[FFP 2013 – 2] Hieroglif – Part 4

Tittle hieroglif               : Hieroglif

Main cast         : Lee Onew, Choi Minho, Lee Taemin, Pangeran Jonghyun, Raja Key

Support Cast   : Tuan Onew, Elf Minho, Kurcaci Taemin, Penyihir Jonghyun, Iblis Key, Tuan Choi, Naga Choi, Kim Suho, Kim Joon Myeong

Genre               : Advanture, Fantasy, Supernatural, and Friendship

Length             : Sequel

Rating              : General

Inspired           : Novel of The Mysterious Benedict Society from Trenton Lee Stewart

 

“Harusnya … harusnya aku memercayai kecurigaanku. Ini terlalu mudah,” lanjutnya, begitu kecewa terhadap diri sendiri.

Semua saling bertatap dengan miris lalu membantu Onew untuk berdiri. Pintu yang tak terkuci berarti tak ada yang harus dikunci di dalamnya. Itu berarti tak ada siapapun di tempat itu kecuali mereka sendiri. Pencarian sia-sia dengan menghabiskan waktu yang begitu berharga, tentu saja—empat orang yang membuka pintu masih tetap menghabiskan banyak waktu, karena pintu-pintu itu berderet dan hampir tak terhitung—mereka harus menyelesaikan misi mereka sebelum matahari muncul dan orang-orang bangun. Orang-orang yang berbahaya yang membuat mereka menjadi tahanan jika tertangkap.

Di koridor—jalan di antara ruang-ruang penjara—mereka berembuk dengan wajah bingung dan frustasi, kecuali Onew. Anak itu sudah merasa aneh ketika mereka sangat mudah memasuki tempat ini. Ia baru menyadari, jika ada seseorang yang ditawan, tentu akan ada seseorang, setidaknya atau beberapa orang yang akan menjaganya. Tapi, mereka benar-benar sampai di tempat ini terlalu mudah.

 “Ini membingungkan. Apakah kita harus menyelinap ke atas?” tanya Minho.

“Inilah yang jadi pikiranku. Kita tak tahu apa-apa tentang tempat ini, dan kita sudah setengah jalan, kita pun tak mungkin kembali. Andai kita punya peta atau setidaknya mengetahui sesuatu yang berguna,” ucap Jonghyun putus asa.

“Jangan terlalu berharap, Teman-teman. Bagaimana jika kita cari saja dia. Ya, memeriksa setiap kamar yang ada,” celetuk Taemin tanpa pikir panjang.

Mata Jonghyun dan Minho menyipit dan  Taemin hanya mengendikkan bahu sambil berkata dengan cuek, “Hanya itu yang terpikirkan olehku.”

“Itu terlalu berbahaya dan berisiko,” tukas Onew.

“Baiklah, Tuan Sok Pintar, kau punya ide yang lebih baik?” tantang Taemin.

“Aku … maaf, Teman-teman,” desahnya lemas. Kemudian semuanya terdiam. tenggelam dalam pikiran masing-masing dalam keputusasaan. Merunduk sambil memerhatikan sepatu-sepatu mereka sendiri hingga tiba-tiba Minho menegak kepala dan matanya menajam dengan cepat, cupingnya bergerak-gerak merasakan getaran halus hingga lagi-lagi jantungnya berdetak lebih cepat dan membuatnya ketakutan. “Teman-teman,” bisiknya. “Ada seseorang, dia menuju ke arah kita, di tangga. Cepat sembunyi!”

Mata mereka sontak membulat dan dengan paniknya mata mereka berpendar, tampak mencari-cari sesuatu dengan heboh lalu Jonghyun yang tampak sedikit lebih tenang dari yang lain segera menggiring mereka masuk ke dalam sebuah ruang penjara. Di sana mereka tak terlihat—setidaknya jika orang yang datang itu tak memeriksa setiap ruangan penjara satu per satu—untuk menghindari kecurigaan, mereka segera mematikan senter-senter mereka dan menyembunyikannya di balik jubah—takut-takut cahayanya lolos. Dengan detak jantung tak beraturan mereka saling menghimpit di balik pintu, berusaha menguping sekaligus menahan pintu, siapa tahu orang itu berniat membuka pintunya. Dan, akhirnya mereka mendengar sesuatu, awalnya samar namun lama kelamaaan terdengar lebih jelas hingga sangat jelas, sebuah langkah kaki yang cepat. Seseorang datang mendekat, menuruni tangga, dan beberapa saat kemudian mereka bisa melihat sebuah cahaya lolos ke dalam ruangan kecil mereka melalui kisi-kisi pintu, tepat dari atas mereka.

“Siapa? Siapa yang bersembunyi di sana?” tanya sebuah suara dengan keras, suara yang terdengar sangat familier di telinga Onew, dan yang lain, mungkin, jika mereka memerhatikan dan tak terlalu tenggelam dalam kepanikan dan ketakutan mereka sendiri.

Mata mereka terbelalak, jantung mereka serasa berhenti seketika, napas mereka langsung tercekat di tenggorokan, dan saraf mereka menegang, menghilangkan gerakan panik yang bisa saja terjadi kemudian dan memilih berdiam seperti sebuah patung taman.

“Aku tak suka main-main atau aku harus membuka setiap pintu satu per satu? Oh, kalian bahkan sudah membuka sebagian besar pintu-pintu di sini.”

Onew yang sama ketakutannya dengan yang lain, dengan seluruh kekuatan mempekerjakan otaknya yang setengah kalap, tapi berguna. Beruntunglah dia genius. Jadi, ia mengambil napas sedalam yang ia bisa, lalu dengan tatapan penuh keyakinan mencoba meraih tepian daun pintu—bagian dalam pintu tak memiliki knop, sebagai penjagaan tambahan agar tahanan tas bisa membuka pintu dari dalam ketika gerendel dikunci—namun tangannya segera ditarik Minho karena anak itu memiliki mata yang tajam dan reflek yang bagus, dan sontak saja dia dihujani tatapan tajam dan penuh tanya dari sang empunya.

“Apa yang akan kaulakukan?” desis Minho khawatir.

“Percayalah padaku. Kita akan selamat,” balas Onew yang terlihat tegang namun terlihat yakin.

Sesaat suasana hening, bahkan mereka tak menyadari orang yang berada di luar—yang sama sekali tak bisa mereka intip dan tak bisa sekadar melihat sosoknya—sudah tak lagi bersuara, meski mereka yakin orang itu masih berada di sana, atau bahkan sudah mencoba mendekat kepada mereka hanya karena suara-suara superkecil yang mereka buat dalam waktu beberapa detik ini.

“Percayalah padaku,” ulang Onew. Kali ini tatapannya lebih meyakinkan dan tegas.

Akhirnya, setelah beradu pandang antara Onew dan yang lainnya—Jonghyun dan Taemin yang kali ini merasa sangat cemas, tak rela Onew pergi, menahan tangannya bersama-sama. Meski begitu akhirnya mereka pasrah pada Onew, dan membiarkan orang itu keluar dari persembunyian.

Sosok bertubuh kecil itu masih berdiri di tempatnya tak bergerak, memerhatikan sebuah pintu di dekatnya yang perlahan terbuka dan secara bersamaan muncul sesosok lelaki dengan pakaian serba hitam dengan kepala tertutup tudung hingga tak sedikit pun matanya yang tajam bisa menembus kegelapan di wajahnya. Ia  sama sekali tak bisa mengetahui sosok seperti apa yang kini berjalan ke arahnya. Tubuh yang cukup tinggi dan terbalut dengan jubah panjang, tak membiarkan satu bagian tubuhnya pun yang lolos.

“Siapa Kau?!”

Onew menarik tudungnya, dan menampakkan wajahnya yang berekspresi dingin dan angkuh ke arah lelaki kecil di hadapannya. Tatapannya menyiratkan rasa tidak suka, lalu ia bicara dengan nada kesal, “Kau berani membentakku?”

Onew melihat orang itu dengan was-was, dan berusaha menyembunyikan rasa was-was dan ketakutan itu sendiri dengan berusaha memberikan gambaran Tuan Onew yang seharusnya. Setidaknya, memang seperti itulah Tuan Onew yang digambarkan otaknya, meski sedikit ragu-ragu dan gugup. Sebenarnya menjadi galak adalah hal mudah untuknya karena dia sendiri bisa melakukan itu sewaktu-waktu, apalagi terhadap adiknya, atau bahkan orang di hadapannya ini. Tapi ia berpikir lagi, bukankah Taemin tak sepenuhnya nakal dan baik, jadi Onew berpikir orang di hadapannya juga begitu. Yang pasti, dia tidak nakal.

Orang di hadapannya menunjukkan tatapan takut. Onew beryukur untuk itu, yang berarti ia berhasil mengelabui kurcaci kecil yang tengah merunduk kepadanya, meskipun ia benar-benar merasa tak nyaman dengan dirinya sekarang, yang berpura-pura dan juga merasa berasalah karenanya.

“M-maaf, Tuanku. Aku sungguh tidak tahu,” ucapnya takut tanpa mau memandang orang berjubah di hadapannya.

“Ya, tidak apa-apa. Aku memaklumi kali ini,” ucap Onew masih berusaha terdengar kesal, meski semakin tidak tega.

“Aku benar-benar minta maaf, Tuan. Tapi, apa yang Anda lakukan di sini? Baru saja, Anda terlihat seperti bersembunyi dariku.”

“Ehem!” Onew berdeham dengan keras. “Kau benar-benar bodoh! Itukah yang kaupikirkan? Aku hanya sedang mengajak tamu-tamuku yang baru datang—itu adalah alasanku kenapa aku di sini malam-malam—untuk mengajak mereka melihat kediamanku. Yah, mereka berkata begitu ingin melihat penjara milikku.”

Semua orang yang masih bersembunyi di balik pintu tersentak, mata mereka membulat lebar dan otak mereka segera bekerja dengan keras, sambil bertanya-tanya, Apa yang sebenarnya anak itu rencanakan? Tapi, tanpa mau berpikir Taemin justru segera keluar lebih dahulu dengan penuh keberanian dan kepercayaan diri yang besar, membuat yang lain—yang masih saja bergulat dan merespon kata-kata Onew dengan lambat—semakin terkejut, namun, tak begitu lama yang lain pun mengikuti Taemin di belakang dengan ragu, tentu saja tanpa membuka tudung mereka, dan membuat mereka terlihat begitu misterius. Mereka berdiri tepat di belakang Onew sambil tertunduk tanpa berbicara apa-apa.

“Dia tamu-tamuku,” ucap Onew. “Dan, kau tak perlu tahu siapa mereka,” ucapnya dengan tegas.

“Ya, baiklah, Tuan. Tetapi, kenapa ….” Dia berhenti bicara dan memerhatikan tuannya yang ia rasa tidak biasa. “Kenapa pakaian Anda dan mereka—“

“Oh!” Onew menginterupsi. “Ya, seperti inilah mereka berpenampilan, dan aku hanya menghormati mereka, tentu saja. Memang apa yang kaupikirkan?”

“Tidak ada. Hanya terasa janggal,” ucap si kurcaci meski tampak tak yakin dan Onew menyadari. “Tetapi aku mengerti, Tuan,” lanjutnya.

“Sekarang, antarkan mereka kepada Key! Mereka tadi berkata padaku ingin bertemu dengannya.”

“Eh, baiklah,” ucap si kurcaci dengan skeptis. “Tentu saja.”

Dari balik tudung mereka, tampak gurat-gurat kepuasan dan keceriaan. Mereka tersenyum di baliknya, merasa senang. Tentu saja, sekarang mereka mengerti—apa yang Onew lakukan dengan penuh kegilaan—meski masih terselip rasa was-was, takut tiba-tiba ketahuan, siapa tahu Tuan Onew yang asli tiba-tiba datang. Mereka memang medengar si Kurcaci Taemin tak terlalu pintar—tentu ini juga mereka dengar dari Suho—tapi, mereka tak yakin dengan si Elf Minho yang dikabarkan sangat pintar. Jika yang menemukan mereka saat ini adalah Elf Minho, tentu, bukan tidak mungkin mereka tertangkap dengan mudah.

Tapi, berbeda dengan Onew. Ia tak tersenyum sedikit pun. Bukan karena dia tengah berperan sebagai Tuan Onew, tapi dia memang benar-benar tidak bisa tersenyum sekarang. Ia terlalu was-was dan takut. Ia masih skeptis atas kerahasiaan perannya. Ia tak yakin akan ekspresi kurcaci di hadapannya—yang tengah berjalan menuju Raja Key—tunjukan. Jelas-jelas kurcaci kecil itu tampak ragu. Dan lebih dari itu, bukankah bisa saja ini hanya jebakan? Seperti kaumasuk ke lubang yang kaubuat sendiri, senjata makan tuan. Tapi, tak ada yang bisa Onew lakukan dengan kegundahannya sekarang, tidak juga dengan apa yang sudah ia putuskan—dengan cukup tergesa dan terpojok saat itu. Sekarang, yang perlu ia lakukan hanyalah bersikap seperti seorang Tuan Onew yang angkuh dan jahat.

Mereka berjalan ke jalan yang tadi mereka lewati, anak-anak tangga yang gelap dan mereka naiki sekarang, keluar dari sana dan memasuki lorong-lorong yang memiliki banyak pintu kayu, juga sebuah pintu yang sudah mereka lihat sebelumnya—sebuh pintu yang di dalamnya memiliki tangga-tangga naik dan menaikinya. Tangga itu pun sama gelapnya, satu-satunya penerangan adalah lentera yang berada di tangan Kurcaci Taemin. Dan ketika mereka keluar dari sana, mereka disambut oleh lorong-lorong yang terang, yang memiliki pintu-pintu di sana-sini, dengan tembok-tembok polos berwarna terang, serta beberapa gambar yang terpajang di antaranya.

Ternyata perjalanan mereka masih panjang, memasuki sebuah pintu lagi dan menaiki sebuah tangga lagi, keluar dari sebuah pintu dan menemukan sebuah lorong, menaiki tangga, memasuki lorong kembali dan menaiki tangga lagi hingga mereka sampai pada lantai atap. Di dalam perjalan mereka, jarak tempuh yang semakin jauh justru membuat semakin takut, membuat mereka semakin was-was, membuat degup jantung semakin kencang, tapi semua sebanding ketika mereka mencapai sebuah ruangan berdebu yang tertutup oleh tembok-tembok kayu yang terdapat seseorang di dalamnya, tengah meringkuk di pojokan dan tertidur, tampak kedinginan—tapi tak tampak wajahnya.

Mata mereka membulat ketika bisa melihat sang Raja melalui sebuah pintu yang sama persis dengan pintu penjara, melalui kisi-kisinya. Mereka lega sekaligus miris melihat pemandangan itu, terkhusus Jonghyun—ia tampak begitu sedih dan marah bersamaan. Ia ingin menangis sekarang, bahkan dadanya sudah bergemuruh kencang, tetapi demi kelancaran misi menahannya. Dalam keheningan malam ditemani satu-satunya penerangan, semua terdiam dan memandang Jonghyun dengan iba, tapi akhirnya dengan suara yang agak serak Onew mulai bicara lagi, “Tamu-tamuku ingin bicara dengannya. Kaubuka pintunya dan biarkan dia keluar!” ucap Onew berusaha terdengar tegas.

“Apa? Bukankah Anda berkata dia di—“

“Apa kau mau membantah?! Ini perintah! Atau kau mau membiarkan tamu-tamuku berbicara di sini, begitu? Kau kurang ajar!” lolong Onew berpura-pura marah.

“Oh, oh.” Kurcaci Taemin tampak sangat ketakutan, lalu dengan setengah gemetar merogoh saku pakaiannya yang agak lusuh, buru-buru mengambil sekumpulan kunci yang terjejer dalam sebuah gelang besi. Ada berpuluh-puluh kunci di sana, membuat Onew hampir melotot takjub melihatnya sambil mendengar gemerincing kunci yang bergoyang bersama suara kurcaci kecil di sampingnya berceloteh, “Maaf, maaf.”

Kegugupan itu berlangsung begitu lama, hingga satu per satu kunci-kunci dicoba dan terus-menerus gagal. Di belakang mereka Taemin kecil terus menggerutu tentang kebodohan kembarannya, dan Minho benar-benar ingin menyambar kunci itu dan mencobanya sendiri. Jonghyun diam saja sambil memerhatikan orang yang berada di dalam dan masih tertidur lelap—tanpa bisa melihat wajahnya yang lusuh—sedangkan Jinki terus berpura-pura membentak meski itu sama sekali tak membantu, ia hanya berpikir di saat seperti ini orang jahat pasti hanya akan mengomel dan menggerutu, jadi, itulah yang terus ia lakukan.

Dan itu terjadi cukup lama hingga akhirnya semua bungkam karena merasa begitu mengantuk, bahkan Onew pun memilih untuk diam, dan di saat itulah suara bunyi kecil yang menggembirakan terdengar, clek! seperti bunyi jam beker di pagi buta yang menggugah mereka untuk segera membuka mata. Dalam sekejap mereka menjadi bersemangat dan mereka—yang masih tertutup tudung—bisa tersenyum dengan leluasa, sedangkan Onew, tersenyum diam-diam, mencoba tidak menampakannya sebisa mungkin. Tapi ….

Brak!! “Taemin!!” teriak seseorang dengan garang dari sebuah pintu yang baru mereka lalui, pintu kayu yang rapuh itu kini menganga lebar dengan seorang lelaki berpakaian mahal dan seorang lelaki tinggi bertelinga aneh di ambangnya. Mereka berdua tampak marah, namun mengekspresikannya dengan berbeda. Orang yang dikenali dengan Tuan Onew melotot dengan mata merah, sedangkan yang satunya yang diketahui sebagai kembaran Minho tengah menatap Kurcaci Taemin dengan tajam. Dan, suara itu sontak saja membangunkan orang yang tengah tertidur di atas tumpukan jerami dalam penjara dan hampir terlonjak karena kaget.

Mata Kurcaci Taemin melebar, sedangkan Onew, Taemin, Minho dan Jonghyun menelan ludah mereka dengan sulit, jantung mereka seakan berhenti bekerja dan dengan segera mereka mematung dengan sendirinya. Kurcaci Taemin melempar pandangan pada Onew dan tuannya bergantian. Sesaat terdiam lalu mengerang sambil mencengkeram kepalanya kaena frustasi. Tuan Onew sendiri tampak sama halnya dengan Elf Minho, namun wajah elf itu tetap saja datar.

“Kau,” ucap Tuan Onew dengan setengah takut. “Siapa kau?!” tanyanya pada Onew.

Onew diam dan memilih untuk melirik ke arah teman-temannya dengan khawatir—yang sudah setengah gemetar, mereka ketakutan.

“Dan,” lanjutnya kepada tiga orang bertudung. “Siapa kalian? Lepas tudung kalian!”

Mereka tak bergerak, begitu ketakutan untuk melakukannya, tapi dengan sangat aneh tudung mereka terbuka begitu saja, dan ternyata itu adalah ulah Kurcaci Taemin yang tampak kesal. Ia menggunakan sihirnya tentu saja. Sontak mulut kurcaci Taemin, Tuan Onew dan Elf Minho menganga, tak bisa berkata-kata, mematung dan mulai merasa khawatir, tetapi dengan cepat menguap karena merasa marah, karena itu mereka menggeram bersamaan. Yang sudah terbangun hanya bisa mendengarkan dengan seksama dari dalam dan melihat sebagian kecil pemandangan itu melalui kisi-kisi yang kecil tanpa mau beranjak dari tempatnya—sebenarnya ia sadar bahwa anak-anak yang datang dan diteriaki adalah orang-orang yang ia pikir akan menyelamatkannya, tetapi tak terlalu beruntung.

 “Siapa kalian? Kenapa … kenapa wajah kalian mirip sekali dengan kami? Ah, aku mengerti. Kau! Kau membuat muslihat licik dengan sihirmu kan, Jonghyun?!” tudingnya pada Jonghyun yang cukup tersentak lalu mengerjap dengan bingung. Ya, hanya kembaran Jonghyun yang tak ada di sini, tentu saja dia kena getahnya.

“Dengar, aku hanya ingin ayahku!” teriak Jonghyun marah dan Raja Key di dalam membelalak dengan kaget. “Ayah?” gumam Raja dengan bingung.

Wajah Tuan Onew semakin memerah lalu berteriak lagi, “Penjarakan mereka!” Tapi, sebelum sempat mereka bergerak, dengan gesit—seperti elang menyambar mangsanya—tangan Minho menyambar kunci di tangan Taemin yang terus ia tatapi dengan jeli secara diam-diam sejak tadi. Kurcaci Taemin menggeram marah namun Taemin yang sejak tadi membatu—menerjang kembarannya yang berkuping aneh dari belakang, menjambaknya hingga Kurcaci kecil itu menjerit, “Argh! Apa ini?!”

Tuan Onew semakin murka dan Elf Minho segera menggerakkan tangannya, mencoba menyerang mereka menggunakan sihir, tapi dengan sangat menakjubkan Jonghyun menahan sihir itu dengan sihirnya. Seketika semua orang memandang Jonghyun dengan kaget, rasa tidak percaya bercampur takut. Apa ini Jonghyun atau kembarannya? Mereka menjadi ragu.

“Teman-teman, cepat keluarkan Raja!” teriak Jonghyun—yang dengan sekuat tenaga masih menahan serangan berupa cahaya putih yang besar dengan perisai tak kasat mata—karena melihat teman-temannya terdiam. Ia meringis, menunjukkan bahwa itu bukanlah pekerjaan mudah. Dan, dengan segera Minho tersentak dan bergerak mengikuti instruksi.

Dibukanya pintu itu lalu berteriak dari ambangnya, “Ayo keluar!”

Orang itu mengerjap, sedikit kaget. Tetapi Minho yang terburu-buru segera memasuki sel dan menyeret orang yang berada di dalamnya. Tetapi, ketika ia berada di ambang pintu segerumbulan orang masuk dengan pedang mereka, memenuhi tempat itu dan membuat ruangan itu  semakin berisik dengan hentak kaki dan membuat yang lainnya ketakutan. Dengan cepat Minho mendengar pekikkan Jonghyun setelah terpental dan mengelurkan bunyi berdebum ketika punggungnya terpelanting ke tembok kayu, Onew kebingungan, dan Taemin menjerit-jerit karena mencoba dilepaskan dari kepala mangsanya. Dan, hanya dalam kurun waktu kurang dari lima menit mereka semua sudah berada di penjara yang sempit dengan tangan kosong dan tak tersisa. Semua yang mereka bawa sudah dilucuti, bahkan jubah mereka sekalipun—termasuk buku, tetapi setidaknya pakaian mereka tidak.

Taemin berteriak-teriak histeris sambil menggedor-gedor pintu ketika pintu ditutup, tetapi dengan cepat berhenti karena pintu atap di luar penjara kayu tertutup dengan keras hingga menyentak mereka, lalu berteriak lagi, kali ini lebih keras, “Hei, lepaskan kami! Kalian yang diluar, lepaskan kami!” ucapnya berkali-kali.

Tetapi, Minho, Jonghyun, dan Onew yang sedang berdiri sambil melihat ke arah orang yang tengah duduk di atas tempat tidur jeraminya dan berpenampilan acak-acakan juga kusut malah tak bergeming. Mereka menatap dalam diam dan takjub, sedangkan orang itu sendiri melihat mereka dengan muram lalu menghela keras.

“Hei!” panggil Onew pada Taemin tetapi tidak direspon—mungkin tidak mendengar karena teriakannya sendiri dan rasa frustasi. “Taemin!” Kali ini lebih keras dan segera saja Taemin menoleh dengan mata melotot, “Apa?!” karena kesal, tetapi segera dia mematung dengan mata mengerjap-kerjap tak percaya pada orang yang berambut kusut.

“Duduklah! Sapa dulu raja kita,” pinta Onew dengan tenang kemudian.

Dengan setengah merengut Taemin menurut dan duduk di antara mereka yang duduk telebih dahulu mengelilingi sang Raja. Di sana Onew segera bicar lebih dahulu, “Aku—“ Tapi sang raja segera mengangkat tangannya dan menyuruhnya berhenti bicara. “Aku tahu. Aku tahu kalian. Onew, Taemin, Minho, dan Jonghyun. Jadi, kalian yang ditugaskan untuk membawaku?”

Semua orang mengangguk dan Raja Key mendensah. “Lama sekali. Kenapa baru datang?” gerutunya.

“Sebelum itu, maaf, aku ingin bertanya lebih dahulu, apa benar Anda Raja Key?” tanya Onew hati-hati.

“Tentu saja. Apa kalian tidak mengenali wajahku?”

 “Aku kira kau lebih tua,” ucap Onew.

“Tua? Bagaimana bisa? Aku baru di sini dua tahun. Bagaimana orang bisa tua dalam waktu—“

“Tapi,” potong Taemin sambil menunjukkan telunjuknya, menginterupsi. “Kau sudah dua puluh tahun meninggalkan kerajaan. Bukan dua tahun,” ucapnya dengan nada bingung namun segera disambut dengan naggukan setuju yang sangat mantap oleh yang lain.

“Dua puluh? Ha ha ha. Itu gila! Umurku baru dua puluh, tahu!” protes Raja Key.

Semua tergelak dan saling berpandangan dengan alis mengerut, lalu memandang kembali orang di hadapan mereka dengan tatapan bertanya-tanya.

“Apa?!” bentak Raja, lalu ia tiba-tiba mengingat sesuatu. “Tunggu, tunggu!” ucapnya dengan panik. “Rambut. Lalu … lalu kukuku, aku … HEY!” pekiknya membuat yang menonton terkaget-kaget dan hampir tersentak kebelakang.

“Ada—ada apa? Bisakah kau memberitahu kami sesuatu?” tanya Jonghyun setengah ketakutan dan setengah panik.

“Waktu … waktu tak pernah berjalan untukku!” pekiknya kemudian, tampak tak percaya. “Awalnya aku sangat frustasi. Sungguh! Aku kira aku akan menjadi lebih tua beberapa tahun dan tak memiliki kesempatan untuk keluar dari sini, tapi ternyata, waw! Aku tak pernah menua sama sekali!” decaknya kagum lalu tertawa heboh.

“Jadi, bagaimana kau mengetahuinya, Raja?” tanya Minho.

“Sudah kukatakan tadi, rambutku, kukuku, seluruh sel ditubuhku tak berkembang. Aku tak pernah bercukur, memotong rambut ataupun kuku. Aku masih sama seperti pertama kali aku kemari,” jelas Raja tetap antusias.

“Yah, tentu saja. Begitu juga Iblis Key,” celetuk Taemin membuat Raja Key tiba-tiba terlihat marah.

“Kalau boleh tahu, apa yang terjadi sebenarnya dua puluh tahun yang lalu?” tanya Taemin.

“Apa? Sudah kubilang, dua tahun!” bentak Raja Key jengkel.

Anak-anak saling bertatap. “Jonghyun, kapan kau terakhir melihat ayahmu?” tanya Onew menerka-nerka. “Kau belum pernah melihatnya sebelumnya, kan?”

“Tentu saja. Umurku sekarang sembilan belas. Dia … dia pergi begitu saja dulu, tahu. Saat itu aku masih di perut Ratu.”

“Jadi, aku bisa ambil kesimpulan sekarang, waktu di sana dan di sini tak sama. Tepatnya sepuluh tahun di sana sama dengan satu tahun di sini. Kau sudah pergi selama dua puluh tahun, Raja,” ucap Onew dengan tenang.

“Tapi, siapa yang dia maksud Ratu?” tanya Raja Key kepada Onew tapi menunjuk Jonghyun.

“Aku anakmu!” teriak Jonghyun setengah sedih dan setengah kesal.

“Aku … aku baru dua puluh tahuuuuun!” teriak Raja Key tidak terima, karena anaknya hanya setahun lebih muda darinya. Dan setelah itu mereka terus berdebat dan berbantah-bantahan, serta saling berteriak satu sama lain. Minho, Onew dan Taemin memandang mereka dengan maklum dan dengan cepat menyimpulkan kalau mereka mirip, kalau mereka memang ayah dan anak kandung.

Sementara dua orang itu terus beradu mulut tiba-tiba Onew menginterupsi, memanggil Jonghyun karena merasa terganggu. Jonghyun yang kesal membentak, “Apa?!”

“Kau … bisa sihir, kan? Kenapa kau tidak beri tahu kami? Lalu, kalau begitu, bisakah kau mengelurkan kami dengan sihirmu?”

Jonghyun mendengus. “Kalian pikir aku kemari tanpa persiapan? Aku belajar sihir bertahun-tahun, secara diam-diam tentu saja. Dan kenapa aku tak memberitahu kalian, aku belum yakin waktu itu. Kautahu, aku takut kalian membocorkannya pada Tuan Choi. Tapi ….” Tiba-tiba Jonghyun memberingsut dengan kecewa—kecewa terhadap diri sendiri. “Maaf, aku tidak bisa. Aku tak belajar sihir seperti itu. Aku pikir aku tak memerlukannya, jadi tak kupelajari.” Benar-benar terlihat dari wajah Jonghyun bahwa dia menyesal.

“Tidak apa-apa. Aku masih punya ini.” Minho memperlihatkan kawatnya yang terselip di celananya yang seketika membuat mata-mata di sana terlihat berbinar, tapi Taemin segera protes, “Kenapa tidak bilang dari tadi?! Aku kira tidak ada yang tersisa lagi di sini.”

“Karena kalian sibuk bicara dengan Raja,” jawab Minho santai lalu dengan segera membuka pintunya dalam waktu beberapa detik saja—Minho begitu ahli dalam hal ini karena dia sering kabur dari rumah menggunakan cara yang sama—hingga mereka bersorak gembira bersamaan dengan kompak.

“Baiklah, sekarang kita harus cari buku itu dulu, tanpa buku itu kita tak bisa pulang,” seru Onew.

“Tapi cari di mana?” tanya Taemin.

“Sepertinya aku tahu di mana,” tukas Raja Key dan membuat yang lain segera memalingkan wajah pada Raja yang tengah tersenyum. “Biar aku tahanan, bukan berarti aku tak tahu apa-apa. Aku dijadikan budak di sini, dan berkali-kali mencoba meloloskan diri. Aku bahkan tahu jalan paling aman untuk kabur. Sayang sekali, setelah aku bisa kabur sekitar setahun yang lalu—aku tertangkap dan tak pernah dikeluarkan dari penjara sejak saat itu. Ya, tentu saja, untuk beberapa urusan yang kepepet tidak.”

“Itu benar-benar membantu!” seru Minho semangat.

“Ayo ikuti aku!” ajak Raja Key tak kalah semangat.

Mereka berlari keluar dari loteng, tetapi baru saja melalui pintu Onew menyeru mereka untuk berhenti, sesuatu mengganjal pikirannya. “Hei, Teman-teman, lalu bagaimana kita mengambilnya? Bagaimana jika tempat itu dijaga?”

“Mereka pasti membawanya ke tempat kerja Tuan Onew, dan di sana tak ada penjagaan, tentu saja, kecuali Minho dan Taemin, itu mungkin saja. Penjaga selalu ada di lantai dasar, jika dipanggil mereka baru boleh naik ke lantai atas. Tenang saja, ruangan yang kumaksud berada satu lantai di bawah kita. Dan, aku kira kita tak perlu takut dengan dua penjaga itu. Bagaimana pun kita menang jumlah,” tukas Raja.

“Tapi mereka memiliki sihir,” tukas Minho.

“Ya, apalagi Minho, dia sangat kuat,” imbuh Jonghyun.

“Tapi,” Raja mengucapkannya dengan tegas dan dengan nada yang sangat serius. “ini adalah kesempatan kita satu-satunya. Tuan onew bukanlah orang bodoh yang melakukan kesalahan yang sama dua kali. Jika kita tertangkap, maka kita akan habis saat itu  juga. Mereka membiarkan aku hidup hanya karena permintaan Penyihir Jonghyun. Sedangkan mereka kira Penyihir Jonghyun adalah kau, Jonghyun. Jika kau juga tertangkap, maka tak ada lagi alasan mereka benar-benar menyingkirkan kita. Setidaknya, begitulah yang mereka pikirkan.”

“Dia benar, Teman-teman,” sahut Onew tak kalah yakin. “Kita harus mendapatkan buku itu, sekarang atau tidak sama sekali. Kalian tahu, waktu kita sangat mendesak, dan yang harus kalian ingat, satu hari kita di sini berarti kita menghabiskan sepuluh hari kita di dunia kita. Jika kita mengulur waktu, itu akan semakin berisiko bahwa perang akan dimulai.”

“Perang?” ulang Raja Onew dengan penuh tanya.

“Maaf, Raja, kita akan menjelaskannya nanti. Jika apa yang Onew katakan benar, maka, waktu kita benar-benar terbatas. Sekitar dua jam lagi matahari akan muncul,” imbuh Minho tak akalah serius.

“Dari mana kautahu, Minho?” tanya Jonghyun.

Di dekat mereka ada sebuah jendela kaca yang dibingkai kotak-kotak dan diselimuti dengan debu. Dari tempatnya berdiri Minho melihat ke arah langit dengan tatapan menerawang. “Bulan.”

“Kalau begitu, kita akan mengambil buku itu meski harus melawan mereka?” tanya Taemin, dan keempat orang di sana mengangguk mantap dan segera saja Taemin menutupi wajahnya yang frustasi dengan kedua tangannya.

Akhirnya, tanpa buang-buang waktu lagi mereka menuruni sebuah tangga tua yang berdecit, melangkahinya dengan sangat hati-hati lalu memasuki sebuah lorong yang mereka lewati beberapa jam yang lalu. Di tempat itu Raja Key memandu. Yang perlu mereka lakukan hanyalah melalui koridor itu dan berbelok beberapa kali hingga sampai pada sebuah ujung koridor yang terdapat sebuah pintu kayu. Pintu itu terlihat berbeda dengan pintu lain lantaran ada ukiran di tepiannya, tak polos seperti yang lainnya.

Setelah sampai di depan pintu yang dimaksud, mereka berhenti dan berbisik sebentar, lalu mengintip dari sela pintu yang mereka buka sedikit.

“Kosong,” desis Minho yang diikuti anggukan yang lain—yang tengah menunggu tepat dibelakang Minho yang mengintip.

Dengan sangat hati-hati mereka memasukinya, dan menutup pintu itu perlahan—takut menimbulkan suara dan sebelum itu Minho mengintip keluar, takut ada yang memergoki. Dan benar saja, apa yang mereka cari bisa mereka lihat di sana. Buku dan tas selempang mereka diletakkan di atas sebuah meja kerja yang besar, dan sisanya—jubah-jubah mereka—digeletakkan asal di kaki meja. Dengan cepat merek memakai dan mengambil semuanya lalu pergi lagi.

Semua itu mereka anggap sebuah keberuntungan yang luar biasa, sayangnya keberuntungan tak hadir dalam setiap langkah kaki mereka yang cepat, baru beberapa langkah melewati pintu—mereka sudah dipergoki oleh ketiganya yang tengah berjalan menuju ruang kerja, dan membuat langkah mereka terhenti sekatika dengan jantung yang berdegup.

Di seberang mereka—jarak mereka sekitar sepuluh meter—tiga orang yang begitu familier tangah terpaku diam, memelototi mereka dengan marah, membuat kelima orang itu menelan ludah dan mengambil ancang-ancang untuk berlari, sedangkan Onew mendekap buku yang ada di dalam tasnya dengan erat dalam keheningan.

“Kembali! Kembali!” teriak Raja Key tiba-tiba yang dengan cepat mereka berbalik arah dan kembali masuk ke dalam ruangan yang baru mereka keluar dari sana.

Minho dan Jonghyun menempel pada daun pintu dan menahannya, sedangkan Onew, Taemin dan Raja Key mendari barang apa saja yang bisa mereka jadikan sebagai pengganjal. Dari luar ketiga orang itu mencoba menggedor-gedor-gedor pintu dan berteriak, juga mencoba untuk membobol tetapi pintu itu terasa semakin berat.

“Hei, buka! Kalian dengar? BUKA! Atau aku harus mendobrak paksa? Hey, Sialan!”

Mereka semua menatap pintu dengan penuh ketakutan.

“Apa yang ahrus kita lakukan sekarang?” tanya Taemin panik dan menjambak-jambak rambutnya sendiri.

“Raja. Lindungi Raja! Sembunyikan Raja!” perintah Onew setengah kalap, dan seketika kepalanya bergerak ke segala arah dan matanya menyapu ruangan. “Lemari! Lemari! Sembunyikan Raja di lemari!”

“Ap—“ Tapi sebelum Raja sempat memprotes Jonghyun dan Minho sudah menyeret kedua lengannya dan memasukannya ke dalam lemari persis seperti perintah Onew.

“Hey, bukakan! Hey, aku perintahkan—“

DUARR!!

Meja, kursi dan segala perabotan yang mereka letakkan di pintu terlempar dengan keras ketika Elf Minho memainkan sihirnya bersama pintu yang terempas dan setengah hancur. Benda-benda besar itu bergelimpangan tak teratur dan menimbulkan debuman keras yang mengerikan, membuat mereka menjerit sambil melindungi kepala mereka dengan tangan dan menutup mata karena takut barang-barang itu menimpa mereka.

Mereka membuka mata perlahan dan sekarang melihat kembaran Minho di depan pintu—yang tanpa daun pintu—dengan mata menyala, di belakangnya ada Tuan Onew dan Kurcaci Taemin, lalu Tuan Onew segera menggeser posisi Minho di depan, menyeringai jahat dengan senyuman kejam. “Kalian mau kabur? Maaf, tapi kalian perlu izinku!” bentaknya marah. “Taemin, Minho, tangkap mereka!”

To be continued ….

22 thoughts on “[FFP 2013 – 2] Hieroglif – Part 4

  1. huaaaa ya ampun tegang bgt part ini😮 bcanya aja merinding, kyk yg bner2 liat movie !!😀 cius dah , hahaha
    d part ini aku tau trnyta pkiran negatif ku tntang kmbaran suho tuh salah , hahaha😄 *kelakuan orang sotoy*
    sip dtunggu part slanjutnya, semangat dan sukses trus buat author !🙂 Keep writing😀

  2. akhirnya semua member berkumpul😛

    agak bingung waktu sesama kembaran bertemu, karena panggilan mereka sama..

    berarti tinggal satu part lagi ya..
    ditunggu loh author-ssi^^

  3. Waahh daebak ff nya eon😀 ak bru nemu ff ini, mian g bsa comen satu2 u.u tp ffny seru, bikin tegang lho.. Itu gmna cara lolosny yh?? *mikir keras* hueee g sabar diriku😀 nexttt eon, dtnggu lnjutannya😉

  4. omegat trtangkap lg kah😮 ??? hm iya sh , kalah kmampuan sihir sh, masa cuman jonghyun doang yg bisa. 1 part lg yah?? yaahhh u.u hmm ditunggu next part ny author-ssi ^_^

  5. Huwaaa.,,
    makin seremmm…

    Tp yg bikin bingung kenapa Raja Key tidaj dibunuh krn permintaan Jjonghyun?
    Bukannya Onew n Jjong yg ada di dunia cermin itu bermusuhan?
    Kyknya part 3 si Junmyeon cerita begitu…
    Apa cm perasaanku aja?/kicked/
    xD

    1. serem? #berasahorror

      Em, begini, #pelan-pelan saja. Jonghyun sengaja membiarkan Raja Key hidup karena dia tahu akan ada seseorang yang datang, dan dia berniat pergi ke dunia nyata untuk megnambil alih kerajaan karena kontak dua dunia itu hanya bisa menggunakan buku. klo Raja mati duluan, maka akan lebih sulit menjalankan rencananya. semoga mengerti.

      thx komentnya!

  6. Kok aku ngerasa kayak di film-film kartun Disney, yah, pas scene mereka berbondong2, berjinjit, mau kabur…
    Wkwkwkwkwkkkkk…. *Digampar Hana
    Tapi seru, kok.

    Aduh, kenapa aku malah lebih tertarik ama Tuan Onew
    yang jahat, ya….? *stress. Tapi bener, aku ngerasa Onew dengan
    karakter jahat, bisa berasa ganteng banget… *gaknyambung

    Oke, sekarang, gimana caranya kabur setelah ketahuan, kepergok,
    mau kabur. Udah dihadang Minho yang jago sihir, nih…

    Key, mau jadi raja atau apapun, tetep nyolot ya…
    sesuatu….

    1. hwahahaha, mungkin bawaan dari orok. emang dari kecil seneng banget film-film disney.

      klo onew punya image dark emang berasa keren gimana gtu, tapi imangenya kan dia lelaki yang baik.

      hahaha, key gtu. makasih dah koment lagi. semoga part terakhir makin seru meski typo juga makin bertebaran dan tak beraturan. hehehe

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s