Jatuh Padamu [2.2]

Jatuh Padamu – Bagian 2

Megian

Kim Kibum, Han Sora

Kim Jonghyun, Choi Minho

Parental Guidance – 15

Romance

Twoshot

“Hai, selamat ya kau sudah punya pacar sekarang,” aku menghembuskan nafas terlalu amat pelan setelah mengucapkannya. Lalu dia menarik tangan gadis itu mendekat ke sampingya.

 

Selamat Membaca^^

 

“Key, kau tidak ikut traktirannya Minho?” aku menoleh saat sedang menuangkan sirup ke dalam gelas. Sambil berjengit aku beranjak menuangkan air putih dingin lalu mengaduknya.

“Traktiran? Minho ulang tahun? Bulan Desember bukannya masih lama?” aku meneguk air di dalam gelas hingga habis.

“Dia baru jadian, adikku sayang,”

“Jadian? Dengan siap… Jadian dengan Sora? Tetangga sebelah kita?” aku bertanya seakan Minho baru saja jadian dengan alien.

Hyungku itu tersenyum mengejek,”Iya, kenapa? Kau cemburu?” ekspresi Jonghyun hyung benar – benar meningkatkan rasa kagetku.

“Tapi tadi dia bilang dia naksir namja lain, bukan Minho,” ujarku.

“Kau yakin tidak salah dengar? Well kalaupun dia bilang begitu, terserah dong kalau Sora mau berubah pikiran,” benar kata Jonghyun Hyung, tidak ada salahnya dia berubah pikiran.

“Kau benar, apalagi melihat fakta keluarganya yang seperti itu, pasti sifatnya tidak jauh dari orang tuanya, pembohong dan plinplan,” Jonghyun Hyung melotot padaku dan tidak kutanggapi.

“KEY! Bagaimana kau bisa bicara seakan – akan ini gampang untuknya?”

“Bukankah memang begitu, siang dia bilang tidak suka, lalu sorenya dia terima pernyataan cintanya Minho. Perasaan perempuan setahuku tidak sebegitu tidak jelasnya, Hyung,” aku beranjak ke kamarku menahan kesal yang ingin membuatku ingin membanting perabotan kamarku. Aku menyesal untuk seluruh perasaan anehku untuknya. Yang aku tebak adalah perasaan suka.

Aku menyesal menyukai perempuan pembohong dan plinplan sepertinya.

***

Gadis itu lewat dengan Minho di sampingnya. Aku gondok setengah mati. Jantungku berdetak menahan gejolak marah yang kalau saja ada yang memancingnya bisa akan sangat buruk efeknya. Minho terlihat senang dan gembira seperti baru saja dapat durian runtuh kemarin sore. Aku meremas tangaku sampai kebas. Argh!

“Hei, Key!” sapa Minho berwibawa padahal jelas sekali di matanya dia girang setengah mati. Kalau saja perempuan yang disukainya ini tidak di dekatnya mungkin dia akan memutar – mutarku saking girangnya.

“Hai, selamat ya kau sudah punya pacar sekarang,” aku menghembuskan nafas terlalu amat pelan setelah mengucapkannya. Lalu dia menarik tangan gadis itu mendekat ke sampingya.

“Ini semua juga berkat bantuanmu,” aku tersenyum tidak ikhlas.

“Ya sudah aku kelas dulu, tugasku belum selesai,” aku berlalu dan sebelumnya menatap mata gadis itu menusuk. Aku menyesal mengenal gadis cengeng sok baik itu. Dan aku tidak peduli pada sorot mata bingungnya.

***

“Tidak cemburukan dengan sahabatmu sendiri?” seringai Jonghyun hyung padaku yang sedang makan malam sendirian.

“Eommaa Jonghyun hyung bertingkah di meja makan nih,” aduku pertanda aku benar – benar tidak mau diganggu dan diajak adu mulut untuk kali ini.

“Jonghyun, habiskan saja makan malammu,” Jonghyun terkikik geli dan puas. Aku menatapnya liar sambil mengunyah makananku kasar seakan itu adalah daging Jonghyun hyung dan si cengeng Sora itu.

“Annyeong,”

Gadis ini?

Aku tidak menyangka segitu putusnya urat malu gadis ini. What so… Ergh!

“Kau sudah makan?” dia mengangguk menjawab tanya Hyung lalu mengacungkan barang bawaannya lalu tersenyum, manis. Dan aku… lagi – lagi terpesona.

“Kesukaan Kibum dan Jonghyun Oppa,” dia tersenyum lagi. Bisakah kau berhenti membuatku degdeg-an?

“Aku sudah selesai, aku ke atas dulu,”

“Sejak kapan kau tidak sopan begitu Kibum? Sora datang kenapa kau malah pergi?” Eomma mencegatku. Memang, aku tidak pernah pergi saat dia datang seperti ini. Tapi karena beberapa hal, aku melakukannya sekarang.

Sorry mom, just for this time. Please, I have much excercise that I have to do tonight,” ujarku memelas. Dan ketika aku sudah mengeluarkan bahasa asing itu dari mulutku eomma hanya bisa mengangguk mengizinkan. I am in the bad mood, now!

Ketika aku sudah sampai di kamarku, aku merasakan seseorang mencegatku menutup pintu kamar. Gadis itu, sekarang aku benar – benar tidak mengerti dengan perasaanku. Aku marah, detak jantungku berkecamuk tidak jelas. Aku menatap matanya yang memohon waktuku untuknya.

Grap

Aku memeluknya lalu air mataku jatuh setetes. Aku merasakan gerakan tangannya mendekat untuk mendekap punggungku.

“Kenapa kau begitu menenangkan Sora? Kenapa menyukaimu begitu sulit? Dan kenapa kau membuatku gila? Dan kenapa bukan yang lain saja?” umpatku lelah. Kupikir menyukai itu tidak sesulit ini. Atau mungkin ini bergantung dari siapa orang yang aku sukai.

“Awalnya aku tidak membencimu juga tidak menyukaimu, aku menganggapmu benar – benar seperti tetanggaku. Tetangga yang membuat hyungku sendiri memusuhiku. Tapi kenapa setiap kau tersenyum dan berbuat baik padaku kau selalu saja membuatku tenang dan nyaman? Kau sebenarnya siapa dan mau apa? Kau bilang kau tidak suka Minho tapi kenapa kau jadian dengannya? Berbuat munafik heh? Menjadikan dia mainanmu? Kau sama seperti ayahmu! Pembohong dan plinplan!” racau dan umpatku, aku tidak tahu lagi harus menyusun kalimat yang seperti apa agar perasaanku tidak sejengah ini mengingat dia dan hubungannya dengan Minho.

Dia melepaskan pelukku padanya kemudian menamparku. Aku terkejut tapi kemudian menyeringai licik.

“Marah heh? Kau yang membuat semua ini kacau Sora, perasaanku, persahabatanku, keluargaku,” racauku lagi,”Ngomong – ngomong, kau tidak merasa bersalah memeluk laki – laki yang bukan siapa – siapamu? Mungkin memeluk Minho pun belum kau lakukan,” sindirku. Aku bisa melihat wajah marah dan terluka darinya, aku tidak tahu di bagian mana ucapanku yang membuat dia marah.

BUG

“Aku tidak menyangka adikku bisa bicara sekasar itu pada perempuan. Aku menyesal telah menjadi hyungmu Kibum!” Laki – laki yang menyebut dirinya hyungku itu pergi menarik Sora turun ke lantai bawah meninggalkan aku dengan perasaan berkecamuk aneh yang membuatku berharap aku akan tertidur dan tidak akan bangun – bangun lagi.

***

Dia menghindariku.

Setiap Minho akan menghampiriku, dia pamit pergi. Minho hanya tersenyum kecewa mengizinkan. Seminggu aku dan dia berada dalam keadaan seaneh itu. Lama – lama perasaan bersalah dan tidak nyamanku muncul.

“Key, aku ingin bicara denganmu,”

“Bicara saja,”

“Kau ada masalah dengan Sora?”

“Tidak, mungkin perasaanmu saja,”

“Jujurlah, berbohong bukan dirimu Key,”

“Aku tidak berbohong, Minho,”

“Jangan seperti perempuan, Key,”

“Berhenti memancingku dengan hinaan klasikmu itu, Minho,”

“Tapi nyatanya begitu,”

“Maaf aku ada urusan dengan wali kelas,”

Bug

Pukulan kecil itu mengenai ujung bibirku. Minho, sahabatku, memukulku. Ini yang selalu dia lakukan saat aku terlalu pendiam untuk seukuran sahabat yang sudah dekat sejak TK. Aku hanya membesut darah kecil di ujung bibirku dengan merunduk, pukulan itu membuatku pening sesaat.

“Masih tidak mau bicara?”

“Kau bukan polisi, dan aku bukan pencuri bermuka dua belas,” ingatku padanya tidak suka. Minho memejamkan matanya, kekesalannya membuatku ingat Jonghyun hyung yang ngomong – ngomong sudah seminggu ini mendiamkanku.

“Kau menyukai Sora?” aku mengangkat kepalaku, menatapnya.

“Tidak mau menjawab. Berarti iya, kau menyukai Sora-ku,” Heh, dia sudah menyebut gadis munafik itu dengan sebutan gadisku?

“Bagaimana rasanya? Menyukai orang yang menjadi milik sahabatmu sendiri?” delik Minho sinis.

“Menyakitkan heh? Kau bilang Sora-ku plinplan, kau bilang dia pembohong, kau bilang dia mirip ayahnya. Kau sadar tidak sih? Kau yang plinplan, pengecut, kenapa saat kau punya kesempatan untuk memilikinya kau malah membiarkan dia bersamaku?  Kau bilang kau tidak menyukainya tapi kenapa saat dia bersamaku kau menatap dia seakan – akan dia adalah pembohong kelas berat?” tanyanya membuatku tertohok.

Benar, aku juga plinplan dan pembohong.

“Ini hidupku, bukan hidup gadismu itu, dan juga kau. Berhenti menasehatiku seakan – akan itu bisa membuat hidupku lebih baik,” ujarku kemudian beranjak dari ruang olahraga yang sudah menjadi tempat nongkrong rutin kami anak basket.

“Kau tahu Kibum, ada hal yang bisa membuatmu lebih baik, aku dan Sora adalah sepupu. Dan kurasa kau tahu, tidak ada hubungan sepasang kekasih yang bisa kami buat. Soraku itu sudah menyukaimu sejak aku kembali dari Jepang 3 tahun yang lalu, ” langkahku terhenti.

“Kenapa aku tidak tahu kalian sepupu?” ujarku berbalik.

“Panjang ceritanya Kibum. Lain kali akan aku ceritakan. Yang ingin kuperjelas sekarang adalah hubunganmu dan adik sepupuku yang pura – puraku kusukai untuk mengetahui apa kau sama sukanya pada adikku itu. Aku merasa risih diantara dua orang sok kalem seperti kalian. Apalagi kau, namja macam apa yang memaki perempuan yang disukainya seperti itu?!”

Aku menyeringai,”Dia mengadu? Heh, benar – benar si Cengeng itu,” Minho berjengit melihatku yang tetap saja kekeuh tidak mau menjelaskan apa yang ingin didengarnya.

***

Jika ditanya apa aku senang dengan fakta bahwa Sora dan Minho adalah sepupu, kurasa tidak, karena saat ini aku masih saja kesal padanya. Dia berbohong, kebohongan yang besar. Kalau aku tahu dia sepupu Minho mungkin aku tidak akan memakinya. Jadi kalaupun aku disalahkan karena cacian itu, dia juga harus disalahkan.

“Kibum, Eommamu menitipkan ini,” gadis itu memanggilku dari balik pagar samping rumahnya yang setinggi sikuku

“Kunci?” aku berjalan ke arahnya.

“Eomma dan Appamu pergi ke luar kota, ada acara reuni. Dan Jonghyun Oppa ada janji dengan pacarnya.”

“Kenapa mereka tidak memberitahuku?” tanyaku pelan lebih kepada diriku sendiri sambil mengambil ponselku. Dan ya, ponselku mati.

“Ya sudah. Terimakasih,” aku menyunggingkan senyum tipis. Sedikit kikuk dia membalasnya.

Aku berniat beranjak, tidak menyukai atmosfer yang sedang menguar.

“Soal kemarin, ah tidak, seminggu yang lalu, aku minta maaf.” Kemudian aku berbalik. Meninggalkannya dengan wajah kaget dan bingung. Aku benar – benar membuat dia terlihat serba salah.

“Datanglah ke rumah. Kita makan malam, ada Minho di rumahku,”

***

Sebenarnya aku lebih memilih memasak sendiri makan malamku daripada harus memenuhi undangan gadis cengeng itu dan sekarang aku terjebak dalam moment menentukan kaus model apa yang akan gunakan. Padahal hanya mampir ke rumah tetangga.

Dengan perasaan bimbang aku melangkah ke rumah gadis cengeng itu. Dan mendapati dia dan Minho sedang tertawa di ruang tamu rumahnya. Saat melihatku, Minho langsung diam dan berjengit.

“Kukira kepalamu tidak ada bedanya dengan batu. Ayo masuk,”

“Kau bukan tuan rumahnya, tukang pukul. Boleh aku masuk?” tanyaku beralih ke Sora.

Sure,” jawabnya.

“Lebih baik kita langsung makan. Aku sudah lapar,” kataku.

“Kau bukan tuan rumahnya, tukang caci,” Minho membalikkan ucapanku.

“Silahkan duduk, aku ambil supnya dulu,” dengan mengucapkan terima kasih aku duduk di depan Minho.

“Kau berhutang penjelasan padaku, by the way,”

“Dasar!” umpat Minho karena aku yang tidak bisa sabaran.

“Sebenarnya ini rahasia tapi aku sudah punya izinnya. Dulu pernikahan orang tuanya Sora tidak mendapat restu kakekku. Makanya waktu kita TK kau sekalipun tidak pernah melihat apalagi mendengar nama Sora disebut. Bahkan ibuku tidak pernah cerita kalau dia punya saudara perempuan. Lalu aku pindah ke Jepang dan kau pindah ke sini,”

“Dan bertetangga denganku yang membuatmu dimusuhi oleh hyungmu sendiri,” lanjut Sora setengah menyindir. Aku mendengus.

“Aku minta maaf,” bilangku lagi.

“Mau dilanjutkan? Atau tatap – tatapan seperti itu saja?” aku memberikan isyarat iya untuk pertanyaan pertamanya.

“Dan setelah sembilan tahun di Jepang, aku kembali kesini. Dan Appa memberiku kesempatan memilih untuk tinggal dimana, and who knows? Memilih tinggal dekatmu, Eommaku malah bertemu dengan ibunya Sora lagi di sini,”

“Dan menyembunyikan fakta itu tiga tahun lamanya Minho, dan kau juga,” lirikku pada gadis cengeng itu.

“Cerita hidupku tidak sebagus kau untuk diceritakan Key,” dia tersenyum yang membuatku merasa bersalah.

“Tapi kau sahabatku dan kau… tetanggaku,” aku bingung mau menyebut si cengeng ini siapaku. Mau menyebut adik kesayangan hyungku, nanti dia tersinggung.

“Aku lebih mementingkan sepupuku daripada sahabatku yang keras kepala,”

“Oh baiklah. Ngomong – ngomong supnya sudah dingin,” alihku karena perutku sudah tidak baik – baik saja.

***

“Apa kau masih marah padaku?” Minho mengajak kami duduk di halaman belakang di rumah Han ajhumma. Dan saat ini dia sedang menerima telepon dari Eommanya meninggalkanku dengan sepupunya.

“Sudah seminggu, aku tidak marah lagi dan kau juga sudah bilang maaf. Lagipula, ini semua juga bukan sepenuhnya salahmu,” ternyata dia menyadari kekesalanku atas kebohongannya. Tapi mengingat alasannya atas kebohongan itu, aku menerima saja.

“Tapi setelah apa yang kalian jelaskan barusan aku mengerti. Kau tidak mau orang tahu masalah keluargamu. Tapi tetap saja, kau mengikutsertakan aku dalam sandiwara Si Belo sialan itu. Aku masih tidak terima dia memancingku mengenai perasaanku pada…” aku bicara seperti kereta api yang hampir mendekati magnetnya dan menyadari keretaku -ucapanku yang hampir menabrak sesuatu

Dia tersenyum menunggu,”Well, yang di depan kamarmu itu serius kan?” aku terdiam dan kemudian juga ikut tersenyum.

“Jadi sekarang aku tinggal panggil pendeta?” entah darimana Minho datang di tengah – tengah kami yang sedari tadi berdiri melihat ke arah langit malam yang saat ini sedang bersih-bersihnya

“Pendeta kau bilang? Kau harus membayar mahal atas sandiwaramu Minho,” tuntutku. Dia hanya mengedikkan bahunya tanda tidak peduli.

“Tunggu dulu, Jonghyun hyung tahu soal kalian adalah sepupu?” tanyaku baru sadar. Kalau iya dia ikut berkomplot dengan Minho untuk memanasiku, awas saja mereka. Akan aku ergh! Sial, kenapa aku terjebak sampai segitu tidak sadarnya?

“Dia juga baru tahu, beberapa minggu sebelum aku bilang kalau aku mau menyatakan cinta pada Sora,” kediknya lagi. Benar – benar tidak tahu diri anak ini. Sudah berkomplot membohongiku sekarang malah bertampang inosen seakan – akan aku ikhlas – ikhlas saja dibohongi seperti itu. Kalau begini caranya, tidak akan ada orang yang jatuh cinta berkali – kali, jatuh cinta sekali saja sudah pusing apalagi berkali – kali. Rasanya aku ingin menjejalkan kepalaku ke air es. Aku benci terlihat bodoh.

“Jadi bagaimana, kau jadi pacaran dengan adikku?”

“Aku butuh pendinginan, aku tidak mau dia malah jadi bahan cacianku karena sandiwara tololmu ini,” aku melangkah berbalik ingin pulang.

“Jadi kau mau menggantungnya karena aku, Kunci?”

“Aku bilang aku butuh pendinginan, kau mengerti maksudku, bulat!” tangan kananku mengacak kasar rambutku.

“Kau gugup heh?” tebaknya menertawakan. Ya, anggaplah begitu.

“Key, besok tunggu aku di depan ya, kita balapan ke sekolahnya,” ajak Sora yang membuatku tersenyum. Aku mengacungkan jempolku pertanda aku setuju dengan ajakannya.

***

“Kenapa tidak bilang saja kalau kau suka aku? Kau masih menjunjung ideologi bahwa perempuan yang menyatakan cinta lebih dulu itu terlalu agresif?” tanyaku yang akhirnya malah mensejajarkan laju sepedaku di sampingnya. Batal balapan.

“Aku bilang pada Jjong oppa, asal kau tahu,”

Eomma-ku juga tahu?”

Dia mengangguk,“Aku tidak memberitahunya tapi perasaan seorang ibu lebih peka dari yang kita tahu,”

“Jadi cuma aku si bodoh di sini?”

“Aku tidak bilang begitu, Key,” ujarnya lembut, terlihat membelaku. Aku menaikkan alisku, ingin meminta pembelaan yang lebih gombal.

“Aku tidak menunggumu bilang suka padaku, karena berada di dekatmu bahkan sudah lebih dari cukup bagiku. Berada di dekat Kim ajhumma dan Jjong oppa, yang selalu iseng menjodohkan kita, melihatmu marah, tatapan datarmu padaku. Menatap wajah lelahmu, juga wajah kesalmu karena dimusuhi oleh hyungmu sendiri, aku menikmatinya sampai – sampai aku berpikir jikapun kau tidak terpancing dengan sandiwara Minho, aku tidak akan sedih. Keseharianmu sudah lebih dari cukup dari kata aku juga menyukaimu, Sora,” senyumnya seperti bayi. Tipis dan sederhana. Penjelasannya memang sayup tersapu angin pagi tapi itu terdengar jelas bagiku. Oh baiklah, aku sudah mulai berlebihan.

“Berhentilah,” aku menurunkan kakiku menahan agar sepedaku tidak jatuh diikuti dengan sepeda hitamputihnya

“Ayo majukan keningmu,” suruhku licik. Dia memajukan keningnya bingung. Pasti dia membayangkan aku akan berlaku sesuatu yang romantis.

Pletak

Keluhan sakit terdengar dari bibirnya dan aku melajukan sepedaku secepat kilat. Ttakbam itu pasti sakit. Aku hanya mau meluapkan sedikit kekesalanku. Hanya sekali ini, aku janji. Besok – besok aku akan cium keningnya. Itupun kalau dia mau dan tidak trauma.

Sora, aku juga menyukaimu, cengeng!

FINISH

Akhir Maret 2013

Sebenarnya ini koleksi 2012 awal dan karena lagi nihil inspirasi baru maka dilanjutkanlah ff ini. Tidak ada niatan bikin twoshot tapi karena amat panjang untuk oneshot, makanya dibagi dua. Gimana? Menghibur?

Terimakasih sudah membaca. Kritik dan saran akan sangat membantu.

..:megiannisa:..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

3 thoughts on “Jatuh Padamu [2.2]

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s