[FFP 2013 – 3] Asphodel [2.2]

Main Cast        : Onew-centric

Support Cast   : myths and OC’s

Length             : chaptered (2 chapters)

Genre               : Comedy; Fantasy

Rating             : PD-13 for language usage

Summary      : “katakan takdirku.”

A.N                  : I’ve been reading Percy Jackson too much by now.

 

Aku benar-benar pergi ke barat, tapi aku tidak benar-benar ingat akan itu.

            Hal pertama yang kuingat setelah Alecto menghilang adalah bau obat-obatan. Kau tahu bau rumah sakit. Baunya sangat khusus. Bau itu menusuk hidungku dan aku langsung sadar. Tidak lama, mataku mulai beroperasi dengan baik dan benar; aku melihat langit-langit yang putih dan lampu fluorescent; lalu aku mendengar bunyi beep dari life support. Aku merasa sedang ada di drama bertema medis.

            “Jinki kau sudah bangun? Demi Tuhan ia sudah siuman!”

            Oh, itu ibuku.

            Tidak lama, dokter, selusin dari mereka datang untuk mengecekku. Di wajah-wajah mereka terpasang raut lega. Aku bertanya-tanya berapa lama aku tidak sadar. Tapi itu bukan masalahku yang sebenarnya. Satu-persatu aku mulai bisa menerjemahkan ramalan si Oracle; wanita yang menantiku adalah ibuku.

            Setelah para dokter keluar dari bangsalku, aku ditinggal berdua dengan ibuku. Ia mulai berbicara tentang perasaannya. Aku anak tunggal, jadi normal saja ibuku menggila. “…In-Hee juga khawatir, kau tahu. Ia bergiliran denganku untuk menjagamu.”

            “Jo In-Hee?”

            Ibuku mengangguk, “Ia sangat khawatir. Kalau tidak sedang jaga, ia menggunakannya untuk menjagamu. Kadang ia juga membawakan makanan. Oh ya, suatu malam aku kena flu dan ia menjaga kau dan aku.”

            “Ibu kena flu saat menjagaku?”

            “Aku tidak pernah dengar orang yang baru sadar dari koma bisa secerewet ini,” ia tertawa. “Itu hanya flu biasa; kau harusnya khawatir tentang In-Hee yang tidak tidur sama sekali malam itu.”

            Aku mengesampingkan pemikiran tentang Jo In-Hee menungguiku. Tidak ada kemungkinan sama sekali ia akan melakukan hal itu.

            Pintu bangsalku diketuk. Ibuku berdiri dan tersenyum, “Pasti In-Hee. Setelah kau sembuh, kau harus melamar In-Hee. Akan sangat menyenangkan punya menantu seperti itu.”

            Aku berharap itu bukan In-Hee. Aku berharap itu Choi Jin hyung, manajerku, atau Taemin. Gee, aku bahkan berharap yang datang itu Jonghyun. Tapi itu In-Hee. Ia memakai baju residen-nya—medical scrubs berwarna hijau muda dan jas dokter. Rambutnya berwarna hitam kelam dan ia memakai kacamata yang menggantung di hidungnya. Ia membungkuk dengan sopan pada ibuku.

            “Nah, aku akan keluar untuk makan. In-Hee, tolong jaga putraku sebentar ya.” Ibuku membuat senyuman yang menandakan ia memiliki rencana yang buruk. Dan fakta bahwa aku tahu apa rencananya membuat segalanya lebih buruk.

            Ibuku meninggalkan kami dan serasa ada tembok, tembok yang tebal, murni sentiment dan transparan di antara kami. Situasinya jauh lebih canggung ketimbang Poseidon dan Athena. Aku bergerak-gerak gelisah di kasurku.

            Untungnya, bukan aku yang harus memulai percakapan. “Uh, uhm, bagaimana kabarmu?”

            “Baik,” jawabku.

            Temboknya menjadi lebih tebal.

            “Apa kau hanya akan berdiri di sana, diam-diam mengagumi ketampananku?” Itu adalah kalimat sarkastikku untuk In-Hee.

            In-Hee memutar bola matanya, “Demi Tuhan Jinki, kupikir kau mengalami gagar otak, jadinya kau akan menjadi mahluk yang lebih rendah hati.”

            Aku tersenyum puas, “Aku punya semua alasan untuk menjadi bajingan arogan. Akui saja, Jo In-Hee, kau ingin balikan denganku.”

            Ada ekspresi yang tidak bisa kujelaskan di wajahnya. In-Hee mencopot kacamatanya dan mengelus matanya. “Aku datang untuk berbaikan denganmu, bukan untuk memulai  pertengkaran baru denganmu.”

            Aku terkejut. Aku diam untuk beberapa saat. Lalu aku teringat tentang ramalan Oracle. Aku tidak sengaja mengatakannya, “Sebuah perkelahian akan meredup.” Aku tertawa sendiri, “Sekarang aku mengerti!”

            “Kau mengerti apa?” Jawabnya sarkastik.

            Aku tertawa lagi. “Kemarilah.”

            “No.”

            “Kau tahu aku tidak menggigit orang.” Aku mencoba meyakinkannya tapi ia sama sekali tidak bergerak. Lalu aku menyerah. “Hey In-Hee, kau benar. Kita memang seharusnya berhenti berkelahi seperti anak kecil. Tapi aku akan mengajukan rencana yang lebih baik.”

            Ia mengerutkan dahinya.

            “Ayo balikan.” Aku mengajukan tanganku padanya—yang tidak ada selang IV-nya. Tapi ia menolak dengan tegas.

            “No. Ada alasan mengapa kita putus.”

            “Ayolah…” Aku memohon dengan—yang kupikir imut—mata anjing.

            Ia tertawa kecil, “Dari pada membawa anak anjing itu ke rumah, aku lebih memilih untuk menonjoknya tepat di wajah. Tetap saja, tidak, aku ogah pacaran denganmu lagi. Tapi kupikir kita bisa memulainya dari awal.”

            “Apa maksudmu dari awal?” Aku bertanya dengan bingung.

            Ia mengendikkan bahu, “Menjadi teman lagi, seperti yang dulu.”

            Aku tergelak, “Kurasa itu akan berhasil.”

—freaking fin—

15 thoughts on “[FFP 2013 – 3] Asphodel [2.2]

  1. pendek, dan kenapa ff-nya harus dibagi 2 part? #aku bertanya-tanya.
    endingnya nggak seratus persen tertebak. tapi agak aneh jinki yang awalnya marah-marah sampe sebut-sebut bajingan semenit kemudian buat puppy eyes. dan, Oppa Jinki orangnya kepedean, klo suka ya bilang. hehehe.
    ff-nya bagus.

  2. hoalaaah, jadi gak murni myth ternyata..xD
    sama sperti komen sebelumnya, mungkin udah keenakan sama gaya sarkasnya di awal2, jadi agak kaget pas si onew mau baikan ke In-hee secepat itu..xD Aku kira malah si Onew sarkas karena si In-hee, ternyata emang bawaan lahir..xD

    nice fic. dibagi dua biar pembaca bisa penasaran kali ya? xDDD
    salam kenal buat author-nya😀

  3. aigoooo jinki narsis, mengagumi ketampananmu? well km emg tampan lee jinki :* :3 /slap/
    sip akhirnya finish, endingny sy g nyangka bsa sprti ini. singkat tapi mmbuat sya berimajinasi lbh lanjut tntang hubungan jinki dan In-hee *halaah apa ini?* -_-”
    Oke keep writing buat author, ditunggu karya” selanjutnya😀
    Hwaiting !!!!😀

  4. ta kira emang benar ibunya jinki yg nunggu, ternyata ada yg lain tho, hehehe….
    dasar bang onyu,, jangan kasar2 donk ma cewek, hehehe….. #peace bang, keke…
    ku tunggu karya berikutnya thor…
    hwaiting!!!

  5. JinKi narsis tingkat dewa
    Berjalan ke barat seperti kera sakti, bedanya JinKi ga cari kitab suci
    Keren FFnya, nambah ilmu baru.

  6. Ceritanya simple tp aku suka, sempat ku kira Jinki bkal blikan sama In hee krna teringat rmalan itu tp Jin Ki cerdas dia bisa menentukan plihannya…
    Oh iya ctatan buat Part 1 nih, ada bnyak istilah ato nama yunani yg di pake jd akan lebh baik kalo di ksih ketrengan ato footnote krna gak semua readers tau ttg itu… Thanks
    good luck yah, hwaiting!!

  7. Bagus, tapi kependekan -_-
    Awalnya kirain wanita yg nunggu jinki beneran cuma ibunya, eh ternyata beneran ada wanita lain. kirain itu pacarnya eh ternyata mantannya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s