[FFP 2013 – 3] Him Inside – Part 3

Title                 : Him Inside (3 of 5)

Main Cast        : Onew Lee (Lee Onew)

Support Cast   : Choi Minho, Kim Jonghyun, Lee Taemin, Kim Kibum, Lee Jinri (OC)

Length             : sequel

Genre              : Mystery, a bit of Horror, Psychology, Romance, Family

Rating             : PG-15 (sebenarnya bisa SU, sih. Tapi mungkin ceritanya bakal sulit dimengerti. Hehe…)

Summary           : “Sepertinya kau dan aku memang ditakdirkan untuk bertemu, Onew Lee…”

 

HIM INSIDE

By Bella Jo

Hyung! Hyung!”

Hanya erangan yang mampu keluar dari bibir lelaki dua puluh empat tahun yang tengah terbaring di atas ranjang sempit di dalam ruang yang sempit pula. Matanya masih sulit membuka, semua terasa begitu silau. Perlahan ia bangkit dari duduknya dibantu oleh seorang lelaki muda yang masih tampak samar. Perlahan ia melihat jelas segalanya, dan sebuah senyum ia lemparkan pada Lee Taemin, lelaki yang membantunya.

“Kemarin aku menemukanmu di pinggir jalan. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Taemin khawatir. Lelaki yang ia ajak bicara masih berusaha mengingat rentetan kejadian kemarin dan ia hanya mampu tersenyum lemah, “Bukan hal besar. Tidak perlu cemas. Kau tidak memberitahukan keberadaanku pada Pak tua itu, kan?”

“Tidak, aku ditugaskannya untuk mencarimu jadi aku bebas tugas lain. Beliau juga tidak tahu nomor ponselmu jadi sulit untuk melacak keberadaanmu. Untuk sementara, kau aman tinggal di sini, hyung,” jelas Taemin dengan senyum menenangkan. Onew -lelaki yang ia ajak bicara- ikut tersenyum. Setidaknya ia bebas bertindak untuk beberapa hari ke depan.

“Jadi, apa rencanamu?” tanya Taemin, tidak mau mengungkit hal kemarin. Onew meraih segelas air di samping tempat tidurnya dengan gerak lemah. Setelah meneguk air dengan susah payah, ia meraih isi kantung dalam jaketnya. Taemin miris melihat kondisi lelaki di hadapannya yang entah kenapa tampak begitu rapuh. Onew membuka beberapa halaman buku yang ia genggam, mencari-cari tulisan yang familiar di dalamnya.

“Ah, ini dia!” ujar Onew setengah berseru. Tangannya meraih cepat pena dan notes mini dari kantung celananya. Ia mencatat ulang sebuah tulisan dari buku itu dan tersenyum lebar. “Aku sudah tidak mungkin kembali ke rumah itu untuk mengumpulkan informasi jadi buku ini satu-satunya peganganku. Entah kenapa, aku yakin ini milik Pak tua itu. Di dalam sini terdapat beberapa alamat dan sepertinya ini petunjuk yang tepat untuk memulai langkahku,” ucapnya puas.

Taemin mengernyit alis mendengar penjelasan itu, “Bukannya aku meremehkan rencanamu, hyung. Hanya saja sepertinya kau melewatkan satu hal kecil.”

“Hah?”

“Menurutku kita tidak punya petunjuk kuat untuk memulai pencarian ini. Kita bahkan tidak mengetahui nama ibumu…,” jelas Taemin takut-takut. Onew berpikir sesaat lalu sibuk membolak-balik isi buku itu. Ia tersenyum getir saat menyadari hal yang sangat pahit dari kenyataan yang harus ia hadapi.

“Kau benar, tak ada satupun petunjuk pasti tentang ibuku…”

***

Hari beranjak siang, menghantar kelabu langit menjadi terang. Namun karena dinginnya hari, burung-burung tak lagi suka membentang sayap membelah angkasa. Angin masih senang bertiup, menarik dingin bersama hembusannya. Suara gesekan ranting dan ketukan jendela menghiasi siang hari di kota Seoul yang masih belum kehilangan sibuk aktivitasnya. Kota itu masih bekerja dengan giat menembus lapisan udara yang menjadi rintangan.

Seorang pria paruh baya menatap langit dengan sepasang mata tuanya yang letih. Kacamata bingkai hitamnya ia lepas begitu saja sambil memijat-mijat pelan lehernya yang pegal. Ia mulai membayangkan secangkir teh nikmat di tengah dinginnya hari ini.

“Hyung, kau terlalu banyak bekerja. Aturlah waktumu agar dapat cukup beristirahat!”

Pria itu merindukan kalimat tersebut. Ia tersenyum sambil membayangkan sosok adiknya yang cerewet dan kadang suka memberontak. Ah, bahkan ia bisa mengingat betapa adiknya sangat sulit di atur sejak kanak-kanak. Berkali-kali keluarganya heboh mencari adiknya yang sering menghilang entah ke mana. Namun semua hal itu hanya tinggal kenangan, hanya meniupkan kerinduan yang dalam di benak lelaki itu. Kenangan itu semakin kuat saat matanya menangkap potret adiknya di sudut meja.

TOK TOK

Aneh, bukannya sudah tidak ada janji lagi untuk satu hari ini? Siapa itu?

“Yak, masuklah,” gumam lelaki itu berwibawa, kembali pada tampilan profesionalnya. Pintu terbuka perlahan dan demi Tuhan, lelaki itu tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Ia bangkit dari duduknya untuk meyakinkan diri. Matanya membelalak sementara bibirnya berbisik tak percaya.

“Onew?”

Si lawan bicara tersenyum sekenanya dan membungkukkan badan dengan hormat. Ia tampak begitu lemah saat membalas dengan ucapan, “Yes, Sir. It’s me. I hope you wouldn’t mind if I pay you a visit.”

Of course! Come here! Oh God, thanks God…,” lelaki paruh baya bernama Kim Jonghyun itu langsung mendekati murid didiknya dengan wajah lega. Kedua lengannya langsung terbuka dengan gaya kebapakan dan memeluk lelaki muda itu dengan hangat. Ia menghantarkan Onew pada tempat duduk di hadapan meja lalu ikut duduk di seberangnya. “Tell me, how do you feel? Are you alright?”

Sir, rasanya aneh sekali Anda mengkhawatirkanku seperti itu. Aku bukan anak kecil,” ucap Onew setengah bercanda. Jonghyun mengangguk setuju namun segera berkata, “Ya, tapi kau pasien yang baru bangkit dari koma.”

“Ah, bagaimana Anda bisa tahu?” heran Onew. Namun pertanyaannya dijawab dengan senyum misterius milik Jonghyun, “Aku punya banyak jaringan informasi, kau tahu?”

Onew tersenyum kecil mendengarnya, memancing senyum lebar dari guru besarnya. Lelaki paruh baya itu mengesampingkan semua kekhawatirannya tentang Onew, dan berkata selayaknya percakapan guru dan murid, “Apa yang membawamu ke mari di hari dingin ini?”

“Ah, aku hanya butuh sedikit bantuan Anda karena aku tidak yakin pada kesimpulanku sendiri…,” ucap Onew ragu, “Tapi sebelumnya, apa mungkin Anda bisa menampungku di rumah Anda? Aku…aku tidak bisa pulang ke rumahku untuk sementara waktu…”

Tentu saja

“Boleh. Kau bisa tinggal di rumah orang tuaku di dekat sini. Sudah lama kedua orang tuaku meninggal dan rumah itu terlalu besar untuk kami tinggali sendiri. Kau bisa memakai kamar adikku dan aku akan mengunjungimu beberapa hari sekali, bagaimana?”

Senyum Onew mengembang. Ia segera bangkit dan membungkuk hormat sedalam mungkin, merasa sangat berterima kasih pada pria yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri. Jonghyun ikut bangkit dan menepuk-nepuk punggungnya dengan gaya kebapakan. Ia tertawa pelan, “Kau tidak perlu sungkan lagi padaku, son. Kau tahu kalau aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri sejak dulu.”

Thank you, Sir…. Thank you…

You can count on me, son.”

Ini adalah takdir, itulah yang ada di benak Kim Jonghyun. Dan saat Onew kembali berdiri tegak dan tersenyum ceria kepadanya, sebuah bayangan memenuhi kepalanya. Bayangan akan sosok adiknya. Saat itulah Jonghyun berjanji untuk tidak mengatakan apapun tentang keberadaan Onew pada Tuan Lee.

“Sekarang, katakan padaku tujuan awalmu ke mari,” ucap Kim Jonghyun bijak. Seketika Onew berubah gelisah. Ia kembali duduk di kursinya, tampak tak yakin dengan isi pikirannya sendiri. Setelah beberapa detik barulah ia mau angkat bicara, “Aku tidak tahu apa ini cuma pikiranku saja atau bagaimana, tapi…tapi..”

“Tenanglah dan coba ceritakan semuanya perlahan-lahan.”

Onew menarik nafas dalam-dalam dan akhirnya berkata, “Sebenarnya…”

***

TRAKK

Tuan Lee menghempaskan dirinya ke kursi kerja. Wajahnya terbenam di kedua telapak tangan yang besar dan lelah. Bagaimana bisa tidak ada satupun kabar mengenai anak itu? Bukankah kota Seoul ini amat sempit, bahkan terlalu sempit baginya untuk menjalankan bisnis hanya di kota itu. Namun sepertinya sekarang ia harus mengubah pikirannya.Apa yang harus ia lakukan?

“Nak, di mana kau sebenarnya?”

Suara ponselnya kembali berdering. Kali ini kepalanya sudah terlalu sakit bahkan untuk sekedar mengangkat panggilan tersebut. Tapi semakin lama suara dering itu membuat kepalanya semakin berdenyut. Sepertinya ia memang harus menjawab panggilan itu.

Yeobseo?”

Abeonim?”

“Ah, Hyunri-yah? Ada apa?”

“Ini bukan Hyunri, ini Hyunjae.”

Tuan Lee memijat pelipisnya. Bahkan sampai sekarang ia belum benar-benar bisa membedakan kedua putri kembarnya. Apa ini hukuman dari Tuhan? Lelaki paruh baya itu berusaha melembutkan suaranya walau tidak begitu berhasil, “Ada apa, Hyunjae-yah?”

“Apa abeonim baik-baik saja? Aku dengar Onew oppa menghilang dari rumah sakit kemarin…,” tanya Hyunjae langsung. Entah kenapa nadanya terdengar kurang tulus. Tuan Lee bergumam mengiyakan dan melanjutkan, “Tapi abeonim akan mengurusnya. Kau tidak perlu khawatir.”

“Aku…aku mengkhawatirkan abeonim…”

“Kau sama sekali tidak perlu mengkhawatirkan abeonim-mu ini. Lebih baik sekarang kau kembali bekerja. Menurut laporan atasanmu, masih banyak hal yang kurang kau kuasai. Kau tidak boleh membuat abeonim malu karena ketidakkompetenanmu,” tandas Tuan Lee tajam. Di seberang sana Hyunjae sudah memanyunkan bibir. Namun gadis itu langsung berkata, “Abeonim harus ingat bahwa abeonim masih mempunyai aku dan Hyunri. Jika Onew oppa kabur dari rumah sakit, berarti ia memang tidak mau bersama dengan kita. Kita…”

“Mungkin saja dia tidak kabur,” bantah sang ayah.

Abeonim, dia sudah dewasa! Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Dia-…”

“Kita bicarakan hal ini lain kali.”

Takkk

Lagi-lagi pria itu hanya mampu merebah tubuh di kursi dengan frustasi. Ia pun mendesah berat dan berkata, “Apa ini benar-benar hukuman Tuhan bagiku? Setelah kehilangan dia, aku juga harus kehilangan anakku?”

Di lain pihak, Taemin memasukkan ponselnya ke dalam saku dan melangkah dengan berat ke dalam bangunan yang tengah ditatapnya. Ia sudah berbohong pada tuan besarnya. Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi padanya jika ia ketahuan. Namun apapun yang akan terjadi nanti, Taemin siap. Ia merasa begitu benar dengan membantu tuan mudanya. Lagi pula Taemin masih penasaran, terutama terhadap bayangan-bayangan manusia non logis yang sering tampak, tentu saja di saat Onew tengah tidak sadarkan diri. Ia harus memastikan bahwa tuan mudanya tidak apa-apa. Yah, setidaknya itulah yang dapat ia lakukan.

“Ah, apa kau adik Onew yang sempat disebutkannya padaku?”

Taemin terkejut saat mendapati seorang lelaki paruh baya menyambutnya di pintu masuk. Ia membungkuk badan sekilas sambil mengucap salam dan pria di depannya hanya tersenyum lebar, “Tidak perlu terlalu sopan. Adik Onew Lee berarti anakku,” tawanya, “Aku Kim Jonghyun, dosen hyung-mu saat masih di London. Siapa namamu, nak?”

“Aku…namaku Lee Taemin, Sir. Tapi aku bukan adik Onew Lee. Aku pelayannya, ia hanya tidak ingin aku menyebutnya tuan muda,” jelas Taemin pelan, takut dikira menipu Jonghyun. Pria itu mengernyitkan alis lalu membetulkan letak kacamatanya, wajahnya berubah serius, “Berarti kau salah satu pelayan dari Lee…”

“Ya, saya salah satu pelayan di rumahnya. Hanya saja saya melayani tuan muda secara khusus sejak ditunjuk sebagai pelayan pribadi,” ujar Taemin lagi, semakin takut saat Jonghyun memandangnya intens. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Jonghyun berkata dengan nada tajam seakan mengancam, “Aku hanya ingin memperingatkanmu, jangan beritahu di mana Onew pada tuan besarmu atau kau akan menyesal.”

“Ya, Sir. Saya akan berusaha sebisa mungkin…”

“Baguslah. Nah, aku akan menunjukkan di mana kamarmu tapi sepertinya kau ingin menemui Onew terlebih dahulu. Mari kuantarkan,” suara Jonghyun sudah berubah ramah lagi. Ia sangat lihai mempermainkan pikiran orang lain. Taemin sempat menatapnya heran namun tetap mengikuti lelaki paruh baya itu menapaki lantai dua. Taemin mengedarkan pandangannya ke sekeliling isi rumah itu. Tidak semewah rumah majikannya, tapi tetap saja membuatnya terpesona. Banyak lukisan indah bergaya ekspresionis tertempel di dinding rumah, juga ada foto keluarga berukuran besar nan megah di ruang utama. Rumah tersebut tetap menampilkan kehangatan keluarga di dalam kemewahannya. Sayang sekali tempat ini ditelantarkan begitu saja.

“Kau lihat lukisan-lukisan yang ada di dinding itu?” tanya Jonghyun seakan membaca isi pikiran Taemin. Lelaki muda itu mengangguk, Jonghyun tersenyum, “Tak ada satupun dari lukisan itu yang kami beli. Adikku yang melukis mereka,” jelasnya bangga, seakan baru mengatakan hal paling hebat sedunia. Taemin membulatkan matanya. Semua lukisan indah itu hanya dikerjakan oleh satu orang?

“Benarkah?” tanya Taemin penasaran. Jonghyun mengangguk dengan gaya kebapakan. Di dalam keluarga kami mengalir darah seni yang cukup kental. Masing-masing dari kami memiliki bakat yang berbeda. Dulu adikku adalah seniman dan bekerja di salah satu perusahaan iklan sebagai penanggung jawab design. Tapi hidupnya tidak kaku. Dia bahkan masih sempat melukis di waktu senggangnya. Ia juga sering berpergian ke Inggris untuk melakukan pameran bersama seniman dunia lainnya.”

“Lalu, di mana adik Anda sekarang? Apa dia sudah menjadi seniman terkenal?  Mungkin saja aku mengenalnya…,” sahut Taemin semangat. Namun Jonghyun justru terlihat sangat sedih. Melihat perubahan raut wajah itu. Barulah Taemin sadar situasinya. Jangan-jangan…

“Saya mohon maaf. Saya tidak tahu bahwa ucapan saya menyakiti Anda. Tolong jangan pikirkan apa yang telah saya ucapkan…,” ujar Taemin cepat, segera membungkuk dalam-dalam. Di dalam pikirannya, terbayang potret keluarga pemilik rumah itu. Entah kenapa, ada satu wajah yang amat familiar di sana, selain wajah Jonghyun tentunya.

“Tidak masalah, anak muda. Semua manusia memang akan mati, hanya saja tak ada satupun yang tahu kapan, di mana, karena apa… Pokoknya semua manusia pasti akan menjemput ajalnya masing-masing,” ujar Jonghyun bijak, “Dan aku yakin adikku bahagia di alam sana…” Taemin tersenyum mendengarnya, ikut mendoakan hal tersebut di dalam hati. Keduanya sampai di akhir tangga dalam diam, sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Ada beberapa kamar di sepanjang lorong berhiaskan beberapa lukisan dan patung berukuran sedang. Tiap warna yang diusapkan di atas kanvas menampakkan nyawa, membuat Taemin menerka-nerka perasaan si pelukis saat membuatnya. Ia bahkan tersenyum saat melihat grafiti sederhana dengan tulisan ‘Déjâ vu’ di depan sebuah kamar, karya unik dengan paduan berbagai warna cerah dan gelap di dalamnya.

“Aku sudah meminta Onew untuk tenang dan langsung beristirahat. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kepalanya hingga ia melihat berbagai hal yang tidak logis. Kuharap ia tidak mengalami gangguan jiwa dengan segala tekanan yang menimpanya,” tutur Jonghyun saat berada di depan kamar berhiaskan grafiti itu. Taemin mengangguk saat Jonghyun memintanya untuk tidak membuat suara gaduh dan tangan lelaki paruh baya itu pun mulai memutar knop pintu.

Dan keduanya mematung saat mendapati keadaan Onew.

Jendela kamar itu terbuka lebar, membiarkan angin kencang berhembus ke dalamnya. Sebilah tangan transparan seakan menyentuh dan mengusap lembut kepala lelaki muda yang tengah terlelap di sana. Sebuah senyum keibuan menghiasi wajah pemilik tangan. Sementara sebilah tangan lainnya menggenggam tangan sesosok transaparan lain yang berbeda gender. Keduanya tampak sendu namun damai.

Jonghyun masih terpaku di tempatnya saat mengenali sosok lelaki transparan yang tampak pucat itu. Ia melotot tak percaya. Hal yang ia dengar sejak kemarin menjadi nyata, bukan hanya sekedar gurauan non logis orang yang mungkin mulai sakit jiwa. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya dan mengalir begitu saja tanpa ia sadari. Emosi memenuhi hati, namun semua tak mampu dikespresikan begitu saja. Nafasnya semakin sesak begitu sosok transparan itu menoleh padanya dan tersenyum sebelum akhirnya menghilang begitu saja.

Kim Jonghyun masih mematung di tempatnya saat Lee Taemin sadar dari keterkejutannya dan segera masuk ke kamar itu melewatinya, memeriksa keadaan tuan mudanya yang masih hanyut di dunia mimpi. Tetesan air mata Jonghyun masih belum bisa berhenti, bahkan semakin deras saat semua kenangan menerjang benaknya. Kenangan masa lalunya.

“Oh, Taemin. Kau sudah datang…,” terdengar suara Onew yang masih lelah. Taemin hanya mampu mengangguk pelan sambil menyodorkan segelas air kepada majikannya. Onew meneguk air tersebut sambil mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ia terkejut saat mendapati Kim Jonghyun tengah berdiri di sana dengan pipi basah.

Sir, what’s wrong with you? Why are you crying?” tanyanya cemas. Namun Jonghyun yang tadinya hanya menatap kosong kamar itu hanya balas menatapnya dengan pandangan datar. Berbagai rasa campur aduk di dalam hati dan pikirannya, membuat semuanya semakin rumit. Onew dan Taemin masih diam di tempat mereka menanti jawaban. Namun hanya satu kalimat yang berhasil disusun pria itu dengan sebuah senyum getir tersungging di bibirnya.

“Sepertinya kau dan aku memang ditakdirkan untuk bertemu, Onew Lee…”

Dan ia pun melangkah pergi meninggalkan rumah itu, meninggalkan Onew dan segala kenangan rumah itu bersamanya.

***

Hari sudah malam dan udara sangat dingin. Berbekal jaket tambahan yang dibelikan Taemin tadi siang, Onew memberanikan diri mengarungi kota Seoul yang masih belum dikenalnya. Dengan petunjuk singkat dari Taemin sebelum perjalanan, ia pun memulai pencariannya. Taemin tak mungkin ikut dengannya karena dapat membuat tuan Lee curiga.

 

Dialah gadis yang amat kucinta, dan ia pula yang kubiarkan lepas dari tanganku. Ia yang begitu ingin kumiliki namun ia pula yang paling harus kulupakan. Takdir memang salah jika ingin aku berpisah dengan wanitaku karena jikapun ia lari dariku, aku akan mengejarnya lagi sampai ia mau menerimaku dengan segala kekuaranganku.

Atau mungkin kelebihanku.

Onew Lee mengernyitkan alis saat membaca tulisan di dalam buku biru yang ia pegang. Buku itu tak pernah mengungkapkan segala sesuatunya dengan jelas. Namun Onew hanya bisa maklum saat menyadari bahwa itu adalah tulisan tangan pribadi yang tidak dapat membuka segala rahasia yang ada. Ia mendesah pelan dan menyimpan buku itu ke dalam saku jaketnya.

Bisnya berhenti di daerah Kangbuk, salah satu bagian Seoul yang tidak seindah Kangnam. Ia melihat sebuah bangunan panti asuhan di sudut jalan. Tempat itu sangat sepi, entah karena penduduk daerah itu tengah beristirahat setelah lelah beraktivitas seharian, atau malah mulai bekerja setelah berdiam diri seharian. Onew Lee menghela nafas, menyesali keputusannya yang terlalu tergesa mengejar waktu. Ia tidak sabar, sungguh tidak sabar. Mungkin saja Pak Tua itu akan menemukannya dalam waktu dekat  dan membuat kesempatan Onew mencari tahu tentang ibu kandungnya lenyap begitu saja. Ia yakin Pak Tua itu takkan mau mengatakan apapun tentang sosok ibunya yang entah berada di mana sekarang ini.

Namun Onew benar-benar berharap ibu kandungnya masih hidup.

Ia menapaki trotoar dengan secarik kertas di tangannya, kertas yang berisikan alamat entah siapa itu. Semoga saja ia bisa mendapatkan informasi -apapun itu- dari tulisan yang tertera di kertas tersebut. Sesaat Onew mendongak menghadap langit, mengikuti gerak gulung awan dengan kedua matanya. Ia menghela nafas untuk yang kesekian kalinya di hari itu. Entah mengapa, ada hal yang membuatnya begitu rindu saat menatap langit, seakan gulungan awan itu menyimpan berbagai memorinya yang hilang. Tapi Onew sangat yakin ia tak melupakan hal penting yang perlu ia ingat.

Salju mulai turun di malam itu. Onew merapatkan jaketnya dan berjalan perlahan. Pencahayaan remang membuatnya cukup kesulitan melihat. Sekujur tubuhnya mulai bergidik karena dingin. Saat itulah Onew merasa kesepian yang mendalam. Ia butuh seseorang di sisinya, bahkan hanya untuk saling bertukar kata di tengah beku udara. Dan rasa sesal kembali menghantui Onew. Mungkin keputusannya untuk kembali ke Korea memang salah.

“Tuhan merencanakan segala sesuatu dengan alasan yang jelas, tidakkah kau pikir begitu?”

Eh?

“Seperti halnya ia menciptakan salju ini dan dirimu.”

Onew menoleh ke samping kirinya dan mendapati sebuah senyum yang familiar dari seorang wanita muda berambut panjang. Matanya terlihat sangat sendu. Namun mata itu juga menunjukkan perasaan familiar yang ganjil,  rasa terima kasih dan kebutuhan yang besar. Onew merasa familiar dengan wajah wanita itu, namun ia tidak ingat satu nama pun yang tepat untuk identitas si wanita.

Onew mengerjap. Ia pun semakin terkejut. Wanita itu sudah tak ada di sampingnya. Tak ada seorang pun di dekatnya. Jalanan kosong, hanya menyisakan kesunyian yang menyelimuti dirinya. Jantung Onew berdebar keras, tak percaya akan apa yang baru saja ia alami.

Apa itu? Apa yang baru saja terjadi? Dan lagi, siapa wanita itu? Semua pertanyaan tersebut memenuhi benak Onew, namun tak satupun yang mampu terjawab. Ia mulai merasa kepalanya sakit, sama seperti saat ia bertemu Minho kemarin. Namun ada satu hal yang membuat perasaannya semakin ganjil.

Wanita tadi seakan mengembalikan sekeping kenangannya yang hilang, tapi kenangan tentang apa?

Sudah sejam lebih Onew berputar-putar di daerah itu dan masih belum menemukan apapun. Ia mulai lelah dan kedinginan. Onew harus berusaha keras menghembus nafas untuk menemukan sisa-sisa kehangatan dari tubuhnya. Ia berubah lega saat menemukan warung makan pinggir jalan yang menyajikan soju sebagai pilihan utamanya. Sambil mengusap-usap tangannya yang membeku, ia memasuki tenda berukuran sedang tersebut.

“Selamat datang,” ucap pemilik warung. Onew tersenyum ramah.. Baru kali ini ia masuk ke warung semacam itu dan ia tidak yakin ada yang bisa dimakan di sana, mengingat selama dua puluh empat tahun hidupnya lebih terbiasa dengan makanan yang umum dijual di London. Seperti seorang turis, Onew akhirnya bertanya apa saja yang dijual di warung itu.

“Maaf, apa Anda bisa membantuku?” tanya Onew pada si bibi penjual. Untunglah ia duduk di dekat ruang kecil tempat si bibi menyiapkan makanan dagangannya. Wanita itu juga tidak tampak sedang terlalu sibuk dan mau saja menyahut setelah mendengar ucapan Onew, “Memangnya apa yang bisa kubantu?”

“Mmmm… Aku sudang mencari seseorang, namun aku tidak begitu mengenal daerah ini. Mungkin ahjumma bisa memberitahuku di mana letak rumah yang kucari itu.”

“Oh, boleh saja. Aku sudah cukup famliliar dengan daerah ini,” ucap bibi penjual bangga, seakan ia baru mengatakan bahwa ia seorang pemenang cabang lomba olimpiade. Onew tersenyum lega dan menyerahkan kertas yang ia pegang ke pada wanita paruh baya berambut keriting itu. Si bibi mengernyit alis sekilas, mulai mengingat-ingat di mana kiranya rumah yang Onew maksud.  Lalu tiba-tiba ia langsung berseru, “Ah, rumah ini!”

“Anda tahu sesuatu?” tanya Onew bersemangat, berharap mendapat petunjuk penting. Si bibi ragu sesaat lalu ia berkata, “Aku tidak begitu yakin, tapi seingatku ini adalah rumahnya!”

“Rumah siapa?”

“Rumah keluarga Choi,” sahut si bibi. Ia menarik bangku dan duduk di depan Onew. Keningnya masih berkerut-kerut untuk berusaha mengingat sesuatu. Onew menantikan informasi yang ia butuhkan dengan sabar. Memang tidak mudah menarik kembali ingatan seseorang, terutama jika orang itu sudah cukup berumur.

“Rumah ini sudah lama ditinggalkan dan kupikir sudah lama hendak dirubuhkan. Entah siapa yang berhasil menghentikan peubuhan rumah tersebut. Padahal sudah tidak ada lagi yang menghuninya. Meliriknya saja orang sudah malas…,,” cerocos bibi itu dengan logat pinggirannya. Onew mengerutkan dahi, cukup terkejut dengan berita yang ia dapat. Pikirannya semakin bertanya-tanya siapa sebenarnya pemilik alamat tersebut hingga tertulis di buku trsebut.

“Memangnya apa yang terjadi?” desak Onew.

“Wah, aku sendiri juga tidak begitu mengerti. Keluarga Choi yang terakhir menempati rumah itu dan itu sudah lama sekali, bahkan sebelum aku memulai usahaku di sini,” jelas si bibi pedagang, “tapi aku tinggal di sekitar sana saat itu. Jadi, hanya sedikit hal yang kutahu.”

“Lalu, di mana keluarga Choi sekarang? Kenapa mereka tidak menempati rumah itu lagi? Mereka pindah?” Onew semakin mendesak dengan luncuran pertanyaannya. Namun si bibi menggeleng, “Bukan, bukan pindah. Kepala keluarga Choi adalah seorang pemabuk berat yang kasar dan suka memukul anggota keluarganya. Istrinya kabur karena tidak tahan dan meninggalkan kedua anak laki-lakinya di rumah itu. Beberapa minggu kemudian laki-laki itu mati setelah mencoba bunuh diri bersama kedua anaknya dan hanya anak bungsunya yang berhasil selamat. Tapi setelah dua bulan keluar dari rumah sakit anak itu menghilang begitu saja. Tak ada lagi orang yang pernah melihatnya. Ada yang bilang ia menjadi anak jalanan dan ada pula yang menduga ia sudah mati. Tapi tak ada satupun yang tahu kebenarannya.”

Onew berusaha berpikir. Kira-kira hubungan apa yang dimiliki ayahnya dengan orang dari perkampungan miskin seperti itu? Jikapun ayahnya bersahabat dengan salah satu anggota keluarga malang itu, hal itu hampir mustahil mengingat status sosial mereka yang amat berbeda. Keluarga Lee adalah keluarga yang sudah sangat kaya raya sejak lima generasi yang lalu, bahkan itu membuat sepupu-sepupu ayahnya juga sangat kaya. Jadi kenapa ayahnya sampai menuliskan alamat rumah itu di buku catatannya?

“Setahuku dulu anak bungsu rumah itu sangat dekat dengan cucu perempuan Jihyo ahjumma yang tinggal di depan rumahnya. Namun setelah dewasa kudengar gadis itu kawin lari dengan seorang lelaki asing dan akhirnya ia meninggal karena sebuah kecelakaan lalu lintas. Selebihnya, aku tidak tahu,” lanjut si bibi. Ia berusaha mengingat lebih jauh namun akhirnya menyerah. Onew semakin tidak dapat menarik korelasi dari cerita tersebut. Ingin sekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Onew berdeham pelan seperti seorang polisi yang meminta keterangan saksi, “Bisakah Anda terangkan di mana tepatnya letak rumah itu?”

***

“Minho-yah, apa kau baik-baik saja?”

Onew mendongak saat mendengar suara gadis kecil yang terasa tak begitu asing di telinganya. Ia melihat sekitar, mendapati sepasang bocah yang berada tak jauh darinya. Ia mengernyit heran. Bukankah bocah lelaki yang tengah bersender tubuh itu adalah Minho? Bocah aneh yang ia temui kemarin? Kenapa anak malang itu bisa ada di sana?

Ah, Onew baru sadar bahwa tempat itu tak begitu jauh dari tempat di mana ia pingsan kemarin.

“Masih agak sakit, noona. Tapi noona tidak perlu khawatir,” ucap Minho sambil tersenyum kecil. Di bawah remang pencahayaan dan jarak yang tak bisa dibilang dekat, Onew dapat melihat bekas kebiruan di sekujur tubuh Minho. Bahkan dahi bocah itu dihiasi darah kering yang berwarna merah kehitaman. Onew semakin miris melihatnya. Bocah itu pasti sangat kedinginan dengan pakaiannya yang sangat tipis itu. Minho juga tampak menggigil walau bocah itu tak mau terlalu memperlihatkannya.

Gadis yang ada di hadapannya tak terlalu tampak jauh berbeda sebenarnya. Hanya saja gadis kecil itu memakai pakaian yang lebih tebal, bahkan ia memeluk selimut dengan kedua tangannya yang mungil. Gadis berkuncir dua dan wajah kusam yang hanya biasa Onew lihat di internet saat mencari tahu berita tentang Korea dan orang-orang kelas bawah di negeri itu. Namun wajah si gadis terasa sangat tak asing bagi Onew Lee.

“Pakai ini,” ucap si gadis pada Minho. Gadis itu melingkarkan sehelai selimut tebal pada tubuh Minho dan memeluk bocah itu dengan penuh kasih sayang. Air mata Minho mulai meleleh dan ia menangis tanpa suara. Gadis itu mengelus pelan punggung Minho yang lebih kuat dari kelihatannya dan berkata dengan tangis tertahan, “Kau tahu noona selalu ada jika kau membutuhkanku. Mengerti?”

“Mmmm.”

“Jangan tanggung semuanya sendiri. Kau takkan sanggup. Berbagilah denganku, hmm?”

“Mmmm,” Minho kembali menggumam lalu mengeratkan pelukannya pada gadis itu. Ia berkata dengan suara paraunya, “Saranghae, noona.”

Ne, naddo saranghae, Minho-yah.”

Pemandangan di depan rumah kumuh itu entah kenapa membuat Onew meremas dadanya. Ada sebuah rasa sakit yang ganjil timbul di sana, disertai rasa iri dan kerinduan yang amat besar. Onew bahkan belum pernah merasakan hal itu sebelumnya. Kenapa ia bisa merasakan hal itu hanya karena ungkapan cinta anak-anak yang tak begitu dikenalnya? Apa ia semacam pedofilia tanpa ia sadari? Dengan pikiran yang sibuk berkecamuk Onew pun membalik dirinya, menghindari pemandangan itu sebisa mungkin.

“AAAAAKKKKKHHHH!!!!”

Onew langsung terkejut mendengar lengkingan teriakan itu. Ia membelalak saat melihat sudah banyak orang yang berkumpul di depan rumah tadi. Lho, di mana Minho dan gadis tadi? Yang ada malah beberapa ahjumma yang tampak kaget dan mulai sibuk bergosip di tengah pekatnya malam, juga beberapa lelaki dewasa yang sibuk keluar masuk rumah itu dengan wajah tegang dan tak percaya. Sebenarnya apa yang terjadi? Onew baru saja memalingkan wajah selama beberapa detik tapi sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi.

“Minho-yah!!”

“Jinri-yah, tenanglah! Biarkan ahjussi yang membawanya ke rumah sakit. Kita tidak mungkin menunggu ambulans, dia bisa langsung mati.”

“Gawat, sepertinya Choi Yunkyeom dan anak pertamanya sudah meninggal. Ada banyak pupuk yang bertaburan di lantai rumahnya. Mungkin ia bunuh diri setelah meminumkan pupuk pada anak-anaknya.”

“Kalau begitu hal yang paling penting sekarang adalah menyelamatkan nyawa Minho. Ayo, kita harus segera bergegas membawanya!”

Onew memperhatikan dengan seksama kejadian di hadapannya. Seorang lelaki membawa tubuh lunglai Minho yang wajahnya amat pucat, diikuti oleh beberapa orang lainnya. Dengan langkah gesit mereka menuruni tangga dan bergegas menuju jalan besar terdekat. Onew balik menatap rumah itu, masih sibuk menyusun dan mencerna kejadian yang ia alami. Ia masih merasa sangat ganjil, semua masih tidak masuk akal baginya. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Jinri-yah, berhentilah menangis. Ahjumma yakin dia tidak akan apa-apa.”

Aigoo, apa sebenarnya yang pria itu pikirkan sampai ia tega bunuh diri bersama anak-anaknya? Apa gara-gara istrinya ia jadi seperti itu? Ckckck….”

Hah? Ini malah persis seperti yang diceritakan oleh bibi pemilik warung minum tadi. Onew berjalan mendekati tempat itu, mengingat kembali petunjuk si bibi tentang rumah yang ia cari. Betapa terkejutnya ia saat sadar bahwa rumah di mana Minho dibawa keluar tadilah yang ia cari sejak tadi. Peluh dingin membasahi dahi Onew. Laki-laki itu merasa hampir gila saat berusaha menyusun semua keterangan yang ia dapat. Tunggu, bukankah seharusnya rumah itu kosong tak berpenghuni? Jadi…?

Rasa sakit kepala luar biasa kembali menyerang Onew. Kepalanya serasa ditusuk-tusuk seperti mau pecah. Ia jatuh tersungkur di atas lapisan salju dan tanah tempat ia berpijak. Namun tak ada seorang pun yang menolongnya saat ia dalam keadaan seperti itu. Dunia serasa berputar-putar tidak jelas dan Onew mencoba menutup matanya untuk meredam sakit namun hasilnya nihil. Ia menggelepar kesakitan di atas tanah. Ia melenguh kesakitan, berteriak bahkan menjambak-jambak rambutnya. Namun ia malah berubah lemas tanpa bisa meredakan rasa sakitnya. Dan perlahan ia merasa sekelilingnya semakin kabur dan berubah gelap. Nafas Onew mulai putus-putus.

Omo! Ahjussi, gwaenchanasaeyo??” Hanya siluet seorang wanita dan suara itulah yang mampu dicerna indera Onew sebelum kesadarannya hilang.

***

Silau.

Kali ini ia berusaha mengingat sudah berapa kali hal itu terpikirkan saat ia membuka mata. Kepalanya terasa berat, begitu pula nafasnya. Namun matanya yang tak mampu mengenal di mana ia sekarang membuat rasa sakit itu teralihkan. Ia melihat ruang kecil dengan atap reot dan perabot yang berlapis debu. Ruangan kecil itu dipenuhi banyak barang namun tetap berkesan rapi. Baiklah, ia harus mencari tahu di mana ia sekarang.

“Oh, kau sudah bangun?”

Onew mengerang pelan sambil memegangi kepalanya. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita tua tengah berjalan ke arahnya sambil membawa nampan. Wanita itu menyodorkan isi nampan itu pada Onew sambil tersenyum, “Ini teh ginseng, bagus untuk mengembalikan tenagamu yang hilang.”

Onew menunduk sekilas sambil berterima kasih. Walau agak enggan menerima teh yang diracik dengan bahan yang terbilang mahal itu, suhu udara yang dingin memaksanya untuk segera meneguk habis teh tersebut. Setelahnya Onew merasa hidup kembali. Wanita tua itu duduk di dekatnya, meraih syal rajutan yang belum rampung dan mulai merajut. Mungkin wanita itu tidak semiskin kelihatannya, pikir Onew.

“Aku kaget sekali saat mendengar seseorang mengerang kesakitan tengah malam kemarin. Terlebih kau tak sadarkan diri tak lama setelah aku keluar rumah. Tidak ada luka di kepalamu, hal itu cukup membuatku bingung. Apa kau sudah tak apa-apa?” wanita itu menjelaskan sekaligus bertanya. Onew cepat-cepat berdiri dan membungkuk dalam-dalam, “Terima kasih banyak. Saya benar-benar tertolong karena kebaikan Anda.”

“Kau terlalu berlebihan. Sudahlah, duduk saja dan istirahatkan dirimu.”

Onew mematuhi perkataan wanita itu. Ia duduk dan kembali menyeruput sisa-sisa tehnya. Ia menatap sekeliling. Di dinding tergantung beberapa foto yang tampak sudah sangat tua, foto wanita itu dengan seorang wanita muda. Ada pula potret wanita itu saat masih muda bersama seorang lelaki yang tampak sebaya dengannya. Onew menatap wanita yang tampak amat tenang itu lalu akhirnya bertanya, “Anda tinggal sendirian di sini?”

Wanita itu tersenyum, “Tidak juga. Aku tinggal bersama suamiku. Dulu kami juga tinggal bersama anak dan ibuku. Tapi sejak keduanya meninggal, kami hanya berdua menempati rumah kecil ini.”

“Oh, maafkan aku,” sesal Onew karena telah mengembalikan kenangan buruk dengan pertanyaannya. Wanita itu malah tertawa kecil, “Kau terlalu sungkan anak muda. Hidup ini keras dan begitulah kita harus menerimanya. Kematian juga bisa menghampiri kapan saja, aku sudah belajar banyak dari hal itu. Kalau dipikir lagi, aku hanya menyesal karena tidak bisa memberi banyak kenangan menyenangkan pada mereka sebelum ajal menjemput.”

“Anda sangat menyayangi anak Anda…”

“Tentu saja. Ia gadis yang penuh cinta. Namun aku sangat menyesal saat tahu ia juga hidup menderita karena cintanya…”

Onew melangkah keluar dari rumah mungil itu setelah membungkuk dan mengucapkan banyak terima kasih. Ia termenung, mengingat sepatah kata yang diucapkan wanita tua itu di tengah perbincangan mereka, perbincangan yang entah kenapa langsung membuat keduanya merasa akrab.

“Kau tahu, nak, saat berbincang denganmu seperti ini, rasanya seakan-akan anak perempuanku hidup lagi dan berbicara padaku. Terima kasih…”

Sesungguhnya Onew sangat bingung harus bereaksi seperti apa saat mendengar komentar tersebut. Namun akhirnya ia hanya dapat tersenyum menanggapi. Ingin sekali Onew mengenal wanita itu sebagai anggota keluarganya, bukan berarti ‘ibu’nya yang berada di London tidak sehangat wanita itu. Hanya saja, ia ingin memiliki rantai batin dengan wanita seperti itu. Onew melangkahkan kakinya lebih jauh dan menatap matahari yang tak terlalu terik di langit. Tetap saja ia pusing melihat tampilan bunga langit itu.

“Minho-yah, neo gwaenchana?”

Onew menoleh dan mendapati gadis kecil yang seingatnya bernama Jinri tengah berdiri sambil memegangi kening bocah lelaki di hadapannya. Gadis yang kemarin dengan bocah yang kemarin pula. Refleks Onew menyembunyikan dirinya. Ia berniat mencuri dengar isi pembicaraan mereka. Onew bahkan sempat menepuk keningnya saat sadar bahwa ia lupa menanyakan perihal kemarin malam yang amat membingungkan pada wanita tua tadi. Namun hal itu segera tertepis saat mengingat satu hal penting.

Bocah yang terduduk di sana adalah Minho!! God, bagaimana bisa?

“Akhirnya tua bangka itu mati juga. Tapi kenapa ia harus membawa hyung bersamanya? Dasar tua bangka sialan!” Minho mengumpat, wajahnya terkesan datar dan kasar. Jinri menatapnya serba salah. Ia menepuk-nepuk pelan punggung bocah itu.

“Dan lebih sialnya lagi, eomma sama sekali tidak mau menerimaku bersama keluarga barunya. Mereka memperlakukanku seperti sampah,” lanjut Minho. Suaranya bergetar menahan marah. Onew menelan ludah mendengarnya, semakin miris karena penderitaan yang ia alami sama sekali bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Minho.

“Tak ada yang mau menampungku, semua menyuruhku untuk masuk panti asuhan. Jinja, aku masih punya eomma, kenapa aku harus ke sana?”

“Minho-yah…”

“Noona, kau harus berjanji bahwa kau tidak akan pernah menyuruhku ke panti asuhan! Jangan seperti mereka! Biarkan aku mengurus hidupku sendiri. Lagi pula aku sudah cukup terbiasa.” Jinri memeluk bocah itu setelah bergumam kecil mengiyakan. Ia membelai lembut kepala bocah itu dan tersenyum getir, “Lakukanlah, lakukan apa yang kau mau. Aku selalu menyokongmu, Minho-yah. Sama seperti bintang yang menyokong keindahan bulan di malam hari.”

“Ne, noona. Hanya noona yang tertinggal untukku di dunia ini. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri…,” suara Minho mulai bergetar. Ekspresinya masih datar namun setetes air mata meluncur di pipinya. Bibirnya menggumamkan kata sayang dan keduanya kembali larut dalam suasana yang membalut keduanya. Lagi-lagi Onew merasakan denyutan pelan di dadanya, seakan ada yang menekan dan meremukkan isinya. Ia berusaha menarik nafas panjang namun sebuah rasa kembali mencuat di dalam hatinya: IRI.

Perlahan lelaki itu terjongkok lemas di samping dinding tempat ia bersandar. Nafasnya yang hangat tampak seperti uap putih saat bertemu udara dingin. Onew ingin sekali mengerang, tapi tidak tahu untuk apa. Ia baru sadar di dekatnya ada sebuah cermin berukuran sedang yang tak sepenuhnya utuh. Ia ingin memperbaiki tampilan dirinya dengan cermin itu. Namun lagi-lagi hal aneh terjadi.

Itu bukan bayangannya. Itu bayangan anak kecil asing yang ia lihat dalam pantulan kaca etalase toko kemarin. Bocah lelaki yang tampak kaya namun juga menyedihkan di saat bersamaan. Bayangan itu menatapnya dengan mata rubah yang sendu dan… iri? Bibir bayangan itu mulai bergerak, dan dengan menekan dalam-dalam ketakutannya Onew membaca gerakan mulut itu.

‘Aku iri.’

Huh?

‘Tidakkah itu menyedihkan? Aku iri pada seorang miskin hanya karena cinta gadis itu padanya. Cih, padahal aku sudah punya hyungku sendiri… Ini benar-benar gila.’

Bayangan bocah itu tampak terluka dan kesepian. Jarang sekali Onew menemukan ekspresi kompleks semacam itu dari seorang anak kecil. Dari pantulan cermin itu Onew melihat pantulan seseorang yang tampak sedikit tak asing tapi ia masih belum bisa mengenal siapa itu. Seorang bocah lelaki yang sedikit lebih tua dengan garis rahang terlukis keras di wajahnya. Bocah tadi juga melihat bayangan tadi dan terkejut.

‘Hyung?’

Onew membalikkan badannya, ingin melihat siapa yang datang menghampirinya. Namun tak ada seorang pun di belakangnya. Bahkan jalan kecil itu sama sekali tak berisi manusia selain dirinya. Onew mengerjap, kembali berbalik menatap cermin. Namun yang ia temukan hanyalah bayangan dirinya sendiri di sana. Semakin lama Onew semakin merasa ada yang salah dengan kepalanya. Tanpa membuang waktu lagi ia segera meninggalkan tempat itu. Otaknya menolak memikirkan semua hal nonlogis itu. Ia harus menjernihkan pikirannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan pencariannya.

Ia tidak meyadari di tiap langkah yang ia ambil ada dua sosok transparan yang selalu memperhatikannya. Salah satu sosok itu menggenggam erat sebelah tangan sosok yang lain. Di wajahnya yang maskulin tertera ekspresi yang begitu kompleks. Ia mengeratkan genggamannya pada sosok transparan yang berwujud wanita di sampingnya dan mengecup ringan tangan wanita itu. Kedua mata laki-laki itu tertuju pada sosok Onew. Ia tersenyum ringan dan menggumam pelan dengan suara lembut seperti angin.

“Biarkan aku mencintainya sedikit lebih lama, walau itu hanya dalam memori yang terkekang tubuhmu, nak…”

***

“Taemin-ah, kau di mana?”

“Aku masih di jalan, hyung. Tunggulah sebentar lagi.”

“Baiklah.”

Onew menghela nafas berat dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia sedang berada di beranda depan salah satu restoran yang cukup jauh dari perumahan kumuh tadi. Ia melihat sekeliling. Cukup banyak orang yang makan di sana siang hari itu. Jalanan juga cukup ramai seperti biasanya. Di dinding restoran itu tertempel pajangan bergambar langit mendung, mengingatkannya pada langit London yang ia rindukan. Dalam hati ia mulai bertanya-tanya, kenapa ia selalu memiliki perasaan berbeda saat menatap langit?

“Apa kau senang tinggal di jalanan seperti ini?” Suara seorang gadis membuyarkan lamunan Onew. Ia menoleh, menatap sepasang remaja yang kira-kira baru berusia tiga belasan tahun tengah berbicara di pinggir jalan yang tak terlalu jauh darinya. Entah kenapa ekspresi keduanya membuat Onew tertarik mendengarkan lebih jauh.

“Ya, ini lebih baik dari pada tinggal sambil memikul tatapan merendahkan dari orang lain,” jawab si lelaki. Pakaiannya lusuh, tipis dengan balutan jaket jeans yang sudah kusam. Celana jeans yang ia pakai tak bisa diperkirakan sudah berapa lama tak dicuci.

“Ini tidak baik. Kau bisa sakit kalau terus hidup terlunta-lunta seperti ini…,” ujar si gadis cemas, suaranya terdengar lembut walau nadanya menegur.

“Aku tidak butuh bantuan noona! Biarkan aku sendiri!”

YA! CHOI MINHO!!”

Hah??!!

Kali ini Onew tersedak saat hendak meneguk kopinya. Ia menatap seksama kedua remaja itu sambil mengerjap-ngerjap tak percaya. Tadi ia mendengar nama itu, nama anak kecil itu. Kenapa banyak sekali nama Minho di dunia ini?

“Kau harus ikut pulang denganku!” paksa si gadis lagi, wajahnya tampak tak sabar. Si lelaki masih keras kepala. Ia menghentak tangan gadis yang tengah memegangnya. Wajahnya tampak sangat kesal.

“Jinri noona! Cukup! Tinggalkan aku sendiri!!”

Dan Onew semakin tercengang mendengarnya.

_TBC_

12 thoughts on “[FFP 2013 – 3] Him Inside – Part 3

  1. hoa..
    Genre begini khas Bella Jo-ssi.. Dan aku suka..
    Pasti ada sesuatu hubungan dgn minho.. Tapi aku masih bingung.. Jangankan aku.. Onex aja bingung..
    Next..

  2. sepertinya terkaanku bener deh. dan sepertinya aku udah punya pandangan meski masih penasaran mau ke mana nih cerita. itu nenek, adalah neneknya Onew. Jinri itu ibunya, dan lelaki pelarian itu kemungkinan Minho, atau Kibum? bagian percintaan mereka yang agak sulit dipikirkan , trus kenapa Minho bisa jadi keluarga Lee. masih banyak rahasia.

  3. Stelah bca comment d atas, jdi bgtu.. *haha baru mudeng* -_-
    hmm penasaran bgt, suer nih ff bkin penasaran, msh menerka2 and msh kepikiran nympe skrang tuh critanya mau kek gmna *halaah apa ini* -_-
    msh bnyk misteri yg blum trungkap, well ak suka sma genre yg sprti ini, cukup menguji otak😄 #abaikan
    oke, keep writing, dtnggu part slanjutnya. Smangat !!😀

  4. mulai agak gnerti dikit tp masih bingung plus penasaran
    seruuu.. haduh haduh
    mungkin minho yg jdi marga lee ya..? terus anak keluarga lee yg sbnrnya itu kibum bukan..? lah terus jonghyun siapa disini? adeknya jjong yg meninggal itu siapa? si jinri gimana? whoawhoaaaaa—___— authornya pinter banget bikin penasaran

  5. Ahaha, ternyata Bella Jo. Pantes😀

    Dan Minho semakin sering bergentayangan (?). Nah loh, dia sengaja ngasih clue buat Onew ya? Ahaha. Can’t wait the next part! ^^

  6. ternyata bener ffnya Bella ya…

    maaf bgt Bella, udah dibaca berulang-ulang saya masih agk bingung dan sedikit tebak-tebakan😀

    hubungan Minho-Tuan Lee, Jinri-ibunya Onew, Jjong-Kibum.. 0_0

    saya tunggu banget part selanjutnya, mudah2an kebingungan dan tebak-tebakan saya ada yg terjawab^^

  7. AAA jd bella jo? dr awal baca aku jg lngsung kepikiran klo in mgkn ff nya bella-ssi xD

    btw sepertinya misterinya sdh sedikit terungkap..
    tebakanku d.part sblmny kyknya g slh dehh.. byngn yg d.lihat onew it byngannya Key kn?! aku ykin bgt it Key.. Smua kjdian aneh yg dlht onew adl kenangan masa lalu Key.
    1 hal yg sllu lupa aku tnyakn d.part sblmnya, knp hntu Key sllu mncul brsm hantu ibu onew? dan sepertinya aku sdh tau skrg. klo mnrtku ayh biologis Onew it bkn tuan Lee tp Key adiknya Jonghyun.
    Ap jonghyun sdh mnyadari hal ini? makanya dia blg klo prtmuannya dg onew adlh takdir.
    ibunya Onew psti Jinri. Wnta tua yg mnolong Onew it psti neneknya.
    yg jd prtnyaan bgaimna bisa mrk brhbungn sprti in? mksdku Key-Jinri-Minho. dan ttg tuan Lee, aku pikir dia Minho. Tp bgaimna dia bisa msk k.dlm keluarga Lee & mnggantikan putra tunggal keluarga Lee? lalu bgaimna dia bs knl dg jonghyun??
    Aaaahh msh bnyk prtanyaan d.kepalaku..
    Next partnya dtunggu!!!!
    jgn kelamaan yaa..😀

  8. Ladki badi anjani hai….

    Makin keren, makin seru, makin penasaran, makin menarik….
    Bella Jo, ternyata ‘pelaku’nya….
    *bow….

    Ternyata aku gak terlalu tulalit amat…
    Beberapa hal yang aku tebak bener…
    Perkembangan ceritanya bagus banget, udah mulai kebuka satu persatu misterinya
    Analisa lain, aku mulai ragu kalau Onew anak Choi/Lee, tapi anak Kibum
    Tpi gimana bisa? Apa pas mereka kawin lari?
    Tapi kenapa Tn. Lee/Choi percaya bahwa Onew anaknya?
    trus, Tn. lee bisa berteman dengan kakak Kibum (Dr. jong)?
    Apa sebelumnya mereka tidak tahu hubungan masing?
    Key-Minho-Jinri-Jong?

    Tuh nenek, neneknya Onew alias ibunya Jinri…
    Waduh… Jinki-ya… Sebenernya kamu sudah dikelilingi keluarga yang kamu cari…
    Nenek Jihyo…. Jjong ahjussi… Appa Minho…? (bkn, kayaknya…)

    Tapi, predikdi akhirku, mungkin jika bener Onew tahu dia bukan anak kandung Tn. Lee/Minho,
    dia bakal tetep tutup mulut dan berpura2 jadi anaknya…
    (Sama seperti yang Minho lakukan dulu…)
    Tapi kali ini, niatnya, mungkin dia tidak tega atau merasa kasihan
    pada Tn. Lee setelah melihat masa lalunya yang keras….
    Bayangin kalo sampe tahu Onew bukan anak kandungnya…?
    Habis sudah… Noona yang sangat dia cintai, orang terakhir yang dia harapkan
    bakal meninggalkannya… (meskipun pada kenyataannya, Minho sendiri yang terlebih dahulu
    meninggalkannya), memiliki anak dari orang lain….

    Nah, sekarang… Apa yang membuat Key tidak bahagia, padahal ia kaya, dan memiliki
    kakak yang sangat mencintainya…? Dia bahkan memiliki pekerjaan yang bagus, dan hobi yang
    sangat kretif, melukis… Tampaknya hidupnya sempurna?
    Tapi malah terus kabur dari rumah dan merasa iri dengan Minho?
    Apa dia tidak pernah mendapat kasih sayang ibunya?
    Atau, sederhana, karena dia menyukai Jinri?

    Capek banget mikirin ini semua…
    Padahal cuma tinggal baca dan komen…..
    Angkat topi deh, buat authornya……

    Eh, Bella Jo…????
    Apakah penulis yang sama yang nulis beberapa FF lainnya yang bergenre hampir sama kayak gini?
    Apa aku pernah baca tulisan2mu….?
    *mendadak lupa ingatan…. Ntar, tak cari tahu….

    Ke Part 4 dulu, deh….

  9. Setidaknya komen di atas membantu rasa penasaranku .-. Untung Miina eonni komen panjang lebar, sedikit mengerti meskipun masih bingung. Sekarang gk mau nebak asal deh, lagian part 4 dan 5 sudah di depan mata, tinggal baca dan cari kesimpulannya sendiri, dari pada mempredeksi belum tentu benar.

    Wahh…Rupanya Bella eonni authornya. *ikutan bow.
    Aku sempat baca FF lainnya, dan rupanya benar dugaanku, yg bikin orgnya gak main-main nih😄. Kalau Bella eonni sih jangn di ragukan lagi, aku tinggal angkat tangan pasrah, turutin cerita selanjutnya. Bener2 sukses bikin org sekampung penasaran sama ff nya😄

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s