[FFP 2013 – 3] Him Inside – Part 1

Title                 : Him Inside (1 of 5)

Main Cast        : Onew Lee (Lee Onew)

Support Cast   : Choi Minho, Kim Jonghyun, Lee Taemin, Kim Kibum, Lee Jinri (OC)

Length             : sequel

Genre              : Mystery, a bit of Horror, Psychology, Romance, Family

Rating             : PG-15 (sebenarnya bisa SU, sih. Tapi mungkin ceritanya bakal sulit dimengerti. Hehe…)

Summary         : “Aaaaakkkh!!! I know their smile is suck, but why can’t I refuse them??!!”

A.N                             : Heee… Katanya nama author bakal disembunyiin, ya? Yah, ga apalah. Semoga FF saya kali ini bisa ikut menyemarakkan ulang tahun Onew and Minho. Happy birthday, boys~~~ Semoga kalian gak bosan sama cerita genre mystery yang seperti aku bawa tahun lalu. Check it out~~

HIM INSIDE

 

Layaknya awan yang bergelung relung

Menyisakan ruang dalam geraknya

Mengingatkan tubuh pada kenang

Walau pikir tak beriring logika

 

Langit terus menunjukkan kelamnya warna kelabu. Butir-butir kristal air tampak segera jatuh, menambah dingin hembusan angin yang membalut kulit. Ranting-ranting pepohonan tak lagi ditutupi rimbun daun. Lirih angin meniup serpih-serpih daun kering yang terlepas dari rantingnya, berkorban diri demi hidup makhluk yang lebih penting. Mungkin hanya segelintir yang peduli pentingnya gugur daun. Tak banyak yang sadar jika daun-daun itu rela mengering hanya demi si batang pohon dapat bertahan diri. Mengorbankan si kecil yang tak berarti dianggap tak masalah jika menyangkut hidup makhluk yang dianggap lebih penting. Sama seperti kebanyakan manusia yang memilih mengorbankan orang-orang kecil demi kepentingan orang-orang yang menganggap derajat dirinya lebih tinggi. Padahal bukankah semuanya akan sama jika ruh yang ditiupkan ke dalam tubuhnya di awal hidup kembali ditiupkan keluar di akhir hayat?

Sekelompok besar manusia tampak tak begitu terusik dengan kenyataan itu. Mereka terus melangkah menembus dingin kota London dengan langkah lebar yang angkuh. Tak sedikit yang meniup kedua telapak tangannya untuk kembali memasukkannya ke dalam kantung mantel yang mereka kenakan. Padatnya kota metropolitan itu mulai berkurang saat senja menghampiri, di mana butir-butir kristal air itu berjatuhan dengan indahnya. Tampaknya tak ada yang mau terkubur dalam timbunan butiran tersebut, membuat semua warga kota London semakin mempercepat segala aktivitas mereka, apapun itu…

Kabut putih tercipta lewat hembusan nafas resah. Sepasang mata coklat gelap menatap sendu langit London yang berwarna kelabu, langit yang dalam waktu singkat akan kembali menjatuhkan kristal-kristal air ke permukaan Bumi. Langit yang entah kenapa begitu ia cinta setiap memandangnya itu takkan lama lagi bisa dipandangnya dengan leluasa. Waktu terus mengalir, mengikis saat-saat yang bisa ia lewati hanya untuk memandang hamparan luas kelabu itu. Ia tidak tahu mengapa, ia selalu merasa ada begitu banyak kenangan yang akan bangkit hanya dengan memandang langit itu, kenangan yang tak pernah ia lewati tapi serasa harus dapat diingat kembali. Ia menghela nafas dan bangkit dari duduknya, melangkah perlahan dengan hati sedingin suhu saat itu.

Sepasang kaki berbalut sneakers biru memasuki pekarangan sebuah rumah bercat putih dengan bernuansa sederhana. Si empunya kaki menghela nafas sesaat, kembali menciptakan asap putih lewat hembus nafasnya. Kedua alisnya bertaut sementara hatinya mulai menduga-duga hal buruk yang mungkin kan didengarnya begitu ia diselimuti hangat rumah itu. Rambutnya yang ia cat kecoklatan dengan potongan pendek berponi belah pinggir itu ia sibak sekilas, kembali memasukkan helaian-helaiannya ke balik topi rajutan hitam yang ia kenakan. Langkahnya semakin mendekati rumah tersebut, memutar knop pintu dan memasukinya.

“Onew-ya…”

Laki-laki itu langsung mendongakkan kepalanya dengan terkejut. Seorang wanita paruh baya tengah berdiri tak jauh darinya, memandang ke arahnya dengan sinar mata sendu. Onew membalas ucapan wanita itu dengan senyum pahit.

“Aku pulang, eomma…”

Waktu berlalu, memahat kenangan bersama pengalaman yang dilalui. Arusnya yang tak kenal henti membawa setiap anak manusia terjebak tanpa bisa keluar dari dalamnya. Bermain dengan tinta takdir dan nasib, waktu pula yang mengantarkan lelaki berambut coklat gelap tersebut menuju bandara yang hampir tak pernah ia datangi seumur hidupnya. Matanya melirik arloji yang melekat di pergelangan tangan sementara bibirnya mendesah pelan. Kenangan itu kembali berputar di kepalanya, membuat semua emosi yang ia miliki tercampur baur menjadi satu. Ia ingin sekali marah, sangat. Tapi ia sama sekali tidak tau ke mana ia harus menumpahkan segalanya. Akhirnya ia terduduk di salah satu kursi tunggu bandara dengan frustasi.

“Maaf baru mengatakannya sekarang, Onew-ya… tapi kau memang harus mengetahuinya. Cepat atau lambat… tidak, memang inilah saat yang tepat bagimu untuk mengetahui kebenaran akan dirimu sendiri…”

Onew menghapus cepat titik air mata yang sempat tercipta di sudut matanya. Sudah dua hari berlalu, namun ia tak bisa melupakan segalanya secepat itu. Dan lagi, sekarang ia akan melakukan perjalanan jarak jauh menuju Korea. Ya, negara yang harus tetap ia akui sebagai negara kelahirannya, negara yang tetap ia pakai bahasanya, namun tak pernah sekalipun menanamkan memori indah dalam benaknya. Lagi pula hatinya sudah tertinggal di London walau kehidupan yang ia jalani cukup berat bersama perbedaan warna kulit dan ras yang menyertainya. Sayangnya semua perbedaan yang sempat menyiksa batinnya itu masih belum seberapa dengan tinggal di negara yang tak begitu ia kenal. Dan yang lebih ia sayangkan, ia tak punya pilihan lain.

Tangannya merogoh saku kiri celana. Secarik kertas usang berada di sana. Hanya ada beberapa baris tulisan, berisikan huruf yang jarang ia temui di kota London. Sebuah decakan meluncur dari lidahnya sementara tautan alisnya semakin dalam. Perlahan bibirnya membentuk seringaian tipis saat ia melafalkan nama yang tertulis di sana.

“’Lee’? jangan bercanda. Tanpa mengenalnya pun aku sudah menyandang nama Lee di belakang namaku. Memangnya aku sampah yang bisa ia pungut kembali dan didaur ulang? Untuk apa semua omong kosong ini dilanjutkan? Jikapun memang ia memerlukanku, bukankah seharusnya ia menemuiku sejak lama?” Onew menggumam pelan dengan suara geram. Tangannya semakin meremas kertas tersebut, “Jangan pernah berharap aku akan berlaku baik layaknya penjilat rendahan.”

 Onew mengerang pelan sambil meregangkan tubuhnya dengan geram. Semua beban pikiran selama beberapa hari ini membuat sendi-sendi tubuhnya serasa copot walau tidak digunakan untuk kerja berat sedikitpun. Pikirannya terlalu mempengaruhi kondisi tubuhnya. Kantung mata lebar dengan warna gelap menutupi warna putih kulitnya. Ia kembali bertopang dahi dengan pikir kalut.

DRAP DRAP DRAP

BRAKKK!!!

Onew terperanjat kaget begitu seorang wanita muda terjatuh di sampingnya, lebih tepatnya karena tersandung roda kopernya. Lelaki berkulit putih susu itu langsung bangkit dan menghampiri wanita itu dengan cemas. Tampaknya wanita itu amat kesakitan, terdengar dari rintihan yang keluar dari bibirnya.

A..Are you okay, lady?” tanya Onew tergagap. Ia langsung berusaha menolong si wanita untuk bangkit. Si wanita meringis, tapi bibirnya masih sempat menyebut, “I’m okay… thanks…”

Onew melirik wajah si wanita sekilas. Wajah oriental itu tampak putih pucat dihiasi rambut panjang yang menjuntai halus terselip di balik telinganya. Pakaian wanita itu sangat sederhana, bahkan cendrung tipis di udara sedingin itu. Entah kenapa sebuah perasaan ganjil menyergap diri Onew saat melihat wanita itu. Perlahan tangan wanita itu melepas lembut rengkuhan Onew yang masih berniat menolongnya, menghantarkan suhu yang lebih rendah pada kulit Onew yang masih mencemaskannya. Ia tersenyum lembut, “Sorry for making trouble… I really didn’t mean it...”

Rasanya seakan terserang deja vu…

“It’s okay, lady. The most important one is you. Are you really okay? Don’t you have any scratch or bruise or…”

“I’m really okay. Don’t think over it too much,” potong si wanita dengan kekehannya yang lembut. Kedua mata Onew masih menatap tak percaya pada si wanita. Wanita muda itu mengembangkan senyumnya yang sangat indah, “Kau lelaki yang baik. Orang tuamu pasti bahagia memiliki anak sepertimu…”

“Eh?” Onew terkejut dengan penggunaan bahasa Korea yang lancar dari si wanita. Yang lebih membuatnya terkejut adalah perasaannya yang mengatakan bahwa hsl itu sudah pernah terjadi sebelumnya, entah kapan. Ia ingin bertanya pada si wanita, namun seseorang menyenggol punggungnya, membuat ia terjerembab ke arah koper. Onew merintih pelan sambil berusaha bangkit sementara telinganya menangkap sebait kata maaf dari seseorang, entah itu orang yang menyenggolnya. Onew mendongak, berusaha melihat kembali kondisi wanita itu. Mungkin saja tanpa sadar ia ikut mendorong si wanita hingga terjatuh tak jauh darinya.

L..Lady?”

Sayangnya tak satu pun wajah oriental yang tertangkap matanya. Ke mana wanita tadi? Yang tertangkap matanya hanyalah lalu lalang orang-orang yang jelas berkebangsaan Eropa. Onew sama sekali tak punya kesempatan untuk menanggapi ucapan si wanita. Dan perasaa ganjil itu semakin mencuat dengan melihat keanehan yang baru terjadi padanya. Onew terenyum getir, “ah, mungkin jika aku memang punya orang tua maka mereka akan bangga..,” Onew menyadari kalimat yang salah dirangkainya dan tersenyum getir, “bukan, tapi kalau orang tuaku mengenalku…”

***

Sebuah rumah megah bercat putih di daerah Gangnam menampakkan suasana yang tengah heboh. Terpaan angin dingin sesekali membuat beberapa orang berseragam pelayan mengumpat pelan, tak mau umpatan mereka terdengar Tuan besar yang anehnya tidak pergi bekerja seperti biasa. Beberapa orang bahkan berusaha bergerak cepat tanpa tahu alasan pasti kehebohan rumah itu. Yang mereka tahu hanyalah akan diadakannya sebuah pesta kecil-kecilan untuk menyambut seseorang, bahkan mungkin merayakan ulang tahun orang tersebut. Mereka hanya melakukan apa yang diminta tuan besar mereka, untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Seorang pelayan muda berlari kecil ke arah kepala pelayan yang tengah mengkoordinasi kinerja pelayan lain. Setelah menunduk hormat, ia langsung bertanya, “Kapan Tuan muda akan sampai di Seoul, Pak?”

“Oh, beliau akan sampai sekitar satu setengah jam lagi. Kau pergilah bersama supir Min untuk menjemputnya. Jangan lupa bawa kertas bertuliskan namanya agar ia tahu siapa yang menjemputnya,” pesan kepala pelayan berwibawa. Ia menyerahkan secarik kertas berisikan keterangan orang yang akan dijemput bawahannya sambil membisikkan satu pesan, “Dan pastikan kau benar-benar membawanya ke rumah ini. Aku tidak tahu seperti apa orangnya, yang jelas dia tidak dibesarkan seperti para Nona muda keluarga ini. Kita akan mendapat masalah besar kalau ia memberontak dan tidak mau ikut.”

“Baik, Pak. Akan saya usahakan.”

Namun sebenarnya si kepala pelayan memang sudah tahu bahwa dia tidak akan salah memilih orang.

Sementara itu di sudut ruangan kerjanya Tuan Lee tengah merenung sambil menghembus nafas panjang. Jendela besar ruangan tersebut menghadap taman belakang, menampakkan air mancur kecil yang mengalir indah di ruang terbuka itu. Ia melirik pigura foto yang terletak di salah satu bagian meja kerjanya yang besar. Potret seorang wanita tengah tersenyum bijaksana dengan pakaian tradisional korea yang membalut manis dirinya. Tuan Lee tersenyum sendu ke arah foto itu. Dia kembali menatap ke luar jendela , “Yeobo, maafkan aku karena membawanya ke mari setelah kepergianmu. Tapi aku… hanya inilah yang bisa kuperbuat untuknya setelah menumpuk dosa bertahun-tahun. Untuk sekali ini lagi, aku harap kau memaafkanku….”

Tuan Lee menghela nafas dan mendekati meja kerjanya. Ia meraih pigura foto itu lalu mengelusnya penuh kasih. “Walau kau bukan yang pertama bagiku, aku pernah mencintaimu…,” dan kemudian meletakkan kembali pigura tersebut dalam posisi menutup, seakan hendak menyembunyikan tindak lakunya dari si pemilik senyum dalam potret tersebut. Tuan Lee kembali melangkah ke arah jendela dan menghembuskan nafas yang amat panjang. Ia menutup mata sesaat lalu membukanya dengan tatap tajam.

So, welcome to our house, son. You’re no longer Onew Lee who you used to be.”

***

Tak terasa waktu berlalu dengan amat cepat. Lee Taemin tengah berpikir sambil sesekali melirik lelaki muda yang tengah duduk di kursi penumpang. Ia sempat melirik Pak Min yang fokus dengan kemudinya, namun pria paruh baya itu tak sanggup menjawab pertanyaan yang disiratkan kedua manik mata lelaki yang baru menginjak usia dua puluh tahunnya beberapa bulan lalu itu. Ia kembali memandang keluar sambil sesekali melirik lelaki yang baru memasuki usia ke-dua puluh empat-nya beberapa jam yang lalu itu. Ia berpikir keras mencari bahan pembicaraan.

“Bagaimana dengan penerbangan Anda tadi, Tuan muda?” tanyanya sesopan mungkin. Si lelaki yang ditanyai beranjak sedikit dari posisi duduknya, “Melelahkan. Tak kusangka perjalanannya akan selama itu,” jawabnya enggan. Mata sipitnya menatap lalu lalang kendaraan di jalan besar Kota Seoul. Baru kali ini ia menginjakkan kaki di kota itu, ia tak terlalu kaget dengan kepadatannya, toh London malah jauh lebih padat. Jet lag yang menderanya bahkan menghancurkan semua keinginan awal untuk bersikap buruk pada siapapun yang menjemputnya. Namun selain jet lag, ia juga tidak tega untuk bersikap buruk pada anak muda semanis Lee Taemin.

Damn, mereka memilih orang yang tepat untuk menjemputku…,” umpatnya dalam hati. Matanya melirik Taemin dan mendapati pelayan muda itu tengah menatapnya dengan cemas. Semakin tidak tega, Onew menghela nafas panjang dan bergumam, “It’s okay, kondisiku tidak seburuk yang kau pikirkan.”

“Oh, mmm… Saya harap Tuan muda bisa beristirahat dengan baik sebelum pesta penyambutan dimulai nanti. Tuan besar sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Beliau…”

“Bisa kita bicarakan hal lain saja?” potong Onew langsung, membuat Taemin terdiam dan ciut dengan ketajaman nadanya. Pelayan muda itu terlihat ketakutan. Tentu ia tidak ingin mendapat kesan yang buruk dari pertemuan pertama dengan Tuan muda Lee yang disebut-sebut akan menjadi pewaris utama keluarga tempat ia mengabdi. Onew menatap malas ke arah Taemin, “Jadi, siapa namamu tadi?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Lee…Taemin, Tuan,” jawab Taemin tergagap.

“Berapa umurmu?”

“Saya… dua puluh tahun, tuan…”

Onew menolehkan kepalanya ke arah Taemin. Pelayan muda itu memiliki rambut hitam yang potongannya tidak terlalu pendek. Matanya tidak terlalu sipit dan bibirnya tebal. Pandangannya begitu polos, membuat Onew -entah kenapa- merasa sayang padanya. Ia berkata sambil tersenyum manis, “Kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan Tuan muda. Panggil saja aku ‘hyung’. Sudah lama tidak ada yang memanggilku begitu,” ucapnya dengan nada terlembut yang ia utarakan satu hari itu. Taemin membelalakkan matanya, “Tapi itu tidak mungkin, Tuan…”

“’Hyung’!” potong Onew langsung, kembali membuat Taemin terdiam. Onew menaikkan salah satu alisnya santai, “Panggilan ‘Tuan’ membuatku terdengar jauh lebih tua. Itu sangat tidak nyaman…,” tuturnya. Perlahan sinar kedua mata coklatnya meredup, “Lagi pula… sepertinya aku tidak akan menerima begitu saja semua status yang akan diberikan Pak tua itu kepadaku…,” gumamnya geram.

“Baiklah kalau itu yang Tuan muda inginkan…”

“’Hyung’!!”

“Eh..eee.. iya…hyung…”

Senyum yang hendak tampil di bibir Onew tertahan rasa amarah yang menyebar dalam dirinya. Semakin dekat tujuan mobil itu, semakin besar pula amarah yang hendak meledak dari dalam dirinya. Tapi kedua manik mata Taemin membuat Onew enggan marah. Pelayan dan si Pak supir tak ada sangkut paut atas semua kesalahan yang dilakukan oleh si ‘Tuan Lee’: menelantarkan dirinya…

***

Dingin.

Hanya itu yang dirasakan Onew walau puluhan sambutan hangat pelayan ia dapatkan begitu melangkah ke dalam bangunan mewah bercat putih yang kini harus ia sebut ‘rumah’. Ia tahu tidak ada yang menyambutnya dengan benar-benar tulus, terlihat dari gurat halus para pelayan itu. Bisa ditebak apa isi pikiran mereka. Lelah, linglung, tidak peduli, penasaran, ah.. bahkan Onew dapat melihat ekspresi penjilat dari beberapa orangnya. Sebuah seringai tipis muncul di bibir tebalnya. “Jangan harap kau bisa mengelabui lulusan fakultas psikologi dengan senyum menjijikkan itu,” umpatnya dalam hati. Ia berjalan melewati orang-orang tersebut tanpa begitu mempedulikan mereka, melihat atau mengingat wajah mereka saja pun tak ada niat.

Seorang lelaki tua dengan rambut dan janggut yang mulai memutih mendekatinya, menunduk hormat begitu sampai di hadapannya. Onew sempat menunduk sekilas, sadar bahwa lelaki tua di hadapannya pasti bukan ayahnya. Lelaki tua itu berkata, “Selamat datang, Tuan muda. Saya Park Haejoon, butler sekaligus kepala pelayan rumah ini. Tuan besar telah menunggu Anda sejak tadi. Mari saya antarkan,” tuturnya pelan dan jelas. Aura hormat sekaligus harga diri tinggi tampak dari dirinya. Onew langsung membuang muka begitu mendengar kata ‘Tuan besar’. Matanya menjelajah seisi rumah yang dipenuhi perabot mewah dan karya seni indah. Berbagai lukisan tergantung rapi di berbagai bidang dinding, tak lupa ukiran halus kayu mahoni terlihat memagari bidang seni dua dimensi itu. Ada sedikit rasa kagum yang muncul di benak Onew, namun pikirannya langsung terusik dengan panggilan dari si butler.

Do I really have to meet him now? It’s kinda troublesome…,” ujar Onew dengan ekspresi angkuh. Ia tahu, ia bisa saja langsung meledak saat bertatap muka dengan pria yang tengah menunggunya entah di ruang mana. Si butler tersenyum, berusaha mencairkan suasana, “He has been waiting for you for ages. I don’t think he can wait any longer, Sir.”

Just tell me where my room is. I’m so tired. He has to wait more, at least as my revenge for what he’s done to me,” ucap Onew tegas. Matanya menatap tajam ke arah si butler, membuat lelaki tua itu menahan nafas karena menyadari suasana akan memanas di rumah tempatnya mengabdi.

Your command is my duty, Sir,” ucap si butler sekilas lalu kembali memanggil Taemin yang sedari tadi berdiri di belakang Onew dengan tatap bingung karena tak mengerti isi pembicaraan keduanya. “Tolong bawa barang-barang Tuan muda ke kamarnya. Para maid, tolong sediakan air hangat untuk mandi beliau. Saya akan menghadap Tuan besar.” Semua pelayan bubar dan kembali bekerja sesuai tugasnya begitu kepala pelayan selesai memberi hormat dan berbalik pergi. Onew hanya menatap datar mereka lalu beralih pada Taemin yang menatapnya takut-takut.

“Silakan lewat sini, Tuan mu-…”

“‘Hyung’!”

“A..ah… silakan lewat sini, hyung…”

***

Taemin menghela nafas berat. Tuan muda-nya ini orang yang sangat sulit dimengerti. Ia sendiri tidak paham apa yang terjadi pada keluarga tempatnya mengabdi selama lima tahun itu sampai-sampai lelaki muda asing itu datang dan disebut-sebut sebagai pewaris utama Lee corporation. Awalnya Taemin memang ragu kendali perusahaan akan jatuh ke tangan salah satu dari dua gadis manja yang dibesarkan dalam kemegahan keluarga Lee, tapi ia benar-benar tidak menduga bahwa semua kekuasaan itu malah jatuh pada seorang lelaki yang baru kali ini menginjakkan kaki di rumah itu. Belum lagi Tuan muda-nya itu memperlakukan dirinya berbeda dari pelayan lain, menarik rasa iri pelayan-pelayan yang ia anggap sebagai seniornya di kediaman itu.

Taemin menghela nafas, tangannya membawa nampan hitam berisikan air putih dan obat sakit kepala yang diminta Onew beberapa saat lalu. Onew tidak memperbolehkan orang selain Taemin memasuki kamarnya. Tampaknya Taemin akan sangat sibuk mulai sekarang.

TOK TOK

“Tuan mu-.. Hyung, saya bawakan obat yang Anda minta…”

Tak ada jawaban. Taemin mulai gelisah. Ia enggan kembali ke dapur tanpa menyerahkan obat tersebut. Bisa saja Tuan mudanya itu malah berpikiran buruk dan tidak mau lagi dilayani oleh dirinya. Tak ada yang tau apa yang dipikirkan lelaki muda itu…

Taemin mulai mengetuk lagi. Masih tidak ada jawaban. Akhirnya Taemin membulatkan tekadnya dan memutar knop pintu ruangan tersebut. Sungguh, sebenarnya ia takut kalau-kalau mendapati wajah penuh amarah Onew jika lelaki itu tidak senang dengan tingkahnya. Namun lebih baik mencoba dari pada tidak sama sekali, bukan? Sayangnya yang ia dapati malah pemandangan yang jauh lebih mengejutkan. Mata Taemin sampai membelalak sementara mulutnya terbuka tanpa mampu mengeluarkan suara sedikit pun. Hanya suara derit pintu yang membuatnya tetap sadar agar tak menjatuhkan nampan yang ada dalam pegangannya.

Daun jendela terbuka lebar. Angin yang entah sejak kapan bertiup amat kuat menerobos masuk, membuat kain tirai seakan melayang-layang bebas. Tak jauh dari jendela ia melihat dua sosok yang terlihat tidak terganggu laju angin.

Taemin yakin ia tak salah lihat. Siluet itu, sosok halus yang tampak seperti bayang samar itu, rambut hitam panjang menjuntai dengan tangan yang berusaha merengkuh tubuh lelaki muda itu… Si lelaki muda tertidur dengan posisi duduk bertopang lengan di atas meja. Bayang tangan itu tak mampu menyentuhnya, namun tetap bergerak seakan hendak memeluknya. Itu bukanlah hal yang logis dianggap nyata, setidaknya untuk orang waras. Angin dingin merayap ke tengkuk Taemin saat sepasang mata cokelat milik bayang itu menatap tepat ke bola matanya. Nafasnya tertahan, ia sudah pasti tak salah kira! Itu HANTU!!!

“TUAN MUDA!!” Panik Taemin sambil berusaha menyadarkan dirinya sendiri dari segala keterkejutan luar biasa itu. Tiba-tiba saja ekspresi wanita berbentuk bayang semu itu terlihat sendu. Taemin sempat tertegun sebelum refleks menghentakkan gerak kepalanya. Namun begitu matanya berkedip, bayang semu itu tak lagi tampak. Jendela yang tadinya terbuka malah sudah tertutup dengan rapinya, berhiaskan tirai biru yang sama sekali tak berantakan. Yang terjadi malah Onew yang terbangun dari tidur singkatnya, tersentak pelan dengan kepala menoleh pada si pelayan muda. Wajahnya tampak amat lelah, namun alisnya masih sanggup berkerut dan matanya ikut membelalak. Suara seraknya bertanya, “Wae..? Apa yang terjadi…?”

Taemin terdiam, tak sanggup menyahut barang satu kata pun. Pikirannya bak benang kusut, tak tau ujung pastinya. Ia tak mengerti apa yang terjadi. Justru ia ingin sekali balas bertanya pada si Tuan muda, tapi itu hal yang…ah, sulit untuk dijelaskan! Onew masih menatap Taemin yang belum mengubah ekspresi keterkejutannya dengan kantuk yang hendak kembali merapatkan dua kelopak matanya. Tapi ia belum mendengar satu katapun sebagai jawaban pelayannya. Akhirnya ia mengambil nafas, berusaha tetap tenang.

“Apa kau sudah mengambilkan pesananku?” tanya Onew, suaranya sudah mulai kembali normal. Taemin agak beranjak dari tempanya mematung, mungkin tak mengira Onew akan memulai pembicaraan lebih dulu. Akhirnya ia hanya mampu mengangguk. Tangan Onew bergerak seakan meminta ia mendekat dan akhirnya Taemin mencoba menjernihkan pikirannya. Pelayan berseragam hitam putih dengan rompi hitam yang memperlihatkan tegap tubuhnya itu menutup pintu dan berjalan mendekat, menyerahkan obat pada si majikan. Kantuk Onew perlahan sirna melihat anehnya ekspresi yang ditunjukkan Taemin, antara takut dan terkejut.

“Apa telah terjadi sesuatu?”

“Ti…tidak, Tu- hyung. Sepertinya saya hanya berhalusinasi saja…”

Kerutan dahi Onew semakin dalam namun ia tak mau memperpanjang masalah. Ia langsung meneguk obat dan air yang diberikan Taemin lalu memijit-mijit pelan dahinya. Taemin melirik jam yang terletak di atas meja dengan gelisah. Ada banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya. Akhirnya ia kembali memberanikan diri memecah keheningan yang tercipta.

Hyung, semua orang telah menunggu Anda. Apa tidak sebaiknya Anda turun sekarang?” ujar Taemin pelan. Onew mengerang lemah, “Aku benar-benar tidak ingin menemui mereka. Keluarga yang telah menelantarkanku bertahun-tahun serta para pelayan penjilat yang memuakkan. Apa tidak ada pilihan lain? Bahkan aku tidak menerima pelukan hangat dari Nyonya rumah ini yang seharusnya mengaku sebagai ‘ibu’-ku…”

Hyung… Nyonya Lee… Sudah lama meninggal…”

Onew tertegun, matanya terbuka perlahan. Entah kenapa ia tak percaya dirinya dipanggil ke rumah ini begitu salah satu penghuni pentingnya telah tiada. Secercah rasa kecewa kembali hadir dalam relung hatinya, menambah berbagai rasa kecewa lain yang menyesakkan dada. Ia tidak tahu sejak kapan ia begitu berharap bisa mendapatkan sebuah keluarga utuh walau ia sempat dibuang. Akhirnya ia sadar kenapa sejak tadi tidak ada yang menyebut-nyebut ‘Nyonya Lee’. Itu karena…karena…

“Kapan beliau meninggal?”

“Sekitar enam tahun lalu karena leukemia.”

Hening. Tak ada lagi sahutan dari Onew. Taemin berusaha mengintip ekspresi wajahnya. Pikirannya akan sosok asing nonlogis tadi langsung terhalau saat melihat ekspresi Onew. Sebuah perasaan tak asing muncul di hatinya, serasa deja vu.

H..hyung?”

“Oh… Jadi..dia sudah…,” Onew menelan ludahnya dengan kerongkongan tercekat, “…sudah meninggal…..”

***

“Selamat datang, Tuan muda!!!”

Onew menatap kaku semua pelayan yang kembali bersorak-sorai menyambut kedatangannya. Ekor matanya menangkap sosok Taemin yang hanya tersenyum penuh arti padanya. Sorak pelayan terhenti begitu lelaki muda yang memakai kemeja hijau dan celana jeans gelap itu sampai di ruang makan. Tumpukan makanan yang hampir memenuhi meja besar berbentuk persegi panjang itu langsung menarik perhatian Onew. Tak bisa disangkal bahwa perutnya sudah berbunyi tak sabar untuk menyantap semua hidangan yang tampak lezat itu. Tetapi gengsi dan harga diri tetap mengendalikan tingkah lakunya. Matanya menangkap tiga orang berpakaian bagus telah duduk di bangku yang mengitari meja tersebut. Dua darinya adalah gadis-gadis yang terlihat lebih muda darinya. Pakaian mereka tampak mahal, begitu pula riasan yang menopengi wajah mereka. Onew mendengus pelan, “Apa mereka tidak tahu betapa sulitnya hidup di luar? Aku yakin pakaian mereka berharga ratusan ribu won…,” batinnya muak. Ia hanya menatap senyum keduanya dengan tatap datar.

Di sudut meja duduk lelaki paruh baya berbadan tegap dan berambut gelap. Matanya yang besar dan tegas mulai menunjukkan kelelahan usianya. Onew masih tak mengubah ekspresi datarnya saat lelaki yang terbilang amat tampan untuk usianya itu melempar senyum hangat padanya. Sungguh, Onew merasa amat tersentuh dengan senyum kebapakan itu, senyum pertama yang diberikan oleh orang yang mengaku sebagai ayah kandungnya. Namun segala emosi haru itu terkalahkan rasa kecewa dan sakit hati karena tidak pernah tahu akan semua kenyataan mengejutkan itu sejak awal. Pria itu mempersilakan Onew duduk dan jadilah malam itu berlanjut, ikut berputar bersama hidupnya.

Onew menutup pintu kamarnya dengan perlahan. Otaknya terlalu lelah, ingin sekali ia langsung membanting diri ke atas tempat tidur. Namun semua memori makan malam tadi seakan menghantui dirinya. Ia hanya mampu melangkah gontai menuju sofa merah yang terletak tak jauh dari pintu dan membaringkan tubuh di sana.

“Selamat ulang tahun, nak.”

“Selamat ulang tahun, Oppa. Kami harap kita bisa hidup bersama dengan rukun sebagai keluarga bahagia~~!”

“Kau akan mewarisi perusahaan dan semua aset keluarga kita karena kau anak laki-laki pertama keluarga ini. Akademi dan prestasi belajarmu selama ini amat baik, dan kudengar pekerjaanmu sebelumnya juga tak kalah baik. Aku banyak berharap padamu…”

“Oppa akan jadi penerus yang hebat! Kami percaya pada Oppa~~!”

“Kami menyayangimu…”

Onew melenguh panjang mengingat semua ucapan itu. Ia bahkan masih ingat siapa nama dua gadis yang mengaku sebagai adiknya, si kembar Lee Hyunri dan Lee Hyunjae. Ia tahu ucapan kedua gadis itu terlalu dibuat-buat dan ia tak bisa menjamin kalau kedua gadis itu tulus dalam kata-katanya. Tapi entah kenapa ia tak kuasa menolak kebaikan mereka. Dua gadis bepenampilan modis itu berbicara dengan nada lembut dan manja padanya, seakan mereka sudah lama saling mengenal layaknya anggota keluarga normal.

Aaaaakkkh!!! I know their smile is suck, but why can’t I refuse them??!!” lenguh Onew frustasi. Kebaikan keluarga yang baru dikenalnya itu berhasil mencairkan hatinya yang keras hanya dengan sekali bertemu –walau ia sendiri tak banyak bicara dalam pertemuan itu. Dan yang paling menyebalkan adalah perasaan haru yang membuncah saat melihat tatap mata sayang yang tulus dari Tuan Lee. Tak ada sedikitpun kebohongan yang tersirat dari sepasang mata cokelat gelap itu. Perasaan ingin memeluk pria itu sungguh besar, seperti anak anjing yang kembali bertemu induknya setelah tersesat. Onew tidak mengerti. Ia ingin mengerti namun egonya kembali menolak perasaan itu.

Akhirnya ia bangkit dari sofanya sambil melonggarkan beberapa kancing kemejanya. Ia memandang jam, sudah hampir tengah malam. Sayangnya ia butuh segelas teh atau kopi, atau mungkin bir untuk menenangkan pikiran suntuknya.

“Taemin!! Taemin!!!”

Tak ada sahutan. Onew menggerutu malas. Sudah ia duga. Hampir mustahil mendapati Taemin masih berkeliaran di sekitar kamarnya di saat seperti itu. Akhirnya ia mengambil langkah lebar-lebar masih sambil menggerutu pelan keluar dari kamar.

Memorinya kembali berputar, mengingatkannya kembali pada acara tadi. Ia ingat, tak ada kata maaf ataupun penjelasan mengenai keputusan Tuan Lee ‘membuang’nya selama ini. Pria itu hanya tersenyum sendu saat alis Onew bertaut dengan wajah datar. Senyumnya seakan ingin menebus semua kesalahan yang telah pria berwibawa itu lakukan selama ini padanya. Onew menggelengkan kepalanya beberapa kali, ‘Tidak ada penjelasan berarti tak ada tanggung jawab’ tekannya dalam hati.

Setelah melangkah beberapa lama, barulah ia sadari kalau ia tidak tahu-menahu susunan ruangan rumah megah itu. Keluhan panjang kembali meluncur dari bibirnya, “Astaga, aku bahkan terlalu marah untuk meminta Taemin menunjukkan dimana letak dapur tadi…” Yang Onew ingat hanyalah arah pintu utama dan ruang makan. Selebihnya… mungkin Onew memang harus mencari tahu sendiri. Berbekal rasa haus dan harapan medapat sepotong roti di malam sepi itu, Onew terus melangkahkan kaki.

“Aneh, ke mana semua pelayan yang jumlahnya tak karuan itu?” bisiknya bingung. Tiba-tiba saja perasaan aneh yang menyuruhnya untuk segera berhenti melangkah menyusupi hatinya. Ia serasa deja vu, seakan semua hal ini sudah pernah terjadi sebelumnya dan ia tak ingin mengulang memori itu lagi. Tapi rasa penasaran menghantui diri Onew semakin kuat tatkala ia melihat bayangan berbentuk perempuan –bayang yang entah kenapa pula begitu familiar baginya- menyusup cepat ke dalam ruangan tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan langkah ligat Onew langsung mendekati ruangan tersebut.

Pintu ruangan itu agak terbuka dan Onew mencium bau alkohol yang pekat dari dalamnya. Ia mengerutkan dahi saat mendengar suara tawa dari ruangan tersebut. Walau merasa tak sopan, Onew tetap mengintip isi ruangan dari celah kecil tersebut. Dan ia mendapati dua gadis yang ia temui di acara makan malam tadi tengah menenggak alkohol dalam balutan baju tidur tipis.

“Lee Hyunri? Lee Hyunjae?” bisik Onew heran. Kedua gadis itu tampak jauh berbeda dari penampilan mereka di acara makan malam tadi. Bagian tubuh mereka hampir terkespos jelas dalam balutan gaun tidur tipis yang hanya menutupi bagian-bagian tertentu saja. Lelaki berambut coklat itu tak lagi memikirkan penampilan mereka saat mendengar ucapan salah satunya.

“Benar-benar lelaki bodoh!! Kau lihat ekspresinya tadi, Hyunjae-ah? Kelihatannya dia percaya begitu saja dengan tingkah kita tadi. Dia berharap kita menerimanya begitu saja dan seenaknya mengambil harta Abeonim dari kita?! Hah! Dia bermimpi!” ucap Hyunri dengan ekspresi mengejek. Sebotol vodka tergenggam erat dalam pegangannya. Air muka Onew berubah serius.

“Tentu saja aku lihat, Hyunri-ah~! Matanya sempat terbelalak beberapa kali hanya karena kita bicara manis padanya. Oh, kasihannya~ Ia bahkan tak tahu kalau ia akan kita jadikan batu pijakan untuk mendapat harta Abeonim…,” kekeh Hyunjae kemudian. Geraknya linglung sambil berdansa-dansa sendiri diiringi musik pelan yang menggema di ruangan luas itu. Kedua wanita berambut panjang sebahu serta berkulit putih susu itu kembali bertukar tawa lepas. Lelaki yang meyelipkan pandangannya lewat celah pintu hanya dapat mengepal tangannya erat-erat. Ia harus mendengar lebih banyak lagi sebelum menunjukkan dirinya dengan jelas ke hadapan dua orang itu.

“Terlebih lagi saat aku ingat siapa wanita yang melahirkannya. Cih, aku mau muntah! Seenaknya saja wanita itu merebut Abeonim yang sudah bertunangan dengan Eommonim kita! Wanita miskin tak tahu diri! Baguslah dia mati tertabrak sebelum Eommonim sempat bertemu dengannya… haaaah… Malangnya nasib eommonim kita…..,” ujar Hyunri mabuk. Ekspresi jijik dan kasihan terlalu dibuat-buat oleh wajah ovalnya. Onew langsung membelalakkan mata mendengar ucapan tersebut. Kepalan tangannya sedikit melonggar.

“Ah, kudengar si Onew bodoh itu masih dipeluk wanita memuakkan itu saat kecelakaan terjadi. Akh, kenapa tidak ikut mati saja? Lagi pula, tidak ada yang menginginkannya, termasuk Harabeonim dulu… hahahaha….,” lanjut Hyunjae. Ia menghentikan tarian linglungnya dan beralih mengambil gelas kristal di sisi meja. Diteguknya vodka yang telah tertuang ke sana, meninggalkan bekas lipsstick merah di pinggir gelas.

“Oh, lupakan, Jae-ah! Harabeonim hanya menginginkan kita! Kitalah keturunan keluarga terhormat, bukan dia! Bukan dia!!!” sambung Hyunri.

Tawa gila keduanya masih membahana di dalam ruangan sementara Onew bergerak menjauh. Ekspresinya campur-aduk antara marah, sedih, terkejut, dan tidak percaya. Kedua belah bibirnya bergetar pelan, begitu pula dengan kaki dan tangannya. Ia menopang kepalanya lelah. Otaknya masih berusaha mencerna semua perkataan saudara kembar gila itu. Dan akhirnya ia terduduk di selusuran tangga tak jauh dari sana.

“Wanita miskin tak tahu diri? Kecelakaan? Mati?” ia membisikkan potongan kata itu  perlahan, disambung potongan lainnya, “tidak diinginkan… Harabeonim… keluarga terhormat…”

Akhirnya satu kesimpulan muncul dalam benak Onew, kesimpulan yang begitu menyakiti batinnya, menusuk-nusuk bahkan ke lubuk hatinya yang terdalam. Ia menarik nafas dalam getar pelan, berusaha menenangkan dirinya walau sulit. Tetesan air hendak menyeruak jatuh dari kelopak matanya dan akhirnya jatuh tak terbendung lagi…

“Cih, kenyataan yang menyebalkan…,” bisiknya sesak.

Taemin yang tengah membawa nampan berisi segelas air terus berjalan celingukan mencari keberadaan Tuan mudanya. Hanya sekedar menduga, tapi ia pikir lelaki muda yang sulit ditebak itu telah melewati hari yang amat berat. Tak ada salahnya meneguk air untuk menyegarkan pikiran. Namun lelaki yang dicarinya tak ada di dalam kamar. Khawatir Tuan mudanya tersesat atau mungkin tertimpa hal yang lebih parah lagi, Taemin bergegas mencarinya.

Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia menemukan lelaki itu tengah berjalan gontai menuju kamarnya. Taemin menghembuskan nafas lega. Laki-laki itu baik secara fisik setidaknya. Ia mempercepat langkah dan menyapa lelaki itu, “Hyung, aku membawakanmu air!”

Onew mendongakkan kepala sekilas lalu tersenyum hambar. Ia kembali melangkah lesu. Taemin mengernyitkan dahi. Ada yang salah dengan lelaki itu. Tanpa diminta, Taemin mengekor langkah Onew ke dalam kamar.

Hyung, Anda tidak apa-apa?” Tanya Taemin ragu. Onew tak menjawab pertanyaannya dan malah menggumam, “Letakkan saja nampan itu di atas meja.” Lelaki chubby dengan bibir penuh berwarna pucat itu membaringkan diri di atas tempat tidur, kedua lengan menutupi wajahnya. Taemin kembali ke posisi awalnya, menanti perintah lain yang mungkin dilontarkan lelaki muda itu. Sayangnya Onew tetap diam di posisinya.

Hyung, jika tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya mohon diri dulu…”

Wait!!”

Taemin berbalik lagi menghadap Onew. Wajah Onew tak lagi tertutup lengannya. Ia menatap Taemin dengan ekor matanya. Sebelum berbicara, ia menarik nafas panjang. Taemin agak gugup, mungkinkah Onew akan meminta hal yang sulit dilakukan?

“Lee Taemin, aku tidak tahu mengapa tapi aku rasa aku bisa mempercayai dirimu sepenuhnya begitu saja. Hal ini hanya dapat kupintakan padamu, kuharap kau mau dan bisa memenuhinya…,” ujar Onew sambil bangkit duduk. Kedua pasang mata itu bertemu, menanti reaksi satu sama lain. Taemin meneguk ludah, biasanya kalimat tadi hanya diutarakan Tuan Lee pada kepala butler. Ia jadi semakin gugup.

“Aku mau kau menjadi pelayan pribadiku.”

“Eh?”

“Ada hal penting yang perlu kuselidiki dari rumah dan keluarga ini jadi aku mengharap kesediaanmu membantuku.”

“Eh?”

“Dan pelajarilah Bahasa Inggris lebih jauh lagi. Akan lebih nyaman jika kita berkomunikasi dengan bahasa itu.”

What?!”

***

Malam telah berlalu, berganti pagi mendung bersama Matahari yang mengintip enggan dari balik tumpukan awan. Angin dingin kembali mengetuk jendela seperti hari-hari sebelumnya. Tentu saja, sebentar lagi musim dingin akan menggapai puncaknya dan tumpukan salju putih akan menutupi permukaan tanah dengan butirannya.

Di salah satu ruangan sebuah rumah megah, berdiri seorang pemuda dengan wajah tanpa emosi. Ia melihat pemandangan luar di pagi hari dengan kedua mata sipitnya yang tampak lelah. Kantung mata menghiasi wajah pucatnya. Mungkin ia hanya bisa terlelap satu atau dua jam tadi malam, atau bahkan hanya beberapa menit saja. Ia tidak tahu pasti, yang ia tahu hanyalah ia merasa sangat lelah.

Pemandangan di luar rumah tampak tenang. Hanya beberapa orang sibuk keluar masuk rumah megah itu lewat pintu belakang. Gerbang depan berdiri kokoh nan angkuh, membatasi para penghuni rumah dan dunia kejam di luar sana. Ah, tapi bukan berarti rumah itu sendiri kalah kejam dibanding dunia luar. Pemuda itu menghela nafas panjang saat melihat dua mobil mewah keluar berurutan dari pekarangan rumah itu. Di sudut hatinya ia merasa amat lega saat dapat menebak siapa saja yang mengisi kedua mobil itu.

“Hyung, lebih baik Anda sarapan dulu.”

Suara pelayannya membuat semua pikirannya buyar. Ia melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya. Sudah cukup terlambat untuk sarapan pagi dan perutnya sudah menyuarakan protes untuk segera diisi. Lelaki itu menyunggingkan senyum tipis, menatap sang pelayan yang membawakan nampan besar berisi tatanan makanan lengkap dengan kopi dan hidangan penutup. ‘Makanan yang cukup mewah’, pikirnya. Baiklah, ia harus membiasakan diri dengan semua itu walau ia tidak berniat terlena atas semua itu.

“Kelihatannya lezat,” komentarnya singkat. Si pelayan tersenyum lembut, “Ini buatan salah satu koki terbaik di sini, Hyung. Ini buatan ibuku.”

“Oh,” sahutnya. Pikirannya berkutat pada kata ‘ibu’ yang baru diucapkan si pelayan. Ia mendesah pelan. Sudah cukup malam tadi ia habiskan untuk memikirkan sosok satu itu, sosok yang ternyata di luar perkiraan awalnya. Sosok penting yang harus ia selidiki keberadaannya, atau lebih tepat lagi masa lalunya. Ia menyendokkan isi piringnya dengan mata menerawang.

“Bagaimana, hyung?”

“Hmmm… Lezat.”

Lee Taemin, si pelayan hanya mampu tersenyum maklum. Tuan muda yang baru ia kenal kemarin itu lebih mirip mayat hidup pagi ini tapi Taemin tahu alasannya. Dan Taemin juga sadar bahwa mereka berdua akan melewati begitu banyak hal mulai hari ini.

“Apa ada lagi hal yang hyung perlukan?” tanya Taemin sambil memegang nampan berisikan piring dan gelas yang isinya telah berpindah ke perut majikannya dengan sukses. Lelaki muda yang ditanyainya itu sempat merenung lalu berkata, “Untuk sementara ini tidak. Kau hanya perlu mengingat permintaan yang kusebutkan malam dan pagi tadi. Kita akan memulainya siang ini.”

“Saya harap kedua nona muda belum akan pulang siang nanti…,” ucap Taemin dengan nada cemas. Majikannya mengerutkan alis, “Memangnya ada apa jika mereka pulang siang nanti?”

“Saya dengar mereka ingin mengajak Anda berkeliling Seoul. Anda tahu, mereka sangat pemaksa…”

“Dan pembohong,” potong majikannya. Taemin hanya mampu mengangguk lemah. Lelaki muda bermata sipit di hadapannya tersenyum kalem, “Tenang saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal tidak penting seperti itu. Aku ini Onew Lee. Hal itu takkan bisa menghentikan rencana kita.”

Onew mondar-mandir di sekeliling rumahnya. Ia baru teringat pada satu hal penting yang seharusnya menjadi formalitas awal saat ia menginjakkan kaki di Seoul, setidaknya itu yang ia janjikan saat masih kuliah di London kapan lalu. Ia menghela nafas panjang. Tangannya menimang ponsel baru yang telah disesuaikan dengan negara tempat ia menetap kini. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon orang itu, orang penting dalam hidupnya yang amat ia hormati. Orang yang mengubah sudut pandang hidup seorang Onew Lee dulu.

Terdengar nada tunggu. Onew berusaha tenang agar gugup tidak menguasai raganya. Kenangannya kembali berputar saat ia masih berada di London bertahun-tahun lalu. Semua bayangan akan orang-orang kulit putih, tangis, darah, luka, dan erangan rasa sakit memenuhi benaknya. Dan wajah orang itu muncul, mengulurkan tangan dengan senyum kebapakannya yang ramah. Ya, dialah yang mengubah hidup Onew. Dialah yang menjadi motivator agar Onew dapat bangkit dari semua masalah dan keterpurukannya saat itu. Dia…..

Yeobseo?”

Lamunan Onew langsung buyar saat suara berat kebapakan yang ia kenal masuk ke rongga telinga kanannya. Sekelebat rindu membuncah di hatinya, membuat segaris senyum muncul otomatis menghias wajah lelahnya. Ia merindukan suara ini, suara yang selalu memberinya rasa aman dan ketenangan. Onew sadar ia harus segera angkat suara. Namun hatinya terlalu senang saat ini.

Yeobse-…”

Hello, Sir. It’s me, Onew Lee.…”

 _TBC_

Kepada author ff ini, harap tidak membalas komen dulu sampai event FFP ini berakhir😀

21 thoughts on “[FFP 2013 – 3] Him Inside – Part 1

  1. sukaaaaa bgt sama ff yg bergenre ini, apalagi saya bisa ngebayangin semua apa yg ada dicerita. bagi saya cukup jelas penggambarannya apa yg Onew rasain^^

    hantu itu pasti omma-nya Jinki ya?

    di part pertama ini bikin saya penasaran sama lanjutannya..

    ditunggu banget loh author-ssi🙂

  2. kayaknya kaut ahu siapa authornya. ah, mystery. ya, ampuuun! saya suka misteri.
    nggak tahu deh kalo punya keluarga kayak gtu. klo saya pasti udah berulah kayak anak-anak.

  3. Karakter Onew kompleks banget, ya, sekompleks masa lalunya. Pengen bejek2 adik tirinya, hih!
    Ciee..Taemin jadi tangan kanan Onew, dan aku penasaran dengan orang yang ditelepon Onew.
    Sepertinya makin seru. Kutunggu lanjutannya🙂

  4. semacam tau siapa authornya hahaha, ini mah berasa baca novel terjemahan ,daebaaaak. btw ada satu typo,hal jadi hsl hehe

  5. Pewarisan, deja vu… ini ceritanya bakal kompleks kayaknya, haha. Dan cewek hantu itu pasti ada hubungannya sama masa lalu Onew. Iya kaan? :3

    Ada beberapa typo tadi, tapi bukan masalah. I’ve done it so many times. Hahaha. Menunggu next chapter😀

  6. Xixi,
    suka banget sm karakter onew + Tae di sini..
    Ceritanya menarik bgt, walo aku telat bacanya..
    Xixi

    baca part 2 dulu ya…

  7. Kyaknya tau siapa authornya -sepertinya-
    seru ihh. udh lama g baca ff yg bikin semangat kyk gini..
    ad bnyk misteri yaa..
    hmm ap mngkin hantu it ibu nya onew?
    dan ttg masa lalu nya, ap mgkin onew sdh prnh tinggal drmh it, hanya sj ia tdk ingt stlh kecelakaan yg mmbuat ibunya meninggal?
    okehh lanjut ke part 2 dl

  8. Hai hai re hai ye ladki hai hai re hai….
    *Lho, malah lagu bollywood yang muncul…

    Hai semuanya…. aku nongol….
    Siap menyemarakkan kolom komen para author tanpa nama sekalian….
    Dan… tada…. Aku baca Him Inside dan suka banget…
    Serasa baca novel…. Bahasanya bagus banget
    Penggambarannya detail banget, sampe kadang buat aku harus baca ulang
    biar fahammmm……
    dan emang hasilnya buat aku makin suka
    sama ceritanya dan gaya bahasanya….

    Dari segi cerita, kyaknya bakal ada intrik seru nih
    perebutan kekuasaan dan harta… (walau klasik, tapi emang bakal
    ada terus nih genre beginian…. ampe akhir zaman ntar….),
    rahasia masa lalu Lee Onew suamiku… *ditabok
    ibu kandungnya, dan sosok hantu wanita… *itu bukan aku, ya….
    Oya, ntar, karakter Lee Jinri itu, sosok hantu, eomma kadung Jinki, atau sang gadis penawan hati?
    Heheheheee…. pengennya nambah lagi intriknya, tentang cinta2an gitu….
    Biar komplit…. sekomplit cintaku buat abang ayam….
    *reader ….

    tampang Taemin mah, emang gak bisa buat marah…
    Aku juga suka banget dengan adanya karakter pelayan muda kepercayaan nan lugu
    seperti karakter Taemin disini….

    Author…. Siapapun dirimu…. Part 1 Him Inside layak dapet acungan jempol…
    Keep writing ya….
    *kedip ganjen Jinki oppa

  9. WAHH! ff-nya keren baget!
    Apalagi waktu Taemin ngeliat hantu meluk2 Onew oppa.
    terasa banget feel mencekamnya saat itu.
    aku paling sedih waktu 2 cewek kembar (lupa namanya) itu lagi ngejekin Onew.

    ceritanya tetap keren,kok!^^
    keep writing,author!

  10. wahhhh…. jadi onew itu anak pacarnya tuan Lee, gt ya??? trs dibuang gitu..?!!! masih aawal jd masih bingung!! taemin dan onew bener2 kompak.. keren!!
    makin penasaran.. lanjut y thor…

  11. Paling suka ff dengan genre ini. Hampir sama drama The Heirs kali ya? Yah samanya itu perebutan harta warisan dan keturunan Onew sebenarnya.
    Ada ketegangan tersendiri ketika membacanya😄. Keren, aku saranin lebih baik di jadikan novel aja~ penulisan sama ceritanya menyerupai sempurna😄

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s