A Person From Paradise [2.2]

A Person From ParadiseTitle                 : ‘A Person From Paradise’

Author              : Aidazzling

Main Cast        :

–          Gam Gyurin (Ren)

–          Choi Minho

Support Cast   :

–          Lee Jinki

–          Choi Jinri (Sulli)

–          Kim Kibum (Key)

Length              : Twoshot

Genre               : Angst, Fantasy, Romance

Rating                          : Teen

Summary          : ‘Pria itu. Pria itu berada di tempat yang tak dapat di jangkau. Tempat indah dimana salju berjatuhan tanpa merusak bunga-bunga yang bermekaran. Tapi, pria itu.

Dia tetap berdiri di tempatnya dan menunggu. Menunggu separuh jiwanya yang hilang untuk kembali bersamanya. Menunggu untuk bersama di dalam keabadian yang menentramkan.

Ren memejamkan kedua matanya dan menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Ia dapat mengetahui sosok pria di sampingnya tengah memperhatikan dirinya dengan mata bulat yang indah.

“Aku suka tempat ini,” ujar Ren sambil memandang padang rumput luas yang ada di hadapannya.

“Aku senang jika kau menyukainya,” sahut Minho. Itulah nama pria tampan yang diam-diam menggetarkan hari Ren. Dirinya mengetahui nama Minho setelah pertanyaan yang sama terus timbul di oraknya sampai ia bertanya pada Minho sendiri.

“Minho-ssi, kenapa di tempat ini hanya ada dirimu?” tanya Ren sambil menyelusuri pahatan indah di wajah Minho. “Anggap saja Tuhan memberikanku hadiah tempat cantik ini.” Ren menautkan kedua alisnya.

“Lalu, apa kau tidak kesepian?” Minho lagi-lagi tersenyum -walaupun kini tak mengarah ke Ren-.

Aniyo. Tuhan berjanji padaku akan mengirimkan orang yang kucintai bersamaku, secepatnya dan aku percaya itu.” kini Ren terdiam, ia masih memadangi wajah Minho dan terus berfikir.

“Gyurin-ah? Mau tinggal bersamaku?” kedua mata bulat Minho memandang bola matanya dengan teduh dan lagi-lagi membuat dirinya merasa begitu nyaman.

Ren terus terdiam, membuat Minho seakan mengerti dengan maksud tatapan miliknya. Perlahan pahatan indah di wajahnya memudar membuat pria itu menatap lurus ke depan.

“Kenapa? Kau mengatakan kau suka tempat ini.” Ren mengedipkan matanya berkali-kali begitu pandangannya memudar, tapi tak ada gunanya. Semuanya memudar sampai akhirnya kegelapan menyelimutinya.

“Minho-ssi?”

“Minho?”

“Minho?”

Ren kembali mengedipkan matanya, tapi kali ini lebih sulit dari sebelumnya. Cahaya matahari kembali menerobos masuk kedalam pupil matanya, ia mencoba menebak-nebak dirinya berada. Padang rumput? Rumah mungil milik Minho?

Tapi semuanya berbeda, bau obat menyeruak memasuki indera penciumannya. Warna putih yang sama dengan dinding rumah Minho sangat membuatnya pusing tak seperti sebelumnya.

Ia merasakan perih di kulit kakinya saat ia berusaha untuk bangkit. Nyatanya ia menemukan dirinya berada di atas ranjang rumah sakit, ruang rawat dan elektrokardiogram yang memantau perkembangan jantungnya. Sedetik kemudian ia terisak di tempatnya dengan keheningan yang memenuhi sisi ruangan itu.

“Gyurin-ah, kenapa makanannya masih banyak sekali?” tanya seorang wanita dengan binar hangat pada Ren yang melemparkan pandangannya ke luar jendela kamarnya. “Aku kenyang,Eomma.” jawab Ren tanpa mengalihkan pandangannya.

Wanita itu mengambil tempat di pinggir ranjang Ren, tangannya terjulur untuk membelai rambut Ren dengan lembut. Sikap putri semata wayangnya membuat dirinya kehabisan akal. Diraihnya Ren dan membawanya kedalam dekapannya. Lagi-lagi gadis itu tak berkutik, entah dia tengah menikmati hangatnya pelukkan Ibunya atau ia memang tak menghiraukannya.

Sementara gadis itu menikmati setiap sudut yang dapat ia jangkau dari tempatnya, sang Ibu tengah berjalan menuju Jinki dengan nampan berisi sarapan milik Ren yang nyaris tak ia sentuh.

“Ah, aku benar-benar kewalahan. Sejak ia sadar, ia lebih menutup dirinya.” ucap Nyonya Song –panggilan Ibu Ren- diakhiri dengan desahan. “Ini bahkan pertama kalinya ia tak menceritakan alasan dirinya menangis. Aku benar-benar sedih melihatnya.” tambahnya.

Jinki memandangi air wajah Ren yang kelam. Nyonya Song sudah berlalu begitu dirinya menghampiri Ren yang terfokus pada satu titik. Ingin sekali tangannya membelai helaian rambut bergelombang Ren yang terjuntai dengan manis.

“Ren-ah? Masih marah padaku?” gadis itu diam.

“Maafkan aku. Tapi itu hanya novel, kau tidak mungkin kan merajuk hanya karena novel yang bukan milikmu kan?” Ren menoleh, menunjukkan sorot mata tajam dengan lingkaran hitam yang tersamarkan dengan rupawan.

“Bukan novel. Dan aku sama sekali tidak marah dengan Oppa, bahkan jika aku mengatakan padanya Oppa takkan bisa mengerti. Lebih baik Oppa pergi, aku ingin sendiri.” sahut Ren tanpa memperdulikan Jinki yang masih terpaku di tempatnya berpijak.

Mianhae, besok aku akan datang lagi. Annyeong,” dan akhirnya lelaki itu membalikkan badannya, perlahan melangkah sampai hilang di balik pintu kamarnya.

Ren benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi. Pertemuannya dengan sosok pria bernama… Tunggu, ia bahkan melupakan nama pria itu! Masih dengan posisi yang sama, dirinya merapatkan punggungnya di kepala kasur. Kepalanya menonggak menatap langit-lagit kamar, mencoba mengingat-ingat nama sosok pria jangkung tak dapat ia temukan di dunia nyata.

*****

Ren menatap hamparan rumput sejauh yang di pandangnya. Dirinya tahu di mana tempat ia berada sekarang, terlebih ketika ia menangkap sebuah punggung tengah berdiri tegap. Sebuah senyum terukir di wajahnya begitu sang pria membalikkan badannya.

Sang pria tidak memberikan senyum yang ia sukai, dengan nanar ia menatap Ren. Kini sepasang kaki jenjang itu melangkah ke arahnya. “Gyurin-ah, tinggal-lah denganku,” ujarnya dengan lirih.

“Tapi, tapi… Aku tak bisa! Eomma, Appa… Semuanya menungguku! Aku tak bisa meninggalkan mereka!” tak ada secercah cahaya di wajah kelam milim pria itu, seolah  dia baru saja kehilangan seseorang yang berharga.

Ren meraih tangan besarnya dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. “Tinggal-lah denganku! Kau bisa tinggal di rumahku! Kita bisa berangkat bersama ke sekolah!” sepasang kelereng miliknya menatap milik pria itu dengan yakin.

“Kita bisa hidup bahagia di sana, Minho-ya!”

Ren terdiam. Sebuah nama baru saja ia ucapkan, sebuah nama yang membuat kepalanya sakit bukan kepalang.

Lalu Ren menatap Minho yang masih berdiri di hadapannya dan perlahan memudar. Dirinya masih dapat menangkap satu hal. Sebuah senyuman, senyuman hangat yang diiringi dengan kata manis yang mampu menggelitik perutnya walau kepalanya tengah berperang melawan rasa sakit. “Choi Minho? Itukah namamu?

Ren terbagun. Gadis itu mendapati dirinya terlelap di ruang musik dengan seragam yang masih lengkap melekat di tubuhnya.

Ia memandangi jejeran tuts di hadapannya tanpa mencoba untuk memainkan jemarinya di atas mereka yang memanggil-manggil namanya. Ia menonggak, menatap langit biru berawan dari balik dinding kaca.

‘Aku tidak mau! Aku tidak mau, Appa!’

‘Jika Appa terus memaksa, aku akan bunuh diri! Aku tak peduli!’

Kepingan ingatan meluncur keluar dari tempatnya. Rasa sakit itu kembali menyerang saat dirinya mencoba untuk kembali membongkar semuanya, semuanya yang dirinya pernah lupakan.

*****

Ren mencoba mempercepat langkahnya walau rasa sakit kian menusuk tulang kakinya. Tak memperdulikan kelamnya langit beserta mega-meganya, ia berlari pelan. Ia menaikkan tudung jaketnya hingga menutupi kepalanya sebelum anak-anak hujan jatuh membasahi kepalanya.

Langkahnya melambat ketika mendekati gerbang besi yang berdiri menjaga sebuah rumah di dalam sana. Dengan ragu-ragu dirinya melangkah di jalan setapak yang diapit dengan taman kecil di halamannya.

Jemarinya menekan tombol di sisi pintu kayu yang ada di hadapannya. Cukup lama orang di dalam sana merespon keberadaannya hingga seorang wanita muncul dan membukakan pintu untuknya.

“Gyurin?”

“A-Annyeonghaseyo~” Ren membungkukkan badannya dan menyingkirkan pertanyaan yang timbul kala wanita itu menyebut namanya.

“Ah, masuklah.” dia mengikuti wanita yang menuntunnya menuju sebuah ruang tamu di dalam rumah tersebut. “Kenapa ada di sini? Bukankah tempat ini jauh dari rumahmu?” tanya wanita itu sambil menyunggingkan senyumnya.

“Aku, ada keperluan dengan Jinri. Apa dia ada?” wanita itu mengerutkan dahinya sebelum melangkah menaiki tangga yang berada di dekat pintu masuk.

Samar-samar dirinya mendengar wanita itu memanggil Jinri dari kamarnya. Bahkan ia dapat mendengar keterkejutan Jinri begitu mendengar keberadaan dirinya. Jinri turun lebih dulu dengan sang wanita mengekorinya.

Sunbae, apa ada yang bisa ku bantu?” Ren tersenyum dari tempatnya, “Ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Bisa kan?” Jinri menoleh ke arah wanita –yang sangat dipercayainya adalah Ibu Jinri- dan mendekati Ren yang duduk di salah satu kursi setelah Ibunya mengangguk.

“Bicaralah sesukamu, Ahjumma akan kebelakang membuatkan minuman dan cemilan untuk kalian.” Ibu Jinri menghilang dari pandangannya, kini ia beralih memandang gadis manis yang duduk di sampingnya.

“Choi Minho. Dia ada hubungannya dengan semua ini kan?” Jinri hampir terjungkal saking kagetnya mendengar apa yang baru saja ia katakan. “Kenapa semua orang menyembunyikan semuanya?” lanjut Ren.

“Bantu aku… Bantu aku agar mengetahui semuanya… Jangan biarkan mereka membuat Minho terlupakan…” lirihnya.

“Kenapa kau berkata seperti itu? Minho Oppa sudah lama di lupakan, apa kau lupa? Dulu kau sama sekali tidak ingin bersamanya, kau membencinya,” rasa panas datang dan membuat matanya digenangi air mata.

“Kau bahkan membuat percobaan bunuh diri, mencoba membuat dirimu enyah dari dunia ini. Tapi Tuhan menukarkannya. Minho Oppa mencintaimu, ia menerima perjodohannya setelah ia jatuh hati padamu.”

“Suatu malam, Minho Oppa mendengar berita bahwa kau dilarikan ke rumah sakit karena percobaan bunuh dirimu lagi. Dia sangat khawatir, ia membawa motornya dengan kecepatan tinggi di saat hujan sampai motor yang ia kendarai tergelincir. Dan meledak,” Ren membekap mulutnya dengan telapak tangannya, air matanya berderai.

Oppa tak pernah pulang lagi. Keesokkan harinya kau sadar namun dengan ingatan yang kosong. Kau melupakan semuanya, melupakan perjodohanmu. Tapi, tak apa. Dari awal kau memang tak pernah bertemu dengan Minho Oppa, jadi tak sepatutnya kau sedih.” Jinri menyeka air matanya dan mencoba memberikan senyum terbaiknya.

Ren meraih tangan Jinri, ia menggenggamnya erat berusaha menyakinkan gadis dengan senyum manis itu.

“Aku mencintainya Jinri-ah. Dia hadir di setiap mimpiku, memintaku untuk tinggal bersamanya. Aku menyukainya, senyum hangatnya, dekapannya. Aku menyukainya.” tutur Ren menyelipkan senyum di tangisannya.

“Kau merasakannya? Kau merasakannya?” dia mengangguk berkali-kali menjawab dengan mantap pertanyaan Jinri.

Jinri menatap gadis di hadapannya yang terus tersenyum di dalam tangisannya, lebih tepatnya ia tersipu malu menyatakan perasaannya pada Jinri. Jinri merasakan kebahagian di dalam dirinya, bahagia karena perasaan kakaknya terbalas. Hari ini, walaupun begitu lama.

“Aku… Aku harus pergi sekarang,” lagi-lagi Ren menyunggingkan senyumnya lalu memeluk Jinri, menumpahkan perasaannya pada adik dari Choi Minho. “Sampaikan permintaan maafku pada Ahjumma, annyeong.” Ren bangkit dan melangkah keluar dari rumah kediaman Choi.

“Jinri-ah? Di mana Gyurin?” Ibu Jinri datang dari arah dapur sambil membawa nampan berisi teh hangat dan biskuit.

Jinri menoleh dan menunjukkan matanya yang masih berlinang air mata ia pun tersenyum. “Eomma… Dia mencintai Minho Oppa.”

Ren berjalan perlahan menikmati tiupan angin yang menerbangkan helai rambutnya. Ia menonggak begitu perasakan langit menjatuhkan anak-anak hujan yang kemudian menurunkan sang induk.

Tak berlari. Tak menghindar. Dirinya masih menonggak menatap langit yang kelam. Sebuah senyum ia sunggingkan untuk sang cakrawala yang tanpa iba mengguyurnya. Ia bagai orang gila. Itu benar.

Sedih. Senang. Pedih. Ia sudah merasakannya pada waktu yang sama. Alasan dari semua itu adalah satu nama yang sama. Choi Minho.

Walaupun sangat sulit untuk menerima kenyataan yang dilontarkan oleh Jinri, tapi ia bahagia. Bahagia karena dirinya menyadari bahwa kini hatinya telah berlabuh untuk Choi Minho. Seorang pria yang berada jauh di sebuah tempat yang entah rimbanya.

*****

Ren menerawang kembali saat Minho dengan senyum hangat memandangnya, menggenggam tangannya dan menariknya untuk berlarian. Semuanya kembali berkecamuk. Bagai gulungan film yang terus akan memutar dengan acak perjalanan hidupnya. Termasuk ingatannya yang telah lama ia lupakan.

Tanpa ia sadari sebulir air mata jatuh dari sudut matanya lalu diikuti dengan segerombolan lainnya.

“Ren-ah? Kau menangis? Ada apa?” dengan cepat Ren menghapus jejak air matanya, membuang wajahnya ke arah lain berharap agar Jinki tak dapat melihatnya.

“Kau masih tak akan mengatakannya padaku? Sebenarnya ada apa denganmu?”

“Tatap aku sedang jika bicara, Ren!” jemari Jinki kini mencengkeram pergelangan tangan Ren.

Oppa! Lepaskan!”

“Tidak sebelum kau mengatakan alasanmu membungkam padaku! Apa itu hanya karena sebuah novel?” Ren menghempaskan tangan Jinki dari pergelangannya. Sepasang kelerengnya menatap Jinki dengan tajam.

Wae? Kenapa jika jawabanku ‘ya’? Apa Oppa menyembunyikan apa yang seharusnya kuketahui? Apa Oppa tahu tentang seorang pria yang menggangguku akhir-akhir ini?” geram Ren.

“Berhentilah seolah kau adalah penjagaku! Aku benci itu! Aku benci! Aku sama sekali tak menyukai Oppa! Mengertilah…” Jinki menatap tatapan nanar Ren, dirinya terdiam. Setiap perkataan Ren masih memantul di pikirannya.

“Bohong. Semua itu bohong. Hentikan ini semua, hentikan. Ren, kau tahu kan aku tak suka di permainkan. Maka, hentikan sekarang juga.” Jinki memejamkan matanya, untuk pertama kalinya ia tak suka melihat bola mata yang mampu membuat hatinya luluh seketika.

“Aku sama sekali tak menyukai Oppa…”

“Hentikan.”

Mianhaeyo, aku tak menyukai Oppa lagi.”

“Cukup, Ren”

“Aku mencintainya…”

“Gam Gyurin! Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau menyukai karakter di novel itu? Aku sudah membaca novel itu dan dengan cepat aku mengembalikannya pada Choi Jinri. Novel aneh itu sudah mempengaruhimu!”

“Dia tidak hidup Ren! Dia hanya sebuah karakter yang diciptakan untuk melengkapi sebuah cerita fiksi yang tak pernah ada! Dia bahkan tak hidup!” tangan yang terkepal dengan sempurna kini melayang di wajah lembut Jinki. Lebih tepatnya, gadis itu –Ren- menampar Jinki.

“Kenapa kau begitu jahat sekali?” ujarnya,  “Ani! Kenapa kau terus berbicara tentang novel? Kau menyembunyikan semuanya padaku! Kau tahu apa yang terjadi padaku! Kau tahu tentang masa laluku! Kau tahu tentang Choi Minho…” lagi-lagi ia berderai air mata.

“Aku mohon jangan berbohong lagi, jangan memanipulasiku lagi. Jangan menganggap Choi Minho hanya sebuah karakter di sebuah cerita, dia nyata. Setidaknya ia pernah hidup…”

*****

Ren menatap sebuah gundukkan tanah yang bertanda batu nisan. Air mata yang telah ia bendung sejak tadi akhirnya jatuh dan membuat jejak di kedua pipinya.

Choi Minho

9 Desember 1991-16 Juni 2008

“Minho-ya… Aku tak peduli… Aku akan terus mencintaimu, bahkan jika ini terulang dan terulang lagi disaat aku telah tau takdir akan memisahkan kita, aku tak peduli… Aku akan terus mencintaimu.”

Sebuket bunga baby breath ia letakkan di atas gundukkan nyawa yang mengunci seorang pria yang kini ia cintai. Seorang yang dulu tak pernah anggap, ia benci dan berharap menghilang akhirnya benar-benar menghilang.

Angin meniupkan pakaian segelap bara yang ia kenakan. Membuat rambutnya yang menjuntai indah bergoyang seirama. Ia memejamkan matanya, berharap takdir membawanya bersama sang pujaan.

Tirai matanya terbuka, membuat sepasang bola mata yang bersinar gemilang kala sinar matahari lembut menerpa wajahnya menatap padang rumput luas yang ia rindukan. Senyumnya mengembang begitu bola matanya mengkap sosok pria tengah duduk di bawah pohon rindang di atas bukit mungil.

“Minho-ya!” panggilnya pada sang pria yang tersenyum dan bangkit dari duduknya.

Ia berlari tanpa menghapuskan senyum yang ia terus patri sejak tadi. Pipinya bersemu merah, jantungnya memompa dengan cepat, ia berhabur memeluk sang pria yang menunggunya. Memeluknya dengan erat seakan tak ingin kehilangannya lagi.

Saranghaeyo Minho-ya.”

Flashback

Pria itu menyenderkan tubuhnya pada tumpukkan besi yang berdiri di pinggir balkon kamarnya. Kedua mata bulatnya menatap sebuah foto yang digenggamnya dengan senyum yang terus menggembang.

Oppa!” seorang gadis berwajah manis muncul dari balik pintu kamarnya dia belari kecil tanpa menunggu balasan dari kakaknya.

“Memandangi foto Eonnie itu lagi? Sampai kapan Oppa akan terus memandanginya eoh? Kenapa tidak bertemu saja dengannya?” gadis itu melirik sebuah foto yang menunjukkan seorang gadis yang tersenyum manis dengan rambutnya indahnya yang di tiup angin.

“Untuk apa bertemu jika kami akan menikah?” sahut sang pria.

Oppa? Apa Oppa benar-benar mencintainya?” senyumnya menghilang sementara sebelum kembali terbit, “Aku mencintainya.”

“Kau tahu Jinri-ah? Aku bahkan ingin membuat dunia yang indah untuk kami berdua.”

-THE END-

A.N:

Akhirnya selesaaaiii~ Jeongmal Gumawoyo untuk yang stay baca ff aku, walaupun aku gak yakin ada. Tapi makasih banyak~ Aku masih terus belajar dan melatih kemampuan nulis aku, jadi aku sangat menghargai adanya saran dan kritik dari readers sekalian.

Sampai jumpa di next story~ *doain*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

5 thoughts on “A Person From Paradise [2.2]

  1. satu ekspresi buat ff ini “menghela napas”. Keren aku ga nyangka alurnya begini, ga ketebak dan idenya fresh. Daebak keren….. Disini kan ada taemin,jinki,key,minho lalu dimanakah jonghyun? Poor jonghyun.

    Over all keren

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s