Waiting with ‘Saranghae’

Waiting with ‘Saranghae’

Author:Monic

Main cast : Seo Hana , Lee Jinki , Taemin

Support cast :  find alone

Genre : Romance

Length : OneShoot

Rating : G

A /N : Annyeong! Makasih buat admin yang ngepost ini. Buat readers yang baca , apalagi buat yang komen. hehehexD maaf ya kalau ga memuaskan fanfictnya. Aku juga masih proses belajar jadi Author yang baik. Kalau ada Typo harap maklum. Terus kata yang bercetak miring berarti lagi flashback Happy Reading!

 

Hari ini aku pulang kerumah orangtuaku. Baru satu tahun aku bekerja sebagai sekretaris disebuah perusahaan , tinggal di apartement dari kantor sendirian membuatku bosan. Sesampainya dirumah orang tuaku aku langsung masuk kekamarku. Walaupun sudah setahun tak berpenghuni tapi kamarku tetap bersih. Aku yakin Eomma rajin membersihkannya.

Aku duduk dimeja belajarku dulu. Meja belajar yang sudah menemaniku sejak aku SMP . tempatku mengerjakan tumpukan pr ku. Kursinya adalah tempat tidur kedua ku dikamar ini .

Aku menggeledah laci meja belajarku. Saat aku menggeledah laci ada sebuah album foto. Setahun bekerja membuatku harus mengingat dulu album foto apa ini. Selama setahun otakku hanya dipenuhi dengan tugas kantor. Sekian detik berfikir aku baru ingat. Ini adalah album fotoku dengannya.

Aku hanya bisa tersenyum melihat isi album foto ukuran 4R ini. Tanpa terasa air mataku ikut terjatuh saat mulai membuka lembaran demi lembaran foto yang ada di album ini. Saat halaman pertama dibuka terpampang wajahnya denganku tersenyum kearah kamera. Tapi terlihat senyumnya sangat terpaksa , senyumnya sangat dingin.

Foto itu diambil di hari pertama aku masuk SMA . waktu itu kakak kelasku mengatur tempat duduk berpasangan namja-yeoja. Dan tak kusangka foto yang dipasang di nametag adalah foto kita bersama teman sebangku kita. Aku dengannya duduk bersama . Aku yang minta foto dengannya. Dia tampak tak bersemangat waktu itu

Kapan kita mau fotonya?” tanyaku padanya.

Dia hanya mengangkat bahu membuatku geram.

“Sekarang saja ne?” dia hanya mengangguk meresponku.

Aku meminta bantuan teman baru ku yang duduk tepat didepanku. Aku foto menggunakan ponselku.

“Yak kamu yang namja , bisakah kamu tersenyum?” tanya Taeyeon , ya namanya Taeyeon. Untuk meminta bantuannya aku berkenalan dengannya.

Dia hanya mengangguk merespon pertanyaan Taeyeon . akhirnya setelah Taeyeon mengambil fotoku dengannya dia langsung bertanya hasilnya. Dia bilang dia ingin mem-bluetooth ke ponselnya.

Aku masih bisa membayangi wajahnya waktu itu. Wajahnya walaupun hanya senyum paksa yang ada tapi dia tetap tampan menurutku. Sikapnya itu membuatnya terlihat cool dimataku. Bahkan aku sempat memberikannya julukan ‘ice man’.

Dilembar berikutnya. Ada fotoku dengannya saat dihukum senior . Wajahku dengannya dilumuri lumpur dengan tangan  yang terborgol. Tangan kiriku terborgol dengan tangan kanannya. Waktu itu aku dihukum karena aku membelanya. Aku ketahuan yang memakan makanannya karena dia bilang dia tidak bisa makan sembarangan.

Hei semua makanan harus habis. Araso?” teriak seniorku dari depan kelas.

Bekal yang kami bawa ternyata ditukar. Jadi kami memakan bekal teman kami. Semua bekal sama berwujud semacam bento. Tapi dengan isi dan kreasi yang berbeda-beda.

Dia hanya menatap makanannya. Padahal bekal yang dia dapatkan tampak menggugah selera. Tapi dari raut wajahnya sama sekali tak tampak hasrat ingin mencicipi.

“Kenapa kau hanya menatap makananmu saja? Dihabiskan cepat.” Tegurku

“Aku tidak bisa makan sembarangan.” Jawabnya pelan.

“Wae? “

“Eommaku melarangku.”

“Ottoke? Kalau kau tidak menghabiskannya kau bisa kena hukuman.”

Dia hanya menunduk. Aku tahu dia juga bingung. Sekian detik berfikir akhirnya aku memutuskan untuk cepat cepat menghabiskan makananku lalu aku memakan punyanya.

“Aku akan menghabiskan makananmu nanti. Sekarang kau pura-pura memainkan sumpit saja , jangan hanya menatap seperti itu.”

Dia langsung melakukan apa yang aku perintahkan. Aku langsung cepat cepat menghabiskan makananku. Setelah itu memakan punyanya. Diam-diam aku menukar tempat makanku dengan tempat makannya. Lalu mulai melahapnya. Dia tampak serius memperhatikanku membuatku gugup.

“Gomawo mau membantuku. Kau sangat baik padaku.” Katanya dengan senyum yang aku rasa tulus. Untuk pertama kali aku melihatnya tersenyum iklas.

“Ne.. Cheonma”

Baru setengahnya tapi aku merasa perutku sudah full. Senior terus memperingatkan kami waktu makan tinggal sedikit. Kalau masih ada sisa aku akan dihukum.

“Aku akan membantumu memakannya . Eommaku tidak akan tahu ini.” Dia langsung memakai sumpitnya dan memakannya perlahan . aku yakin dia baru saja mengeluarkan seluruh keberaniannya untuk ini.

Waktu sudah habis. Semua tangan harus diangkat keatas. Dan OMG! Masih ada sisa sayuran disini.

“Ya kamu saya hukum. Ikut saya !” Senior menarik tanganku. Aku sangat takut sekarang. Adakah yang bisa menolongku?.

“Senior tunggu.” Suara itu mampu membuat senior yang menarik tanganku berhenti dan menghadap ke asal suara itu. Ternyata dia yang mencegat senior.

“Itu makananku . kalau senior mau menghukumnya senior salah , harusnya senior menghukumku.” Jawabnya dengan nada penuh keraguan.

“APA??? Senior salah? Apa kau tidak tahu kalau senior selalu benar? Beraninya kau bilang senior salah.!” Senior kami mulai marah. Jujur ketakutanku mulai bertambah. Eomma Ottoke???

“Ya kalian saya hukum karena sekongkol! Sekarang jalan jongkok kebelakang sekolah. cepaaaaatt!!!!”

Aku dan dia menuruti kemauan senior . jalannya cukup jauh. Dalam hati aku mengeluh karena kakiku sakit. Aku meliriknya yang ada dibelakangku. Dia tampak pucat.

Sesampainya di belakang sekolah ada 4 senior yang menunggu kami. Mereka memasang muka murka. Membuatku kembali ketakutan.

“Kalian berdua lama sekali. Sekarang berdiri!”

“Hei kamu pegang tangan kirinya sekarang! Cepat!”

Dia langsung memegang tangan kiriku. Tangannya sangat dingin. Jujur seperti ada yang aneh . aku merasa tubuh ku gemetar hebat saat bersentuh dengannya.

Senior memborgol tangan kami. Lalu…

“Ini hukuman ringan kalian yang pertama. Jika kalian mengulangi lagi selanjutnya akan lebih parah. Araso?” Tangan mereka ternyata membawa lumpur. Tangan mereka dengan enaknya merauk wajah kami dengan lumpur itu. Ingin rasanya aku menangis. Tapi kutahan saat dia menggenggam tanganku erat. Dia menggenggam makin erat membuatku semakin kuat.

Senior yang lain sibuk memfoto kami. Dan kalian tahu besoknya foto itu di tempel di seluruh mading sekolah.

Aku tahu dia mengambil foto ini dari mading sekolah. saat aku sibuk menyingkirkan foto-foto kami yang beredar disekolah dia menyempatkan diri mengambil 2. Dasar aneh.

Foto selanjutnya foto saat kami kerja kelompok dirumah dia .  Ada dua foto , ada foto bersama Taeyeon , Henry . Ada juga fotoku bersamanya dan adiknya. Aku yang meminta foto dengan adiknya. Adiknya bernama Lee Taemin . Dia laki-laki yang sangat cantik. Waktu kerja kelompok adiknya selalu banyak bertanya padanya. Terkadang pertanyaanya hanya masalah sepele. Wajahnya yang tampak polos membuatku hanya tertawa melihat interaksi antara kedua kakak beradik itu.

Di dua foto ini dia tertawa senang sekali . foto ini diambil saat semester 2 , kami sudah saling mengenal satu sama lain . dia juga sudah biasa dengan yang lain. Bahkan dikelas kami sangat akrab. Foto ini menggunakan kameranya lalu aku yang mem-bluetooth nya. Dia punya foto ini.

Di foto-foto selanjutnya ada foto saat kami merayakan ulang tahun guru kami , ada foto saat kami mengecat kelas bersama , ada foto saat lomba kebersihan antar kelas kami yang memenangkannya dan banyak lagi. Pokoknya dalam album foto ini berisi foto yang ada aku dan dia. Foto-foto ini membuatku terus membayangi wajahnya. Aku sangat merindukannya . Bisakah kita bertemu lagi?

Di bagian akhir album ada foto ku dengannya yang di ambil di photobox. Ada 4grid. Foto kami saling merangkul , saling menatap , membentuk tangan huruf v dan grid terakhir aku memejamkan mata kearah kamera sambil tersenyum dia mencium pipiku sambil memejamkan mata juga. Saat kami keluar dari photobox waktu itu bahkan aku masih bengong memikirkan apa yang terjadi. Dia pun juga begitu. Dia hanya diam saat kami keluar.

“hehe mianhe. Aku juga tidak tahu ini akan terjadi . aku berani bersumpah itu reflek. Gwenchana?”

Aku hanya menggeleng meresponnya . Saat hasil fotonya keluar dia menawarkannya padaku . Tapi aku menolak. Dia justru mengajak ku kembali ke photobox.

“Sepertinya kau kurang suka dengan foto yang tadi. Ayo kita foto lagi untuk kau simpan. Adegan tadi tidak terulang lagi aku janji. Sekarang tersenyumlah dengan iklas.”

Kami foto lagi , tersenyum , membentuk tangan huruf v , menggembungkan pipi , lalu aku menatapnya yang tertawa girang dengan tatapan aneh. Jujur foto yang ini sangat lucu.

Sampai dirumah aku langsung menempelnya di bagian buku diaryku lalu aku menulis dibawa foto itu ‘Dari photobox tadi aku terus tersenyum melihat hasilnya. Kau tau rasanya ada diposisiku sekarang? Aku foto dengannya orang yang aku suka. Aku baru sadar akhir-akhir ini , aku menyukainya. Memang banyak orang yang lebih tampan darinya  , Tapi dia mempunyai karisma yang tak dimiliki orang lain menurutku. Dia bisa tampak konyol , tampak bijak , dan mampu beradaptasi disetiap posisi. Saranghae My Prince J’

Semenjak saat itu aku yang selalu dekat dengannya semakin nyaman. Bahkan teman-temanku selalu mengira aku pacaran dengannya. Kalau ditanya itu kami hanya menyengir ria .

Tapi aku pun tak menyangka kebahagiaan itu akan berhenti. Hari itu , adalah hari yang menyebalkan bagiku. Hari dimana dia mengatakan padaku kalau dia akan pindah , pindah rumah , pindah sekolah , bahkan pindah Negara.

“Maafkan aku , aku harus pergi . aku juga tak menyukai ini. Tapi aku harus pergi untuk hidupku.”

“Hidupmu? Maksudnya?

“Yaa aku pergi untuk berobat , aku punya masalah pada perutku. Eommaku tak memberi tauku apa itu. Yang jelas kalau aku mau terus hidup aku harus mengikutinya.”

“Oh gwenchana , Eomma mu pasti mau memberimu yang terbaik. Semoga kau cepat sembuh .”

“Gomawo. Eum ada yang ingin kukatakan padamu”

“Apa?”

“Aku… eum aku… aku aku menyukaimu.”

Aku terkejut dengan pengakuannya. Selama ini dia juga menyukaiku. Apa yang harus kulakukan sekarang?

“Aku menyukaimu dari awal . dari awal aku melihatmu. Awalnya aku menyukaimu karena.. eum kamu cantik. Tapi biasanya kalau aku suka hanya karena fisik rasa suka itu tidak akan bertahan lama. Karena kau tau , didunia ini banyak wanita cantik. Aku menyukaimu karena karismamu. Menurutku kau berbeda dengan yang lain. Saat kau membantuku pada masa MOS aku mulai sadar . kalau aku benar-benar menyukai. Ralat , aku benar-benar mencintaimu.”

Aku hanya mematung didepannya. Entahlah lidahku terasa kelu untuk berucap.

“Dulu suka terlintas dibenakku untuk menyatakan perasaanku padamu. Tapi aku tahu suatu saat aku akan meninggalkanmu. Aku ga mau nyakitin perasaan orang yang aku cintai. Dan aku tulus padamu. Aku ga pernah memikirkan status kita. Melihatmu bahagia udah cukup buatku.”

Air mataku mulai jatuh. Aku sangat tersentuh dengan ucapannya. Aku masih ga nyangka setulus itu dia.

“Gwenchana , berjanjilah padaku untuk mengikuti pengobatan dengan sungguh-sungguh. Berpatokan lah kalau kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Jadi bahagia kan lah dirimu dengan cara sembuh. Maka saat itu juga aku akan bahagia.” Tangisanku mulai deras. Aku sedih harus berpisah dengannya. Disisi lain aku harusnya senang karena dia ingin sembuh.

“Pasti , tolong jangan menangis seperti ini. Aku jadi tak tega meninggalkanmu.”

Aku langsung menghapus air mataku. “Ah jangan seperti itu. Aku ingin kau sembuh. Cepat sembuh. Ara?”

“Ne. untuk perpisahan kita. Bolehkah aku memelukmu?”

Dengan cepat aku yang langsung memeluknya. Aku pasti akan merindukan dirinya.

“Berjanjilah untuk terus jadi Jinki ku yang ceria. Jadi Jinki yang kuat . Karena aku mencintaimu.”

Dia mulai memelukku juga. Aku mulai merasakan dia mengusap punggungku.

“Gomawo Hana. Gomawo juga menyukaiku. Saranghae!”

“Nado saranghae Jinki “ dia memelukku erat. Ini untuk pertama kalinya. Yang aku harap bukan untuk terakhir kalinya.

Itulah hari terakhir aku melihatnya. Hari dimana aku mengetahui perasaannya padaku. Ini sudah 7 tahun . aku sangat merindukannya. Sedang apa dia? Apakah dia sudah sembuh? Apakah dia menepati janjinya menjadi orang yang ceria dan kuat?

Album foto ini Taemin yang memberikannya padaku saat aku berkunjung kerumahnya menyerahkan kertas-kertas ulangan Jinki dari guruku. Untungnya waktu itu Jinki berangkat duluan dengan Eommanya . Sementara Taemin dan Appanya berangkat seminggu kemudian. Jadi aku masih sempat bertemu dengannya.

Noona , jaga ini dengan baik ne? Hyung bilang ada sesuatu disini. Aku bahkan tidak boleh melihat. Tapi aku patuh kok pada hyungku. Kalau dia bilang ngga ya ngga aku lakuin.”

Aku tertawa geli mengingat betapa polosnya adik Jinki satu-satunya itu. Sekarang dia harusnya sudah kuliah , dulu dia masih kelas 6SD . Apakah dia masih sepolos dulu? Apakah dia masih secantik dulu? Sungguh aku merindukan lee brother itu. Tuhan bisakah aku bertemu lagi dengan mereka?

Aku mengambil fotoku yang bertiga dari album foto ini untuk ku pajang nanti di apartement. Aku melirik sedikit fotoku dengan Jinki yang dari photo box itu. Beberapa saat berfikir akhirnya aku memutuskan membawa foto itu ke apartement. Saat aku memisahkannya dari album foto ada sebuah kertas yang jatuh.

Selama 7 tahun aku menyimpan album foto ini aku baru mengetahui ada kertas dibalik foto ini. Dengan perlahan aku membukanya. Kertas ini hanya berdebu karena sudah 7 tahun.

To  : Hana

Annyeong Hana. Aku harap kau bisa menemukan kertas ini , lalu membacanya. Aku menulis ini tengah malam. Maaf kalau tulisanku berantakan. Aku menitipkan Taemin album foto ini. Dia bilang dia akan berusaha menyempatkan diri kesekolah kita dengan Appa lalu bertemu denganmu. Kalau kau membacanya berarti kau bertemu dengan Taemin dan melihat isi album foto ini. Aku senang.

Aku baru aja dikasih tau Eomma kalau aku bisa kembali kesini , kalau aku sembuh.Aku ingin sekali bertemu denganmu. Eomma bilang masa pengobatan nya hanya 4-6 tahun. Kalau aku sembuh dan kembali kesini aku ingin kau datang ke taman dekat sekolah jam 5-7 pagi. Karena aku akan berolahraga disana. Aku pasti akan ada disana menunggumu datang. Aku akan menunjukkan padamu kalau aku sembuh. Aku akan bahagia bersamamu. Aku akan makan yang banyak bersamamu untuk meluapkan rasa rinduku padamu. Aku tidak memaksamu untuk datang. Tapi kalau kau sama sepertiku yang masih mencintaimu aku harap kau mau menjemputku yang setia menunggumu. Semoga kau sehat selalu dan Tuhan selalu memberkatimu.  Jangan lupakan aku. Saranghae Hana

 

Lee Jinki

 

Aku membaca kertas ini penuh dengan pertanyaan. Apakah sekarang , 7 tahun berlalu , dia benar-benar masih mencintaiku seperti aku yang mencintainya? Sekarang sudah 7 tahun berarti aku bisa menemuinya besok pagi. Itupun kalau dia masih sama seperti dulu.

*Keesokan harinya di pagi hari

Aku mengumpulkan seluruh niatku untuk mengunjungi taman dekat SMA ku dulu. Aku memakai baju untuk olahraga. Aku berharap bisa bertemu dengannya.

Di pagi hari ternyata sudah ramai dengan orang-orang yang berolahraga pagi. Aku sempat melewati sekolahku. Sudah lama sekali aku tidak berkunjung. Cat nya pun sudah berubah sekarang. SMA ku yang penuh kenangan itu kini tampak lebih bagus dari sebelumnya.

Aku sudah mengitari taman dengan jogging. Tapi aku tak juga menemuinya. Pikiran negative terus membayangiku. Tapi hatiku terus teguh kalau dia akan menemuiku. Aku harus yakin.

Satu jam berolahraga akhirnya kuputuskan untuk istirahat sebentar di bangku taman. Aku melihat lihat orang yang berolahraga. Saat aku memperhatikan orang-orang yang melewatiku aku merasa melihat Taemin. Ku perdekat lagi jarak kami. Ku perhatikan baik-baik wajahnya benar saja dia Taemin. Walau sudah besar tapi lekukan wajahnya masih sama seperti dulu. Wajahnya bahkan makin tampan walaupun masih agak cantik.

“Taemin. Annyeong” Sapaku dari belakangnya. Dia menoleh membuatku tak ragu lagi kalau dia memang benar-benar Taemin.

“Annyeong” Dia menatapku lekat. Aku yakin dia sedang berfikir aku siapa.

“Noona!!!!” dia langsung memelukku erat. Ah aigooo. Bahkan sekarang dia lebih tinggi dariku.

“Noona Bogoshipoyo!”

“Nado Bogoshipo Taemin.”

Dia mengajakku untuk duduk di salah satu bangku taman.

“Bagaimana kabarmu Noona? Kau baik-baik saja kan?” Tanyanya

“Baik. Kau sendiri bagaimana?”

“Aku baik kok Noona. Btw , Noona makin cantik saja”

Aku tersipu mendengar ucapan Taemin. Aku juga agak sedikit geli karena aku bahkan berfikir Taemin masih lebih cantik dari pada aku.

“Gomawo Taemin. Oiya kamu terlihat keren dan tampan. Kamu sendiri saja disini?” Tanyaku mengganti topic.

“Aniyo. Aku disini bersama…”

Tiba-tiba semuanya gelap . Ada yang menutup mataku dengan penutup mata dari belakang. Dan aku merasa mengetahui siapa orang ini.

“Aku bersama dengan orang yang menutup mata Noona. Eum.. aku pergi dulu ya . Annyeong!” aku merasa Taemin mulai beranjak dari bangku taman. Dan orang yang menutup mataku mulai bergerak. Sepertinya sekarang dia duduk disampingku.

Dia mulai melepaskan penutup mata ku. Dan  benar dugaanku. Dia lee Jinki , tujuanku datang berolahraga disini. Dia juga tak banyak berubah. Bahkan dia makin tampan menurutku.

“Apa kabar Seo Hana?”

“Baik Lee Jinki”

Tiba-tiba dia langsung memelukku. Aku hanya bisa mengusap punggungnya.

“Jeongmal Bogoshipoyo Hana. Gomawo mau datang kesini. Gomawo mau menjemputku yang setia menunggumu.”

“Nado bogoshipo Jinki. Cheonma. Kau sudah sembuh?”

“Ne. aku selalu memikirkanmu. Aku selalu menunggumu disini selama 2 tahun terakhir. Aku sempat putus asa awalnya. Tapi hatiku terus berkata untuk menunggumu disini. Hatiku selalu berkata kalau kau akan menemuiku disini. Ternyata hatiku tak salah.”

“Jinjja? Mian , kau tau? Surat yang ada dibalik foto itu baru kubaca kemarin! Dan kenapa kau tidak titipkan pada Taemin saja surat itu? Selama 7 tahun aku tidak tau ada surat itu. Kalau aku sudah tau dari awal kau pergi , Mungkin kau tidak akan menungguku selama ini. Tapi.. eum nanti aku yang menunggumu. ”  Ketusku. Dia melepaskan pelukannya dan menatapku.

“Waktu itu kan Taemin masih kecil dan bawel sekali. Surat itu nanti bukan sampai ke kamu malah ke Appa ku. Lalu aku dimarahi. Lagipula aku juga sengaja , kalau kau benar-benar jodohku. Pasti surat itu tak akan kemana-mana dan datang sendiri padamu. ”

“Oh begitu cerita nya Lee Jinki”

“Yang terpenting itu aku mencintaimu. Saranghae Hana!”

“hehehe. Harus berapa kali aku bilang ‘Nado Saranghae Jinki’?”

Sekarang senyum menghiasi wajahnya , aku dengannya saling menatap. Tanpa sadar jarak wajah kami semakin dekat. Reflek aku memejamkan mataku. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang menempel dibibirku tapi hanya sebentar.

“Ahh Mian, aku aku ga sengaja.”

“eum. Gwenchana.”

“Hyunggg!!! Lanjut!!!!”

Ku dengar teriakkan dari belakang. Ternyata teriakannya Taemin. Dia sedang mengarahkan ponselnya kearah kami.

“Taeminie!!! Awas kau ! Akan ku berhentikan Ahjussi pengantar Banana Milk!”

Taemin langsung mengantongi ponselnya dan berlari menghampiri Jinki.

“Yaakk Hyung ku yang tampan. Jangan seperti itu….”

Aku hanya tertawa geli melihat Lee brother ini. Tuhan baik sekali masih mempertemukan aku dengan Lee brother . Aku sangat bersyukur .  Jinki masih menyukaiku seperti aku menyukainya. Dia berjuang keras untuk sembuh . Dia setia menungguku disini. Menunggu tidak buruk jika pasangan itu yakin akan hatinya. Dan yang pasti menunggu itu tidak akan buruk jika pasangan itu memang saling mencintai.

END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

5 thoughts on “Waiting with ‘Saranghae’

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s