[FFP 2013 – 2] Book Fairies

book fairies

Title                 : Book Fairies

Main Cast        : SHINee Minho & Choi Hyewook (OC)

Length             : Vignette [1.150 words]

Genre              : Romance

Rating              : PG

Summary         : When a book fallin’ love with its fairy

“Minho-ya,

Minho tergeragap ketika seseorang menegurnya. Laki-laki itu menghela napas lega ketika mengetahui siapa yang mengajaknya bicara. Bukan atasannya yang mengadakan inspeksi mendadak, jadi tidak akan ada kuliah singkat tentang bagaimana harus fokus dengan pekerjaan meskipun ia hanya seorang kasir yang duduk diam di belakang counter.

“Kau sedang tidak enak badan?”

Laki-laki jangkung itu menggeleng cepat kemudian menyesap kopinya. Ia menarik napas panjang, mungkin akan lebih baik menjadi rolade di kamarnya dan membolos shift dengan kemungkinan besar akan dimarahi atasannya selama makan malam daripada berusaha menenangkan diri sejak datang tadi. Ya, atasan Minho adalah kakeknya sendiri, sang pemilik toko buku tua tempatnya bekerja.

Shift-nya juga hanya di akhir pekan, pukul empat hingga delapan dengan partner yang sama, Choi Hyewook. Gadis yang lebih tua darinya tiga tahun, bekerja karena butuh uang untuk Summer School ke Thailand tahun depan. Sudah nyaris empat bulan mereka bekerja sebagai tim.

“Nilaimu jelek lagi, ya? Dimarahi sajangnim lagi?”

Minho mendengus. Hyewook sepertinya sudah terlalu hafal dengan kebiasaan melamun dan mendengus yang berhubungan dengan masalah sekolahnya. Ia menyenggol lutut gadis, yang sejak tadi sibuk dengan tugas kuliahnya itu, dengan gulungan plastik untuk sampul buku.

Nuna menata buku saja daripada duduk diam di sini.”

As you wish, Doryeonnim1.

Gadis itu beringsut dari sisi Minho kemudian mengangkut sebuah kardus berisi beberapa buku baru, benar-benar buku yang baru; bukan buku secondhand berbahasa asing atau berbahasa Korea yang baru datang seperti yang mengisi hampir separuh rak di toko mungil ini. Minho tidak habis pikir, bagaimana gadis itu bisa betah bekerja di toko apek dengan ratusan buku membosankan yang harus ditata dengan susunan sempurna jika tidak ingin dimarahi oleh kakeknya yang sering muncul mendadak untuk menginspeksi. Hyewook bisa mencari pekerjaan yang lebih menyenangkan, misalnya menjadi barista, penjaga toko pakaian, toko kaset atau toko buku selain toko buku lapuk Book Fairies.

Nuna,

“Ya?”

“Kau tidak berniat mencari pekerjaan sambilan lain?”

“Tidak.” Hyewook menghentikan gerakannya, menatap Minho sejenak kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi. “Kenapa? Kau bosan denganku?”

“Tidak apa-apa.” Minho berdehem, salah tingkah. “Kau bekerja di sini karena kriteria pegawai yang mudah, kan? Harabeoji pasti mencari ya-”

“Kau terlalu meremehkan, Choi Minho.” Hyewook bangkit sambil menepuk-nepuk seragamnya yang terkena debu. “Sajangnim mematok kriteria yang cukup tinggi. Bukan hanya cekatan, beliau ingin ada orang yang bisa mengurus buku-bukunya sebelum ada yang membeli.”

Nuna, sepertinya kau mulai terpengaruh doktrin harabeoji tentang bagaimana sakralnya buku-buku lapuk ini.”

Watch your mouth, kiddo.” Hyewook menggelengkan kepalanya kemudian menatap Minho dengan pandangan prihatin. “Kutebak kau bahkan tidak mengerti kenapa Sajangnim menamai tempat ini Book Fairies.”

“Buku-buku lapuk ini tetap akan berguna karena mereka akan memberikan ilmu berbeda yang baru bagi sang pembaca seperti peri-peri yang bertugas untuk membantu kehidupan manusia.”

I’m surprised that you know it.” Hyewook meletakkan setumpuk buku di hadapan Minho. “Baca, dan berhentilah menggerutu tentang betapa lapuknya mereka.”

“Sejarah Hangeul, Pemerintahan Dinasti Joseon, Seribu Kisah Klasik Korea, Ensiklopedia Tumbuhan, Belajar Astronomi dan yang terakhir adalah buku yang kaugunakan untuk paper-mu beberapa hari lalu The Red Badge of Courage.

Gadis itu mengerjap, tidak menyangka bahwa Minho bisa menyebutkan semua judul buku yang ia sodorkan dengan tepat. Padahal bocah itu tidak pernah sedikit pun melirik buku-buku yang ada di sekitarnya. Minho hanya datang dan berkutat dengan PSP atau PR-PR nya di balik meja kasir selain mengganggunya saat mengerjakan tugas.

“Kau yang terlalu meremehkanku, Nuna. Aku mengenal mereka jauh lebih lama daripada kau, sampai aku sudah hafal di mana saja letak mereka. Mungkin aku bisa menghindar dari mereka jika kau tidak bekerja di toko buku ini.” Minho menghela napas berat. “Aku bukan Peri Buku yang bisa menghalau cendawan-cendawan yang tumbuh . . .”

“Maksudmu?” Hyewook mengerutkan dahi sementara Minho hanya menelengkan kepalanya, menatap gadis itu dengan kedua mata bulatnya. “Kau sudah lelah bekerja di sini kemudian berniat mengajakku resign?”

“Bukan begitu. Nuna harus menyelamatkanku sebelum benar-benar rusak.”

“Rusak?” Hyewook menatap Minho bingung, sedetik kemudian matanya membulat. “Astaga, Choi Minho! Kau pakai narkoba?”

Laki-laki itu menggerung frustrasi. Ia meremas lengan Hyewook sebelum mendaratkan bibirnya ke pipi gadis di hadapannya. Minho tidak peduli apakah Hyewook akan menampar, menghajar atau mengadukan kepada kakeknya. Ia sudah tidak peduli dengan gombalan yang sudah ia persiapkan selama nyaris seminggu ini untuk menyatakan perasaannya. If he can’t get her by cheesy lines, he’ll show it through the action.

“Aku tidak bisa menggombal seperti teman-temanku yang lain. Kurasa analogi Peri Buku, buku, dan cendawan juga tidak akan berhasil untuk bilang kalau aku sayang Nuna. Ralat, aku mencintai Nuna.

“Seperti Peri Buku yang mencintai buku-bukunya?”

Minho mengangguk kemudian melepaskan tangannya dari lengan Hyewook, semburat merah menjalar ke pipinya. Bagaimana gadis itu bisa memikirkan kalimat yang nyaris ia lontarkan beberapa menit lalu jika gadis itu tidak memotongnya. Mungkin aku lancang karena sudah mencintai Nuna seperti Peri Buku yang mencintai buku-bukunya.

“Aku mungkin sudah ikut lapuk jika tidak bertemu dengan Nuna lagi. Tapi sebenarnya aku bukan Peri Buku seperti yang kau kira, aku adalah buku yang menunggu peri bukunya.”

Minho merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa menit ketika Hyewook berkata,

So, as a good fairy I will start to read you from now. Is that right, jagiya?

-.-.-.-.-

Appa, aku mau buku cerita peri.” Hyewook kecil menarik-narik mantel ayahnya dengan riang. “Aku ingin yang banyak gambarnya.”

“Iya, sayang. Harabeoji sedang mencarikannya untukmu.” Sunghwan menepuk kepala putrinya pelan. “Jangan berisik, ya. Nanti kau mengganggu peri buku yang tertidur.”

Gadis kecil itu membulatkan matanya, “Harabeoji punya peri buku?”

“Ya, Peri Buku yang membantu harabeoji untuk menjaga semua buku di sini. Kau tidak boleh mengganggu tidurnya setelah ia bekerja keras semalaman menjaga buku dari cendawan nakal. Mengerti, sayang?”

Hyewook mengangguk sambil membuat gestur mengunci mulut kemudian memasukkan kuncinya ke saku rok. Ia kemudian mengendap-endap menyusuri tumpukan buku tua yang membuatnya bersin beberapa kali. Gadis kecil itu baru akan beranjak; setelah sesak napas menghirup debu, namun matanya tertambat pada sesuatu. Seseorang lebih tepatnya.

Minho kecil meringkuk di antara rak buku ensiklopedia dan fiksi. Ia memangku sebuah buku cerita dan membolak-baliknya sejak tadi. Mungkin ia masih akan melipat tubuhnya selama setengah jam ke depan jika tidak ada suara asing yang mengganggunya.

Appa, ada Peri Buku di ujung sana.”

Gadis kecil itu menunjuk ke arah Minho. Ayahnya tertawa kecil dan segera mengalihkan perhatiannya, menyuruhnya ke counter karena buku yang ia inginkan sudah ada. Namun gadis itu malah berjalan ke arah yang berlawanan, berjongkok di hadapan Minho sambil mengulurkan tangannya.

“Halo, Peri Buku. Nanti kalau aku sudah dewasa, aku akan bekerja di toko ini dan menemanimu.”

Minho menelengkan kepalanya bingung. Bagaimana ada peri yang malah memanggilnya peri. Pakaian gadis di hadapannya mirip dengan Peri Bunga Matahari yang barusan dilihatnya di halaman depan.

“Hyewook-a, ayo kita pulang!”

Appa-ku sudah memanggil.” Gadis kecil itu menepuk pelan kepala Minho. “Sampai jumpa.”

“Terima kasih, datang kembali lain kali!”

Tuan Hyuk menghampiri cucunya yang terlihat masih bingung. Ia berjongkok kemudian menepuk pelan kepala Minho dan membuat mata bulat sempurna bocah itu terarah padanya.  Ia terkekeh ketika mendengar ucapan Minho.

Harabeoji, jika sudah besar nanti aku mau menjaga tempat ini dengan Peri yang tadi ya.”

17.58

03.12.13

Glossary:

Doryeonnim1: young master

Kepada author mohon untuk tidak membalas komen hingga FFP13 dinyatakan selesai ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

37 thoughts on “[FFP 2013 – 2] Book Fairies

  1. untuk poster jadi agk aneh karena yg bag. kiri cuma kaki, dipotong ya posternya?

    buku yg menunggu peri bukunya^^
    cieeeee, si Minho bisa aja ngerayunya😛

    saya suka banget sama bagian akhirnya author-ssi^^

    1. iya tuh si minho mintak dipites iih
      oh bukan, cendawan itu jamur yang coklat-coklat nempel di buku kalo lemarinya nggak dikasih kamper
      kalo cendekiawan teh orang pinter
      makasih udah mampir ^^

  2. Kece nih, kirain fantasi, ternyata realistis. Peri buku di sini ternyata berawal dari khayalan masa kecil mereka berdua. Peri teriak peri, dong.
    Tapi so sweet banget ih. 😀

  3. keren.. >///<
    dak nyangka bakalan muncul ide begitu dr gambar tumpukan buku..
    keren, keren,
    suka, suka,
    pengen jd peri juga, asalkan bersma Minho..😀 /digebug/

  4. AHAAAA MINHOOOOO~~~~~~
    Kangen buanget baca FF dia. Sweet~~~~ Aih Minho-ya aku juga mau jadi peri bukumu huwahahaha
    Bagus ih, ga nyangka ternyata udah pernah ketemu pas kecil. HUWEEEEE Minho T^T
    Aduh, gara-gara FF ini aku jadi mikirin minho terus. xD
    Nice fic ^^

  5. maniiis….
    mian, tapi aku agak risih bacanya karena pair sama noona, but it’s ok itu nggak ngerusak ceritanya kok.
    seneng banget sama bagian yg mereka berdua pas kecil. Keep writing ^^b

    1. AAAAAAKKKKK DEKAAAAAAA YUNOMISOWEL *hugs*
      huhuhu bunch of thanks and kisses lah udah ngasih tau ada event ini
      akhirnya aku bisa ikut di detik-detik terakhir abis ngerjain segunung paper kampret *malah curcol*
      hehehehehehehe
      mino mah cocoknya sama yang unyu-unyu begini #ditampar
      makasih udah mampir ^^;;

    1. wahahaha aku banyak lho bikin yang lucu-lucu #plakk
      coba backtrack postnya sf3si pasti ketemu kok drabble-ku yang lain *malah promote*
      makaaaaaaaaaaaaasiiiiiiiiiiii
      makasih juga udah mampir b^^d

  6. Huwaaa~ cerita ini unyu banget menurutku, apalagi bagian pas Minho sama Hyesun masih kecil x3
    Oh ya, ngomong-ngomong, cendawan itu cangkir bukan? ._.)a
    Nice FF, Author! Terus berkarya ya! ^^)/

  7. aku suka ceritanya
    ide nya sederhana tapi pengemasannya unik dan ga ketebak
    ga perlu cerita yang muluk2 utk dapat dibilang “ff mu kereeen”
    ya kan?
    kamu salah satunya nih😀

    minho disini terlihat sweet
    ah, aku juga suka tata bahasa ff mu
    keren deh pokoknya author-ssi

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s