[FFP 2013 – 2] Inspiration

Cast: Lee Jinki, Choi Minho                                

Genre: Life

Rating: General

Length: Vignette

A.N: FF ini tidak ditujukan untuk mengikuti lomba, hanya meramaikan ulang tahun dua pria pemilik senyuman indah, Choi Minho dan Lee Jinki ^^

 

Summary:

Lee Jinki selalu menganggap tempat ini spesial. Berbeda halnya dengan Choi Minho yang menganggap ruang ini layaknya penjara. Di titik inilah Minho harus menemui akhir, demi sebuah awal baru yang lebih baik bagi Jinki.

***

Choi Minho berjalan dengan sabar, menunggu orang di depannya melangkah lebih dulu memasuki bangunan itu. Minho melepaskan coat-nya tepat ketika ia berdiri di depan pintu.

Sebenarnya sekarang sudah memasuki musim dingin. Butiran salju sudah mulai terlihat di mana-mana. Namun, khusus untuk memasuki tempat yang satu ini, Minho memilih mengenakan pakaian setipis mungkin. Bagi Minho, tempat ini mengeluarkan aura panas tersendiri, tak peduli musim apa yang tengah berjaya di Seoul.

Bangunan ini mungkin merupakan satu-satunya tempat yang tidak tidak memedulikan kenyamanan pengunjungnya. Bayangkan saja, ruangan berisikan rak kayu tinggi yang memuat ratusan buku-buku tua seharusnya memang ditujukan untuk tempat membaca. Tetapi, pencahayaan di dalam sini justru menyeret seseorang untuk tertidur pulas. Warna cahaya lampunya kuning, kurang apa lagi coba?

Sayangnya, bangunan ini merupakan satu-satunya pula yang tidak memperbolehkan Minho untuk tertidur. Minho mempunyai misi penting di sini. Dan ia harus menyiagakan penuh seluruh inderanya, terutama pengelihatan dan pendengaran. Hal yang harus Minho lakukan adalah menunggu sebuah komando tersirat yang dapat mengaktifkan tombol ‘On’ pada otaknya, dan ia rasa dirinya masih memiliki sekitar 3 menit waktu senggang. Partnernya masih belum angkat bicara.

Choi Minho ingat betul rangkaian gerakan rekannya itu. Lee Jinki akan mendekati pojok—sudut di antara dua lemari terbesar yang ada di ruangan. Kemudian, Minho bisa memastikan pria bernama Lee Jinki itu akan menaruh telunjuknya dan mengusap sederet buku-buku di barisan ketiga dengan jarinya itu. Dan sebagai gerakan penutup, pria ini akan menggumam, “Debu selalu bisa menjadi saksi sejarah.”

Tanggapan Minho nyaris selalu bernada sama, “Dan Hyung harus berterima kasih pada debu-debu itu.”

“Minho-ya, tidak bisakah kau membalas dengan kalimat lain?” Jinki menghampiri meja Minho, menyeret kursi di sebelah agar posisinya agak ke belakang. Jinki kemudian duduk di atas kursi tersebut.

Minho menggedikkan bahunya, “Yah, aku bisa, asalkan bunyi pujianmu terhadap debu ikut berubah juga.”

Lee Jinki hanya mencibir seraya bangkit kembali dari duduknya. Pria itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas jinjing yang dibawanya. Sebuah buku notes bersampul kulit hitam. Di dalam sana terdapat catatan-catatan yang lebih mirip kumpulan cacing kepanasan. Ah, perlu ditambahkan, kebanyakan dari catatan itu justru dicoret oleh Lee Jinki sendiri. Dua coretan artinya Jinki sadar jalan pemikirannya salah. Satu coretan berarti Jinki mempertimbangkan untuk mengeliminasi untaian kata yang bersangkutan.

Jinki tersenyum setelah membaca catatan pada dua halaman terakhir di buku notes-nya itu. Ia bergumam agak samar, “Mengakulah, kau yang membunuh Nyonya Han, kan?”

Ah, sekarang waktunya. Sepertinya Minho harus memulai tugasnya. Minho membuka laptopnya dan membuka sebuah aplikasi wajib. Ia harus merekam setiap hal yang diutarakan Lee Jinki.

“Mari kita runut kejadiannya…,” Jinki terus berhenti dan mengarahkan tatapan tajam pada Minho.

Minho tidak membalas apapun, ia hanya memusatkan seluruh fokusnya pada kelanjutan kalimat Jinki. Saat pria itu berdiri dan mengelilingi meja tempat Minho duduk, Minho memiliki kesempatan untuk menggerakkan jari-jarinya.

“Kau, berhentilah.”

Minho tersentak. Tidak biasanya kegiatannya itu diinterupsi oleh pria tadi. Biasanya, seorang Lee Jinki akan terhanyut pada perkataannya sendiri. Apalagi ketika pria yang berusia lima tahun dari Minho itu sudah mulai berdiri, itu tandanya otak pria itu tengah bekerja penuh. Harusnya pria itu tidak memperhatikan apa yang Minho perbuat.

“Minho, dengarkan aku. Aku tidak yakin, kurasa masih ada yang mengganjal. Koreksilah jika terdapat kekurangan di dalam kalimatku.”

“Aaa, baiklah.” Untuk pertama kalinya Minho memutuskan untuk menjawab. Jinki menuntut respon, dan tentu saja Minho harus memberikan tanggapan yang cerdas untuk membalas perkataan pria itu.

“Satu malam sebelum malam itu, kau bersembunyi di bawah ranjang Nyonya Han setelah ia tertidur. Lalu saat ia mandi pagi pada keesokan harinya, kau menusukkan jarum tersebut di kasur Nyonya Han. Kau kemudian diam-diam keluar—”

Minho menggeleng untuk memotong kalimat Jinki, “Kalau keluar lewat pintu, tentu orang lain akan curiga karena sebelumnya pintu itu terkunci dari dalam. Sulit untuk membuka kunci dari dalam-keluar rumah-mengunci dari luar-mengembalikan kunci itu ke dalam.”

Yeah! Kau benar. Aku belum selesai. Bagaimana kalau begini? Kau bersembunyi di kamar mandi tamu yang ada di dekat pintu depan. Lalu begitu pembantu Nyonya Han keluar untuk mengelap kaca jendela di bagian samping rumah, kau menyelinap keluar. Yap, pasti begitu!” seruan Lee Jinki membuat Minho menaikkan satu ujung bibirnya.

“Buktinya apa?” Minho membalas begitu Lee Jinki mulai duduk lagi di bangku.

“Oh, kau cerdas. Meskipun amatir dan baru pertama kali berniat membunuh orang, kau menyiapkan semuanya dengan baik. Tentu sidik jarimu tidak akan ada di manapun karena kau mengenakan sarung tangan. Tapi,” Lee Jinki menggesekkan jempol dan jari tengahnya, menghasilkan bunyi yang sangat sering didengar Minho ketika Jinki menemukan suatu titik terang.

Minho terkekeh, ia menyambung ucapan Jinki yang terpotong, “Tapi apa? Oh, tunggu dulu. Apa mungkin kasus pembunuhan ini dapat dipecahkan semudah itu? Hyung bukan sedang menjadi Kogoro Tidak Tidur yang ada komik Detektif Conan, kan?”

“Yah, kau benar lagi. Analisis Kogoro yang sedang tidak tidur cenderung mentah dan tidak menarik untuk disimak. Tapi aku tidak tahu cara untuk memancing jiwa Shinichi Kudo untuk muncul.” Lee Jinki mengusap dagunya, sedikit raut frustasi tergambar jelas di wajahnya.

“Mungkin Hyung perlu menghirup debu buku-buku tua itu, seperti biasanya,” cetus Minho, dengan wajah yang terkesan tidak tertarik pada usulannya sendiri.

“Kau selalu benar.” Jinki mengacak-acak rambut Minho.

Lee Jinki berusaha meresapi hal yang hanya bisa ia temui di ruangan ini. Hanya ada satu hal yang bersemayam dalam pikiran Jinki kini, ‘Seorang Friedrich Schiller sengaja menaruh apel busuk di laci meja kerjanya karena ia tidak bisa bekerja tanpa aroma apel busuk. Aku pun demikian. Beri aku waktu untuk berkeliling di ruangan ini. Butiran debu akan membuat hidungku gatal dan memacuku untuk buru-buru keluar dari ruangan ini, inspirasi selalu datang pada saat aku terdesak waktu. Aku harus segera menemukan titik terang mengenai trik pembunuhan Nyonya Han.”

“Hyung, kurasa tempat ini sudah tidak efektif lagi bagimu.” Minho merasa iba melihat Lee Jinki yang kebingungan seperti ini. Sudah terlalu lama Lee Jinki terjebak pada kebuntuan dan selama itu pula Minho tidak berani mengutarakan pemikirannya, tapi kali ini Minho mulai gatal untuk berubah pikiran.

Jinki menaikkan telapak tangannya sebagai isyarat agar Minho tak mengusiknya. Ia rupanya kesal pada Minho dan menggerutu, “Kau kugaji untuk menjadi juru ketikku. Catat saja semua hal yang kuucapkan di laptopmu itu.”

Minho tidak mengangguk. Biarlah untuk kali ini saja ia menyangkal keinginan Lee Jinki. “Hyung, selama seminggu belakangan kita telah beberapa kali duduk di sini, tapi Hyung tidak kunjung berhasil mendapatkan sesuatu yang cemerlang. Seorang Agatha Christie memang selalu bisa menyusun plot mengagumkan dengan berendam di bak mandi ekslusifnya, tapi Hyung bukan dia.”

Yeah, aku memang bukan Agatha Christie, makanya aku tidak memilih bak mandi. Percayalah, Minho. Selama sepuluh tahun terakhir, tempat ini selalu bisa membantuku menemukan inspirasi.”

“Dan Hyung perlu ingat, sudah satu tahun terakhir Hyung mengalami writer’s block. Tidak ada lagi Lee Jinki dengan cerita novel-novelnya yang brilian. Karya Hyung tidak hidup karena Hyung sendiri mematikan kehidupan Hyung dengan memasuki ruangan beraura buruk ini. Kurasa lebih baik Hyung menonton film detektif atau menemui kawan lama yang bekerja di kepolisian dan mengobrol banyak-banyak tentang kasus-kasus pembunuhan yang masih menjadi misteri. Setelah itu Hyung perlu melamun di apartemen Hyung yang sejuk, menulislah dengan pikiran tenang.”

Jinki tertawa kecil, “Kau bodoh. Kalau aku tidak lagi mengelilingi tempat ini, artinya aku tidak lagi membutuhkan juru ketik. Kau tahu apa maksudku?”

“Aku siap kehilangan pekerjaanku karena perubahan kebiasaan menulismu itu, tidak masalah selama itu ditujukan demi kebaikanmu,” Minho menjawab mantap.

Lee Jinki merenung sangat lama dan saat itulah Choi Minho memilih mengemasi barangnya sendiri. Hari ini sepertinya Minho lebih tertarik pada sofa rumahnya yang empuk. Ah, atau mungkin seminggu besok Minho bisa menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk di atas sofa dan menonton televisi. Rasanya Minho nyaris yakin bahwa hari ini adalah kunjungan terakhirnya ke perpustakaan tua ini. Minho tahu apa makna di balik lipatan dahi Lee Jinki sekarang.

Fin

 

10 thoughts on “[FFP 2013 – 2] Inspiration

  1. sinichi kudo, detektif konan? oh, ya, ampuun! saya nggak pernah bisa nebak kasus pebunuhan itu. dan yang ini, agak rumit dan membingungkan. klo jadi juru ketik dan membuat novel kenapa harus pake sandi? saya kira pertama itu polisi atau apa, ternyata buat novel. sekarang saya bertanya-tanya, apa memang pembuatan novel detektif, misteri dan semacamnya serumit ini?

  2. hmmmm..
    saya kira si Jinki ini detektif yg lg latihan memecahkan kasus, ternyata si Jinki penulis novel ya?

    kalau orang cari inspirasi memang bisa dimana aja ya, tapi kalau menurut saya, ‘mood’ juga mendukung^^

    suka ffnya author-ssi

  3. aigooo dikira jinki tuh seorg detektif, trus minho asistennya. eh pdhal penulis novel toooo😄 sip suka ff nya thor, terus berkarya, dtunggu karya slanjutnya. smangat !!😀

  4. Wahaa, udah nebak kalo Jinki ‘cuma’ penulis novel. Yang aneh ya kenapa Minho jadi juru ketik, haha. Apa Jinki gaptek atau semacamnya?😀

    Nice fic, btw. Suka sama pilihan katanya😀

  5. Idenya keren…dan agak nggak ketebak di awal.
    Ceritanya terkesan klasik dengan sentuhan modern, mungkin karena karakter Jinki atau bahasa yang digunakannya, membuatnya terdengar seperti om-om old fashioned. Trus profesi Minho sebagai juru ketik juga, juru ketik tapi pake laptop.
    Nice🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s