[FFP 2013 – 2] Hieroglif – Part 5

hieroglif

Tittle                : Hieroglif

Main cast         : Lee Onew, Choi Minho, Lee Taemin, Pangeran Jonghyun, Raja Key

Support Cast   : Tuan Onew, Elf Minho, Kurcaci Taemin, Penyihir Jonghyun, Iblis Key, Tuan Choi, Naga Choi, Kim Suho, Kim Joon Myeong

Genre               : Advanture, Fantasy, Supernatural, and Friendship

Length             : Sequel

Rating              : General

Inspired           : Novel of The Mysterious Benedict Society from Trenton Lee Stewart

Mereka maju sambil Kurcaci Taemin memainkan jemarinya yang panjang dan membaca sedikit mantra, berjalan dengan emosi ke arah Taemin. Kakin Taemin gemetaran dan ia tak bisa bergerak atau bersuara, berkedip pun sulit, semua karena mata Kurcaci Taemin yang mengerikan—Kurcaci Taemin menjadikan Taemin sebagai sasaran lantaran dendam dendam karena beberapa rambutnya rontok karena dijambak, pipinya luka-luka karena dicakaran—karena itulah saat Kurcaci Taemin menyerangnya dengan sihir ia tak ke mana-mana tetapi beruntung Jonghyun muncul, memasang badan dan memainkan sihirnya dengan tangan-tangannya dengan cepat. Sebuah cahaya putih terang keluar dari tangannya dan menahan cahaya kehitaman yang pekat milik Kurcaci Taemin. Kedua cahaya berbeda warna itu saling beradu dan saling mendorong. Dan di saat itulah Taemin tersadar dan lari ketakutan.

Di bagian lain ruangan Minho terus-menerus melompat, berlari, merangkak ataupun bersembunyi di balik meja kursi atau apapun agar terhindar dari sihir yang keluar dari telunjuk kembarannya diikuti suara berdebum atau suara ledakan kecil. Sihir itu berupa kilatan cahaya yang muncul dari ujung telunjuk sosok kembarannya, menghanguskan apa saja yang disambar sang cahaya. Sedangkan di tengah-tengah ruangan Tuan Onew dan Onew sendiri sedang berebutan buku tua ditangan mereka, seperti dua anak kecil yang berebutan mainan atau permen sambil saling beradu mulut dan berteriak satu sama lain.

Tapi, kini Jonghyun—awalnya memimpin dan hampir saja memenangi pertempuran sengitnya dengan Kurcaci Taemin ketika sihirnya hampir mengenai kembaran Taemin itu—mulai ketakutan dan kelelahan karena kehabisan tenaga, sedangkan kurcaci itu justru menjadi semakin kuat untuk Jonghyun yang melemah. Jonghyun membelalak ketika beberapa senti lagi sihir sosok kecil itu mengenainya, lalu menutup matanya sambil terus mengeluarkan tenaga yang tersisa dan sangat sedikit—mempersiapkan diri untuk mati—tetapi ia tak merasakan apapun, sebaliknya ia mendengar suara berdebum, dan ketika membuka mata didapatinya Kurcaci Taemin sudah tergeltak di lantai dengan Taemin yang brediri di belakangnya sambil memegang sebuah balok kayu sambil meringis ke arahnya dengan setengah takut, sedangkan Jonghyun segera jatuh terduduk sambil terengah-engah dengan wajah pucat, menatap Taemin penuh terima kasih sambil tersenyum lega.

Ternyata saat itu Taemin pergi untuk mencari sesuatu sebagai senjata. Dia menemukan kayu sepanjang setengah hasta—patahan kaki meja—yang cukup tebal dan dengan menggunakan itu ia memukul keras-keras kepala kembarannya hingga pingan dari belakang.

Hampir di saat bersamaan tidak ada apapun lagi yang bisa dijadikan Tameng atau benda yang bisa ia bersembunyi di baliknya Minho melihat sebuah cermin berbentuk oval yang tergeletak begitu saja di dekatnya. Di sambarnya benda itu dengan sangat cepat dan menjadikannya tameng sambil merunduk ketakutan. Dan ketika Minho melempar kembali sihirnya—sihir itu justru memantul dan mengenainya, sontak saja dia berubah menjadi kodok, padahal sebelum itu dia sudah menyeringai penuh kemengangan.

Karena apa yang sudah terjadi atas dua pengwal setianya konsentrasi Tuan Onew terpecah dan ia menoleh. Tentu saja kesempatan itu tidak Onew lewatkan dengan sia-sia, dia menendang keras-keras perut Tuan Onew hingga orang itu terjerembab dengan keras dan meraung-raung kesakitan, mengeluh bahwa perutnya sakit, dan di saat itu mereka berempat segera berlari ke arah lemari dan mengeluarkan Raja Key dari sana dengan wajah merah dan tubuh berkeringart, serta napas yang tersengal, sangat terlihat bahwa di dalam ia kekurangan asupan udara dan di dalam sangat panas.

Tak buang-buang waktu, mereka segera keluar dari sana meninggalkan dua orang pengawal pingsan dengan seorang lelaki berpakaian pecis yang tengah mengerang memegangi perutnya. Raja menunjukkan jalan dan mereka terus berlari.

________

Tepat beberapa menit sebelum matahari muncul mereka sudah berada di luar rumah besar dan menghampiri Suho yang sudah menunggu di tempat persembunyiannya, di antara pepohonan  perkebunan yang melindunginya dengan kegelapan akibat rimbunnya daun-daun yang menghalangi cahaya bulan meneyentuhnya, juga kereta bersama kudanya.

Dengan tergesa mereka naik ke atas kereta kuda, dan tanpa mereka sangka ternyata terdengar keributan di belakang mereka. Itu terdengar seperti teriakan beberapa orang serta hentakkan kaki-kaki kuda yang berlari, serta suara kuda itu sendiri yang memekik ketika dicambuk untuk berlari. Semua itu membuat mereka semakin ketakutan dan panik. Segera Suho menjalankan keretanya, berusaha menjauh. Tetapi, sayang sekali, beban yang dibawa sebuah kuda itu terlalu banyak dan membuat lamban, membuat para pengejar mereka dengan mudah memperpendek jarak, bukan benar-benar menjauh.

“Suho! Turunkan kami di dekat hutan!” teriak Onew takut suaranya tertelan dengan derap tapal kudanya yang menderu keras.

“Kau gila?! Kalian bisa tertangkap!”

“Tidak! Tapi, jika kita terus menaiki kereta kudamu bukan hanya kami, tetapi juga kau akan tertangkap! Turunkan kami di sana, jadi mereka akan mengerjarmu dan akan kehilangan jejak kami, tapi mereka juga tak akan menangkapmu!”

“Jadi, ini semacam pengalihan?! Ok! Bersiap-siaplah, kita terlalu dekat dengan mereka. Mungkin mereka belum melihat kita, itu keuntungan, tapi jejak kaki kudaku akan menuntun mereka, jadi melompatlah ketika aku menurunkan kecepatan kudaku, dan berhati-hatilah! Maaf, tak ada waktu untuk menghentikan kereta jika taktikmu ini ingin berhasil!”

“Tentu saja! Aku mengerti!” sahut Onew mengerti.

“Baiklah. Sebentar lagi kita akan melewati hutan—hei, itu hutannya! Sudah terlihat. Bersiaplah!”

Detik demi detik terlewat dan mereka mempersiapkan seluruh keberanian ketika deretan semak lebat di pinggiran jalan bertanah dan berdebu tampak, begitu juga deret pohon-pohon besar dan menjulang—di saat itulah mereka melompat dengan degup jantung yang terus berlari semakin cepat, berguling di atas tanah lalu terseok berlari ke arah pohon-pohon besar dan bersembunyi di baliknya. Beberapa detik kemudian segerumbulan orang yang menunggangi kuda perang berlari melewati mereka dengan kencang hingga gumpalan debu terbang bersamaan suara pecut. Derap langkah kaki kuda dan teriakan mereka yang bersemangat dan saling bersahutan semakin menjauh dan menghilang di ujung jalan.

Mereka yang bersembunyi melirik dengan ngeri lalu bernapas dengan lega. Beberapa hanya diam dan mengatur napas sambil memegangi dada, dan sisanya masih melihat ke kejauhan jalan seperti khawatir bahwa koloni itu bisa saja kembali dan menemukan mereka di sana, tapi ada juga yang segera berdiri dan membersihkan jubahnya yang dikototri debu seperti Minho, dia cukup tampak tenang.

“Ayo kita lanjutkan perjalanan,” ajak Minho.

“Baik, tapi bisakah kita istirahat sebentar di dalam hutan? Kautahu, aku kelelahan. Ini adalah hari paling melelahkan seumur hidupku,” eluh Taemin dengan lemah.

“Begitu juga kami,” sahut Jonghyun dengan tatapan penuh pengertian.

“Tapi waktu kita mendesak. Kita harus sampai di kastil tua itu sebelum mereka,” imbuh Raja Key dan yang lain mengangguk setuju. “Mereka mengira Jonghyun adalah penyihir itu—tentu saja kau sudah mengetahuinya—jika kita lari maka tempat pertama yang akan mereka datangi adalah tempat yag kita tuju sekarang, kastil tua itu. Sebelum itu terjadi kita harus sampai lebih dahulu. Kau tak mau ‘kan terseret dalam perang mereka? Kalau aku tak mau, itu adalah kali terakhir aku menghirup udara luar selain dalam pelarianku yang hanya beberapa jam dari penjara.”

“Baik. Tapi, bagaimana dengan para penjaga?” elak Taemin.

“Satu-satunya penjaga di sana adalah Tuan Choi,” jawab Raja Key.

“Hanya dia? Tempat sebesar itu hanya ada satu penjaga?” tanya Onew merasa aneh.

“Dia penjaga pribadi penyihir Jonghyun, seperti halnyaKurcaci Taemin dan Elf Minho. Tapi jangan salah, ia memiliki sihir yang jauh lebih kuat dari dua orang itu, bahkan jika sihir kedua penjaga pribadi Tuan Onew disatukan, dan penjaga pribadi biasanya bukan manusia. Seperti Iblis Key yang menjamah menjadi manusia, seekor naga juga bisa—“

“Naga?!” pekik keempatnya dengan terbelalak.

“Ya, dia naga, yang kuat dan sangat besar, dan juga memiliki penciuman yang sangat peka, tapi dia tidak menyemburkan api. Dia bisa tahu apa saja yang berada di dekatnya dalam jangkauan jarak sekitar sepuluh meter.”

“Jadi, waktu itu …,” ucap Minho dengan terkejut.

“Waktu itu dia menyadari keberadaan kita. Tapi … tapi kenapa dia membiarkan kita?” sambung Onew dengan sangat kebingungan. Begitu juga yang lain.

________

Dengan penuh kekhawatiran mereka berjalan. Menghabiskan waktu untuk saling bercerita satu sama lain, khususnya sang Raja. Dengan penuh luka di hatinya dia bercerita bahwa Iblis Key, dia, dan Penyihir Jonghyun adalah sahabat, dahulu, setidaknya itulah yang ada di benaknya kala itu. Dengan diam-diam dia pernah mengajak dua orang itu masuk ke kekerajaan. Tapi, ternyata Jonghyun dan Key memiliki niat lain, mereka hanya ingin memanfaatkannya. Key dan Jonghyun berniat mengambil alih posisinya dan menguasai kerajaan, tetapi pada penyelesaiannya Key menghianati Penyihir Jonghyun, seperti niat Penyihir Jonghyun yang dari awal ingin mengkhianatinya. Pada akhirnya, ketika ia kabur dan Jonghyun berniat menangkapnya tak sengaja mereka bertemu dengan ketiga orang itu dan mereka kalah hingga Raja Key pun disekap, tetapi penyihir itu dapat kabur. Setelah itu Jonghyun membiarkannya alih-alih untuk gencatan senjata, memanfaatkannya untuk yang kedua kali.

Mereka memerhatikan Raja Key yang bercerita dengan marah, wajah yang merah padam, dan napas yang berderu cepat dan tak teratur. Mereka tak bisa membayangkan jika di antara dari mereka ada yang berkhianat, itu akan terasa sangat menyakitkan dan menyulitkan kemudian, pastinya. Mungkin tak terlalu lama mereka bersama, tapi cukup banyak kejadian dan ingatan yang mengikat hati mereka. Dalam perjalanan—mereka juga menceritakan alasan dan setiap detil cerita yang membawa mereka ke sini dan kenapa mereka baru kemari.

Akhirnya, sekitar beberapa jam perjalanan sampailah mereka di depan kastil. Dengan mudahnya mereka memasuki kastil tua itu karena di dalam sepi, tepat seperti cerita Raja. Mereka hanya melihat begitu banyak ruangan kosong dan sunyi serta beberapa ruangan yang diisi oleh beberapa pekerja, seperti para pembantu dan tukang tukang kebun yang mondar-mandir di pekarangan. Tanpa ketahuan mereka bisa melewati mereka dan menaiki tangga yang pernah mereka lalui hingga mencapai sebuah  lantai tempat di mana mereka pertama kali masuk ke Dunia Cermin. Dengan sedikit tergesa dan cukup was-was mereka pergi ke ruang kerja Iblis Key.

Di depan pintu mereka berhenti dan menjaga pergerakan agar tak bersuara. Dengan hati-hati Minho menguping, mengintip, lalu menengok ke dalam—hampir persis seperti yang ia lakukan ketika ingin mengambil barang mereka di ruang kerja Tuan Onew. Setelah yakin ruangan itu kosong, mereka pun memasukinya, tetapi alangkah terkejutnya mereka ketka mereka tak menemukan apa yang mereka cari—sebuah pintu menuju dunia mereka. Cermin besar perak itu menghilang dari tempatnya, lalu tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang tertutup dan membuat mereka terkejut. Ketika berbalik didapati mereka dua orang dengan wajah tidak asing, yang tengah tersenyum manis di depan pintu yang sudah terkunci rapat, mereka membelalak dan sangat ketakutan.

“Tuan Choi, lihatlah, betapa bodohnya tikus-tikus ini masuk perangkap kita?” Olok Penyihir Jonghyun lalu tertawa keras.

Mereka bungkam karena malu—merasa penyihir itu benar. Bisa-bisanya mereka tidak menyadarinya, meskipun memang tempat itu selalu kosong dan sunyi. Mereka merutuki diri mereka sendiri—tak terkecuali Taemin dan terlebih Onew yang merasa sangat bersalah.

“Jadi, apa kalian mencari cermin itu? Oh, maaf sekali, aku sudah menyembunyikannya,” oloknya lagi membuat empat orang di samping Raja menggeram dengan marah, begitu juga melihat tatapannya yang marah.

 “Tuan Choi, bisakah kau membantuku untuk mengambil buku itu dari mereka?” pintanya dengan nada merajuk seperti bayi tetapi dengan tatapan kejam.

Dengan seringaian yang mengerikan lelaki itu menjetikkan jarinya seketika seluruh tubuh kelima orang tersebut tidak bisa bergerak, meski sepenuhnya mereka sadar. Seperti patung hidup yang tersiksa akan wujudnya sendiri, mereka bahkan tak bisa bersuara sama sekali, meski sekadar mendesis atau bersbisik satu sama lain. Dan dengan cepat kedua orang itu mengambil apa yang mereka miliki dan memeriksanya satu per satu sambil berolok-olok lagi tanpa mereka bisa melawan atau membantah, ataupun balik memperolok-olok—meski saat ini mereka begitu ingin melakukannya.

“Hm, lihat ini, kawat? Botol minum, kau mau piknik? Dan beberapa hal lagi yang tidak begitu berguna,” ucapnya dengan senang lalu melemparkan setiap barang yang ia lihati sejenak dan melempatkannya asal seperti sampah. “Tapi, yang ini lain cerita.” Ia memegang sebuah buku tua yang membuat Raja Key begitu ingin mencakar-cakar orang itu. “Baik. Kurung meraka di penjara bawah tanah! Jangan biarkan mereka keluar, kau harus memastikannya, Tuan Choi!” Lalu pergi begitu saja dengan senyum bahagia. Sontak wajah Raja Key yang merah padam memucat, matanya membulat lebar, membuat yang lain merasa bingung.

Entah bagaimana tubuh mereka bergerak begitu saja mengikuti Tuan Choi ketika orang itu memerintahkan mereka untuk mengikutinya, berjalan dan pergi menuju tempat yang sudah ditentukan. Dan, dalam waktu singkat, lagi-lagi mereka berada di dalam sebuah penjara, tapi kali ini jauh lebih mengerikan, dengan dinding bata, lantai tanah yang lembab, dan jeruji-jeruji yang terbuat dari besi, dan yang paling mengerikan adalah gembok penjara itu sendiri. Itu adalah gembok khusus yang tentu saja menggunakan kunci khusus untuk membukanya, yang sudah pasti sebuah kawat tak akan pernah berhasil membukanya. Mungkin awalnya mereka—kecuali Raja—merasa sedikit tenang akibat keahlian Minho, tapi Raja sudah tahu—itulah alasannya ketakutan dan muram hingga yang lain pun akhirnya tahu asalan Raja seperti itu.

________

“Bagaimana …. Hwaaa, bagaimana iniiiii?!” jerit Taemin hampir menangis di dekat pintu jeruji setelah berulang kali mencoba membobolnya—menendang dengan keras meski tahu itu tidak akan berhasil, ia hanya melampiaskan kemarahannya dan rasa frustasinya.

“Kalian,“ Taemin menunjuk pada yang lain, “Apa kalian benar-benar pasrah?” kepada mereka yang meringkuk di dekat tembok penjara dengan raut muram.

“Tentu saja,” jawab Jonghyun lemas. “Untuk keluar hanya ada satu jalan, yaitu kita bisa mendapatkan kuncinya atau ketika penyihir jahat itu berubah pikiran atau berubah menjadi baik hingga membiarkan kita pergi, DAN ITU SANGAT TIDAK MUNGKIN, TAHU!”

“Pasti ada jalan lain lagi!” bantah Taemin keras kepala.

“Kita sudah memikirkannya sejak tadi. Dan kautahu hasilnya, kan?” elak Onew.

“Tapi … tapi, baiklah. Aku juga menyerah,” ucap Taemin dengan muram dan pasrah, ikut meringkuk dan menempati dirinya di dekat pintu jeruji—masih sedikit berharap sebenarnya bahwa tiba-tiba saja pintu itu rusak dan terbuka dengan ajaib.

Hening seketika, ketika Taemin menggerutu dan berteriak mereka merasa sebal, tetapi ketika anak itu diam, mereka merasa bersalah dan terlalu sunyi. Keadaan terus seperti itu hingga beberapa menit kemudian bahkan hingga jam berganti. Keaadaan yang lebih mengerikan dari tempat pemakaman, setidaknya ada suara burung hantu atau gonggongan anjing yang mengerikan, setidaknya di sana mereka bisa lari, tapi di sini tak ada suara apapun dan yang paling mengerikan mereka tak bisa ke mana pun, kehilangan harapan dan penuh keputus asaan.

Tapi, tiba-tiba saja Onew berdiri tegap dan menatap Jonghyun dengan semangat, “Jonghyun, bisakah kau menghancurkan tembok ini dengan sihirmu, pasti pintu penjara sebelah tak terkunci.”

“Itu ide yang bagus,” balas Jonghyun dengan lemas lalu menggeleng. “Sayangnya sihirku terlalu lemah untuk itu. Sihirku bisa mendorong atau melemparkan sesuatu hingga jauh, tapi bukan untuk menghancurkannya.”

Onew terduduk lagi dan beringsut dengan kecewa.

“Kalau mengambil batu itu bisa, kan?” tanya Taemin tiba-tiba seraya menunjuk sebuah batu berukuran cukup besar yang tergeletak cukup jauh dari mereka tapi tetap bisa tertangkap mata Taemin meski tempat itu hanya diterangi sebuah obor di tepi dinding yang lain.

“Tentu saja, itu mudah,” jawab Jonghyun.

Lalu Taemin melihat batu itu dan melihat jerujinya kemudian bicara lagi, meski terdengar putus asa—sebenarnya hanya berpura-pura. “Bagaimana jika menghancurkan tembok itu dengan batu itu, bisa kan?”

Sontak saja mata semua orang membulat, “Tentu saja!!” seru merkea bersamaan penuh dengan gairah kebebasan.

Tanpa buang-buang waktu Jonghyun mengangkat batu besar itu dan menariknya mendekat hingga melewati kisi-kisi jeruji dengan sihirnya, lalu dengan bersemangat Minho mengambilnya dan membenturkannya pada tembok berkali-kali, dan bergantian dengan yang lain jika dia merasa lelah. Akhirnya sekitar setengah jam mengeluarkan peluh dengan susah-payah sebuah lubang tercipta meski tak begitu besar, tapi cukup untuk membawa mereka ke penjara seberang dan keluar tepat seperti perkiraan Onew—melalui pintu jeruji penjara di sebelah yang tak terkunci sama sekali, lalu saling tos dengan semangat.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Minho.

“Tentu saja mengambil buku itu. Aku yakin kita bisa asal kita bekerja sama. Bukankah kita sudah melakukannya? Bukankah kita bisa melewati rintangan ini?” ucap Jonghyun semangat yang sontak membangkitkan semangat kawan-kawannya.

Akhirnya, dengan penuh kepercayaan diri mereka kembali berlari menuju tempat mereka tertangkap, tetapi belum juga mereka sampai di sana—ketika berada di lantai yang sama dengan ruang kerja Iblis Key berada—mereka sudah mendengar sebuah erangan mengerikan terdengar sangat keras. Erangan hewan buas yang sangat kesakitan.

“Tuan Choi—eh, Naga Choi!” pekik Raja Key dengan mata membulat.

Akhirnya dengan tergesa mereka berlari lagi menuju sumber suara, ke sebuah ruangan yang besar dan tata ruangnya mirip dengan ruangan kerja Iblis Key tetapi itu adalah ruangan yang berbeda, dan lebih bersih tentunya. Di tempat itu mereka melihat naga besar tengah tergeletak di lantai dan tak bergerak. Tubuhnya sebesar sepuluh ekor sapi dewasa yang dijadikan satu. Di bagian bawah dagu besarnya terdapat sebuah buku yang mereka kenal sudah terbuka dan di sebelahnya Penyihir Jonghyun menangis dan tiba-tiba saja menatap mereka dengan marah. “Apa yang kalian lakukan?! Apa yang terjadi?!”

“Dia … dia membacanya?” tanya Onew dengan takut. “Dia … dia tidak menyelesaikan teka-tekinya. Tidak mengikuti panduannya,” ucapnya dengan tergugu.

“Apa?” tanya Penyihir Jonghyun dengan alis mengerut.

“Panduannya. Dia harus membaca ….” Tiba-tiba Onew hampir melakukan sebuah kebodohan, lalu membekap mulutnya sendiri, tidak membiarkan mulutnya mengkhianatinya. “Aku takkan memberitahukannya padamu!” teriaknya dengan lantang kemudian—setelah melepaskan mulutnya tentu saja.

“Kurang ajar!” pekik Penyihir Jonghyun dengan murka.

Penyihir Jonghyun mengeluarkan sihirnya ke arah Onew, tetapi—untuk yang kesekian kalinya—Jonghyun memasang badan dan menahan dengan sihirnya. Di saat itu Minho dengan sigap segera mengangkat kepala besar Naga Choi dan Raja Key membantunya mengambil buku tua itu. Di saat itu pula terdengar suara yang berasal dari luar kastil, terdengar seperti teriakan orang-orang dan pekikan kuda-kuda. Dan pada akhirnya itulah yang membuyarkan konsentrasi Penyihir Jonghun dan membuatnya jatuh ketika Jonghyun meningkatkan kekuatannya. Penyihir itu kalah dalam pertempuran sihir yang seharusnya dimenangkannya, tetapi dia tidak hilang akal, ia berlari dan sebuah bangku disambarnya. Bangku itu digunakannya untuk dilemparkan dan dalam waktu satu detika ke cermin perak itu hancur berantakan, menjadi serpihan-sepihan yang berserakan tak beraturan di atas karpet merah hati di ruangan itu dan mengeluarkan suara yang keras ketika pecah. Sebuah jalan menuju dunia mereka telah hancur, sontak saja jantung mereka serasa berhenti mendadak dan dada mereka dipenuhi dengan kemarahan. Amta mereka membulat penuh kemudian mereka bersama-sama menatap penyihir itu dengan murka.

Penyihir Jonghyun menyeringai. “Jika aku harus tertangkap atau mati, aku akan melakukannya bersama kalian. Ha ha ha ha!” dia tertawa dengan mengerikan.

“Kau …,” geram Raja Key.

“Raja, kita harus pergi dari sini,” ajak Minho seraya menahan pergerakan Raja Key yang terlihat ingin menghajar Penyihir Jonghyun dengan memegang lengannya kuat. “Tidak ada waktu sebelum tentara Tuan Onew menangkap kita juga”

“Kalian kira ke mana kalian bisa pergi? Kastil ini sudah dikepung dan tak ada jalan keluar kecuali …,” Penyihir Jonghyun menggantungkan perkataannya lalu menyeringai lagi. “udara,” ucap Penyihir Jonghyun lalu menyeringai lagi.

Mereka tak menghiraukannya, meninggalkannya, berlari keluar dan mencari jalan keluar. Mencari dari pintu ke pintu, dari lorong ke lorong dan dari tangga ke tangga hingga pada akhirnya Onew berhenti sambil terengah-engah, kehabisan napas, tetapi tiba-tiba saja matanya membulat ketika ia menengok ke arah sebuah pintu yang terbuka, di dalamnya ia melihat sebuah benda pipih yang memantulkan bayangan, dan di saat itu senyumnya terkembang dengan indah, dirinya dipenuhi harapan.

“Kenapa?” tanya Jonghyun yang sontak menghentikan larinya, sama seperti yang lain.

Onew menunjuk ke arah sebuah cermin tua dengan kusen kayu yang polos. “Aku pikir kita bisa kembali. Di buku tak pernah ditulis cermin mana yang digunakan. Dia hanya berkata cermin!”

________

Mereka terlempar lalu jatuh, saling bertindihan dengan menyakitkan, persis seperti terakhir kali mereka terlempar dari cermin. Mereka semua berdiri lalu mengedarkan pendangan, tampak ruangan yang terang, dengan tembok putih, rak-rak besar yang dipenuhi buku, meja dan kursi-kursi kayu, juga cermin perak yang terliaht mewah. Tempat yang mereka dengan mudah  mereka kenali sebagai perpustakaan kerajaan. Mereka tersenyum dengan puas sekaligus bernapas penuh kelegaan. Mereka tampak bahagia dan merayakannya dengan saling berpeluk. Tapi, baru beberapa detik bisa berleha dan berniat mencari Tuan Choi untuk mengabarkan kabar baik kini mereka bisa sudah bisa mendengar suara gaduh, sebuah teriakan marah, pekikan kesakitan beberapa orang—membuat merkea meliaht kea rah sumber suara pada pintu yang tertutup—hingga suara pintu yang dibuka dengan paksa. Dan beberapa detik kemudian dari tempat mereka berdiri mereka bisa melihat sesosok tubuh yang bergitu mirip dengan Raja, sedangkan Tuan Choi terlihat sudah tergeletak lemah di lantai sambil mengerang, begitu kesakitan.

“Kalian … kalian …,” geramnya dengan marah hingga dengan sangat mengerikan warna matanya berubah merah dan gigi taringnya meruncing dan terlihat membesar. Mengubah sosoknya menjadi persis seperti pada foto yang mereka lihat ketika pertama kali menapakan kaki di dunia cermin.

“Iblis!” seru Taemin dengan kaget, tetapi Raja Key berjalan maju dengan marah. “Kau! Kau sudah mengurungku! Kau mengkianatiku!” cercanya dengan hampir berteriak.

“Dan kau harus kembali lagi ke sana!” lanjut sang Iblis.

“Tidak, sekarang sepupu Penyihirmu sedang ada masalah dan kau harus kembali untuk membantunya.”

“Kaukira aku peduli?”

“Karena itu, aku akan memaksamu!”

“Bagaiamana caranya?” tantang sang Iblis.

“Caranya dengan bu—” Tiba-tiba buku ditangan Raja Key melayang ke tangan Iblis Key ketika iblis itu menjetikkan jari tangannya, bahkan sebelum Raja Key bisa menyelesaikan ancamannya—ia hanya bisa mematung dengan kaget ketika buku itu terlepas dengan mudahnya dari tangannya. Dan pada saat itu anak-anak murndur dengan ketakutan, sedangkan sang Raja sendiri mulai terpojok.

“Sekarang siapa yang bisa memaksaku?” tukasnya dengan seringaian.  Iblis Key mulai berjalan mendekati Raja, dan membuat Raja terliaht ketakutan dan terintimidasi ketika mata merah Iblis Key memperlihatkan tatapan membunuhnya.

Raja mundur dengan ketakuan, mendekati cermin ketika Iblis Key semakin mendekat. “Menjauh dariku!” pekik Raja semakin takut, tetapi Iblis tak peduli dan terus berjalan hingga punggung raja terbentur cermin dan dia tidak bisa ke mana-mana lagi, benar-benar terpojok.

“Lihat sekarang, siapa yang akan kembali ke dunia menyebalkan itu?” tanya Iblis dengan senyum penuh kemenangan ketika telah berada tepat di hadapan Raja, membuka buku di tangannya lalu mengarahkan tatapan penuh kepuasan kea rah tulisannya, namun dengan cepat tatapannya berubah, menajdi memelalak dan begitu terkejut, lalu dengan marah ia mendongak, meliaht ke arah Raja yang sudah menyeringai hingga tiba-tiba saja melompat, dan di saat bersamaan Iblis Key bisa mendengar seseorang membaca mantra di belakangnya dan melihat sebuah bayangan terpantul pada cermin di hadapannya. Dan, tepat ketika ia berbalik seseorang mendorongnya dengan keras hingga ia masuk ke dalam cermin lagi dan terkurung di dalamnya, tanpa sempat berteriak atau memaki. Itu adalah onew yang tadi bersembunyi di balik buku-buku menjulang dan hilang dari pandangan orang-orang.

Beberapa menit lalu, tepat ketika suara itu terdengar Raja Key sadar bahwa Iblis itu datang dan mereka terancam. Bagaimanapun mereka tak akan menang atau harus terus-menerus mengharapkan keberuntungan yang dengan ajaib yang terus datang kepada mereka seperti yang sudah mereka alami beberapa kali. Dengan trik yang dibuat oleh Raja—yang dibuat dan disusun dalam tempo supersingkat—maka saat ini mereka bisa melihat Iblis Key menggedor-gedor cermin dan berteriak tanpa sama sekali tak terdengar, dan tepat ketika Onew menutup bukunya cermin kembali menampakkan banyangannya yang seharusnya. Mereka semua yang tengah berdiri di depan cermin pun tak bisa untuk menyembunyikan kebahagiaan dan kelegaan mereka.

“Kita berhasil,” ucap Jonghyun dengan senang. “Buku yang dipegangnya aku harap bisa jadi kenang-kenangan yang menyenangkan untuknya.”

“Dia benar-benar tak memerhatikan buku itu. Meski sampulnya mirip dan sama-sama tua tapi tetap saja berbeda. Dia tidak menyadari kita sudah menukar bukunya sebelum dia datang. Terima kasih, Onew,” ucap Raja Key dengan puas sambil melirik Onew sambil tersenyum.

Onew membalasa senyum. “Sama-sama, Raja.” Lalu melihat buku yang ada di tangannya dengan penuh syukur dan sedikit rasa takut.

Epilog

One Year Later

Minho merebahkan diri pada sebuah sofa putih yang empuk dan nyaman, sambil memadang tempat itu dengan rindu. Senyum tipisnya terukir bersamaan kenangan yang berkelebat cepat seperti baru kemarin terjadi. Dia terdiam dalam hening hingga tiba-tiba sebuah suara menyentaknya. Itu ketukan kecil yang kemudian menampakkan sebuah kepala dari luar dan ia mengenali wajah siapa itu. Minho tersenyum. “Kau baru datang,” ucapnya senang.

Orang di luar membuka pintu lebih lebar dan memperlihatkan seorang lagi yang berdiri di belakangnya, yang lebih kecil dan sangat nakal dalam ingatan Minho. “Kalian sudah datang,” ralat Minho.

Keduanya masuk memandang tempat itu sejenak seperti Minho memandangnya kemudian berjabat dengan Minho penuh arti, lalu duduk bersama-sama. “Kau diundang juga?” tanya Onew.

“Tentu saja. Raja berkata ada hal buruk terjadi.”

“Omong-omong di mana Raja dan Jonghyun?” tanya Taemin masih melihat sekeliling, siapa tahu mereka berdua bersembunyi di tumpukan buku seperti yang pernah kakaknya lakukan.

“Sebentar lagi juga datang. Omong-omong bagaimana kabar kalian? Kalian bahagia dengan kekayaan kalian?”

“Kami baik. Kami tinggal di tempat yang lebih baik, tentu saja kami bahagia dengan itu. Dan Taemin, aku kira dia akan membeli banyak mainan dengan uangnya, ternyata dia membeli banyak buku dengan itu.”

“Aku tidak mau lagi dianggap nakal dan bodoh, tahu,” protes Taemin membuat dua orang yang lebih tua itu terkikik.

“Lalu kau sendiri?” tanya Onew kemudian.

“Seperti yang kalian tahu, di pelatihan militer kerajaan aku mendapat banyak sekali pelajaran dan bimbingan, dan semua itu sangat menyenangkan. Kami dijari berburu, memanjat tebing, bela diri, dan juga mempelajari beberapa buku sejarah.”

“Itu sepertinya menarik,” sahut Onew.

Minho hanya tersenyum puas dan setelah itu pintu terbuka dan Raja yang diikuti oleh Tuan Choi muncul dengan wajah panik. “Kalian sudah berkumpul rupanya.”

“Sebenarnya ada apa Raja memanggil kami?” tanya Taemin to the point seperti biasanya.

“Jonghyun … dia … dia menghilang! Dan yang paling mengerikan adalah, buku itu juga menghilang!  Dia mengilang sejak seminggu yang lalu.”

“Apa?!” pekik ketiganya kaget.

“Dia … dia bisa membacanya?” tanya Onew kaget.

“Aku mengajarinya,” sahut Raja Key menyesal.

“Kami asumsikan bahwa dia pergi ke Dunia Cermin sendirian, tapi kami tidak tahu apa yang ingin ia lakukan,” tukas Tuan Choi dengan khawatir.

“Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa membawanya jika buku itu ada padanya!” rengek Raja Key dengan putus asa.

“Seminggu yang lalu mereka bertengkar masalah panggilan yang harus dipakainya untuk Raja, tetapi saat itu ia merasa sangat marah, jadi ia pergi,” sahut Tuan Choi sedih.

Semua tertunduk lesu, bingung akan apa yang harus mereka katakan. Otak mereka mendadak buntu meski dengan susah-payah mencari jalan keluar, tetapi beberapa menit kemudian sebuah erangan terdengar dari balik pintu ruangan di dalam setelah lebih dahulu terdengar suara berdebum yang familier diikuti teriakan. Segera saja mereka berlari ke ruangan di sebelah dan menemukan Jonghyun sedang menggosok-gosok kepalanya yang benjol akibat terbentur meja dan menjadi sasaran beberapa buku yang jatuh menimpanya.

“JONGHYUUUUN!!” teriak mereka semua kompak dari ambang pintu dengan kesal.

“Apa?!” sahut Jonghyun galak sambil berdiri. “Aku hanya bermain di sana untuk menenangkan diri lalu ketiduran beberapa jam!”

End

Anyeong, ini ff bergenre fantasy pertama saya, maaf kalo kurang greget. Untuk typo yang masih bisa ditemukan juga minta maaf, terlalu banyak hal yang harus dikerjakan dalam waktu yang hampir bersamaan, khususnya untuk mengedit#sok sibuk banget author ini satu.

Yah, intinya, meski nantinya saya nggak menang, saya sangat berharap masih bisa mendapat kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Saya ingin jadi lebih baik. Dan semoga terhibur, juga nggak kapok buat membaca ff abal saya.

Salam

29 thoughts on “[FFP 2013 – 2] Hieroglif – Part 5

  1. elf minho jadi kodok.. Ntah kenapa aku ngakak bacanya.. Padahal sbelumnya lg serius.. Hahaha..
    Taemin kecil yg nakal tapi cerdik..#usek2kpalataem
    Dan,, aigooo.. Key itu selalu rempong.. Jjong cuma ngumpet doang padahal..😄

    1. makasih komentarnya dan tetap setia komentar.
      iya, niatnya aku pengen mereka punya karakter yang berbeda dan kuat, serta kemampuan yang berbeda-beda supaya lebih berkesan.
      jadi kodok cuma pengen si elf itu jadi sesuatu aja, berhubung Minho selalu dihubungkan dengan kororo ya aku pikir jadi kodok bagus.

  2. Setuju sama Hyora….
    Ngakak pas Ming kena sihirnya sendiri dan berubah jd penyihir kodok…bukan pangeran..
    Xixixixi
    xD
    xD

    agak bingung tadi ttg mekanisme terjebaknya Iblis Key di cermin, harus dibaca pelan2….atau otak saya yg lagi kumat Lolanya?
    Xixixi

    Hello judges n author-ssi, saya pikir FF ini yg ide ceritanya paling menarik,,,

    1. lucu, ya? hmm, aku nggak niat buat lucu-lucuan loh.
      iya, aku dah baca ulang, hrusnya aku tambahin klo raja Key itu lompatnya ke samping jadi biar lebih jelas. maaf agak bikin bingung, soalnya emang baru belajar buat cerita yang seperti ini.
      wah, makasih atas pujiannya #seneng jadinya.
      makasih juga udah luangin waktu baca dan komentar ya, eon.

  3. Wah JongHyun tidur selama 1 minggu
    Happy endding
    Uang yang banyak dipakai Taem beli buku, ternyata tidak ingin kalah dari Onew ◦”̮◦нαнα◦”̮◦нαнα◦”̮◦‎​​ Pikiran cemerlang Onew, Iblis Key di dalam kerajaan miliknya yang tengah diserang, sedang raja Key menikmati kerajaannya kembali

    1. jonghyun?! hah, nggak mukin! klo minho, mungkin saja.
      itu bukan tidur satu minggu, cuma beberapa jam, coba aja kamu baca ulang di bagian akhir. mekanismenya, waktu di dunia cermin itu 10X lebih cepat dari di dunia nyatanya, jadi berasa udah lama, padahal cuma beberapa jam aja Pangeran Jong tidur.

      sebenarnya, itu bukan rencana, cuma lagi beruntung aja kali.
      makasih udha mau komentar imelia.

  4. yang terakhir lucu😀

    akhirnya petualangan mereka berakhir dgn Happy^^

    walaupun ada beberapa typo, tdk mempengaruhi isi cerita..

    suka ffnya author-ssi🙂

    1. fantasy dengan sad ending nggak lucu tahu, eon.
      itu bukan beberapa, itu buanyak bangeeeet! saya aja sampe geregetan sendiri. hihihi
      makasih ya, eon, jadi pembaca setia.

  5. wah, happy ending. As expected, Onew memang cerdas ya :’) aku suka banget adegan awal itu, waktu mereka lawan kembaran mereka sendiri. Hahaha~

    nice fic ^^

  6. aq msh bingung ama iblis key nya. dia masuk ke dunia cermin? trus jjong jg kabur ke dunia cermin kok gak takut ketemu iblis key?

    sumpah msh bingung ama cara iblis keynya ilang. tp ini ff keren bgt! berasa novel. sayang cuma 5 chap. pengen nambah!!!! terus berkarya author!

    1. ya. karena mungkin si Jong yakin bahwa mereka berdua (si penyihir dan iblis) dan dibasmi atau ditangkep oleh kubu Onew.

      Jdi pas raja di depan cermin dan di hadapannya ada iblis tiba-tiba dia lompat ke samping, pas itu Onew datang dan mendorong si iblis sambil baca mantra. sedangkan Iblis Key tak sempat buat menghindar, jadi dia masuk deh ke dalam cermin. dan karena dia nggak punya bukunya dia nggak bisa balik lagi. klo yang ini nggak ngerti juga maaf. author emang nggak pinter buat menjabarkan.

      ok, makasih!

  7. Di paragraf pertama typonya lumayan rimbun, ya… *dilemparbuku
    Tapi seru lho. Deskripsi ‘pertempuran’nya cukup bagus.
    Karakter mereka juga cukup terwakilkan dengan penggambaran
    narasinya sepanjang cerita. Gaya bahasanya juga konsisten. Apalagi, ya.
    Endingnya juga bagus, dengan epilog yang lucu di akhir.
    Hahahahaaa… Si ayah Key khawatrir banget anak badungnya
    nyasar ke dunia cermin, padahal cuma mau maen2 aja…. Ngambek ceritanya!

    Good job buat FF pertamamu dengan genre fantasy. Dengan makin giat nulis, pasti bakal banyak pelajaran dan perbaikan di karya-karyamu kelak…
    Fighting!!!

    *Jinki-ya… Yok, kapan2, kita kawin lari ke dunia cermin…
    Aku mau lho, kamu bawa kemana aja, asal jangan ke neraka…
    Ampun, Ya Alloh….

    1. bwahahaha! kita rebutan bang dubu nih. itu calon suamiku tahu?! #hahaha narsis gila, dunia akhirat nggak selesai-selesai.

      untuk paragraf pertama, itu soalnya udah konslet. udah panik karena dateline, dan bisa lebih tenang pas bagian bawahnya. tapi memang menyisakan rerimbunan typo tak bertepi seperti itu #apacoba?
      maaf untuk itu. saya menyesal, sangat.

      ok! makasih!

  8. Jonghyun bikin deg2an aja nih , waaaahhh …. Daebak fat ff’a keren2 ,,, bnr2 bikin deg2an jln cerita’a . ˇнεнε¨( ‘́ ‘̀ړ. )¨нεнεˇ

  9. Huwaa. . . Dede’ taem2 q bkin gemez sumpah. .ojong sama minho cukup konyol. .apalagi si key yg tkut kesaing ma anak’y ndri. .btw crta’y sumpah bkin deg.deg’an. .daebak

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s