Portrait

Title                 : Portrait

Author             : Chrysalis

Casts               : SHINee Minho & me

Support Cast    : SHINee Jonghyun

Length             : Vignette [1053 words]

Genre              : Romance

Rating              : PG

Disclaimer       : I own nothing but the plot. Non-profit works but don’t try to plagiarize nor steal it.

“Hhngg?” aku mengerjap sebentar sebelum menggosok mataku perlahan dan menemukan sebuah kamera, tepat di depan wajahku. “aku bukan pemandangan, Tuan Choi.”

Ia tergelak sambil menjauhkan kameranya dari wajahku kemudian memotret entah apa yang ditangkap lensanya. Aku menggeliat, meregangkan tubuhku yang pegal. Apa aku tidur terlalu lama? Tumben ia sadar jika aku tidur.

It’s a lil’ bit cloudy,” gumamku. “mungkin sebaiknya gerimis saja, ya. Pasti menyenangkan.”

Aku beranjak dari bangku kayu yang kududuki. Minho masih sibuk dengan tripod dan angsa-angsa di kolam. Aku berjalan menuju arena bermain yang berada tiga meter dari tempat Minho memotret. Okay, aku akan main saja hingga ia menemukanku.

Gerimis. Doaku terkabul.

Lenganku segera ditarik oleh Minho yang setengah berlari menuju tempat mobilnya terparkir. Harusnya ia tidak perlu sepanik ini, tasnya kan parasut. Airnya mana tembus ke dalam tasnya. Mau tidak mau, aku berlari juga. Dih, begini nih jika berurusan dengan orang bertungkai panjang. Cepatnya tidak kira-kira.

Ia mendorongku agar aku cepat masuk ke mobil sambil menjejalkan tasnya di pelukanku. Aku tidak mengerti kenapa ia bisa sepanik ini, hujannya kan air, bukan jarum. Ia menepuk-nepuk pakaiannya perlahan sebelum melakukan hal yang sama dengan pakaianku dan rambutku.

Freak,” dumalku. “kenapa sih? Kau saja tidak pernah mau pulang kalau sudah main sepak bola saat hujan.”

“Kau kan flu.”

“Lalu?”

“Nanti kalau sakitmu tambah parah? Eomoni bisa memarahiku.”

“Bodoh!” aku meninju lengannya pelan. “kau seperti tidak tahu aku-“

“Langsung tumbang walau kena sepercik air hujan.” cibirnya. “sudah jangan bawel, kita ke café sekarang.”

“Mau apa?”

“Main bola.”

Aku mendengus. Ia mengacak rambutku sambil tergelak sebelum menstater mobilnya. Mobil putih yang kunaiki bergerak perlahan, Minho bersenandung pelan dengan mata yang terpancang pada jalanan basah. Tanganku menggenggam seatbelt yang mengungkung tubuhku, mempermainkannya sambil sesekali mengusap hidungku yang berair.

“Kelihatannya kau sedang tidak senang.”

“Ah, perasaanmu saja.” aku mengelus lenganku yang barusan ditinju pelan. “aku masih mengantuk. Kau bawel sekali sih dari tadi pagi.”

“Kau sudah tidur hampir satu jam.”

“Baru juga satu jam, belum empat puluh delapan.”

“Ish!”

Aku mengulum tawa ketika melihat Minho memasang wajah kesal. “Kau ini kenapa sih? PMS ya?”

YA!

“Eh, fokus ke jalan!”

Mau tidak mau ia memancang matanya ke jalanan. Sebenarnya aku sudah tahu kenapa ia mengomel all day long seperti ini. Khawatir, setelah mendengar berita dari eomma bahwa aku sempat pingsan saat di Thailand kemarin dan pulang dengan keadaan flu parah. Habis mau bagaimana, cuacanya sangat panas dan tiba-tiba aku pingsan tanpa bisa kuatur. Maunya sih tidak pingsan.

“Kau tidak demam, kan?”

“Tidak. Mau dibelikan gelato ya?”

“Ya jika kau berjanji tidak akan demam, mungkin kubelikan.”

-.-.-.-

“Mau kubelikan akuarium?”

“Nanti aku kerepotan mengurusnya.” aku menggenggam jaketnya tanpa mengalihkan pandanganku dari akuarium air asin yang berada tepat di samping meja kami. “pulangnya nanti saja.”

“Sebenarnya kau melihat ikan atau menunggu Jonghyun?”

“Dua-duanya.”

“Dasar!”

Aku meleletkan lidah kemudian kembali menatap ikan yang berlalu lalang di depan mataku. Minho cemburu, caranya melepaskan jari-jariku dari jaket merahnya sudah berbeda. Aku tersentak ketika sebuah ketukan lembut mendarat di kepalaku. Bukan Minho, Jonghyun yang datang dan mengetuk kepalaku dengan sebuah cd.

Ia mengangsurkan cd dengan cover abstrak yang kujamin adalah gambarannya. Jonghyun bilang ini cd demo untuk perusahaan rekaman dan aku diberi satu sebagai hadiah ulang tahunku. Kedua ujung bibirku tertarik, aku mengangguk riang ketika ia mengacak rambutku sambil mengucapkan doa sebelum memelukku sebentar. Dan lagi-lagi Minho merengut sambil membuang muka.

“Pulang?”

Minho mengangguk, aku beranjak dari  meja kami dan menggandengnya keluar. Aku tidak cukup tinggi meski berjinjit, jadi aku meminta Minho merunduk sebentar dengan dalih akan kuberi tahu sesuatu sebelum kukecup pipinya. Ia berjengit, aku segera menariknya menuju pintu dan keluar. Tadi, merupakan jawaban dari ajakan kencan Jonghyun. Aku menolaknya.

-.-.-.-

“Minho-ya.

“Hm?”

“Kita pacaran yuk.”

Matanya membulat. Ah, pasti begini reaksinya. Aku hanya tersenyum tipis sambil mendorong kursi berodaku ke arahnya.

“Kau bercanda?”

Aku menggeleng. “Tapi kalau dianggap bercanda sih terserah.”

Tidak ada perubahan raut wajah. He’s still in the state of whether shocked or surprised. Aku menepuk-nepuk lututnya pelan, ia tertawa.

“Pulang sana, sudah malam.”

“Kau mengusirku?”

“Tidak. Eomma bilang kan kau boleh main sampai pukul sepuluh.”

“Ah, biasanya juga-“

“Pulang.”

Minho mengangkat bahu, ia mengacak rambutku pelan kemudian pergi. Aku mengunci pintu kemudian menjatuhkan tubuhku ke ranjang dan memeluk boneka kelinci pemberiannya erat-erat. Aku mau tidur.

-.-.-.-

Mataku lengket, sembab. Demam sih, pantas saja semalam mimpi buruk. Aduh, hidungku tersumbat!

Aku mengacak laci meja belajarku. Tidak ada obat demam, tandanya aku harus beli obat sendiri di apotek seberang jalan. Ah, sekalian mampir ke kedai ramyeon nenek Lee saja deh untuk sarapan.

Aku menubruk sesuatu ketika akan melangkah keluar dari kondominiumku. Lho, Jonghyun?

“Pagi.”

“Eh iya, pagi.”

“Mau sarapan di kedai nenek Lee? Aku yang traktir.”

“Tapi aku mau beli obat dulu.”

“Astaga! Kau demam.” jeritnya saat menyentuh dahiku, aku hanya menjawabnya dengan ‘ung’ pelan sambil mengangguk. “tunggu sebentar, akan kuantar kau ke rumah sakit.”

Aku menahan ujung jaketnya. “Tidak usah, sarapan saja lalu minum obat dan tidur. Pasti cepat sembuh.”

-.-.-.-

“Kau sedang patah hati ya?”

“Eh?”

“Caramu menanggapi penyakitmu berbeda.” Minho mengelus punggung tanganku dengan ibu jarinya. “biasanya kau bawel setiap kali sakit. Marah-marah, merajuk seperti anak kecil minta cepat disembuhkan.”

“Mungkin dengan sakit rasanya akan lebih baik. Aku tidak mau cepat-cepat sembuh.”

“Tapi kau nanti tidak bisa makan gelato dan kue.”

“Aku masih bisa makan permen mint atau gula.”

“Kau pikir sakit bisa jadi sejenis purification ?”

“Iya. Aku menangis dulu setelah gagal jadi calon diplomat sebelum menyadari bahwa menjadi gudang imajinasi jauh lebih baik.”

“Salah. Aku tidak menangis setelah gagal menjadi pemain sepak bola dan memilih dunia film.”

“Bohong.” aku menusuk jantungnya. “kau menangis di sini, jadi tidak ada yang tahu.”

Minho meraih tangan kiriku yang barusan menyentuh dadanya kemudian menggenggamnya. Ia menatapku lekat-lekat dan membuatku merasa seluruh saluran napasku tersumbat.

“Jadi, menurutmu gudang mimpi jauh lebih cocok bersama visualisator mimpi daripada diplomat dengan pemain sepak bola.”

“Iya.” aku menggigit bibir. “tapi visualisator mimpi juga berhak memilih mimpi mana yang akan divisualisasi.”

“Rasanya agak sulit memvisualisasikan mimpi dari gudang mimpi yang sedang sakit.” Minho meremas tanganku pelan. “jadi, tunggu gudang mimpinya sembuh dulu ya. Nanti baru dijadikan nyata, bukan sekedar visual.”

11.04.13

12.35 pm

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Portrait

    1. wah maaf ya udah bikin bingung *deep bows*
      ini intinya sih minho mau jadian sama ceweknya trus minta dia sembuh dulu sebelum diajak kencan
      maaf ya bahasanya beribet
      waktu ngerjain itu juga aku lagi beribet otaknya

      makasih udah mampir dan suka ^^

  1. Ini… vignette setelah sekian lama drabble OuO;;

    rasanya kayak nonton MV apaa gitu. Light and sweet rasanya. Dan entah kenapa kak Kuku ini hobi masukkin orang-orang flu ke dalam ff-nya ya, hahaha. Demi apa Jjong cuma datang untuk ditolak. Poor him :3

    1. aku nulis vignette mungkin kelepasan karena hidupku biasanya terpaku sama drabble dan jarang banget bikin chapter
      wahahaha aku jadi tersapu-sapu karena kamu bilang ini kaya mv
      soalnya flu itu paling sering menyerang dan kalo udah kena sering bikin menderita
      ya sedikit manusiawi lah daripada sakit parah-parah yang kadang aku nggak ngerti gimana nanganinnya *malah curcol*
      hahaha iya abis jjong itu tampang-tampang asyik kalo buat cameo gitu #plakk

      makasih ya udah mampir, gws :3

  2. Jonghyun memang cockblocker sejati. Aku biasanya paling suka ngeliat fanfic yang ada Jonghyun-nya, but only as a cameo. Jonghyun as a cameo itu…lucu. Makasih Author, untuk fanficnya🙂

    1. Pffft, hahaha keknya emang dia tipe-tipe begitu
      seriously aku baru nemu ada orang yang bahagia kalo Jjong jadi cockbloker
      mungkin karena sifat tengilnya itu kali ya
      makasih juga ya udah mampir ^^

  3. ASTAGAAAA AKU BUTUH GELATO KAK! SUMPAH AKU BUTUH BANGET SANGAT LUAR BIASA GELATO MAU GELATO!!! BELIIIIIINNNN
    Gilak, salah banget aku baca FF ini sekarang T_T

    Dan.. hey, kok aku gak ngeh ada FF kakak yang ini? Untung ada yang komen tadi, aku lagi iseng mau baca2 FF
    dan sebentar.. komennya Citra bikin aku ngakak setengah mampus. JONGHYUN? COCKBLOCKER SEJATI? HAHAHAH LOL i’m so done xD
    dan yeah, seperti yang aku bilang dari kemarin. Karya kakak tuh ringan banget, jadi aku seneng bacanya😀

    Keep it up! ternyata kakak gak cuma jago bikin drabble aja yaawww

    1. *brb telponin p*rsley*
      hahaha bahkan sebenernya aku juga lupa yang ini pernah kukirim dan di post di sini kalo nggak ada beberapa komen nongol pas aku iseng buka
      hah tapi bener sih kalo aku liat di lj juga si jjong ini sering numpang rusuh di beberapa coupling, kaya minkey yg terakhir kubaca itu jjong jadi korban ramuan sihir trus jadi babi ==”

      hahaha yaampun makasih ya pujiannya
      makasih juga udah mampir ^^

  4. mungkin kalo g baca komen2 d atas aku g bakal ngerti maksud kata2 minho d bagian ending… hmm… jadi mereka saling suka?

    that’s so chrysalis style~ light n sweet…
    kapan y aku bisa bikin drabble atau fignette yg seringan ini? hahaha…

    keep writing, dear~

    1. yang itu emang ambigu setelah aku baca ulang *kebiasaan jelek jarang reread*
      ya ampun hahaha aku malu banget dibilang style-nya ala gula-gula kapas begini huhuhuhu
      ah bella pasti bisa kok bikin yang begini, dicoba aja
      makasih udah mampir ya ^^

  5. MINHO-YAAAAAA *remet bantal*
    HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA demi apa ini mah, kenapa aku bisa melewatkan ini siiiihhhhhhhhhh *injek bantal*
    Bagus ih, Minho nya buat aku yak?? #diinjek xD
    Bikin lagiiiiihhhhhh~~~ Minho lagiiiihhh~~~~ :3

  6. Awalnya aku kira mereka pacaran, rupanya gak ya? Tapi seneng akhirnya happy ending.
    aduh minho manis terus deh jadi suka hehe, itu jonghyun kok tiba-tiba langsung ditolak gitu ya? Gimana ceritanya? Hehe.
    semangat ya^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s