[FFP 2013 – 2] Psyche

Main Cast        : Minho and Mara

Support Cast   : -none-

Length             : -drabble-

Genre               : Fluff

Rating            : General

Summary         : Kami tidak bicara mengenai diri kami. Kami bicara tentang Andromeda dan Zeus. Kami tidak bicara melebihi itu.

A.N                 : I am, to tell you the very truth, is a huge fan of Minho and Key together because they are so cute.

 

Ada alasan mengapa Mitologi menghilang—a, karena itu sangat tidak mungin; b, karena tidak ada yang menceritakannya lagi. Orang tua tidak lagi menidurkan anaknya dengan cerita bagaimana Athena dilahirkan, atau kehebatan Heracles. Mereka menceritakan hal seperti Putri Tidur atau Alice di Negeri Ajaib; yang sama tidak logisnya dengan mitologi.

            Mitologi sekarang hidup di dalam lembaran buku, baik diubah menjadi literature contemporari, atau hanya diam di situ, menunggu seseorang yang penasaran untuk membacanya.

            Di Seoul, ada sebuah toko buku kecil yang menyewakan dan menjual buku-buku lama. Aku sangat menyukai pergi ke sana. Rak-rak bukunya menjulang hingga ke langit-langit yang berisi buku-buku teraneh dalam peradaban manusia. Aku menghabiskan banyak waktu di sana, baik itu membaca-lalu-kulupakan atau benar-benar menganalisa buku.

            Lama-lama aku punya teman untuk bicara di sana. Kami bicara dengan suara yang kecil agar tidak mengganggu pembaca yang lain. Kami bisa berbicara tentang Ariadne atau Medusa berjam-jam.

            Aku tidak tahu namanya selama tiga minggu meskipun kami bicara panjang lebar tiap kali kami bertemu.

            Minggu keepat, ia memberi tahuku bahwa namanya Kang-ho. Aku percaya saja.

            Kami tidak bicara mengenai diri kami. Kami bicara tentang Andromeda dan Zeus. Kami tidak bicara melebihi itu.

            Minggu ketujuh, ia memberi tahuku bahwa aku satu-satunya teman wanita miliknya,

            Lama-lama, kami mulai topik tentang diri kami. Seperti, warna favorit kami. Aku memberitahunya bahwa aku paling menyukai merah darah dan ia bilang ia paling suka warna biru aqua mutiara. Aku tidak tahu ada warna seperti itu sebelumnya sampai tangannya mengulurkan—lewat celah di antara buku—sebuah kue mangkuk dengan fondant berwarna biru aqua mutiara.

            Ia berkata ia jelek. Katanya ia adalah korban salah susunan genetic. Aku percaya saja.

            Aku mengatakan padanya bahwa aku seorang mahasiswa biasa—yang merupakan kenyataannya. Aku pikir ia percaya saja.

            Minggu kedua-belas, kami bertukar nomor telepon.

            Ia bilang bahwa ia tidak akan bisa ke toko buku itu untuk beberapa saat. Tapi ia berharap bisa tetap dekat denga mitologi. Aku percaya saja. Kami bicara di telepon berjam-jam. Saat aku yang menelepon duluan, ia selalu membelikanku pulsa setelahnya. Aku tidak tahu mengapa ia melakukannya.

            “Apa yang kau lihat dari seseorang?”

            Aku membalik satu halaman lagi dari Iliad. “Aku tidak terlalu memperhatikan orang-orang.”

            Ia bergumam. “Apa yang menarik tentang orang?”

            Aku menaikkan satu alis. “Aku tertarik dengan kebiasaan, kepribadian, dan semacamnya.”

            “Bagaimana dengan penampilan?” Ada nada penasaran dalam suaranya.

            Aku tergelak. “Ada apa dengan penampilan?”

            “Orang-orang membicarakannya. Apa kau pernah melihat para idol? Mereka tidak terkenal karena musiknya.” Katanya.

            “Benar,” Jawabku.

            Aku berkonsentrasi pada cerita Andromeda. Aku membacakannya sedikit untuknya. Ia bergumam karena senang.

            “Mara, apa kau suka kepribadianku?”

            Aku berpikir tentang jawabannya. Kang-ho kadang lucu. Ia punya bercandaan yang bagus—candaan yang hanya orang-orang seperti kami yang mengerti; ia pendenger yang baik—karena kadang aku bicara padanya jika punya masalah; ia tahu tentang Prometheus dan fakta bahwa Pandora dititipi phitos dan bukan kotak.

            “Um, kurasa aku menyukai kepribadianmu.”

            Ia menghembuskan nafas dan aku bisa mendengarnya. “Aku juga suka kepribadianmu.”

            Aku tersenyum. Aku tidak tahu aku tersenyum.

            Minggu ke lima belas, ia mengajakku pacaran. Aku mengiyakan.

            Kami bertemu tiap Jum’at malam di toko buku yang sama, bagian yang sama—mitologi dan legenda. Kami selalu bereda lorong. Bahkan saat itu, aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat wajahnya. Tiap sesi “bertemu”; ia sangat menyenangkan. Kami bicara seperti biasanya, kami bicara tentang diri kami lebih banyak dari biasanya, kami bicara tentang topik favorit kami—mitologi, paling banyak.

            Minggu ke dua puluh aku sadar bahwa situasi ini bodoh.

            Aku memilih lorong yang bereda Jum’at itu. Seorang temanku memberi tahuku bahwa aku harus membaca sesuatu selain mitologi, maka aku memilik klasik. Bacaan pertamaku adalah Jane Eyre.

            Aku bersumpah ia tidak tahu wajahku. Tapi ia muncul di lorong sebelah.

            “Aku tidak tahu kita sekarang membahas sastra klasik.” Katanya.

            Aku terdiam beberapa saat. Aku sedang membaca bagian yang bagus dari bukunya. Aku sampai pada bab yang lain tapi aku memilih untuk menutup buku.

            “Ayo berhenti melakukan ini.”

            Ia menjawab, “Berhenti apa?”

            “Semuanya. Seseorang memberi tahuku bahwa kau tidak bisa berhubungan berdasarkan ketidaktahuan.” Aku membuka buku itu dan membaca lagi.

            Ia terdiam. Tetapi setelahnya ia berkata, “Aku tidak mau.”

            “Yang kutahu tentangmu hanyalah namamu Kang-ho. Yang kita lakukan hanyalah bertemu tiap Jum’at, bicara, lalu pulang.”

            “Apa itu tidak cukup?” Tanyanya.

            Aku menggingit pipi dalamku. “Aku bahkan tidak tahu kau ini apa.”

            “Katamu kau tidak melihat orang.” Ingatnya.

            “Ya,” jawabku. “Tapi bagaimana aku tahu kau tidak berbohong?”

            “Pergilah ke area membaca. Aku mengenakan trench coat hitam, tinggiku sekitar enam kaki.” Perintahnya.

            Jadi aku ke sana.

            Minggu ke dua puluh, Jum’at sore aku melihatnya.

            Suami Psyche bukan seekor monster, tapi Cupid yang sangat tampan.

            Pacarku bukan seorang korban salah susunan genetic, tapi mahluk tampan bernama Choi Minho.

            Ia bukan Dewa tapi ia dipuja seperti Dewa.

            “Halo, namaku Choi Minho, senang bertemu denganmu. Maaf aku bohong padamu, tapi sama sepertimu, aku tidak terlalu melihat orang.”

            Aku menjabat tangannya. Tangannya halus.

            “Psyche itu cantik,” kataku.

            “Kau cantik dalam pikiran.” Katanya sembari tersenyum.

Kepada author ff ini, dimohon untuk tidak membalas komen dahulu sampai event FFP ini berakhir

23 thoughts on “[FFP 2013 – 2] Psyche

  1. cerita ini disampaikan menurut sudut pandangnya si Mara aja ya.

    saya sempet ketuker antara si “aku” sbg Mara dan “ia” sbg Minho..

    saya suka ceritanya author-ssi🙂

  2. aaaaa, maniiis.
    aku suka relationshipnya, mirip sama skenario buat ketemu cowok impianku *apadeh*

    nggak bisa komen banyak, karena aku suka dan nggak tau mau kritik apa. Keep writing aja buat authornya ^^

  3. ini model pacaran baru tp seru.. sweet…
    setidakny ini djelasin klo menyukai seseorang itu ga perlu liat tampang.. kalo emang tyata dy ganteng ya itu bonus brati..
    walopun mraktekin hal ky gini agak susah yah…. hahahahahaha
    keren drabble ny🙂

  4. Entah kenapa suka banget sama Mara. Dia cuek dan terkesan cool banget. Ada ya orang pacaran ga saling kenal2an kayak gitu🙂 tapi endingnya so sweet😀

  5. agak bingung.. di awal, mereka kan bertemu.. dan ngobrol
    tapi di akhir mara nggak tau muka nya minho
    sedikit bingung thor

    tp ceritanya bagus

  6. oh jadi begitu ceritaya ya….lucu juga cara perkenalan sampe pacarannya.
    aku sangka Minho gak muncul2 eh rupanya dia nyamar pake nama lain.
    Bagus! Jarang nemu yg kayak gini ^^

  7. Serius, deh. Pengen banget bisa pacaran kayak gity, just like the way Minho and Mara do in this story. Yah…kecuali tentang Andromeda dan Zeus, mungkin bedanya aku enggak akan ngebahas itu karena aku gak ngerti. Ini fanfic ter-favorit aku. Makasih, Author!

  8. Ini FF nya kak Facikan kan ya?
    Serius deh, waktu aku baca ini.. awalnya gak fokus gitu walaupun aku cengangas-cengenges sama topik pembicaraan mereka. Waktu itu aku juga lagi baca2 soal dewa-dewa Yunani gitu

    Dan ya ampuuuunnn… plot twistnya bikin aku meringis gitu hahaha
    kapaaaann aku bisa seberuntung itu xD
    “Kau cantik dalam pikiran.” aku denger Minho bilang gitu pingsan kali hahaha

    Makasih kak atas ceritanya ^^

  9. Kayaknya aku udah jantungan kalo sampe MInho beneran bilang gitu. Gak ke aku deh, ke siapa aja. Dengernya aja udah muampus!! #pletakh
    Just sooooo sweeeeeeeeeeeeeeet~~~~!!!!! xD
    Aku juga mau kalo begitu huweheheh xD

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s