[FFP 2013 – 2] Hieroglif – Part 2

hieroglif

Tittle                : Hieroglif

Main cast         : Lee Onew, Choi Minho, Lee Taemin, Pangeran Jonghyun, Raja Key

Support Cast   : Tuan Onew, Elf Minho, Kurcaci Taemin, Penyihir Jonghyun, Iblis Key, Tuan Choi, Naga Choi, Kim Suho, Kim Joon Myeong

Genre               : Advanture, Fantasy, Supernatural, and Friendship

Length             : Sequel

Rating              : General

Inspired           : Novel of The Mysterious Benedict Society from Trenton Lee Stewart

Note                : Tolong kritik dan sarannya!!

 

“Dunia cermin!” ucap semuanya serentak. “Apa itu nama dunianya?” tanya Taemin.

Tan Choi mengangguk.

“Nama yang aneh,” komentar Taemin dengan bola mata bergerak-gerak, tampak berpikir.

“Jadi apa ada pertanyaan lagi?” tanya Tuan Choi.

 “Ada,” tutur Taemin dengan tenang. “Aku pikir ini sebuah misi yang berbahaya, yang menjadikan nyawamu—satu-satunya yang kau miliki—menjadi taruhan. Apa yang bisa kita dapat jika melakukannya?” tanya Taemin membuat Onew melotot kaget ke arah adiknya.

“Apapun, selama itu masih masuk akal dan kami masih bisa memenuhinya, kami akan memenuhinya. Meski semua itu tak pernah menjadi sesuatu yang lebih berharga daripada sebuah nyawa. Tapi, apa yang akan kalian lakukan sebanding dengan jutaan nyawa yang terancam. Jika tak ada pertanyaan lagi, apa aku boleh meminta keputusan kalian tentang keikutsertaan kalian dalam misi ini?”

“Tentu saja aku ikut. Aku suka petualangan. Aku adalah misionaris yang punya jiwa nasionalisme yang tinggi. Aku tak mungkin membiarkan seseorang menghancurkan nama baik negeri ini,” jawab Minho cepat.

“Aku ikut. Aku tak mungkin melewatkan kesempatan emas untuk mendapatkan sebuah peluang luar biasa,” sambut Taemin setelah berpikir sedikit lama. Untuk menjadi kaya dan memperbaiki kehidupannya, imbuh Taemin dalam hatinya.

“Dan kau Onew?” tanya Tuan Choi yang melihat Onew yang tampak enggan menjawab.

“Aku … aku … tentu saja, aku ikut,” ucap Onew yang beripikir lebih lama dari yang lain. Sebenarnya dia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri dan menekan ketakutannya. “Aku tak bisa membiarkan jutaan nyawa melayang.”

 “Baik, persetujuan sudah didapat. Jadi, apa yang harus kami lakukan sekarang, Tuan Choi?” tanya Minho yang tak sabar memulai pertualangannya.

Tuan Choi mengeluarkan sebuah buku besar, bersampul hitam pekat dan agak lusuh yang diletakkannya di sebuah meja yang tengah mereka kelilingi.

Onew bicara, “Dunia Cermin.” Dan seketika semua orang memandangnya dengan alis mengerut. “Itu yang tertulis di sampul,” jawab Onew cepat.

“Bukalah!” perintah Tuan Choi.

Dan, pada saat itu tampaklah ketakutan di mata Onew dan Taemin, mereka berdua saling menatap dengan keragu-raguan dan kekhawatiran yang besar, tentu saja kecuali Minho—yang belum mengetahui tentang Suho dan belum sempat mengenalnya juga—ia justru tampak sangat penasaran. Onew menatap buku itu dengan saksama, merasakan jantungnya berdegup dan tenggorokannya kering secara ajaib, dan dengan sangat perlahan, juga sedikit gemetar tangan Onew yang dingin mencoba menyentuh buku itu—yang bisa saja mengambil nyawanya sewaktu-waktu, atau bahkan ketika ia berhasil menyentuhnya, sedangkan Tuan Choi sedikit geli juga merasa bersalah melihat ketakutan mereka.

“Kau lama sekali. Sini, biar aku yang buka!” Tiba-tiba Minho menyambar bukunya dengan kesal dan dengan sigap membuka lembar pertama yang sontak membuat Taemin dan Onew menutup mata mereka dengan takut—seakan-akan ada seekor singa yang keluar dari buku itu yang siap menerkam mereka. Sesaat mereka tetap seperti itu, tak berani sama sekali melihat ke balik tangan-tangan mereka, tetapi, setelah hampir satu menit berlalu dan tak ada yang terjadi, atau tak ada suara pekikan atau apapun yang mengerikan, dengan sedikit ragu dan takut mereka membuka mata, mendapati Minho yang tengah mencoba membaca hieroglif dengan serius, wajahnya penuh kerutan dan penuh kefrustasian yang nyata. “Apa ini? Aku tak mengerti. Hei, kau bisa membacanya, kan?” serunya dengan kesal pada Onew.

Onew mengembus napas lega, lalu membaca dengan perasaan setengah was-was, “Jangan melihat dari sisimu, tapi lihatlah dari sisi yang lain. Apa maksudnya?” Dan rasa ketakutan itu pun dengan segera teralih dengan kebingungan.

“Itu teka-tekinya. Suho mati karena teka-teki itu. Aku lihat dia sepertinya gagal memecahkannya dan dengan kesal membuka lembar selanjutnya dan membacanya. Karena itu dia meninggal,” ungkap Tuan Choi masih terlihat bersalah.

“Meninggal?!” pekik Minho terkejut. “Ada—ada yang meninggal?” Matanya membulat penuh. “Karena itukah kalian begitu takut membuka buku ini?”

Keduanya mengangguk cepat.

“Ya, ampuuun!” keluh Minho dramatis.

“Jadi, apa jika kita bisa menebak teka-teki itu kita tidak akan mati?” tanya Onew.

“Tentu saja. Raja bisa memecahkannya dan dia hidup. Aku rasa teka-teki itu hanya panduan yang disamarkan saja,” jawab Tuan Choi tenang.

“Baiklah, ayo kita pikirkan!” ucap Taemin dengan semangat lalu ada jeda beberapa menit dalam diam hingga tiba-tiba Taemin memekik dengan girang, “Ha! Sepertinya aku tahu. Mungkin maksudnya kita harus membaca dari balik lembar ini.”

“Suho sudah melakukannya. Kau tak mendengarnya? Jika kau ingin mati, tolong jangan ajak aku, mengerti?” ucap Onew sarkastis.

Taemin memanyunkan bibirnya dan akhirnya bersungut-sungut sendiri.

“Mungkin maksudnya kita harus membacanya dari bagian belakang,” usul Minho.

“Tidak, itu telalu berisiko. Aku pikir tidak begitu. Tidak mungkin teka-tekinya semudah itu,” balas Onew

“Baik. Jika ini memang sulit, aku akan memberikan waktu untuk kalian berpikir. Tapi aku harap tidak terlalu lama.”

Yang lain mengangguk mengerti dan pertemuan hari itu diakhiri pada detik itu juga.

________

Semalaman Onew hampir tidak bisa tidur karena teka-teki itu, karena itu keesokkan harinya ia merasa cukup mengantuk di sekolah. Hari-harinya terjadi seperti yang semestinya, bahkan mungkin harusnya terasa lebih baik karena tak ada yang mengoloknya atau tak perlu merasa tertekan menjadi seseorang yang pintar. Tapi, tetap saja, itu tak membuatnya sedikit pun lega. Ia kasihan pada Suho, merasa miris. Ia  bahkan mulai frustasi, merasa bodoh karena tak kunjung mendapatkan titik cerah atas teka-teki itu. Pada akhirnya, ia berpikir untuk mengistirahatkan otaknya beberapa waktu sebelum kembali berpikir dengan keras. Setidaknya, Tuan Choi tak mengatakan batas waktu yang diberikannya untuk memecahkan teka-teki itu. Jadi, Onew pikir dia bisa berleha sebentar saja. Ya, hanya sejenak.

Keesokkan harinya ia terbangun dan memulai rutinitasnya lagi dari awal. Mandi, memakai seragamnya yang lusuh dan bercermin. Cermin,  pikirnya. Ketika melihat pantulan dirinya sendiri di sana dan pantulan deret-deret huruf serta angka yang memenuhi tembok kamarnya ia memikirkan sesuatu. “Dunia cermin. Dunia yang terbalik. Sisi lainnya,” gumamnya. Sesaat diam, hening, dan tiba-tiba matanya melebar dengan penuh gairah.

________

Pada sebuah meja di antara sofa-sofa putih yang bisa mereka duduki tampak wajah-wajah yang begitu serius, tak luput satu pun dari kelimanya. Hening sesaat, lalu Onew memulai, “Begini. Kita lewati bagian bagaimana aku bisa mengetahuinya. Yang aku tahu, jawabannya adalah cermin. Di buku ini disebutkan,”—Onew menunjuk tulisan teka-teki tersebut—“bahwa, jangan melihat dari sisimu, tapi lihatlah dari sisi yang lainnya. Menurutmu di mana sisi yang lain itu?” Onew melirik ke arah orang-orang di sekitarnya sambil mengulum senyum. Tapi tak ada yang dapat menjawab, berusaha mencoba berpikir sebentar lalu pasrah, bahkan di antara mereka ada yang tak mau berpikir sama sekali, hanya menunggu Onew bicara untuk memperjelasnya. Ya, mungkin di antara kalian tahu siapa. “Cermin! Bayangan yang terbalik. Kita harus membacanya terbalik. Setiap kata harus kita baca dengan terbalik!” terang Onew antusias.

“Oh, benar!” ucap Minho lebih semangat, hampir memekik dengan girang, namun dengan cepat kegembiraan itu menguap. “Tapi—“

“Tapi, apa kau yakin? Jika tebakanmu salah kau bisa mati,” Tuan Choi memperingatkan.

Onew mengangguk dengan mantap. “Tentu.”

“Ayo kita coba!” ajak Taemin yang tak kalah semangat.

Minho dan Tuan Choi saling pandang, agak ragu dan cukup khawatir. Ini hanya bisa dicoba sekali, jika gagal, ya, kautahu sendiri. Tapi, Onew tak gentar, sama sekali, sama halnya seperti Taemin. Entah apa yang ada di pikiran anak kecil itu, ia tampak tak khawatir atau bahkan tak peduli bahwa ia bisa saja kehilangan satu-satunya kakak yang ia miliki.

Tuan Choi berdiri dengan agak ragu-ragu lalu berjalan, membuka sebuah pintu berwarna cokelat dengan empat orang anak yang mengikuti, memasuki sebuah ruangan yang menjadi saksi kematian Suho. Itu adalah ruangan berukuran sedang yang berisi beberapa meja dan kursi di sudut-sudut, yang diisi oleh buku-buku yang bertumpuk dan menjulang ke atas, di lantai ada buku-buku yang lebih banyak berserakan. Tapi, di sana ada sebuah benda yang berbeda sendiri, sebuah cemin besar berbentuk persegi panjang dengan bentuk melengkung di bagian atasnya, pada tepiannya terukir bentuk-bentuk yang rumit dan terbuat dari perak. Benda itu tampak cukup tua namun terlihat sangat mahal. Dan, di hadapan benda itulah mereka berdiri sekarang, mengernyit dan saling bertatapan dengan kebingungan.

“Emm, apa yang akan kita lakukan di sini?” tanya Minho.

“Ini gerbangnya,” ucap Tuan Choi seraya menunjuk sang cermin.

“Apa?!” pekik mereka bertiga serentak.

“Jalan mana lagi yang bisa digunakan untuk masuk ke Dunia Cermin? Cermin menuju Dunia Cermin.”

Tampang semuanya berubah drastis menjadi sangat tegang dan serius. Bahkan, Taemin pun tak bisa mengelak bahwa ia berdebar-debar, hanya saja, ia berharap tak ada yang bisa mendengar suara deru jantungnya kecuali dirinya sendiri.

Onew mulai membuka lembarannya dalam keadaan mata tertutup, setelah itu ia mulai mengintip perlahan dengan sebelah mata. Menetralkan rasa takutnya dan mulai merapalkan kata-kata yang tertulis di sana, di balik cermin. Dan, dengan penuh keteguhan—tangannya ia arahkan ke arah cermin, dan … waw! Tangan Onew menembusnya!! Dengan terbelalak mereka tak bisa memercayai, dan Onew yang merasa jantungnya berhenti segera tersadar, menarik tangannya dengan cepat—takut tertarik ke dalamnya seperti lubang hitam yang menghisab setiap benda yang mendekatinya—lalu menatap bergantian mata-mata yang menatapinya dengan takjub, setengah tak percaya.

“K-kau berhasil, Kak,” ucap Taemin. Terdengar antara campuran dari nada bangga dan tidak percaya. Ia melongo dan Onew hanya mengangg kaku, sama-sama sulit memercayai.

“K-kita … kita berhasil!” teriak Tuan Choi akhirnya tertawa dengan heboh dan lainnya bersorak dan melompat-lompat seperti seekor kanguru, tapi Onew tampak tak segirang yang lain, tentu saja, dia baru saja mempertaruhkan nyawa satu-satunya, jadi, ia lebih memilih diam dan tersenyum saja, benar-benar merasa lega. Tapi, kegembiraan itu dengan cepat terhenti tatkala terdengar kegaduhan di luar, di pintu masuk perpustakaan. Seseorang berteriak, dan mereka semua—terkecuali Tuan Choi—segera menatap ke arah pintu yang tertutup tanpa menyadari perubahan warna muka Tuan Choi yang menjadi pucat pasi. Ia mulai menggigit bibinya dan … BRAK!! Pintu yang mereka pandangi terbuka dengan kasar beriringan dengan suara yang menyakiti telinga dan menghantam jantung, membuat berdebar yang mendengar karena terkejut.

Sekarang, di ambang pintu tampak seorang lelaki. Ia tampan, rapi, berpakaian necis dan berbeda, dan yang terpenting adalah warna wajahnya, merah. Bukan, bukan karena wajahnya memang merah, atau sengaja ia merahi dengan cat, tapi karena darah di seluruh tubuhnya sedang bermarathon untuk memenuhi isi kepalanya. Ia tampak cukup menyeramkan, apalagi dengan matanya yang melotot ke arah Tuan Choi. “Tuan Choi!”

Dan di tempatnya, Tuan Choi yang berdiri gemetaran hingga tersentak hebat hingga tubuhnya menegak dan kaku seketika. Orang-orang yang berada di sekitarnya pun segera mengalihkan pandangan padanya, menatap dengan penuh tanya. “P-pa-pangeran,” ucap Tuan Choi dengan takut dan tergugu, mampu membuat mata-mata yang menatapinya kembali kepada tatapan awal mereka—seorang lelaki yang tampak marah luar biasa—dengan takjub (belum ada satu pun dari mereka yang pernah melihat anggota keluarga kerajaan secara langsung, sekalipun Minho). Bagi mereka, orang-orang seperti itu adalah orang-orang istimewa yang hidup di dunia yang berbeda, seperti kerajaan yang mereka anggap sebagai surga dunia, yah, kecuali Minho yang tak terlalu suka dengan sebuah bangunan, besar maupun kecil.

Minho bukannya benar-benar membencinya hingga tak mau tinggal di dalamnya. Ia hanya benci jika tempat seperti itu dianggap berlebihan, dan dijadikan beberapa orang sebagai tempat yang istimewa hingga bagi mereka dunia luar bukanlah hal yang luar biasa, atau bahkan bukanlah hal yang baik untuk dikunjungi.

Dan, di belakangnya, berselang beberapa milisekon, muncul beberapa penjaga yang wajahnya tampak cemas. Mereka muncul dengan cepat dan segera mengelilingi Pangeran, mengajaknya keluar dengan—berusaha tegas—takut-takut. Mereka adalah para penjaga yang ditugaskan untuk menjaga pintu ruang perpustakaan. “Pangeran, ayo keluar. Mereka harus—“

“Biarkan aku di sini! Kalian tidak dengar? Tinggalkan aku … SEKARANG!!

Seketika para penjaga itu menegang tubuh. Otot-otot mereka menjadi kaku, begitu juga otak mereka. Mereka kebingungan, bahkan hingga beberapa detik kemudian ketika kesadaran sudah memenuhi mereka mereka tak jua kunjung bergerak. Bukannya apa-apa, mereka hanya merasa takut dan serba salah. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Mereka bingung. Yang satu mentitahkan agar tak membiarkan seorang pun masuk dan mengganggu, terkhusus Pangeran sendiri, dan yang lainnya memaksa merangsek masuk dan menatapi mereka dengan tatapan kejam hingga mereka ketakutan. Jadi, sekarang yang bisa mereka lakukan adalah menatap ke arah Tuan Choi, berharap orang itu berubah pikiran, karena mereka sendiri sudah kewalahan dan ‘angkat tangan’ atas kekeraskepalaan Pangeran.

Tuan Choi berkedip-kedip dan mengangguk dengan takut, mengisyaratkan mereka semua—para penjaga itu—untuk membiarkan Pangeran, dan juga membiarkan diri mereka sendiri pergi, meski tak seharusnya tak begitu. Ya, dia lebih memilih untuk menangani Pangeran sendirian, atau bahkan meski ia sudah tahu bahwa ia akan gagal total.

Tuan Choi membungkuk dengan hormat ke arah Pangeran yang masih berdiri di ambang pintu dengan murka yang sama sekali belum mereda, dan yang lainnya dengan ragu-ragu mengikuti tingkah Tuan Choi, khususnya Taemin. Dan di saat itu, Pangeran mulai berjalan ke arah mereka, tepatnya ke hadapan Tuan Choi, tampak seperti ingin bergelut dengan tatapan menantang, dan di saat itu juga mereka semua secara serentak mengangkat kepala dan menatap satu titik, seseorang yang sudah berada di antara mereka.

Sang Pangeran terdiam lebih dahulu, menatap dan meneliti wajah mereka satu-satu—kecuali Tuan Choi yang tentu saja sudah ia kenali, bahkan ketika ia masih bayi—lalu kembali menatap seseorang yang sepertinya akan ia cincang-cincang. “Apa ini? Kau sudah memulai misinya? Tanpa aku? Berani sekali kau!”

“T-tidak, Pangeran. Tidak seperti yang Anda pikirkan. Kami hanya memulai lebih dulu, mencoba memecahkan teka-tekinya untuk membaca mantra yang tepat agar kita bisa masuk ke gerbang Dunia Cermin,” sanggah Tuan Choi, kali ini lebih tenang.

“Jadi, apa sudah berhasil?” tanya Pangeran yang skeptis dan berniat memaki jika mendengar jawaban ‘tidak’.

“Y-ya, Pangeran. Onew sudah memecahkannya,” ucap Tuan Choi sambil mengangguk, tanpa mau menatap Pangeran.

Tiba-tiba, wajah merah Pangeran—yang sebenarnya sudah tak semerah tadi dan tampak sudah lebih tenang—menjadi bersinar. Wajahnya yang beringas bermetamorfosa menjadi senyuman indah penuh kebahagiaan, juga dipenuhi harapan yang membumbung. “Benarkah?!” tanyanya untuk mengkonfirmasi. Ia benar-benar hampir tak bisa memercayainya.

“Ya,” sahut Tuan Choi cepat.

“Siapa Onew?” tanya Pangeran segera, dengan sumringah.

Onew segera mengangkat tangan, meski cukup ragu-ragu karena canggung, lalu segera disambut oleh pelukan hangat—yang sebenarnya sangat erat hingga membuat Onew sulit bernapas dan benar-benar sesak. “Oh, terima kasih, Sobat. Kau yang terbaik,” ucap Pangeran penuh rasa syukur yang dalam.

“Oh—oh, iya. Ta-tapi, bisakah … Anda melepaskan pelukannya? Aku … aku tak bisa bernapas,” keluh Onew dengan susah-payah, dengan nada tercekik.

Pangeran terdiam sedetik dan segera melepaskan Onew dengan rasa bersalah yang muncul di permukaan wajahnya, meski begitu, cerah kebahagiaannya tak luntur sama sekali. “Maaf, aku terlalu bersemangat dan senang,” ucapnya lalu nyengir.

Onew hanya mengangguk maklum dalam kegiatannya mengatur napas.

“Jadi, kapan kita bisa masuk ke dalam Dunia Cermin dan menyelamatkan ayahku?” tanya Pangeran kemudian—dengan semangat yang sama sekali belum berkurang, bahkan lebih condong bertambah.

“Maaf, Pangeran. Kita tidak bisa memulainya sekarang, atau setidaknya tidak hari ini,” ucap Tuan Choi dengan sedikit rasa bersalah karena mematahkan harapan dari orang di hadapannya, setidaknya itulah yang terbaca dari mata Pangeran yang berbinar-binar penuh semangat berubah menjadi kecewa. “Saya tak bisa memastikan kapan kita bisa memulai. Ini tergantung persiapan mereka, dan sedangkan masih begitu minim informasi yang kita miliki. Ini adalah misi yang sangat berbahaya, tentu kita tak boleh tergesa-gesa dan gegabah dalam menjalankannya. Salah-salah bukan hanya gagal, tapi mereka termasuk Anda pun bisa-bisa tak kembali. Tapi, Pangeran, aku serius dengan ini, dan meski kita sudah berdialog begitu banyak dan mengulangi kata-kata yang sama berulang kali, tapi saya benar-benar khawatir. Apa Anda yakin akan ikut dalam misi ini? Anda tahu apa konsekuensi yang akan Anda terima jika gagal, bukan? Dan lebih dari itu, negeri ini tak memiliki pengganti sebagai pewaris tahta,” ucap Tuan Choi khawatir.

“Aku tahu kau berniat baik. Tapi, bagaimanapun yang terkurung di dunia asing itu adalah ayahku. Ayahku yang sebenar-benarnya. Ayah kandungku, Tuan Choi. Bagaimana mungkin aku membiarkannya, atau setidaknya berdiam diri, menonton dengan perasaan gusar. Aku tidak bisa begitu. Lagi pula, Iblis Key, dia tak pernah tua, jadi jangan berharap terlalu banyak agar dia cepat mati, karena aku selama ini pun tak pernah mendengar keluhannya akan rasa sakit atau penyakit, karena ia lebih suka mengeluh atas sesuatu yang tak ia sukai atau rasa tak puasnya. Dia iblis yang cerewet. Aku tak suka dikurung di sini bersamanya.”

Tuan Choi menghela berat. Ia menyerah dan pasrah. Ia benar-benar berharap bahwa misi ini akan berhasil dan berjalan dengan lancar, atau setidaknya, mereka semua bisa kembali dengan selamat, tak tertinggal satu pun. “Baiklah. Aku mengerti.”

Pangeran bersuara, “Aku pikir kita dalam keadaan yang buruk dan memang benar-benar harus bergegas atas misi ini, kalian pasti sudah tahu masalah perang itu.” Orang-orang mengangguk. “Itulah alasannya, aku minim dalam pengalaman mengenai peperangan atau politik kerajaan. Jadi, daripada berdiam diri aku akan menjadi bagian persekutuan rahasia ini. Dan, sekarang aku akan memulainya dengan memperkenalkan diriku pada kalian. Kenalkan, aku Kim Jonghyun, satu-satunya pangeran, dan satu-satunya pewaris tahta, yang sebenarnya aku pribadi tak terlalu menyukainya jika memikirkan itu. Sesungguhnya itu adalah tanggung jawab yang besar dan berat. Aku harap aku bisa membantu kalian dan benar-benar berguna.”

Semua tersenyum dengan tulus.

“Dan,” lanjutnya, “kumohon, kalian tak perlu memanggilku dengan sebutan Pangeran. Kita ini adalah tim, ingat? Kalian sudah tahu namaku, tidaklah berdosa jika kalian memanggilku dengan nama saja, karena aku memang lebih nyaman dengan sebutan itu.”

________

Terlalu banyak yang harus dipersiapkan dengan matang, sedangkan Tuan Choi sendiri bingung karena tak benar-benar memiliki pengetahuan tentang apa itu Dunia Cermin dan apa yang ada di dalamnya. Semua tercatut di dalam buku tua itu, ia buta akan hieroglif, jadi ia putuskan untuk membuat anak-anak menginap dan membiarkan mereka bekerja di dalam istana, mempersiapkan mental dan saling bicara. Setidaknya mereka harus mengenal lebih dekat satu sama lain dan berdiskusi atas apa yang akan mereka hadapi. Karena itu mereka bertiga diberi kamar yang sama, sebuah ruangan besar yang berisi empat ranjang, empat kursi, empat meja, serta beberapa rak dan lemari. Ruangan itu benar-benar tampak seperti kamar asrama, hanya saja di sana terkesan jauh lebih baik karena tak ada ranjang susun, serta barang-barang yang polos. Semua barang yang terpajang termasuk perkakas pun tampak sangat mahal. Berbagai polesan dan ukiran terpatri di setiap sudut atap, pintu, meja, bahkan ranjang.

Malam sudah menjelang, dari sebuah jendela yang masih terikat tirainya, tampak seonggok bulan besar kekuningan menggantung di langit cakrawala yang berwarna hitam dari kaca jendela yang besar—yang hampir memenuhi satu sisi ruangan besar tersebut. Di kursinya Onew menghabiskan waktu dengan membaca buku tua itu. Keningnya mengerut, mulutnya bungkam, tatapannya tajam, dan embus napasnya terdengar tenang. Meski pada sisi lain ruangan sekelompok anak tampak asyik berbincang, hanya terdengar bagai suara angin malam yang berembus bagi Onew yang penuh pikiran.

“Hei, apa dia baik-baik saja? Sejak memasuki kamar ini aku lihat dia tak bergerak dan bersuara sama sekali,” ucap Minho sambil berbisik ke arah anak yang duduk di sekitarnya.

“Biarkan dia. Jangan urusi dia. Begitulah sifat orang pintar. Membosankan,” respon Taemin cuek.

“Hei,” sergah Jonghyun. “Dia bukan pintar, dia genius!” bantahnya.

“Terserah. Yang pasti tidak terlalu menyenangkan memiliki kakak seperti itu. Dia lebih menyayangi buku daripada aku. Kautahu, dia memperlakukan buku seperti barang mewah, menjaga dan mencintainya, tetapi dia mengomeliku ketika aku bicara. Dia menyebalkan,” gerutu Taemin pada akhirnya.

“Harusnya kau bersyukur atas anugerah yang dimiki saudaramu, Taemin,” protes Jonghyun, yang disetujui oleh Minho melalui anggukan.

“Aku akan bersyukur kalau kegeniusan itu ada padaku, tahu,” ucapnya dengan iri, lalu mendelik sebal ke arah kakaknya.

“Tapi,” Jonghyun melihat ke arah Onew dengan simpati. “sampai kapan dia akan begitu?”

Taemin hanya menggendikkan bahunya dengan cuek.

Bulan beredar begitu juga bintang dan matahari yang sedang bersembunyi di balik sisi bumi yang lain. Detak jam terdengar sama dalam hentakkannya yang hampa, dan jarum-jarumnya berputar dengan semestinya. Mata-mata nocturnal terbuka dengan lebar, sedangkan yang lainnya terlelap dalam tidur mereka yang nyenyak, dengan selimut hangat, atau bahkan ditemani suara napas mereka yang kuat, yang terdengar mengganggu untuk sebagaian orang. Tapi, masih ada saja orang yang enggan untuk mendekati ranjang, begitu juga Onew, masih terpekur dengan buku yang sama, dalam waktu yang terus berlalu hingga tak ada suatu suara lagi yang mengganggu, sama sekali, dan Jonghyun, dia sudah kembali ke kamarnya sendiri, tertidur pulas di sana.

________

Pagi ini, setelah menyelesaikan sarapan di sebuah meja yang besar dan panjang, yang diisi oleh berbagai macam makanan di atasnya—yang biasanya hanya digunakan oleh dua orang setiap harinya, itu pun dengan penuh kekakuan dan kekosongan. Duduk berhadapan tanpa pembicaraan, pada kursi-kursi mereka yang berada pada setiap ujung meja yang panjang itu, memberikan jarak yang begitu jauh—lalu mereka membersihkan diri, hingga pada akhirnya mereka kembali ke tempat pertemuan rahasia mereka yang biasa, sebuah perpustakaan yang cukup besar. Di sana, Tuan Choi sudah menunggu mereka.

Mereka lagi-lagi duduk di kursi yang sama. Banyak hal yang harus diuraikan mengenai buku yang ia baca habis-habisan tadi malam, tapi sebelum itu, Tuan Choi tampak menatap Onew begitu lekat. “Onew, kenapa wajahmu? Kautampak benar-benar berantakan.”

“Dia tak tidur semalaman, Tuan Choi,” sahut Minho yang memang tidur paling akhir dan bangun paling awal itu, dan meski itu hanya terkaan yang sudah Minho pastikan dan membuat Onew memandang Minho takjub.

“Kenapa tak tidur? Kau tak bisa tidur karena tak nyaman, atau kau rindu orangtuamu? Atau kau kepikiran tentang misi ini?” tanya Tuan Choi yang sebenarnya cukup khawatir.

Onew menggeleng lemah, sebenarnya agak merasa pusing, juga cukup mengantuk. Ia hampir kehabisan energi di pagi hari karena membaca dan mengolah informasi yang dilakukannya dalam waktu bersamaan, semalaman suntuk. Ia tidak bisa tidur, memang. Bagaimana bisa? Bukan hanya karena misi, tetapi kata ‘perang’ itu membuatnya tertekan. Ini bukan menyangkut nyawa satu orang saja, yaitu Raja sendiri, melainkan ribuan, atau bahkan jutaan nyawa diluar negeri mereka. Entah bagaimana ia merasa semuanya adalah tanggung jawabnya, yang memaksanya untuk bekerja lebih keras dari yang lain, karena Onew pun sadar, hanya ia yang bisa membaca Hieroglif itu. Hanya dia! “Aku hanya berusaha menyelesaikan membaca buku ini lebih cepat, dan mencari tahu sesuatu.”

“Kau tak perlu memaksakan diri. Kita memang perlu bekerja keras, tapi istirahat juga bagian terpenting dari sebuah misi,” Jonghyun memeringatkan.

“Baiklah, dalam pencarianmu atau kau bisa sebut saja pembelajaranmu dalam buku ini, apa yang sudah kau dapat?” tanya Tuan Choi.

“Banyak hal, bahkan terlalu banyak dan begitu sulit untuk dijabarkan. Kata-katanya cukup berbeda—em, ya, berbeda, tapi maksudku ada makna di dalamnya. Kurang lebih seperti teka-teki yang menjadi halaman pembuka. Sebenarnya aku setuju bahwa teka-teki pembuka itu adalah sebuah panduan—persis seperti kata Tuan Choi—bahwa kau harus membacanya dengan benar.”

“Jadi, apa semua berisi tentang teka-teki?” tanya Minho yang sebenarnya menyukai teka-teki meski tak selalu sukses mendapatkan jawaban.

“Tidak juga. Mereka lebih sederhana, tetapi di setiap kalimat memiliki makna yang tersembunyi. Buku itu memiliki banyak informasi, hanya saja cara penyampaiannya lebih sederhana. Seperti sesuatu yang besar namun kausimpan dalam sesuatu yang kecil.”

“Bisa beritahu apa itu?” tanya Jonghyun.

“Seperti, kalimat ‘Dunia cermin, tempat di mana kau menemukan dirimu dalam sosok yang berbeda. Jangan berpikir bahwa dia akan benar-benar sama, atau benar-benar berbeda, karena di sana hanya hati yang bercermin’.”

“Itu terdengar seperti, ya, teka-teki, jadi apa yang membuatmu mengira itu terdengar lebih sederhana? Tapi, aku pikir aku mengerti sedikit. Arti dari ‘tempat kau menemukan dirimu dalam sosok yang berbeda’ adalah, kembaranmu adalah sesuatu yang berbeda darimu, dalam bentuk fisik, sepertinya. Dan dari kata ‘hati yang bercermin’ adalah di mana kau menemukan sifatmu bisa jadi sangat berbeda dari dunia nyatanya,” terang Taemin.

Semua orang tampak cukup terkejut dengan Taemin. Biasanya dia akan bicara banyak ketika membicarakan sesuatu yang sebenarnya tak terlalu penting. Kata-katanya lebih condong dengan gerutuan, atau cercaan terhadap kakaknya, tapi sekarang, mereka pikir Taemin memang cukup cerdas. Tapi Onew tak kaget, anak itu sebenarnya sangat pintar, hanya saja sangat malas dan cuek.

“Ya, aku hanya menerka begitu. Aku hanya menyimpulkan berdasarkan Iblis Key. Dia bukan manusia dan dia jahat. Bukankah Raja Key itu seorang manusia yang baik?” imbuhnya yang merasa agak risih dilihati oleh beberapa orang hingga begitu rupa, yang sebenarnya tatapan kaget atau kagum.

“Itu memang benar. Dan, aku sudah mencari jalan—em, maksudku cara teraman. Ya, meski kita dalam keadaan terdesak, tapi kita tak boleh tergesa-gesa. Pertama yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan peralatan. Bawa yang benar-benar kita butuhkan, semua yang tak penting justru akan menghambat pergerakan, dan yang terakhir, kita harus … menyamar.”

Semua tergelak, cukup takjub dan benar-benar mengapresiasi apa yang baru dikatakan oleh Onew. Mereka sadar Onew telah bekerja keras, lebih bekerja keras dari mereka, bahkan lebih bekerja keras daripada yang bisa mereka bayangkan dan pikirkan.

“Aku pikir, kau bersikap seperti pemimpin, Onew,” ucap Tuan Choi.

Kali ini Onew-lah yang tergelak. Ia tak sadar sama sekali bahwa ia telah bersikap demikian. Ia menjadi malu dan merunduk. “Maaf.”

“Oh, tidak, tidak begitu, Onew,” sergah Tuan Choi. “Maksudku, kau memiliki banyak hal yang diketahui namun tak kami ketahui, kau memiliki jiwa pemimpin, dan kau begitu bertanggung jawab, kau cermat, kau juga baik. Jadi, aku putuskan kau adalah pemimpinnya, karena yang terpenting adalah, aku pikir kau cukup bijak dan mampu untuk menanggung tanggung jawab ini. Jadi, apa kalian setuju?”

“Sebenarnya aku ingin jadi pemimpinnya. Tapi kautahu, aku pikir aku tak sebijak dia, karena aku sadar, aku tak sebijak dia,” Minho berspekulasi sekaligus memberikan suaranya.

“Aku pikir, akulah yang harusnya menjadi Sang Pemimpin. Kautahu, aku ini memang calon pemimpin sungguhan, tapi kali ini, aku harus mengalah. Kenapa? Karena aku tak mungkin menjadi seorang pemimpin tanpa kemampuan dan pengetahuan. Kalian tahu, aku tak tahu apa-apa tentang Dunia Cermin. Jadi, ya, oke. Menjadi yang mengikuti bukanlah hal yang buruk, kan?” Kali ini Jonghyun yang bersuara.

“Aku hanya anak kecil, dan aku tak pernah berharap. Aku pikir aku tak sepenting itu, bahkan untuk mengeluarkan suara. Kautahu, dua orang ini sudah megatakan ‘ya’, jadi apa gunanya lagi aku bersuara? Menolak juga tidak berguna,” celoteh Taemin, yang sebenarnya cukup tak enak didengar, seperti menggerutu dan menyindir, tapi mereka maklum.

“Baiklah, segala persiapan kita mulai dari sekarang. Kalian bisa buat daftar yang kalian butuhkan agar aku bisa meminta pelayan mencarikannya atau bahkan membuatkannya untuk kalian. Dan Onew, selain membuat strategi atau apapun itu, kuharap kau juga bisa berpikir lurus dengan pikiran dan badanmu yang sehat. Aku tak mau tim ini dipimpin oleh seseorang yang gila kerja, karena bisa saja kelakuan tak sehatmu itu diturunkan pada rekan-rekanmu. Jadi, mulailah dari diri sendiri. Beristirahatlah sekarang,” nasihat Tuan Choi dan diskusi berakhir kali ini.

________

Onew terbaring di ranjangnya saat ini, sedangkan yang lain sudah terlelap sejak beberapa waktu lalu. Ya, ia memang tak bisu tidur, dan sekarang ia menatap ke arah atap-atap putih pucat di atasnya dengan pandangan menerawang, seperti bisa menembusnya dan melihat betapa luas permukaan langit yang berisi begitu banyak planet-planet di sana. Ia berpikir, jika dunia bukan hanya bumi, maka makhluk pun tak hanya berada di bumi. Semesta ini luas, begitu juga pengetahuan.

Sekarang, arah pikirannya mulai berubah, dari langit menuju ke masa depan. Besok apa yang akan terjadi? Seperti apa dirinya di Dunia Cermin? Apa yang ada di sana? Sebenarnya Onew cukup takut, bahwa di sana, seperti yang dikatakan atau seperti yang tertulis: benar-benar berbahaya. Tetapi lebih dari itu, meski ia tak terlalu suka petualangan, ia sangat menyukai hal baru, sesuatu yang tak pernah orang-orang tahu terdengar sangat istimewa di telingannya, dan lebih dari itu, pengalaman, telebih pengetahuan membuatnya cukup bersemangat, meski ada rasa khawatir dan takut. Meski kata ‘bersemangat’ itu sendiri akan terdengar sangat aneh ketika seseorang tahu bahwa dirinya berada dalam bahaya yang sebenarnya.

________

Di ruangan perpustakaan mereka sudah berkumpul di pagi hari, seperti biasanya. Tapi kali ini sangat tidak biasa, mereka berkumpul dengan jubah-jubah mereka yang hitam, yang membuat mereka tampak sangat misterius. Tubuh mereka tertutup, begitu juga wajah—tidak termasuk mata karena itu akan membuat kesulitan.

Sekitar beberapa menit yang lalu orang-orang yang melihat jubah-jubah itu heran, dan Taemin memprotes dengan keras ketika mengetahui bahwa mereka harus mengenakannya. Dia berkata, “Apa ini jubah? Aku pasti tampak sangat jelek dengan ini.” Dan ketika memakainya dia bicara lagi, “Hei, ini kebesaran!” dengan keras. Tapi Onew menyanggahnya dengan membentak karena kesal, “Memang begitu! Itu pun sudah dikecilkan sesuai dengan ukuran tubuhmu. Kau memang kecil. Dan lihatlah kami, ini jauh lebih besar, karena tubuhmu harus tertutup semua.”

Ya, semua dimaksudkan agar identitas mereka tak diketahui, atau setidaknya wajah mereka tak tampak. Mereka mempunyai kembaran di sana, bagaimana jika kembaran mereka adalah orang-orang yang suka membuat masalah dan kerusuhan? Tentu akan memiliki banyak musuh juga, meski tak menutup kemungkinan mereka juga memiliki sekutu. Tapi sekutu yang jahat bukanlah hal yang mereka inginkan, meski juga membantu, tapi lebih berpotensi menimbulkan masalah. Lebih dari itu, bagaimana jika seseorang menemukan dua orang yang sama dalam satu waktu dan satu tempat yang sama? Heboh mendadak! Karena itulah, setidaknya Onew ingin menghindari hal-hal semacam itu, jadi inilah satu-satunya hal yang bisa terpikir olehnya.

To Be Continued ….

Kepada author ff ini, dimohon untuk tidak membalas komen dahulu sampai event FFP ini berakhir

24 thoughts on “[FFP 2013 – 2] Hieroglif – Part 2

  1. udah ketebak si pangeran itu si Jjong^^

    part ini bener2 sambil mikir bacanya, ikutan serius kyk Onew.

    tinggal si Key nih yg belum nongol.

    jadi gk sabar ngikutin petualangan mereka menyelamatkan raja Key..

    suka ceritanya author-ssi, ditunggu bgt lanjutannya ya🙂

  2. haha, saking hati-hatinya Onew, mereka sampe harus menyamar buat pergi ke Dunia Cermin. Well, yeah, he’s the leader anyway. Ceritanya makin keren, hehe. Waiting for the next part😀

  3. Kyaaaaahhhhh~ Bebeb saya onewwww…. Mu mu mu! Sini sy peluk :3 #di lempar ke sumur
    Mama bangga sama kamu nak ! (?)
    Oke ini comment sbenernya.
    Dsini onew djelaskan sbgai sosok pribadi yg pndiam, kutu buku, genius, dan lain-lain , yaa sejenis itulah (?) mskipun sy lbih suka sosok onew yg sangtae, konyol and blah blah blah, tp sy ttp suka kok, dsini dia trlihat keren, bahkan akan terus trlihat keren dmata saya :* #abaikan
    Dan buat taemin,, hadeuuhhh plis dh jgn bikin sya gemes. Pngen bgt nyubit pipinya nih bocah sama ngacak2 rambut jamurnya :3 aigoooo mski nakal dan mnyebalkan tp dsini –mnurut saya- dia malah trlihat lucu dan ngegemesin :3 *ngacak-ngacak rambut si mushroom . Oke pertahankan karakter taeby ygsprti ini yh thor 
    Buat minho,, hmmm sy sdh bsa mnebak pribadinya di fic, dan ternyata Exactly, dugaan sy benar  mskipun sdkit mnybalkan –menurut saya- tp klo disini, sifat ini cocok dgn krakternya #jahat huee maaf bang kodok, tp sy tau kmu itu tampan baik tidak sombong dan rajin menabung ^_^ #abaikan
    Pndeskripsiannya udh lbih pndek lg dr part sblumnya, dan sy smkin mudah mncerna kalimat perkalimatnya😀 yeeyyyy keep applause !!😀 #dilempar kelaut
    Emm mnurut sya sisanya GOOD JOB !! Puas dgn Part ini😀 ga sabar pngen baca Part III nya .
    Maaf saya commentnya telat dan kepanjangan ^^ maaf juga klo comment sya tidak enak dibaca (?) #banyakbacot nih orang -_-
    Okeeee Sukses buat Author, Keep Writing😀
    *melancong ke part III*

    1. oh, my god! ada calon mertua di sini rupanya #digamparMVPsedunia
      yah, saya memang berniat buat karakter mereka yang bener-bener beda.
      hahaha, nggak kok. asal rapi enak-enak aja.
      keep writing! thx!

  4. Part 2 belum mulai petualangannya, tapi udah seru…
    Aku makin suka deh
    Tetep pertahankan penulisanmu yang seperti ini, yah, karena ini yang memperkuat ceritanya
    Taemin setali tiga uang sama sang abang… jenius….
    So, next part bakalan mulai ‘journey’ menuju Dunia Cermin
    Gak sabar…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s