. jadi minho bunuh diri??? minho kena skizofrenia?? kasiann banget??!!!! huks…
    jadi gimana dengan kibum?? aduh, walaupun tadi agak lama mbacanya biar nyantol, tapi ni tetep keren.. good job thor!!, hehe….

  17. waaa telat baca -_-
    ceritanya bagus ngga mainstream.semuanya oke,sejauh mata memandang sih (?) ada 2 typo tadi hihi. sama bagian hampir2 ending rada rumit thor agak bingung bacanya musti ulang2. fighting thor! ^^

  18. Aaah… keren bangettt… suka… kata-kata puisinya berat banget ampe harus berkali kali bacanya ampe sedikit ngeh ama maknanya -___- jeren.. ini authornya sengaja diharasiakan?

  19. Keren, ini keren banget, puisinya itu loh! Aaahhh kece sangat! Gak nyangka kalau Jinki itu ilusi, baru sadarnya pas Key ‘ketemu langsung’ sama Jinki…😦
    Seperti komen di atas, setauku jg yg bisa ngasih obat itu psikiater bukan psikolog. Ohya ada beberapa typo kaya nicaraku, ayolaah, kalinya.
    Keep writing! ^^

  20. Ini FF aku ksìh 2 jempol, keren!
    Dari pertama curiga, knapa minho harus ketemu 2 psikolog-key, jinki. Kenapa jinki hanya ilusi? Mnurutku hrus ada sdikit clue kalau ternyta jinki hanya hasil khayalan, kalau jinki ilusi berarti kertas yg digunkan utk mnulis puisi itu sharusnya tdak ada ditangan minho.. Yah, overall ini ff ok ok ok, jempol jempol, jempol, jempol!!!
    *utk author, keep spirit utk berkarya ^^

    1. hoaaaa makasih😀
      iya jd jinki itu karakter ‘buatan’ minho sbg balasan utk rasa sedihnya dia selama ini, itulah kenapa dia skizofrenia, dia mengalami sesuatu yg merupakan ilusi😀 dan kertas itu sebenernya buat mendramatisasi, kertasnya bisa aja kertas milik minho sendiri tp ‘dikasi’ oleh jinki krn itu ilusinya minho🙂
      iya makasih banyak ya😀

  21. Kereeeennnn! daebak…
    Puisinya apalagi,,
    Suka banget genre kayak gini,, agak berat tp berbobot.. bukan cerita yg asal selesai
    Endingnya mantap..
    Jinki cm khayalan? dibayangku jinki justru roh smacam hantu perpustakaan gitu, keke~ tergantung yg baca kali ya

    Pokoknya mantap! namanya spa thor? boleh knlan gak? mo daftar nih jd reader km😀

  22. Ini amat sangat…KEREN!! Just couldnt find the right words at the moment. Dan kalo nggak baca komentar dari salah satu readers, aku gak bakal ‘ngeh’ kalau Minho akhirnya meninggal hahaha. Bahasanya lumayan berat, aku harus sampai melotot dua kali bacanya ._.v

  23. Minho, overdosis ya?
    diauruh makan satu malah diabisin sekali banyak ho minho~
    bahasanya berat, kerennnn tapi jadi harus baca ulang biar bener2 ngeh ._.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s