[FFP 2013 – 2] Hieroglif – Part 1

hieroglif

Tittle                : Hieroglif

Main cast         : Lee Onew, Choi Minho, Lee Taemin, Pangeran Jonghyun, Raja Key

Support Cast   : Tuan Onew, Elf Minho, Kurcaci Taemin, Penyihir Jonghyun, Iblis Key, Tuan Choi, Naga Choi, Kim Suho, Kim Joon Myeong

Genre               : Advanture, Fantasy, Supernatural, and Friendship

Length             : Sequel

Rating              : General

Inspired           : Novel of The Mysterious Benedict Society from Trenton Lee Stewart

Note                : Tolong kritik dan sarannya!!

Onew duduk di mejanya dengan tenang, membaca sebuah surat kabar. Matanya memicing tajam, tampak sangat serius membaca sederet huruf—yang tak mungkin dimengerti untuk kebanyakan orang. Ia menggaruk kepalanya ketika melihat sederet lambang yang tertulis di sana.

“Orang gila mana yang menulis bahasa alien begini?” keluh seseorang jauh  di belakangnya. Dialah Xiu Luhan, anak yang sangat terkenal dengan wajah charming-nya. Semua orang memujinya dengan seluruh bakatnya, terutama kaum hawa yang entah bagaimana menjadi histeris ketika kolonyenya memasuki indra penciuman mereka ketika ia melewati mereka. Dia membanting koran di depan wajah—di mejanya—tersebut dengan ekspresi berantakan, seperti seseorang yang baru saja mengetahui bahwa ia gagal pada sebuah ujian masuk sekolah tinggi. Dan, pada akhir kesabarannya ia berteriak histeris, “Adakah yang bisa membantuku menerjemahkannya?! Tulisan ini benar-benar sialan!”

Dan muncullah seseorang dari balik pintu kelas—yang memang suka terisi di waktu istirahat oleh beberapa murid—memakai kacamata yang besar dengan seringaian nakal. Jinki juga mengenal anak tersebut, namanya Kim Suho. Oh, dia adalah anak yang sangat menyebalkan, lebih menyebalkan dari Luhan. Luhan adalah tipe orang yang suka menyombongkan diri, meski hanya ia tunjukan dengan gayanya yang sok cool, tapi Suho, dia suka menukas menyakitkan, dia suka mengejek bahwa orang lain lebih bodoh darinya.

Suho berdiri di depan Luhan dengan melipat tangan di dada dengan dagu yang tinggi, sedangkan matanya melirik ke arah deretan huruf yang dimaksud Luhan. Beberapa detik kemudian Onew bisa melihat anak itu tersenyum senang. Benar-benar senang karena merasa bisa mengalahkan Luhan. “Kau benar-benar tidak bisa membaca, Pangeran Charming?” ucapnya angkuh tanpa embel-embel ‘tulisan ini’ atau bahkan sangat bisa disebut ‘hieroglif’.

“Kau bisa membacanya, Tuan Sok Pintar?” balas Luhan sewot.

Suho mendengus. “Tentu saja. Kenapa aku tidak bisa? Mau aku bacakan?” ejeknya.

“Silakan jika kau bisa,” tantang Luhan.

Dengan kasar Suho mengambil tumpukan kertas abu-abu itu, tapi hanya sebuah kolom—yang sangat besar hingga hampir-hampir memenuhi satu halaman—di halaman depan surat kabar yang ia baca. Dia membacanya keras-keras, menunjukkan betapa hebatnya dia, “Kau yang bisa membaca tulisan ini diundang untuk datang ke istana.” Lalu ia tersenyum merendahkan dan penuh kepuasan. “Sayang sekali,” ucapnya dengan nada menyesal yang dibuat-buat. “sang Pangeran tak bisa datang ke istana,” lanjutnya.

Luhan mendengus sebal dan membuang muka kemudian. Benar-benar merasa kalah.

Mata Suho melirik ke arah Onew, lebih tepat jika dikatakan matanya tertarik pada apa yang ada di tangan Onew—surat kabar yang sama dengan topic yang sama dengan Luhan.

Onew yang merasa diperhatikan pun tampak kaget. Ia buru-buru membuang pandangan ke arah surat kabar lagi. Baginya, berurusan dengan seorang Suho adalah hal yang paling menyebalkan. Tidak jarang hal-hal aneh terjadi padanya kemarin-kemarin, tepat ketika nilai yang didapatnya jauh lebih tinggi dari Suho, atau bahkan hanya sangat sedikit lebih tinggi, tetap saja, Suho tak bisa menerimannya. Pernah Onew kehilangan sebelah sepatu, kehilangan buku hingga diomeli guru, terpeleset di depan murid lain dan dipermalukan, dilempari tepung, dan hal-hal aneh lain yang sangat direncanakan secara matang hingga tampak seperti kecelakaan. Semua itu membuat Onew menjaga sikap, jarak dan tentu saja nilainya dengan Suho. Sebisa mungkin ia tak mau berurusan dengan orang itu. Psikopat.

“Jadi, Tuan Genius, apa kau bisa membacanya?” suara itu menggetarkan gendang telinga Onew. Tanpa harus menoleh lagi—ia jelas-jelas tahu Suho sedang memandangnya dengan tatapan menantang—sudah tampak dari nada bicaranya, jadi buat apa ia melihat lagi. Dan ia tahu betul siapa yang dimaksudnya, itu dirinya.

“Emm, aku hanya tahu ini tulisan Syastro. Ini tulisan kuno kerajaan,” ucap Onew merendah, takut untuk terlalu jujur. Ia bahkan bisa merapalkannya dengan sangat baik dalam bahasa aslinya, tapi ia tak mau ceroboh, hanya untuk memperlihatkan dia genius, atau bahkan sangat genius, ia tak perlu mendapatkan kesulitan. Lagi pula, ia ingin melihat isi istana yang biasanya hanya bisa dilihat dari kejauhan oleh orang biasa seperti dirinya.

“Yup! Tapi aku cukup terkejut ternyata kau mengetahui lebih banyak dari yang kuduga. Ternyata kau tak sedungu yang tampak, Tuan Genius.”

Onew mengernyit. Itu ejekan yang aneh, pikirnya.

“Baiklah, hanya aku tamu itu di sekolah ini,” ucap Suho dengan pongah lalu menghilang di balik pintu.

Gigi-gigi Luhan bergemeletuk dan wajahnya memerah, pada akhirnya ia melempar surat kabar itu ke lantai lalu menginjak-injaknya dengan bringas sambil bersungut-sungut, “Dasar Sialan! Sialan! Kenapa si Mata Raksasa itu bisa membacanya?!” Lalu berlalu mengikuti langkah Suho, menghilang di balik pintu.

________

Sore menjelang malam. Dalam perjalanan pulangnya onew mendapati kereta-kereta kuda mewah melintas di tengah jalanan yang penuh dengan tanah, sedang ia yang berada di tepiannya harus berlapang dada menerima kepulan debu yang berterbangan di sekitarnya. Sesekali ia mengibaskan tangan di depan wajah, mengernyit, menyipit ketika takut benda-benda mikro itu masuk dan menempel pada matanya, atau benar-benar menempel hingga matanya menjadi merah ketika ia selesai menguceknya, bahkan, tak luput juga masuk ke dalam paru-parunya hingga ia tampak seperti orang yang memiliki penyakit pernapasan, atau memang itu akan benar-benar terjadi jika hal ini terus berulang hingga ia lulus sekolah.

Dalam perjalanannya tak hanya hal-hal yang tak mengenakkan yang ia dapat, tapi hal-hal baik juga tak luput. Ada pendaran cahaya merah di ufuk barat, kelabu yang muncul dari timur, burung-burung yang mengepak di langit dengan formasi segitiga, embus angin yang menerpa dengan lambaian daun-daun yang menyapa, atau bahkan sapaan para petani buah yang sangat baik padanya, memberikan beberapa buah-buahan ketika berpapasan, tapi ada satu hal lagi yang ia lupa mengatakannya, ketika matahari hampir menyelimutkan diri dalam kegepalan, maka sang gagak berteriak kegirangan. Itu terdengar mengerikan bagi Onew.

Tok! Tok! Tok! Onew mengetuk pintu polos di hadapannya yang agak lapuk. Sebuah bagian dari rumah reot dari kayu yang sudah rapuh. Ada beberapa lubang di beberapa bagian, seperti atap atau temboknya, yang membuat, angin, cahaya, ataupun air mudah menerobosnya. Tak lama kemudian, terdengar derit engsel pintu yang ditarik ke dalam dan tampaklah seorang wanita paruh baya dengan senyum yang ramah, yang menyambut anak kesayangannya dengan bahagia, dengan beberapa ubah di kepala dan baju-baju yang beberapa bagiannya ditambal. Onew masuk dan memberikan beberapa buah apel dan jeruk yang diberikan oleh para petani, yang dijadikan sebagai pencuci mulut pada makan malam.

Onew segera pergi ke kamarnya, meletakkan dirinya di atas ranjang sambil melipat tangan di belakang kepalanya sebagai bantal. Ia menatap atap penuh bercak dengan pandangan menerawang, seperti dapat menembusnya hingga dapat melihat bintang-bintang yang mulai muncul di atas gulita langit kelam. Lalu, ia bangkit dan mengambil selembar kertas yang sudah ia simpan di dalam tas dan mengulangi membaca, dan mulai tersenyum bahagia hingga dengan sigap menyisipkan benda itu di bawah bantal lapuknya ketika suara seseorang terdengar bersamaan masuknya seseorang dengan tidak sopan, “Kak! Kak!”

 “Taemin!” bentak Onew garang. “Sudah kubilang, ketuk pintu dulu!” protesnya.

Taemin memutar bola matanya lalu dengan enteng menjawab, “Ya, lain kali.” Padahal Onew pun sudah tidak bisa lagi menghitung berapa banyak kata “ya, lain kali” yang keluar dari mulut anak itu dan mengundang cibiran yang terdengar seperti desisan kecil, yang merupakan gerutuan Onew.

“Kak! Kak!” Taemin berlari dan naik dengan semangat ke atas kasur Onew, meletakkan setumpuk buku yang sudah tak lagi berbentuk tumpukan, melainkan serakan di atas ranjang hingga tampak begitu berantakan. “Hari ini lumayan. Aku dapat banyak.”

“Kau tega sekali. Aku baru pulang sekolah. Aku lelah. Setidaknya kauberi aku waktu untuk istirahat, Taemin,” protes Onew jengkel.

“Karena itu, karena kau memiliki banyak pekerjaan maka aku memberikannya lebih awal, agar kau dapat beristirahat lebih awal. Kautahu, aku menaikkan tarifku untuk pekerjaan rumah ini! Kita dapat uang banyak!

Onew mencibir diam-diam karena dia tahu Taemin tetap akan memaksanya apapun yang terjadi.

________

Pagi-pagi sekali Onew bangun, bahkan ketika ayam-ayam belum membuka mata dan mengeluarkan kokokannya hingga mungkin mereka akan kecewa atau merasa sangat tersinggung. Tapi, semua itu demi kelancaran rencananya, dan menghindari pengacau kecil yang berisik. Sebelum matahari berani mengintip Onew bahkan sudah menerjang gelap di perjalanan. Udara masih dingin, dan embun membasahi sepatunya. Pakaiannya sangat rapi bahkan lebih rapi dari ketika ia berangkat menuju sekolah.

Cukup butuh waktu lama untuk mencapai tujuan, tepatnya kerajaan. Ada beberapa bukit, perkebunan, pasar, hingga masuk ke dalam kota—tempat para orang-orang kaya tinggal, termasuk keluarga Luhan dan Suho—dan ia harus mendaki tanjakan menuju sebuah gerbang super besar yang dibuat dari jeruji-jeruji besi panjang dan kuat yang dibentuk melengkung. Di sana, ada dua orang yang menjaga dua sisinya. Mereka berseragam merah terang lengkap dengan topi dan tombak masing-masing. Dengan hormat Onew mendekat dan mereka menghampiri Onew dengan tampang garang.

“Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang dari mereka.

Dengan cukup gugup sambil melirik pada keduanya ia menjawab, “Aku diundang karena bisa membaca hieroglif ini.” Dan memberikan apa yang terselip di saku kemejanya.

Kedua pengawal itu saling berpandangan, kemudian tanpa kata-kata membuka gerbang. “Ayo ikut aku!” ajak salah seorang dari mereka dan segera bergerak memasuki gerbang.

“Baik,” tukas Onew lalu mengikutinya dari belakang, berjalan memasuki sebuah pekarangan yang sangat luas, yang memiliki taman-taman di sebelah kanan dan kiri jalan setapak yang ia lalui. Ada berbagai bunga tumbuh dengan indah di sana, pohon-pohon hias, atau bahkan yang agak besar. Mereka tumbuh dengan subur dan terawatt, sedangkan di hadapannya ada sebuah bangunan luar biasa besar yang memiliki banyak menara di atasnya. Juga ada sebuah bendera besar yang berkibar dengan gagah pada puncak menara tertinggi.

Onew menatap takjub, tak bisa berkedip, bahkan lupa bahwa ia bisa saja bersuara, menggerutu karena ia tak bisa memiliki tempat layak untuk tinggal, atau berdecak kagum karena ada sebuah bagunan hebat di hadapannya. Ia lupa untuk keduanya, jadi ia hanya diam.

Ketika memasuki gedung tersebut dan berada dalam sebuah ruangan besar ia bahkan semakin lupa bahwa selaput matanya harus dibasahi, dan mulutnya harus menutup agar tak tampak seperti seseorang yang ingin menyuap makanan, juga bicara agar tak dianggap bisu. Dan pada akhirnya ia sampai pada sebuah ruangan dengan banyak rak buku yang besar, yang diisi oleh berbagai buku dengan sampul-sampul yang berbeda. Ia semakin takjub, dan ia semakin gatal. Ia ingin sekali memilih sebuah buku untuk dibacanya sekarang.

“Silakan tunggu di sini. Akan ada yang mendatangi Anda nanti,” ucap sang Pengawal lalu pergi, menutup pintu yang baru saja dilewatinya.

Onew duduk pada sebuah sofa putih yang sangat nyaman. Menghenyakkan diri sambil memandangi buku-buku itu dengan penuh hasrat, tetapi sebuah suara pintu yang terbuka membuatnya terkejut dan dengan segera ia berdiri.

“Oh, ada lagi rupanya,” ucap lelaki itu, yang mamakai seragam berwarna hitam yang merupakan sebuah jas beserta sebuah dasi kupu-kupu merah yang cantik. “Selamat datang. Silakan duduk,” sapanya ramah sambil membungkuk dan mempersilakan Onew duduk, Onew pun dengan sopan membalas membungkuk dan duduk bersama orang itu.

“Jadi, apa sudah lama menunggu?”

“Ah, tidak. Baru saja.”

Orang itu mengangguk-angguk. “Perkenalkan, saya Choi Siwon. Saya adalah sekretaris rumah tangga kerajaan.”

“Saya Lee Onew, pelajar tahun kedua di Hibird High School.”

“Benarkah? Wah, aku selalu mendengar orang mengagung-agungkan sekolah itu. Aku kira mereka hanya melebih-lebihkan, tapi sekarang aku berubah pikiran. Sekolah itu pasti memiliki banyak siswa yang sangat pintar. Bahkan, ada dua siswanya yang bisa membaca hieroglif Syastro.”

“Maaf. Dua?”

“Ya, dua. Seorang temanmu ada di dalam sana, sedang mencoba menjawab sebuah teka-teki,” ucap Tuan Choi sambil menunjuk sebuah pintu di dalam ruangan besar itu.

Suho, nama itu langsung terlintas di kepala Onew.

“Namanya Kim Suho. Kau mengenalnya?”

Onew mengangguk dan sebuah ketukan terdengar. Bukan dari sebuah pintu di dalam ruangan besar itu, namun sebuah pintu yang bersinggungan langsung dengan luar ruangan yang baru ia lalui, dan sesaat kemudian tampak seorang lelaki kecil tampil dengan ringisan yang penuh arti serta seorang pengawal yang sontak membuat Onew membelalak kaget. Taemin!

 “Tuan, dia bisa membacanya,” ucap pengawal itu dan membuat Onew semakin kaget.

“Baik. Terima kasih. Kau boleh pergi.”

Orang itu memberi hormat dan menghilang kemudian, meninggalkan Taemin yang tengah berdiri di depan pintu yang baru saja tertutup sambil membungkuk hormat. “Selamat pagi, Tuan!” ucapnya riang. “Selamat pagi, Kakak!” sapanya lebih riang sambil melambai.

“Apa? Kakak? Dia adikmu, Onew? Kalau begitu kenapa kalian tidak kemari bersama saja?” tanya Tuan Choi heran.

“Em … itu … dia—“

“Aku bangun kesiangan. Jadi, Kakak meninggalkanku,” sela Taemin membuat Onew melotot ke arahnya.

“Kau harus lebih bersabar terhadap adikmu, Onew.”

Bersabar apanya?! sungutnya dalam hati, tapi dia mengangguk.

“Oh, ya, silakan duduk—em ….”

“Taemin. Lee Taemin, Tuan,” sahut Taemin.

“Baik. Silakan duduk, Taemin.”

Taemin menurut setelah beberapa lama hanya berdiri. Ia mengambil tempat tepat di samping Onew dan tersenyum ramah, sedangkan Onew mulai mendengus melihat tingkah adiknya.

“Kalau begitu, kenalkan, aku Choi Siwon, sekretaris rumah tangga kerajaan. Tapi, omong-omong, aku sungguh terkejut, kautampak begitu muda, jauh lebih muda dari kakakmu, tapi sudah bisa membaca hieroglif itu. Aku benar-benar terkesan. Aku sekarang bahkan mengulang spekulasiku terhadap Onew. Jika kau bisa membacanya aku pikir Onew jauh lebih cerdas daripada yang bisa kubayangkan. Dan, biar kutebak, kalian pasti dilahirkan dari keluarga genius,” sanjung Tuan Choi—yang sangat berlebihan menurut Onew dan sangat menggelikan bagi Taemin. Anak lelaki kecil itu diam-diam terkikik geli.

“Oh, ya, jika tak keberatan, boleh tahu berapa umur kalian?”

“Aku dua belas, tentu saja. Dan kakakku, delapan belas.”

“Emm, maaf, tapi, aku memerhatikan sejak tadi pintu itu,”—Onew mengarahkan jarinya ke arah sebuah pintu cokelat polos yang ditunjuk Tuan Choi tadi, yang terpasang pada salah satu sisi ruangan di antara rak-rak buku yang besar, berada di sampingnya, cukup jauh dari tempat mereka duduk—“dan aku memikirkan teka-teki macam apa yang sedang Suho pecahkan. Apa sulit hingga Suho tak kunjung keluar?”

“Aku rasa bukannya sulit. Hanya saja, sangat sulit. Teka-teki itu tertulis dalam hieroglif Syastro, karena itu kami mengundang kalian.”

“Maksud Anda, di sini tak ada sama sekali yang bisa membacanya?” tanya Onew dengan terkejut mengetahui.

“Tentu saja. Tapi—em, sebenarnya … ada. Dua orang tepatnya.”

“Lalu kenapa Anda tidak biarkan mereka saja yang memecahkannya? Apa teka-teki itu pun begitu sulit untuk keduanya?”

“Oh, tidak. Hanya saja …. Baiklah, aku hampir melupakan sesuatu. Ini tidak akan efisien. Tahan pertanyaan kalian. Dan kurasa Suho pun akan cukup lama di dalam sana, serta kalian juga harus terlebih dahulu berkumpul dengan satu anggota kalian yang lain yang belum datang, jadi tolong bersabarlah. Aku akan menjawab semua pertanyaan kalian nanti, aku berjanji. Selama menunggu apa aku bisa menyuguhkan sesuatu? Tolong biarkan aku menjadi tuan rumah yang baik,” tolak Tuan Choi dengan lembut dan menawarkan sesuatu dengan ramah sambil tersenyum.

Onew cukup kecewa, tapi ia masih bisa mengerti. Dia buru-buru menukas dengan halus, “Ti—”

“Aku ingin sesuatu yang sering dimakan di kerajaan, Tuan. Aku pernasaran makanan apa yang dimakan oleh orang-orang di sini. Aku rasa kakakku juga menginginkannya,” sela Taemin membuat Onew melirik kesal tapi sama sekali tidak ditanggapi. Anak itu tampak tak peduli.

“Baiklah.” Tuan Choi bangkit dan mengambil sebuah … anggap saja telepon. Hanya saja, benda itu hanya bisa dipakai di dalam istana. Sebuah benda berbentuk seperti lonceng dengan kabel-kabel panjang yang terhubung dan menyebar di seluruh ruangan di kerajaan, menempel pada tembok-tembok dengan rapi. “Nona Zhou, tolong bawakan beberapa camilan dan minuman yang biasa dimakan Pangeran kemari!” titahnya, terdengar berteriak.

“Waaah!” Taemin tidak menyangka dan dia benar-benar senang.

“AAAARGH!!” Tapi tiba-tiba ketika Tuan Choi baru saja menyelesaikan pembicaraan singkatnya—yang keras karena berteriak—terdengar teriakan yang jauh lebih keras, bahkan lebih tepat jika dikatakan menjerit. Sangat keras, tapi tak terlalu bisa diketahui, jeritan macam apa itu, ketakutan? Atau kesakitankah? Mereka penasaran dan membuat mereka bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Suho—suara nyaring itu berasal dari dalam ruangan yang ditempati Suho.

Dengan panik keempatnya bangkit dan berlari dengan terburu-buru ke dalam ruangan berpintu cokelat polos itu. Di sana, di atas meja, mereka mendapati kepala Suho tergeletak, disanggahi buku tebal sebagai bantal—yang masih terbuka, dan bisa dipastikan baru saja Suho baca—kedua tangannya terkulai lemas di kedua sisi tubuh yang sudah tak bergerak, tapi wajahnya tak tampak karena membelakangi.

“Suho! Tuan Suho!” pekik Tuan Choi segera menghampiri Suho dan mencoba menegakkan tubuhnya pada sandaran kursi, dan alangkah terkejutnya, wajah Suho yang mendongak menampakkan mata hitamnya melotot mengerikan dengan jelas dari balik kacamata besarnya yang transparan.

Tuan Choi membekap mulutnya sendiri—menahan diri agar tidak berteriak—Onew membelalak dengan mulut terbuka, tampak sangat terguncang, sedangkan Taemin menutupi wajahnya, itu benar-benar mengerikan dalam penglihatannya. Di balik tangan kecilnya, tergurat ekspresi takut.

Beberapa lama berdiam dengan perasaan terguncang Tuan Choi mencoba melihat Suho lebih teliti. Mencoba menguasai diri dan dengan agak gemetaran meraih tangan Suho, mencoba menekan urat nadi di pergelangan tangannya yang lunglai—masih sedikit berharap—tapi tak ada tendangan sama sekali. Ia juga mencoba meletakkan jarinya di hidung Suho, pun tak merasakan uap dan udara yang keluar dari sana. Dengan berat hati ia mengatakan—sebenarnya lebih condong dengan perasaan sangat bersalah—“Dia meninggal.” Dan terdiam kemudian, sejenak, memberikan jeda kata-katanya, mencoba menenangkan diri lebih dahulu, sebelum dia menyuruh kedua anak yang masih mematung itu keluar dan menunggu di luar.

Keduanya digiring oleh Tuan Choi, menyuruh mereka menunggu di tempat yang berbeda dari tempat mereka yang semula, dan di tempat itu sama sekali tak ada perabotan yang mirip kursi hingga mereka harus membiarkan kaki mereka yang masih sedikit gemetar dan lemas berdiri di dekat pintu perpustakaan yang dibiarkan terbuka, sedangkan Tuan Choi sendiri dengan begitu tergesa pergi dan meninggalkan mereka begitu saja setelah memberikan sedikit nasihat dan titahnya, meminta mereka menunggu dengan tenang dan bersikap baik, tidak pergi ke mana pun karena mereka bukannya tidak mungkin akan tersasar karena besarnya tempat yang mereka injak sekarang.

“Kak, sebenarnya ada apa ini?” tanya Taemin sambil memegangi tangan kakaknya yang dingin, tapi tangan Taemin sama dinginnya hingga tak merasakan perbedaan suhu di antara keduanya.

“Mana aku tahu! Aku hanya diundang kemari lewat surat kabar!” jawab Onew tak kalah kalut.

“Apa kita juga akan mati seperti anak itu?” tanya Taemin khawatir.

“Tidak,” ucap Onew berusaha yakin. “Tapi, aku ingin mundur. Aku tak tahu ini semacam tes atau apa, tapi ini berlalu berbahaya, kautahu?”

“Tentu saja. Betapa gilanya kita melihat mayat tapi berkata ini benar-benar aman.”

“Aku berencana pamit lebih dulu pada Tuan Choi sebelum pergi.”

“Aku ikut denganmu!” balas Taemin cepat.

Onew mengernyit dan tiba-tiba terlihat kesal. Dia melirik adiknya dengan intens. “Tapi … tapi bagaimana kau bisa—?”

“Aku hanya mengikuti ucapanmu di gerbang,” tukas Taemin spontan seolah bisa mengetahui kelanjutan kalimat kakaknya—dia mencuri dengar dari balik semak tak jauh dari gerbang. “Dan ketika mereka bertanya di mana surat kabarnya, aku jawab saja, ‘aku lupa membawanya’.”

Onew berdecak. Ia sesaat lupa betapa nakalnya anak ini dan betapa kesalnya dia saat bersamanya. “Kau ini benar-benar nakal.”

“Aku tidak nakal, aku cerdik,” bantah Taemin tak terima, yang sejenak membuat ia melupakan ketakutannya.

“Kau licik,” sanggah Onew.

Tiba-tiba segerumbulan orang berbaju putih datang dengan sebuah keranda besi, melewati mereka dengan cepat dan tergesa, menghilang ke dalam ruangan perpustakaan. Tuan Choi mengikuti, masuk lalu tak terlalu lama mereka semua keluar lagi, kali ini dengan membawa tubuh Suho yang mereka tutupi dengan kain putih yang cukup panjang hingga tak ada sejengkal jari pun yang tampak darinya. Dan dalam sekejap saja, tempat itu menjadi hening kembali, Tuan Choi pun muncul di samping mereka sambil memegang knop pintu yang sudah terbuka, meminta mereka masuk kembali ke dalam.

Di dalam keadaan pun tak dengan mudah membaik. Semua terasa canggung dan menakutkan seperti ada sesosok makhluk yang tak terlihat siap menerkam mereka kapan pun di tempat tertutup itu. Mereka memandang ruangan tersebut dengan ngeri, terlebih lagi ruangan dengan pintu cokelat polos yang menjadi saksi bisu kematian Suho yang singkat dan tragis. Mereka duduk berhadapan dalam keadaan mencoba menenangkan diri—meski tak berhasil sama sekali—dan tak bicara. Beberapa menit kemudian Tuan Choi dengan dahi mengernyit melihat ke arah dua anak yang tampak sangat gundah, tapi tak ada satu pun di antara mereka yang mencoba untuk bicara, meski dengan jelas Tuan Choi melihatnya.

“Kumohon, bisakah kalian menunggu sebentar lagi untuk memutuskannya? Setelah aku menjelaskan semuanya kepada kalian? Satu orang lagi, tunggu dia datang dan aku akan benar-benar menjawab semua pertanyaan kalian,” ucapnya seolah bisa membaca pikiran keduanya. Dan dengan berat hati keduanya pun diam dengan lesu.

Beberapa lama mereka duduk di kursi masing-masing, menunggu seseorang dengan gundah. Tuan Choi pun tak mengatakan apapun setelah itu menjadikan ruangan setenang pemakaman, bahkan baki-baki yang telah berisi camilan dan minuman di atas meja yang sudah dihidangkan sejak beberapa menit yang lalu pun tak tersentuh sama sekali. Rasa tak nyaman membuat selera makan mereka turun ke perut, membuat mereka mendadak merasa kenyang meskipun mereka sama sekali belum sarapan.

Pada akhirnya, setelah beberapa menit berlalu terdengar suara ketukan, dan muncul seorang lelaki tinggi berpakaian merah yang dikenali sebagai seorang penjaga dan diikuti oleh lelaki tinggi lainnya dengan penampilan yang berbeda, yang ini bukanlah seorang penjaga, melainkan tampak seperti rakyat biasa seperti halnya Onew dan Taemin, hanya saja, agak berbeda, berpenampilan necis, dan dengan cepat dikenali sebagai seseorang yang tengah mereka tunggu yang merupakan dari salah seorang bangsawan, namun umurnya terbilang cukup muda, kurang lebih sama dengan Onew sendiri yang tengah memerhatikannya.

Seperti biasanya yang terjadi, penjaga pergi dan orang itu dipersilakan duduk. Ia memilih sebuah tempat kosong di sebelah Taemin. Duduknya tegap dan ekspresinya tampak tegas, begitulah sikap seorang bangsawan yang Onew kenali, tetapi dengan cepat anak itu tersenyum dengan lembut, membuat Onew hampir-hampir berjingkat. Dan seperti biasa juga, pertemuan mereka selalu diawali dengan perkenalan singkat.

“Aku tak menyangka seorang bangsawan mau mengikuti tes semacam itu,” ucap Tuan Choi.

Anak itu menghela dan menatap Tuan Choi dengan kesal. “Aku hanya ingin pergi dari rumah. Aku benci di rumah.”

“Kenapa kau membenci rumah?” tanya Onew membuat mata Minho langsung menatapnya tajam.

“Karena di sana membosankan,” jawab Minho seadanya.

“Baiklah. Seperti yang sudah aku janjikan. Pertama-tama aku akan menceritakan sebuah cerita sedikit. Dua puluh tahun yang lalu, sudah sangat lama sekali, kami mempunyai seorang raja, dan raja itu tertukar dengan sosok yang lain, yang begitu mirip rupanya dengan raja kami tetapi sangat berbeda. Dan karena ada beberapa alasan yang cukup rumit membuat kami tak bisa mengembalikannya. Kami sudah memikirkan berbagai cara dan berusaha untuk tidak melibatkan warga sipil, terlebih anak-anak seperti kalian. Yah, kalian maksudku khusus Onew dan Minho, kalian memang cukup besar namun belum bisa dikatakan dewasa, aku harap kalian maklum (Tuan Choi mengatakan itu dengan hati-hati karena memiliki pengalaman dengan seorang anak lelaki yang tidak suka dikatakan tidak cukup dewasa), tetapi ….” Tuan Choi memberikan jeda sedikit dengan kalimat panjangnya dan menghela panjang, tampak sekali dia begitu berat hati mengatakan ini—cukup tertekan dengan kenyataan yang akan ia sampaikan. “Tetapi, keadaan mendesak kami. Keadaan yang sangat berbahaya yang bisa menghilangkan ratusan bahkan ribuan orang diluar sana. Aku benar-benar benci memikirkannya.” Tuan Choi menghentikan ceritanya dengan wajah muram, lalu menambahkan sedikit, “Dan, karena saat ini raja sekarang sedang sibuk mengurus keperluan perang di luar kerajaan. Waktu yang sempit ini adalah peluang terbaik yang kami miliki untuk membawa kalian kemari.”

“Tuan Choi, boleh tahu keadaan mendesak dan berbahaya seperti apa yang anda maksud?” tanya Minho dengan tampang serius.

“Dan, alasan rumit seperti apa yang membuat misi ini ditunda hingga begitu lama? Dan kenapa raja bisa tertukar sedangkan tak ada pemberitaan sedikit pun tentang itu?” tambah Onew.

“Juga, sebenarnya dari sebegitu panjang cerita Anda, apa yang sebenarnya Anda ingin kami lakukan?” imbuh Taemin tak mau kalah, yang sebenarnya juga tak terlalu suka mendengar cerita yang terlalu panjang yang seringkali membuatnya mengantuk bahkan tertidur, tetapi kali ini terlalu serius hingga tak bisa ia lewatkan.

“Aku akan menjawab pertanyaan Minho terlebih dahulu. Aku akan katakan ini adalah sebuah rencana perang, atau kau bisa menyebutnya sebagai rencana penjajahan yang tidak berkemanusiaan yang direncanakan oleh raja yang sekarang, dan akan dijalankan dalam waktu yang benar-benar dekat, meski aku tak bisa memastikan kapan. Sesuatu yang dianggap raja, tetapi sama sekali bukan. Dia ingin memperluas kekuasaan karena kerakusannya. Dan kenapa aku mengatakannya sebagai ‘sesuatu’? Karena kau juga tak bisa menyebutnya sebagai manusia.”

Seketika orang-orang membulatkan mata karena begitu terkejut. Tuan Choi pun menghentikan sebentar ceritanya, membiarkan anak-anak di sekitanya mencerna dengan baik-kata-katanya supaya bisa menerimanya.

“Ya, dia adalah iblis. Iblis Key. Kembaran Raja Key di dunia lain. Saat itu dia masih sangat muda, masih seumuran dengan kalian dan masih dipenuhi dengan jiwa petualangan dan rasa ingin tahu, sama juga seperti kalian, sayangnya dia ceroboh dan bernasib malang. Dia tidak bisa keluar dari dunia itu dan terkurung di sana. Aku rasa ini bisa menjawab sedikit pertanyaanmu Onew.”

Onew mengangguk.

Taemin mengangkat tangan dan Tuan Choi memberikan perhatian penuh kepada Taemin. “Apa Anda bermaksud meminta kami membantu kalian menghentikan perbuatan iblis itu? Perang itu?”

“Em, secara tidak langsung. Tapi tepatnya bukan apa yang kaubayangkan sekarang Taemin. Dan, kumohon, pelan-pelan! Terlalu banyak pertanyaan di kepala kalian dan aku harus menjawabnya secara perlahan-lahan agar aku yakin kalian benar-benar mengerti.

“Dan, kenapa tak ada pemberitaan sedikit pun, karena kami tak memiliki bukti bahwa dia bukanlah raja. Selain itu, dia mempunyai kemampuan yang aneh, seperti sihir. Juga, kami tak mau ada masalah lebih besar dengan menyebarkan berita yang tak jelas.

“Dan untuk pertanyaanmu yang lain, Onew, tentang ‘alasan rumit’ itu adalah masalah kualitas bukan kuatitas. Kualitas itu sendiri yang meminimkan kuantitasnya. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, hanya ada dua orang yang bisa membaca hieroglif itu di sini, dan sayangnya salah satunya sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu, sedangkan yang lain sudah pergi. Untuk bisa memasuki dunia itu kau harus bisa membaca hieroglif dan tentu saja memecahkan teka-tekinya. Selain itu juga kau harus berusia kurang dari dua puluh satu tahun. Lebih dari itu ….” Tuan Choi menghentikan ucapannya dan menggeleng lemah.

“Jadi, apa yang Anda maksud orang kedua itu adalah raja itu sendiri?” tanya Onew yang setengah terkejut, dan Tuan Choi mengangguk.

“Dan, apa maksud Anda memasuki dunia itu Anda ingin kami mengembalikan sang raja. Dan lebih dari itu, kau ingin mengembalikan mereka kedua kembali ke dunia masing-masing,” terka Taemin dengan dada bergemuruh, begitu takut bahwa apa yang ia dengar adalah benar.

Tuan Choi memandang Taemin dan Onew bergantian dengan bersemangat dan menjentikan jarinya sambil berucap, “Benar sekali.” Yang seketika membuat Taemin lemas dan frustasi bersamaan. “Karena itulah penyeleksian ini ada karena ini cukup berbahaya dan membutuhkan sekali orang-orang seperti kalian.”

“Penyeleksian?” ulang Taemin dan Onew bersamaan.

“Kalian tak mengikutinya?” tanya Minho kepada dua orang kakak beradik itu.

“Kau mengikutinya?” tanya Onew yang secara tidak langsung menjawab pertanyaan Minho yang sekaligus memberikan pertanyaan tambahan.

“Tentu saja.”

 “Ya, ujian itu kalian—kalian berdua dan seluruh anak yang membaca surat kabar—lakukan tanpa disadari. Surat kabar adalah tes pengetahuan tentang hieroglif, tes pengetahuan. Khusus untuk beberapa orang, seperti halnya Minho—satu-satunya orang yang lulus—kami berikan tes kemampuan fisik. Keceptaan, keuletan, kecerdasan, daya tahan, reflek dan lainnya. Semua itu hanya untuk mendapatkan yang terbaik. Dan kalian, yang ada di sini adalah orang-orang terbaik di negeri ini yang bisa kami temukan.”

“Tapi,” Minho yang sejak tadi mendengarkan buka suara. “bukankah Anda tadi berkata bahwa yang bisa memasukinya adalah anak-anak? Lalu jika kejadian itu sudah terjadi begitu lama, tepatnya dua puluh tahun, bukankah sekarang sang Raja sendiri sudah tak bisa lagi dikatakan sebagai anak-anak?”

“Aku menekankah kata memasuki, tak sama dengan keluar, kan?” lalu anak-anak saling melempar pandangan lalu mengangguk.

“Aku bertanya-tanya, bagaimana Anda tahu dia bukan raja? Maksudku Iblis Key.”

“Pertanyaan yang bagus, Onew. Ada beberapa keanehan pada Raja, terlebih sikapnya yang berubah drastis, tentu saja itu membuat kami curiga dan secara tidak langsung membuat kami diam-diam menyelidiki. Begitu banyak desas-desus yang muncul dan berbagai fakta aneh lainnya, dan yang paling aneh adalah, dia tak pernah menua! Kesimpulannya, pada akhirnya kami mengetahui dia adalah seorang Iblis. Selain itu Aku dan Tuan Zhoumi—orang yang bisa membaca hieroglif selain Raja—melihatnya di depan gebang Dunia Cermin, tempat yang begitu ingin dimasuki Raja, tentu saja kami berkesimpulan bahwa mereka tertukar.”

“Dunia cermin!” ucap semuanya serentak. “Apa itu nama dunianya?” tanya Taemin.

To Be Continued …. 

34 thoughts on “[FFP 2013 – 2] Hieroglif – Part 1

  1. pangeran charming, si mata raksasa, entah kenapa saya lebih mendeskripsikannya sebagai Minho dari pada Suho..

    si Taem disini agk pecicilan, saya jd ngebayangin Taemin dgn rambut jamurnya^^

    maaf ya, saya masih agk bingung antara main cast n support cast. mungkin karena nama mereka yg mirip ya?

    apa yg di main cast itu yg di dunia nyata dan yang di support cast dgn nama yg mirip itu dari dunia cermin?

    maaf ya banyak nanya. saya suka ff-nya author-ssi. ditunggu part selanjutnya ya🙂

    1. hai, eonnie! #sapadulu
      yang dimaksud mata raksasa itu adalah kacamata yang besar, bukan matanya yang besar.
      yup, yup, yup! tapi udah ngerti kan sekarang, setelah selesai bacanya?
      nggak papa. makasih dah koment ya, eon! #smile

  2. aha!!
    Hebat! Aku suka cerita macam begini..
    Dan si kecil taemin bener2 lucu. Biar nakal tapi, yah benar kata dia, dia cerdik..
    Imej angel Suho runtuh sudah.. Hehe..
    Next..

  3. ada yang aneh atau memang aku yang gak paham. dikatakn yang bisa membaca hieroglif di istana hanya dua orang, yaitu raja dan orang yang sudah meninggal bertahun tahun lalu (yang aku simpulkan itu adalah zhoumi.) lalua ada perkataan siwon yang begini
    “Selain itu Aku dan Tuan Zhoumi—orang yang bisa membaca hieroglif selain Raja—melihatnya di depan gebang Dunia Cermin, tempat yang begitu ingin dimasuki Raja, tentu saja kami berkesimpulan bahwa mereka tertukar.”
    berarti yang bisa baca hieroglif di istana ada tiga orang dong?? apa siwon pernah coba memecahkan teka-tekinya tapi gak berhasil juga?? aduh aku jadi bingung sendiri..
    tapi gak apa deh. aku tunggu next partnya yaa😀

    1. 2 orang dear.. maksudnya itu “Selain itu Aku” dan “Tuan Zhoumi—orang yang bisa membaca hieroglif selain Raja” jadi yang bisa baca hieroglif cuma raja dan tuan zhoumi ajah.. karena dibawah ada.. bahwa siwon memang ga bisa baca hieroglif itu. jadi garis yang menggabungkan Tuang zhoumi dan orang, merupakan suatu penjelasan.. bgitu sekiranya.. *menurut aku loh yahhh.. hihihihi.

      1. hahahaha iya iya sekarang aku ngerti. mungkin karena pemakaian kata “dan” seolah olah pengertiannya jadi tuan choi juga bisa baca hieroglif. padahal yang dimaksud cuman Zhoumi doang.
        penggunaan “dan” disitu karena mereka berdua kebetulan bersama2 saat ngeliat iblis key berdiri depan cermin. okok makasih ya😀

  4. rumit parah nih bahasanya ,untuk ukuran aku maksudnya :* genre favorit nih fantasy. cool banget latarnya,langsung ke bayang muka cast berpakaian ala2 taun 30-an . fighting thor!

  5. Entah siapa yg tw membaca tulisan Hieroglif?
    Dipenjelasan awal dikatakan ada 2 orang yg dapat membacanya, yang 1 meninggal dan yang satunya pergi, lalu dikatakan lagi SiWon dan Zhoumi bsa membaca tulisan Hieroglif.
    TaeMin terlihat pengimajinasiannya, dia te dan bandel..
    Penasaran, apa yang akan terjadi, Onew bertemu Tuan Onew, TaeMin bertemu dengan Kurcaci Taem, dan MinHo bertemu Elf Minho. Keren
    Lanjutkan author

  6. Idenya unik, agak kompleks, tapi seru. Karakternya rame, sih, apalagi ada Taemin yang heboh sendiri, trus ada ungkapan-ungkapan yang rada sarkas. Aku suka itu!
    Secara umum, aku suka ceritanya, bahasanya lumayan bagus, tetapi penulisannya harus lebih diperhatikan lagi. Ada beberapa kalimat yang terlalu panjang, jadi agak memusingkan untuk dibaca. Lebih baik dipenggal menjadi beberapa kalimat yang lebih pendek supaya lebih mudah dipahami.

    Terus, ada kalimat yang terkesan rancu karena penggunaan imbuhan yang kurang pas, atau terlalu banyak keterangan sisipan di dalam kalimat utama. Masalah penggunaan tanda pisah (–) juga perlu diperhatikan lagi. Setahuku, tanda pisah itu digunakan untuk mengapit keterangan tambahan, dengan artian, kalimat sebelum dan setelah tanda pisah itu masih bisa dihubungkan.

    Aku juga menemukan beberapa typo.
    Sama seperti komen sebelumnya, aku bingung dengan maksud ucapan Sekretaris Choi di sini. Di awal, dia bilang bahwa hanya 2 orang yang bisa baca hieroglif, satu sudah meninggal, satunya sudah pergi. Pas Taemin tanya,”apa orang yang kedua adalah raja?”, Siwon mengangguk. Lalu, di akhir, Siwon bilang dia dan Zhoumi bisa baca hieroglif. Jadi?

    Maaf kalau komentarku terlalu panjang dan kurang mengenakkan. Semangat!

    1. yah, terkadang cara berpikir orang berbeda, jadi aku nggak nyadar dengan kalimat kepanjangan itu.

      dan tanda pisah, selain itu juga bisa digunakan dalam sepenggal kalimat yang jika disatukan akan terdengar rancu atau memiliki arti atau pemahaman berbeda. itu digunakan agar pembaca lebih mudah mengerti. mungkin Eonnie tanda pisah tiga atau satu pas bagian ada tanda pisah yang berada dalam astu paragraf, jadinya emang agak musingin, tapi saya sudah berusaha untuk mudah dipahami, meski nggak seratus persen berhasil.

      ah, itu saya kira saya terlalu menganggap remeh kalimat itu, biatnya cuma Tuan Zhoumi #mian.

      ah, nggak papa. seneng ada yang koment panjang, jadinya seru.
      semangat! makasih atas kritiknya!

  7. waiting for Key actionnya inihhh… nyahahhahah.,,, yayang aku itu raja pasti ganteng *salah fokus…
    mungkin cara baca orang berbeda-beda yah.. dengan cara yang berbeda mungkin yang disampaikan di cerita ini juga akan berbeda juga.. ^^

  8. Astaga Suhooooohhh kau hancur sudah di sini hwakakakak!!!
    AAAAWHHH URI MINHO YEEEYYYY astaga Taemin lucu tingkahnya, nakal ih -_- kayak pas baru-baru debut -_- #dor
    Aduh si Keeeyyyy~~~~~!!! Dia pasti ganteng tapi kayaknya gantengan si Iblis ya daripada Key-nya? Kan Iblis ga bisa tua ._.a (pemikiran macam apa ini)
    Dunia Cermin? langsung kebayang Snow White and The Huntsman (-_-?)
    Oke, ini beneran komen. Ceritanya kompleks, dan bener-bener bikin aku muter otak. Adduuuhhh aku baru habis ujian dan otakku dipake lagi (??) *stop it* Aku suka tulisannya, tapi kalimatnya agak panjang ya? Butuh konsentrasi tingkat tinggi nih, tapi aku suka dengan kata-katanya. keren!
    Awalnya aku bingung sama settingnya ._. Waktu yang di kelas itu aku mikirnya sekolah biasa di abad sekarang, eh tapi ada tulisan “ke istana”. Jadi bingung ini abad ke berapa -_-a Tapi setelah baca terus baru ngerti haha. Tapi ini keren loh! Sedikit membawa teka-teki sih, dan otakku masih belum begitu nangkep nih (-_-\) Mungkin nanti baca lagi hehe
    Lanjutannya ditungguuu~~!

  9. Oke, saya suka ff nya. Banget malah apalgi sama genre nya+main castnya … omooo bebeb saya :* *narik nyuuu* apapun FF nya asal main cast ny bebeb sya psti sya suka;)
    Mau ninggalin jejak dulu ah d part I, hehehe
    Hueeee bru baca nih fic, pdhal dah berlangganan di email, tp ttp aja bacanya telat, baru ada waktu buka email sh soalny -_- #curhat #tolong abaikan
    Dsini,OMG Taeby….. -_- Nakal tp ngegemesin😉 I love Lee brother :*
    Minho cocok bgt jd sseorg dr kluarga bangsawan, suer ngbayangin nya aja keren gila,,,😀
    Truss…Hmm poor bwt Suho,yang sabar yh nak, org sabar dsayang saya :* #dilempar ke Empang
    Tp jujur, dsini sya hrus muter2 otak supaya bisa mncerna deskripsi nya. Gtau otak sya yang.agak .err…-_- hehe atau mngkin trlalu pnjang,hehe jd setuju buat comment diatas, mngkin kalimatnya hrs lebih dpendekin atau dpenggal sbgian supaya bsa d cerna lbh mudah ^^
    Dan utk yg lain nya, Good Job, saya suka kata2nya😉 ngomong2 jd pngen baca novel yg jd inspirasi author:D #abaikan
    Maaf jika commentny kpanjangan+gaje+telat+tidak enak dibaca #plak😄
    Sip success buat author, Lanjutkan !😀 keep writing😉
    *melancong (?) ke Part II*

    1. cwesonghamnidaaa!
      hahaha, emang tulisan saya itu agak riber, ya? #sadardiri
      pengen baca novel-nya? heuh, sekarang sulit dicari, apalagi yang kedua. #jadicurhatkan?

      hahaha, nggak papa.
      makasih!

  10. Jujur, awalnya aku mundur maju baca cerita ini. Castsnya bertebaran, jadi rada takut
    kalo aku bakal susah ngerti jalan ceritanya. Pas nonton The Heirs aja, sampe episode 6 baru aku ngeh
    dengan hubungan pemain2nya disitu…. *ooops, mulai melenceng
    Tapi ternyata, di part 1, aku bisa faham banget, nih (karena castnya emang baru beberapa yang keluar)
    penggambaran settingnya, itu, lho, detail…. Bagus banget. Aku suka banget….
    Kalo komen diatas bilangnya agak membingungkan, aku justru mau bilang, pendeskripsiannya jelas
    dan buat aku berasa ‘nonton’ Ffnya…

    Aku cuma nemuin segelintir typo tadi, seperti ‘ubah’ yang harusnya ‘uban dan ‘terawatt’. Selebihnya,
    yahud… deh…. Aku juga suka banget idemu tentang ‘bisnis sampingan’ Lee bersaudara… hahahhaaa…
    Aku sempet ketawa, lho… Si adik nakal cari orderan PR dari temen2nya yang akan dikerjakan sang kakak jenius.
    Pakek dinaikkin lagi, tarifnya…. hahahahhaaa… Aku suka banget ide ini…. kecil tapi menggelitik dan pinter.

    Kalo dari segi cerita udah mulai bisa meraba nih… Mau dibawa kemana konfliknya. Menyelamatkan
    sang Raja dan kelangsungan kerajaan dan negeri antah-barantah ini. Gak sabar nungguin aksi ketiga
    penyelamat muda kita… Oya, mereka bakal berpetualang ke negeri Cermin, ya…
    Aku merasa bakal seru seperti film Jumanji, nih….

    Next Part, yah….

    1. ff di tonton? o_0
      segelintir? banyak itu, mah, cingu.
      dan masalah pekerjaan sampingan, berhubung mereka super miskin jadi harus pinter-pinter memanfaatkan yang ada, kegeniusan Jinki.
      Jumanji? nggak bisa disamain. saya suka banget tuh film. dan jauhlah.

      ok, thx!

  11. suka ff nya tapi sedikit pusing, apalagi narasinya siwon harus baca berulang ulang baru “ooooh gitu” ._.a hehe
    tapi ini penggambaran settingnya oke bgtttt, detail

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s