Jatuh Padamu [1.2]

Jatuh Padamu – Bagian 1

Megian

Kim Kibum, Han Sora

Kim Jonghyun, Choi Minho

Parental Guidance – 15

Romance

Twoshot

 “Jadi kau mulai menyukai Sora?” tanya Jonghyun Hyung tidak penting. Aku melihat gadis itu tetap tenang tapi aku tahu dia tersipu di seberangku. Dasar perempuan.

 

Selamat Membaca^^

Sejak kecil dia sering pergi ke rumahku. Dan bisa dipastikan setiap dia datang, orang tuanya sedang atau baru saja bertengkar. Terkadang permasalahannya bisa dibilang sepele. Tapi waktu itu dia masih kecil dan bagi anak seusia 6 tahun, itu sesuatu yang jelek. Kalau itu terjadi padaku, mungkin aku akan kabur saja.

Awalnya, saat orang tuanya bertengkar dia hanya duduk dan menangis di teras rumahnya. Tapi setelah ibuku mengatakan “Kalau orang tuamu bertengkar lagi datang ke rumah ajhumma saja, kau bisa bermain dengan Kibum dan Jonghyun Oppa,” dia jadi sering datang dan mengadu pada ibu dan kakakku. Mereka begitu sayang padanya. Dan kadang aku hanya seperti lalat kalau dia sudah berada diantara Jonghyun Hyung dan Eomma. Seperti saat ini,

“Hi Key,” oh ternyata ada juga yang menyadari kepulanganku.

“Hai,” aku hanya melambaikan tangan tanpa memalingkan mukaku pada gadis itu. Berlalu melewati dapur di mana dia dan Eomma sekarang berada.

“Kibum, cepat ganti bajumu ya sayang,” perintah Eommaku lalu setelah itu tertawa begitu lepas dengan gadis itu.

“Ne, Eomma.”

***

Setelah tertawa dan berbincang begitu riang, suasana meja makan mendadak diam. Aku yang bosan dengan suasana seperti ini, melepas sebuah pertanyaan yang selalu mengambang di otakku setiap gadis ini datang ke rumah.

“Orang tuamu bertengkar lagi?” tanyaku di sela – sela makan siang itu.

“Kibum jangan bertanya seperti itu nak,” Eomma berujar menginterupsi.

“Aku hanya bertanya apa salahnya Eomma?” alisku naik menunjukkan ketidaksukaan.

“Kau bertanya seakan –  akan kau membenci kehadirannya Key,” kata Hyungku sinis. Dia itu kenapa sih? Kalau ada gadis ini, aku akan bertransformasi menjadi musuhnya.

“Maaf kalau itu menganggumu tapi aku ke sini hanya ingin mampir. Rumahku sedang kosong bukan karena orang tuaku bertengkar lagi,” jawabnya sabar dan tenang. Tak ada raut wajah kesal atau benci yang diperlihatkannya.

“Kau ini kenapa sih Key?”

“Apanya yang kenapa Hyung? Aku ini cuma bertanya, kalian saja yang menganggapnya berlebihan, lagipula aku bukan merasa terganggu atau membencimu, aku bertanya karena aku melihat kau tidak murung seperti biasanya,” jelasku jujur.

“Wow sejak kapan kau memperhatikan Sora, Key?” tanya Jonghyun Hyung excited. Berlebihan.

“Saat pulang sekolah barusan,” jawabku apa adanya.

“Jadi kau mulai menyukai Sora?” tanya Jonghyun tidak penting. Aku melihat gadis itu tetap tenang tapi aku tahu dia tersipu di seberangku. Dasar perempuan.

“Apa hubungannya?” tanyaku mendelik dan tetap menyuap makananku. Tanpa sedikitpun terpancing dengan pertanyaannya yang gila itu.

“Hah, kau ini,” dia kesal dan memukul kepalaku.

“Sakit Hyung, apa salahku?” tanyaku sengit. Gadis itu dan Eomma tertawa, memangnya apa yang lucu? Dan akhirnya Hyungku yang sedikit gila itu ikut tertawa melihatku kesakitan.

“Ekspresimu lucu Key,” ucap gadis itu kemudian. Ha? Sejak kapan dia bisa berkomentar tentang apa yang terjadi padaku. Dan hei, ini semua karenamu! Dan kau sebut ini lucu?

“Bukan hanya kau saja yang bilang seperti itu, banyak temanmu yang bilang seperti itu, jadi tak perlu aku mendengarnya darimu juga, aku sedang di rumah tolong jangan buat  aku mendengarnya, aku bosan,” pintaku datar dan menatapnya tajam tepat di matanya.

“Hei, jangan lama – lama menatap Sora seperti itu, nanti kau malah menyukainya,” ucap ibuku menyeringai pada Jonghyun Hyung dan mengedipkan matanya pada gadis itu.

“Terserah, aku selesai, aku ke atas dulu,” pamitku kesal. Kenapa harus ada dia di saat makan siang begini? Acara makanku jadi membosankan. Aku tidak membencinya, tidak juga merasa terganggu dengan kehadirannya, hanya saja aku bosan dengan dia yang selalu datang dalam keadaan hati yang tidak baik. Tapi setelah melihat dia yang hari ini dalam keadaan baik – baik saja itu malah membuatku semakin bosan terutama karena Jonghyun Hyung dan Eomma yang selalu terlihat menjodoh – jodohkan aku dengan gadis itu.

“Key tunggu! Sora sudah membuatkan makanan kesukaan kita, kau mau membiarkannya untukku?” tanya Jonghyun Hyung padaku dengan nada menggoda yang menjijikkan.

“Ambil saja, aku kenyang,” jawabku tak peduli. Dan menaiki tangga ke kamarku dan sekilas aku melihat gadis itu tersenyum tak bersemangat menanggapi kegirangan Jonghyun Hyung.

***

Dari tempat ini aku bisa memperhatikan Jonghyun Hyung yang sedang seru – serunya men-dribble bola ke rekannya saat jam istirahat. Kadang lebih senang memperhatikan orang bermain seperti ini daripada ikut bermain. Aku tak perlu berlelah – lelah dan berkeringat. Tinggal memperhatikan dan mencelanya jika permainan itu berakhir dengan payah.

“Hi Key, tidak ikut?” Aku menoleh dan menemukan gadis itu berjalan ke arahku dengan keanggunan yang ramah. Aku menghela nafas pelan melihatnya yang selalu menyapaku padahal sering aku mengabaikannya. Ya, dia satu sekolah denganku. Dan itu terkadang terasa mengganggu.

“Sedang tidak ingin,” jawabku malas. Dia duduk di sampingku. Hei ini tempat favoritku, kenapa dia jadi ikut – ikutan duduk di sini. Dasar!

“Mau makan bersamaku? Ajhumma memberikan ini untukku,” tanyanya ramah dan membuka kotak bekal yang aku kenali itu kotak bekal yang sudah tidak pernah aku bawa lagi sejak sekolah menengah pertama.

No thanks,” tolakku halus.

“Key,” aku menoleh

“Wa…” satu suapan masuk ke mulutku, mau tidak mau aku mengunyahnya. Dan mendengus. Akhir – akhir ini aku jadi hobi mendengus karena gadis ini. Dia tertawa. Ingin sekali aku memukul kepalanya dengan sumpit itu. Apa – apaan ini?

Aku selesai mengunyah-yang kuhabiskan dengan wajah merengut kesal- dan aku berniat memarahinya

“Kau, jangan sekali la…” Yucks!! Kau benar – benar membuatku jengkel! Aku mengunyah lagi dengan raut yang benar – benar kusut. Dia tertawa. Dan saat itu aku merebut sumpitnya dan memasukkan gulungan telur itu ke mulutnya. Rasakan itu.

“Keeeyy,” Dia merengut. Aku ingin tertawa tapi aku tahan. Dan hanya menyeringai senang karena dendamku terbalaskan.

“Hey, kalian malah pacaran, beri aku minum!” perintah Jonghyun Hyung  seperti senang melihatku dengan gadis ini. Aku mengambil botol air mineral dari dalam tas dan memberikannya pada Jonghyun Hyung. Dia membuka tutup botolnya tapi…. beri aku panggangan daging, please.

“Ini Sora untukmu, sepertinya kau kehausan,” kata Jonghyun Hyung, yang dengan senyum manisnya memberikan air mineral milikku itu pada gadis cengeng ini.

“Gomawo Oppa,” Sora tersenyum sama manisnya. Aku memutar bola mataku jengah. Oh God, aku menyesal ada disini hari ini.

“Hyung aku masuk duluan,” pamitku

“Ya! Key, kalian ini sekelas kenapa tidak barengan saja?” Hyung aku sayang padamu, tapi kalau begini caranya aku ingin kau terkena serangan jantung sekarang juga.

“Aku mau ke toilet dulu, apa dia mau ikut?” tanyaku tidak niat.

“Aish, pergilah bersama Key,” Apa? He is so crazy, and she too.

***

Tok Tok

Dengan bergegas aku membuka pintu, kesal. Aku sedang sibuk dengan uji coba menu baru di pagi Minggu yang sangat berharga dan seseorang yang dengan tidak beretikanya datang pukul tujuh pagi ke rumah.

Ya Tuhan, kenapa harus gadis ini lagi? Dan sekarang kenapa wajahnya kusut begini? Matanya merah dan piyama tidurnya pun masih dikenakannya. Apalagi sekarang?

Hap

Dia menghambur padaku. Aku hampir terjungkal kalau saja tidak berdiri dengan baik saat ini. Aku berusaha melepaskannya tapi dia bersikeras memelukku. Hello?! What are you doing?!

“Key, orang tuaku bertengkar lagi dan… Eomma minta bercerai,” katanya kemudian setelah aku membiarkan dia menangis di dadaku. Aku jadi serba salah. Sekali lagi aku mencoba mendorongnya dari pelukkan ini. Bukan bermaksud menghindar dan tidak kasihan padanya, aku hanya ingin melihat keadaannya. Akhirnya dia melepaskanku dan menunduk sesenggukkan.

“Duduklah di meja makan, akan aku buatkan teh untukmu,” kataku meninggalkannya yang kemudian mengikutiku di belakang. Dia duduk dan merebahkan kepala di atas lipatan tangannya. Lirih aku mendengar tangisannya yang dipelankan.

“Minumlah,” perintahku dan menaruh gelas berisi teh hangat itu di depan lipatan tangannya. Dia mendongak, melirik gelas itu kemudian melirikku yang berdiri disampingnya dengan tatapan anak anjing yang minta di kasihani. Tiba – tiba dia memelukku lagi. Oh Panda.

Aku hanya menepuk – nepuk punggungnya dengan tangan kananku dan membiarkan tangan kiriku menjuntai. Aku rasa itu cukup untuk menenangkannya.

“Kau sudah mencuci mukamu?” tanyaku kemudian masih dalam posisi memeluk, sebenarnya aku mau bilang ‘kau sudah mandi?’ Tapi itu menurutku terlalu sensitif untuk perempuan.

Dia melepaskanku dan tersenyum canggung karena malu kemudian menggeleng. Aku menariknya ke kamar kecil yang terletak di dekat dapur. Dia menurut saja. Saat di depan washtafel aku mengikat rambutnya yang panjangnya setengah lengan itu dengan ikatan rambut Eomma yang ada di dalam gelas kecil. Dia menatapku bingung dari cermin di depannya. Aku mengacungkan pembersih wajah Eomma padanya. Dia memberikan tatapan tak mengerti.

“Pakailah, di sini kami tak punya pencuci wajah untuk perempuan seusiamu,” kataku lalu meninggalkannya.

“Aku keluar, aku buat sarapan dulu,” Dia mengangguk. Aku tersenyum melihatnya, spontan saja, aku juga tidak tahu karena apa. Tapi yang aku tahu, aku jadi salah tingkah saat dia menatapku dengan tatapan polos seperti itu.

***

Aku dan dia sarapan dalam diam. Dentingan sendok-garpunya terdengar bergerak begitu pelan dibandingkan denganku. Aku meliriknya dan mendapati dia makan dengan setengah melamun di hadapanku.

“Masakanku tidak enak?” tanyaku berbasa basi –yang bukan aku sekali- aku hanya sedang tidak mau menanyakan hal yang terjadi, di saat dia dalam keadaan tak baik seperti ini. Tidak seperti Eomma dan Hyung yang dengan penuh kelembutan dan sangat pelan bertanya tentang apa yang terjadi padanya. Dan sekarang Hyung sedang pergi latihan dengan teman seangkatannya dan Eomma membeli kebutuhan mingguan seperti biasa. Jadi sekarang, aku mau tidak mau mengambil alih kebiasaan ibu dan kakakku itu.

Dia mengangkat kepalanya dan menggeleng lemah.

“Cerita saja, aku akan mendengarkannya tapi jika kau tak mau, kau bisa tunggu Hyung dan Eomma sebentar lagi,” kataku. Dia menelungkupkan sendok garpunya.

“Gomawo Key, aku hanya tidak tau harus bagaimana sekarang, maaf karena aku tiba – tiba memelukmu, rasanya sulit menceritakan semuanya langsung saat tadi aku datang dan aku hanya bisa menangis,” jelasnya akhirnya. Di sekolah gadis ini tidak pernah terlihat sedih ataupun murung. Hanya di rumah orangtuaku ini dia dengan gampang memperlihatkan sisi itu. Bukannya dia ingin menutupi permasalahannya hanya saja dia tidak ingin membawa kesedihannya itu ke sekolah. Sungguh jauh berbeda sikapnya. Cerewet, riang, mudah tertawa, dan ini yang sering membuat dia mudah berteman, dia baik hati dan ringan tangan membantu teman – temannya. Aku tau semua itu karena aku sekelas dengannya.

It’s okay,” kataku pendek.

“Dini hari tadi mereka bertengkar, Appa mengakui kalau dia memang sudah menikah dengan perempuan lain 2 tahun yang lalu dan dan mereka bahkan sudah memiliki anak, dan  Eomma minta cerai dari appa,” jelasnya memandangku sayu.

“Lalu, apa sekarang yang ingin kau lakukan?” tanyaku tak memberi solusi.

“Aku tidak tahu,” jawabnya sendu. Aku menyuap sendokkan terakhirku dan membalikkan sendok dan garpu.

“Pulanglah, selesaikan masalahmu, bicara berdua saja, empat mata, kau dengan ibumu, lalu kau dengan ayahmu, aku yakin kau akan menerima keputusan yang mereka ambil setelah kau bicara dengan mereka dan tidak akan menangis seperti ini lagi. Kau sudah dewasa sudah saatnya belajar untuk mengerti orang tuamu,” usulku menatapnya penuh, jarang aku begini pada perempuan. Pada ibuku saja jarang. Bertindak bijak seperti ini biasanya Hyung. Tapi dia lebih banyak gilanya dari pada serius kadang.

“Kau yakin?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Akan kucoba,”

“Woi Key! Tadi seru lho, sayang kau tak ikut! Eh Sora, sejak kapan kau di sini?” tanya Jonghyun Hyung dengan berjingkrak – jingkrak memperagakan lay up-nya yang keren itu -fansnya yang bilang.

“Sejak tadi. Hyung sudah makan? Duduklah,” aku berdiri dan membiarkan dia dan gadis itu bicara berdua saja. Aku benarkan? Gadis itu lebih tenang kalau ada Jonghyun Hyung, tidak seperti denganku tadi, melamun. Ah, apa urusanku?

***

“Key,” gadis itu lagi. Aku menoleh dan mendapatinya dalam keadaan yang sangat riang. Dia mudah sekali mengekspresikan suasana hatinya. Aku hanya bisa menyunggingkan kedua ujung bibirku, merespon seadanya.

“Kau benar, sekarang aku baru mengerti kenapa Eomma memutuskan bercerai dari Appa. Eomma tak mau ada yang tersakiti lagi, aku, Eomma, maupun istri Appa yang satu lagi, Eomma merasa lebih baik mengalah saja,” jelasnya terengah – engah.

“Lalu? Untuk apa kau memanggilku?”

“Aigoo, kau ini, bisakah kau tidak bersikap seakan – akan ini semua biasa saja?” katanya kesal merenggut lucu. Dalam hati aku tersenyum.

“Ok, apa kau ingin aku bersikap begini ‘Benarkah??? Oh syukurlah Sora, aku ikut senang mendengarnya ̴’,” ucapku melebih – lebihkan nada suaraku dan juga gerak tanganku. Dia tambah memberengut.

“Oh ayolah, gadis cengeng, jangan memasang tampang kusut di depanku, aku bisa dikira memperlakukanmu dengan tidak baik,” pintaku datar dan kesal.

“Cengeng kau bilang? Aku cengeng?”

“Iya. memangnya kenapa?” tanyaku biasa.

“Kau ini!” dia hendak memukul lenganku

“Apa kau punya sesuatu yang lebih penting untuk kau katakan?” tanyaku lebih panjang. Dia mendengus kesal. Dan aku menatapnya menantang.

“Sebenarnya aku mau bilang terimakasih, karena yang kau saranmu padaku seminggu yang lalu,” jelasnya. Aku memutar bola mataku.

“Aigoo, mau menyampaikan ini saja ribet sekali,” aku menggelengkan kepala lelah. Dia meringgis menatapku seperti harimau kelaparan. Ya aku rasa mirip. Walaupun aku belum pernah melihat.

“Sora!” suara seseorang menghilangkan tatapan harimaunya. Kakinya berjinjit melihat asal panggilan yang berasal dari belakang punggungku. Ntah siapa, tapi ketika melihat siapa orangnya dia kelihatan senang sekali. Sumringah, seperti bocah perempuan dapat permen. Onew Hyung.

“Hallo Oppa?” dia mendorong lenganku yang menghalangi penglihatannya, dan melambaikan tangannya. Berlari ke arah Onew Hyung dan segera menggantungkan tangannya di bahu namja itu. Hei, kau meninggalkanku? Dasar, aku menyesal sudah mempedulikanmu.

“Bye, Key, bweee,” ejeknya dari kejauhan sambil memeletkan lidahnya yang pendek itu. Sudah berani kurang ajar dia sekarang.

***

Aku sedang bermalas – malas di ruang tengah. Acara di televisi jam – jam begini membunuh sekali, drama keluaran lama semua. Aku berharap ada seseorang yang datang membawa sesuatu untuk dijadikan pengalih kebosanan.

“Key, buatkan tamu kita minum dong,” Yeah, finally. Jonghyun datang dengan Onew Hyung. Biasanya sekedar mau latihan di halaman belakang. Hyungku itu gila olahraga sekali. Dan dia mengajak Onew Hyung karena Onew Hyung merasa badannya itu tidak proposional. Sedikit gemuk, kebanyakan konsumsi ayam, dan kurasa sepersepuluh konsumsi ayam di Korea di habiskan olehnya . Ok, aku tahu itu berlebihan.

“Buatkan saja sendiri, kau kira aku ini pembantumu, berani bayar berapa ha?” jawabku nyolot. Ini yang paling kusuka, adu mulut dengan Hyungku walaupun pada akhirnya aku akan mematuhi perintahnya tapi rasanya tidak baik jika tidak membuat dia kesal.

“Kau lihatkan Hyung, dia itu pemalas sekali, pantas saja belum punya pacar,” katanya pada Onew Hyung.

“Jangan dengarkan dia Hyung, mentang punya pacar ketua club dance? Mau pamer?” ejekku lagi. Onew Hyung hanya geleng – geleng.

“Hyung mau minum apa?” tanyaku pada Onew Hyung dari balik counter dapurku.

“Yang dingin saja Key,” jawab Onew Hyung kedengaran capek.

“Air keran mau?” Onew Hyung terkekeh,”Cola jika kau bersedia, Almighty,” aku mengangguk.

“Aku sama ya, Key,” Jonghyun berteriak dari dalam kamarnya.

“Ambil sendiri!” jawabku tidak pedulu dari balik counter dapur.

“Dasar bocah!” Kamar Jonghyun Hyung yang berada tak jauh dari dapur membuat dia mudah sekali melemparku dengan bola basketnya, dan dengan mudah juga aku menangkapnya. Kau kira aku sepayah dirimu Hyung?

“Hyung, bagaimana rencananya?” tanya Jonghyun Hyung pada Onew Hyung. Aku duduk lagi di depan televisi setelah menaruh minum untuk mereka berdua.

“Semuanya sudah diatur Sora. Dia asisten yang tepat, kenapa tidak dari dulu dia bergabung?” kenapa harus membahas gadis itu di sekitaran pendengaranku sih?

Jonghyun Hyung menyeringai,”Dia itu sudah kuingatkan dengan benar apapun yang harus di kerjakannya, menyiapkan kostum, jadwal tanding, konsumsi, dan berbagai tetek bengek lainnya. Lagipula seru kan ada cewek, ada perbedaan, dan kita tidak berubah jadi homo,” kata Jonghyun tertawa terlalu besar. Onew Hyung juga ikut tertawa sambil mengipas – ngipas badannya yang menguar panas usai latihan.

“Kalau dipikir – pikir dia ideal untuk dijadikan pacar. Paket pas, ramah, pintar, cekatan juga,” apa yang kau lakukan di rumah orang tuaku Onew Hyung? Kenapa harus memuji gadis itu?

“Benar, kalau saja dia tidak kuanggap sama seperti si Kibum itu, mungkin dia sudah kujadikan pacar dari dulu,” mereka tertawa lagi. Sial, kenapa sih ini?

“Ne, kau benar, aku juga kalau belum punya pacar mau jadi bodyguard dia sepanjang hari,” Onew Hyung di lempar bantal kursi oleh Jonghyun Hyung. Lebih baik aku beranjak ke kamarku daripada terus mendengar pujian – pujian tak beralamat mereka itu. Aku jadi panas, kupingku dan otakku, tapi kenapa rasanya ada yang lebih panas ya? Ah, sudahlah, gadis cengeng itu membuatku gila.

“Kau kemana Key, ayo gabung sama kita!” ajak Onew Hyung saat aku sudah berada di tangga.

“Mau mandi Hyung, panas, gerah.” kataku mengibas – ngibas bajuku.

***

Puk

“Apaan sih Hyung?” tanyaku kesal. Dia melemparku dengan bola – bola kertas dari depan pintu kamarku. Aku yang duduk membelakang sedang membaca buku langsung menoleh menatap sinis.

“Kau kenapa Key?” tanya Jonghyun duduk bersandar di sandaran tempat tidurku. Melipat kedua tangannya dan meluruskan kaki – kakinya.

“Apanya yang kenapa, Hyung?” tanyaku tak mengerti memutar kursi belajarku menghadap padanya.

“Akhir – akhir ini kau sering terlihat tak suka jika Sora berada di dekat Sunbaenim-mu, apa kau menyukainya?”

“Tidak,” jawabku lugas.

“Tapi itu terlihat jelas di wajahmu Key,” kata Jonghyun ngotot.

“Apanya yang terlihat jelas Hyung?”

“Kecemburuan dan ketidaksukaanmu,” Dia bicara serius seolah aku ini adalah tersangka yang ekspresinya sudah terbaca. Dan aku menoleh jengah. Kenapa saat – saat remaja seperti ini, dekat dengan lawan jenis terasa seperti petaka bagiku?

“Aku tidak merasa begitu,” jawabku tak peduli. Kembali memfokuskan bacaanku.

“Tapi aku melihatnya Key,”

“Mata bisa tertipu Hyung,” kataku membantah.

“Tapi mataku sudah terlatih untuk melihat yang sebenarnya dari mata kucingmu itu Key,” jawab Hyungku ngotot sampai kepalanya sedikit miring. Kalau sudah begini, aku malas. Berdebat tentang masalah yang tak jelas dan absurd tingkat dewa begini, Hyungku adalah ahlinya.

“Lalu Hyung mau apa?” tantangku

“Akui perasaanmu, lindungi Sora,” jawab Jonghyun Hyung serius.

“Tapi aku tidak tahu perasaan apa yang mesti aku akui, dan Sora bukan anak 7 tahun yang butuh bantuan untuk melindungi diri,”

“Terserah, aku ini Hyungmu dan Sora sudah kuanggap sebagai yeodongsaengku sendiri, memintamu untuk melindunginya adalah keputusan terbaik kurasa,” aku menolehkan kepalaku ke sembarang arah. Semuanya terasa campur aduk. Ntah apa dan kenapa. Yang jelas perasaanku tak biasa saat ini. Rasanya seperti ingin tersenyum, sesak napas, lemas, dan ah, abstrak.

***

“Key,” Minho memanggilku. Lalu duduk menghadapku yang menyamping padanya. Aku hanya menjawab dengan bergumam. Sedang sibuk dengan tugas sekolah yang belum aku selesaikan, dengan kata lain belum buat PR

“WOI,” teriaknya di telingaku.

“APA??” jawabku tak kalah keras cukup untuk didengar oleh telinganya yang buluk itu.

“Aku mau ngomong, Kunci!!”

“Kalau mau ngomong, ya ngomong, tidak ada yang larang,” kataku dengan lembut dan mengusap – usap bahunya. Aku sudah sering bertingkah begini padanya, kalau dia sedang sewot begini.

“Hehe begitu dong, kan pinter,” katanya dengan wajah dikharisma – kharismakan. Sialan, minta dilempar bola juga nih mata belo.

“Ayo bicara atau kulempar kau,” ancamku meledak.

“Aku mau ngajak Sora pacaran,” Alisku menyatu, mata kucingku melebar. Dia bilang apa tadi?

“Woi, bengong,” dia mengibas – ngibaskan telapaknya di depan mukaku. Aku sadar, mengendalikan keterkagetan, menenangkan pikiran, dan meredakan detak jantungku. Aku tahu Minho sudah jauh – jauh hari tertarik pada Sora, malah sejak kelas satu. Tapi baru – baru ini dia makin sering bicara tentang Sora. Dan kadang pembicaraan itu membuatku panas. Dan sekali lagi kusesali, aku tidak tahu karena apa.

“Kapan?” tanyaku setenang mungkin.

“Nanti pulang sekolah. Dan sebagai tetangga Sora, aku minta tolong padamu untuk ajak Sora jalan, trus aku sama Jonghyun Hyung, Onew Hyung, Kyuhyun Hyung, bikin surprise di rumahnya Sora, nanti kalau sudah selesai, aku telepon terus ajak Sora pulang, bagaimana?”

Eh??

Kenapa otakku jadi korslet begini? Halooo, tak ada respon. Otakku benar – benar korslet. Apa benar yang dikatakan Jonghyun Hyung? Kalau sebenarnya aku cemburu dan menyukai Sora. Dan saat ada orang yang ingin mendampinginya aku jadi sadar.

Kekanakan.

Tapi sekarang aku harus bagaimana? Membiarkan Sora menjadi milik Minho?  Hei aku lebih berhak! Aku yang paling dekat rumahnnya dengan Sora (aku tahu itu tak ada hubungannya, tapi hei, kau pernah merasakan yang namanya jatuh hatikan? Siapapun bisa menjadi sakit saraf dibuatnya). Dan aku yang paling pantas untuknya (itu alasan yang kudapat dari kesimpulan pembicaraanku dengan Jonghyun Hyung malam kemarin) Dan kurasa itu alasan yang cukup untuk membuat Sora menjadi milikku.

Maafkan aku kawan.

“Ok, aku boleh membawanya ke Lotte World kan?” aku tersenyum dangan maksud terselubung dalam hati. This feel is so scaried.

***

Aku menunggu gadis itu di pos satpam. Semuanya saat ini terasa campur aduk. Perasaanku. Jantungku rasanya mau keluar dari rongganya. Ternyata jatuh hati itu sangat menyiksa. Tapi, bukankah ini yang namanya indahnya jatuh cinta. Dan lebih baik dinikmati saja.

“Sora!” panggilku dengan sedikit berteriak. Dia celingukkan dia antara kerumunan warga sekolah yang ramai. Ketika sumber suara didapatinya dia menunjuk wajahnya dan aku mengangguk. Dia berlari dan menghampiriku dengan bingung.

“Ada apa?”

“Mau ikut aku ke Lotte world?” tanyaku dengan tampang yang kurasa tidak sesuai dengan ajakanku. Datar.

“Kau sedang tidak berniat yang tidak – tidak kan?” keningnya berkedut. Aku tersenyum melihat ekpresinya yang lucu dan manis itu. Baru sekarang aku sadar bahwa gadis ini cantik.

“Hei, kau sedang merencanakan apa?” dia menatapku curiga dan melipat tangannya.

“Tidak,” aku tersenyum lagi dan menggeleng pelan. Ekpresinya yang seram tadi luntur. Dia mencari keseriusan dari mataku.

“Baiklah.”

***

Kami mensejajarkan langkah. Berjalan dalam diam. Aku belum menyusun kata – kata apa yang ingin aku sampaikan padanya. Tidak tahu mau bilang apa. Ini pertama kalinya untukku menyukai seorang gadis. Seharusnya aku bertanya dulu pada Jonghyun Hyung soal ini. Detak jantungku mulai bertingkah, menguasai seluruh konsentrasiku.

Aku harus bilang apa?

“Sora,” panggilku reflex.

“Ne,” dia menoleh padaku dengan wajah yang tenang seperti bayi. Pantas, Eomma dan Hyung sayang padanya. Wajah seperti ini siapa yang tega membiarkannya menangis.

“Kau tahu Choi Minho menyukaimu?” tanyaku akhirnya. Aku hanya ingin tahu apakah dia memiliki perasaan pada Minho atau pada yang lain. Kalau iya, batallah aku menyampaikannya.

“Baru prasangka saja, tapi benar dia menyukaiku?” tanyanya balik dengan sumringah. Ya! Kenapa kau terlihat senang mengetahuinya?

“Iya, kau juga suka padanya?” hatiku tidak ikhlas menanyakannya apalagi jika jawabannya, YA.

Tapi dia menggeleng dan hanya tersenyum. Oh, syukurlah.

“Aku hanya menganggapnya teman, tidak lebih,” katanya.

“Dia itu kan baik, pintar dan ya bisa di bilang tampan, kenapa kau tak tertarik padanya?” kenapa aku menanyakan hal itu? Babo Key!

“Aku tertarik pada seseorang, aku selalu merasa senang jika melihatnya, ya walaupun dia sangat abstrak dan aneh, tapi aku suka,” jawabnya tampak senang. Menatapku dengan senyum sempurna. Siapapun tolong bawakan aku tandu. Kenapa aku sekarang jadi lemah sekali kalau melihatnya tersenyum sempurna seperti itu?

“Siapa?” tanyaku berusaha mengendalikan diri. Berusaha untuk tak kecewa jika yang ia sebut bukan aku.

“Tidak mau!” katanya memalingkan wajahnya yang memerah.

“Ya ya baiklah, terserah kau saja,” Aku mulai ragu untuk mengatakannya. Serius, aku merasa belum siap. Biarlah rencana ini aku undur saja. Toh, aku tak perlu takut Minho di ambil Sora, dia kan tidak menyukai Minho.

 

Continue to Next Part  :

“Dia baru jadian, adikku sayang,”

“Jadian? Dengan siap… Jadian dengan Sora? Tetangga sebelah kita?” aku bertanya seakan Minho baru saja jadian dengan alien

Akhir Maret 2013


Terimakasih sudah membaca. Kritik dan saran akan sangat membantu.

..:megiannisa:..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

4 thoughts on “Jatuh Padamu [1.2]

  1. Sepertinya aku juga gak bakal tahan dengan seorang kakak yg absurd seperti jjong..
    Tpi aku bakal tahan kalo dia jdi pacar aku. *loh
    Sora sangat beruntung bisa di sukai pria macam mereka.. ohhhh… iri sm sora..*pingsan dipelukan onew
    Untuk minho aku siap menggantikan sora.
    FF nya ditunggu Kelanjutannya… ^^

  2. summppaaahhhh…. koplak bgt ceritanya!!! wwkkkwkkwkwkwkwkwkkkkkk…..
    suka karakter key disini! ceritanya keren… eh,, sora jadian ma minho?? serius tuh??!!! aduh, patah hati donk key.. tapi bener g tuh??
    lanjut y thor.. darpada penasaran, hehehe

  3. Hyung aku sayang
    padamu, tapi kalau begini
    caranya aku ingin kau
    terkena serangan jantung
    sekarang juga.

    aku ngakak pas baca itu

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s