[FFP 2013 – 2] Hieroglif – Part 3

hieroglif

Tittle                : Hieroglif

Main cast         : Lee Onew, Choi Minho, Lee Taemin, Pangeran Jonghyun, Raja Key

Support Cast   : Tuan Onew, Elf Minho, Kurcaci Taemin, Penyihir Jonghyun, Iblis Key, Tuan Choi, Naga Choi, Kim Suho, Kim Joon Myeong

Genre               : Advanture, Fantasy, Supernatural, and Friendship

Length             : Sequel

Rating              : General

Inspired           : Novel of The Mysterious Benedict Society from Trenton Lee Stewart

Note                : Tolong kritik dan sarannya!!

Di dalam tas masing-masing yang mereka bawa, telah tersimpan keperluan-keperluan. Begitu banyak yang ingin dibawa, hingga beberapa tas besar, namun Onew melarangnya dengan tegas hingga Jonghyun pun ikut memprotes, meski pada akhirnya menurut juga ketika Onew berkata, “Kita tak pindah rumah, Jonghyun.” Dalam beberapa waktu yang cukup lama perdebatan memang terjadi, meski pada akhirnya semua terselesaikan dengan baik.

 “Baiklah, meski ada sedikit … eh, sebenarnya cukup banyak untukku, karena dengan perdebatan kecil kalian cukup menguras waktu. Perdebatan ini membuatku cukup khawatir, karena membuatku berpikir kalian cukup dekat, tapi tidak cukup untuk saling bisa mengenal dan bertoleransi. Jadi, aku harapkan—sangat berharap sebenarnya—agar hal seperti itu tak terjadi di sana. Bagaimanapun kalian adalah tim, dan kalian harus selalu kompak dan saling mendukung, percaya satu sama lain, dan saling membantu. Dan, mungkin kalian akan butuh waktu untuk mengingat dalam hati, tapi Onew adalah pemimpin dan kalian sudah menyetujuinya, kan? Kalau begitu dengarkan dia, ok?” ucap Tuan Choi serius.

Semua mengangguk dan Onew benar-benar berterima kasih atas kata-kata Tuan Choi, meski memang dia sendiri sedang berusaha meyakinkan dirinya untuk tugas ini.

“Terima kasih, Tuan Choi,” ucap Onew pada akhirnya, kemudian dengan hati cukup lega dan tegang juga, ia menatap teman-temannya. “Teman-teman, ayo berbaris dan saling berpegangan, kita akan masuk.”

Mereka menurut, dengan cepat melakukan apa yang Onew perintahkan.

“Apa kalian sudah siap?”

“Siap!” jawab mereka kompak dan penuh keyakinan.

Kemudian Onew membuka bukunya, membacanya, lalu ia terdiam sebentar, menutup mata, meneguhkan hati, mengatur detak jantung dan deru napasnya lalu memasuki cemin di hadapannya, membawa teman-temannya ke dalamnya, memasuki sebuah dunia yang berbeda dalam sekejap.

________

“Argh!” Mereka terlempar, jatuh tertelungkup, bertindih-tindihan, lalu mengaduh bersamaan dan beberapa mengerang. Jinki terjerembab ke atas sebuah karpet cokelat tua yang halus. Ia tak bisa bergerak sama sekali karena bebannya adalah yang terberat—tiga orang. Ia hanya bisa menggerakkan jemarinya seakan ingin mencakar-cakar karpet karena sakit, sedangkan ia tak bisa mengeluarkan suara kecuali erangan yang teredam. Di atasnya ada Minho yang masih tertindih oJonghyun, dan Jonghyun pun masih juga sulit bergerak karena ada Taemin di atasnya.

“Hei, cepat! Ini sakit, dan Jinki juga kesakitan!” protes Minho.

“Ya, aku juga kesakitan, Taemin!” imbuh Jonghyun.

“Sebentar,” ucap Taemin yang memang sedikit merasakan sakit. Bagaimanapun ia juga terlempar dengan keras.

Dengan segera Taemin berdiri, disusul oleh yang lain satu per satu. Minho pun membantu Onew berdiri—yang tampak hampir kehabisan napas karena tertindih oleh semuanya, telebih minho yang berbadan tinggi yang hampir menutupi seluruh tubuhnya, bahkan wajahnya. “Maaf, apa kau baik-baik saja, Onew?”

Onew mengangguk dengan lemas dan napas tersengal.

“Kita di mana?” tanya Taemin dengan kerut-kerut yang memenuhi keningnya.

Jonghyun, Minho dan Onew yang masih sibuk dengan rasa sakit masing-masing pun mau tidak mau harus menatap sekeliling, dan seketika mereka terperanjat. Tempat mereka berada adalah sebuah ruangan besar, terisi oleh beberapa rak besar yang juga berisi benda-benda aneh seperti stoples-stoples yang dipenuhi cairan kental kehijauan dan di dalamnya terdapat berbagai makhluk kecil dari yang utuh sampai hanya bagian-bagiannya atau organ-organnya saja. Dari makhluk-makhluk yang diketahui sampai tak diketahui namanya; di dindingnya yang berwarna kelabu dan usang terpajang bingkai-bingkai foto orang-orang yang sangat menyeramkan. Mereka memiliki taring dan jubah hitam, juga memiliki mata merah yang terang seperti darah. Foto-foto itu terpajang dengan rapi dalam satu barisan panjang pada dindingnya bersama sebuah kepala rusa, peta tua yang besar, dan lukisan aneh yang ikut serta; juga ada sebuah meja bundar di dekat perapian yang didampingi oleh sebuah kursi goyang; dan di sisi lainnya ada sebuah meja berukuran sedang dengan sebuh kursi di belakangnya—dengan mudah mereka mengenalinya sebagai meja kerja—dan ini adalah ruang kerja, tentu saja, karena mereka juga menemukan beberapa buku dan kertas di atas meja itu.

“Hei, apa kita tadi terlempar melewati cermin ini?” tanya Minho sambil menunjuk sebuah cermin berbingkai perak berukiran rumit yang berada di hadapanya—ada di belakang mereka semua namun Minho berbalik dan menemukannya lebih dahulu.

Semua berbalik, berhenti di hadapan sang cermin tua yang diselimuti debu. “Aku rasa memang—uhuk! Uhuk!” Onew terbatuk-batuk sambil menutupi mulutnya. “Ruangan ini begitu berdebu, terutama karpetnya. Aku pikir aku sudah menghisap banyak debu ketika tertindih,” ungkapnya lalu terbatuk-batuk lagi.

Jonghyun mengedarkan pandangan dan mendekati meja berbentuk persegi panjang itu, lalu menyentuhnya dengan sedikit, mengotori ujung jarinya dengan debu tebal. “Ya, ini benar-benar berdebu. Aku pikir ruangan  ini sudah tidak digunakan lagi dalam waktu cukup lama.”

“Hei, lihatlah ini!” ucap Taemin dengan tatapan takjub, dan dalam detik yang sama tiga pasang mata lainnya menatatapnya, lalu Taemin menunjuk sebuah foto yang terpajang di antara foto-foto lainnya. “Bukankah itu Iblis Key?” lanjutnya.

Semua orang terperangah dan menatap dengan tidak percaya ke arah gambar lelaki bermata merah dan bertaring panjang itu. “Aku pikir … ya. Itu pasti wujud aslinya. Dan aku belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Aku tak tahu ia sebegini menyeramkan,” ucap Jonghyun.

“Itu benar-benar menyeramkan,” imbuh Taemin masih terperangah.

“Jadi, apa kalian berpikiran sama denganku teman-teman, bahwa ini adalah ruang kerja Iblis Key?” tanya Minho dengan takut.

“Tentu. Itu jawaban paling logis mengapa tempat ini begitu tak terurus dan begitu berdebu,” sahut Onew.

Minho menyapu pandangan ke sekitar dan menemukan sebuah pintu. Dengan tenang membukanya dan mengintip keluar, tampak sebuah koridor sepi namun cukup terang dengan obor-obor menyala yang terpasang di kedua sisi tembok. “Ayo kita keluar,” ajak Minho yang ternyata sudah membuka pintunya lebar.

Semua berpandangan sebentar lalu berjalan. Itu adalah lorong panjang yang bercabang, terkadang mereka menemukan sebuah pintu di salah satu sisinya atau di kedua sisi dan saling berhadapan.

“Hei, apa di sini tak ada penghuninya? Kenapa begitu—“

Minho segera membekap mulut Taemin lalu berbisik, “Diamlah!” yang sontak membuat teman-temannya segera menegang. Mata Minho bergerak dengan pandangan awas. “Ada seseorang datang ke arah kita,” lanjutnya membuat mata yang lain terbelalak kaget.

“Hei, ada pintu,” bisik Jonghyun sambil menunjuk sebuah pintu bercat merah dengan sebuah knop berbentuk gelang yang menggantung.

Dengan terburu-buru mereka berlari ke arahnya dan bersembunyi setelah Jonghyun memberi tahu. Dengan was-was berdiri di balik pintu sambil mengintip melalui celah-celah pintu yang terbuat dari beberapa papan panjang yang dijejer menjadi satu. Mereka terdiam di sana dengan jantung berdegup-degup dan terdengar suara seseorang bicara beriringan dengan bunyi derap langkah dua pasang kaki, “Tuan Choi, apa kau sudah mempersiapkan semuanya?”

“Oh, tentu saja, Tuan. Kita hanya perlu menunggu sekarang.”

Dan mereka bisa melihat dengan jelas orang yang disebut sebagai ‘Tuan’ mengangguk puas sambil tersenyum, dan semua pemandangan mengejutkan ini membuat mata mereka membelalak, masih cukup terkejut meski seharusnya tak terkejut atau seharusnya benar-benar sangat terkejut jika mereka tak mengetahui apapun.

“Ya, amp—mph!” Jonghyun segera membekap mulut Taemin yang mulai meracau dengan cepat, yang sontak suaranya membuat salah seorang dari kedua orang yang tengah berjalan beriringan itu sontak menghentikan langkahnya dan memandang ke arah pintu dengan tatapan tajam, membuat napas mereka tertahan dan jantung mereka seakan berhenti.

“Ada apa, Tuan Choi?” tanya yang lain, yang ikut menghentikan langkahnya untuk melihat ke arah lelaki yang sekarang berada satu langkah di belakangnya.

“Em, aku rasa aku mendengar sesuatu,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari pintu. Sekarang mereka bahkan terlalu takut untuk bernapas karena merasa suara sehalus itu bisa saja terdengar.

“Benarkah?”

“Tidak, Tuan. Aku ragu. Mungkin aku salah dengar. Ayo kita lanjutkan perjalanan.”

“Baiklah.”

Mereka berjalan kembali, dan ketika langkah mereka sudah tak terdengar, dengan segera keempatnya mengembuskan napas mereka yang sudah tertahan beberapa lama. Dengan bernapas saja membuat mereka takut hingga membuat mereka berkeringat dingin.

“Ya, ampuuun!” keluh Taemin melanjutkan yang sudah tertunda. “Dia tadi benar-benar mirip dengan Tuan Choi dan dirimu, Jonghyun!”

“Aku tahu,” jawab Jonghyun penuh kelegaan.

Cukup jauh dari mereka, di dalam lorong Tuan Choi berhenti lagi dan kembali melihat ke belakangnya dengan penuh selidik.

“Ada apa lagi, Tuan Choi?”

“Tidak, Tuan. Tidak apa-apa.” Lalu mereka melanjutkan perjalanan lagi.

Dan, di dalam tempat yang mereka masuki Minho bicara, “Hei, ada tangga!”

“Kita harus keluar dari sini secepatnya. Mungkin ini jalan menuju pintu keluar. Sejujurnya, aku benar-benar bingung di mana kita,” ucap Onew yang mengikuti Minho yang terlebih dahulu menuruni tangga.

Rupanya itu adalah sebuah tangga yang berputar-putar, dan tak jarang mereka menemukan jendela besar tanpa penghalang. Dan di saat itu mereka tahu kini meraka sedang berada pada sebuah bangunan yang tinggi menjulang, seperti istana, namun lebih kecil dan agak gelap. Mungkin sangat tepat jika disebut kastil. Di sana, mereka pun bisa melihat warna-warna hijau memenuhi sekitar tempat itu, yang dengan mudah mereka kenali sebagai hutan. Hutan yang cukup besar dan lebat.

________

“Huh!” Taemin duduk di atas sebuah akar pohon yang besar dan bersandar pada batangnya yang jauh lebih besar, lalu menenggak air minum persediaanya. “Aku tidak tahu, mencari pintu keluar akan selelah ini.”

“Tentu saja, tempat itu cukup besar. Bahkan lebih besar daripada rumahku. Aku selalu benci rumahku karena di sana begitu banyak ruangan yang tertutup, dan aku lebih benci tempat itu karena di sana lebih banyak lagi ruangan yang tertutup, apa lagi di sana tak terlalu terang. Kenapa mereka tak gunakan lampu?” protes Minho.

“Apa benar tidak apa-apa kita keluar dari tempat tersebut, Onew? Kautahu, ada kemungkinan ayahku berada di sana,” ucap Jonghyun yang masih lekat menatapi kastil itu, penuh harap.

“Itu terlalu berbahaya, Jonghyun. Tempat itu terlalu besar. Jangankan mencari Raja, kita keluar saja begitu sulit. Setidaknya, kita harus tahu situasi lebih dahulu. Kaudengar apa yang mereka katakan tadi? Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu,” ucap Onew.

“Kupikir itu bukan urusan kita, dan tak ada hubungannya dengan kita,” tukas Taemin.

“Ya, mungkin saja,” balas Onew.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Minho.

“Mencari tempat terbuka yang didatangi banyak orang. Di sana, kita harus mencari informasi sebanyak-banyaknya. Tapi sekarang kita harus keluar lebih dahulu dari hutan ini.”

“Kak, aku masih lelah.”

“Taemin, berhentilah mengeluh. Ini bukan tempat yang bisa kaugunakan untuk berleha-leha. Setiap waktu yang kita miliki sangat berharga. Jika kau terus menggerutu seharusnya kau tak ikut kami.”

Taemin berdecak seraya bangkit mengikuti para anggota lain yang sudah bergerak mengikuti Minho yang berusaha menjadi pemandu. Lelaki itu sangat suka pergi ke hutan, jadi Onew berpikir dia lebih mengenal hutan daripada yang lain, termasuk dirinya.

“Baiklah, kita harus berjalan mengikuti lumut ini,” Minho menunjuk sebuah lumut yang menempel dan tumbuh pada sisi sebuah pohon. “Lumut selalu tumbuh pada satu sisi pohon saja, dan dia selalu mengarah ke arah barat yang lebih lembab yang mampu membuat lumut tumbuh. Ini patokannya.”

Semua mengangguk mengerti.

“Jangan makan apapun, bahkan jika itu terlihat begitu menggiurkan. Kalian tidak tahu itu buah yang beracun atau tidak. Setidaknya, aku akan memberitahu kalian jika buah itu bisa dimakan. Aku pernah memakan buah yang kukira aku mengenalnya tetapi ternyata aku tak mengenalnya, dan aku harus menginap di kamar mandi semalaman.”

Dan ketiganya mengangguk. Sebenarnya, Onew pun mengetahui cukup banyal hal mengenai tumbuhan, namun itu semua ia dapatkan melalui buku, tanpa pengalaman yang sebenarnya. Bahkan, ketika ia melihat daun-daun itu—yang begitu banyak tumbuh di sekitarnya—mereka begitu mirip satu sama lain di matanya dan ia tak yakin dengan pengetahuannya, tentu saja, dia juga mengandalkan Minho. Mereka semua harus mengandalkan satu sama lain.

Matahari terus bergerak. Butuh waktu lama untuk melihat cahaya di ujung jalan. Kebanyakan di sana, atau memang benar-benar memenuhi hutan, hanyalah sekumpulan pohon rambat, pohon berduri, pohon menjulang, dan pohon-pohon lainnya. Intinya mereka hanya bisa menemukan pohon. Tapi, setelah terus-menerus berjalan lurus, yah, sebenarnya cukup lama, atau sangat lama untuk beberapa orang, maka Minho berteriak dengan girang, “Aku menemukan cahaya. Di sana! Itu pasti jalan keluarnya!”

Dan semua kompak berseru, “Yeah!!” kemudian berlari ke arah yang ditunjuk, dan tak lama kemudian mereka sudah berada pada sebuah tempat yang terbuka dan terang. Di sana cukup sepi, hanya ada beberapa orang berlalu lalang, cukup sedikit hingga kau bisa menghitungnya dengan jemarimu. Di sana juga tampak beberapa bangunan-bangunan sederhana dengan jalan-jalan setapak dari susunan batu bata.

“Kita berada di mana sekarang?” tanya Jonghyun sambil melihat sekeliling.

“Mungkin di tengah kota, dan sekarang sudah siang. Pasti kita menghabiskan cukup banyak waktu hanya untuk berdebat di perpustakaan dan mencari pintu keluar di kastil itu,” Minho berkesimpulan sambil melihat arah matahari yang berada tepat di atasnya. “Sekarang mungkin … sebentar!” Anak lelaki itu mencari sebuah ranting yang kemudian ia tegakkan di atas jalanan, melihat ke arah bayangan itu mengarah. “Sekarang sekitar jam satu siang. Pada jam ini biasanya kota sepi. Harusnya kita sampai lebih pagi.”

“Tidak apa-apa. Sebaiknya kita berkeliling sebentar—“

Kruyuuuk! Perut Taemin berbunyi, membuat semburat merah di wajahnya, yang juga mengambil perhatian orang-orang di sekitanya. “Apa?! Bukan aku!” bentaknya untuk menutupi rasa malu, sambil melotot, tampak menantang.

“—dan, setelah itu cari tempat untuk makan,” lanjut Onew, kemudian berjalan bersama-sama menglilingi kota, seakan-akan tak pernah mendengar apa yang baru ia dengar dan disela. Jika ia berkomentar, ia tahu Taemin akan mengomel seperti seorang wanita.

Mereka berjalan lagi. Tak lama, hanya beberapa blok dari tempat mereka berada, akhirnya mereka menemukan tempat ramai, sebuah pasar. Banyak kios dan gerai yang menjual berbagai keperluan, dari barang, sampai makanan. Di sana sebenarnya tak terlalu ramai, tapi cukup ramai mengingat jam berapa sekarang. Mereka berkeliling terlebih dahulu sekaligus mencari tempat yang nyaman untuk makan siang. Sialnya di saat mereka tengah berkeliling, di tengah keramaian—yang sebenarnya juga tak terlalu sesak, cukup untuk memberi jalan gerumbulan mereka—dari jarak yang cukup jauh seseorang berlari dengan terburu-buru, sambil membawa sebaskom … entah, mereka tidak tahu isinya.

“Permisi! Permisi! Permisi semuaaaa!” ucap seorang lelaki biasa yang tak biasa di mata Onew. Orang itu berlari kencang ke arahnya. Onew yang terpaku kaget sekaligus meneliti benar-benar wajah di hadapannya lupa harus segera menyingkir.

 “AWAAAASS!!”

Bruk! Byuaar! Dalam waktu satu detik lelaki itu menjadi sangat kotor ketika baskom yang dibawanya terlempar ke atas dan membuang isinya tepat di atas kepala, menjadikan merah dan jatuh ke tanah, membuat tubuhnya semakin kotor, juga jalan di sekelilingnya becek, sedangkan Onew lebih beruntung meski terjungkal ia tak terjatuh karena Minho dengan sigap menahan tubuhnya di belakang, tapi sayang tudung Onew terbuka yang otomatis membuat wajahnya terekspos dengan jelas di hadapan orang-orang, khususnya yang menabraknya itu, yang sontak membuat sepasang mata itu membulat penuh ketakutan dan mata orang-orang pun berubah penuh ketakutan, lalu muncul bisikan di seklilingnya.

“Maaf, Tuan! Kumohon maafkan aku!” ‘Orang merah’ itu bersimpuh di hadapan Onew sambil menggosok-gosok telapan tangannya sungguh-sungguh, memohon. Terlihat begitu ketakutan.

“Oh, ti-tidak—tidak apa-apa,” ucap Onew dengan kikuk. “Ayo berdiri! Kumohon jangan begini!”

Orang itu menurut, berhenti bicara lalu memandang Onew dengan alis mengerut serta wajah serius lalu berseru tidak percaya, “A-apa?”

Onew ikut mengerutkan kening lalu bertanya, “Apa?”

“M-maksudku … maksudku A-Anda benar-benar memaafkan saya? Benarkah?”

Onew tersenyum ramah. “Tentu saja. Tapi tubuhmu ….” Onew memandang orang di hapannya dengan kasihan lalu menoleh untuk bertanya siapa di antara teman-temannya yang membawa handuk, tetapi yang ia dapati adalah wajah-wajah yang serius yang sontak membuatnya berpikir sejenak dan menyadari sesuatu meski sebenarnya agak terlambat. Onew diam, tak melanjutkan kata-katanya.

Jonghyun maju dan menarik tudungnya, menunjukkan wajahnya seriusnya pada si pria yang tak dikenalnya. “Apa kaukenal aku?”

Mata orang itu lagi-lagi membelalak, kali ini lebih kaget sambil menuding Jonghyun dengan telunjuk. Ia semakin takut dan segera berlutut lagi tanpa mau melihat ke arah orang-orang di hadapannya. Ia tak mau menerka-nerka siapa dua sosok lagi yang masih tak dikenali.

Jonghyun dan Onew cepat-cepat menutupi kepala mereka. Mereka pun tak mau mengambil risiko karena menarik perhatian umum. “Jika kau mengenal kami, bisakah kami bicara padamu sebentar? Dan, tenang saja, kami tidak akan lakukan apapun padamu,” ucap Jonghyun. “Tapi, sebelum itu, sebaiknya kau lebih dahulu bersihkan dirimu.”

Orang di hadapannya mengangguk kaku dengan takut dan skeptis.

________

“D-dunia C-cermin?!” ucapnya takjub. “Kalian … kalian bukan o—em, maksudku bukan …. Apa, ya? Orang-orang yang berasal dari dunia ini? Melainkan hanya kembarannya? Dan aku—aku adalah kembaran seseorang yang bernama Suho?”

“Jadi, bisakah kau memberitahu aku siapakah kami di sini?” tanya Minho serius.

“Anda,”— menunjuk Onew—“adalah seorang bangsawan. Penguasa wilayah ini. Em, maksudku, kembaran Anda. Tuan Onew adalah orang yang sangat jahat dan angkuh. Dia juga memiliki dua pengawal yaitu, Anda dan Anda.”—menunjuk ke arah Minho dan Taemin—“Keduannya adalah pengawal pribadi yang memiliki kekuatan sihir yang hebat. Karena itu Tuan Onew begitu ditakuti.”

“Aku?!” Taemin tampak bersemangat, merasa senang mendengar bahwa dirinya hebat, meski sebenarnya bukan benar-benar dia yang hebat. Tapi, tetap saja, dia bangga.

“Tentu saja. Anda ‘kan kurcacinya—maksudku kembaran Anda adalah kurcacinya. Kau punya sihir.”

“A-A-A-APA?!” teriak Taemin sambil berdiri dari kursinya. Membelalak tidak percaya. “A-aku bukan manusia? Aku … aku kurcaci?” gumam Taemin dengan suara bergetar dan tampak benar-benar tak bisa menerimanya.

“Lalu bagaimana denganku?” tanya Minho penasaran.

“Dengan kami,” koreksi Jonghyun yang tentu saja ingin tahu, meski ia sudah melihatnya langsung. Setidaknya ia tahu bahwa ia manusia, atau iblis? Ia cukup ragu.

“Anda,”—menunjuk Minho—“adalah seorang elf. Dan Anda,”—menunjuk Jonghyun—“seorang penyihir.”

“Penyihir?” ulang Jonghyun dengan alis megerut. Aneh, pikirnya.

“Dan, apakah kau mengenal Iblis Key?”

“Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal Anda dan Iblis Key? Semua orang di negeri ini kenal. Kalian adalah dua kubu yang saling bermusuhan. Tapi, omong-omong orang seperti apa Suho itu, dan ada yang aneh, Suho nama kecilku. Namaku Kim Joon Myeong.”

“Di sana dia bernama Kim Suho. Seorang bangsawan, tapi sangat sombong dan menyebalkan,” ungkap Onew yang entah bagaimana bersyukur bisa melihat Suho yang lain, meski hanya pekerja miskin tapi ia baik hati.

“Ya, dia sangat memusuhi Kakak karena Kak Onew lebih pintar darinya, karena itu, Kak Onew pun sangat tak menyukai orang itu,” Taemin menambahkan, yang beberapa menit lalu bungkam karena terguncang dan untuk beberapa waktu berusaha menerima kenyataan.

“Kalau begitu, kautahu di mana Raja Key?” tanya Jonghyun.

“Maksudmu Iblis Key?” koreksi Suho.

“Terserah.”

“Dia kalah pertempuran dan disekap, juga dijadikan pembantu di kediaman Tuan Onew. Aku tahu karena aku bekerja di perkebunannya.”

Mereka terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing dan di saat itu sebuah suara membuyarkan lamunan mereka. Itu adalah suara yang lagi-lagi berasal dari perut Taemin, dan kali ini Taemin tak menyangkal, ia justru memohon, “Bisakah kita makan sekarang?”

“Tentu saja. Tapi maaf, makanan kami sangat sederhana,” ucap Suho menawari.

“Tidak apa-apa. Itu sudah sangat membantu,” balas Onew penuh terima kasih. “Tapi, bisakah aku meminta bantuanmu, lagi?”

________

“Tuan, tamu-tamu kita sudah datang. Waktunya sudah tiba.”

“Benarkah? Kapan?” tanya lelaki itu takjub, lalu terlihat berpikir sebentar. “Apa …?”

“Benar, Tuan.”

“Sekarang, kita hanya perlu menunggu, bukan? Menunggu tikus-tikus bodoh itu masuk jebakan.” Lalu menyeringai jahat.

________

Malam-malam sekali, hampir tengah malam mereka berusaha terjaga. Mereka mencoba tidur lebih awal di rumah Suho, atau kau bisa memanggilnya Joon Myeong. Rumah itu sangat kecil, dan hanya memiliki dua buah kamar tidur, dapur dan satu ruang makan, sangat sederhana. Karena mereka membutuhkan tempat untuk beristirahat mereka tidur di ruang makan untuk beberapa jam—tepatnya lima jam—di lantai yang terbuat dari tanah yang diratakan, lalu Suho memberikan sebuah tikar dari jerami yang tebal, juga beberapa selimut yang tipis untuk mereka, yang cukup hangat karena malam tak terlalu dingin.

Setelah makan siang tadi Onew dan yang lainnya sudah berdiskusi dengan Suho, membuat rencana dan mempersiapkan segalanya. Jadi, ketika mereka terjaga malam itu mereka hanya perlu mengontrol semua barang dan pergi malam itu juga. Suho mengantar mereka dengan sebuah kereta kuda. Bukan sebuah kereta kuda yang kalian bayangkan, yang mewah dan tertutup. Itu hanya sebuah gerobak jerami yang dinaiki oleh beberapa orang dan ditarik oleh seekor kuda, dengan Suho yang menjadi kusirnya.

Mereka melalui jalanan sepi malam itu. Jalan-jalan yang sebelumnya mereka lalui siang tadi, melalui pasar lalu berbelok ke jalan yang tak mereka kenal. Memasuki perkebunan yang luas dengan pohon-pohon apel, buahnya yang merah menggantung siap untuk dipetik. Terkadang, mereka mendengar suara serigala dari arah hutan, atau kadang burung hantu di perkebunan yang tak jarang membuat Taemin merinding. Pada akhir perjalan yang cukup lama, mereka diturunkan agak jauh dari sebuah gerbang besar dari besi, dan masih berada di dalam perkebunan. Suho terlalu takut mendekat lebih jauh lagi, benar-benar takut suara ladam kudanya terdengar, jadi ia turunkan mereka di tempat yang gelap, yang tak bisa cahaya bulan menerpa mereka. Di dalamnya—tampak dengan jelas dari tempat mereka berdiri sekarang—ada sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas.

“Itu rumah, Tuan Onew. Aku hanya bisa mengantar kalian sampai di sini. Berhati-hatilah. Rumah itu memang tampak seperti tak ada yang menjaga, tapi percayalah, di sana berbahaya. Pernah ada yang berniat mencuri di rumahnya beberapa kali, dan mereka semua ditemukan dalam keadaan kaku di perkebunan.”

Semuanya tampak ketakutan mendengar pengakuan Suho, meski begitu mereka tidak mengendurkan keinginan mereka sedikit pun untuk menolong Raja. Dengan mengendap-endap dan penuh kehati-hatian Jonghyun mendorong gerbang lalu terdiam ketika gerbang itu terbuka sedikit. Ia melihat ke pada teman-temannya yang berada di belakangnya dan berbisik, “Tidak dikunci.” Lalu disambut oleh senyum ketiganya.

Dengan hati-hati mereka masuk, berjalan berjingkat seperti pencuri dan segera besembunyi di balik semak. Di pekarang rumah yang luas itu mereka bisa menemukan begitu banyak tanaman bunga berbagai rupa dan warna mekar dengan indah—meski tak ada lampu sama sekali, tapi terang bulan sangat membantu menyinari para bunga agar tampak di malam hari. Di sana mereka terdiam sejenak untuk melihat sekeliling, meneliti situasi lalu mencari jalan masuk. Tempat itu kosong dan gelap meski pintu yang mereka lihat tampak tak dijaga tapi mereka ingat peringatan Suho, “Jangan gunakan pintu depan, meski malam di sana penjagaannya sangat ketat meski tak tampak. Masuklah lewat pintu belakang. Itu gudang penyimpanan buah-buah yang dipanen. Semoga tak ada yang menjaga, tapi biasanya saat siang ada beberapa orang. Mereka berkerja menghitung hasil panen, sibuk menata dan menyimpannya. Di dalamnya ada lorong gelap yang terhubung langsung dengan ruang penjara bawah tanah, mungkin di sanalah Raja Key disekap.”

Mereka menuruti Suho dan tak mau mengambil risiko yang tak perlu. Memutari rumah besar tersebut menuju belakang, berjalan berjingkat hingga berada di depan sebuah pintu berwarna kelabu yang gelap. Tak ada penerangan sama sekali seperti pekarangan depan, benar-benar gelap, setidaknya mereka tak perlu takut dapat terlihat meski harus tetap berhati-hati terhadap setiap suara yang akan mereka timbulkan. Namun, kali ini mereka kebingungan, karena kali ini pintunya terkunci, kecuali Minho.

“Hei, apa perlu kita mendobraknya?” tanya Jonghyun dan Onew menggeleng cepat.

“Cari jalan yang lain?” tanya Taemin

“Yang mana?” balas Onew.

“Mungkin ada,” ucap Taemin sedikit berharap.

“Pasti terkunci juga,” bantah Jonghyun.

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Taemin setengah frustasi.

“Pintu sudah kubereskan. Ayo masuk!” tiba-tiba Minho bersuara dan kalimat yang ia lontarkan mampu membuat perhatian mereka langsung teralih padanya dan pintu yang sudah terbobol. Pintu itu sudah terbuka dengan lebar setelah Minho putar knopnya.

Onew, Jonghyun dan Taemin melongo bersamaan. “Ba-bagaimana—“ tanya Jonghyun  dengan bingung, namun mereka dengan cepat mengerti ketika Minho meringis sambil menunjukkan sebuah kawat di tanganya.

Ketika mereka sibuk berbisik-bisik satu sama lain—Minho dengan cepat melakukan keahliannnya, dan mereka mengerti betul apa kegunaan benda yang biasa orang-orang dengan remehnya menganggapnya sampah tak beguna, tetapi di tangan Minho benda itu bisa ‘berubah’ menjadi kunci, dan alhasil, dalam waktu singkat pintu terbuka dan mereka semua hampir bersorak karena senangnya.

Tak buang-buang waktu, mereka masuk. Seperti—lagi-lagi—apa yang dikatakan Suho, itu adalah gudang penyimpanan hasil panen. Begitu banyak karung-karung dan kardus-kardus berisi berbagai buah-buahan, dari apel, jeruk, bahkan anggur. Semuanya terlihat segar dan manis, tapi tak ada gairah untuk sekadar mencicipi. Mereka tetap berjalan dengan berhati-hati, meski tempat itu benar-benar kosong.

 Di asna memiliki banyak pintu kayu dan mereka membukanya satu per satu, berusaha mencari sebuah lorong gelap yang dimaksud Suho. Rupanya cukup sulit mencari karena nyatanya pintunya cukup banyak, tapi ada sebuah pintu yang di dalamnya memiliki tangga gelap menuju ke bawah dan satu pintu lain yang memiliki tangga juga, namun menuju ke atas. Dengan mudah mereka memilih. ‘Penjara bawah tanah’ tentu saja berada di bawah.

Minho mengambil senternya, begitu juga yang lain kecuali Taemin, dia tak membawa karena tak terpikirkan sama sekali. Tangga-tangga itu berada di dalam sebuah lorong yang benar-benar gelap, tak ada pintu sama sekali di kedua sisi tembok yang berwarna kelabu, tak juga cabang lorong lain. Secara sistematis ini merugikan, karena hanya ada satu jalan masuk berarti hanya ada satu jalan untuk keluar. Dan jalan itu sedang mereka turuni, cukup jauh hingga akhirnya sampai pada sebuah tempat yang cukup besar dan sangat gelap dengan suhu udara yang lebih rendah, dan juga sangat sunyi karena tak ada suara hewan sama sekali.

Di sana mereka menyapu pandangan dengan bantuan senter yang berada di tangan-tangan mereka. Terlihat jejeran pintu-pintu kayu berwarna kelabu menyatu dengan tembok—temboknya tidak dicat—ketika cahaya senter menerpanya. Di bagian atas pintu terdapat kisi-kisi dengan jeruji-jeruji besi dan kuncinya sendiri menggunakan gerendel yang kuat. Pintu-pintu itu berjajar dalam ruangan seperti lorong, sangat panjang dan jauh, bahkan, sorot lampu senter mereka tak bisa menembusnya, hanya menampakkan kegelepan dari di kejauhan.

Taemin mendekati salah satunya,dengan tubuhnya yang tak terlalu tinggi ia harus berjinjit untuk mengitip dari kisi-kisi yang ia soroti senter milik kakaknya—yang baru saja ia pinjam. Di dalam ia hanya bisa melihat ruangan kosong, yang sempit, dengan sebuah kursi panjang dari kayu yang tergantung di tembok menggunakan rantai. Setelah itu dengan hati-hati membuka pintu dan menengok ke dalam untuk mengecek lagi—kali ini ia bisa melihat hingga ke sudut—dan di salah sisi ruang superkecil itu ada sebuah kasur yang terbuat dari tumpukan jerami lembab yang memenuhi salah satu sisinya—hanya cukup untuk tidur satu orang dan panjang sisinya hanya dua meter.

“Kak, di sini kosong,” bisik Taemin.

“Di sini juga,” ucap Minho yang sedang memeriksa bersama Onew.

“Di sini juga sama,” timpal Jonghyun yang juga memeriksa hingga memasuki ruangan itu, dan berada paling jauh dari semuanya.

Onew terdiam, bola matanya bergerak-gerak tak beraturan, wajahnya dipenuhi kecemasan hingga tiba-tiba saja iamenyambar senter Minho sambil berkata “pinjam”. Dengan tergesa-gesa dan penuh kecemasan tinggi ia membuka setiap pintu yang berjajar di salahsatu sisi lorong, dan alhasil ia semakin jauh  dari teman-temannya dan tersamarkan oleh kegelapan hingga tak terlihat sama sekali kecuali hanya langkah kakinya yang cepat yang bisa terdengar, itu pun semakin samar.

Mereka saling bertukar pandangan dengan tatapan penuh tanya beberapa saat hingga akhirnya mengikuti apa yang Onew lakukan, dengan cepat memeriksa penjara—membuka beberapa pintu, lalu mengintipnya dari kisi-kisi—lalu menyusul Onew yang sudah berada di ujung lorong setelah yakin tempat itu benar-benar kosong tanpa harus memeriksa semuanya, mereka berlari ke ujung hingga mendapati Onew yang tengah terduduk sambil bersadar pada tembok sambil merunduk. Dia meringkuk dengan bingung di sana.

“Onew kau baik-baik saja?” tanya Jonghyun.

Onew  mendongak dengan wajah suram lalu menghela keras. “Semuanya … semuanya kosong, Teman-teman,” ucapnya dengan lemas. “Harusnya … harusnya aku memercayai kecurigaanku. Ini terlalu mudah,” lanjutnya, begitu kecewa terhadap diri sendiri.

To Be Continued ….

20 thoughts on “[FFP 2013 – 2] Hieroglif – Part 3

  1. hoa.. Makin seru aja nii..
    Di dunia cermin semua kebalikan dari dunia asal. Yg asalnya baik jadi jahat yg jahat jadi baik..
    Next..

  2. Huaaaaaaa~ ada apa? Ada apa? Apa suho yg menjebak mereka?? Tuh kan! Suho di dunia nyata maupun di dunia cermin pasti jahat !! :@ hehe mian suho ^^ atau suho gatau apa2? jd ini cuman strategi tuan onew doang dan hanya dia+dua pengawalnya aja yg tau tntang rencana nya? hmmm bikin penasaran emang
    Dsini onew sdikit lengah dan trlalu prcaya trhadap org asing. mereka pasti kena jebakan kan? Sudah ktebak sih smnjak ada yg bilang “Sekarang, kita hanya perlu menunggu, bukan? Menunggu tikus-tikus bodoh itu masuk jebakan.” Lalu menyeringai jahat. Hmm mngkin krna mreka tdk dbekali dgn pngetahuan yg cukup tntang dunia cermin, wajar saja klo mreka trjebak. Bahkan seorang onew yg jenius skalipun.
    Oh iya, imej minho yg menyebalkan –menurut saya- terhapus sudah di part ini, minho keren !*_* I lop yu bang froggy :*
    Sip tinggal mnunggu Part selanjutnya. Part IV. Di tunggu bangeeeeeetttttt Part selanjutnya.
    Sukses dan semangat buat Author😀 Keep writing ^^
    jangan lama2 post nya yah, hehehe #nawar #dilempar ke… apa yah? #plak

  3. Wihhh…
    Kyknya Suho kerjasama m salah satu kubu deh,,, entah itu Kubu Jjong-Tn. Choi atopun kubu Onew,Ming,Taemin yg ada di dunia cermin..

    Next….

  4. Segalanya seharusnya berjalan dengan tantangan dan kesulitan, barulah itu bukan jebakan. TaeMin seperti black hole untuk kelompoknya -__- magnae kehilangan sisi manly di FF TT_TT
    Karena FF ini, jadi belajar kode morse, Tamil, hieroglif juga. Siapa tahu nanti author membuat teka-teki seperti itu •̃⌣•̃◦​‎​◦°◦нê◦нë◦нê◦◦°◦•̃⌣•̃
    Lanjutkan author (งˆ▽ˆ)ง

  5. HUAAAAA MINHO ITU ELF!!!! KYAAAA LEGOLAAAAAAASSSSS*apaini*
    Aku terlalu nge-fans sama Orlando Bloom dan Legolas. Maap. KYAHH MINHO WAJAHMU BERUBAH JADI WAJAHNYA ORLANDO BLOOM #DER
    Huaahhh diksi yang keren thor, emang sesuai perkiraan di Dunia Cermin semuanya mungkin. Cukup kesian sama Taemin yang jadi kurcaci wkwkwkwkwk!
    Waaaaa pasti dong. Gak seru kalau Raja Key langsung ketemu weheheheh :3
    Lanjut-lanjutt~~!

  6. Makin seru, nih…
    Wah, jadi kedatangan mereka udah diprediksi? Jangan-jangan mereka sengaja dijebak! Apa Suho di dunia cermin ikutan jebak? Kan dia di dunia nyata yang jahat. Mestinya di dunia cermin, dia baik. Berarti, Tuan Onew dan kronco-kronconya yang jebak.
    *Nyadar diri rada tulalit, tetep mau maen tebak2an segala.

    Jinki-ya… Hati-hati… Pulang dengan selamat. Aku lom siap jadi janda…

    Penggambaran settingnya tetep detail. Aku suka.
    Tapi di beberapa paragraf deskripsinya, aku nemuin banyak kalimat yang
    sedikit gak baku. Jadinya terasa ‘kasar’. Gak semulus di dua part sebelumnya.
    Juga penggunaan tanda baca ‘koma’ dan ‘titik’ yang kurang tepat.

    1. kalimat nggak baku? yang mana, ya?
      dan penggunaan titik dan koma yang kurang tepat. sepertinya aku masih harus belajar lagi. mungkin harusnya kamu kasih yang lebih rinci biar aku lebih ngerti di mana letak kesalahannya. hehehe

      tapi tetep makasih udah mau luangin waktu buat baca dan koment!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s