[FFP 2013 – 2] Chocolate Memories

Title : Chocolate Memories

Main Cast (Tokoh Utama) : Lee Jinki, Choi Minho

Support Cast (Tokoh Pembantu) : Minho’s lil bro (anonymous), Jung Ajussi

Length : Oneshot

Genre : Drama, Friendship, Family,

Rating : PG-13

Summary : Hujan memang mempertemukan kita, tetapi coklatlah yang membuat kita berbagi bahagia.

_______

Jinki menguap. Ia tak tahu bahwa menunggui perpustakaan bisa terasa begitu membosankan seperti ini. Buku biografi Albert Einstein yang baru dibacanya setengah bagian kini menganggur. Pemuda itu mencondongkan tubuhnya ke depan, dadanya menempel sempurna pada tepi meja kayu berpelitur cokelat. Matanya bergerak dari kanan ke kiri ruangan menatap jajaran rak buku yang terisi penuh. Sejurus kemudian, dagunya merosot, mencium permukaan meja yang berlapis mika. Matanya sebentar-sebentar terpejam, hanyut dalam sepoi-sepoi angin yang menyusup dari celah jendela.

Gerimis turun, membasahi permukaan bumi yang mengering. Aspal yang tadinya kelabu berselaput debu, kini tersapu air. Warnanya menggelap, nyaris hitam. Jinki masih enggan mendongak. Pemuda itu hanya menolehkan kepalanya ke kiri, menatap kaca jendela yang penuh dengan butiran air berukuran kecil. Di luar sana, di atas trotoar, beberapa orang berlalu-lalang. Mereka bergegas, entah mengejar apa. Jinki termangu, tidak satu pun di antara mereka yang berpikir untuk sekadar singgah di dalam perpustakaan ini. Mungkinkah aroma kertas dan kayu membuat mereka alergi? Pemuda itu menggaruk kepalanya, bingung dengan pertanyaannya sendiri.

Cukup lama Jinki berpikir. Bosan kembali menderanya. Sekali lagi, pemuda itu menguap panjang. Tidak, ini tidak baik, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dengan setengah malas, ia bangkit dari duduknya, beringsut mendekati rak yang terletak persis di hadapannya. Sebuah novel klasik mungkin tepat untuk menemani sore yang dingin ini.

Saat benaknya disibukkan untuk memilih satu antara tiga novel yang menarik perhatiannya: Frankenstein, Huckleberry Finn, dan Oliver Twist, seseorang mengetuk jendela berkali-kali dengan frekuensi yang cukup keras. Jinki terlonjak begitu melihat sesosok siswa berseragam lengkap menempelkan wajahnya pada kaca.

Lalu petir menggelegar.

Dengan terburu-buru, Jinki mencomot novel Frankenstein dari rak buku. Untuk beberapa saat, pemuda itu bingung harus berbuat apa. Meletakkan novel ini atau menghampiri siswa yang kini menatapnya tajam? Kedua kakiya berjalan tergopoh-gopoh, menghampiri pintu yang terbuka.

“Ada perlu apa?” tanya Jinki sembari tersenyum, berusaha menunjukkan keramahan pada pengunjung baru.

Siswa tak dikenal itu mengalihkan pandangannya dari ruang perpustakaan menuju sosok canggung yang berdiri di dekat pintu. “Aku mau pinjam sepeda,” jawabnya cepat.

“Hah?” Jinki memastikan bahwa telinganya tak salah menangkap informasi. “Meminjam buku tentang sepeda? Oh, kau menemukan tempat yang tepat,” jelasnya, mencoba mengkoreksi jawaban calon pengunjungnya.

“Tidak. Aku ingin meminjam sepeda ini. Bisakah?” Siswa itu menunjuk sepeda Jinki dengan telunjuk kirinya. Ia mendecakkan lidah, menyesalkan miskomunikasi yang terjadi. Waktu terus berjalan, mengapa si penjaga perpustakaan ini begitu bodoh? Dilihatnya arloji digital yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sudah pukul setengah lima sore. “Aku akan mengembalikannya dalam waktu tiga puluh menit. Janji!”

“Ah, maaf. Silakan, kau boleh meminjamnya.” Jinki merogoh saku celananya, kemudian menyerahkan kunci sepedanya pada siswa itu.

“Tapi, sekarang hujan lebat. Kau bisa menunggu…”

Siswa itu tak mengizinkan Jinki untuk menyelesaikan kalimatnya. Dengan cepat, ia menyambar sepeda itu, mengayuhnya kencang-kencang, menembus derasnya hujan. Ia tak bisa menunggu lama. Satu detik yang bergulir pun terlalu berharga untuk disia-siakan.

Jinki terpaku menatap adegan yang baru saja tersaji di hadapan matanya.

“… di dalam perpustakaan ini. Jika kau mau, aku akan membuatkanmu teh hangat,” gumam pemuda itu pelan, melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus.

Ia butuh teman bicara. Sayangnya, tak ada yang bersedia.

*****

Minho termangu menatap sebuah bangunan bercat putih-biru yang menjulang di depannya. Beberapa orang anak bergegas keluar dari bangunan tersebut, tak sabar bertemu orang tua atau saudara yang menjemput. Sekumpulan anak lainnya memasang mantel parasut dan mengembangkan payung, sepertinya mereka cukup berani untuk pulang sendiri.

Hyung!”

Lelaki itu terkesiap. Ia seolah terlempar dari suatu dimensi ke dimensi lain yang samar-samar. Seorang anak laki-laki tertawa riang, berlari ke arahnya. Biasanya Minho akan balas tertawa, lalu menghujani adiknya dengan sederet pertanyaan. Apakah lesnya menyenangkan?Apa guru-gurunya baik? Bagaimana teman-temanmu?Mereka semua juga baik, ‘kan?

Ia akan begitu bahagia saat pertanyaan itu dijawab dengan anggukan penuh semangat atau jawaban ‘ya’ bernada antusias. Lalu, Minho akan menggandeng tangan adiknya itu di sepanjang perjalanan pulang. Terkadang, ia akan membelikan es krim cokelat atau bungeo ppang, kue berbentuk ikan berisi pasta kacang merah nan manis di saat adiknya merasa jenuh dengan es krim.

Pernah sekali adiknya meminta untuk dibelikan biskuit cokelat di minimarket. Namun, Minho menolak. Lalu, tiba-tiba saja adiknya itu meraung kencang dan berlari menerobos jalanan yang ramai oleh kendaraan.

Minho tidak bisa bertemu dengan adiknya lagi sejak kejadian itu. Mereka telah terpisahkan untuk selama-lamanya.

Ia seharusnya sudah menyadari hal itu sejak lama. Lalu, mengapa ia masih mengunjungi tempat ini setiap hari Rabu dan Sabtu, tepat pada pukul lima sore? Berharap untuk menemukan sosok yang mirip dengan adiknya? Atau sebagai bukti bahwa ia hanya sosok kakak yang tidak bisa bergerak maju, meninggalkan masa lalu?

Minho mengerjapkan matanya berkali-kali. Bayangan masa lalu itu seketika lenyap. Kini, indera pendengarannya kembali riuh oleh suara anak-anak, klakson mobil jemputan, tapak kaki yang melangkah. Pekarangan gedung itu mulai sepi beberapa saat kemudian.

Lelaki itu tersenyum pada dirinya sendiri. Saatnya untuk pergi.

*****

Jinki menyeruput teh oolong itu untuk kesekian kalinya. Hujan telah reda. Novel Frankenstein ini tak lagi terasa mencekam seperti tadi, saat petir terdengar bersahut-sahutan. Bosan. Bosan. Bosan. Jinki menuliskan kata itu sebanyak tiga kali pada buku tulisnya.

Bosan.

Namun, sebanyak apapun ia menuliskan kata itu, rasa jenuh tak pernah ingin menjauh. Andai saja anak itu mengembalikan sepedanya tepat waktu, mungkin ia bisa pulang sekarang. Ada banyak pekerjaan yang menunggunya di rumah, dan itu lebih baik daripada menunggui perpustakaan kecil yang mati suri ini.

Gemerincing bel menyelamatkan Jinki dari kejenuhan. Sepedanya datang.

Pemuda itu menatap jendela, tubuhnya mendadak terasa lunglai. Haruskah ia menghampiri anak itu sekali lagi? Tidak bisakah ia ke dalam saja? Jinki bersumpah akan membuatkan teh hangat untuk anak itu. Tidak cukup? Oke, bagaimana dengan sepiring biskuit bertabur butiran cokelat?

“Terima kasih atas pinjaman sepedanya.”

Di luar dugaan, siswa itu muncul di depan pintu, melongokkan kepalanya ke dalam. Jinki terkejut, hampir saja ia tersedak teh. Untung saja cairan cokelat itu tidak tersembur dari mulutnya hingga membasahi novel yang dibacanya. Ia bisa dimarahi Jung Ajussi bila ketahuan mengotori buku koleksi pribadi pria paruh baya itu.

“O-oh. Ya, sama-sama. Senang bisa membantu,” balas Jinki dengan kikuk. “Masuklah. Perpustakaan ini tidak ada hantunya, kok.”

Sang lawan bicara masih terlihat sungkan, meskipun akhirnya ia masuk juga. Jinki tersenyum, mempersilakan tamunya untuk duduk di kursi yang berada tepat di seberang meja kerjanya.

“Namaku Lee Jinki. Namamu?”

“Choi Minho. Panggil saja aku Minho, Anda sepertinya lebih tua dariku,” jawab sang tamu – Minho – dengan lugas. Pandangannya beralih pada tumpukan buku yang memenuhi meja Jinki. Tidak berantakan, memang, tetapi cukup mengganggu pandangan. Tiba-tiba saja, hidungnya terasa geli, seperti digelitik bulu burung. Tak tahan lagi, lelaki itu bersin tanpa sempat menutup hidungnya dengan sapu tangan atau apapun.

“Kau pasti kedinginan, Minho ssi. Tunggulah di sini, aku akan membuatkan secangkir teh.” Jinki buru-buru bangkit dari tempat duduknya, hendak menuju pantry mini yang terhubung dengan pintu yang berada di belakang ruang baca.

“Tidak usah, Lee Jinki ssi. Aku akan pulang sebentar lagi.”

Seulas senyum menghiasi wajah Jinki. “Jangan begitu. Sekarang, aku memintamu untuk tinggal sebentar dan menikmati jamuan sederhana. Tidak baik menolak permintaan orang.”

Tidak baik menolak permintaan orang.

Mungkin, perkataan Jinki benar adanya. Seandainya…

Cukup!

Minho menggelengkan kepalanya kuat-kuat, meminta otaknya untuk berhenti memutar kepingan kenangan masa lalu.

“Kau tidak apa-apa?” Jinki mengerutkan dahi, melihat sikap Minho yang begitu aneh.

“Jangan cemas. Aku baik-baik saja.”

“Benarkah?” tanya Jinki, memastikan. “Kau suka biskuit? Kalau mau, aku akan mengambilkannya untukmu.”

Minho mengangguk.

Beberapa menit kemudian, Jinki kembali dengan secangkir teh dan sepiring biskuit mungil bertabur butiran cokelat.

Hyung, aku mau biskuit itu!

“Cobalah, Minho ssi. Kau pasti menyukainya. Aku tahu, ini makanan anak-anak, yah, mungkin agak konyol bagi orang dewasa sepertiku untuk menggemari biskuit ini. Tapi…,” Jinki mengambil tiga buah biskuit sekaligus dan mengunyahnya dengan cepat. “tetap saja, ini benar-benar enak.”

Minho melakukan hal yang sama. Manisnya biskuit cokelat bercampur dengan renyahnya butiran cokelat. Sepertinya, ia akan membeli makanan ini lain kali.

“Anda benar, biskuit ini memang enak. Wajar anak-anak, ah, bahkan adikku pun menyukainya.”

Jinki tersenyum lebar.

Minho menertawakannya. Menertawakan gigi seri Jinki yang berlumur cokelat.

Lalu, Jinki tertawa kencang.

Lelaki berseragam sekolah itu mungkin tidak sadar bahwa Jinki tertawa untuk alasan yang sama.

Fin

26 thoughts on “[FFP 2013 – 2] Chocolate Memories

  1. cool! oh, family-ya. brothersip. saya pernah nangis gegara liat video abak kecil mungut makanan di jalan demi adiknya di rumah. karena si tukang nggak mau membagi jualannya. ada yang beli dibuang, eh dipungut deh. ahahaha, saya jadi mau mewek lagi nih. selalu suka genre family and friedship.

    1. Hai Lee Hana-ssi
      makasih ya sudah membaca dan memberikan komentar. Dua genre itu emang ga ada matinya deh, selalu bikin terenyuh. ^_^

  2. friendship/brothership Jinki-Minho, saya suka author-ssi^^

    memang kala lg musim hujan spt sekarang enaknya punya seseorang buat berbagi kehangatan, sambil minum teh hangat ataupun coklat hangat, apalagi ditambah pisang goreng(eh)😀

    1. Hai Lydia-ssi
      Aku juga lemah sama friendship, apalagi brothership (atau bromance?).
      Ya, teh hangat, cokelat hangat cocok sekali untuk menghangatkan diri di kala hujan. Pisang goreng juga pas, nggak selalu harus kue atau biskuit cokelat seperti di ff ini.
      Terima kasih ya sudah menyempatkan diri untuk membaca dan memberi komentar ^_^

    1. Hai Hyora Kim-ssi ^_^
      Benarkah? Lebih manis mana daripada gulali? Atau senyuman Jinki?
      Makasih banyak ya atas dukungannya, aku akan berusaha lebih baik lagi ^_^

    1. Hai zaKy-ssi ^_^
      Terima kasih sudah menyukai cerita ini. Semoga nggak sampai bikin gula darah tinggi ya karena kemanisannya😀

  3. Ceritanya bgs bgt,jd ingat adik kecil q dirumah yg sangat suka dgn coklat ,tp adiknya minho kemana ya??? Apa wkt pergi berlari ninggalin minho dia kecelakaan??? Mollaaaa
    Bgs bgt thor crt nya sangat menghibur 🙂

    1. Hai Yanti-ssi ^_^
      Makasih banyak ya sudah menyukai ff ini. Adik Minho meninggal karena tertabrak mobil, memang tidak diceritakan secara lugas. Maaf ya kalau agak membingungkan.

  4. Bagus thor ff nya, Daebak😀 Sweet bgt, apalagi main castnya onho :3 aigooo suka bgt ama mereka+genre nya jg favorit bgt🙂 dtunggu karya selanjutnya, Keep writing😀 Hwaiting !!!😉

    1. Hai Rery MVP-ssi ^_^
      Makasih ya sudah menyukai ff ini. Makasih juga atas dukungannya, aku akan berusaha lebih keras lagi🙂

    1. Hai yongie_jjong-ssi ^_^
      Hampir tepat. Minho sebenarnya ingin ke tempat les adiknya, dulunya dia biasa menjemput adiknya kalau les. Nah, sekarang adiknya udah nggak ada, tetapi Minho masih belum bisa move on (anggaplah seperti itu), jadi dia ingin buru-buru sampai di tempat les adiknya, hanya untuk menemukan fakta bahwa orang yang biasa ditunggunya nggak akan muncul. Maaf ya kalau agak rumit.
      Syukurlah kalau dirimu juga merasakan hangatnya😀

  5. cute banget ini ceritanyaa.. yg bikin terenyuh itu pas tau kalau Minho itu ke tempat les karena belum bisa move on dari mendiang adeknya..

    dan gak kalah terenyuh itu kalimat terakhir. jadi si Jinki juga punya pengalaman yg mirip dengan Minho juga gitu ya?
    sama2 kesepian gitu jadinya ya? T_T

    sweet banget author-ssi! bikin ff ber-genre ini lagi yaa😀

    1. Hai dhila_アダチ-ssi ^_^
      Makasih ya sudah menikmati ceritanya. Silakan tafsirkan sendiri apakah Jinki punya pengalaman yang mirip dengan Minho atau sekadar butuh teman bicara.
      Makasih atas dukungannya, aku akan berusaha lebih keras🙂

  6. Aku hampir nangis dengan kisah Minho dan adiknya…
    Trus ngakak di endingnya….

    Bagus banget….

    Kalo penjaga perpustakaannya Jinki, mah…. Aku bakal seharian di sana…. *OutofTopic!

    Keep writing, ya…

    1. Hai Miina Kim-ssi ^_^
      Berarti tidak jadi menangis, ‘kan? Syukurlah karena Jinki dan Minho rela giginya berlumuran cokelat jadi endingnya lucu😀
      Aku juga mau jadi pengunjung tetap perpustakaannya😉
      Makasih ya sudah meluangkan waktu untuk membaca dan berkomentar. Makasih juga atas semangatnya, aku akan berusaha lebih keras🙂

  7. Hai Lee Hana-ssi
    makasih ya sudah membaca dan memberikan komentar. Dua genre itu emang ga ada matinya deh, selalu bikin terenyuh. ^_^

  8. Oh, ceritanya sedih. Kasihan yang bagian Minho nungguin di tempat adiknya itu dan pergi pas udah sepi.
    Pas Jinki milih novel, padahal kukira bakalan milih Huckleberry Finn, taunya malah Frankeinsten.hahah.

    1. Hai Song Euncha-ssi
      Iya, ya, nggak kebayang kalau yang jadi Minho itu aku.
      Oh, itu sengaja. Kan lagi ada petir tuh, makanya cocok dengan Frankenstein😀 *maksa*
      Makasih ya sudah mampir dan meninggalkan komentar. ^_^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s