[FFP 2013 – 3] Him Inside – Part 5 (End)

Title                 : Him Inside (5 of 5)

Main Cast        : Onew Lee (Lee Onew)

Support Cast   : Choi Minho, Kim Jonghyun, Lee Taemin, Kim Kibum, Lee Jinri (OC)

Length             : sequel

Genre              : Mystery, a bit of Horror, Psychology, Romance, Family

Rating             : PG-15 (sebenarnya bisa SU, sih. Tapi mungkin ceritanya bakal sulit dimengerti. Hehe…)

Summary         : Karena langit itu sulit dicapai dan tak terbatas, langit adalah gambaran mimpi yang tak tergapai.

 

HIM INSIDE

By Bella Jo

Sakit. Gelap.

Onew berjalan tertatih setelah membukakan pintu untuk Jinri. Wanita itu tampak sangat cemas, sementara Onew mulai merasakan kepalanya seperti dihantam berkali-kali. Bukan palu ataupun batu yang menghantam namun keping-keping kenangan yang hilang. Sayangnya kepingan itu berubah debu sebelum si pemilik tubuh benar-benar tahu. Lelaki itu berputar menuju pintu kemudi dan segera membanting pintu saat ia sudah duduk. Tanpa banyak tingkah ia langsung menancap gas dan beranjak dari tempat itu.

“Kibum-ssi, kau tidak apa-apa?”

Panggilan yang asing namun Onew sangat menikmatinya, menipu diri seakan memang itulah namanya. Ia menatap jalan yang terlihat kabur lalu tersenyum tipis, “Tenang saja. Bagaimana keadaan bayimu?” Onew menatap sayang wajah bocah berumur setahun yang balas menatapnya dengan bola mata jernih, “Kuharap kucing-kucingan tadi menghiburnya.” Ia bahkan heran kenapa dirinya masih bisa bercanda di saat seperti itu. Namun rasa sayang pada anak dari wanita yang ia suka begitu membuncah. Ia berandai-andai, ingin sekali anak itu adalah anaknya.

“Dia…baik-baik saja…” Ekspresi Jinri penuh rasa bersalah. Onew memaksakan seberkas senyum di bibirnya dan membelai lembut kepala wanita itu dengan penuh sayang, “Jangan memasang wajah seperti itu, ia bisa menangis. Kau tahu kau bisa saja wanita tercantik di dunia jika tersenyum. Maka tersenyumlah.”

Onew yang tengah memandang lurus menatap jalan dengan susah payah bahkan tak tahu dampak besar sentuhannya bagi wanita itu. Belaian hangat itu menjalarkan semburat merah muda di pipi Lee Jinri. Mata wanita itu memandang Onew dengan penuh tanda tanya, sama seperti tatapan heran anaknya pada mereka berdua.

“Apa kau tak keberatan jika kita menuju kediamanku saja?” tanya Onew. Ah, bahkan ia sudah menganggap rumah Kim Jonghyun sebagai kediamannya. Oh, dan siapa nama mendiang adik dosennya itu? Bukankah Kim Kibum? Onew merasakan keganjilan saat mengingat ketepatan yang ia alami. ‘Kim Kibum-ssi, aku mohon izinmu untuk meminjam namamu…

“Aku sangat berterima kasih jika kau memang mengizinkan kami berdua berada di sana, Kibum-ssi...”

Oh, please. Aku agak risih dengan panggilanmu yang terdengar amat formal itu. Panggil aku Key, arasseo?”

Wanita itu tersenyum hangat sambil menatap lekat wajah berkulit putih di hadapannya. Ia berbisik haru, sadar bahwa dirinya bukan lagi sampah seperti yang selama ini sempat terbayang dalam benaknya, “Gamsahamnida, Key-ssi... Neomu neomu gamsahamnida…”

Jika ini memang untukmu, aku tidak akan pernah keberatan. Aku bahkan heran pada takdir yang mempertemukan kita dengan cara ini.

***

“BERANI-BERANINYA KAU MEMBOHONGIKU, LEE TAEMIN!!”

Lee Taemin hanya menunduk tanpa ekspresi saat tuan besarnya membentak dengan suara menggelegar. Lelaki paruh baya di hadapannya marah, sangat marah. Seluruh isi meja kerjanya berhamburan dengan suara berdebum keras. Kedua gadis kembar yang juga memperhatikan hal itu bergidik ngeri bahkan memekik histeris, jauh berbeda dengan kebisuan Taemin. Tuan Lee masih mengeluarkan kata-kata makian kasar saat ia bergerak ke arah Taemin dan mencengkram kerah kemeja pelayannya itu.

“Kau tahu dan kau hanya diam. Berani-beraninya…,” Tuan Lee menggeram. Ia bisa mengingat jelas saat-saat di mana Onew berhasil kabur dengan gelagat aneh saat berada di Kangbuk tadi. Taemin menghela nafas berat dan berkata dengan sorot mata dan suara datar, “Saya hanya mngikuti perintah tuan muda saya. Saya adalah pelayan pribadinya dan merupakan sebuah kegagalan besar jika seorang pelayan melalaikan perintah tuannya.”

“Kau cari mati,” pekik Hyunjae. Ia berusaha keras melepas cengkraman ayahnya sebelum kemarahan itu terlampiaskan dalam sebuah bogem mentah yang dapat melukai Taemin. “Abeonim, kumohon tenangkan dirimu. Kita bisa membicarakan ini baik-baik.” Namun Taemin maupun Tuan Lee sama sekali tak bergeming. Tuan Lee mendengus marah dan mengencangkan cengkramannya, “Kau ingin aku memecatmu, Lee Taemin?”

“Saya akan merasa terhormat jika tuan yang saya layanilah yang memecat saya, yaitu tuan muda Onew Lee.”

“Kau menantangku?!”

“Abeonim!!”

“Anda tahu kenyataannya, Tuan, namun Anda terus-terusan berusaha memungkirinya,” kalimat Taemin menghentikam gerakan tangan Tuan Lee yang siap menampar. Taemin menatap tegas kedua mata Tuan besarnya dan tangan yang tadinya sudah siap menyakiti akhirnya malah terkulai lemas. Hyunjae dan Hyunri saling pandang dalam diam, tak mengerti apa yang terjadi. Taemin melanjutkan, “Sejak di rumah sakit, Anda sudah tahu kira-kira apa yang terjadi padanya, apa yang membayanginya dan Anda juga mulai ketakutan karena hal itu. Sebenarnya Anda bahkan sudah menduga bahwa tuan muda akan segera menyelidiki perihal ibunya namun Anda terus-menerus memungkiri isi hati.”

“Diamlah. Kau tidak tahu apa-apa.”

“Saya sudah tahu semuanya, Tuan.”

Tuan Lee kembali menatap bola mata Taemin yang tegas berisi. Ia ingin sekali membungkam kedua bibir tebal Taemin tetapi sekarang ini ia terlalu kaget. Taemin balas menatapnya kasihan dan bergumam dengan suara rendah, “Dan menurut analisis tuan Kim Jonghyun, tuan muda juga akan segera tahu semuanya sebentar lagi. Sesuai dengan keinginan dua bayang-bayang itu. Saya pikir sudah waktunya bagi Anda untuk bersiap diri.”

***

Kim Jonghyun menatap potret adiknya yang tersenyum lebar, potret yang bertahun-tahun tertempel di dinding ruang keluarga rumah megah mereka. Di sekeliling potret tersebut terkumpul banyak gambar langit dalam bentuk potretan maupun lukisan. Lelaki paruh baya itu tersenyum saat mengingat kalimat adiknya tiap ia menanyakan maksud gambar tersebut. Karena langit itu sulit dicapai dan tak terbatas, langit adalah gambaran mimpi yang tak tergapai. Kalimat itu tak pernah bosan diucapkan Kibum tak peduli berapa kalipun ia ditanya.

“Dan langit bagaikan wanita yang kau cinta. Bukankah begitu, Key?”

Kim Jonghyun melangkah menuju lantai dua rumahnya, membuatnya teringat pada pemandangan aneh yang ia temui saat membukakan pintu tadi. Onew, mantan mahasiswanya yang malang berlaku ganjil dengan ekspresi yang ganjil pula. Semua membangkitkan memori Jonghyun yang telah lalu, seakan kejadian dua puluh lima tahun lalu itu kembali terjadi. Kim Kibum dan Onew Lee, siapa sangka bahwa keduanya memang memiliki keterikatan? Hanya tinggal menunggu waktu agar Onew menyadari keterikatan itu.

Namun Jonghyun semakin merindukan sosok adiknya tiap melihat Onew, sosok Kim Kibum yang begitu mencintai langit.

Saat membuka pintu kamar adiknya, ia tidak menemukan siapapun di sana. Jonghyun mengernyit heran, harusnya Onew di sana. Itu pun jika tak ada hal-hal aneh yang mempengaruhinya. Ditarik rasa penasarannya, Jonghyun pun mengelilingi seisi rumah untuk mencari lelaki berambut coklat itu. Dan ia tidak terkejut saat mendapati lelaki itu di kamar tidur tamu. Semua serasa deja vu.

Onew Lee terduduk di samping kasur, tenggelam di dunia mimpi dengan kepala terkulai dan tubuh bersandar pada tempat tidur. Wajahnya tidak tampak damai, namun cukup lelap. Tak bisa dibayangkan seberapa lelahnya lelaki itu selama beberapa hari terakhir. Jonghyun melangkah mendekati lelaki itu dan tertegun saat mendapati sebuah sketsa langit yang tampak masih baru dibuat terletak di samping tubuh letih Onew. Jonghyun meraihnya perlahan dan terkesiap saat menyadari isi tulisan yang ada di bagian sisi kiri bawah sketsa. Tulisan itu, kalimat itu persis dengan ucapan Kim Kibum padanya dulu.

Dan gelung awan di langit bagaikan memori yang telah lalu.”

Jonghyun terkejut saat Onew membuka mata dan menatap kosong langsung kedua manik Jonghyun. Dan ia semakin terkejut saat melihat senyum khas Kim Kibum tersungging di bibir Onew Lee, menjelaskan kalimat tadi memang diucapkan olehnya. Namun suara tadi adalah suara Kim Kibum yang ia rindukan, suara mendiang adiknya yang sudah lama pergi mendahuluinya. Kim Jonghyun hampir terkena serangan jantung saat bibir Onew kembali bergerak.

Hyung, biarkan aku menunjukkan kenyataan pada anak ini sedikit lagi.”

***

Suara tangis membangunkan Onew dari tidurnya. Ia mengerjap, bibirnya sempat mengerang. Saat pandangannya sudah jauh lebih jelas, senyumnya mengembang. Wanita yang entah kenapa begitu ia cinta tengah menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang. Dan setengah mati Onew berharap anak yang tengah digendong itu adalah anaknya, his son. Belaian itu, dekapan itu, kecupan hangat keibuan itu… Onew memimpikan keluarga kecil miliknya yang dapat membuat ia bahagia. Terlebih jika wanita itu sebagai istrinya.

Aku sudah begitu lama mencintainya…

Eh?

“Oh, Kibum-ssi. Anda sudah bangun?” sapa si wanita, senyumnya memancing kembang senyum Onew. Lelaki itu bergumam mengiyakan, matanya tetap menatap lekat dua sosok di hadapannya. Semburat merah muda muncul saat tatapan intens Onew mulai memancing getaran di dada si wanita. Lee Jinri berkata dengan suara tersendat, “Aku benar-benar berterima kasih padamu. Kita tidak begitu lama saling mengenal dan kau mau menampung kami berdua di rumahmu ini. Aku…aku bahkan sangat menyesal kau tidur dengan posisi seperti itu sementara aku tertidur nyaman di atas kasur.”

“Tidak perlu sungkan. Aku hanya mencemaskanmu,” jawab Onew dengan suara seraknya, pengaruh kondisinya yang baru bangun tidur. Ia tersenyum lembut. Dan aku ingin terus-menerus menatap wajahmu…

Wanita itu tersipu sambil membisikkan kata terima kasih. Semburat merah muda kembali menghiasi pipinya, apa ucapan dan senyuman Onew sangat berpengaruh baginya? Onew menahan senyum dan memperhatikan kegiatan Jinri di atas tempat tidur. Ia menatap bayi Jinri yang mulai tenang, rasa sayang menguar dari dirinya. Bayi itu begitu mungil dan manis. Matanya coklat bening dengan bibir ranum kemerahan, pipinya yang gembul berisi dan bersemu, serta rambut halusnya yang kehitaman. Perasaan ingin menjaga anak itu muncul dalam diri Onew.

“Bolehkah aku menggendongnya?” gila! Onew Lee yang selama di London tidak pernah menyukai kehadiran anak-anak malah berbalik menginginkan seorang anak dalam kehidupannya. Tangannya terbuka, bermaksud menawarkan diri sekaligus berbagi kasih. Lee Jinri tersenyum lega dan menyerahkan bayi mungil itu padanya. Begitu ia menimang bayi itu dengan penuh kehati-hatian, Onew benar-benar ingin menikah.

“Berapa umurnya?” tanya Onew, ia memainkan jari di wajah anak itu dan mengundang senyum si malaikat cilik. Lee Jinri tampak bahagia karenanya, “Umurnya satu tahun tepat pada tanggal empat belas lalu,” jelasnya. Onew sempat tertegun sesaat menyadari hari ulang tahun mereka yang sama namun tidak mau terlalu memikirkannya. Jinri beranjak dari tempat tidur menuju dapur dengan membawa perlengkapan makan anaknya. Onew mengekor di belakang dengan bahagia, seperti seorang ayah baru.

“Dan namanya?” tanya Onew lagi. Nadanya terdengar penasaran. Jinri menghela nafas berat dan berkata, “Belum ada. Mungkin terdengar tolol tapi tiap kali ingin memberi nama, hanya Minho yang terlintas di kepalaku. Aku hanya ingin anakku dinamai sesuai dengan orang yang mencintainya, bukan sekedar orang yang menghasilkannya.” Jinri merebus air dalam ketel dan menyeduh botol susu dalam panci untuk sterilisasi. Ia melirik Onew dengan tatapan serba salah, “Kau tahu, kadang aku begitu egois.”

“Kalau begitu, aku juga ingin bersikap egois,” sahut Onew, menatap lurus Lee Jinri. Wanita itu mengernyit, spontan mengucap, “Eh?”

“Katakan padaku berapa umurmu.”

“Aku…bisa dibilang berumur dua puluh lima tahun…”

“Berarti Minho-mu itu lebih muda dua tahun?”

Jinri menatap Onew kaget sekaligus kagum, “Bagaimana bisa kau mengetahuinya? Maksudku- kau… kau…” Gerakan sederhana Onew yang menempelkan jari telunjuk sekilas di dadanya sambil tersenyum tipis menghentikan kalimat Jinri. Wanita itu tertunduk diam dan kembali membuat susu anaknya, “Lalu, kenapa kau ingin tahu umurku? Jangan bilang kau ingin mengejekku.”

“Aku hanya ingin tahu.”

“Eh?”

“Setiap bagian dari dirimu bagai magnet yang mengundang diriku padamu,” jawab Onew. Ia melirik Jinri sekilas lalu mengecup gemas pipi bayi dalam gendongannya, “Dan tanpa sadar aku sudah kembali penasaran tentangmu.”

***

Sehari berlalu, Lee Jinri masih ada di dekat Onew. Lelaki itu sadar Jinri takkan lama berada di sisinya, tapi ia menginginkan tiap detik kebersamaan mereka. Di sisi lain Onew juga sadar bahwa hati Jinri takkan pernah menjadi miliknya, bahkan Minho selalu mengisi benak gadis itu. Kini Onew bertanya-tanya menagapa Jinri mau saja ikut dengannya.

“Karena…entahlah, aku hanya begitu percaya padamu,” jawab Jinri saat Onew bertanya. Onew mengernyit heran. Bahkan lelaki itu tak memberitahukan nama aslinya, namun Jinri bisa percaya padanya. Bagaimana bisa?

Jinri terduduk sambil membelai lembut buah hatinya yang tengah tertidur pulas setelah bermain seharian. Wajah bayi yang mulai bisa berjalan sendiri itu tampak damai. Wanita itu tersenyum, “Kau selalu mampir di restoran tempatku bekerja dan memasang wajah ramah hanya padaku. Mimikmu yang biasanya serius itu membuatku tahu aku tak bisa meragukanmu. Dan dari caramu menimang anakku, aku tahu kau orang yang tulus. Apa menurutmu aku salah?” ucapnya dibarengi tawa ringan. Onew hanya bisa terperangah mendengar penjelasan gadis itu. Ee… apa mungkin Jinri salah orang? Jinri melanjutkan, “Dan aku sangat berterima kasih karena kau mau menampungku di rumahmu. Apa keluargamu tidak keberatan?”

“Yah, setidaknya kau tidak melihat siapapun di rumah ini selain kita bukan?”

“Tapi…”

“Kau hanya perlu tahu satu hal, agassi, aku mendapat izin penuh untuk menempati rumah ini,” jelas Onew menenangkan, ‘Walau aku memang bukan pemiliknya.’

Jinri masih belum terima dengan penjelasan Onew. Wanita itu melangkah menuju jendela dan menyibak pelan rambutnya yang agak berantakan. Ia menatap hamparan luas taman bersalju di luar sana serta jendela yang dikabuti embun. Onew keluar dari ruangan itu dan kembali beberapa saat sambil membawakan dua cangkir teh yang pastinya nikmat di hari dingin. Jinri masih di posisinya yang diam sambil menatap dunia luar yang beku.

“Hey, Kibum-ssi?”

“Hmm?”

“Katakan, kenapa kau begitu peduli padaku? Aku hanya wanita miskin tanpa pekerjaan ataupun masa depan yang menjanjikan, aku punya anak yang pastinya dapat menjadi beban, dan kau…kita bahkan tidak begitu saling kenal…,” lirih Jinri. Ia benar-benar merasa dirinya menyedihkan. Onew meletakkan cangkir yang dibawanya dengan tenang dan berdiri di dekat Jinri, ikut menatap jendela. Garis wajah wanita itu tampak lelah saat kembali berkata, “Kibum-ssi?”

“Karena itu adalah dirimu. Kupikir itu cukup menjadi alasan. Tidakkah kau pikir begitu?”

***

Christmast,

Onew menatap langit yang tengah menurunkan salju. Di luar seperti hamparan kapas putih namun dengan udara beku. Ia bersyukur masih bisa menempati rumah megah Kim Jonghyun di saat itu. Jika tidak, mungkin ia sudah mati beku di luar sana. Onew kembali mengenang semua yang terjadi padanya, semua begitu kompleks namun patut dinikmati. Banyak hal ganjil yang terjadi tapi tak satupun ingin dipikirkan Onew. Ia tak tahu hidup takkan selamanya seperti itu namun Onew rela menukarkan apapun demi kebahagiaannya saat ini.

“Kau tampak lebih bahagia sekaligus lebih pucat,” tutur Jonghyun saat lelaki paruh baya itu mengunjunginya di sore hari. Onew tersenyum. Ia memang bahagia sekaligus lelah, tapi ia ingin tetap seperti itu. “Apa semua urusanmu lancar-lancar saja?” tanya Jonghyun lagi yang dijawab dengan gumaman singkat Onew. Keduanya tengah duduk santai di ruang tamu rumah tersebut. Sebelumnya Onew telah berpesan pada Jinri agar tidak keluar kamar sedikit pun agar tidak mengundang masalah.

“Kau membuatku teringat pada adikku…,” gumam Jonghyun.

“Kim Kibum-ssi?”

“Ya, anak nakal itu.”

Bagi Jonghyun, Kim Kibum tidak pernah menua, tetap memiliki kepribadian yang sama dengan sosoknya dulu. Adiknya yang begitu ia sayang dan banggakan. Jonghyun berujar, “Sebelum menemui ajalnya, ia sempat bertengkar dengan abeonim. Eommonim yang sudah lama meninggal menurunkan darah seni pada kami dan abeonim sangat menentang keinginan Kibum menjadi seniman karena mengingatkan kami pada sosok Eommonim yang telah tiada. Lucunya mereka bertengkar dan Kibum mengaku kabur dari rumah. Sementara abeonim sibuk melacak keberadaannya, ia malah tinggal dengan santai di rumah ini. Abeonim yang malang menganggap serius ancamannya dan tak pernah menyangka anak nakal itu tetap tinggal di tempat ini.”

“Anda sangat menyayanginya,” ujar Onew menimpali. Entah karena ia juga menggunakan nama Kim Kibum, ia sangat senang saat Jonghyun mengangguk pasti, “Tentu. Kami besar bersama, mengenal kejamnya dunia bersama. Tak banyak yang dapat dirahasiakannya dariku, termasuk percintaannya. Kisah cintanya yang rumit membuatnya begitu mencintai langit.”

“Karena langit seperti wanita yang ia cintai, sulit digapai maupun diraih tapi tetap dapat dijangkau pandangan.”

Jonghyun tertegun, ucapan Onew hampir persis kalimat yang sering diutarakan Kibum. Psikolog ternama itu segera melepas senyum, “Ya, begitu katanya. Ia mencintai seseorang semenjak kecil hingga dewasa tanpa dapat menggapai cintanya. Aku tidak tahu harus bersyukur atau tidak, namun sepertinya Kibum berhasil meraih kebahagiaan sesaat setelah ia meninggal…”

“Kenapa?” Onew mulai sangat tertarik pada isi pembicaraan ini. Jonghyun menyesap tehnya yang hangat dan berkata, “Karena ia meninggal demi menyelamatkan anak dari wanita yang dicintainya, bahkan bersama wanita yang begitu ia cinta pula.” Setelah mengatakan kalimat rumit itu, Jonghyun memandang berbagai lukisan langit yang tertempel di dinding rumah megah itu. Kenangan membanjiri ingatannya dan semakin mencuatkan rasa penasarannya.

“Hey, Onew.”

“Ya?”

“Apa kau percaya orang mati dapat meninggalkan separuh jiwanya pada orang lain yang masih hidup, orang yang begitu ia lindungi?”

***

Christmast,

Irama natal didendangkan di berbagai sudut kota Seoul. Orang beramai-ramai merayakan hari besar keagamaan tersebut sambil membagi-bagikan hadiah dengan gembira. Ruang, gedung, pepohonan, bahkan kendaraan dihias bertemakan hari besar itu, patung-patung tokoh besar agama dan tanda salib didekati demi memanjatkan doa. Orang masih mrayakan dendang natal, merayakan kebersamaan dan berbagai hadiah yang mereka dapat.

Namun sepertinya tidak semua orang menikmati hari bahagia itu. Salah satunya tengah berdiri melawan angin di hadapan sebuah pusara berhiaskan gundukan tanah berselimut rerumputan. Wajahnya menunjukkan kesedihan, tangannya menyerahkan seikat lily putih di atas pusara tersebut. Ia berjongkok dan mengelus pelan gundukan tanah itu. Suaranya yang rendah bersuara, “Maaf karena aku jarang mengunjungimu. Kuharap kau maklum. Kau bisa menebak betapa sibuknya aku. Atau mungkin kau malah tidak menginginkan kehadiranku sama sekali?”

Matanya memandang nanar foto wanita muda berusia sekitar dua puluhan yang terlihat bahagia di balik kaca berbingkai. Ia menggapai foto itu, seakan hendak mengelus wajah wanita yang difoto itu. “Aku tahu kau membenciku. Tapi aku tetap merasa dia anakku walau kau setengah mati ingin aku melupakan kenyataan tersebut. Ikatan ayah-anak ini takkan terputus, bahkan saat kau menamainya tanpa mengingat namaku. Jauh di sini, aku sangat menyayanginya,” ucap lelaki itu sambil menunjuk dada. Beberapa saat kemudia ia kembali mengelus kemudian bangkit dari duduk. Matanya berubah tegas.

“Karena itu, aku akan menemukannya dan membuatnya tinggal bersamaku.”

Potret itu masih tersenyum. Namun ia tahu ia tak pernah pantas mendapatkan senyuman indah itu.

***

Aegi-yah, hati-hati!” Jinri berseru saat Onew membawa anaknya melangkah dalam tumpukan salju. Baik si anak maupun lelaki dewasa itu tertawa girang sambil bermain akrab. Wanita itu tersenyum, kehangatan menyusup ke dalam hatinya. Lelaki yang lembut dan bersahaja bersama makhluk yang paling dicintainya di dunia ini. Ia ingin waktu berhenti dan membiarkan mereka bahagia selamanya. Namun tak ada yang bisa menarik laju waktu apalagi menghentikannya.

Buah hatinya tertawa riang dalam gendongan Onew saat wanita itu mendekat. Mereka persis keluarga kecil yang bahagia. Jinri melirik Onew dan tersenyum hangat, “Terima kasih karena sudah mau bermain dengannya, Kibum-ssi. Kau… kau menggantikan sosok yang seharusnya ada bagi anakku…”

Onew tak begitu menanggapi ucapan Jinri yang lagi-lagi merasa begitu bersalah. Lelaki itu malah berkata, “Ya! Tidak ada yang meragukan bahwa dia adalah anakmu. Kau tidak bisa memanggilnya dengan sebutan itu selamanya. Berikan ia nama!” omelnya. Jinri tersenyum kecil, terlihat malu-malu, “Sebenarnya aku sudah menemukan nama yang tepat. Hanya saja aku belum terbiasa memanggilnya dengan nama itu. Tapi, aku sudah mendaftarkan nama tersebut untuk akta kelahirannya. Yah, mungkin terkadang kau tidak tahu apa saja yang telah kulakukan…”

“Lalu, siapa namanya?”

“Mmm… Kupikir aku akan memanggilnya dengan nama itu di saat yang tepat… untuk saat ini aku menikmati saat-saat memanggilnya sebagai aegy-ku.” Onew tahu Jinri hanya mengelak, namun ia tak keberatan. Lelaki itu kembali bermain dengan anak kecil imut bergigi kelinci itu. Ia berbisik pelan, “Tak apa, bocah. Eomma-mu jelas sangat menyayangimu.”

Bocah itu berjalan tertatih sambil digandeng Onew ke arah Jinri, yang langsung disambung hangat oleh wanita berambut hitam panjang itu. Si anak tersenyum lebar, suaranya yang kecil berkata, “Ma..”

“Ah, dia memanggilku…,” Jinri tak mampu melanjutkan kalimat saking terharunya. Ia memeluk sayang anaknya sementara si anak menarik-narik tangan Onew. Onew mendekat sambil tersenyum ramah. Dengan wajah imutnya si anak berkata, “Pa…”

Dan kedua orang dewasa itu saling bertatap terkejut, tak menyangka si anak akan mengucapkan sebuah kata yang bisa membuat siapapun salah paham.

CKITT

Belum lagi suasana hening itu mereka nikmati sepenuhnya, mereka lebih terkejut lagi saat sadar sebuah mobil hitam terparkir angkuh di depan kediaman rumah itu. Jinri langsung menggendong anak laki-lakinya sementara Onew bergerak sebagai tameng bagi mereka. Begitu beberapa mobil datang menyusul bersamaan dengan beberapa orang berpakaian serba hitam keluar dari sana, mereka sadar keadaan tidak lagi setenang yang mereka kira.

“Tuan Lee?”

“Minho?”

Baik Onew dan Jinri saling pandang namun tidak menyia-nyiakan waktu untuk segera lari dari tempat itu. Tak peduli siapapun itu, mereka harus segera kabur dari sana. Menurut perkiraan Onew, gerbang depan yang terkunci akan memberi waktu tambahan bagi mereka untuk kabur. Namun kenyataan bahwa kawanan itu sudah menyadari kehadiran mereka, dapat dipastikan kawanan itu akan tetap mengejar dengan keras kepala. Jika mereka lewat dari jalan belakang, pasti sudah ada juga yang menunggu di sana. Sambil berlari membawa bocah kecil di sebelah tangan dan menggenggam tangan Jinri di tangan yang lain, otak Onew berpikir keras. Tiba-tiba saja terpikir satu jalan lain baginya.

“Naik ke mobil!”

Saat mereka bertiga sudah berada dalam ferrari merah sewaan Onew, lelaki itu langsung mengemudikan cepat kendaraan tersebut. Dari spion mobilnya, Onew menangkap sosok yang sepertinya adalah pimpinan dari kawanan hitam tersebut. Mungkin itu ayahnya. Cih, bagaimana bisa lelaki paruh baya kaya itu bahkan menyergap ke rumah orang? Onew benar-benar tidak habis pikir.

“Itu Minho. Tidak salah lagi,” ujar Jinri yang duduk di sampingnya. Onew mengernyit, “Apa kau yakin itu dia?”

“Tentu. Tidak ada orang lain yang bentuk tubuhnya persis seperti dia. Aku juga yakin semua kawanan yang mengejar kita itu adalah suruhannya yang ia kumpulkan dari lingkungan kumuh tempat kami tinggal dulu.”

Onew mengemudikan mobilnya melewati jalan samping kediaman Kim. Sungguh, ia belum pernah melewati jalan kecil yang lebih tampak seperti jalan rahasia saking tidak terawatnya. Namun tubuhnya bergerak begitu saja, seakan hapal benar panjang dan tampilan luar dalam jalan itu. Tanpa disangka-sangka ferrari mewah itu keluar dan mendapati jalan besar. Jantung Onew berdegup tak karuan sementara kepalanya sakit bukan main tapi ia tak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk menancap gas.

“Kibum-ssi, kau tidak apa-apa?” tanya Jinri cemas. Tidak, Onew sama sekali tidak baik-baik saja. Ia merasa sakit, tapi tidak tahu di bagian mana. Mungkin kecemasan, ketakutan, serta kesiagaannya telah menguras energi beberapa hari terakhir ini. Hanya rasa bahagia dan lega yang mampu membuat Onew bertahan selama ini. Untuk membuat wanita itu tidak cemas, Onew menggelengkan kepala sambil tersenyum, “Kau tidak perlu cemas.”

Tanpa disangka Jinri langsung memegang kening lelaki itu dalam diam. Sentuhan itu serasa deja vu. Onew yakin tubuhnya sangat mengenal sentuhan itu. Onew menoleh ke arah Jinri dan wanita itu tersenyum serba salah ke arahnya. Dalam sekejap semua memori datang menyerbu benak Onew. Dan yang paling ganjil terbayang dalam kepalanya adalah ingatan adanya sosok transparan yang selalu tampak samar tengah menyentuh dahinya. Kalau tidak salah, kata-kata yang sering diucapkan oleh sosok itu adalah…

“Jika kau yakin kau memang baik-baik saja, maka kau akan baik-baik saja.”

Lagi-lagi Onew tertegun. Kalimat itu persis, sangat persis ucapan yang sering merasuki telinganya. Serta sosok di hadapannya itu… Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Saat klakson kuat membuyarkan pikiran Onew, ia kembali memfokuskan diri pada jalanan yang ia lalui. Lewat kaca spion, Onew dapat melihat beberapa mobil hitam tengah melaju mengikuti mobilnya. Onew merutuk dalam hati, menyesalkan keteledorannya dalam menyetir. Ia tak boleh membiarkan apapun mengganggu pikirannya saat ini. Ia harus fokus menyetir agar bisa melindungi Lee Jinri dan bocah kecil yang tengah menatap lekat ke arahnya.

“Aku benar-benar berharap Minho berhenti mengejarku…,” ujar Jinri saat mobil itu sudah hampir sampai pinggiran kota. Ucapan itu mengusik benak Onew dan membuat lelaki berbadan sedang itu bertanya tanpa menoleh, “Kenapa?”

“Karena kupikir aku sudah menemukan lelaki lain yang mampu melindungi anakku.”

BRUAAKK

“Kibum-ssi!!” Jinri memegangi putranya erat-erat begitu Onew hampir menabrak pembatas jalan. Kalimat tadi membuat Onew Lee sangat tidak fokus dan kehilangan kemampuan hebatnya dalam menyetir. Onew sendiri bisa merasakan jantungnya hampir copot dan nafasnya berubah sangat tidak beraturan. Ia menggumamkan kata maaf dan berkata, “Aku hanya terlalu kaget mendengarnya,” ia melanjutkan, “aku menjanjikan keselamatan kita dari jalanan ini. Tapi aku ingin sekali mendengarmu memanggil nama anakmu itu. Bisakah?” rasa penasaran membuat Onew sangat tidak sabar.

Bola mata Lee Jinri melebar saat mereka hampir sampai di perempatan. Walau nyala lampu jalanan maupun lampu sorot mobil sangat terbatas di hari bersalju itu, ia masih bisa melihat jelas truk yang melaju cepat dari arah kiri. Wanita itu menjerit keras, “Kibum-ssi, AWASSS!!!”

Onew melirik spionnya dan memutuskan untuk tidak mundur lagi. Dengan tancapan gas penuh serta kekangan kencang pada stir, lelaki itu berdoa dalam hati untuk keberhasilannya kini. Ya Tuhan, ia kembali menantang maut. Bahkan kali ini melibatkan wanita dan anak yang begitu ingin dilindunginya. Onew berdoa keras-keras dalam hati saat semua terjadi dengan begitu cepat. Mobilnya melaju kencang melewati kolong truk besar tersebut dan terbebas dari maut hanya dengan selisih detik. Jantung Onew berdebar dengan teramat kencang dan ia hampir tidak bisa melihat apapun karena jalanan yang sangat gelap.

Begitu kondisi tenang, ia bersyukur di dalam hati dan tersenyum dengan penuh kelegaan. Ia berteriak keras, menyuarakan perasaannya. Saat matanya bertemu pandang dengan kedua mata Jinri ia semakin bersyukur telah diberi kehidupan. Wanita itu, mata itu, senyum itu, dan anak itu. Onew ingin hidup lebih lama dengannya, melihat kasih sayang seorang ibu berlimpah pada anak semata wayang yang bahkan belum ia ketahui namanya itu. Ia ingin hidup lebih lama, hidup lebih lama.

“Ya Tuhan, terima ka–“

BRAKKKK

Tak ada yang menyangka mobil sedan hitam dari arah berlawanan akan bergerak oleng dan menabrak telak ferrari mewah itu.

***

Tangisan. Rintihan.

Onew mendengarkan campuran kedua suara itu. Begitu matanya yang amat berat terbuka, ia merasakan sakit yang luar biasa hingga tak lagi bisa bersuara. Di tengah posisi yang tak pernah disadarinya itu, ia tengah memeluk Jinri yang berusaha keras melindungi bayinya. Wanitanya menangis, darah bercucuran memenuhi lekuk wajahnya. Bayi itu menangis, namun lebih pada ketakutan terhadap yang ia lihat di depan matanya. Onew bahkan tak sanggup merintih, seluruh tulangnya serasa remuk tak berbentuk. Dan ia rasakan saat itu adalah penyesalan.

“Jinki-ya… Lee Jinki…,” bisik wanita itu pelan. Tangannya yang lemah bergerak menyentuh lembut pipi anaknya. Dan tangisnya kembali pecah, “Kau harus hidup, sayang. Kau harus tumbuh besar dan bahagia. Eomma tidak pernah memintamu untuk membenci ayahmu, tapi jangan sampai kau hidup termakan harta seperti dirinya…”

Batuk darah, cairan merah kental kehitaman itu bermuncratan dari bibir pucatnya. Onew merasakan setetes air matanya mengalir. Ia tidak bisa mempertahankan senyuman di bibir kedua orang itu. Dan mungkin ia tak bisa melihat senyuman itu lagi. Nafas Jinri sudah terputus-putus saat ia melanjutkan, “Jinki-yaEomma tidak tahu bagaimana tetapi kau harus tahu bahwa eomma sangat mencintaimu… kau adalah hal terindah yang ada dalam hidup eomma… melebihi ayahmu, melebihi segala sesuatu yang ada dalam dunia ini… dan kalaupun kau tidak akan pernah bertemu kami, kau juga harus satu hal, anakku…” Tangis Jinri pecah dalam isakan yang hampir tak bersuara. Darah hampir menenggelamkan semua sisa-sisa nafasnya. Ia berkata dalam tangis, dengan air mata yang mungkin takkan pernah habis, “Eommamu –Lee Jinri– dan paman yang sudah kau anggap ayahmu sendiri ini –Kim Kibum– begitu menyayangimu…sangat menyayangimu… kau harta karun kami yang tak prnah ternilai harganya…

Eomma akan mengutuk siapapun yang mencelakakan hidupmu, bahkan jika itu adalah ayahmu sendiri… Karena itu, hiduplah… hidup…lah… hi..dup…lah… Jin–ki…”

Tak ada nafas yang tertinggal. Semua nafas itu pergi, tak menyisakan apapun dalam tubuh tak bernyawa itu. Dan sakit yang meremukkan tubuh Onew saat itu sama sekali bukan apa-apa jika dibandingkan perasaannya saat itu. Ia ingin meraung, menangis, memaki, berteriak, namun tak satupun yang keluar dari bibirnya. Ia ingin meronta, namun tak satupun sendinya dapat bergerak. Ia mengutuk keadaannya terus bertanya-tanya pada Tuhan tentang keadilan. Ia meneriakkan keras-keras nama Jinri dalam hatinya, namun yang terdengar hanya deru nafas yang tak beraturan. Hanya satu gerakan yang berhasil ia lakukan, hanya mempererat pelukannya pada wanita itu.

Matanya memandang Lee Jinki, bayi kecil yang manis itu. Dan ia baru sadar, nama Jinki diambil dari nama Jinri dan nama sementaranya, Kibum. Ya Tuhan, bagi Jinri ia adalah orang yang dapat melindungi anaknya dari mara bahaya. Namun sekarang apa yang bisa dilakukannya? Tak ada.

Onew mengulang-ulang nama Jinki dan Jinri dalam benaknya. Tak sekalipun ia berhenti mengulang kedua nama itu. Ia ingin melindungi anak itu, Lee Jinki. Ia ingin melindunginya, bahkan jika ia telah mati sekalipun. Tuhan, tolong izinkan dia melakukannya. Onew benar-benar memohon sepenuh hati kali ini. Ia tak lagi mau memikirkan identitas ibu kandung yang tengah ia cari, masa lalu ayahnya, atau apapun. Ia hanya ingin melindungi anak itu, sesuai kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Hanya melindungi anak itu…

Saat seberkas cahaya tersorot padanya, kedua manik coklat yang hampir kehilangan kemampuan melihat itu dapat melihat kabur sosok seorang lelaki yang berlari panik ke arahnya. Ia mengerjap, tak dapat mengenali identitas orang itu. Siapa? Minho?

“Onew!!”

Oh, ayahnya… Haha… Kenapa Pak Tua itu malah muncul di saat seperti ini?

“Lee Jinki! Bertahanlah! Kumohon bertahanlah!”

Kali ini Pak Tua itu malah memanggil-manggil nama Jinki. Aneh, sangat aneh. Onew tak mampu berpikir lagi saat pandangannya berubah gelap.

***

Terang. Silau.

Onew mengerjap, hampir tak dapat membuka matanya. Ia tak tahu berada di mana. Ia seakan dipenuhi cahaya. Haha… apa ia sudah terlepas dari dunia? Ia sudah berada di alam baka?

“Hey, nak. Sudah sadar?”

Onew semakin mengerjapkan matanya dan dengan susah payah bangkit dari tidur, walau tubuhnya luar biasa sakit. Ia menyenderkan diri pada dinding yang tak terlihat. Pandangannya sempat kabur namun akhirnya dapat melihat jelas sosok lelaki yang duduk bersila di hadapannya, lelaki yang memakai busana serba putih serta mengeluarkan cahaya dari tubuhnya. Dengan suara berat, Onew bertanya, “Siapa kau?”

“Ini aku, Kim Kibum.”

Tubuh Onew seakan dialiri sengatan listrik saat mendengar nama itu. Dengan setengah percaya, ia menegakkan badan dan memperhatikan jelas-jelas lelaki yang ada di hadapannya. Ya ampun! Tubuh itu, wajah itu, mata rubah itu, senyum itu… Onew sangat mengenalnya. Lelaki itu adalah sosok yang sering ia jumpai sebagai bayangannya, sosok yang sering mengisi mimpinya, sosok yang selama ini seakan membayang-bayanginya. Apa…apa yang terjadi?

“Sepertinya kau sangat terkejut melihatku. Apa karena menurutmu aku hilang begitu saja setelah aku mati?” tawa Kibum terdengar setelah kalimat itu dan Onew harus menahan diri agar tidak bergidik karenanya. Melihat keadaannya, dapat dipastikan bahwa dirinya juga telah mati…

“Tidak. Kau belum mati, jadi jangan cemas.”

Suara jernih Kim Kibum membuatnya kembali terkesiap dan menatap lelaki di hadapannya dengan serba salah. Kim Kibum lelaki bertubuh sedang dengan perawakan umum layaknya lelaki muda, hanya saja wajahnya tampan walau agak feminin. Tapi Onew yakin suara berat Kibum akan terdengar sangat jantan, jika saja Kibum mau memperdengarkannya. Tapi untuk saat ini Onew merasa cukup nyaman dengan senyuman Kibum. Lelaki itu…tidak tampak berbahaya, malah menyenangkan.

“Aku harus meminta maaf padamu,” ucap Kibum. Lelaki itu bergerak menuju samping Onew dan ikut duduk bersandar dinding tak terlihat. Tiba-tiba jauh di atas mereka terbentuk pemandangan langit, pemandangan yang begitu disukai Onew tanpa tahu sebabnya. Mereka berdua menikmati gambaran langit itu dan Onew pun bertanya, “Ada banyak hal yang sangat tidak kupahami dan salah satunya adalah maksud permintaan maafmu. Bisa katakan alasannya?”

“Karena aku yang selama ini tidak paham banyak hal.”

Onew terdiam dan kemudian mengalihkan matanya ke arah Kibum. Lelaki yang tampak lebih muda darinya itu tersenyum namun menyiratkan rasa bersalah. Mungkin ia pun bingung harus menjelaskan segalanya dari mana. Dan akhirnya ia hanya bisa membuat sebait kalimat berbunyi, “Aku adalah sebagian dari dirimu. Pribadimu yang kedua.”

“A..apa maksudmu?”

Key menunjuk langit dan membuat Onew mengikuti arah tunjuknya. Lelaki bermata rubah itu berkata, “Coba katakan padaku bagaimana bisa kau begitu suka menatap langit.”

Onew tak bisa menjawab, walau dia berusaha berpikir sekeras apapun.

Key tersenyum, “Karena aku sangat menyukai langit. Dan katakan padaku kenapa kau begitu mencintai Lee Jinri.”

Lagi-lagi Onew tak bisa menjawab. Ia selalu merasakan berbagai alasan saat ia menatap wajah Jinri, namun tak satupun alasan yang berbekas padanya saat ini. Ia memandang Kibum dengan wajah yang penuh kebingungan dan lawan bicaranya itu pun tertawa kecil, “Tentu saja kau tidak tahu, karena akulah yang pernah mencintai Lee Jinri, yang selalu mencintainya saat aku hidup.”

“Tunggu!” ucap Onew semakin bingung. Alisnya mengernyit dalam saat ia berkata lamat-lamat, “Saat kau hidup?”

“Ya. Saat aku hidup.” Kibum tersenyum sedih. Di bayangannya kembali bangkit ingatan akan sosok Lee Jinri. Wanita itu memiliki senyum keibuan yang indah dan tulus, keceriaan yang menenangkan, sentuhan yang hangat dan lembut, tak ada kekurangan pada diri Jinri bagi seorang Kim Kibum. Kecuali satu hal, yaitu kehadiran Choi Minho di antara keduanya. Setetes air mata mengalir begitu saja bahkan tanpa disadari lelaki mata rubah itu. Onew masih menunggu lanjutan penjelasannya.

“Lee Jinri tidak pernah ada dalam kehidupanmu sejelas yang kau lihat selama ini, nak. Dia hanya pernah hidup nyata dalam hidupku. Dan yang kau lihat hanyalah ilusi dirinya.”

Onew bagaikan tersambar petir, petir dahsyat yang menyengat tiap sel-sel tubuhnya. Kibum meraih tangan lelaki itu dan berkata dengan nada kebapakan, “Jadi, apa kau sudah hidup dengan bahagia selama ini, Jinki-ya?”

Jinki? Siapa?

“Kau dengar pesan-pesan Jinri sebelum meninggal, bukan? Apa kau sudah hidup sesuai harapannya? Katakan sesuatu, Lee Jinki.”

Jinki? Maksudnya… Onew?

“Ah, dan satu hal. Jinri tidak mau kau membenci Choi Minho, ayahmu. Tapi kenapa kau malah berperilaku begitu buruk padanya?”

Mi…Minho? ayahnya?

“WOW, WOW, WOW! Tahan dulu! Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu, Kim Kibum-ssi. Tolong jelaskan perlahan agar otakku bisa mencerna semuanya dengan baik,” tukas Onew. Ia begitu bingung, sangat bingung. Namun semua memorinya selama berada di Korea kembali lagi dan tiba-tiba saja kenyataan seakan menghantam dirinya. Kibum tersenyum penuh arti saat melihat itu.

“Singkat saja, nak. Kau adalah Lee Jinki, anak dari Lee Jinri dan Choi Minho. Namamu diambil dari namaku dan Jinri, sesuai dengan perasaan Jinri yang menganggap bahwa kamilah yang paling menyayangimu. Dan selama kau berada di Korea, sebagian besar hidupmu adalah ilusi dari memoriku, terutama setelah kau koma,” sahut Kibum santai.

Onew memegangi kepalanya, berusaha berpikir perlahan. “Jadi maksudmu, aku tidak pernah bertemu Jinri?”

“Tidak. Tapi kau memang bertemu Kim Jonghyun, Lee Taemin, serta keluarga besar Lee.”

“Aku tidak pernah benar-benar bertemu Minho-Jinri yang jumlahnya amat banyak dan seperti fase pertumbuhan itu?”

“Tidak. Akulah yang bertemu dengan mereka saat aku hidup. Yang kau lihat hanyalah kenanganku.”

“Aku tidak pernah pernah benar-benar melihat Jinri di restoran itu?”

“Tidak. Akulah yang sering mengunjunginya di restoran saat aku masih hidup. Kau pasti bisa mengerti mengapa aku jadi sangat mengaguminya selama aku hidup.”

“Jadi, aku tidak pernah mencintai Lee Jinri?”

Kali ini suara Onew bergetar saat melontarkan pertanyaannya. Kenyataan yang terlalu berat menghantamnya, membuatnya pusing dan frustasi. Dan jika ia kembali mendapat jawaban tidak, mungkin ia akan semakin depresi. Kim Kibum memperhatikan raut wajah Onew dan menghela nafas serba salah. Namun bibirnya tetap mengatakan hal yang enggan didengar Onew.

“Tidak, Jinki-ya. Akulah yang mencintainya. Tapi kau harus tahu bahwa Jinri –ibumu yang takkan pernah lagi bisa bertemu denganmu– sangat mencintaimu sebagai anaknya.” Kibum menepuk-nepuk pelan kepala Onew dan tersenyum menenangkan, “Ia adalah ibu terbaik yang pernah ada. Ia begitu memperhatikanmu. Sebagai orang yang hampir tak mengenal kasih sayang seorang ibu, saat itu aku sangat iri padamu. Kau adalah harta karun terhebat dalam dirinya, tak peduli apapun kesulitan yang telah ia lewati demi kehidupan kalian.”

Mendengar penjelasan itu air mata Onew mengalir deras. Dadanya seakan diremas-remas. Sakit, sangat sakit. Jika memang semua yang ia lalui adalah ilusi dari masa lalu Kibum, itu berarti ibunya memang telah benar-benar pergi. Tiba-tiba saja rasa cinta yang tadinya ia rasakan pada seorang Lee Jinri berganti menjadi rasa cinta seorang anak pada ibunya. Dan air matanya semakin deras saat ia mengingat tiap belaian, kecupan, nyanyian serta tawa yang ditujukan ibunya padanya. Ia ingin menangis keras, namun sulit. Akhirnya ia hanya dapat terisak tanpa suara sementara Kibum menepuk-nepuk punggungnya.

“Jika kau berpikir ayahmu tidak menyayangimu, maka sebenarnya kau salah. Walaupun aku dan Jinri meninggal setelah aksi kejar-kejaran dengan ayahmu, aku tahu bahwa ia berpikir jika kalian sudah berkumpul bersama sebagai suatu keluarga maka ia akan mendapat kekuatan untuk melawan perintah keluarga angkatnya. Ia bertindak dengan caranya sendiri,” jelas Kibum. Senyumnya kembali mengembang.

“Keluarga…angkat?”

“Choi Minho ayahmu sama sekali tidak memiliki darah keturunan keluarga Lee. Ia hanya ingin hidup dengan keadaan yang lebih baik setelah berkali-kali hampir mati saat ia kecil. Kesempatan datang padanya saat Tuan Lee hadir. Putra Lee yang sebenarnya telah meninggal dunia, namun memiliki penampilan yang sangat serupa dengan Minho. Untuk menenangkan hati Nyonya Lee yang saat itu sakit-sakitan, maka dibentuklah Minho sedemikian rupa menjadi seorang anggota keluarga Lee. Lee Minho. Namun ibumu tetaplah orang yang paling mencintainya selama ia hidup.”

“Lalu?”

“Mereka yang saat kecil hidup bertetangga akhirnya menikah diam-diam dan menghasilkan dirimu. Tapi kau tahu bahwa status sosial memegang peran yang sangat penting, bukan? Minho dipaksa menikahi wanita lain dan meninggalkan ibumu. Namun ia terus berusaha mendapatkan kembali ibumu walau akhirnya tak pernah berhasil.”

Kibum menampakkan ekspresi sendu saat menceritakan hal itu. Onew baru teringat pada kenyataan penting bahwa lelaki itu juga mencintai ibunya. Dan lelaki itu pula yang berusaha melindungi ibunya dan dirinya hingga detik terakhir.

“Terima kasih,” kata Onew. Ia tersenyum tulus, “Karena kau telah mencintai ibuku dan kau mau menjagaku. Kalau boleh aku tahu, kenapa kau ada dalam diriku?”

“Karena janjiku pada ibumu, nak. Dan sekarang janjiku telah terpenuhi,” jawab Kibum. Ia beranjak dari tempatnya dan berdiri menatap warna langit yang berubah senja. Ia menoleh kembali pada Onew dan berkata, “Sekarang waktuku sudah habis, nak. Tugasku juga sudah selesai. Maaf karena membuatmu kecelakaan namun semua itu agar kau tahu betapa ibumu sangat menyayangimu.”

“Kau mau ke mana?”

“Ke tempat di mana aku seharusnya. Jika kau masih bingung, maka bertanyalah pada hyung-ku ataupun ayahmu. Semoga mereka masih ingat untuk memberi tahu.”

Appa.”

Kibum yang hampir melangkah tertegun. Perlahan ia kembali menoleh dan mendapati Onew yang menatap sendu ke arahnya, “Terima kasih. Aku menyayangimu.” Senyum Kibum kembali kembang indah saat tubuhnya semakin pudar dengan sinar yang berpendar-pendar dari dirinya, “Aku juga menyayangimu, nak. Sekarang, biarkan aku mencintai ibumu untuk selamanya…”

Ya, untuk selamanya.

Dan katakan pada hyung-ku bahwa aku juga sangat mencintainya.”

***

“Jinki!!”

“Ya Tuhan!”

“Terima kasih, Tuhan!”

Onew tak bisa merasakan lagi siapa yang memeluk dirinya. Sebagian tubuhnya masih mati rasa dan matanya masih kesulitan menangkap pemandangan yang ada di hadapannya. Ia bahkan tidak yakin bisa bersuara. Untuk saat ini, ia biarkan saja semua terjadi padanya.

“Jinki, kukira Tuhan akan mengambilmu dariku sama seperti saat Ia mengambil Jinri dariku. Ya Tuhan, terima kasih…”

Onew bisa merasakan bahwa itu adalah suara ayahnya, Choi Minho. Namun ia belum bisa berpikir lurus untuk merangkai kata-kata. Ia merasakan pelukan hangat di tubuhnya serta dapat melihat ekspresi penuh ketakutan di wajah lelaki itu dan ia tersenyum saat mengingat satu hal.

Jika kau berpikir ayahmu tidak menyayangimu, maka sebenarnya kau salah.

A..beoji…”

Itulah kata pertama yang keluar dari bibir Onew dan sontak membuat Tuan Lee yang aslinya bernama Choi Minho itu mengeluarkan air mata. Lelaki paruh baya itu semakin mengeratkan pelukannya pada Onew dan terisak pelan, tak lagi malu pada orang-orang yang melihat tangisnya. Dari balik punggung Minho, Onew bisa melihat beberapa orang yang dikenalnya, termasuk Kim Jonghyun dan Lee Taemin. Bahkan kedua orang tua angkatnya di London. Oh, berapa lama ia tidak sadarkan diri?

Abeoji, aku bertemu dengan eomma,” bisik Onew. Gerakan Minho terhenti saat mendengarnya. Ia melepas pelukan untuk menatap langsung wajah putranya. Onew tersenyum lemah, “Aku harap kau mau menceritakan tentang dirinya padaku. Aku tahu, dia wanita yang amat cantik dan mengagumkan…”

Minho kembali memeluk tubuh Onew. Kenangannya akan Lee Jinri kembali lagi. Kali ini ia benar-benar tidak menyesal pernah mencintai Jinri dalam hidupnya. Perasaan itu semakin kuat saat Onew menambahi, “Dan aku juga tahu betapa eomma sangat mencintaimu.”

“Aku juga sangat mencintainya, anakku. Sangat mencintainya…”

Saat mata Onew bertemu pandang dengan Kim Jonghyun, lelaki itu berkata dengan penuh rasa bangga, “Sir, adikmu juga menyampaikan pesan padaku.”

“Mmm? Apa pesannya?” sahut Jonghyun tenang, seakan sudah menduga hal itu. Onew tersenyum penuh saat mengatakan, “Dia berkata bahwa dia juga sangat mencintaimu.”

“Mungkin aku egois jika ingin mendengarkan lebih banyak, tapi terima kasih banyak, nak.”

Pemandangan yang penuh keharuan itu membuat hati Lee Taemin terasa hangat. Sadar bahwa ia tidak begitu dibutuhkan di situasi itu, ia pun keluar kamar. Ia sangat bersyukur kehidupan Tuan mudanya terlihat akan lebih baik. Saat berada di luar kamar pasien, ia tertegun saat dua bayangan yang sudah amat familier baginya kembali muncul. Kali ini Taemin yakin dirinya sadar dan tidak bermimpi. Dua bayangan itu tersenyum ramah padanya. Dan senyuman itu dibalas Taemin dengan sama tulusnya.

“Terima kasih.”

Taemin tak membalas ucapan terima kasih itu karena bayangan tersebut sudah lebih dulu hilang dari pandangannya. Dua bayangan itu, bayangan yang seperi sepasang malaikat bagi seorang Onew Lee atau lebih tepatnya Lee Jinki. Dan Taemin tidak tahan untuk tidak memandang langit saat itu, langit seusai hari natal yang tampak kelabu serta udara beku yang mengabut di luar jendela rumah sakit.s

Dan gelung awan di langit bagaikan memori yang telah lalu.”

_FIN_

38 thoughts on “[FFP 2013 – 3] Him Inside – Part 5 (End)

  1. Hueeee, nangis saya, terharu 😥

    Jinki= Jinri-Kibum, hebat deh Bella merangkai namanya.

    jadi ini nyeritain Kibum yg ada di tubuh Jinki, Him Inside, saya ngerti deh^^

    Saya sukaaaa banget ffnya, terjawab bgt penasaran saya di part2 sebelumnya..

    Saya dukung ff ini bisa menang Bella🙂

    1. mian baru balas komen d part ini, eonn… takut dmarahi admin kalo lgsg balas semuanya. hehehehe…
      iy, jadi tuh Kibum ada d tubuh Onew untuk nunjukin masa lalu sekaligus melindungi Onew sesuai janjinya sama Jinri. Him Inside jadinya^^
      gomawo udh baca n komen d setiap partnya, Lydia eonni. amiiin…

  2. Ahhhh endingnya bikin mewek ㅠㅠㅠㅠ
    bingung mau komen apa.. daebaklah pokoknya ㅠㅠ)b
    Bella ditunggu karya slnjutnya ^^

    1. aiiih… sini saya ambilin tissue dulu, atau langsung perlu ember? hehehe…
      gomawo udh baca n komen dari part awal taurusgirls-ssi.. hebat banget deh tebakan2 d part2 sebelumnya. saya jadi terharu. hehehe…
      oke, nantikan aja yg selanjutnya~~

  3. Maaf ya author aku baru comment sekarang..aku baca tiap chapter kok..dan di end chap ini gak bisa lagi nahan air mata..good job..semoga menang ya..ditunggu lagi karya yg lain..

    1. it’s oke, Lisa-ssi. author sangat terhibur dan berbangga hati selama readers membaca n menikmati cerita yg disuguhkan, tapi ttp lebih afdol kalo dibarengi komen readers^^
      wah, ntar author sediakan ember d tiap cerita untuk nampung air matanya, mumpung lagi krisis air d kost-an. hahaha…
      gomawo, Lisa-ssi. amiiin… tetap nantikan karya lainny~~

    1. hmm… iy, sih. emg g terbayangkan kalo jadi Jinki dalam cerita ini. but it’s worth for him.
      gomawo udh baca n komen d tiap chappie-nya, Hyora-ssi. oke, nantikan cerita2 selanjutnya, ya~~

  4. Koimil gaya… mera dil gaya… kya betaon yaro…

    jempolan banget ni FF….
    Seru ampe akhir, menyentuh banget…..
    Bella bisa mempertahankan ‘greget’nya sampe part akhir
    Part akhir yang bener-bener klimaks…

    Walau sempet gondok sama Minho di Part 4, tapi sama seperti yang aku harapkan di komen part 3,
    bahwa aku pengen Jinki gak benci sama Tn. Lee a.ka. Choi Minho, ayahnya di ending
    Terkabul Ya Allah… terkabul…. *Yaasin-an
    Aku juga suka banget dimana gak ada yang saling membenci pada akhirnya
    Walaupun terjadi konflik ampe berdara, lho… dan berujung kematian
    Tapi bener-bener gak ada dendam yang tertinggal di antara mereka
    Untuk kisah sinetron Indonesia ala produser India
    (aduh… maaf, ampun, bukan maksud rasis… Cuma perumpamaan aja) *dibejek Punjabi sekeluarga
    Bisa jadi Kim Jonghyun dan Lee Jinki sangat membenci Minho
    karena aksi kejar-kejaran itu, dua orang terpenting dalam hidup mereka meninggal
    Tapi nggak… Nggak ada yang berlebihan di cerita ini…
    Jinki juga menerima semuanya dengan sangat dewasa, seperti yang diminta sang ibu dan sang paman ‘appa’
    Ini sweet banget, Bella…..

    Dari segi bahasa, aku No Comment…
    Ake ngerasa gak ada yang perlu diperbaiki…. Well done!!!
    Mungkin ada yang lebih kompeten buat kasih masukan tentang hali itu….

    Saya do’akan yang terbaik deh, buat FF ini
    Tapi lom baca karya author yang laen juga, sih…..

    Tetep bertahan ma genre ini, kayaknya oke banget, kamu
    The Devil’s Game juga salah satu yang aku suka banget…
    Terus berkarya, ya….
    Ceritamu (apalagi yang main castnya suamiku…, abang ayam-kelinci, *dijambakMVP
    aku pasti gak bakal absen baca n komen….)
    PS: Itu kalo pulsa lagi memadai… akhir2 ini rada kere….

    Aduh, maaf ya…. ngomongnya kemana-mana…
    Sukses selalu buat Bella, erimakasih atas cerita amazing mu…
    Terus belajar dan memperbaiki diri melalui karya2mu yang lain…

    Annyong….

    1. wah, ininih yg paling suka nyuguhi bollywood d tiap awal comment, haha…. bikin aku nebak kira2 d film india mana kalimat itu dinyanyikan… *untung tahu*
      waaah… jeongmal gomawo, Miina Kim-ssi. kamu salah satu readers dengan komen paling panjang d tiap chappie. hehe… aku suka banget baca komen kamu.
      hehe… aku mmg g mau kayak film2 Indonesia yg bikin cerita jadi sampe season 100 gara2 dendam kesumat tak terbalaskan.
      waaah… cinta banget sama Bg Ayam, y? udh baca Unconcious Case -yg aku n Euncha eonni bawain d FFP tahun lalu? d situ main cast juga s abang ayam.
      gomawo, ternyata penggemar Devil’s Game juga. hehehehe…
      nantikan cerita2 selanjutnya, y. hohohoho….

      1. Bwahahahahahhaaaa…. Iya, nih, lagi demem nyanyi lagu Bollywood akhir2 ini
        Unconscious Case….? Malah baru denger sekarang… *ditendangBella Euncha
        Ntar aku search, baca n komen deh… InsyaAllah…. Kalo sisa kuota masih ada *berharap besok gajian
        Iya, aku juga suka Devil’s Game
        Cara kamu deskripsiin scene actionnya bagus banget
        Aku bisa ngebayangin serunya pertarungan para karakter2 disana
        Siiip…. Tak tungguin deh, ceritamu yang lain yang isinya abang Unyu

  5. Ntar… Tuh kalimat terakhir siapa yang ngomong? Taemin…? Kok…?
    Jangan bilang Kibum juga buat Taemin ‘melalang buana’ kayan Jinki juga…
    Waduh… Sempet-sempetnya kamu ninggalin misteri di akhir….
    *cubit abang Jinki…

    1. yeeee.. bukan, atuh. aku cuma mengutip kalimat Key yang jadi tema cerita ini. tapi itu ttp tergantung interpretasi pembaca aja, deh. hoohohoho….

      gomawo, Miina-ssi~~

  6. aku berusaha untuk nggak menangis, meski yah, emang nggak nangis. satu hal, saya nggak pernah tahan untuk terharu dengan genre family hurt kayak gini. ceritanya menyentuh, cuma ada bagian yang agak aneh, masa ya onew nggak nyadar di lukisan ada gambar key dan dia nggak ngenalin gtu? sedangkan dia tahu namanya. trus kenapa namanya bisa berubah, ya?

    maaf, ya, bella, belakangan ini saya dimakanin sama cerpen bergenre mistery dan detektif jadi agak-agak begini, deh. atau emang saya yang nggak nyambung? heuh, sekarang kok merasa jadi anak durhaka, ya?

    1. hmmm… sebenarnya aku juga sempet kepikiran hal satu itu. Lee Hana-ssi merhatiinnya sampe detail banget, ya. kasih jempol, deh. menurutku itu karena Onew udh dimasuki roh Kibum dan Kibumlah yg mengendalikan pikiran Onew untuk g merhatiin banyak hal secara detail supaya semua sesuai sama yg direncanakanny dan masa lalunya. kibum membuat pikiran Onew untuk nggak menghiraukan hal2 yg dianggap g penting, seakan hal itu sudah biasa.

      aku appreciate banget sama komen Lee Hana yg setia baca n komen dari awal sampe akhir. hohoho… anak durhaka? lho?

      1. baca sambil manggut-manggut.

        hemm, cuma ngerasa belum bisa ngepush diri buat ngebahagiaan mama secara maksimal aja. masih banyak yang beliau keluhkan sama aku. jadi curhat nih kan? hehehe. dan, sama-sama bella.

        1. waah… Hana-ssi cinta banget sama ortu, ya. nggak terpikirkan kalau ceritaku bisa memancing perasaan itu dari diri pembaca… kita semua mmg pengen bikin ortu kita bahagia

          hehe…. terima kasih, Hana-ssi~ semoga ceritanya menghibur~

  7. Bagus banget ceritanya. Sorry baru coment ϑȊ part 5. Demi nyambungnya cerita.🙂
    Sumpah bagus ceritanya. Dari sekian FF, aku gak pernah baca ff sebagus ini. Semoga menang yaaak..🙂

    1. gowawo, Kim Hyun-ssi~
      ga papa kok… yang penting udah nyempetin waktu buat baca n komen. wah, aku jadi melayang banget karena dipuji nih. hohoho….

      amiiin….
      nantikan cerita yg lain, y~

  8. fanfict nya keren banget
    endingnya juga gak mengecewakan
    ciri khas author Bella Jo

    entah kenapa aku senang pas jinki manggil kibum, appa,
    dan manggil minho abeoji

    but, ada sdikit typo kyknya (satu kata-klo g salah-), lupa yg dbagian mana

    maaf kalo di chapter sblumny nggak ninggalin jejak, kuota internet lagi terbatas

    ditunggu karya lainnya

    1. makasih, banyak Keywimz-ssi~
      haha.. aku ingat kamu sering komen juga d ceritaku yg lain^^

      panggilan itu sengaja supaya adil buat Minho maupun Kibum. hohoho…

      oh, typo? makasih banyak diingetin. aku akan berusaha memperbaikinya lain kali.
      ga papa, kok. author juga sering malas ngisi kuota kalo udh habis. makasih banyak atas komennya, Keywimz-ssi^^

  9. merinding… ff mu keren baget author. Feelnya dapet banget T.T hua mewek,pengen deh ada sequel backstory key-jinri. Tp kibum nya ngenes ya…. gk jadi deh wkwk kasian liat dia ngenes gitu ‘-‘
    keep writing author ditunggu banget ff author selanjutnya~

    1. gomawo dnrw-ssi^^
      hehe… pengen juga buat cerita sequel lanjutan untuk Key-Jinri n ngejelasin gimana sebenarnya kenangan yg sempat tercipta sebelum keduanya meninggal. tapi bakal rumit banget karena mau g mau harus ngaitin sama Minho lagi n Key-nya yg bakal kasihan…T_T

      ok, wait for next story~

  10. wah keren abis bella eon aku suka banget sama ff yg bergenre begini eon
    BELLA EONNI DAEBAK
    Semoga ff nya menang
    *maaf rada abstrak gk bisa komen dg baik dan benar

  11. Author nya keren abisssss!~~~ *_*
    Aku gregetan banget baca ini… akhirnya ending juga huhu..
    Kebetulan2 yang ada di cerita itu nyambung banget..terus bahasanya juga enak..
    Biasanya kalo baca ff sequel itu aku cepet bosen..konfliknya ga muncul2 dan kadag2 terlalu menceritakan hal2 yg kurang penting..
    tapi aku baca ini bener-bener nikmatin banget..
    Good Job author!!~ Nice Story!!~

    1. kekekek… kalo g ending takutnya readers jadi pada bosen ama cerita yg super rumit ini. hahaha…
      wah, author senang kalo ff ini bisa dinikmati readers^^

      gomawo, Azza-ssi. tunggu cerita selanjutnya, y~

  12. WAAHH! dengan berselingny waktu, tambah lama ff eonni semakin bagus.
    saya sampai hampir mewek jadinya…
    huhuhuhuhu~~~~
    saya spechlees mau bilang apa…
    YANG PENTING FF EONNI………
    DAEBAKKK!!
    semoga, eonni menjadi pemenang di FFP ini (amiinn~~)
    keep writing, eon^^

  13. woah, baguus. Cerita ini ditutup dengan bagus. Suka deh. Rasanya setelah pusing sama part-part sebelumnya, part terakhir ini jelas sekali. Seperti biasa, ya. Bella Jo selalu keren gini🙂

    Nice😀

  14. Ini keren, bisa ya kepikir ide seperti ini. Onew seperti diperkenalkan dengan masa lalunya dengan cara yang berbeda *dan jujur, menyeramkan kalau dibayangkan*. Bayangin aja dirimu dikuasai oleh roh orang lain yang asing bagimu.
    Tapi menyentuh banget, apalagi part ini. Walaupun di part2 awal agak membuatku bingung, akhirnya semua pertanyaanku terjawab dengan jelas. Key baik banget sih, dan Minho, masa lalunya kompleks sekali. Onew lega pastinya. Dan Taemin ikut bahagia di akhir.
    Salut sama authornya yang berani beda.🙂

  15. part 5 topcer abiis~~~!!! apik tenan ngemasnya..
    endingnya keren banget seriusan… kalo aku baca malam hari, aku yakin aku nangis hebat bacanya..

    kak bella, thumbs up buat ceritanya!!! setelah membiarkan pembaca terkepung dalam kebingungan dan kepingan ilusi si Onew yang suer bikin aku nyut2an, tapi endingnya bikin aku ‘fiuuuh’ lega. semua plothole-nya ketutup dengan baik.

    mungkin ada beberapa typo, tapi yasudahlah..xD

    keep writing kak!!!! ^o^/

  16. Akhirnya endingnya bikin nangis pembaca. Sangat terharu dan menyentuh. Mengingat bagaimana kasih sayang Jinri sama onew- alias anaknya mengingatkan aku sama eomma yg sgt jauh dariku😥

    Gak nyangka bakal ada ff ceritanya serumit ini namun endingnya sangat memuaskan pembaca. Asli, aku nangis lagi mengingat cinta Kibum sama Jinri yg bgtu tulus. Trus bagaimana Onew memanggil ‘abeoji’ sama tuan Lee utk pertama kalinya, sangan menyentuh!
    Duh gak tau mau komen apa, cukup kasih 4 jempol dari Onew dan Key buat Bella eonni.
    Good job! and keep writing eonni!😀

  17. Maaf baru komen. Komen nya di akhir lagi. Padahal aku udah baca dari awal😀

    Sumpah nangis. Terharu…
    Jadi, Him Inside, Key’s i side. Iya kan? Daebak akhirnya…

    buat kyk gini lagi dong… hehe

  18. Jadii!! Woaa, fantastic banget. Jadi semuanya cuma halusinasi? Yaampunn, baru ngeh di part ini. Keren banget!
    Bahasanya bagus. Cerita tentang halusinasi masa lalu. Gak pernah nemu cerita kayak gini.

  19. DAEBAK BANGET LAH THOR INI FF :)))
    Sepanjang ff pas aku nemu bener hal hal baru yang bikin aku mikir “oh iya iya, bener juga ya kaya gini. Berarti sebenernya ini itu ini: aku seketika langsung mikir “Aduh ini authornya pinter amat bikin ceritanya”
    Pokoknya suka bangett thor, bener bener bikin mikir. Sempet mikir juga kok author bisa kepikiran sampe gitu. Baru ngeh kalo nama dua orang yang sayang sama Onew itu Jinki. Kirain si berhubung si Kibum sayang sama anak Jinri akhirnya yang nentuin nama si Kibum, dan Kibum ngasih nama anak itu Onew. Suka suka sukaaaa

  20. Sebenernya dari awal part aku mo komen…
    Tapi gak tau mo komen apa…
    Dan di part terakhir aja aku komen.a..

    Gak tau kenapa airmata aku ngalir gitu aja pas selesai baca cerita ini….
    Sedih plus plus deh poko.a…
    Ahh…apalagi yya??aku bingung..udah ahh…

  21. dach aq duga kl ending nya bkl ky gn.
    Terharu bcnya ad kt ” yg g aq ngerti sih tp feelnya dpt suka ma nie ff: )
    Btw mian br komen soalnya mau kmn tp ko g bs y?
    Aq Aprilia slm knl y…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s