Return

return ff cover

Title                              : Return

Author              : qL^^ (wp : mystorymyfictionworld)

Main Cast                    : Lee Jinki/Onew, Park Hyeki

Support Casts              : Park Jungsoo, Park Taeyeon, Kim Kibum/Key, Kim Jonghyun, Lee Taemin, Choi Minho

Genre                           : Romance, Fantasy, AU

Rating                           : General

Lenght                          : One shot

Summary                      : Onew menyebutnya pulang, saat dia kembali ke tempat asalnya. Ataukah justru harusnya dia pulang pada gadis itu?

————————————————

Return

***

re•turn /riˈtərn/ (verb) : come or go back to a place or person.

***

Namanya Lee Jinki.

Atau lebih tepatnya sekarang namanya Lee Jinki.

Hyeki pertama kali bertemu dengan pria itu saat usianya 7 tahun dengan nama yang berbeda. Pria itu menyelamatkannya dari usaha penculikan. Lima belas tahun kemudian dia bertemu lagi dengan pria itu. Tepat setelah dia mengangkat sumpah sebagai dokter dan mulai bekerja di rumah sakit ibunya. Lalu tiba-tiba saja pria itu menjadi bagian dari kehidupannya.

Seperti hari ini, saat daun-daun berguguran di bulan November, Hyeki sedang menunggu Jinki di kafe favorit mereka. Tidak, sebenarnya kafe itu lebih tepat disebut sebagai favorit Hyeki. Jinki tidak punya terlalu banyak pilihan.

Akhirnya Hyeki melihat Jinki dari jendela kafe yang besar. Pria itu melambai dan melangkah masuk membuat lonceng di atas pintu kafe bergemerincing. Eye smile terukir di bibirnya, hal favorit Hyeki dari pria itu.

“Aku sudah memesankan oppa cappucinno,” kata Hyeki menunjuk dua cangkir kopi yang mengepul di atas meja mereka.

“Terima kasih,” sahut Jinki. Kentara sekali ada kegembiraan dalam suaranya.

Hyeki mengangkat sebelah alisnya. “Apa sesuatu yang baik sedang terjadi?” tanya Hyeki. “Oppa menang tender lagi?”

Jinki hanya menggeleng dan menatap gadis itu. “Bukan, bukan. Ini berita yang jauh menggembirakan,” jawab Jinki sedikit bergoyang-goyang di kursinya karena sensasi excited.

Hyeki terkikik geli melihat tingkah Jinki. Pria ini kadang tidak bersikap sesuai usianya yang bisa dibilang sangat tua.

“Lalu apa?” tanya Hyeki. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“Kau sudah lihat berita?” Jinki balik bertanya.

Kerutan di kening Hyeki muncul. Gadis itu mengernyit. Seharian ini dia ada di ruang operasi dan nyaris sama sekali tidak melihat berita, jadi gadis itu menggeleng. Berita sepenting apa yang menyebabkan Jinki girang seperti ini?

Jemari Jinki menari di atas ponsel layar sentuhnya, mencari berita yang dilewatkan Hyeki pada mesin pencari dunia maya. Jinki meletakkan ponselnya di hadapan Hyeki dan Hyeki menarik ponsel itu mendekat agar bisa membaca lebih jelas.

Judul berita itu tercetak dengan huruf kapital tebal.

’14 Desember Hujan Meteor akan Terjadi di Seoul’

Hyeki menatap wajah Jinki yang masih diliputi kegembiraan dengan bingung. Jelas sekali dia tidak paham kenapa berita ini begitu berarti.

“Kau tidak paham, Hyeki-ya?” tanya Jinki melihat Hyeki hanya diam saja.

Hyeki menggeleng pelan. Takut mendengar jawabannya.

“Itu berarti aku bisa pulang. Pulang, Hyeki-ya!” seru Jinki gembira.

Dan Hyeki terpaku.

***

Namaku Lee Jinki.

Atau lebih tepatnya sekarang namaku Lee Jinki.

Jinki sering kali mengulang-ulang kalimat itu dalam kepalanya. Bukannya dia kseulitan mengingat namanya sendiri. Dia mempunyai kemampuan super untuk mengingat. Hanya saja dia sudah menggunakan berbagai nama dalam hidupnya dan dia harus melakukan itu agar dia membiasakan diri menyebut diriya sendiri dengan nama itu.

Oh, tidak. Jangan pikir Lee Jinki adalah mafia yang sering bergonta-ganti identitas untuk menghindari ditangkap polisi. Selama 200 tahun hidupnya di bumi, Lee Jinki hidup sebagai pria terhormat yang taat pada hukum. Lalu kalian akan bertanya-tanya bagaimana Lee Jinki bisa hidup selama 200 tahun? Jawabannya mudah saja, karena dia bukan manusia.

Setelah 200 tahun penantiannya, akhirnya berita baik itu datang juga. Kesempatannya untuk kembali ke asalnya. Pulang.

Tapi ada satu hal yang membuatnya gelisah. Jinki masih bisa mengingat wajah pucat dan kaku Hyeki saat dia menyebutkan kata pulang. Dia bisa mendengar Hyeki ketakutan dengan ucapannya. Ya, dia bisa membaca pikiran gadis itu dan kelihatannya saat itu Hyeki lupa kalau Jinki bisa membaca pikiran. Biasanya Hyeki lihai menutupi hal-hal pribadi yang dipikirkannya.

Jinki sedang bertemu dengan Tuan dan Nyonya Park di sore musim gugur yang berangin. Hyeki sedang tidak ada di rumah keluarga Park. Gadis itu sedang shift malam di rumah sakit.

“Jadi kau butuh surat kematian untuk pertengahan bulan Desember?” Park Jungsoo mengulang pertanyaan yang diucapkan Jinki.

Jinki mengangguk. Dia bisa mendengar Jungsoo bertanya-tanya mengenai keputusannya, begitu juga dengan istrinya.

“Kenapa mendadak sekali?” tanya Park Taeyeon khawatir.

Jinki benar-benar menyukai kedua orang ini. Mereka selalu bersikap tulus padanya dan membantunya. Padahal Jinki hanya sekali membantu mereka 15 tahun yang lalu dan mereka sama sekali tidak tahu mengenai kemampuan supernya membaca pikiran.

“Persisnya 14 Desember dan ini akan menjadi permintaan terakhirku dari kalian,” kata Jinki tersenyum. “Aku akan pulang.”

Park Jungsoo adalah pengacara handal yang selama 15 tahun ini membantu Jinki memalsukan kematiannya dan membuatkan identitas baru setiap 10 tahun sekali sedangkan istrinya, Park Taeyeon adalah dokter sekaligus pemilik rumah sakit Kyunghee yang membantu Jinki membuat surat keterangan medis mengenai kesehatannya atau kematiannya. Tanpa dua orang ini, Jinki selalu kesulitan menghadapi birokrasi kehidupan manusia yang semakin lama semakin rumit.

Jungsoo menatap pria yang tidak pernah berubah sejak pertama kali dia mengenalnya. Dia sudah menganggap pria ini saudaranya sendiri.

“Aku akan menyiapkannya, Jinki-ya,” ujar Jungsoo. “Kami akan membantumu,” tambahnya.

Jinki tersenyum dan menjabat tangan Jungsoo. “Aku sangat berterima kasih, hyung,” kata Jinki.

Taeyeon sekarang sudah benar-benar menangis. Wanita itu sangat terpukul dengan keputusan Jinki untuk pulang.

“Oh, Jinki-ya. Kamilah yang harusnya berterima kasih,” kata Taeyeon di antara isak tangisnya. Jungsoo merangkulnya erat. “Kalau bukan karena kau, uri Hyeki ……….,” kata-katanya putus seiring isakannya yang bertambah keras. Taeyeon membiarkan dirinya menangis dalam pelukan suaminya.

Jinki tahu kata-kata yang akan diucapkan Taeyeon terlalu berat. Sungguh siksaan membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Hyeki.

Setelah menghabiskan sepuluh menit terakhir meredakan tangis Taeyeon, Jinki akhirnya pamit pulang. Sepanjang jalan menuju pintu depan, dia melihat beberapa foto Hyeki di ruang tengah. Beberapa foto yang sama yang ada di apartemennya.

Tanpa disadarinya, Jinki sudah membelokkan mobilnya menuju Rumah Sakit Kyunghee.

***

Namanya Lee Jinki.

Dan dia punya kebiasaan aneh untuk muncul di tempat-tempat yang tidak terduga.

Yah, mungkin kalau Jinki tidak punya kebiasaan aneh itu, dia bukanlah orang yang menyelamatkan Hyeki 15 tahun yang lalu.

Malam ini saat waktu menunjukkan sudah lebih 10 menit dari tengah malam dan Hyeki baru saja menyelamatkan seorang pasien gagal jantung di ruang ICU, dia menemukan Jinki duduk santai di kantornya sambil membaca koleksi buku kedokterannya.

Oppa, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hyeki keheranan.

“Aku baru saja bertemu dengan orangtuamu, membicarakan mengenai tanggal 14 Desember,” jawab Jinki sambil meletakkan buku kembali di tempatnya.

Ekspresi wajah Hyeki berubah namun dia buru-buru mengendalikan pikirannya.

“Oh, tengah malam begini? Wow,” kata Hyeki sarkastik.

Jinki tertawa mendengar sindiran Hyeki. “Aku ke sana sore tadi dan kau tidak keluar dari ruang ICU sejak lebih dari 6 jam yang lalu,” ujarnya sambil melirik arloji pura-pura menghitung waktu.

“Oh,” hanya itu yang bisa dikatakan Hyeki. Jadi pria ini menunggu 6 jam di kantornya? Hyeki memutuskan duduk di kursi kerjanya dan membiarkan Jinki duduk di sofa. Dia tidak menawarkan apa pun pada Jinki. Tidak minuman maupun makanan, Jinki tidak bisa makan apa pun yang biasa dimakan manusia. Apa yang bisa dimakan Jinki, Hyeki tidak tahu.

Keheningan menggantung di antara mereka. Jinki berusaha melihat apa yang dipikirkan Hyeki tapi Hyeki memenuhi pikirannya dengan masalah pasiennya. Jelas sekali menghindari dirinya.

“Hyeki-ya,” panggil Jinki.

“Hm?”

“Aku belum pernah memberimu hadiah atas kelulusanmu di ujian masuk spesialis kardiologi,” kata Jinki dengan nada serius.

Hyeki tertawa. Khas Jinki, selalu berkata sesuatu yang out of topic. “Kenapa mendadak membicarakan itu?”

“Kau menginginkan hadiah?” tanya Jinki lagi.

Hyeki mengangguk ragu-ragu.

“Kalau begitu aku akan memberikannya,” kata Jinki tanpa keraguan.

Jinki bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. “Kita bertemu lagi nanti di tanggal 13 desember, oke?” kata Jinki dan pria itu mengedipkan sebelah matanya dan meninggalkan kantor Hyeki sebelum Hyeki bisa mencegahnya pergi.

Lee Jinki dan segala keanehannya.

***

Namaku Lee Jinki.

Jinki mengulang kalimat itu saat dia bersiap untuk hari ini.

Dan hari ini akan menjadi hari yang panjang.

Bulan Desember berjalan tanpa terasa dan sekarang sudah tanggal 13 Desember. Jinki menatap kalender yang ada di apartemennya dan menghela nafas. Semuanya sudah diatur untuk menghadapi kepulangannya. Jungsoo dan Taeyeon sudah mengurus dokumen warisan, kematian dan hal-hal lain. Dia juga sudah menyiapkan keberangkatannya. Yang lebih penting lagi, dia sudah menyiapkan hadiah untuk Hyeki.

Jinki menyetir mobilnya menuju kediaman keluarga Park. Hyeki sudah menunggunya.

“Hyeki-ya, oppa kan menyuruhmu berdandan cantik, apa ini namanya berdandan?” gurau Jinki.

Hyeki mendengus. Gadis itu hanya memakai make up tipis. Dia memakai jeans hitam andalannya dan tidak memakai rok. Walaupun Jinki harus mengakuinya Hyeki terlihat cantik dengan apa pun yang dipakainya.

Jinki menyetir dan Hyeki duduk di sebelahnya dengan manis. Pandangan gadis itu menyapu jalanan dan Jinki mendengar Hyeki bertanya-tanya kemana mereka akan pergi.

“Bandara?” tanya Hyeki melihat penunjuk arah menuju Gimpo.

“Yep!” sahut Jinki santai.

“Tapi aku tidak bawa baju menginap,” protes Hyeki.

Jinki hanya tertawa.

Hyeki bergerak-gerak gelisah di sebelahnya saat mereka menunggu di gerbang keberangkatan. Gadis itu tidak henti-hentinya mengerling Jinki dan Jinki hanya pura-pura tidak melihat. Gerbang pemeriksaan berbunyi nyaring saat Jinki lewat membuat Jinki harus diperiksa petugas dan Hyeki menunggu dengan cemas. Selalu begitu setiap kali Jinki berpergian dengan pesawat. Pada akhirnya dia dilepaskan.

Perjalanan menuju Jeju berjalan lancar dan mereka tiba di sana. Cuaca Jeju tidak sedingin di Seoul dan pemandangan indah itu membuat perasaan Hyeki lebih baik.

“Apa yang akan kita lakukan di sini?” Hyeki bertanya.

“Kita, ah tidak, kau akan makan siang dan oppa akan menemanimu. Setelah itu kita akan menyetir beberapa kilometer untuk mencapai tujuan kita,” jawab Jinki.

Hyeki hanya mengangguk, melakukan apa pun yang diminta Jinki. Pada akhirnya mereka tiba di tempat tujuan sesaat sebelum matahari terbenam. Jinki lagi-lagi menemani Hyeki makan malam dan setelah itu mereka berjalan kaki menuju tempat yang disebutkan Jinki.

“Besok oppa akan pergi?” tanya Hyeki pelan.

Jinki mengangguk singkat.

“Apakah aku bisa melihat oppa pergi?” tanya Hyeki lagi.

Jinki menggeleng. “Itu bukan sesuatu yang bisa kau lihat Hyeki-ya,” kata Jinki pelan.

Hyeki tidak menyahut dan terus berjalan bersama Jinki. Mereka akhirnya tiba di suatu padang rumput. Tempat itu agak temaram dan hanya disinari oleh cahaya bulan sabit dan bintang-bintang di langit malam. Hyeki mengigil sedikit, Jinki tahu dia membenci kegelapan sejak kejadian itu.

“Ayo,” ajak Jinki mengulurkan tangan.

Hyeki meraih tangan itu ragu-ragu dan begitu Jinki mengenggam tangannya Hyeki bisa merasakan kehangatan. Kehangatan yang sama yang diingatnya 15 tahun yang lalu. Kehangatan yang membuatnya aman.

Hyeki mengikuti Jinki berjalan menuju tengah padang rumput itu. Angin bulan Desember berhembus dan Hyeki samar-samar bisa melihat siluet entah apa yang ada di padang rumput itu.

“Sekarang, hitung dalam hatimu Hyeki-ya,” kata Jinki begitu mereka berada di tengah-tengah padang rumput.

Hyeki menghitung dalam pikirannya dengan bingung. Kali ini membiarkan Jinki tahu dan tiba-tiba dia melihat sesuatu yang paling menakjubkan dalam hidupnya terjadi. Begitu dia menyebut angka 13, sesuatu yang bercahaya menyala di kakinya dan cahaya itu menyebar dengan cepat di sekeliling mereka seperti api. Membuat padang rumput itu bermandikan cahaya.

Hyeki menatap pendar-pendar lampu yang berkilauan itu dengan takjub. Mata cokelatnya membulat. Jinki mengingat mata yang sama yang membulat ketika Jinki membocorkan identitasnya.

“Sepertinya aku pernah melihat oppa sebelumnya,” kata Hyeki tanpa berpikir membuat Jungsoo dan Taeyeon bertukar pandang dengan gelisah.

“Hyeki…” tegur ibunya pelan sedangkan Jinki hanya tersenyum misterius.

Dia bisa mendengar Hyeki berusaha mengingat-ingat dalam pikirannya.

“Lima belas tahun tidak bertemu memang bisa membuat kita lupa,” sahut Jinki.

Mata cokelat Hyeki membuat. “Oh!”

Hyeki mendorong sepiring bulgogi ke hadapan Jinki.

“Ayolah oppa, eomma bilang masakanku kali ini berhasil,” bujuk Hyeki dengan senyum cerah.

Jinki menatap Hyeki bingung, tidak tega menolak permintaannya.

“Hyeki-ya, apa eomma tidak pernah bilang padamu?” tanya Jinki pelan.

Mata cokelat Hyeki membulat saat dia menyadari kesalahannya. “Oppa tidak bisa makan ini?”

Jinki mengangguk pelan, jelas tidak enak hati telah mengecewakan kesungguhan Hyeki. “Aku tidak bisa makan apa yang kalian makan.”

“Curang!” Hyeki bersungut kesal sambil menatap stopwatch. Bagaimana mungkin Jinki berlari mengelilingi lapangan sejauh 5 km sebanyak 20 kali dalam waktu 1 menit?

Jinki hanya tertawa menikmati kemenangannya.

“Aku tidak percaya oppa punya kemampuan super,” cibir gadis itu. Dia pikir kemampuan super Jinki hanya sebatas memecahkan walnut dengan jari tangannya.

Jinki menghentikan tawanya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Hyeki. Dekat sekali sampai matanya bisa melihat garis-garis tipis di iris mata gadis itu dan pendengarannya yang tajam bisa mendengar detak jantung gadis itu yang berdebar cepat.

“Dan aku bukan cuma bisa melakukan itu saja,” bisik Jinki pelan. “Aku bisa mendengarkan pikiranmu,” katanya lalu mengedipkan sebelah matanya.

Wajah Hyeki memerah dan mata cokelatnya membulat sebelum ….

Oppa! Berhenti mengerjaiku!!!”

Mereka berbaring di halaman belakang kediaman keluarga Park. Menatap bintang-bintang dengan Jinki memamerkan kemampuannya menentukan rasi bintang.

“Jadi oppa tidak pernah menua?” tanya Hyeki.

“Kami berhenti menua sejak usia 19 dan kami akan mati dalam wajah seperti ini,” sahut Jinki pelan. Dia merasakan Hyeki bergidik mendengarnya menyebut kematian.

“Seperti apa planet oppa?” Hyeki bertanya lagi.

Jinki mengangkat bahu. “Planet kami tidak semakmur bumi,” hanya itu yang dikatakan Jinki. “Tapi kami punya kemampuan unik.”

Hyeki menatap Jinki penasaran. “Apa?”

“Karena kami sama-sama bisa membaca pikiran, mak kami menentukan pasangan dengan ikatan khusus saat pertama kali melihatnya. Kami menyebutnya ‘ikatan’ dan kalian di bumi menyebutnya cinta pandangan pertama,” ujar Jinki pelan.

Mata cokelat Hyeki membulat penuh kekaguman.

“Dan kami akan selalu setia sampai kami mati,” gumam Jinki yang dia tahu Hyeki tidak mendengarnya.

Dan saat ini Hyeki benar-benar menatapnya dengan berkaca-kaca.

Tangisnya hampir tumpah dan Hyeki mengigit bibirnya keras-keras untuk mencegahnya menangis. Dia tidak bisa mengucapkan apa pun dan akhirnya dia membiarkan pertahanannya runtuh. Membiarkan Jinki dengan bebas membaca pikirannya.

Jinki bisa mendengar dengan jelas. ‘Terima kasih.’ ‘Aku senang sekali.’ ‘Ini menakjubkan.’ Dan berbagai kata lain yang berseliweran di dalam pikiran Hyeki.

Jantung Jinki seakan berhenti saat dia mendengar kalimat lain yang telah dikubur Hyeki jauh-jauh di dalam dasar pikirannya. Yang bertahun-tahun disembunyikannya dari Jinki. Satu pikiran kanak-kanak dan satu pikiran dewasa.

‘Aku akan menikah dengan penyelamatku, ahjusshi yang penuh senyum.’

‘Aku menyukai oppa.’

Hyeki tidak bisa bicara dan dia membiarkan saja kata-kata itu mendominasi pikirannya. Hyeki bisa melihat Jinki tertegun dan saat itu dia tahu Jinki sudah mengetahuinya. Lalu tiba-tiba saja cahaya lain menghujani mereka.

Langit mendadak bercahaya terang, mengalahkan pendar lampu yang tersebar di seluruh padang rumput itu. Berpuluh-puluh atau mungkin beratus-ratus cahaya berjatuhan dari langit.

Hujan meteor.

Jinki menunduk menatap Hyeki dan mendadak dia merasa sangat sadar dengan tangan mereka yang masih saling mengenggam. Hyeki hanya tersenyum lemah, masih berusaha tidak menangis di hadapan Jinki.

“Saatnya sudah tiba bukan?” tanya Hyeki. Suaranya bergetar.

Jinki mengangguk dan dia melakukan sesuatu di luar kendalinya. Jinki mengecup kening Hyeki dan gadis itu akhirnya menangis. Jinki mengutuk dirinya sendiri karena berbohong mengenai kapan ia akan pergi.

Mendadak mengalahkan cahaya-cahaya di langit dan di padang rumput, sebuah piringan bulat muncul entah dari mana. Hyeki paham itu siluet benda yang dilihatnya tadi.

Piringan itu mengudara dan terbang tepat di atas mereka. Cahayanya tidak seterang cahaya padang rumput tapi cahaya itu menyoroti Jinki yang perlahan memisahkan diri dari Hyeki.

“Jaga dirimu baik-baik, Hyeki-ya,” pesan Jinki sambil tersenyum. Eye smile.

Hyeki terisak. Cahaya itu semakin terang dan menyilaukannya lalu dia tidak ingat apa-apa lagi.

***

Namanya Lee Jinki.

Dan Hyeki sekarang menghadiri pemakamannya.

Hanya pemakaman pura-pura yang diselenggarakan kedua orangtuanya agar kolega Jinki tidak curiga. Tuan dan Nyonya Park mengakui Jinki sebagai putra angkat mereka karena itulah mereka yang menyiapkan pemakaman ini. Namun atmosfer kesedihan di dalam pemakaman itu terlalu kental untuk sebuah pemakaman pura-pura.

Di depan sana, ayah dan ibu Hyeki menerima salam dari orang-orang yang menyampaikan belasungkawa. Di sudut kanan, ada teman-teman Jinki yang dikenal Hyeki, Choi Minho, Kim Kibum, Lee Taemin dan Kim Jonghyun yang sedang termenung menatap gelas-gelas soju di hadapan mereka. Lalu ada banyak lagi orang-orang yang datang yang pernah ditolong Jinki dan menyadari eksistensinya di bumi.

Hyeki sendiri hanya terdiam menatap wajah Jinki dengan eye smile yang terbingkai dalam pigura foto. Matanya sembab dan merah karena menangis. Apalagi setelah membaca pesan Jinki.

Kau tahu soal ‘ikatan’, aku sudah mengikatmu sejak 15 tahun yang lalu, Hyeki-ya.

-Jinki

Dia tidak bisa berhenti bertanya-tanya. Apakah Jinki menyesali keputusannya untuk pulang? Apakah Jinki memikirkan Hyeki seperti Hyeki memikirkannya sekarang? Apakah Jinki tahu bahwa banyak orang yang kehilangannya? Apakah Jinki pernah berpikir mungkin tempatnya memang di sini?

Hyeki mengigit bibirnya menahan keinginannya untuk menangis lagi. Dia seakan punya stock air mata tak terbatas itu menangisi Jinki.

Pulang. Hyeki benar-benar membenci kata itu.

***

Namaku bukan Lee Jinki lagi.

Ah, biarpun Jinki mengulang-ulang kalimat itu tapi dia sama sekali tidak bisa melupakan nama itu. Satu-satunya nama yang diingat oleh gadis itu, Park Hyeki.

Tahukah Hyeki bahwa sekarang Onew memikirkannya?

Ya, sekarang setelah dia kembali, dia memakai nama aslinya. Onew.

Lima belas tahun yang lalu.

Onew menggendong gadis kecil yang mengigil itu dan membawanya keluar dari gudang gelap itu. Tangan Onew mengenggam erat jemari kecil itu memberinya kehangatan. Sirene mobil polisi terdengar dari kejauhan. Onew melihat Inspektur Jonghyun beserta anggota timnya turun dari mobil dengan terburu-buru diikuti oleh sepasang suami istri. Onew mengedikkan kepala pada Jonghyun memberi tanda aman bagi inspektur itu untuk meringkus penculik yang babak belur di dalam sana.

Pasangan suami istri itu berlari mendekati Onew, berulang kali mengucapkan terima kasih. God bless Onew for all his superpowers. The little girl is safe.

Berada dalam gendongan ibunya, gadis kecil itu tidak melepaskan genggaman tangan Onew. Matanya yang bulat dan memiliki iris cokelat perlahan terbuka. Bertatapan dengan mata Onew. Lalu seolah ada listrik yang mengalir di antara tangan mereka yang bersentuhan. Onew tahu apa itu.

‘Ikatan’.

Itulah yang membuatnya kembali lima belas tahun kemudian. Membuatnya mempertahankan hubungan dengan Tuan dan Nyonya Park. Membuatnya berani membocorkan identitasnya.

Key menatap Onew dengan pandangan mencela. “Kau tahu ikatan itu tidak main-main,” katanya tegas.

“Aku tahu,” Onew menyahut tenang.

“Tapi kau membiarkan dirimu mengikat gadis bumi itu,” tukas Key lagi-lagi dengan nada mencela.

Kali ini Onew tidak menjawab. Dia memblokir kalimat-kalimat mencela yang diteriakkan Key dari pikirannya. Onew memenuhi pikirannya dengan Hyeki, Hyeki dan Hyeki membuat Key semakin kesal.

“Baiklah,” ujar Key menyerah. “Hiduplah dalam kesendirianmu,” gerutunya dan meninggalkan Onew sendiri.

Onew menghela nafas. Dia tahu tempatnya di sini, di planet ini. Dia tidak pernah menyangka akan ‘mengikat’ gadis itu. Sejak awal mereka berbeda dan dia tidak tahu bahwa gadis itu juga merasakan hal yang sama. Dia tidak pernah tahu keputusannya untuk pulang ternyata sesulit ini.

Matahari di ufuk selatan mulai terbenam dan Apreon —bulan planet ini mulai muncul di langit yang gelap. Tempatnya untuk pulang adalah di sini walaupun seseorang sebagai tempatn seharusnya ia pulang tidak di sini.

I have returned,’ bisiknya pada dirinya sendiri.

END-

AN : Halohaaa, harusnya ini idenya buat FF party 2013. But, ga sempat ditulis berhubung ngejar deadline sidang skripsi hikss!

Gimme comments and likes yaa😉

Love, qL

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “Return

  1. naah.. bener nih dari man from the star^^

    karna saya nonton kdrama itu, jadi agk ngebayangin Kim soo hyun dari pada Jinki -_-

    tapi saya suka jalan ceritanya qL🙂

  2. sad ending yaa??
    aku sedih masa… hampir nangis.
    ini FF sedih banget. jadi nyesek bacanya… T_T

    omong-omong berarti itu Key, Jonghyun, Minho sama Taemin sejenis/? ya sama Onew..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s