[FFP 2013 – 3] Asphodel [1.2]

Main Cast        : Onew-centric

Support Cast  : myths and OC’s

Length            : chaptered (2 chapters)

Genre              : Comedy; Fantasy

Rating            : PD-13 for language usage

Summary     : “katakan takdirku.”

A.N                  : I’ve been reading Percy Jackson too much by now.

 

 “Sebuah sedan bertabrakan dengan sebuah mobil SUV…”

“Kecelakaan tersebut cukup parah, sedan tersebut menabrak sebuah pohon sebelum akhirnya berhenti,”

“Teridentifikasi bahwa pengemudi sedan itu ialah…”

“Onew SHINee baru saja menjadi korban kecelakaan…”

            Sesuatu seperti memukulku, memberikan perasaan benar-benar terbangun. Rasana seperti jatuh, kau tahu, seperti di film Inception. Cukup susah untuk menyadarkan tubuhku agar bisa bergerak lagi. Aku juga merasakan sakit di pinggang dan kepalaku. Tapi, aku bisa membuat diriku benar-benar sadar.

            Apa yang kulihat setelahnya mengejutkanku. Sebuah padang rumput, luas dan hijau. Ada bunga dan—yah—rumput, tentunya; tempat itu berbau seperti musim semi dan hujan. Udaranya menggelitiki kulitku. Tempat itu sangat cantik sehingga aku tidak terlalu peduli tentang keberadaanku.

                        Lalu, karena aku seorang yang sudah dewasa, aku mulai bertanya-tanya tentang tempat ini.

            Padang rumput itu sangat menyenangkan. Seperti yang kau lihat pada akhir film Breaking Dawn part II. Kesadaran menabrakku seperti truk ketika aku sadar tentang keberadaanku.

            Pernah dengar tentang Padang Asphodel?

            Tidak? Benarkah? Tempat itu terkenal.

            Atau dulunya terkenal? Ya, tempat itu terkenal 300 0 tahun yang lalu. Mungkin kau tidak tahu Asphodel, tapi kau jelas tahu Hades, ya ‘kan? Oke, aku simpulkan kau tahu Hades. Hades adalah Dewa Dunia Bawah. Di dalam Dunia Bawah, ada tempat yang dinamakan Padang Asphodel. Itu adalah tempat kehidupan setelah mati di Dunia Bawah.

            Kesimpulannya, aku berpikir bahwa aku sudah mati.

            Seperti, tidak lagi ada di dunia orang hidup.

            Tapi aku tidak melihat apapun yang mirip dengan Dunia Bawah, Sungai Styx contohnya. Lalu aku melihat diriku sendiri. Aku mengenakan kaus lengan panjang berbahan katun tipis, dengan celana panjang katun putih juga. Aku bertelanjang kaki, tapi aku tidak peduli—aku berjalan-jalan di rumput, rasanya lebih nyaman kalau berjalan dengan bertelanjang kaki di atas rumput.

            Apa aku bereinkarnasi menjadi malaikat? Bersamaan dengan pemikiran itu, seseorang muncul dalam jarak pandangku. Aku menebak pria itu adalah salah satu penghuni Asphodel. Tapi aku salah, karena pria itu bukan seorang pria.

            Wanita itu mengenakan tunik; warnanya semacam gading atau putih tulang. Kepalanya ditutupi kerudung. Rambut-rambutnya yang membentuk finger-weave warna coklat masih bisa terlihat. Ia datang dan duduk di sebelahku, lututna ditekuk dekat ke dadanya dan ia memeluknya.

            Lalu, ia mengatakan sesuatu padaku: “Akulah arwah Delphi, penutur nujum Phoebus Apollo, pembantai Phyton yang perkasa. Mendekatlah, wahai pencari, dan bertanyalah.”

            Entah bagaimana caranya, ia seperti bicara dalam tiga suara. Yang pertama suaranya sehalus bulu, ringan dan keibuan; lalau ada suara berdenyit yang aneh; yang terakhir terdengar jahat, berat dan serak, seperti suara pria yang sedang marah. Ada perasaan dingin menusuk yang membingungkan ketika ia bicara, dan itu membuatku ketakutan. Pada saat itu, semua logika dan akal sehatku masuk ke dalam selokan. Aku sungguh percaya ia adalah Arwah Oracle.

            Yang keluar dari mulutku setelahnya adalah hal bodoh.

            “Pertama, aku kemari karena kecelakaan jadi, kau tahu, aku tidak kemari menanyakan tentang nujum.”

            Tapi ia tidak merespon. Ia diam seperti mayat,

            “Tapi ramalan sepertinya bagus juga,” Aku berdeham, “katakan takdirku.”

“Seorang pengelana tersesat ke tempat yang mati

Ia tidak mati tetapi hidup

Dalam tangisan seorang perempuan menanti

Sebuah perkelahian akan meredup”

            Rahangku seakan terjatuh mendengar jawabannya. Tidak ada yang masuk akal dari ucapannya. Tempat yang mati, benarkah, apa tempat itu  benar-benar Asphodel? Aku merasa jadi gila saat memikirkannya, jadi, dengan bodoh dan idiotnya, aku bertanya lagi pada Sang Oracle—atau apapun ia itu, “Aku tidak paham apapun yang kau katakan, sebenarnya.”

            Tapi Oracle itu seberguna orang mati.

            Yang berarti tidak berguna sama sekali, menurutku.

            Pelan-pelan, rasa dingin menusuk sampai tulanku. Sang Oracle—atau apapun itu—mulai menghilang menjadi debu.

            Aku yakin saat itu terjadi, mataku pasti sebesar mata Minho. Saat proses penghilangann itu selesai, aku berdiri dengan cepat sehingga aku pusing sendiri. Aku mulai berjalan dengan tenang, menoleh ke kanan, kiri, atas, bawah. Tapi semuanya tidak berguna, yang aku lihat hanya padang rumput dan langit cerah.

            Sebuah figur bertudung lain muncul dalam penglihatanku, tapi tuniknya tidak berwarna kulit, tapi berwarna abu-abu gelap. Kainnya terlihat tebal dan gatal. Kalau itu Oracle yang lain—seperti Oracle Dodona mungkin?—, kupikir aku akan melewatinya saja. Aku benar-benar tidak berbakat untuk menerjemahkan nujum.

            “Lee Jinki,”

            Well,  itu namaku.

            “Ya?” Aku menjawab. Tapi setelahnya, aku mengomel, “Kalau kau adalah Oracle yang lain, tidak terimakasih, sungguh. Aku tahu Apollo adalah Dewa Puisi tapi aku juga tahu bahwa ia sebenarnya payah dalam hal itu, yang berarti Nujum Phoebus Apollo adalah omong kosong juga.”

            Figur itu tertawa, “Fakta bahwa tempat ini adalah Dunia Bawah akan membuatmu senang. Untungnya Apollo tidak akan pernah main-main ke tempat ini. Lagi pula, aku bukan Oracle.”

            Aku mengerutkan dahi. “Jadi, kau ini apa?”

            “Aku Fury, Erinyes, nama apapun terserah. Yunani Kuno mengenalku sebagai Alecto.”

            Aku memaksakan sebuah senyum, “Nah, mahluk terakhir yang inign kutemui adalah Fury, atau apapun yang punya andil dalam hal Dunia Bawah.”

            Si Alecto tertawa lagi. “Aku di sini tidak untuk menyerangmu; kau bukan blasteran setengah dewa-setengah manusia. Kau mahluk fana.”

            Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi otakku yang biasanya bekerja dengan cepat menjadi lebih lamban. Saat aku menyadari apa yang ia katakan, aku berkata, “Jadi aku sudah mati.”

            Alecto menjawab, “Kalau kau memilih untuk mengakhiri hidupmu.”

            “Sejauh yang kuingat, mahluk fana tidak bisa memilih kapan akan mati.” Jawabku lagi.

            “Kau kasus special,” ia mengendikkan bahu, “Hades mengirimku kesini; kau harusnya belum mati. Tapi kau bisa memilih.”

            Aku berpikir sebentar, “Bolehkah aku memilih untuk menjadi salat satu Dewa Olympia?”

            “Aku di sini bukan untuk gurauan,” katanya.

            “Mandi di Sungai Styx?” Aku bertanya lagi.

            Alecto berubah menjadi mode-Fury sepenuhnya. Dan itu menakutkan, sungguh menakutkan.

            “Wow, wow,” Aku mengangkat kedua tanganku ke udara, “Aku tidak bisa berpikir jernih jika di depanku ada mahluk setinggi lima belas kaki yang menunjukkan gigi-gigi tajamnya.”

            “Lalu bentuk apa yang kau inginkan?” Tanyanya. Untuk ukuran Fury, Alecto bersikap cukup lunak padaku. Aku tidak tahu apakah itu karena ia sedang bersuasana hati baik atau aku terlalu imut untuk digalaki.

            Aku menyeringai seraya menjawab, “Seperti Minho, Choi Minho? karena ia tampan dan segalanya.”

            Alecto benar-benar berubah menjadi Minho, komplit dengan sepatu Adidas Run Strong berwarna neon, celana lari serta bajunya. Ia bahkan memakai gelang rantai Minho. “Nah, bagaimana penampilanku?”

            “Kalau aku seorang penggemar Minho, aku akan membawamu pulang.” Kataku dan Alecto pun menyeringai dengan puas. Katanya, “Aku tahu aku pandai menyamar.”

            “Jadi, Sang Oracle bicara padamu?” Tanyanya.

            Aku mengangguk sebagai jawaban. Alecto bertanya lagi, “Apa yang ia katakan?”

                        Aku memberi tahunya seluruh ramalan. Ia menyipitkan matanya dan menaruh tangannya di atas bibirna, sama seperti Minho yang sedang berpikir. Ia berpose seperti itu untuk beberapa saat sampai akhirnya berkata, “Nah, ramalannya sudah cukup jelas. Pikirkan baik-baik, Lee Jinki.”

            “Apa saja pilihanku?”

            “Tinggal dan membangun ruman di Asphodel, hidup seperti yang lain. Atau kau bisa kembali ke permukaan bumi dan bekerja keras agar kau bisa masuk Elysium.” Alecto menjawab dengan ringan.

            Seperti anak kecil, aku bertanya lagi, “Aku tidak punya pilihan reinkarnasi tiga kali untuk mencapai Kepulauan yang Diberkati?”

Alecto menghela nafas, “Opsi itu hanya untuk Pahlawan, Half-bloods atau Legacy. Aku sudah memberi tahumu kau hanyalah mahluk fana.”

“Kalau begitu aku memilih kembali. Kalau Oracle itu benar, aku punya seorang wanita menungguku.” Aku berkata dengan suara yang kecil, tapi Alecto mendengarnya.

“Baiklah. Mataharinya akan terbenam sebentar lagi; ikuti arah barat untuk kembali. Aku sudah sangat jengkel harus menghadapimu.” Setelah itu, Alecto menghilang ke udara kosong.

—to be freakin’ continue—

Kepada author ff ini, dimohon untuk tidak membalas komentar sampai event FFP ini berakhir

20 thoughts on “[FFP 2013 – 3] Asphodel [1.2]

  1. dewa-dewa dan dewa. aku nggak terlalu suka dewa karena dewa itu banyak dan ribet, namnay sulit dan pekerjaannya lebih membingungkan. tapi ceritanya menarik, istilahnya Jinki lagi sekarat, kan? tapi yang begituan emang real dalam kasus yang lain. klo kamu diajak seseorang dalam mimpi untuk pergi, maka kamu mati.

  2. Whoaaa, aku sukaaa, banget2an. Gaya penulisannya mirip gaya penulisan novel2 terjemahan, dan aku nggak ngerasa lagi baca ff, tapi lagi baca novel.

    sering2 bikin ff beginian dong, author ^^

  3. wehehehe, aku gak paham ttg mitologi yunani sejak dulu. jadi kepalang bingung baca ceritanya .—.
    Tapi aku yakin ceritanya pasti seru buat penikmat fantasi. Lanjut yaa!!!😀

  4. ide ceritanya menarik.
    di bag. awal saya agk mengernyit sama si dewa2..

    si Jinki lg antara hidup dan mati, tapi masih2 sempet2nya pake nego sama si Alecto *geleng2*

    saya tunggu lanjutannya author-ssi^^

  5. Ceritanya seru dan bahasanya kayak novel terjemahan, rada sarkas, dan Jinki koplak banget di sini *getok pake kapak*. Sempat-sempatnya ngelawak, sengaja atau nggak. Beberapa nama tokoh mitologi di sini sudah kuketahui sih, Asphodel, Alecto, dan Oracle justru yang asing buatku.
    Secara umum bagus, cuma ada beberapa typo. Kutunggu lanjutannya🙂

  6. Aaah, aku suka banget sama mitologi (walaupun aku ga suka baca Percy Jackson, fufu). Dan, harus kubilang, Jinki di sini sarkas ya, haha. Ceritanya keren sih, tapi kalo nggak ada penjelasan tentang Alecto, Oracle, dan lainnya, bakal bikin keseruan bacanya berkurang gara-gara ga ngerti. But it had published anyway, so I’ll wait the next chapter ^^

  7. Ide ceritanya oke banget. Cuma sebagai pembaca yg awam soal perdewaan, aku bakal lebih seneng kalo ada deskripsi sedikit soal dewa-dewa yg muncul di ff ini. Ada beberapa typo jg, tp it’s ok lah ^^
    Bahasa dan gaya penulisannya bener-bener kentel novel terjemahan, hebat-hebat. Moga berawal dari ff party, trs bisa melahirkan penulis-penulis handal. Semangat author!!

  8. jinki~,…sempat2nya ber’sangtae. <,<
    seru ne kayaknya! yg laen tentang dewa2 atau apalah, no comment.#g ngrti sama sekali,hehe🙂

  9. Setuju sama komennya zaKy, ff ini sebenernya seru, ide ceritanya menarik..
    Tp keseruannya jd berkurang krn tdk adanya penjelasan ttg siapa itu Alecto, Oracle, Apollo, dan istilah2 lainnya..
    Jujur aja aku rada bingung bacanya ._.
    Tp..next partnya d.tunggu yaa ^^

  10. sama kayak yg lain. pusing ama nama2 dewa2nya. utk saran aja, kl mau buat ff kyk gini lg diberi pengertiannya dong. misalnya oracle itu apa dll. biar gak terlalu bingung bacanya.

    bener deh cerita kyk gini gak kyk ff. tp kyk novel. keren! lanjut author

  11. Ahhaha kocak baca yg ini [“Baiklah. Mataharinya akan terbenam sebentar lagi; ikuti arah barat untuk kembali. Aku sudah sangat jengkel harus menghadapimu.” Setelah itu, Alecto menghilang ke udara kosong.] Alecto nya terlalu jujur :p wkwkwk
    huft baru baca ff ini, jd baru comment deh. mian thor ^^ sy comment cuman skedar mninggalkan jejak doang kok😉 genre nya humor/comedy. yaa emang iya, bebeb saya *jinki* emg nyebelin disini. dan juga dy bner2 narsis bgt disini, well dy benar2 “trlalu imut utk di galaki” :p LOL
    ahaha sip sy suka ff nya, dtmbah genre nya+main cast nya bebeb sy. jd apapun ff nya asal main castny bang dubu psti saya suka😉 btw mian g bisa kasih saran atau apapun itu krna sy sudah cukup enjoy mmbaca ff ini, jd sy g bsa ngsih kritikan dan smcamnya, dtmbah sy emg g trlalu mnguasai ilmu soal ketik mngetik dan penulisan ^^ #banyak bacot bgt nih orang
    oke, keep writing, maaf telat yah thor ngasih comment nya,🙂
    Hwaiting !!😀
    *melancong ke part II*

  12. JinKi terlalu banyak bertanya, untung saja Alecto tersebut tak terlalu galak.
    Author masih ada typho 3000 atau 300 tahun. Hanya ada 2 saja typhonya author

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s