That’s Everything – Part 2

That’s Everything—Part 2/ Key’s POV

that's everything_副本

Author              : Ivena

Remake by       : Cblink

Length              : Series/Part 2

Rating               : G

Genre               : Family, Romance, Friendship dkk.

Cast                 :

  • ·                    Lee Jinki as Kim Jinki
  • ·                    Kim Jonghyun as Kim Jonghyun
  • ·                    Lee Taemin as Lee Taemin
  • ·                    Choi Minho as Choi Minho
  • ·                    Kim Kibum as Key
  • ·                    Choi Min roo (Imagine Cast) Covered by Kim So Eun
  • ·                    Lee Ji eun (Imagine Cast)

Support Cast    : Kim Jong In and Other.

Note                : Cerita remake dengan berbagai perubahan, baik sudut pandang, judul dan Cast-nya. Mungkin fanfic ini akan sangat minim narasi, so, mohon untuk di maklumi. Inspirated story from summer desire. That story just fiction. Alur, Character and Plot it’s fiction. Di fanfic in aka nada banyak perbedaan waktu, jadi author mohon untuk para pembaca bisa mengikuti jalan cerita dengan hati-hati.

==========================That’s Everything===========================

Even if you tease me by saying this is foolish, I can’t turn this heart around.

But there’s no answer, I guess I can never reach you.

 “Baiklah! Jika kau tidak mau cerita kepada ku, itu hak mu. Aku tak ingin kau pulang dengan baju basah kuyub seperti ini, Jong In pasti akan menghawatirkanmu. Ikutlah denganku!” Aku menyerah. Aku akhirnya mengajak Minroo menuju loker ku di Gedung A. Untung saja aku membawa baju ganti. Kemeja kotak-kotak berwarna biru. Kurasa ini akan cocok untuknya.

“Ganti dan pakailah baju ini, mungkin sedikit kedodoran. Namun setidaknya itu bisa menghangatkan tubuh mu!” Pinta ku memberikan kemeja kotak-kotak itu.

“Terima kasih Key.”  Hanya senyum. Aku tidak membutuhkan apa pun Minroo-ah. Dengan melihat kau tersenyum, itu sudah membuat roh dan jiwa ku tenang. Andai saja kau tahu maksud hati ku.

Di dunia yang fana ini, kita tidak pernah tahu bagaimana takdir akan berhenti. Takdir kita dimulai semenjak roh mulai di tiupkan ke dalam kandungan sang ibu. Begitulah teori mengatakan. Malaikat kecil mulai di impikan akan kehadirannya.

“Kita sudah sampai.” Kata ku menghentikan mobil di depan rumah Minroo.

“Apa kau tidak ingin mampir barang sebentar, Key?” Tanya Minroo kepada ku.

“Mungkin lain kali, petang mulai menyelimuti langit. Aku harus pulang! Ada sesuatu yang harus ku urus, salam untuk Jong In.”

“Baiklah!” Minroo lantas membuka pintu mobil ku.

“Tunggu!” Sergah ku sejenak membuat Minroo membalikkan tubuhnya. “Jangan menangis, jangan merasa sakit dan jangan pernah menyesal Minroo-ah!” Kalimat itu tiba-tiba terlontar dari mulut ku.

“Apa maksud mu?” Minroo mengeryitkan keningnya tanda jika ia tidak mengerti dengan makna kalimat yang ku lontarkan kepadanya.

“Anio! Yang jelas, kau harus ingat dan berjanji kepada ku.” Hening sejenak, aku tidak tahu apa alasan yang pantas untuk mengelak. “Sepertinya Jong In sudah mengintai mu dari jendela.” Tuturku begitu aku melihat siluet sosok Namja dari jendela, mencoba mengalihkan pertanyaan Minroo.

*

*

Kesalahan masa lalu. Jalan fikiran yang terlalu sempit. Kata akhir itulah Penyesalan yang muncul dari mulut ini. Bagaimana semua ini dan mengapa ini terjadi, masih menjadi sebuah pertanyaan tanpa jawaban. Aku kesal dengan diriku sendiri. Untuk apa aku melakukan semua ini. Untuknya? Atau untuk mereka? Yang jelas itu bukan untukku pribadi. Melelahkan!

“Jadi alasan apa yang membuat mu datang menemui ku?” Tanyaku sedikit sinis.

“Cih! Hanya itukah yang bisa kau berikan kepada ku? Nada sinis yang tak pernah hilang dari sosok mu.”

“Aku bukan malaikat! Aku bukan Tuhan! Jonghyun-ah! Aku hanya manusia biasa! Apa ada yang salah dari statement ku barusan? Sampai kapan kau akan seperti ini? Membuat ulah yang bahkan tak pernah terfikirkan oleh ku bagaimana akhir dari sandiwara mu.” Kelah ku begitu saja. Sepertinya mulut ku sudah mulai mengeluarkan racun-racunnya. Mungkin! Begitu munafik dan munafik. Entah majas apa lagi yang bisa aku gunakan untuk menggambarkannya. Sungguh lucu.

“Bantu aku! Bantu aku sekali lagi!” Ucap Jonghyun putus asa. “Aku janji ini yang terakhir Key-ah!”

“Haha! Aku? Siapa aku? Kenapa kau selalu lari kepada ku seperti ini?” Tawa pedih yang meledak. “Kau tahu Jjong! Aku sudah membantu mu. Bahkan semua yang aku lakukan untuk mu sangat lebih dari cukup. Tapi mengapa kau tak pernah puas? Dengan mudah kau menghancurkan semuanya. Kepercayaan! Kau selalu menghilangkan satu komponen itu dari sandiwara hidupmu.”

“Karena cinta, aku membohonginya. Karena cinta, aku menyakitinya. Karena cinta juga, hubungan ini begitu menyesakkan. Terkadang aku juga ingin mengakhiri sandiwara ini, kebohongan ini. Akan tetapi… Untuk kali ini, aku mohon bantu aku Key…” Mohonnya kepada ku.

“Semua memiliki batas Jonghyun-ah! Tak pernah kah kau berfikir untuk mengakhiri semua kebohongan ini? Keluarga mu. Untuk apa kau menyembunyikan semuanya? Terbuka lah untuk Minroo. Aku yakin dia akan menerima mu apa adanya.” Tuturku memberi saran. Aku lelah. Kenapa hanya aku yang mengetahui semua dialog sandiwara ini? Kau terlalu munafik untuk menerima takdir mu Jonghyun-ah. Onew hyung, Jieun, dan kau. Sungguh posisi yang begitu rumit.

*

*

Apa yang harus aku lakukan kali ini? Aku sudah berada di depan rumahnya. Tepat satu langkah lagi, kaki ku memasuki pekarangan rumah dengan hamparan kebun bunga di sampingnya. Yah, meskipun malam hari, bunga-bunga ini masih tetap indah. Jong In memberikan pencahaya-an yang baik dari berbagai sudut rumah. Sebegitu cintanya kah dia dengan bunga? Sungguh namja yang tidak bisa di tebak. Benar, tujuanku datang kemari bukan untuk memuji Jong In dan bunganya, tetapi bertemu Minroo. Apakah dia ada di rumah?

Tok…Tok… aku mengetuk pintu rumah Minroo. 2 menit kemudian pintu berwana coklat dengan gaya classic itu pun terbuka. Seorang namja berumuran 15 tahun muncul dari balik pintu.

“Ah! Hyung! Kenapa kau datang malam-malam begini?” Tanya namja itu.

“Eum, Ania! Aku hanya ingin main saja! Boring di rumah. Lagi pula aku juga sudah lama tidak melihatmu. Apa kau sehat Jong In-ah?” jawabku. Dia Jong In adik Minroo.

“Ne, seperti yang kau lihat sekarang, tubuhku sudah lebih kuat dari sebelumnya.”

“Benarkah?”

“Ayo masuk hyung!”

“Ne, Jong In-ah! Apa Noona mu ada?” Tanya ku begitu duduk di sofa ruang tengah rumah Minroo. Meskipun dari luar rumah ini terkesan sederhana, mungkin lebih tepatnya terlihat seperti rumah biasanya, tapi di dalamnya jelas terlihat sekali furniture bergaya Klasik yang di desain langsung oleh ‘Cha Art Gallery’. Desain keluarga Cha memang tidak bisa di remehkan.

“Noona? Aku kira dia tadi pergi ke rumah Hyung! Apa kau tidak bertemu dengannya?”

“Ani, mungkinkah? Aku akan menyusulnya.” Jawabku segera. Aku merasakan ada hal aneh yang akan terjadi. Entah perasaan atau hanya dugaan, aku berharap semua ini tidak akan menjadi sangat rumit.

“Ne, hati-hati hyung!”

*

*

Benar yang ku duga. Minroo datang kemari. Namun siapa yang duduk bersamanya? Apakah Jonghyun? Bukan. Aku rasa itu bukan dia. Karena rasa penasaran, aku sedikit mendekat ke tempat Minroo duduk. Setelah mendengar dari Jong In jika Minroo pergi, aku langsung menyusulnya. Tidak perlu kemana-mana, aku bisa dengan mudah menemukannya. Yah! Jika dia sedih, jika dia kesepian, dan jika dia merasa dirinya gagal, Minroo selalu datang ke tempat ini. Taman pinggiran Kota Seoul tak jauh dari rumahnya. Menyendiri. Itu sudah menjadi wataknya. Sepertinya sosok yang berada di samping Minroo itu tidak asing untukku. Aku mulai mengintai dari balik pohon persik yang tidak jauh dari mereka.

“O-onew hyung!” Gumam ku tak percaya ketika sosok yang duduk bersama Minroo itu Nampak seperti Onew. Bagaimana mungkin? Mereka tidak saling mengenal, namun mengapa ini terlihat begitu akrab? Mungkinkah… tidak! Lebih baik aku mengawasi mereka dari balik pohon persik tidak jauh dari bangku tempat Minroo dan Onew duduk.lebih seksama lagi.

“Sepertinya kau sedang sedih?” Samar-samar aku mendengar percakapan di antara mereka.

“Ani, aku hanya sedikit lelah. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Apa kau mengenalku?” Tanya Minroo.

“Haha… Jika kau mengingatnya apakah kita bisa berteman?” Onew hyung tertawa kecil. “Mungkin, Kenalkan, aku Kim Jinki, panggil saja aku Onew.”

“Entahlah! Onew? Nama yang aneh! Bagaimana mungkin?” Minroo sedikit mengeryitkan dahinya.

“Haha… aku sendiri juga tidak tahu, sejak kecil orang-orang senang memanggilku seperti itu. Orang tuaku juga demikian. Kenapa kau sendirian di taman malam-malam seperti ini?”

“Benarkah? Aku hanya ingin menenangkan hatiku. Kau sendiri Onew-ssi, apa yang kau cari malam-malam begini?”

“Aku hanya ingin mencari inspirasi!” Onew sedikit melenggangkan tangannya, melepas rasa pegal yang membelenggu tubuhnya.

“Onew hyung mencari inspirasi?” gumamku bertanya. Aku terus mendengarkan percakapan mereka. Jujur ini begitu menarik dan membuatku penasaran. Alur apa lagi yang akan terjadi karena spontanitas? Aku ingin mencari jawabannya dan menyaksikannya secara langsung.

“Inspirasi?” Minroo mulai sedikit tertarik dengan namja yang duduk bersamanya itu.

“Ne, inspirasi. Aku begitu lelah dan bingung. Banyak hal yang belum bisa aku selesaikan. Banyak waktu yang aku buang secara sia-sia. Belum lagi, beban yang terasa berat di pundak ku ini, kini terasa mulai meronta. Seakan aku sudah tak pantas untuk memikulnya.” Jelas Onew hyung.

Sepertinya Minroo sedikit tertarik dengan cerita Onew, namun ini tidak boleh di biarkan. Bisa jadi semua akan menjuruh pada yang aku takutkan. “Beban seperti apa yang kau tampu? Eum,.. bolehkan aku tahu? Itu pun jika kau tidak keberatan.” Selidik Minroo.

“Adikku. Aku seakan telah kehilangan kendali atas masa depan mereka. Rasa acuh mereka kepada ku kini semakin besar. Semua berubah dengan cepat dan drastis. Rasa membangkang, sulit di atur seperti sudah menjadi kepribadian mereka. Hubungan kami menjadi renggang karena kehadiran…” Onew hyung menggantungkan penjelasannya ketika ponselnya berbunyi. Tutitut tutitut tutitut… Dia mendapat sebuah panggilan.

“Ne, yeoboseo..”

“…”

“Baiklah! Aku akan segera pulang.” Onew menutup telpon nya.

“Ah mianhae Agassi, aku harus segera pergi, sebuah pekerjaaan sudah memanggil. Eum… Kalo boleh tahu, siapa nama mu? Mungkin suatu saat kita bisa bertemu kembali. Jika takdir berkehendak!” Senyum Onew hyung.

“Aku? Panggil saja aku, Minroo!”

“Ne, semoga kita bisa bertemu kembali, sampai jumpa!” Onew hyung pergi meninggalkan taman.

“Hampir saja!” Bisikku lega. Siapakah itu?  Entahlah! Setidaknya aku tak perlu khawatir, Minroo tidak akan menyadari jika terdapat hubungan  di antara mereka yang begitu rumit itu dan Onew hyung tidak menceritakan semuanya. Semoga takdir mereka tidak untuk bertemu kembali. Setelah merasa suasana cukup aman, aku keluar dari persembunyian ku dan berjalan menghampiri Minroo berada.

“K-key!” Minroo tercengang menyadari kehadiranku dari belakangnya.

“Minroo-ah!” Tatapku sendu. “Kenapa kau menyendiri malam-malam seperti ini?”

“Anio! Aku hanya mencari udara malam saja.” Kelahnya. Kami saling terdiam sejenak. Aku terus berfikir dan mempertimbangkan. Apa yang harus aku lakukan? Membantu Jonghyun ataukah menyudahi semuanya. Minroo-ah, kenapa hidupmu sesulit dan serumit ini?

“Aku sudah tahu semua yang terjadi.” Tuturku memulai percakapan kembali. Kini aku duduk di samping Minroo. Menatap lurus pada jalanan taman yang dihiasi dengan lampu-lampu jalan.

“…” Minroo hanya diam dan diam. Entah apa yang ia pikirkan sekarang ini. Apakah itu begitu menyakitkan Minroo-ah? Bagaimana jika kau tahu semuanya? Ini hanya seper seratus dari kebenaran.

“Jonghyun sudah menceritakan semuanya kepadaku. Untuk kali ini, maafkan lah dia, Minroo-ah. Aku tahu kehadirannya begitu berarti untukmu. Aku tahu kau pasti merindukannya.”

“Mungkin menurutmu ini hal sepele Key-ah. Tapi kau sendiri tahu bukan jika ini sudah lebih dari yang kita bayangkan? Aku lelah. Aku merasa ini sudah lebih dari cukup. Apa yang aku miliki? Kepercayaan? Semua seperti tebing yang runtuh.”

“Jangan seperti ini Minroo-ah, aku sangat mengerti jika Jonghyun tidak akan pernah menghancurkan kepercayaan mu. Apa yang kau lihat 3 hari yang lalu tidak seperti pandanganmu semata. Kau harus melihat dengan kaca mata yang sebenarnya. Kenyataan Minroo-ah.”

“…” Minroo tetap diam. Minroo mulai menangis sendu. Kakinya mengisyaratkan bahwa ia ingin beranjak dan pergi. Tanpa babibu, aku dengan spontan menahan pundaknya.

“Berilah dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Satu kali ini saja.” Minroo tetap bersi keras untuk pergi. Apa boleh buat, hanya ini yang bisa aku lakukan. “Baiklah! Untuk yang terakhir, demi aku. Jika dia tidak datang malam ini, kau boleh melakukan apapun terhadapnya. Membencinya, meninggalkannya, terserah dirimu. Aku tidak akan memohon kepadamu atas namanya, Minroo-ah. Sekali ini saja dengarkan permohonanku! Biarkan dia menjelaskan semuanya. Tunggulah dia.” Pinta ku.

“Kenapa Key? Kenapa harus kau yang memohon kepadaku,  bukan dia? Kenapa kau yang selalu hadir dan ada untukku, bukan dia? Kenapa harus kau yang menghibur dan menemaniku, bukan dia? Kenapa kau selalu membantunya?”

“Karena teman!” jawabku singkat. “Karena aku teman kalian, aku sahabat kalian. Dan karena…” perkataanku terpotong oleh ucapan Minroo. Dan karena aku menyayangimu. Melebihi apapun.

“Baiklah. Seperti katamu, ini yang terakhir! Jika dia meninggalkan janjinya, setelah itu kau harus berhenti. Berhenti memohon kepadaku, berhenti membantunya dan berhenti mengkhawatirkan hubungan kami.”

20 menit…

1 jam… aku mulai sedikit grusar. Sesekali aku mengirim pesan kepada Jonghyun. ‘Apa kau melupakan janjimu? Cepatlah! Minroo menunggumu. Ini kesempatan terakhir’ Apa Jonghyun ingin mengingkari semuanya lagi?

1 jam 20 menit…

1 jam 50 menit… Jonghyun tak kunjung datang. Apa yang terjadi sebenarnya? Bukankah dia bilang akan kemari.

2 jam 45 menit… Minroo mulai marah dan bosan.

“Sudahlah Key, semua sudah berakhir!” Minroo ingin beranjak dari tempatnya.

“Tunggulah Minroo-ah! Dia pasti datang, Jonghyun berjanji akan datang.” Minroo tetap tidak mempedulikan peringatan ku. Aku menjadi bingung dan tak tahu harus berbuat apa. “Tunggu dulu! Tunggu dia 10 menit lagi! Jika Jonghyun memang tidak datang, kita akan pergi!” Aku frustasi, namun tiba-tiba permintaan itu keluar dari mulutku. Berhasil. Minroo kembali duduk. Dan menunggu.

“Dasar Bodoh! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak datang?” Umpat ku kesal.

*

*

“Dia ada di taman kota, tempat biasa!”

“Tunggu aku! Aku pasti datang! Aku akan segera kesana”

“Kau harus ingat ini adalah yang terakhir. Jangan sampai kau mengecewakan ku ataupun dia.”

“Hahaha… tenanglah Key, kali ini aku akan jujur kepada dunia. Siapa aku dan seperti apa kehidupanku yang sesungguhnya. Aku ingin Minroo menerima ku dengan sandiwara yang nyata, bukan kebohongan.”

“Aku berharap, aku bisa memegang apa yang kau katakan barusan. Cepatlah kemari. Aku melihat Onew hyung bersamanya.”

—TBC—

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

One thought on “That’s Everything – Part 2

  1. kenyataan apa yg sebenernya ada pd jjong?? apa hubungan minroo ma jjong, onew, taemin, jieun??? lalu kenapa key bisa tau keadaan mereka sebenarnya?? siapa key sebenarnya??? penasaarrrraaaannnnnnn……………………
    lanjjuuuttttt thor….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s