[FFP 2013 – 3] Him Inside – Part 2

Title                 : Him Inside (2 of 5)

Main Cast        : Onew Lee (Lee Onew)

Support Cast   : Choi Minho, Kim Jonghyun, Lee Taemin, Kim Kibum, Lee Jinri (OC)

Length             : sequel

Genre              : Mystery, a bit of Horror, Psychology, Romance, Family

Rating             : PG-15 (sebenarnya bisa SU, sih. Tapi mungkin ceritanya bakal sulit dimengerti. Hehe…

Summary         : Dua bayang putih seakan mendatanginya dan memandang ke arahnya. Apa itu malaikat maut yang siap mencabut nyawanya? Apa dia akan benar-benar mati seperti itu?

 

HIM INSIDE

 

Taemin mendesah pelan. Setelah mengatakan dengan jelas bahwa Onew menginginkan Taemin sebagai pelayan pribadinya, kepala pelayan membebastugaskan Taemin dari segala kewajiban rutinnya. Ia hampir tak pernah lepas dari sisi Onew. Namun ternyata pekerjaan itu malah jauh lebih melelahkan, membuat lelaki itu kembali menghela nafas hanya dengan mengingat apa saja yang telah terjadi seharian itu.

Taemin terpaksa menggantikan Onew untuk berbicara dengan sepasang kembar penipu –setidaknya itu sebutan yang diberikan Onew- agar tidak mengikuti acara jalan-jalan yang sudah direncanakan keduanya. Ia juga harus mengantarkan Onew ke sebuah kantor psikolog terkenal karena Onew tidak suka mengikutsertakan supir dalam perjalanannya. Dan sekarang, ia membawakan makan malam ke atas loteng karena sejak sore tadi Onew menenggelamkan diri dalam usaha pencarian jati dirinya.

Tidak, Taemin tidak terlalu keberatan. Ia hanya merasa bergerak mengkhianati tuan besarnya. Tak bisa dipungkiri bahwa apapun hasil yang didapatkan Onew takkan menjamin terjalinnya hubungan harmonis dengan keluarga kecil itu. Dan satu lagi, ia selalu merinding saat bersama Onew. Bukan karena diri lelaki usia pertengahan dua puluh itu sendiri, melainkan karena adanya sosok-sosok halus yang kadang tertangkap mata Taemin saat menghampiri majikannya itu.

Sama seperti saat ini.

Taemin menahan nafasnya sesaat begitu melihat majikannya terlelap dengan posisi kurang nyaman di sudut ruang loteng. Di sampingnya terdapat sebuah buku catatan biru berukuran sedang yang terbuka. Namun bukan itu permasalahannya, melainkan bayangan lelaki transparan yang hanya menatap sosok Onew Lee dari jarak dua meter sambil berdiri melipat tangan. Sinar mata bayangan transparan itu tampak teduh, sebuah senyum tipis menghiasi bibirnya. Sosok itu hanya diam, lagi-lagi bersama hembusan angin yang berasal dari luar.

Mungkin tidak seharusnya Taemin membawa Onew ke kantor psikolog. Lelaki itu perlu dibawa ke paranormal. Tapi di mana ada paranormal yang memang benar profesional? Atau Taemin malah harus mengecek kejiwaannya sendiri?

Hyung, aku membawakanmu makan malam,” gumam Taemin pelan. Ia tidak berani menatap bayang transparan itu, terlebih saat ia sadar bayang itu beralih menatapnya sebelum hilang begitu saja. Ia kembali menghela nafas berat.

‘Apa memang ada yang salah dengan mataku?’

“Oh, right. Dinner…,” Onew terbangun dari tidurnya lalu menguap lebar. Taemin meletakkan nampan berisi makan malam di depannya. Ia ikut duduk bersila di sana lalu bertanya, “Apa kau menemukan sesuatu, hyung?”

Onew sama sekali tidak keberatan dengan bahasa yang dipakai Taemin. Memang tidak seformal biasanya dan Onew suka itu, malah ia sendiri yang memintanya. Ia menggumam sambil mengunyah lahap makanannya. Tangannya meraih buku  biru yang sejak tadi terbuka lalu berkata, “Aku menemukan catatan ini dan beberapa album foto di kotak coklat yang terletak di sudut loteng ini. Sayang sekali hampir semua fotonya sudah rusak, tak satupun memperlihatkan wajah objek potret. Namun sepertinya buku catatan ini benar-benar menarik…” Onew kembali memasukkan makanan dalam mulutnya dan sibuk mengunyah. Ia melempar salah satu kaleng kopi ke arah Taemin dan lelaki muda itu menangkapnya dengan sigap. Taemin akhirnnya mendapat sebuah media pelepas lelah. Ia menggumam, “Lalu?”

“Aku belum habis membaca buku catatan itu dan aku tidak tahu siapa pemiliknya. Aku harap kau bisa mencari tahu jika otakku benar-benar buntu, tak dapat memikirkan seorang pun yang mungkin menjadi pemiliknya. Di dalam buku ini tertulis dengan amat rinci berbagai hal yang dialami penulisnya, bahkan ada beberapa alamat rumah dan nomor telepon di dalamnya. Aku akan mulai menyelidiki buku ini begitu aku selesai membaca isi keseluruhannya…” Onew meneguk minumannya dan mendesah puas. Ia senang akan kinerjanya seharian ini. Ia memandang ke arah pelayannya yang telah duduk bersenderkan dinding terdekat, wajah pelayannya tampak lelah. Onew tersenyum, “Terima kasih atas bantuanmu hari ini. Kau telah bekerja keras, Lee Taemin.”

Hyung tidak perlu sungkan. Aku hanya dapat membantu sebisaku saja…,” jawab Taemin sambil tersenyum lemah. Ah, mungkin sudah saatnya hari ini diakhiri. Taemin bertekad dalam hati untuk segera mandi dan tidur begitu Onew mau melepasnya nanti. Ia pun berusaha memejamkan matanya untuk sekedar mengistirahatkan diri. Onew mengeluarkan ekspresi maklum, memang banyak yang terjadi seharian ini dan tentu Taemin jadi sangat kelelahan. Ia melahap makanannya hingga tandas lalu kembali bersandar pada dinding penuh debu. Ingatan Onew berputar mengenang seharian ini.

Setelah bercengkrama puas dengan mantan dosen sekaligus guru besarnya, ia kembali pulang ke tempat itu dengan hati yang jauh lebih lapang. Memang menghabiskan waktu sesama ahli psikologi memang sangat menyenangkan. Kemudian suasana hatinya yang tengah baik sempat hancur sesaat begitu pasangan ‘kembar penipu’ mengajaknya untuk berjalan-jalan. Dengan menggunakan Taemin sebagai tameng, Onew berhasil menghindari ajakan tersebut. Ia juga berusaha setengah mati untuk dapat memasuki ruang kerja ‘Pak tua’ itu. Hal yang paling sulit adalah menembus pnjagaan kepala pelayan dan ia berhasil dengan permainan psikologi yang ia berikan. Sayangnya ia tak menemukan apapun yang berarti.  Yang membuatnya tertarik hanyalah bingkai foto yang dibiarkan dalam posisi tertelungkup, bingkai berisi potret mendiang nyonya rumah itu. Onew hanya dapat tersenyum getir saat melihatnya. Dan sekarang di sinilah ia, setelah mencari hal yang mungkin bisa dijadikan petunjuk dalam gudang loteng ini.

Onew bangkit dari duduknya. Ia melangkah sambil membalik-balik isi buku tersebut kemudian membaca dengan alis berkerut.

Kehidupan miskin itu selalu menghantuiku, membuatku muak dan ingin muntah. Aku bnar-benar senang dapat memasuki keluarga ini. Aku tahu betapa beratnya menjadi orang misikin, anak jalanan yang tak pernah dipedulikan. Beruntungnya aku anak tunggal keluarga ini sangat mirip denganku, sakit-sakitan pula. Aku harap ia cepat meninggal sehingga semua latihanku takkan sia-sia. Aku akan dapat menggantikannya….

Onew tak habis pikir saat membaca isi catatan itu. Apa maksud tulisan tersebut?

Putra keluarga Lee ini akhirnya meninggal juga. Syukurlah. Dengan ini aku  bisa hidup tenang dan senang. Sepertinya aku perlu berterima kasih padanya karena telah memberikanku kesempatan hidup menggantikan dirinya, hidup sebagai dirinya.

Onew membelalakkan mata. Ia tak sadar kalau kakinya sudah mulai menapak tangga. Alhasil lelaki itu gagal menginjakkan kakinya pada anak tangga dan akhirnya jatuh berguling-guling dengan suara berdebum yang keras. Semua terjadi dengan begitu cepat. Dunianya serasa berputar, seluruh tubuhnya amat sakit. Begitu bagian belakang kepalanya menghantam keras ujung pegangan tangga, Onew merasakan sakit yang luar biasa. Ia merintih pelan. Bahkan mata yang sudah tak mampu melihat jelas miliknya masih dapat melihat bercak darah di lantai dan tangannya. Dalam hitungan detik pandangan Onew semakin tidak jelas dan ia hanya bisa terbaring pasrah di sana.

Namun saat itu Onew melihat hal yang amat ganjil. Dua bayang putih seakan mendatanginya dan memandang ke arahnya. Apa itu malaikat maut yang siap mencabut nyawanya? Apa dia akan benar-benar mati seperti itu? Onew tidak lagi tahu karena perlahan hanya kegelapan yang mengisi indra penglihatannya.

***

Deru derak angin musim dingin menerpa Kota Seoul, menambah gigil gemeretuk gigi penduduknya yang masih sibuk lalu lalang di senja itu. Jalanan padat seperti biasa. Tiap mobil dipasangi pemanas, menjaga suhu nyaman di ruang sempit tertutup itu. Langit terus menunjukkan kelamnya warna kelabu. Butir-butir kristal air tampak segera jatuh, menambah dingin hembusan angin yang membalut kulit. Ranting-ranting pepohonan tak lagi ditutupi rimbun daun. Lirih angin meniup serpih-serpih daun kering yang terlepas dari rantingnya, berkorban diri demi hidup makhluk yang lebih penting. Mungkin hanya segelintir yang peduli pentingnya gugur daun. Tak banyak yang sadar jika daun-daun itu rela mengering hanya demi si batang pohon dapat bertahan diri. Mengorbankan si kecil yang tak berarti dianggap tak masalah jika menyangkut hidup makhluk yang dianggap lebih penting. Sama seperti kebanyakan manusia yang memilih mengorbankan orang-orang kecil demi kepentingan orang-orang yang menganggap derajat dirinya lebih tinggi. Padahal bukankah semuanya akan sama jika ruh yang ditiupkan ke dalam tubuhnya di awal hidup kembali ditiupkan keluar di akhir hayat?

Sekelompok besar manusia tampak tak begitu terusik dengan kenyataan itu. Mereka terus melangkah menembus dingin kota Seoul dengan langkah lebar yang angkuh. Tak sedikit yang meniup kedua telapak tangannya untuk kembali memasukkannya ke dalam kantung mantel yang mereka kenakan. Padatnya kota metropolitan itu mulai berkurang saat senja semakin kelam, di mana butir-butir kristal air itu berjatuhan dengan indahnya. Tampaknya tak ada yang mau terkubur dalam timbunan butiran tersebut, membuat semua warga kota Seoul semakin mempercepat segala aktivitas mereka, apapun itu…

Sebuah mobil berwarna hitam mengkilat melesat cepat di salah satu bidang jalan. Pengemudinya tampak bingung bercampur panik sementara penumpangnya terus memberi instruksi agar laju mobil terus ditambah. Lelaki yang duduk di samping supir hanya mampu memandang majikannya dengan tak kalah bingung. Majikannya tak pernah tampak sebegitu panik seumur hidupnya. Matanya terus menelisik sementara bibirnya terkatup diam. Gerak tubuhnya tertahan, terkadang bertindak sesuai perintah si majikan.

Lelaki bertubuh tegap yang duduk di kursi penumpang memandang jalan dengan pandang tak sabar. Sesekali suara beratnya yang nyaring memberi petunjuk agar mobil semakin cepat sampai di tujuan. Peluh dingin membasahi dahinya, semakin deras bersamaan keras debar jantungnya. Di dalam hati ia terus berdoa kepada Tuhan agar tidak ada hal buruk yang terjadi. Semua rasa sesal menyerbu relung hati dan pikirannya. Ingin sekali ia mengutuk dirinya saat ini, mengutuk semua kesalahan yang telah ia lakukan selama puluhan tahun pada orang itu. Namun kata-katanya tertahan rasa sesak yang membuncah dalam dadanya. Ingin sekali tangisnya keluar, namun harga diri dan martabat yang melekat dalam dirinya terlalu tinggi untuk memperlihatkan sisi lemahnya pada kedua bawahan yang ikut duduk di mobil tersebut.

“Tuan, telepon dari Lee Taemin lagi…,” ucap si asisten yang duduk di kursi samping kemudi. Ia menyerahkan ponselnya dengan takut-takut sementara yang dipanggil langsung menyambar benda tipis itu cepat. Si asisten semakin was-was melihat ekspresi Tuannya.

“Bagaimana keadaanya sekarang?” suara berat itu tetap berusaha penuh wibawa walau perasaanya sudah kalut tak karuan. Ia semakin tak sabar saat si pelayan yang berada di seberang telpon sana menjawab takut-takut, “Tuan muda sudah keluar dari ICU, Tuan. Namun keadaan beliau masih koma. Dokter berkata kepalanya terbentur cukup keras saat terjatuh dari tangga…”

“Sekarang kau harus katakan padaku, apa yang sedang dilakukannya di loteng rumah sampai terjatuh begitu??”

Suara tegas Tuan Lee membuat Lee Taemin semakin ciut. Ia sudah berjanji pada lelaki muda yang tengah terbaring koma di salah satu ruang rawat VIP rumah sakit itu untuk tidak mengatakan apapun tentang hal itu. Namun ia juga sadar kalau ia dapat kehilangan pekerjaannya sebagai pelayan kediaman keluarga Lee, termasuk berhenti menjadi pelayan pribadi utama Tuan mudanya. Ia menggigit bibir tebalnya dengan gerak gelisah sementara tangannya menggaruk-garuk kepalanya walau tak gatal. Hentakan suara di seberang telpon sukses membuatnya terlonjak. Ia pun mengambil nafas panjang sebelum berkata hati-hati, “Jika saya mengatakannya pada Anda, saya harap Anda tidak marah ataupun mengatakan pada Tuan muda bahwa sayalah yang menyampaikannya pada Anda….”

“Ya, ya… Katakan saja!”

Taemin menelan ludah, “Beliau sudah tahu kalau dia bukan anak Nyonya Lee, Tuan. Beliau…beliau mencari tahu siapa ibunya yang sebenarnya..”

Tuan Lee tertegun di kursinya. Matanya yang memang berukuran besar melotot tak karuan mendengar baris kalimat tersebut. Suaranya mengecil saat ia bertanya, “Dari mana ia tahu itu…?”

Tuan Lee memasuki kamar rawat anaknya, lelaki muda bernama Onew Lee yang tengah terbaring lemah dengan selang infus dan oksigen terhubung pada tubuhnya. Pria paruh baya bertubuh tegap itu memandang sedih kondisi lelaki muda berambut coklat yang baru satu hari menghabiskan malam di kediamannya. Perlahan kakinya berjalan mendekat, tatapnya tak lepas dari wajah tenang Onew yang kepalanya masih dibalut perban. Sebuah buku catatan biru mencuri perhatiannya, catatan yang terasa amat familiar baginya. Berbagai memori langsung meluncur bersamaan rasa khawatir yang amat sangat. Tangannya hendak meraih catatan tersebut.

“Jangan, Tuan!”

Tuan Lee terlonjak. Suara nyaring Taemin langsung menghentikan gerak tangannya. Pelayan muda itu menatapnya seakan memohon. “Mungkin hanya itu satu-satunya harapan baginya, Tuan. Jika beliau bangun, pasti ia amat kecewa saat tahu Anda mengambil catatan itu darinya…”

Tuan Lee hanya diam dengan tangan terkepal di samping tubuhnya. Ia memandang tubuh Onew dengan tatap yang sulit diartikan. Beberapa menit berlalu dan belum ada yang memecah keheningan di ruang serba putih itu. Tuan Lee melirik pakaian Onew yang terdapat di sudut ruangan. Bagian kerah kemeja putih itu bernoda cipratan darah yang telah menghitam. Hati lelaki paruh baya bermata gelap itu teriris melihatnya, seakan membangkitkan luka lama yang telah terpahat dalam hatinya. Ia mendekati tumpukan pakaian tersebut dan menggenggamnya pelan. Setitik air mata menyeruak di pelupuk matanya.

“Tuan…”

Suara Taemin mengembalikannya pada kenyataan. Ia terdiam sesaat lalu menghapus cepat bekas laju air tersebut. Sebersit rasa tidak suka muncul di hatinya karena momen tenangnya diinterupsi pemuda itu. Ia tak mau berbalik, hanya menanti si pelayannya itu melanjutkan omongannya. Langkah kaki Taemin terdengar mendekat, “Sebenarnya ada hal aneh yang terjadi pada Tuan muda semenjak kedatangannya kemarin, namun saya tidak tahu hal itu sekedar perasaan saya saja atau bukan…”

“Katakan ada apa sebenarnya,” ujar Tuan Lee masih enggan berbalik. Tiba-tiba udara berubah mencekam di ruangan itu. Taemin masih sungkan berkata-kata, matanya melirik ke sana-sini, berpikir tepat atau tidaknya ia mengatakan hal tersebut pada Tuan besarnya. Pria bertubuh tegap itu akhirnya berbalik, sadar bahwa apa yang dikatakan Taemin mungkin merupakan hal penting. Keduanya saling berhadapan, namun Taemin masih ragu melanjutkan ucapannya. Tangannya mulai meremas ujung bajunya, bersiap menyampaikan hal nonlogis yang mungkin akan ditolak Tuan besarnya.

“Lee Taemin, aku tidak punya waktu seharian untuk menanti ucapanmu.”

Taemin menelan ludah dan akhirnya berkata, “Saya harap Anda tidak menganggap saya gila karena mengatakan hal ini. Tapi sudah lebih dari tiga kali saya melihatnya. Saya…saya yakin yang saya lihat benar-benar nyata! Saya tidak bohong! Saya…”

“Apa yang sebenarnya kau lihat?” Potong Tuan Lee tidak sabar. Pelayan yang sudah mengabdi selama lima tahun padanya itu tak pernah tampak segelisah itu.

“Se…sebenarnya…”

***

Kim Jonghyun tersenyum hangat pada pasiennya sebelum wanita muda yang baru berkonsultasi itu undur diri. Lelaki paruh baya berwajah keras itu tak tampak setua usianya, hanya saja beberapa helai rambutnya sudah berubah warna menjadi putih, memperlihatkan jalan panjang yang telah dilaluinya selama empat puluh delapan tahun hidup di dunia. Begitu ruangan itu hanya dihuni oleh dirinya dan perabot tetap ruangan itu, tangannya langsung melepas kacamata bingkai hitam yang sejak tadi menjepit tulang hidungnya. Secangkir teh yang tersaji di atas meja langsung diseruput sebagai media pelepas lelah. Ia mengecek catatan janjinya. Wanita tadi adalah konsultan terakhirnya. Itu berati sekarang ia bisa pulang dan menemui keluarga tercintanya di rumah.

Beberapa bingkai foto berjajar rapi di atas meja. Salah satunya berisi potret remaja dirinya bersama lelaki yang tampak sedikit lebih muda. Ia tersenyum sendu sambil melirik potret tersebut. Senyum kedua pemuda di dalamnya membangkitkan berbagai memori masa kanak-kanak sampai remaja pada dirinya, terutama memori mengenai lelaki remaja yang tengah merangkul dirinya sambil tersenyum penuh percaya diri di foto tersebut. Ia hanya mampu menghela nafas sekarang, kerinduan memeluk hatinya.

TOK TOK

Kim Jonghyun tersentak dari duduknya. Ia melihat jam dengan heran sambil berdeham pelan. Jarang sekali ada yang mengunjungi tempat prakteknya tanpa membuat janji terlebih dahulu, apalagi di saat menjelang larut. Jonghyun bangkit dari kursinya sambil merapikan pakaiannya sekilas.

“Yak, masuk!”

Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang pria paruh baya yang tampak lebih tua dari usianya. Jonghyun langsung menebak pengaruh pekerjaan dan berbagai masalah lainnya menjadi faktor utama tampilannya tersebut. Lagi-lagi jiwa psikolognya langsung terpacu hanya dengan melihat penampilan luar orang lain. Namun ketertegunannya muncul saat otaknya mulai dapat mengingat siapa sosok yang masih berdiri di ambang pintu tersebut. Ia menelan ludah, merasa semua memori yang masuk dalam ingatannya tadi terasa amat cocok dengan kedatangan pria yang usianya masih setahun lebih muda darinya itu.

“Anda…”

Pria itu hanya tersenyum tipis padanya, “Lama tak jumpa, hyung….”

Keduanya tengah duduk di dalam sebuah restoran elit bergaya Eropa dengan dua cangkir teh Darjeeling tersedia dihadapan mereka. Jonghyun menyilangkan kakinya dengan santai sambil menyeruput isi cangkirnya. Ia menatap lelaki yang duduk dengan wajah lelah di depannya lalu berdeham pelan.

“Jadi… Aku sekarang harus memanggilmu Lee?” tanya Jonghyun memecah keheningan. Tuan Lee mengernyitkan dahinya tidak senang, “Dari dulu aku memang anggota ‘Lee’!” Ucapnya dengan nada ditekan. Jonghyun membalas dengan seringaian tipis, “Setidaknya bukan itu yang sempat kau ucapkan padaku dulu.”

Hyung!”

“Baiklah..baiklah… Apa yang membawamu padaku hari ini?” tanya Jonghyun mengalihkan pembicaraan, tak mau menyulut api yang menjadi luka lama bagi keduanya. Tuan Lee menjatuhkan tubuhnya ke arah kursi lalu meraih tehnya, “Aku dengar hyung adalah dosen pembimbing Onew Lee saat dia masih kuliah di London…”

“Oh, tentu! Dia mahasiswa psikologi kebanggaanku! Tadi pagi ia sempat menemuiku di tempat praktik. Ada apa dengannya?” sahut Jonghyun santai. Tuan Lee menelan ludah, menatap menatapnya sendu, “Boleh tau apa yang kalian bicarakan? Sepertinya dia lebih dekat denganmu…”

“Oh, tidak banyak. Ia hanya mengatakan kalau dia sudah pindah ke kota ini. Ah, dia juga mengatakan kalau ada hal penting yang ingin ia selidiki. Aneh sekali, wajahnya tak pernah tampak seserius tadi….,” cerocos Jonghyun tanpa banyak berpikir, “Memangnya apa hubunganmu dengannya?”

Tuan Lee terdiam sebentar. Perlahan bibir pucatnya membisikkan kata-kata yang tak menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya, “Dia…dia koma, hyung…”

Jonghyun membelalakkan mata tak percaya. Hampir saja ia tersedak kalau saja teh yang diminumnya tidak tersembur keluar. Mata Tuan Lee menyiratkan rasa bersalah yang amat rumit. Kedua mata besar Kim Jonghyun seakan membebaninya dengan berbagai pertanyaan yang belum sempat terucapkan lidahnya. Tuan Lee langsung menjawab salah satunya, “…dan dia… Anakku.”

Kali ini Jonghyun menahan nafasnya. Otaknya belum mampu memproses semua data yang baru didapatnya. Kakinya langsung berdiri spontan dan bergerak mondar-mandir. Ia tak tenang, sama sekali tak bisa menerima kenyataan. Ia berusaha menetralkan keterkejutannya, tapi hanya gumaman-gumaman pelan yang keluar dari bibirnya.

“Tunggu dulu, tunggu dulu! Kalau begitu…berarti…berarti… Onew adalah anak yang waktu iitu…,” Jonghyun tak bisa melanjutkan, ia kembali terduduk lemas.

“Ya… Onew adalah anak yang adik Anda selamatkan dua puluh tiga tahun yang lalu… Dia anakku…”

Jonghyun benar-benar lemas sekarang. Akhirnya ia paham kenapa wajah lelaki di hadapannya tampak amat bersalah padanya. Lagi-lagi lelaki itu melakukan sesuatu yang mampu membuatnya amat kecewa. Dulu karena masalah dua puluh tiga tahun yang lalu. Sekarang karena anak yang sudah dipercayakan Jonghyun agar diurus olehnya malah terbaring koma. Psikolog ternama itu tak mengerti dan masih belum dapat menerima kenyataan. Padahal pagi tadi ia baru saja melepas rindu dan cerita bersama Onew. Kali ini mantan mahasiswanya itu malah sudah berada di ambang kematian, antara hidup dan mati…

“Tapi ada satu hal yang hendak kutanyakan padamu… Hal yang jauh lebih penting,” tutur Tuan Lee, memecah keheningan yang sempat tercipta saat Jonghyun sibuk menata pikirannya. Jonghyun yang sejak tadi tertunduk depresi mendongakkan kepalanya perlahan. Sepasang mata tajamnya seakan bertanya, “Ada apa lagi?”

“Suatu hal yang aneh telah terjadi, hal yang benar-benar di luar nalar!! Aku…aku bahkan melihatnya sendiri saat aku melihat Onew yang terbaring di kamarnya lewat kaca transparan yang terpasang di pintu kamarnya… Ini…ini benar-benar aneh! Awalnya aku bahkan memarahi pelayanku karena menyangka ia mengarang cerita bohong… Tapi…tapi ini nyata!! Kau harus percaya padaku!” panik Tuan Lee tak terkendali. Jonghyun yang agak kesal masih sempat memperhatikan mimik wajah lawan bicaranya. Ya, yang tampak adalah kejujuran dan kepanikan, ada juga rasa takut yang terpahat di wajah lelah itu. Sama sekali tak ada kebohongan di sana.

“Tenanglah, katakan dengan perlahan. Apa yang sebenarnya kau lihat?” ucap Jonghyun dingin. Ingin sekali ia segera menyelesaikan pembicaraan ini dan pulang. Berada di depan Tuan Lee berlama-lama membuatnya muak. Tuan Lee berusaha mengatur nafas dan buru-buru menelan minumannya. Ia memainkan cangkirnya ragu. “Katakan saja!” gumam Jonghyun lagi.

“Aku melihat wanita itu lagi…kali ini ia bersama Onew, hendak mengelus rambutnya perlahan. Sosoknya tidak tampak jelas, agak kabur. Wajahnya masih sama…hanya saja agak pucat… Tapi aku yakin ia masih wanita yang kucintai…masih dia…,” Tuan Lee berkata-kata sambil menelan sesak yang tercekat di kerongkongannya. Lagi-lagi dadanya terasa berat. Hari ini terlalu banyak yang terjadi, terlalu banyak yang membebani pikirannya. Dan semua tumpah ruah di hadapan psikolog handal yang telah dikenalnya sejak lama itu.

“Tenangkan dirimu dulu!” potong Jonghyun. Ia terlalu bingung menanggapi situasi di hadapannya. Ia menyodorkan cangkir teh di depan Tuan Lee lebih dekat, berharap pria yang biasanya tampak dingin dan berwibawa itu dapat lebih mengendalikan diri. Jiwa profesinya terpanggil dalam keadaan itu. “Apa yang kau maksud adalah wanita yang diselamatkan adikku dua puluh tiga tahun itu… wanita yang..?” tanyanya setelah Tuan Lee agak lebih tenang. Laki-laki di hadapannya hanya dapat mengangguk berkali-kali, “Ya… itu dia…”

Jonghyun menghembus nafas panjang. Lagi-lagi ia mendapati hal yang tak masuk akal. Memang sudah biasa baginya, tapi tetap saja sulit menghubungkan hal yang berbau mistis dengan logika. Terlebih lagi ini dialami sendiri oleh pria yang kenalannya, pria yang berhubungan dengan masa lalunya. Jonghyun berusaha tenang dan menanggapi hal itu dengan santai, “Mungkin itu hanya buah pikiranmu saja. Bukankah kau sangat sibuk, sajangnim?” Tuturnya menekankan sebutan di akhir kalimat, “Kesibukan dapat menciptakan stress yang menimbulkan halusinasi, terlebih jika pikiran terlalu kalut memikirkan satu hal.”

“Tidak!” Bantah Tuan Lee, “Aku berani bersumpah aku benar-benar melihatnya, begitu juga dengan pelayanku. Kau harus percaya padaku, hyung. Aku bersungguh-sungguh.”

Jonghyun beranjak dari kursinya sambil menatap Tuan Lee tajam, “Jika kau memanggilku hanya untuk hal yang tidak begitu penting seperti ini, sebaiknya kita sudahi saja. Masih ada banyak hal yang harus kulakukan. Permisi,” ucapnya, nadanya terdengar dingin dan ketus. Tuan Lee menelan ludah, emosinya sedikit tersulut mendengar ucapan lawan bicaranya yang seakan menganggap rendah dirinya. Ia ikut bangkit saat Kim Jonghyun mulai berbalik pergi.

“Adikmu juga di sana bersamanya!”

Langkah Jonghyun terhenti, tubuhnya membeku. Tuan Lee melanjutkan ucapannya, “Ia berada di samping wanita itu, ikut memandang anakku dengan tatap aneh yang tak kumengerti!”

Perlahan tubuh Jonghyun kembali berbalik, keduanya bertatapan lagi. Jonghyun membaca keseriusan, kejujuran, serta ketakutan di mata lelaki paruh baya yang tampak lebih tua dari usianya itu. Lelaki itu masih memandang tak percaya saat suaranya berujar rendah, “Apa maksudmu?”

“Adikmu ada di sana juga, Kim Jonghyun, bersama wanita yang kucintai. Kau tau itu hal yang amat mustahil, bukan? Tapi itulah kenyataan. Entah kenapa, aku begitu takut… Mereka seakan hendak mengambil Onew dariku….”

***

Silau.

Lelaki itu membuka mata dan mengerjap-ngerjapkan dua manik coklat itu perlahan. Ia melenguh rendah saat menyadari berbagai alat medis terpasang di sekujur tubuhnya. Kerongkongannya terasa amat kering sementara kepalanya berdenyut hebat. Dengan gerak tertatih ia berusaha bangkit dari tidurnya, melawan semua sakit yang mendera seluruh tubuhnya. Nafasnya agak sesak saat posisi tubuhnya sudah duduk sempurna.

Matanya menatap ruang itu dengan seksama, walau pandangannya sendiri sedikit berkunang. Ruang serba putih yang dipenuhi berbagai alat medis dan sofa di sisi ruangan. Sebuah meja kayu berwarna coklat berdiri kokoh tak jauh dari tempat tidur tempatnya berada. Hanya ada satu tempat tidur di sana, tampaknya itu ruang rawat inap khusus yang diperuntukkan hanya pada satu orang. Matanya kembali melirik meja dan mendapati sebuah buku catatan bersampul biru terletak di atasnya. Memorinya kembali berputar, mengulang semua klise yang terjadi sampai menghantarkannya ke ruangan tersebut. Ia menggerutu, menyadari kecerobohannya yang membuat ia berada di sana.  Tangannya bergerak meraba kepalanya dan mendapati perban membungkus dahi dan rambut coklatnya. Rintihan pelan meluncur dari bibir pucatnya saat ia merasakan denyutan.

Segala klise kembali berputar dalam ruang memorinya, bersamaan dengan semua perasaan yang sempat mengaduk emosinya. Berbagai kalimat yang membuatnya marah, sedih, kesal, dan ke cewa terus menghantam benaknya. Cengkraman tangannya mengeras saat sosok dua orang yang serupa tampil dalam bayangannya.

“Benar-benar lelaki bodoh!! Kau lihat ekspresinya tadi, Hyunjae-ah? Kelihatannya dia percaya begitu saja dengan tingkah kita tadi. Dia berharap kita menerimanya begitu saja dan seenaknya mengambil harta Abeonim dari kita?! Hah! Dia bermimpi!”

Lelaki itu memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam demi kontrol emosinya. Bayangan lain datang…

… “Ah, kudengar si Onew bodoh itu masih dipeluk wanita memuakkan itu saat kecelakaan terjadi. Akh, kenapa tidak ikut mati saja? Lagi pula, tidak ada yang menginginkannya, termasuk Harabeonim dulu… hahahaha…”

 

Ingin sekali lelaki itu mencampakkan semua benda yang ada di dekatnya. Amarah menguasai hatinya, membuatnya benar-benar membenci orang-orang yang tinggal di tempat yang harus ia sebut ‘rumah’ sekarang. Demi apapun di dunia ini, ia bersumpah takkan pernah menganggap orang-orang yang tinggal di bangunan mewah itu sebagai keluarganya, sebaik apapun tingkah mereka. Baginya, mereka semua itu hanya penjilat.

Matanya kembali menjelajah. Perlahan ia menggerak-gerakkan tubuhnya, membiasakan anggota tubuhnya bergerak leluasa setelah terbujur kaku selama beberapa jam. Matanya menangkap seonggok pakaian di sudut ruangan, pakaian yang ia kenali sebagai pakaiannya sebelum berganti menjadi baju rumah sakit. Senyumnya mengembang, sebuah rencana menyelip masuk dalam pikirannya.

“Setidaknya aku harus cari tahu sendiri… aku yakin ibuku tak seburuk yang mereka pikirkan, siapapun dia..,” bisiknya pelan.

Suara tapak berderak keras. Peluh mengalir deras dan nafas terhembus sesak. Wajah putih pucat itu berubah merah, menunjukkan kepanikan luar biasa. Larinya terus berlanjut sementara matanya sibuk menjelajah ke segala sudut bangunan putih yang lantainya ia tapaki. Aroma obat bercampur peluh tak lagi dihiraukannya. Yang ia cari hanya satu sosok yang bisa saja mengancam pekerjaannya jika tidak ia temukan. Sampai di depan bangunan itu pun ia hanya bisa melihat lalu lalang banyak orang, tak ada satupun sosok yang ia kenali. Ia mengatur nafas, tangannya menyeka peluh yang mengalir deras di sekujur wajahnya. Matanya masih sibuk mencari. Sayanganya nihil.

Kecemasan memuncak di dadanya. Sosok itu tak ada, sosok yang menjadi harapannya di rumah tempat ia mengabdi, sosok yang mulai bisa ia anggap sebagai saudara…. ia putus asa, tak ada lagi harapan jika terus begini. Tangannya terkepal keras sementara kepalanya terdongak menatap langit.

“ONEEEWW HYUUUUNGGGG!!!!”

Lelaki yang sempat diteriakkan namanya itu berjalan tertatih sambil merapatkan jaketnya. Rasa ngilu masih membaluri sekujur tubuhnya. Ia merintih pelan saat langkahnya tersandung batu, tubuhnya menghantam pelan tembok pembatas jalan. Ia menatap seksama sekelilingnya. Tak ia sangka ia bisa berjalan sejauh itu. Bisa keluar rumah sakit tanpa dicurigai siapapun saja sudah membuatnya bersyukur. Ia kembali melangkahkan kakinya setelah melirik bangunan rumah sakit yang terlihat dari kejauhan. Ya, tekadnya sudah bulat. Ia akan mencari tahu sendiri identitas aslinya serta kebenaran mengenai keluarganya. Hidup dua puluh empat tahun dalam ketidaktahuan membuatnya kesal pada dirinya sendiri, juga kesal pada orang-orang di sekelilingnya yang tahu namun enggan memberi tahu.

Dengan segala rasa benci dan kecewa pada keluarga barunya, ditambah ucapan merendahkan dua gadis kembar yang mengaku seayah dengannya, ia memutuskan untuk mencari semua kebenaran sendiri. Ia tak bisa diam seperti katak dalam tempurung. Semua orang takkan bisa menyembunyikan segala hal selamanya, terutama dari lelaki berambut coklat itu. Ia ingin menemukan kebenaran tentang ibu kandungnya dan ia ragu orang-orang di sekitarnya mau bicara. Ia harus bergerak sendiri. Berkat catatan biru di tangannya, serta data-data yang didapat pelayan pribadinya, akhirnya Onew bergerak menyusuri Seoul. Walau kepalanya sendiri masih dilanda denyut hebat.

Ia terus melangkah dalam diam. Jalanan kota Seoul sudah semakin sepi. Hanya beberapa kendaraan yang lewat, mungkin karena ia tengah berada di pinggiran kota. Ia cukup berterima kasih pada dirinya sendiri saat menyadari dompet dan ponselnya masih aman di saku pakaian, tidak tersentuh atau dipindahkan oleh siapapun yang melepaskan pakaiannya tadi. Dalam beberapa langkah ia sampai di daerah pertokoan yang sepi. Pintu-pintu kaca toko tampak gelap, hanya beberapa yang masih ditemarami cahaya lampu. Namun saat dirinya berdiri di depan pintu kaca yang berjejer itulah ia menemukan hal yang mengagetkan, bahkan membuatnya tercengang. Matanya membelalak lebar smentara kakinya yang lemah semakin lemas.

Bayangan itu… bayangan yang terpampang di cermin itu…

Itu tidak mungkin… sangat tidak masuk akal!!

Itu BUKAN bayangannya!!!

Onew jatuh terduduk saat melihat bayangan di pintu tersebut. Yang tampil di sana malah seorang lelaki bertubuh ramping dengan pakaian yang sama dengannya, berambut hitam, bibir kemerahan yang berlekuk sempurna, serta kedua mata kucing yang memandangnya tajam. Bayangan asing itu sempat menampakkan seringai lebar menakutkan dan Onew berani bersumpah bulu kuduknya berdiri melihat itu. Ia jatuh terduduk, matanya masih membelalak lebar dan mulutnya menganga tak percaya. Tiba-tiba rasa sakit kepala luar biasa mendera dan ia mengerang kuat merasakan denyutan keras itu. Kepalanya seakan ditusuk-tusuk ribuan paku dan membuatnya tak bisa berpikir jernih. Tubuh Onew serasa mengambang tak menyentuh tanah dan ia mulai kehilangan kesadaran dirinya.

BRUKK!!

“Hei, kau! Apa yang kau lakukan di sini?”

Suara berat seorang bocah lelaki menjadi hal pertama yang Onew dengar, suara yang memancing kedua matanya untuk terbuka. Hanya lenguhan yang keluar dari bibir Onew saat sakit kepala hebat kembali ia rasakan. Ia berusaha menatap bocah lelaki yang tengah berjongkok di sampingnya. Bocah itu tampak lusuh, pakaiannya kotor dan tidak pantas untuk udara semenusuk tulang itu. Entah kenapa Onew merasa familiar saat menatap kedua mata lebar bocah itu.

“Kau siapa? Apa yang sedang kau lakukan?”

Bocah itu kembali bersuara. Mata cokelatnya menatap penuh selidik. Onew berusaha keras mengangkat tubuhnya agar tak lagi terbaring di tanah dingin. Kedua lengannya menahan kepala. Ia hanya diam, tak menggubris pertanyaan bocah asing itu.

“Aneh, pakaianmu cukup bagus. Kenapa kau malah tidur di pinggir jalan? Kau tidak tampak semiskin aku. Apa yang sedang kau lakukan?”

Bocah itu kembali mengulang pertanyaannya. Setiap perkataannya bercampur dialek pinggiran Seoul yang khas. Bocah itu bahkan menggunakan kalimat tidak hormat walaupun Onew jelas jauh lebih tua darinya. Onew mengernyit dahi saat si bocah memutuskan duduk di sampingnya sambil memeluk kaki. Kali ini lelaki dewasa itu dapat melihat jelas betapa mirisnya pakaian yang membalut tubuh bocah itu. Si bocah hanya memakai kaos putih tipis berlengan pendek yang dihiasi lubang-lubang berbagai ukuran dan celana pendek coklat lusuh. Rambutnya agak panjang, tampak tak terawat. Debu jelas menutup berbagai sisi pakaian maupun kulitnya. Di bawah cahaya redup lampu jalanan yang tampak jelas hanyalah cahaya kedua bola matanya. Sungguh, Onew tidak bisa membayangkan sesulit apa kehidupan bocah itu.

“Tidakkah kau rasa hari ini dingin?” Kalimat pertama keluar dari mulut Onew. Ia menggeser duduknya hingga bersandar pada dinding batu di dekatnya, “Kau tahu, bajumu tidak cocok dengan kondisi udara saat ini…”

Bocah itu ikut menggeser tubuhnya mendekati dinding. Sebuah senyum kecut tampil di bibirnya, “Kau bisa berkata begitu karena kau tak pernah merasakan kesulitan yang kurasakan. Aku tahu, kau pasti anak orang kaya. Tampak dari bajumu itu.” Suara anak itu terkesan setengah mengejek bagi telinga Onew.

“Bahasamu tidak sopan. Aku ini lebih tua darimu!” ucap Onew menahan geram. Bocah itu mendengus pelan. Lengkungan di bibirnya tampak semakin mengejek, “Siapa lagi yang peduli akan hal itu? Di dunia yang liar ini hal sekecil itu tidak lagi penting. Yang penting adalah makan dan bertahan hidup,” jawab si bocah sok bijaksana. Onew mengernyit mendengar ucapan bocah yang pastinya jauh lebih muda darinya itu. Ia heran, dari mana si bocah belajar bersikap begitu tidak hormat -yang entah kenapa membuat Onew kagum. Si bocah menggosok-gosokkan tangan ke kedua lengannya yang rapuh. Mata Onew menyipit jeli saat lengan si bocah menunjukkan berbagai bekas memar yang memilukan. Perlahan Onew sadar, bocah itu menjalani hidup yang jauh lebih keras dari pada dirinya.

“Siapa namamu?” tanya Onew lagi.

“Minho. Namaku Choi Minho.”

Entah kenapa Onew merasa nama itu cocok dengan rupa keras bocah itu. Ia tersenyum menghadap langit, kepalanya ia senderkan ke tembok tua di belakangnya. Sekejap Onew menikmati saat-saat bersama anak kecil itu.

“Tidak semua kehidupan orang berada itu enak, bocah tengil. Jaga sopan santunmu,” ujar Onew pelan, nadanya terdengar santai dan tak serius. Minho melirik ke arahnya lalu kembali mendengus, “Urus saja urusanmu sendiri, bocah kaya. Jangan sok megguruiku.”

Onew terkekeh pelan. Kadang ucapan Minho itu harus dipraktekkan di saat-saat tertentu, dan mungkin juga kali ini. Onew tidak lagi mau ambil pusing dengan ketidaksopanannya.

“Jadi, kau mau sekedar duduk tanpa alasan di sini bersamaku? Atau mungkin kau punya rencana lain?” tanya Onew, kepalanya masih menengadah memandang langit. Minho sibuk menggambar-menggambar di atas tanah dengan jarinya. Matanya yang besar memandang kosong jarinya yang kotor. Onew mengalihkan pandangannya ke arah Minho, entah kenapa ia ingin bertanya, “Kau tidak mau pulang? Tidak ada gunanya menemaniku di sini.”

“Ada,” jawab Minho sekenanya, “setidaknya aku bisa menghindari pemabuk sialan itu selama aku berada di luar sini.”

“Pemabuk? Siapa? Ayahmu?”

“Hmm…,” Minho menggumam pelan, “si tua bangka itu.”

Kalimat Minho membuat Onew terbahak geli. sebutan yang Minho gunakan juga ia pakai untuk seseorang, membuatnya ingin tertawa semakin keras. Minho hanya menatapnya datar dan berkata, “Kau pasti hidup nyaman di rumah besarmu. Dari ekspresimu, kau tampak tidak terima aku menyebut orang dengan kata sekasar itu. Haaaah…. kau bocah tengil beruntung…”

Lho, bukannya Onew tertawa? Kenapa reaksi Minho malah seperti itu? Aneh sekali. Apa si bocah tidak mengerti maksud tawanya?

“Kau pasti tersesat dan tidak bisa menemukan jalan pulang, ya? Jangan menangis, aku akan membantumu menemukan orang tuamu,” ucap Minho sambil bangkit dari duduknya. Bocah itu mulai menepuk-nepuk bagian bokong dan lututnya. Onew kembali mengernyitkan dahi, “Hah, anak ini mengada-ada, ya?” batinnya.

“Ayo, pemalas! Waktu adalah uang!” tukas Minho, matanya yang besar semakin besar dengan gaya memaksa. Onew yang masih kebingungan menarik tubuhnya untuk berdiri dengan enggan. Otot-otot tubuhnya serasa copot. Apa sebenarnya yang baru saja ia lakukan sampai bisa merasa selelah itu? Ia bahkan membiarkan Minho menarik lengannya begitu saja menuju arah yang bahkan tidak ia tahu.

“Hey, kita mau ke-“

Onew menghentikan kalimatnya saat melihat bayangan dirinya di cermin etalase. Bulu kuduknya meremang seketika saat melihat bayangannya. Tidak, itu benar-benar bukan dirinya. Dan yang membuatnya lebih shock adalah bayangan yang ada di sana bukanlah pantulan sosok orang dewasa, dengan wajah pucat, mata sembab dan setelan tebal yang terlihat hangat. Pantulan diri seorang bocah, tapi jelas bukan Minho. Garis wajah yang ia lihat itu…sangat mirip dengan bayangan aneh yang ia lihat tak lama tadi. Oh, God, apa yang terjadi padanya?

“Oh, ya. Kau belum mengatakan siapa namamu,” ucap Minho datar, memutus pikiran Onew. Lelaki itu menoleh pada si bocah tanpa sadar sudah berkata, “Onew Lee…” Lelaki dewasa itu masih sibuk memandang bayangannyaa dalam jajaran etalase. Tapi bayangannya bahkan tak lagi memandangnya dan malah melihat ke arah Minho. Onew semakin bingung, kepalanya sakit serasa mau pecah.

“Cih, bocah kaya tengil. Menyebut nama saja sulit. Aku hanya akan mengantarkanmu ke kantor polisi dan kau harus mengatakan di mana keluargamu. Mengerti?”

Hah?

Bukankah Onew sudah menyebut namanya? Dan apa pula itu tadi? ‘Bocah tengil’?

“Bocah, kau semkin mengada-ada!” Onew melepas pegangan Minho dari tangannya. Sorot matanya penuh ketakutan, seakan hendak diseret menuju kegelapan. Minho berbalik dan menatapnya heran. Tidak, Minho bahkan tidak memandang langsung ke matanya, ia malah bertatap sejajar perut Onew. Lelaki itu semakin ngeri.

“Kalau kau tidak ke kantor polisi, kau akan semakin kesulitan mencari rumahmu. Kenapa kau begitu keras kepala?!” seru Minho mengernyit kening. Onew hanya terdiam, pikiranya kalut. Kini bocah itu berkacak pinggang dan menghela nafas kasar, “Kau benar-benar manja! Jangan banyak protes! Ikut saja!”

Onew kembali menepis tangan Minho kemudian melangkah mundur. Apa-apaan ini semua? Kenapa begitu banyak hal aneh yang terjadi? Ia menggeleng ketakutan dan semakin menjauhkan diri dari Minho. Lagi-lagi Minho menunjukkan ekspresi yang tidak senang. Onew menelan ludah dengan susah payah, kepalanya benar-benar terasa sakit seakan ada yang memukulinya dengan palu. Ia berusaha kembali menatap Minho namun pandangannya mulai berbayang.

“Jangan ikut campur urusanku, bocah misikin! Pulang saja ke rumah reotmu! Aku…aku masih belum mau pulang! Biarkan aku sendiri!”

Hah? Suara siapa itu? Suara itu terdengar begitu jelas di telinga Onew seakan ia sendiri yang mengatakannya. Namun suara itu bukan suaranya, lebih mirip suara bocah lelaki. Onew berusaha keras memejamkan mata untuk menenangkan diri, namun telinganya kmbali mendengar, “Menjauhlah dariku!

Onew sedikit membuka matanya, bersusah payah hingga ia dapat melihat ekspresi Minho yang benar-benar terluka. Onew menelan ludah berkali-kali, sebenarnya suara siapa yang ia dengar tadi? Ia berani bersumpah bahwa baru kali ini ia mendengar suara bocah lelaki yang jelas terngiang di telinganya. Ia tidak tahu siapa pemilik suara itu…

Onew merasa dirinya mulai gila. Ia semakin melangkah mundur, meredam keras sakit kepala yang seakan hendak meremukkan tempurung kepalanya. Mata besar Minho mengikuti arah gerak Onew, ekspresinya tak lagi dapat ditebak. Perlahan air mata mulai menggenang di pelupuk mata bocah kecil itu dan satu tetesnya jatuh membasahi pipi. Bocah berkulit gelap itu hanya mampu menangis dalam diam. Onew ingin sekali peduli pada bocah itu namun ia sendiri sedang sangat kesulitan. Ia merogoh cepat isi saku celananya dan mengambil ponsel yang terlipat kaku di sana. Matanya sibuk mencari satu nama dari daftar kontaknya dan sesekali melirik ke arah Minho. Bocah itu masih menangis dalam diam. Entah kenapa Onew merasa amat bersalah tapi ia tak tahu harus berbuat apa…

“Minho-yah!”

Onew mengalihkan pandangannya ke asal suara. Seorang gadis yang sedikit lebih tua dari Minho mendekati mereka dengan setengah berlari. Wajahnya tampak cemas dan nafasnya tersengal. Melihat gadis itu, tangis Minho pecah begitu saja. Ia segera memeluk gadis itu dan tersedu hebat.

Noona…..!!!”

Onew melihat pemandangan itu sambil sibuk sendiri. Ponsel yang ia tempelkan di telinga mulai mengeluarkan sahutan dari seberang, membuktikan bahwa telah terhubung jaringan antara ia dan lawan bicaranya. Ia tersenyum dan berkata, “Taemin, lacak keberadaan ponselku dengan GPS, jangan sampai ketahuan Pak tua itu…” Kepala Onew terasa semakin berat, ia menempelkan tubuh ke dinding dan mulai merebah diri. Ia masih menatap sepasang bocah yang tak jauh di hadapannya. Minho masih menangis kencang.

“Sudahlah, jangan menangis. Noona selalu ada di sampingmu untukmu.”

Kata-kata gadis cilik itu begitu pelan dan lembut. Onew merasakan getaran aneh di dalam dirinya. Sebelum benar-benar kehilangan cahaya dalam pandangannya, ia merasakan satu hal yang sangat kuat dan mencuat di hatinya. Ia mendesah dan semua menjadi gelap. Kepalanya sudah benar-benar sakit, bahkan membuat lelaki itu mempertanyakan kelangsungan hidupnya nanti. Namun perasaan yang begitu kuat mengambil alih segalanya.

Onew Lee iri pada kasih sayang yang diterima Minho.

_TBC_

Kepada author ff ini, dimohon untuk tidak membalas komen dahulu sampai event FFP ini berakhir

14 thoughts on “[FFP 2013 – 3] Him Inside – Part 2

  1. fiuuuhhh, tarik nafas dulu….

    serius banget niy ff, sempet bingung dgn pov Onew dan isi catatan yg dia baca.

    adiknya si Jjong di sini si Key, dia udah jadi hantu juga spt ibunya Onew ya?

    penasaran sama suara anak kecil yg didengan Onew.
    apa itu bayangan dia waktu kecil atau gmna..

    banyak pertanyaan susudah saya baca ff ini, dan berharap terjawab di part selanjutnya..

    saya suka ff-nya author-ssi, ditunggu bgt lanjutannya ya🙂

  2. hah, Onew jadi siapa itu? O_O aku ga nyangka loh ceritanya bakal jadi kayak gini, haha. mungkin Onew jadi orang lain untuk mengungkap misteri? Fufu. waiting for the next part😀

  3. seruuuu, banget! aku tebak, bapaknya Onew itu Choi Minho. Adiknya Jong itu Key, dan Onew itu masuk ke dalam masa lalu Key pas dia pingsan di jalan, pas Key pertama kali bertemu dengan Minho, dan si ceweknya itu ibunya Jinki, nah yang ini nggak terlalu yakin. tapi bener, kan? bener ajalah #maksa.
    ok, ditunggu part selanjutnya. sepertinya ini akan menajdi semakin menarik.
    oh, ya ada lompatan scene yang bikin rada bingung pas bagiannya Onew terus lompat ke Taemin, mungkin itu harusnya dikasih benang antar apa itu. trus kata baku ‘napas’ jadi ‘nafas’, dan ’embus’ jadi ‘hembus’. selebihnya misteri banget. aku paling suka sama mistery!

  4. wow…. keren banget!!! buat penasaran aja… Mudah-mudahan endingnya buat orang gak nyangka. ditunggu setiap chapter nya yo.. mudah2an ff yang satu ini bisa masuk 3 besar juaranya… hehehe🙂
    whoever you are, God bless you

  5. woah jinja daebak!!!! ceritanya daebak! bener deh,tapi penyampaiannya mungkin agak ribet ya hihi katakatanya bagus cuma penataannya(?) aja kadang belibet.eaaaa gaya nih saya -_- semoga masuk 3 besar deh nih.ppaiting!!!!

  6. aduuh, ini bener2 banyak plothole-nya. jd gak bisa ngasih komen banyak.
    ada beberapa typo sih kak, tp ya sudahlah, ceritanya ttp seru. hahahha..xD

    lanjut-lanjut-lanjut!😀

  7. W.O.W!!!
    Sumpah keren bgt ini..
    siapapun authornya dirimu sungguh daebakk..
    bnyk misteri dsini..
    mngenai ibu dan adik jonghyun -yg mungkin Key- yg jd hantu.
    masa lalu tuan Lee. 23 thn yg lalu, brrti onew msh bayi. kclakaan yg mnimpa ibu onew trjdi 23 thn yg lalu? dan adik jonghyun yg mnylmtkn onew?
    lalu soal ctatan yg dtmukn onew, aku rasa buku it milik tuan Lee..
    tp siapa sbnrnya tuan Lee? putra tunggal kel. Lee kn sdh mninggal, blm lg pmbicraan Jonghyn dan tuan Lee.
    Dan apa yg trjdi dgn onew? O.O awlnya aku pikir dia mlht byngn key tp sprtinya bkn, yg psti dia mlihat masa lalu seseorg, tp siapa? tuan Lee? ap mngkin hantu key yg menuntunnya?
    Huwaaa seru seruuu…
    lanjut ke part 3 dulu

  8. Deewana hai dekho, bekarar ho….
    *Bollywood lagi…..

    Demi
    Ceritanya bener-bener di luar prediksi…!!!!
    Kerrennn banget ini, mah… thor….

    Full misteri… Feel yang didapet dengan genrenya bener-benre dapet
    InsyaAllah… Aku ngerti ceritanya, deh….
    *mengingat yang barusan ngomong adalah salah satu orang terlulalit sedunia,
    jadi jangan berharap banyak ya….

    Jadi selama Jinki ‘melalang buana’ dengan pemikirannya,
    ia seolah-olah kembali ke masa lalu dimana ayahnya (Minho) dan si anak kaya (Kibum) masih kecil
    Catatan biru adalah milik Minho, berisi tentang kebohongan yang dia lakukan dengan menyamar sebagai
    anak seseorang (kaya) yang bernama ‘Lee’ yang mirip dengannya…
    Minho terlahir di keluarga miskin dengan kehidupan yang jelas sangat keras dan sulit
    Karena itu dia melakukan hal tersebut….
    Maka…. ‘Choi’ kecil menjadi ‘Lee’

    Apa hubungan antara adik sang dokter Kim dengan wanita yang dicintai Minho
    (yang mungkin adalah ibu kandungnya Onew), yang dia lihat sebagai dua sosok arwah
    yang hadir di sekitar Onew…? itu yang masih aku lom bisa tebak….
    Apakah si noona adalah ibunya Jinki, yang juga dicintai Kibum sejak kecil?
    Karena itu, Kibum menyelamatkan Jinki, yang notabene adalah
    putra dari wanita yang dia cintai… Meskipun juga adalah putra laki2 yang dia benci
    karena dicintai oleh sang noona… Bahkan dia sakiti karena sekarang,
    Minho telah berubah menjadi orang kaya yang juga telah bertunangan dengan wanita kaya….

    *Waaah…. analisa yang bener2 dipengaruhi drama…. kekekekkekeeee…..
    Mesti siap2 kena timpuk massal….

    Aduh, pokoke…. Suka banget sama part ini, ceritanya bener2 di luar prediksi semua readers
    termasuk aku, yang selalu mikirnya ke roman-roman gimana… gitu….

    Dua jempol deh, buat part ini….
    Author…. daebakk….

  9. Tarik kembali dugaan sebelumnya di part 1 tadi O.O ini lebih rumit dan gak nyangka akan kayak gini. Bingung sih, dan entah kenapa hanya aku disini yang gak ngerti. Intinya Onew kembali ke masa lalu, tak sengaja bisa menjelajahi masa lalu, begitu kah?
    Aku gak ngerti, tapi berusaha untuk mengerti .-. gimanapun juga misteri nya pantas diacungin 4 jempol! Siapapun authornya, kau lah yg terhebat ^^ hehehe

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s