[FFP 2013 – 3] Him Inside – Part 4

Title                 : Him Inside (2 of 5)

Main Cast        : Onew Lee (Lee Onew)

Support Cast   : Choi Minho, Kim Jonghyun, Lee Taemin, Kim Kibum, Lee Jinri (OC)

Length             : sequel

Genre              : Mystery, a bit of Horror, Psychology, Romance, Family

Rating             : PG-15 (sebenarnya bisa SU, sih. Tapi mungkin ceritanya bakal sulit dimengerti. Hehe…)

Summary           : Dan tiba-tiba Onew mencintai nama yang sempat membuatnya takut itu.

 

HIM INSIDE

“Hyung, maaf membuatmu lama menunggu,” ucap Taemin membuyarkan pikiran Onew. Lelaki yang besar di London itu mendongak dan memasang senyum kecil padanya, “Tidak apa. Aku tahu kau sibuk.” Onew membiarkan Taemin duduk di hadapannya dan menyodorkan menu makanan. Sementara Taemin menentukan pesanannya, pikiran Onew kembali pada sepasang remaja tadi. Namun ia tidak bisa menemukan siapapun lagi di tempat tadi. Matanya sibuk mencari, namun tak ada jejak keduanya.

“Apa menurutmu ada banyak orang yang bernama Choi Minho di Korea ini?” tanya Onew tanpa sadar, matanya masih sibuk mencari. Taemin menatapnya heran, “Kalau hanya sekedar ‘Minho’ memang ada banyak. Tapi aku tidak yakin ada banyak yang bernama ‘Choi Minho’…,” jawabnya.

“Benar, kau benar juga…”

Onew menghempas tubuhnya ke senderan kursi. Tangannya meraih cangkir kopinya namun bukan bermaksud untuk menyeruputnya. Ia tengah berpikir, pemikiran yang serasa bisa merusak tiap sel otaknya. Semua kejadian kemarin berputar kembali dalam kepalanya, membuatnya ragu pada realitas yang menyelimuti hidupnya. Jika semua dihubungkan, semua terasa sangat tak masuk akal. Semua terjadi seakan melompati waktu dengan begitu cepat, sungguh tidak logis.

“Lalu apa yang kau dapatkan dari penyelidikanmu kemarin, hyung?” Lagi-lagi Taemin membuyarkan pikirannya. Ingin sekali Onew mengerang tapi tak tahu untuk apa. Seakan ada berbongkah-bongkah memori yang akan tergali jika ia bisa memahami semua rentetan kejadian itu. Namun akhirnya Onew menyerah.

“Tak banyak,” sahut Onew, “hanya hal-hal yang membuat semakin sakit kepala.”

“Kalau begitu sebaiknya kau beristirahat dulu, hyung. Semua akan lebih mudah jika kau dapat berpikir lurus.” Onew mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar nasihat Taemin. Yah, dia juga memikirkan hal itu. Ia merindukan kasur yang empuk dan hangat, namun sebagian dari dirinya masih bersikeras mencari tahu kebenaran yang ada. Dan di tengah kalutnya pikiran, hanya ada satu hal yang menyeruak dan meluncur di bibir Onew.

“Sewakan mobil untukku. Sebuah Ferrari merah terdengar bagus, bukan?”

Ferrari mencolok dengan atap terbuka itu sudah dinaiki Onew dengan riangnya. Ia tidak tahu kenapa ia sangat ingin menaiki mobil bergaya kuno itu, tapi ia merasa sangat nyaman. Seakan ia memegang kembali lengan kekasih yang telah lama pergi. Ia ingin melupakan semua keruwetan dan ketidak-masuk-akalan yang terjadi di sekitarnya. Ia ingin angin menerbangkan semua memorinya, memori yang merusak isi pikirannya.

“Memalukan sekali jika seorang lulusan psikologi malah memiliki kelainan akal,” batinnya dalam hati. Ia menghela nafas saat menyadari ada kendaraan yang tengah mengekor di belakangnya, entah siapapun itu. Lelaki berambut cokelat yang warnanya mulai semakin gelap karena kurang perawatan itu pun mendecak sebal, mulai menyangka dan menghubungkan penguntit itu dengan ayahnya. Dengan gerakan tegas Onew menginjak gas dan mobil itu tertancap ganas.

“Cih, tidak mau kalah rupanya!” Onew semakin beringas membawa mobilnya membelah jalanan yang lengang. Ia tidak mengenal daerah itu sebenarnya, namun tubuhnya seakan-akan sudah hapal harus bergerak seperti apa. Mobil yang mengikutinya mulai terlihat kewalahan, tapi masih belum ada tanda-tanda hendak menyerah. Onew menggeser tuas gigi mobil itu dengan sebal dan menggumam, “Rasakan ini!”

Mobil tersebut melaju dengan amat kencang. Angin bahkan seakan menampar. Tapi ini yang Onew inginkan, kebebasan. Ia tidak ingin hidupnya dikekang, ia ingin hidup tanpa beban. Ia ingin hidup dengan caranya sendiri tanpa perlu perintah orang lain.

Tunggu, perasaan itu sepertinya tidak asing.

TIIIINN

Onew melihat ada truk yang juga melaju kencang dari arah kanan di persimpangan jalan seberang. Tak mungkin ada kesempatan lewat tanpa tabrakan. Segila apapun Onew Lee di jalanan London dulu, ia tak pernah benar-benar berhadapan langsung dengan maut. Masih banyak yang harus ia cari tahu di dunia ini, terutama tentang dirinya sendiri. Seketika pikiran Onew kosong, berbagai bayangan kabur memasuki pikirannya.

“Lelaki itu sudah gila!” umpat pengemudi mobil hitam yang sejak tadi mengekor jejak mobil Onew. Ia membanting stir dengan cepat tanpa dapat memandang lagi kendaraan roda empat yang sejak tadi diikutinya. Ban rodanya berdecit kuat dan akhirnya berhenti melaju setelah menabrak trotoar dengan sangat keras. Dengan nafas keras dan kepala yang meneteskan darah setelah menabrak stir, sesal merasuki pikirannya karena mengiyakan tawaran kerja untuk mencari anak sulung Presiden direktur Lee. Uang bukan segalanya, terutama saat nyawanya hampir saja melayang. Ia yakin lelaki muda itu takkan selamat.

Yeei, kalian tidak bisa mengejarku! Kau kira bisa melawan kekuatan seorang Almighty?

Kalimat itu bergaung di telinga Onew, membuat separuh kesadarannya hilang. Tubuhnya bergerak tanpa kendali otak, membanting stir dengan cepat dan menginjak gas dengan tepat. Dalam waktu yang pas mobil ferrari yang ia kendarai lewat dengan mulus dari bawah kolong truk kontainer tersebut dan tanpa berhenti sedetik pun kendaraan itu terus melaju membelah jalanan sepi. Sayang, pikiran pengemudinya masih belum kembali sepenuhnya.

Yuhuuu…ocean! I’m coming, baby!!

Onew menggelengkan kepalanya dengan keras. Lagi-lagi suara yang tak jelas asalnya terdengar amat jelas di kedua telinganya. Suara yang tak ia kenal, tapi tak asing. Suara yang seakan berkata bahwa itu miliknya, tapi jelas Onew tahu bahwa itu bukan suaranya. Ia memandang jalanan dengan fokus, sebuah pertanyaan kembali mencuat di pikirannya: Kenapa ia bertindak seakan mengenal daerah itu? Seakan-akan ia sudah melewati jalanan itu berkali-kali. Ia melihat sekeliling, tak banyak yang lewat di sana. Apa ia tersesat? Tidak, ia yakin ia tahu bagian dari perjalanan ini walau tak pernah ia jalani. Lautan lepas.

Dan Onew tak mau berpikir lagi, semakin dipikir ia akan semakin sakit jiwa.

***

“Kau di sini?”

Taemin mendongak saat ia tengah membersihkan ruangan pribadi tuan mudanya di kediaman Kim Jonghyun. Senyumnya tergaris saat mendapati si pemilik rumah tengah berdiri di ambang pintu sambil tersenyum tipis. Lelaki paruh baya itu masuk dan duduk di sofa kamar. Ia menatap ke sekeliling ruangan yang dulunya ditempati oleh adik pemberontaknya itu dan senyumnya semakin lebar. Taemin menatapnya heran.

“Anda tidak bekerja hari ini?”

“Oh, tentu saja aku bekerja. Ini waktu istirahat siangku.”

Taemin membulatkan bibir dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Ia menemukan buku agenda biru di bawah bantal. Setelah mengernyit sekilas, ia menghela nafas dan mengembalikan buku itu ke posisi awal. Jonghyun memperhatikan tiap aktivitas Taemin dengan ekspresi yang sulit ditebak. Setelah diam beberapa lama, akhirnya pria itu angkat bicara, “Sudah berapa lama Onew ditemani ‘makhluk-makhluk itu’?”

“Aku tidak begitu tahu, Sir. Aku melihatnya sejak hari pertama tuan muda menginjakkan kaki di kediaman tuan besar.”

“Siapa lagi yang tahu tentang ‘mereka’?”

“Tidak banyak. Hanya aku, Anda, dan tuan besar. Saya sempat hendak memberitahukan tuan muda, tapi entah kenapa waktunya tidak pernah tepat,” Taemin menggumam lirih, “lagi pula sepertinya ‘mereka’ tidak berbahaya…”

Jonghyun diam mendengarkan kalimat anak muda itu. Ia kembali menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan dan akhirnya memutuskan untuk melihat isi lemari pakaian adiknya. Sudah lebih dari dua puluh tahun berlalu dan tak banyak yang berubah dari ruangan itu. Ia bahkan masih ingat betapa besar duka yang ditanggung keluarga mereka saat adiknya meninggal dengan tragis. Ya, kecelakaan lalu lintas. Oh, dan jangan minta Jonghyun mengingat semua kejadian itu lagi.

“Apa memang ada gejala penyakit jiwa yang ditunjukkan tuan mudaku?” tanya Taemin takut-takut. Kali ini ia yang memecah hening. Jonghyun menoleh dan tersenyum kecil, “Kau bisa mencoba menebaknya.”

“Oh, ayolah, Sir. Aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja kalau memang tuan mudaku sakit jiwa. Aku harus…”

“Membawanya ke dokter? Ahli saraf? Psikolog?” tanya Jonghyun tajam. Runtutan pertanyaannya membuat Taemin kehilangan kata-kata dan memunculkan ekspresi bersalah, membuat psikolog itu hanya bisa menghela nafas. “Tak semua bisa diobati dengan cara seperti itu. Kadang seseorang itu harus berusaha memecahkan semuanya sendiri. Salah satu caranya ialah dengan membiarkan semua terjadi.”

“Aku…tidak mengerti.”

“Tidak selamanya kau harus mengerti segala hal yang ada di dunia ini.”

Jonghyun tersenyum sendu. Tangannya meraih gantungan baju yang dibalut jaket kesayangan adiknya. Lalu ia berkata, “Jika aku bilang aku mengenal ‘mereka’, apa kau akan percaya?”

Dan Taemin hanya dapat membelalakkan mata sambil berkata, “Eh?”

***

Takk

Lagi-lagi Tuan Lee menghempaskan tubuhnya dengan keras ke kursi kerjanya yang masih empuk. Pikiranya kalut, ia tidak suka keadaannya yang seakan tak bisa apa-apa. Pembicaraannya dengan kedua putri kembarnya selalu diakhiri dengan pertengkaran yang seakan memaksanya untuk melupakan anak sulungnya, membiarkan putranya itu hilang begitu saja di tengah kepadatan penduduk Korea yang jelas asing bagi anak London itu. Tentu Tuan Lee tidak bisa melakukannya.

Ia mendongakkan kepala bersenderkan kursi kerjanya. Semua memorinya terlintas begitu saja, mengingatkannya pada kenyataan buruk yang selama ini menghantui dirinya. Cepat atau lambat semua hal yang ia rahasiakan akan ketahuan juga dan ia tidak menginginkan hal itu.

“Mulai sekarang kau harus berperilaku sebagaimana seorang bangsawan. Kau tidak bisa bertindak sewenang-wenang lagi, kau harus menjaga tiap perilakumu.”

“Ne, abeonim.”

Tuan Lee menghela nafas panjang saat memori lain mengisi ruang pikirannya. Pertemuan kembali dengan orang yang sangat dicintainya membuatnya kembali memasuki jurang kehidupan. Saat ego dan cinta memaksa kehendak membuatnya lupa akan kewajibannya dalam sesaat. Saat cinta menanamkan benih, membuatnya tak menyangka benih itu akhirnya membuahkan seorang anak yang tak diinginkan oleh kedua orang tua kayanya. Ia ingat tamparan, cacian dan makian yang ia dapat, membuatnya meringis pelan seakan kembali merasakan sakitnya. Dan hal yang paling mengejutkannya adalah saat tanggal pernikahan dengan gadis yang telah dijodohkan dengannya ditetapkan dalam waktu dekat begitu saja, membuat kisah cintanya runtuh seketika.

Kita tidak bisa bersama lagi,” Tuan Lee ingat kalimat yang diucapkannya pada wanita itu. Ia ingat jelas lelehan air mata yang meluncur di pipi cinta pertamanya seiring tangis buah cinta mereka.

Kalau begitu, kita tak boleh muncul di hidup satu sama lain lagi. Dan biarkan anak ini memakai nama Lee sepertiku. Dia anakku, lupakan bahwa dia anakmu.

Rasa sakit kepala dan desakan di dada membuat kondisi lelaki paruh baya itu semakin runyam. Terlebih saat ia mengingat saat-saat reaksi istri sahnya begitu pernikahan baru selesai berlangsung, membuat rasa bersalah semakin mencuat dalam benak dan hatinya.

Kau tahu, Hyeri. Aku yakin ini berat bagimu namun aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita dalam ikatan ini hanya karena aku tidak jujur sejak awal padamu.”

“Aku tahu, oppa, dengan sangat jelas. Aku tahu bagaimana rasa yang sebenarnya ada di antara kita.”

“Aku ingin kau paham. Mungkin selamanya aku takkan bisa mencintaimu.”

“Katakan padaku apa sebabnya. Apa yang dia miliki dan tidak kumiliki? Anak? Itu yang membuatmu terus mengingatnya? Kupikir itu hanya bagian dari rasa bersalahmu. Jika anak yang mengikatmu dengannya, aku juga bisa memberikanmu anak.”

“Bukan hanya anak yang menjembatani hubungan kami, Min Hyeri. Tapi kenangan

Dan rasa bersalah semakin menjerat erat dirinya saat sadar ia sangat mencintai kedua wanita yang pernah mewarnai hidupnya, dua wanita yang telah pergi mendahuluinya.

***

“Ini pesanan Anda, Tuan.”

Onew mendongak, tersenyum pada pelayan wanita yang membawakan secangkir kopi padanya. Ia tengah berada di resort pantai tanpa tahu apa yang harus dilakukan di sana. Baiklah, kebebasan kadang membingungkan. Kehilangan kesibukan, Onew memilih menatap pekerja yang tengah sibuk menghadapi pelanggan. Matanya tertuju pada seorang pelayan wanita yang wajahnya tampak tak asing baginya. Aneh, mereka sepertinya pernah bertemu entah di mana.

Senyum itu, wajah oval itu, gerakan yang halus namun gesit itu… semuanya membuat Onew begitu tertarik memandangnya. Onew tak bisa berbohong bahwa ia telah melewati masa kuliahnya bertemankan wanita. Ia bahkan tak bisa ingat berapa gadis yang pernah diciumnya ataupun kencan dengannya. Namun tak pernah melibatkan perasaan. Kali ini berbeda, Onew tertarik setengah mati pada gadis pelayan itu. Ketertarikan bagai magnet seakan dia sudah sering duduk di sana bertemankan secangkir kopi hanya untuk memperhatikan gadis itu.

Dan tiba-tiba Onew melupakan semua masalah yang membelitnya. Ia menginginkan perhatian gadis itu.

Excuse me, miss,” panggil Onew sambil sedikit melambaikan tangannya ke arah si gadis, membuatnya menoleh dan tersenyum dengan begitu manis. Senyum itu membuat Onew meleleh. Gadis itu berjalan mendekat lalu bertanya dengan nada ceria yang sopan, “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”

Sial, senyum gadis itu semakin manis saat dilihat dari dekat. Dari jarak itu Onew Lee bisa menatap leluasa bentuk wajah oval itu dan isinya. Kulit putih alami yang berkilau indah diterpa mentari, bola mata kecoklatan yang indah, kedua alis yang melengkung ramah, hidung yang tidak sempurna namun terlihat tepat mengisi wajahnya, serta bibir merah muda tanpa riasan wajah. Dan lebih sialnya lagi Onew merasa ingin memilikinya.

“Aku butuh camilan yang tepat di siang hari ini. Ada yang dapat kau rekomendasikan?” Onew berusaha keras menjaga suaranya agar tidak terdengar begitu senang, serupa ekspresinya yang ramah berhiaskan senyum lebar. Senyum gadis itu benar-benar secerah mentari saat ia berkata, “Saya menawarkan waffle dengan saus strawberry, Tuan. Apa Anda suka makanan manis?”

Tentu saja jika kau yang memintanya. “Tentu. Aku harap kau yang membawakannya untukku,” jawab Onew, berusaha menjaga nada suaranya agar tidak terdengar genit. Gadis itu tertawa kecil seakan menghadapi salah seorang fansnya dan berkata, “Baiklah, Tuan. Harap tunggu sebentar.”

Onew menikmati hari yang hangat dalam hembusan pemanas ruangan itu sambil tetap memperhatikan gerak-gerik si pelayan restoran. Bahkan ia tak peduli bahwa ia masih merinding kedinginan karena suhu pemanas ruangan masih belum cukup hangat baginya. Ia hanya ingin menatap pelayan itu sedikit lebih lama. Perasaannya begitu kuat tanpa sebab, perasaan yang lebih dalam daripada perasaan yang ia miliki untuk teman sepermainannya di London. Ia mengagumi gadis itu, menyukai segala hal tentangnya, dan bahkan punya keinginan besar untuk melindunginya.

Wow, wow, wow! Baru hari ini dia bertemu gadis itu. Ada yang salah dengannya.

“Pesanan Anda, Tuan.”

Onew terkesiap saat menyadari pelayan itu sudah berdiri di hadapannya sambil menyodorkan sepiring waffle saus strawberry ke atas meja. Gadis itu tersenyum dan berkata, “Saya harap makanan manis bisa membantu Anda menangani dingin hari ini. Selamat menikmati hari Anda.”

“Tunggu.”

Sebelum gadis itu berbalik pergi, Onew menarik tangannya. Matanya menatap ke bawah dengan tatap menerawang. Ia yakin pernah mendengar kalimat itu sebelumnya, begitu pula dengan mata coklat berkilauan yang ia yakini pernah ia lihat sebelumnya. Gadis itu menatapnya heran, namun tetap tidak kehilangan keramahannya. Saat Onew menatap wajah oval itu lagi, barulah ia menyadari gurat lelah akan kehidupan di mata gadis itu.

Onew menghela nafas perlahan dan bertanya hati-hati, “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Pertanyaan gila karena Onew bahkan bisa menghitung baru berapa hari ia berada di Korea dan berapa orang yang bisa ia ingat dengan spesifik. Gadis itu tampak bingung, Onew melanjutkan, “Kau tahu, mungkin kau pernah dapat lotere jalan-jalan ke luar negeri –ke London misalnya– dan kita pernah bertemu di sana secara tidak sengaja?” Dan Onew semakin merasa dirinya kelewat gila untuk menanyakan hal itu.

“Mungkin… saat aku berada di London…”

Jawaban gadis itu membuat Onew terbelalak dan berkata spontan, “Benarkah?”

“Ya, saya baru pulang dari sana beberapa waktu lalu. Ah, mungkin Anda yang bertabrakan dengan saya saat di bandara,” jawab si gadis diiringi senyuman. Sebuah palu seakan menghantam keras kepala Onew. Oh God, itu gadis yang sempat bertemu dengannya waktu itu! Onew merasa dunia menjadi begitu sempit. “Senang dapat bertemu dengan Anda lagi. Saya harap saya tidak meninggalkan kekacauan saat itu.”

“Tentu tidak,” bantah Onew cepat, “Ini benar-benar kebetulan yang hebat!” Namun sebenarnya Onew merasa pernah bertemu gadis itu lebih sering daripada tubrukan di bandara kapan lalu itu. Semua terasa amat runyam, namun menyenangkan dan entah kenapa melegakan. Sayang Onew merasa kebahagiaannya menggenggam tangan gadis itu terasa begitu sebentar karena si gadis mohon diri untuk melanjutkan pekerjaannya.

“Dapatkah aku menemuimu lagi di hari-hari selanjutnya?” tanya Onew, suaranya bergetar ganjil. Dadanya bergemuruh keras. Aneh, padahal dia bukanlah remaja yang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Bagaimana bisa seorang Onew Lee yang sudah mengencani banyak gadis tampak begitu kacau di depan seorang gadis Korea asing?

Namun kegundahan Onew berbalaskan senyum yang membuatnya lega, “Tentu, Anda adalah tamu kami yang berharga.” Onew tersenyum getir, menyadari ia diperlakukan serupa layaknya tamu lain. Aku hanya ingin datang untukmu, jerit batin Onew. Namun sebuah rasa ingin tahu membuatnya kembali bersuara, “Katakan padaku siapa namamu, Miss.” Cih, ia bahkan belum tahu apa-apa tentang gadis itu dan ia sudah benar-benar terpikat.

Senyum cerah mentari menyambut, gadis itu menjawab dengan lembut, “Lee Jinri.”

Dan tiba-tiba Onew mencintai nama yang sempat membuatnya takut itu.

**

Onew mengerang dalam tidurnya. Ia melihat mimpi yang tidak menyenangkan, membuatnya sangat tidak nyaman. Ia bergerak gelisah dalam tidur dengan dahi penuh peluh. Seprainya basah kuyup terkena keringat dan jantungnya berdetak tak karuan. Ia melihat hal yang tidak menyenangkan dalam tidurnya. Bukan, bukan pemandangan dalamnya yang membuat Onew gelisah, namun perasaan yang terlibat di dalamnya.

Di mimpinya berdiri seorang lelaki yang pernah ia dapati saat ia bercermin, lelaki yang sosoknya menggantikan bayangannya dalam cermin. Lalu genangan air mata di mata rubah itu, dengan sebuket besar bunga di tangannya. Matanya tertuju pada sosok dua orang yang tak jauh darinya, dua orang yang langsung dapat disebut sebagai sepasang kekasih hanya dengan sekali lihat.

Menikahlah denganku.”

Dengan ucapan si pihak lelaki, dan pekikan haru si gadis, lelaki bermata rubah itu langsung membalik badan agar tak dapat melihat kelanjutannya. Ia ingin menutup telinga saat si gadis berkata, “Astaga, Choi Minho! Aku…aku tidak menyangka…”

Sekarang aku sudah memiliki segalanya, noona. Karena itu, aku akan memberimu segalanya. Menikahlah denganku.”

Aku…aku…”

Aku mencintaimu.”

Onew bisa merasakan sengatan rasa sakit yang seakan meremas dadanya hanya dengan mendengarkan percakapan orang tak dikenal itu. Gadis itu gadis yang ia lihat di restoran kemarin, Lee Jinri, bersama seorang pemuda kaya yang anehnya bernama sama dengan anak kecil kumuh, Choi Minho. Tunggu, ke mana si mata rubah tadi. Onew malah mendapati tangannya tengah memegang buket besar tadi, dengan pakaian serupa si mata rubah telah membalut tubuhnya. Onew mulai panik, keanehan kembali terjadi. Tiba-tiba di depannya terdapat sebuah genangan air dan saat Onew mendongakkan kepala ke atas genangan tersebut, ia mendapati si mata rubah telah menjadi bayangannya. Onew memandang horor bayangannya, tak mengerti apa yang terjadi.

Tolong,” lirih si mata rubah dengan suara yang berat dan sarat kesedihan, “biarkan aku mencintainya sedikit lebih lama. Sedikit…lebih…lama…

“WAAAA!!”

Nafas memburu, degup menderu. Akhirnya Onew terbebas dari mimpi buruk yang mengganggu. Kedua matanya masih belum bisa melihat jelas sekitar, namun jelas merasa lega karena sadar ia memang berada di kamar. Ia butuh segelas air, tapi kedua tangannya masih gemetar hebat. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia merasa begitu ketakutan. Apa karena kenyataan bahwa lelaki asing seakan menjadi bayangannya sekarang? Tidak, tidak! Onew yakin itu hanya di dalam mimpi.

Saat dirinya sudah tenang, Onew menarik nafas dalam-dalam dan meneguk habis segelas air yang selalu siap di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Ia sibuk berpikir, memutar ulang segala kejadian. Semua terasa begitu aneh sejak ia memutuskan untuk pergi ke Korea. Siapa sangka gadis yang ditabraknya di bandara London malah kebetulan bertemu dengannya di resort pantai. Tanpa sadar ia menghitung berapa orang lelaki bernama Minho yang telah ia lihat dan berapa gadis bernama Jinri. Aneh, benar-benar aneh. Mungkin matanya sangat tidak terbiasa melihat wajah Asia dalam jumlah banyak, namun ia yakin semua lelaki-Minho dan gadis-Jinri memiliki wajah yang serupa. Seakan-akan ia melihat siklus pertumbuhan dalam waktu yang cepat.

“Aku benar-benar sudah gila,” hanya itu yang mampu terpikir lelaki itu saat ini. Dan tiba-tiba ada sebuah rasa yang amat besar untuk menemui Lee Jinri esok. “Mungkin dialah kunci dari semua kegilaan ini.”

***

“Anda datang lagi?”

Onew hanya mampu tersenyum tipis menimpali sapaan Lee Jinri. Sebuah denyut di dada kembali menyengat begitu sadar terdapat sebuah lingkar berbatu mulia telah terpasang di jari manis si gadis. Gadis itu menyodorkan segelas cappucino kepada Onew dan berkata, “Bonus untuk pelanggan setia.”

“Terima kasih,” sahut Onew, ia menyeruput pelan minumannya, “Kau terlihat senang. Ada hal yang kulewatkan?” Aneh, Onew bisa berbicara santai seakan keduanya sudah kenal sejak lama. Ada apa dengan dirinya? Pertanyaannya teralihkan saat senyum bahagia si gadis semakin mengembang. Lee Jinri memamerkan cincin indah berbatu permata ke arah Onew dan berkata, “Akhirnya ia meminangku juga. Aku amat bahagia.”

Sakit. Kenapa Onew merasa patah hati dengan kalimat itu? Ia hanya bisa berkata dengan nada datar, “Dia? Siapa?”

“Kau bertingkah seakan-akan tidak pernah melihatnya saja, Tuan. Kau sering melihatnya keluar-masuk cafe ini,” jelas Jinri ceria. Onew hanya memandangnya tanpa ekspresi saat Lee Jinri mengatakannya dengan penuh kepuasan dan rasa bangga, “Choi Minho, tentu saja.”

Oh, No.

“Dia melamarku di pinggir pantai kemarin malam. Ia membawa buket mawar yang indah dan berlutut di depanku. Sungguh, aku benar-benar bahagia.”

Dan aku merasa sangat sakit mendengarnya.

“Selamat,” ucap Onew datar, tanpa kebahagiaan, “Semoga kau berbahagia.”

 “Terima kasih. Aku harap kau juga segera mendapat kebahagiaan.”

“Hmmm.” Padahal aku sempat berharap kaulah kebahagiaanku.

Mungkin hanya kebetulan saja Onew menemui berbagai nama Lee Jinri hanya dalam beberapa hari. Mungkin sekedar tak disangka ia bertemu berbagai Minho hanya dalam beberapa hari. Dan mungkin sudah saatnya Onew kembali pada kenyataan dan tak terlibat dalam berbagai hal Minho-Jinri ini lagi. Ia berharap menepis semua bayang akan gadis itu yang sempat memasuki relung hatinya untuk sesaat dan berusaha melangkah lagi. Baiklah, ia harus membaca agenda biru itu lagi.

Dan lelaki itu bahkan tak menyadari berbagai keganjilan situasi dan kalimat si gadis.

Onew membalik agenda biru yang mungkin milik ayahnya itu. Ia hampir frustasi, tak ada yang tertulis dengan benar-benar jelas di sana bahkan siapa pemiliknya sekalipun. Tak ingin membaca keseluruhan isi, Onew langsung membuka bagian tengah buku dan membaca isinya dengan malas.

Dia benar-benar pergi. Aku panik. Aku tak tahu sama sekali ke mana perginya mereka berdua. Dan saat wanitaku meninggalkanku, wanita pilihan keluarga Lee mulai memaksa adanya keturunan di antara kami. Aku tidak bisa, sungguh tidak bisa. Aku harus menemukan gadisku lagi tapi tak yakin di mana. Kalau saja lelaki tua itu tak mengancam mengambil semua kekayaan ini dariku, aku takkan mau menurutinya. Aku tahu, tanpa ini semua aku akan hancur. Sama seperti dulu.

Onew membalik halaman selanjutnya dan melanjutkan.

Cintaku pasti sudah lahir. Aku yakin dia sudah menjadi bayi mungil yang manis. Aku ingin memegangnya dan memeluknya, bayi kecilku yang manis. Penerus darah dan namaku. Ah, aku bahkan sampai lupa. Ia tidak mungkin benar-benar meneruskan namaku. Biarlah dia meneruskan nama ibunya.

Sempat melihat tanggal yang tertera di bagian atas, Onew cukup terkejut saat menyadari lembar selanjutnya mencantumkan tanggal yang cukup jauh dari sebelumnya. Ia penasaran, apa wanita yang disebut-sebut di buku itu berhasil ditemukan atau tidak. Jika memang berhasil ditemukan, ia harus membaca habis agenda ini.

Aku berhasil menemukannya di pinggiran kota. Tidak sengaja, dan kami bertengkar seperti dulu. Ia bahkan tak mau membiarkanku menyentuh buah hatiku. Ia juga mengatakan bahwa ia belum menemukan nama yang tepat baginya, mungkin aku masih terus membayang-bayangi pikirannya. Dan aku tahu dia sangat membenciku. Dia takkan mau membuat sebuah nama selama masih mengingatku, karena sadar atau tidak dia akan mengaitkan nama buah cinta kami denganku.

Halaman selanjutnya,

Sial, siapa lelaki itu? Ia membawa wanitaku pergi bersamanya. Takkan kubiarkan, takkan kubiarkan!! Wanitaku, buah cintaku, aku tak mau membaginya dengan lelaki itu! Aku takkan melupakan wajah lelaki itu, terutama matanya yang menyipit seperti rubah. Akan kulacak keberadaan mereka dan kupastikan apa yang memang milikku akan kembali padaku.

Onew mengernyit alis. Apa ini? Ada lagi tokoh baru yang terlibat dalam kisah ini? Onew semakin bertanya-tanya dalam hati, apa mungkin wanita –yang mungkin adalah ibunya– itu selingkuh? Tidak, tidak. Ia yakin keduanya memang sudah berpisah, tak peduli dalam hubungan baik maupun tidak. Dan lagi, lelaki –yang mungkin ayahnya– itu juga sudah selingkuh. Semua wajar saja terjadi. Namun Onew penasaran, siapa lelaki itu? Apa mungkin dia masih hidup? Apa mungkin Onew bisa menanyakan perihal ibunya pada lelaki itu jika ia bisa menemuinya?

Semua semakin rumit dalam benak Onew Lee.

“Tuan, apa yang ingin Anda pesan?” Onew mendongak, mendapati seorang pelayan muda tengah menanti pesanannya. Onew mengerutkan dahi dan berusaha berkata halus, “Tidak perlu, aku sudah…”

Lho? Di mana?

Onew berusaha meraih cangkir cappucino yang tadi masih terletak rapi di atas mejanya, cappucino pemberian Lee Jinri. Namun tak ada satupun cangkir beralaskan piring kecil di sana. Lagi-lagi Onew merasa bingung, terlebih lagi pelayan yang memandangnya.

“Tuan?”

“Ah..mmm… Tolong bawakan aku secangkir vanila latte. Itu saja.”

“Baiklah, mohon tunggu sebentar.”

“Tunggu,” panggil Onew menghentikan langkah si pelayan, “bisa tolong minta pelayan bernama Lee Jinri yang membawakannya untukku?” pinta Onew ragu. Sayang si pelayan bingung, “Maaf, Tuan. Tapi di restoran ini tidak ada pelayan bernama Lee Jinri.”

Dan Onew membeku di tempatnya menyadari satu hal aneh kembali terjadi.

***

Jalanan kota Seoul kian padat. Malam tidak menjadi penghalang bagi penghuni jalan. Kelap-kelip lampu memikat ditemani lebat salju yang memaksa jaket melekat. Genggaman erat, ciuman kilat, Seoul menjadi kota pecinta bagi sejuta umat. Roda mobil bergesek dengan aspal, berputar seperti roda kehidupan. Dan di sanalah seorang manusia tengah memainkan perannya dalam rimbun hidup.

“Taemin-ah, ini aku. Ada perkembangan?”

“Gawat, hyung. Tuan besar memakai jasa detektif swasta untuk melacak keberadaanmu. Sepertinya aku harus mengganti nomor kontakmu dari ponselku,” jawab suara lelaki muda dengan panik dari seberang sana. Si pendengar menghela nafas lelah dan mendecak gelisah, “Tidak perlu. Langsung hapus saja nomorku dari ponselmu. Hapus semua riwayat percakapan maupun pesan dariku. Aku akan menghubungimu lain kali dengan telepon umum. Ada yang lain?”

“Sebenarnya bukan hal yang khusus, tapi aku ingin memberitahumu sedikit hal tentang adik Tuan Kim Jonghyun yang bernama Kim Kibum. Dia–“

“Maaf, Tae. Kuharap kita bisa membahas hal di luar masalah ayahku nanti.”

KLIK

Kali ini ia harus fokus, seorang Onew Lee biasa fokus untuk mencapai apapun yang ia inginkan. Ia ingin menegelilingi seluruh bagian kota Seoul walau malam telah menyelimuti jalannya. Di agenda biru itu tertulis pinggir kota. Mungkin Onew memang gila dengan mengharapkan adanya petunjuk di sana walaupun sudah lebih dari dua puluh tahun berlalu. Tapi tidak ada yang mustahil, pikir Onew. Ia segera membawa ferrari merahnya menyusuri pinggiran kota malam ini. Tentu saja kali ini tubuhnya sudah dibalut tambahan mantel yang jauh lebih hangat dari sebelumnya.

Onew memarkirkan mobilnya di bagian piggir kota yang sepi. Ada beberapa mobil yang juga terparkir, mungkin pemiliknya memasuki pub-pub murahan yan ada di sana. Onew mendekati mesin minuman otomatis dan memulai transaksi dengan si robot uang. Ia tengah berpikir, bagaimana kira-kira caranya memulai pencarian. Tentu ia tak bisa ke kantor polisi atau ke manapun yang memungkinkan ayahnya untuk menemukannya. Ia harus mencari tahu sendiri walau entah pada siapa.

“Kau gila, Choi Minho! Kau bahkan sudah punya istri sah di rumah. Lepaskan aku!!”

Onew mendengar suara pekikan dari balik gedung, sayup diterpa dentuman musik pub. Apa itu? Semacam pemerkosaan? Tunggu, mungkin tidak juga. Rasa penasaran memaksa Onew Lee mengantongi minuman yang baru didapatnya dan segera melangkah menuju asal suara. Ia ingin mencari tahu. Ada balasan suara pria yang terdengar rendah dan tidak jelas, seakan meminta pemilik suara wanita untuk mengecilkan suara dan ikut saja.

“Tidak. Dengarkan aku! Aku yakin istrimu sedang menunggumu di rumah dan kau bisa lihat, kami berhasil menjalani hidup lebih dari setahun ini tanpa bantuanmu. Jadi cukup! Tinggalkan kami!”

Onew bersembunyi di balik tembok. Mencari posisi terbaik untuk mendengarkan pembicaraan sekaligus bersiap untuk kemungkinan terburuk. Bisa saja si lelaki –yang gilanya lagi– bernama Choi Minho itu menyakiti si gadis. Oke, entah kenapa kali ini Onew berani bertaruh bahwa gadis itu bernama Lee Jinri. Kembali terdengar sayup suara rendah Minho dan diikuti dengan pertengkaran hebat. Onew mulai membuka kaleng dan menyesap isinya. Sepertinya akan lama.

“Aku tidak akan mencantumkan namamu sedikitpun di nama anakku. Aku hanya akan mencantumkan nama dua orang yang paling menyayanginya. Kau dengar? Lupakan bahwa dia anakmu!”

“Lee Jinri!!”

Tuh kan. Ingin sekali Onew mendecak, namun situasi di sana terdengar semakin panas. Lagi pula satu nama yang terdengar tadi memberikan sengatan ganjil bagi Onew. Lee Jinri, oh Lee Jinri. Sosok gadis pelayan itu menghantui pikiran Onew, membuat sebersit rasa takut, bingung, serta debaran asing di hatinya. Dan saat ini ia sangat berharap gadis yang tengah bertengkar itu adalah Lee Jinri-nya walau itu sangat tidak mungkin.

“Urus saja urusanmu sendiri, orang kaya! Kau bukan lagi Choi Minho yang kukenal!”

DRAP DRAP DRAP

BRAKK

“Ma…maaf…”

Onew sempat mengaduh pelan karena tubuhnya tertabrak keras. Seorang wanita tersungkur di sampingnya, menatapnya dengan emosi campur aduk. Wanita itu mengeratkan gendongannya yang tampak berisi seorang bayi mungil. Onew menatap bingung wanita itu lalu berubah terbelalak saat menyadari identitas orang yang bahkan belum berhasil bangkit dari tempatnya walau sebuah suara tapak kaki lain terdengar dekat menyusul

“Lee Jinri-ssi?”

Wanita yang tadinya sangat panik itu mendongak lalu terkesiap saat melihat Onew, “Tuan?”

“Jinri noona!”

Dengan cepat Onew menarik Lee Jinri dari posisi duduknya yang menyedihkan dan mengambil alih bayi dalam gendongannya. Ia menarik Jinri cepat melesat menuju kegelapan. Saat ini ia tidak ingin melepaskan wanita yang amat rapuh itu untuk seorang lelaki berengsek yang membiarkan air mata mengaliri garis wajah gadis itu. Terkutuklah siapapun lelaki yang tengah mengejar-ngejar Jinri itu.

“Tu..tuan…”

“Ssst…”

Onew mendekap Jinri dengan sebelah tangannya. Telinganya berusaha keras mendengar jelas langkah kaki yang tadi melangkah deras. Sepertinya pemilik langkah tengah diusik bingung karena tak ada satupun sosok yang ia kejar tertangkap matanya. Onew semakinwaspada saat sosok itu semakin dekat walau tak bisa menangkap kebradaan mereka yang tersembunyi di balik dinding dingin. Namun sebelum lelaki itu bisa menemukan sosok mereka, ia tertunduk putus asa dan segera beranjak dari tempat itu dengan punggung yang tampak kesepian.

“Siapa laki-laki tadi?” tanya Onew setelah berhasil menghembus nafas lega. Ia menyadari Lee Jinri yang tengah menangis tanpa suara dalam rangkulannya dan hatinya luluh lantak. Sebuah rasa kesal dan marah ingin ia tujukan pada lelaki tadi walau ia pun heran akan alasannya. Saat sadar bahwa tangis dalam diam pasti lebih menyesakkan daripada tangisan deras, ia mengeratkan rangkulannya dan memeluk wanita rapuh itu dengan penuh perlindungan. Akhirnya tangis itu pecah, walau suaranya masih terdam hiruk-pikuk musik bangunan di luar sana.

“Sssst.. tenanglah, aku di sini. Jangan menangis lagi.”

Onew berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi wanita itu.

“Kulihat kau punya anak,” celetuk Onew. Keduanya sudah aman di dalam ferrari merah sewaan miliknya dan lajunya yang perlahan memaksanya untuk menyingkir di bagian samping jalan. Wanita yang tengah menatap anaknya dengan penuh kasih di kursi penumpang memandangnya dengan tatap malu, “Ya, dia anakku.”

“Waktu berjalan dengan cepat, bukan?” ucap Onew dengan nada santai yang menyembunyikan kefrustasiannya. Wanita itu menyembunyikan wajah dalam lipatan selimut yang membungkus bayinya dan berkata pelan, “Maaf.” Onew tak mempertanyakan alasan penyesalan itu namun ia mendesah frustasi, “Tak apa. Semua orang berhak punya keturunan.”

“Aku…bekum tahu namamu, tuan.”

Onew menatap pantulan wanita itu dari kaca mobil, memperhatikan tiap detail yang bisa ia tangkap dari sosok wanita berpakaian lusuh namun tetap indah dipandang itu. Ia ingin mengenal Lee Jinri lebih dalam, namun egonya yang merasa tersakiti memaksanya untuk memperkenalkan diri dengan cara lain, dengan identitas pribadi yang lain. Sebuah nama asing terbesit di kepala Onew.

“Namaku Kim Kibum. Panggil aku… hmmm… Key.”

Nama asing sedikit lebih baik kan? Onew melanjutkan perbincangan mereka dengan berkata, “Kita terakhir bertemu di restoran resort pantai.”

“Ah, ya. Benar.”

“Jadi, kita sudah melewati sesi perkenalan yang indah. Bisakah kita langsung memasuki inti perkenalan ini dan kau bisa mengatakan siapa lelaki tadi?” tanya Onew lagi. Ia tidak sabar, walau ia sudah bisa menduga isi jawaban gadis itu. Lawan bicaranya semakin gelisah dan Onew bisa merasakan udara yang sangat sentimentil di sekitarnya. Ia menarik nafas panjang saat tak ada jawaban, “Baiklah, lupakan saja jika kau memang tidak ingin membicarakannya.

“Dia suamiku.”

Eh?

Ingin sekali Onew menanyakan perihal lamaran yang dibangga-banggakan Lee Jinri disaat pertemuan terakhir mereka. Namun dibalik rasa ingin tahunya Onew merasa amat lancang jika hendak mengorek-ngorek informasi pribadi orang lain. Dia ingin wanita itu mengatakan berbagai hal padanya karena keinginan sendiri, bukan karena tuntutan. Dia ingin Lee Jinri merasa nyaman saat bersamanya. Oh God, kenapa Onew begitu sentimentil?

“Dia orang kaya yang menyebalkan. Seandainya waktu bisa diputar ulang, aku tidak akan merasa begitu bahagia saat dia menyodorkan sebuket mawar indah, sekotak cincin berhiaskan permata, dengan senyumnya yang mempesona…dan…dan…oh–“ Jinri tersedak tangisnya. Onew meredam ngilu yang meremas jantungnya. Ia tidak ingin berpikir maupun merasa lagi karena di sana wanita yang ia sukai tengah merasakan sakit yang sulit dibagi. Tanpa ekspresi Onew menyodorkan selembar tissue pada wanita bermantel coklat dan bersweater merah muda itu. Jinri membisikkan kata terima kasih tanpa ada tanggapan dari Onew. Lelaki itu memandang kosong jalanan, seakan menyesali hal buruk yang terjadi.

“Di mana tempat tinggalmu?” tanya Onew setelah beberapa saat, memecah hening yang berkelebat. Jinri menggenggam selimut bayinya erat, sempat ragu sesaat. Lewat spion Onew menatap bayangnya lekat, “Kau tahu, aku yakin kau tidak mau ikut terus bersamaku sepanjang malam.”

“Hmmm… aku tidak yakin. Jika Minho dapat menemuiku secara tidak sengaja seperti tadi, mungkin ia langsung melacak kediamanku tanpa kesulitan. Dia.. –yah, kau tahu– berkuasa.”

“Tapi tidak ada salahnya mencoba. Setidaknya kau harus mengepak keperluan bayimu sebelum mulai mencari kediaman baru untuk didiami. Atau kau punya uang lebih untuk membeli barang-barang baru?” tanya Onew realistis. Wanita itu memandang wajah bayinya yang tengah tertidur damai lalu menggeleng. Hati keibuannya terenyuh saat ini. Ia memikirkan berbagai kesulitan lain yang akan ia hadapi bersama buah hatinya dan setetes air mata kembali membasahi wajahnya.

Agassi?”

“Tolong antarkan aku ke daerah Kangbuk. Orang tuaku tinggal di sana, selama ini aku juga bersembunyi di sana.”

Kangbuk? Onew kembali teringat pada Minho-Jinri kecil yang ia lihat di sana beberapa waktu lalu. Bagian Seoul yang kumuh dan amat berbeda dengan Seoul itu mengembalikan ingatannya pada hal-hal ganjil yang begitu ingin ia lupakan. Tapi Onew tak mau banyak bertanya. Ia hanya memutar arah dan mulai melaju ke sana.

“Kibum-ssi?”

“Hmm?”

“Terima kasih.”

Dan ucapan yang lembut dan tulus itu semakin memecahkan pertahanan diri Onew.

***

Gelisah. Sangat gelisah.

Onew baru saja menelpon Taemin dan pelayannya mengatakan hal yang buruk. Orang-orang suruhan ayahnya tengah bergerak ke arah Kangbuk karena ayahnya baru sadar bahwa buku agenda birunya hilang. Sial, Jinri masih belum selesai mengepak barang-barangnya di dalam sana dan Onew tidak bisa menghilangkan rasa horor hanya dengan memandang rumah yang dimasuki Jinri. Demi semua dewa-dewi jika mereka memang ada, kenapa Jinri harus memasuki rumah ahjumma yang merawatnya setelah pingsan beberapa hari lalu? Rumah itu, rumah yang ada di depan rumah Minho. Rumah yang membuat Onew hampir gila hanya dengan mengingatnya.

“Apa dunia sangat senang mempermainkanku?”

Onew menatap jauh ke bawah pembatas –mengingat tempat itu merupakan dataran tinggi yang berlapis-lapis dan menghela nafas berat. Ia tidak mau masuk ke rumah itu walau Jinri sangat membutuhkannya sekalipun. Tapi wanita itu harus cepat, kalau tidak…

Oh, no.

Onew bisa melihat beberapa mobil memasuki daerah itu di bawah sana, bahkan mereka parkir di dekat mobilnya. Beberapa orang dengan setelan serba hitam keluar dari tempat itu dan Onew bersumpah akan mengutuk surga jika ia tertangkap saat ini. Ya tuhan, Onew bahkan belum menemukan apapun tentang ibunya. Onew harus bergerak cepat, ia tahu itu. Ia tidak peduli orang-orang itu suruhan Minho atau malah suruhan ayahnya, ia dan Jinri harus segera pergi dari tempat itu.

“Kibum-ssi…”

Onew langsung menghampiri Jinri dan mengambil alih tas besar yang tengah diangkut wanita itu. Onew sempat melihat kondisi bayi Jinri yang sepertinya tengah terbangun. “Sepertinya ada yang sedang bergerak ke sini. Aku tidak tahu itu utusan suamimu atau malah ayahku, tapi yang jelas kita harus seger bergegas dari sini,” bisik Onew. Jinri menatapnya tak percaya lalu mengangguk cepat. Keduanya segera berjalan cepat menembus dinginnya udara.

“Kibum-ssi, kau juga dikejar-kejar?” tanya Jinri setengah kehabisan nafas. Onew mengeratkan tangannya yang tengah menggenggam Jinri dan bergumam, “Ya, dan mungkin saja itu suruhan ayahku. Jinja, apa dia tak bisa membiarkanku begitu saja?”

Tiba-tiba bayi Jinri menangis keras. Usaha mereka yang tengah berputar arah tanpa mengeluarkan banyak suara malah berbalik sia-sia. Di bawah remang cahaya lampu, tampak seorang pemuda berpakaian rapi yang tengah memandang kaget ke arah mereka. Onew merasakan pusing seketika, pemuda itu tampak sangat familiar dengan seseorang tapi Onew tetap tak bisa mengingat identitasnya. Ia mengingat sosok yang berbeda, sosok yang mungkin menanamkan rasa yang hebat pada dirinya. Sial, siapa laki-laki itu.

“Jinri noona!”

“Mi..Minho…,” bisik Jinri. Onew sadar bahwa gadis itu masih ada di sampingnya dan ia mulai tidak mengindahkan denyutan di kepalanya. Namun saat ia kembali melirik sosok yang tengah mengejar mereka bersama kawanan berpakaian serba hitam itu, sosok Minho tampak sedikit berbeda di matanya. Sosok Minho seakan berbayang dan garis tubuhnya mulai membentuk sosok yang lain. Tunggu, sepertinya otak Onew mulai mengenali sosok itu tapi pikiran Onew seakan ingkar.

“ONEW!!”

Onew kembali berbalik dan benar saja, ia tak lagi menemukan sosok Minho di sana, melainkan sosok Tuan Lee yang wajahnya sudah dihiasi berbagai ekspresi.

_TBC_

29 thoughts on “[FFP 2013 – 3] Him Inside – Part 4

  1. aduhhh..
    si Onew berhalusinasi aja apa yg dialaminya bener2 kenyataan ya 0_0

    msh bingung, Minho-tuan Lee, Onew-Kibum, trus si Jinri beneran bareng Onew apa nggak?

    part selanjutnya terakhir ya?
    mudah2 an terjawab semua rasa penasaran dan kebingungan saya di part selanjutnya..

    suka ff Bella🙂

  2. hua maafkan saya baru comment di part ini .-.
    Ini rumit banget tapi aku ngerti/? dikit,sotoy dikit nih hehe kibum lagi ada di onew/? makanya itu kejadian aneh flashback kisah key-jinri-minho. “biarkan aku mencintainya lebih lama lagi” tuh kan key manfaatin/? onew buat ngenang masa lalunya. Mrk tabrakan pas jinri-kibum melarikan diri dari minho ya. Intinya ntu jinri emaknya onew, bayi tu onew, minho tuan lee,onew kibum. Maaf ya komen saya kepanjangan maklum kepo berat hehe ‘-‘)/ lanjutannya ditunggu selalu

  3. akhirnya, tahu juga, tinggal satu part lagi. begitu toh, tapi ada yang aneh. Onew nggak tahu nama ayahnya gtu? dia nggak bisa ngerasain bahwa Minho itu ayahnya? meski nama marganya berbeda. pada akhirnya Jinri mencintai Key. karena itu nama Onew adalah Jin-ki (Jinri, Kibum). Tapi yang agak bikin kaget ternyata selama beberapa tahun Key cuma jadi penggemar rahasia. Perasaan endingnya kok sad terus, sih? eh, belum ending. tunggu part terakhir, semoga nggak sad.

  4. Chaiyya chaiyya chaiyya chaiyya chaiyya…..

    FF ini buat aku jungkir balik… capek… deg2an juga….

    Sekarang yakin, deh, setelah baca part ini…
    Onew emang bener anak Tn. Lee a.ka. Choi Minho
    Dan bener, namanya dari JINri dan KIbum… *toel2 pemilik komen di atas….

    Part 3 buat aku ngerasa kasihan banget sama Minho…
    Tapi di Part ini, bikin kesselll sebbbeelllll…..
    Kibum cintanya tulus banget…
    “Biarkan aku mencintainya sedikit lebih lama….”
    Miris banget kalimatnya….
    Dia bahkan menjadi memori Onew untuk membantunya mencari masa lalunya…
    Tapi sepertinya Kibum sempat bahagia bersama Jinri…

    Cukup lega, karena sekarang semua halusinasi Onew mulai beralih ke realita
    Sekarang dia melihat ayahnya…. Bukan sosok Minho dulu…

    Aduh… Gimana endingnya?
    Buruan, ya, Bella…
    Jangan lama2….

    sekarang tiga jempol, deh… *pinjem jempol gede Jinki oppa satu…

  5. Aahh trnyata bgtu *manggut2* aku slh klo bgt, Minho/tuan Lee sprtinya mmg ayah nya onew..
    Tp knp onew mndptkan kenangan milik key? knp bkn kenangan ibunya?? apa krn key menyelamatkan onew saat kcelakaan??
    Ahhh onew kurang peka nihh pdhal clue2 yg d.kasi key udh cukup jls. dia sama sekali g menyadari bnyknya keanehan2, slain sringnya ia brtmu dg org yg brnma choi minho dan lee jinri…hrsnya dia tdk mnghntikan taemin yg akn brcrita ttg kibum…
    Tinggal 1 part lg yaa..okehh dtunggu last partnya

  6. Whoahh…rumit sekali..
    ah tp aku udh mulai nyantol’-‘
    tuan lee itu minho? lee jinri itu eommanya onew? nah yg kecelakaan bareng jinri itu kibum, adeknya jonghyun? yakan yakan? terus anak yg dibawa jinri itu onew?

  7. Ini rohnya kibum masuk ke dlm tubuh Onew niatnya mau nunjukin ke Onew kejadian yg pernah dialami ibunya kan…
    Terus kenapa si Minho yg jd ‘special performer’?

    Agak merinding bacanya, soalnya ini malem jum’at…
    Hihihii

  8. naaaah…baru aku ngeh baca part ini. part sbelumnya masih membingungkan soalnya..
    fix, jadi skrg aku bisa nerka2 line mereka gmna :
    Tuan Lee = Minho?
    Key di dalam tubuh Onew?
    Jinri anaknya ajumma, trus Jinri itu ibunya Onew?
    Onew adalah anak yang ditolong adikmu (adiknya jjong=kibum) (anaknya Jinri) (berarti Kibum udah nolongin Onew dan Jinri), dan itu kata2 dari Tuan Lee di part 2 (Tuan Lee itu minho?)

    jadi Jinri-minho pas bocah itu udah saling suka juga? mereka tetanggaan ya? kirain sodaraan. makanya sempat bingung napa Minho nikah sama Jinri. ehehehe..

    part terakhir yoow~!!!

  9. akhirnya mengerti di part ini. Apa ada ya org yg bisa menghayal sejauh onew gtu? merasa nyata dan bisa merasa bagaimana perasaannya saat bertemu Jinri. Menurutku sih gak ada manusia yg halusinasinya sangat hebat hingga terlihat nyata. Kayak karakter Onew di sini.

    Tapi dari sini aku udah ngerti. Onew berhalusinasi jadi Key atau hantu Key masuk dalam tubuh Onew jadi Onew bisa kembali ke puluhan tahun yg lalu?

    Dan benar Tuan Lee adalah Minho! Dan Jinri adalah ibunya Onew.
    Wah-wah rumit banget ya, di dalam cerita Onew kelihatan frustasi, tapi aku gak kalah frustasi😄

  10. Gila, onew sangat rajin berhayal rupanya. *reads next hapter* oh yeah, untuk author-nya yang udah susah payah bikin Him Inside, makasih🙂

  11. Sebenernya pusing bacanya, tapi pas liat komen” diatas, baru ngerti. Kalau Tn. Lee itu Minho, kenapa dia bisa berubah marga jadi lee? Atau karna catatan buku biru itu ya? Yang bilang kalau dia masuk keluarga kaya,

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s