Trauma

trauma cover

Title: Trauma

Main Cast : Lee Jin Ki, Lee Ji Na (OC)

Support Cast: other SHINee members and Choi SiWon

Length: Oneshoot

Genre : Family, a bit friendship

Rating : General

Summary : “I Will do anything, I will give everything, Only to see your smile again”

A.N:  Annyeong *bow. Fanfic ini dibuat berdasarkan khayalan author yang sangat berharap punya seorang oppa (tapi gak kesampaian). Saran, masukan, kritikan atau yang lainnya bisa langsung komen dibawah atauuuu bisa kirim e-mail ke satari.karina@yahoo.com HAPPY READING ^^

Story begin >>>

Hujan turun sedkit demi sedikit dari langit kota Seoul. Membawa warna abu-abu yang seketika memenuhi kota. Seorang gadis duduk memeluk lutut didepan jendela kamarnya yang besar. Mata dengan iris hitam pekatnya menatap keluar jendela dengan pandangan kosong.

Cklek

Pintu kamar bernuansa ‘Doraemon’ itu terbuka. Seorang namja bermata sipit muncul dari balik pintu bercat putih itu. Matanya menatap nanar penghuni kamar yang tengah termenung didepan jendela kamarnya. Mata sipitnya berkaca-kaca, hatinya teriris memandangi gadis yang selama dua puluh lima tahun menjadi bagian hidupnya itu terlihat kacau. Rambut bergelombangnya terlihat kusut, begitupun matanya yang dihiasi kantung kecil berwarna hitam.

“Na-ya, diluar hujan, kau tidak ingin bermain keluar? Biasanya kau senang dengan hujan,” akhirnya namja itu membuka mulutnya. Meskipun ia mati-matian mengatur suaranya sedemikian mungkin agar tidak terdengar bergetar. Setelah sekian detik terdiam, akhirnya yeoja itu menggeleng pelan, menjawab pertanyaan namja yang sedari tadi menatapnya nanar. Namja itu menghela nafasnya, ia memutar kepalanya kebelakang. Menatap namja tinggi yang sedari tadi berdiri dibelakangnya dengan pandangan putus asa.

Geure, oppa ada diruang tengah bersama Minho jika kau butuh oppa,” namja itu terdiam sesaat menunggu jawaban dari gadis itu. Namun akhirnya, ia menutup pintu itu karena yakin yeoja itu tidak akan menjawabnya.

~.~

Jin Ki –nama namja itu- menghempaskan tubuhnya kesofa. Menimbulkan bunyi cukup keras yang akhirnya menggema keseluruh ruangan. Di depannya, Minho menatap hyungnya iba. Seingatnya, Jin Ki tidak pernah terlihat sekacau ini. Tidak jauh beda dengan keadaan Ji Na –adik Jin Ki- yang baru saja ia lihat.

“Kau lihat keadaannya ‘kan, MinHo? Sungguh, aku tidak bisa melihat Ji Na yang seperti ini. Cukup bagiku kehilangan eomma dan abeoji, aku tidak bisa kalau harus kehilangan Ji Na,” Jin Ki berucap sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang besar. Menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada sandaran sofa.

Ne, nan arayo hyung. Tapi boleh aku tahu mengapa Ji Na bisa seperti ini?” Ada nada keraguan saat MinHo bertanya. Ia takut Jin Ki tersinggung dengan pertanyaannya. Jin Ki menjauhkan tangannya dari wajahnya. Pandangannya menerawang kelangit-langit rumahnya dengan mata yang berkaca-kaca. MinHo yang terkejut dengan reaksi Jin Ki hanya bisa diam, menunggu jawaban yang akan dilontarkan Jin Ki.

“Ini semua salahku. Seharusnya aku tak membawanya ke Jepang. Seharusnya aku tak meninggalkannya sendiri di bandara.”

FLASHBACK

Oppa, kau yakin Jepang lebih menyenangkan dari London?” Ji Na mendongakkan kepalanya. Mencoba menatap Jin Ki yang kini tengah berjalan beriringan dengannya. Jin Ki menundukkan kepalanya dan tersenyum pada Ji Na. “Tentu saja, disini ada Museum Doraemon, si robot biru yang serak itu,”

Ji Na menggembungkan pipinya, tak rela icon favoritnya di jelek-jelekkan oppanya. Jin Ki terkekeh pelan melihat ekspresi adiknya yang selalu menjadi favoritnya. Tangannya bergerak mengacak rambut di puncak kepala Ji Na.

Kring….kring..

Handphone Jin Ki mengiterupsi adegan manis adik kakak itu. Wajah Jin Ki berubah serius ketika melihat nama penelepon yang terpampang di layarnya.

“Tunggu sebentar,” ucap Jin Ki kemudian berjalan menjauh dari Ji Na. Ji Na memandangi punggung oppanya sambil duduk disebuah kursi panjang yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Tangannya masih setia memeluk koper merah besar yang ia bawa dari Seoul. Bosan dengan punggung oppanya, ia mengarahkan pandangannya untuk melihat kesekeliling bandara. Hampir semua orang disana berbicara dengan bahasa yang sulit ia mengerti. Kemudian pandangannya mengarah pada jendela bandara yang besar. Ia tersenyum memandangi butiran-butiran air yang baru saja turun dari langit.

“Hujan pertama di Negri Sakura,” gumamnya tanpa melepas senyum dibibirnya.

Ia menengokan kepalanya kesebelah kanan, disana oppanya sudah berdiri dengan wajah penuh raut penyesalan.

Mianhae Na-ya, oppa tidak bisa mengantarmu kehotel. Oppa ada urusan mendadak di kantor cabang itu jadi harus segera pergi sekarang.”

Ji Na hanya menanggapi ucapan oppanya itu dengan wajah tenang tanpa melepaskan senyum dibibirnya “Eoh? Gwaenchanayo oppa. Aku bisa naik taksi dari sini. Kalau aku tersesat aku bisa bertanya pada seseorang.”

Nde, arrayo. Hati-hati dijalan,” Jin Ki mengacak puncak kepala Ji Na sebelum akhirnya gadis itu berlari menuju pintu keluar bandara.

END OF FLASHBACK

Geure, apa yang terjadi setelah itu hyung?”

Jin Ki menegakkan tubuhnya, kemudian menatap MinHo yang menatapnya penasaran. “Saat aku ke hotel….. Ji Na tidak ada disana.”

“Nde? W..wae?” Tanya MinHo dengan alis yang bertaut. Jin Ki menarik nafas panjang, sebelum akhirnya melanjutkan ceritanya.

“Ji Na menaiki taksi yang salah,” Jin Ki memberi jeda pada kalimatnya,”Supir dari taksi itu adalah bandar Human Traficking yang sudah mengincar Ji Na sejak di Seoul. Kau tau sifat Ji Na yang lugu dan mudah berteman bukan?” MinHo mengangguk diantara jeda yang dibuat Jin Ki. Matanya masih menatap Jin Ki antusias, ”Itu yang membuatnya mudah dijebak. Sepanjang perjalanan menuju hotel, supir gadungan itu terus saja mengajak Ji Na bicara sampai akhirnya mereka berhenti disebuah gudang tua, dan….Ji Na di sekap disana bersama gadis-gadis lain selama dua hari.”

Mata MinHo membulat. Ia tahu Ji Na adalah gadis yang cantik dan ramah. Tinggi semampai dan murah senyum. Tentu banyak pria yang ingin menjadi kekasihnya. Namun ia tidak menyangka kelebihan itulah yang membuat Ji Na dalam bahaya.

“Lalu Ji Na bagaimana? Apa yang terjadi setelah itu? Dan bagaimana hyung tau tentang hal itu?” Jin Ki tersenyum. Senyum yang diyakini MinHo sebagai topeng untuk menutupi air mata Jin Ki yang siap mengalir.

“Aku tahu dari kesaksian korban lain dan pengakuan tersangka. Para korban itu bilang, selama satu hari disana, Ji Na tak pernah berhenti menangis. Ia selalu menangis sambil memanggil-manggil aku. Sampai akhirnya bandar itu mengancam akan menjual Ji Na lebih cepat dari yang lain jika ia tak berhenti menangis. Memang benar setelah diancam begitu Ji Na berhenti menangis. Tapi mulai saat itu juga, Ji Na kehilangan senyumannya. Salah satu korban mengatakan, Ji Na mengambil ponsel penjaga yang waktu itu sedang terlelap lalu menelpon TaeMin, temannya di Seoul. Karena satu-satunya nomer handphone yang ia hafal hanya nomer TaeMin. Setelah itu Taemin menelponku, aku yang terkejut segera melaporkan kejadian ini pada polisi. Polisi melacak nomer yang digunakan Ji Na untuk mencari keberadaan Ji Na. Dan kau tau? Saat ditemukan, keadaan Ji Na seperti mayat hidup. Ia pucat, pandangannya selalu kosong. Dan mulai saat itu aku tak pernah melihat senyumnya lagi,” Jin Ki kembali menghempaskan tubuhnya kesandaran sofa. Matanya kini berair mengingat kenangan buruk Ji Na yang menjadi kenangan buruk baginya juga. MinHo bangkit dari duduknya, menghampiri Jin Ki kemudian meremas bahu Jin Ki.

Hyung aku tidak tahu harus bagaimana. Tapi aku janji akan berusaha semampuku. Untukmu, untuk Ji Na. Karena aku sudah menganggap kau dan Ji Na sebagai keluargaku.”

~.~

Tokk..tokk…tokk

“Tunggu sebentar !” teriak Jin Ki dari arah dapur. Ia berjalan agak cepat untuk membukakan pintu.

Annyeong hyung,”

Annyeong, masuklah,” Jin Ki tersenyum kemudian membuka pintu lebar-lebar untuk MinHo dan seorang lainnya yang datang bersama MinHo.

“Jadi ini siapa MinHo?” Tanya Jin Ki ketika menyadari MinHo tidak datang sendiri. Matanya menatap MinHo dan namja kekar berlesung pipit disampingnya bergantian.

“Ah, ia hyung ini orang yang kemarin aku ceritakan. Yang akan membantu kita menyembuhkan Ji Na. Dia Choi SiWon, sepupuku,” Jin Ki mengangguk paham. Kemudian tangannya bergerak untuk menjabat tangan SiWon. Keduanya menyebutkan nama mereka bergantian.

“Ehm, hyung bagaimana kalau kita mulai sekarang?” Ujar MinHo. Kedua orang itu pun mengangguk setuju kemudian berjalan beriringan menuju kamar Ji Na yang berada dilantai dua.

~.~

“Na-ya, boleh oppa masuk?” Tanya Jin Ki dari luar kamar Ji Na setelah sebelumnya mengetuk pintu bercat putih itu. Beberapa menit kemudian, Jin Ki membuka pintu itu setelah tak mendapatkan jawaban dari dalam.

Matanya menangkap sosok Ji Na yang sedang melakukan rutinitasnya selama tiga bulan belakangan. Perlahan, Jin Ki melangkahkan kakinya mendekati Ji Na. Ia duduk didepan Ji Na. Matanya menatap wajah Ji Na yang masih menatap keluar jendela sebelum akhirnya membuka mulutnya.

“Na-ya, ada teman oppa yang tampan ingin bertemu denganmu. Namanya Choi SiWon. Dia seorang psikiater yang-“

ANDWE!!AKU TIDAK MAU BERTEMU SIAPAPUN!! AKU TIDAK MAU BERTEMU PSIKIATER!! AKU TIDAK GILA OPPA!!! AKU TIDAK GILA!!!”

Teriakan Ji Na membuat Jin Ki tersentak. Begitu pula dengan MinHo dan SiWon yang masih berdiri diambang pintu. Setitik air jatuh dari mata Ji Na. Tangan Jin Ki refleks menarik Ji Na kedalam pelukannya. Pelukan yang selalu menghangatkan Ji Na.

“Aku tidak gila oppa, Ji Na tidak gila,” Ji Na terus mengucapkan kata yang sama saat berada dalam pelukan Jin Ki. Tangan Jin Ki bergerak menelusuri surai indah Ji Na yang terasa agak kusut, “Oppa tau Na-ya tidak gila. Oppa hanya ingin Ji Na menemani SiWon berbicara sebentar.”

Ji Na tersentak. Dengan cepat ia melepaskan diri dari pelukan kakaknya“ANIYO!!! KAU! CEPAT PERGI DARI SINI!!!”

“Na-ya,,” Jin Ki berusaha menenangkan Ji Na yang berteriak pada SiWon. Tangannya mengelus punggung Ji Na, berharap dengan begini Ji Na bisa tenang. SiWon mengangguk pada Jin Ki dengan wajah tenangnya, memberi tanda jika dia baik-baik saja. Bukan sekali ia pernah mendapat perlakuan serupa. Kemudian ia diikuti MinHo melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.

~.~

“Ini cukup sulit, Jin Ki-ssi,” SiWon membuka percakapan ketika mereka bertiga sudah duduk diruang tengah. Ekspresi shock dan bingung tergambar jelas diwajah mereka.

“Apa kau tak bisa membantunya?” SiWon menggeleng pelan, “Sulit. Jika dia dipaksa menemuiku, aku takut ia akan berbuat yang tidak-tidak. Ji Na-ssi benar-benar trauma bertemu dengan orang asing dan berada diluar rumah,”

Jin Ki membuang nafasnya kasar, ia mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangannya,  “Lalu aku harus bagaimana?”

“Tenang hyung. Pasti ada jalan lain,” MinHo meremas bahu Jin Ki. Mencoba memberi semangat pada Jin Ki yang mulai putus asa.

Ne, MinHo benar. Dari kasus-kasus sebelumnya, orang yang menderita trauma seperti Ji Na-ssi bisa sembuh karena mendapat keyakinan dari orang-orang terdekatnya. Jin Ki-ssi dan MinHo bisa mengajak orang-orang terdekat Ji Na-ssi seperti sahabat misalnya untuk bekerja sama. Yakinkan Ji Na jika diluar baik-baik saja. Ji Na pasti akan lebih mudah mempercayai orang-orang terdekatnya dibandingkan orang yang dianggapnya asing sepertiku.”

Jin Ki menatap lurus mata SiWon. Ada perasaan lega dihatinya saat tak menemukan kebohongan dimata SiWon. Seakan mendapat harapan setelah mendengar perkataan SiWon, kini rasa putus asa berangsur-angsur menghilang darinya. Rasa putus asa itu kini digantikan oleh semangat yang baru saja tumbuh dihatinya.

~.~

“Hwaaa dingin,,,,,,”

“Aish babo! Dimana-mana air hujan memang dingin. Kalau hangat itu air yang dipemandian.”

“Hahahaha…..”

Ji Na menatap kosong keluar jendela. Tepatnya menatap kelima namja yang ia kenal. TaeMin -teman sekampusnya- baru saja mendapat jitakan dari JongHyun –Teman kantor oppanya, mengundang tawa ketiga orang lainnya yang berada disana, oppanya dan dua rekan kerja oppanya yang lain, MinHo dan KiBum. Rintik air hujan sedikit demi sedikit mulai membasahi tubuh mereka yang masih menjadi objek pandangan Ji Na.

“Hei princess Lee! Jangan hanya diam disana, cepat turun! Air hujan ini menyenangkan! Apalagi saat mereka menyentuh kulit wajahmu,” Ji Na menatap TaeMin yang sedang berputar-putar dibawah hujan sambil menengadahkan kepalanya diikuti teman-teman oppanya. Jin Ki juga menatap adiknya itu. Matanya memancarkan sebuah harapan. Batinnya berbisik agar adiknya itu turun dan ikut bergabung dengan mereka. Jin Ki yakin dibalik tatapan kosongnya, Ji Na merindukan saat-saat ia bermain dibawah hujan.

Bagai dilempar batu besar harapan Jin Ki hancur seketika saat melihat pergerakan Ji Na yang turun dari jendela. Ji Na berbalik kemudian menarik tirai yang akan menutupi jendelanya. Begitu pula keempat orang lainnya yang seketika menghentikan aktifitas bermain mereka, mengikuti arah pandang Jin Ki. Mereka semua merasakan kecewa,meskipun tidak sebesar yang dirasakan Jin Ki.

Ji Na merebahkan tubuhnya dikasur king sizenya. Berharap dengan begini ia bisa melepaskan semuanya. Rasa bersalah kepada oppanya, dan kenangan pahit yang terus menghantui fikirannya. Kenangan mengurung semua keceriaanya. Menguapkan senyum yang selalu menjadi favorite oppa kesayangannya.

Mian oppa, Ji Na tidak bisa, Ji Na takut,”

~.~

Seorang namja duduk meluruskan kakinya dibawah langit Seoul yang diselimuti awan hitam. Ia duduk tanpa beralaskan apapun, hanya tanah dengan rerumputan pendek yang ia kenakan sebagai alas duduk. Tidak memperdulikan pakaian kantor mahalnya yang akan kotor terkena noda tanah. Pikirannya sudah dipenuhi adiknya yang sekarang pasti sedang melakukan hal yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Bergelut dengan fikiranya sambil memandang kosong keluar jendela. Matanya menatap sendu kesekelilingnya. Hanya hamparan rumput pendek dan sebuah  pohon besar yang dapat ia lihat sejauh matanya memandang. Ingatannya membawa dirinya kemasa tujuh belas tahun yang lalu. Saat ia dan Ji Na masih menjadi anak kecil yang selalu memamerkan gigi susu mereka. Saat orang tua mereka masih bernafas disamping mereka dan memberi kecupan hangat didahi mereka sebelum kedua anak kecil itu terlelap. Di sini, ditempat ini, sebagian besar kenangan itu terjadi ditempatnya ini. Tempat ia dan keluarganya biasa menghabiskan waktu di akhir pekan.

Appa, aku bukan kakak yang baik. Aku tidak bisa menjaga Ji Na seperti saat Appa menjaga aku, eomma, dan Ji Na dulu,” rambut pendeknya berterbangan tertiup angin yang seakan menjawab kata-katanya. Ia menarik nafas kemudian melanjutkan ‘monolog’nya.

Eomma, aku membuat Ji Na menangis lagi. Tidak bisakah eomma datang dan membantuku untuk menghapus air mata Ji Na seperti dulu?”

Lagi, hanya angin yang menjawab pertanyaannya. Andaikan beban itu ringan, mungkin beban itu sekarang sudah hilang dari pikiran Jin Ki. Beban Jin Ki terlalu berat, bahkan angin saja tidak bisa hanya sekedar menggesernya.

“Hiks…”

Jin Ki menekuk kakinya, meletakkan kepalanya yang terasa berat diatas tangan yang ia taruh diatas lututnya. Isakan-isakan kecil keluar dari bibirnya yang bergetar. Matanya yang sedari tadi terasa panas akhirnya memuntahkan cairan asin.

Terlalu berat. Baginya beban ini terlalu berat. Ia dibebankan oleh keinginan yang menginginkan kembalinya adiknya seperti dulu. Ia terlalu terhanyut dalam tangisnya sampai tak menyadari seseorang sudah duduk di sampingnya.

Hyung disini,”

Jin Ki mengangkat kepalanya meski terasa enggan. Ia memutar kepalanya dan menemukan namja tinggi tengah menatapnya terkejut dengan mata bulatnya.

Aigoo, siapa ini kau tidak terlihat seperti Jin Ki hyung,” ucap namja itu dengan suara bassnya. Jin Ki tidak menanggapinya. Ia lebih memilih membenamkan kepalanya diatas lengannya.

“Kenapa kau seperti ini hyung?” Jin Ki mengangkat kepalanya, menatap MinHo yang kini menatap lurus kedepan. Mata bulat itu menunjukkan perasaan kecewa.  Jujur ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja MinHo ucapkan.

“Aku kan sudah berjanji akan membantumu. KiBum, JongHyun dan TaeMin juga sudah menyatakan dirinya untuk membantu. SiWon hyung juga. Kenapa kau masih menganggap seolah-olah kau menghadapi ini sendirian? Kami ada untukmu hyung. Kami tidak akan pernah berlari meninggalkanmu sendirian menghadapi semua ini.”

Jin Ki menunduk. Hatinya mengiyakan setiap kata yang keluar dari mulut MinHo. Ia ingat, TaeMin lah yang menelponnya untuk memberitahu Ji Na dalam bahaya. MinHo lah orang yang mendengar ceritanya dengan sabar. Mereka yang merelakan tubuh mereka diguyur air hujan sampai-sampai masuk kantor dengan hidung memerah. Bahkan TaeMin tidak bisa berangkat kekampus karena terserang demam. Mengingat itu membuat Jin Ki merasa bersalah, ia menundukkan kepalanya.

Mianhae,” Ucapnya dengan suara yang bergetar. Membuat MinHo mengalihkan pandangannya kepada Jin Ki

“Aish tidak perlu seperti itu hyung. Kami mengerti, kami kan keluargamu” Ucap MinHo dengan tangan yang melingkar di bahu Jin Ki. Jin Ki tersenyum. Bahkan disaat seperti ini pun MinHo bisa membuatnya tersenyum.

“Ah ia, tadi aku, JongHyun dan KiBum bertemu SiWon hyung. Kami sudah menyiapkan sebuah rencana setelah sebelumnya berkonsultasi dulu dengannya. Ku harap kali ini tidak gagal,” Jin Ki menatap MinHo yang masih merangkul dirinya dengan pandangan yang mengarah pada pergerakan awan. Detak jantungnya terasa lebih cepat dari sebelumnya. Ia takut rencana kali ini menunjukkan hasil yang tidak ia harapkan –lagi-. Ia memejamkan matanya. Hatinya berbisik lirih, menggumamkan sebuah harapan.

‘I hope too.’

~.~

“Yak!! Kim JongHyun apa yang kau lakukan pada omalete ku? Kenapa kau merubahnya jadi arang?!”

“Astaga! Choi Minho kau memotong sayur atau memotong daging? Itu terlalu besar, babo!”

“TaeMin aduk sup nya yang benar! Aish jinjja masa tumpah-tumpah begitu?!”

Suara nyaring KiBum menggema diseluruh dapur Jin Ki. Layaknya seorang ‘bos’, KiBum mondar-mandir mengawasi mereka yang tengah mengenakan apron berbagai warna. Jin Ki terkekeh pelan melihat ekspresi dongsaeng-dongsaengnya yang terlihat masam. Hanya ia yang belum terkena amuk KiBum. Keinginan KiBum yang mengharapkan segala bentuk kesempurnaan itu telah membawa penderitaan bagi semuanya. ‘success need sacrifice’ batinnya.

Hyung, kalau kau terus tersenyum-senyum seperti itu ayam goreng ku tidak akan matang,” KiBum menatap Jin Ki tajam. Suara dinginnya telah menyadarkan Jin Ki dari lamunannya. Ia menatap sekelilingnya. Dilihatnya orang-orang disekitarnya itu tengah tertawa tertahan.

“Aish! Kalian pokoknya makanannya tidak boleh cacat! Kasian Ji Na yang memakannya. Pokoknya kalau sampai cacat,..” Kibum menatap namja didepannya satu persatu kemudian mengeluarkan sebuah senyuman. Eum atau mungkin sebuah seringaian,”Kalian tahu pasti apa akibatnya. Baiklah aku akan menata makanannya dan menyiapkan peralatan piknik,” Kibum berlalu meninggalkan keempat namja yang masih menatapnya sambil berusaha menelan saliva mereka.

~.~

Jin Ki menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melirik Ji Na yang duduk disebelahnya. ‘Ini sebuah perkembangan’. Ia masih ingat kata-kata SiWon ditelpon beberapa jam yang lalu saat ia menceritakan tentang Ji Na yang sudah ingin ia ajak keluar rumah. Meskipun ia masih terkesan pendiam, perkembangan ini tetap harus disyukuri. Wajahnya yang memperhatikan jalan terkesan tenang, berbanding terbalik dengan jantungnya yang berdegup tak karuan. Pikirannya dipenuhi dengan segala kemungkinan yang akan terjadi saat ia piknik berdua dengan Ji Na nanti. Ya, piknik inilah rencana yang dibilang MinHo sebelumnya. Sekali lagi ia melirik kearah Ji Na. Gadis itu masih asik memandang keluar jendela. ‘Tuhan, lancarkanlah rencana kami kali ini,’gumamnya.

“Cha~ Na-ya kita sudah sampai,” Ucap Jin Ki seraya membuka pintu mobil Ji Na. Kemudian ia mengambil makanan yang tadi sudah mereka –MinHo, JongHyun, TaeMin, Jin Ki, KiBum- buat saat dirumahnya yang ia letakan dikursi belakang dan tikar untuk alasnya duduk.

Ji Na terdiam di tempatnya. Ia memandang ketempat ia berada sekarang. Sebuah padang rumput yang luas dengan pohon rindang disalah satu sisinya. Jin Ki tersenyum kemudian menghampiri Ji Na yang berdiri beberapa meter dibelakangnya.

“Kau ingat tempat ini? Ini tempat kita biasa piknik dengan eomma dan appa dulu. Kau lihat pohon besar itu?” Jin Ki menunjuk satu-satunya pohon besar disitu dengan dagunya. Ji Na memutar kepalanya, mengikuti arah yang tadi ditunjukkan Jin Ki “Itu tempat kita biasa duduk. Ayo kesana!”

Ji Na mengikuti Jin Ki dalam diam. Tentu ia ingat tempat ini. Ia hanya tidak menyangka Jin Ki akan membawanya kesini. Mata Ji Na masih setia memandangi Jin Ki yang sedang menggelar tikar, mengeluarkan kotak makanan, tanpa melepaskan lengkung bulan sabit itu dari bibirnya.

Jin Ki menepuk-nepuk tempat kosong didepannya, “Ayo duduk!”

Ji Na duduk tepat disamping Jin Ki. Matanya memperhatikan Jin Ki yang sedang membuka salah satu kotak makanan dengan semangat, “Nah ini dia makanan favorite kita. Ayam goreng! Kau tau tadi aku yang memasak ini. Ayo dimakan! Tenang ini tidak beracun.”

Mereka makan dalam diam. Keduanya terhanyut dalam fikiran mereka masing-masing. Jin Ki tentang Ji Na, sementara Ji Na tentang sesuatu yang hanya ia sendiri yang tahu.

“Ehm, Na-ya boleh oppa bertanya?” Jin Ki mencoba membuka percakapan. Ji Na menoleh padanya memberikan jawaban ‘ya’ untuk pertanyaan Jin Ki. Jin Ki merasakan keraguan. Ia ragu akan mengatakannya atau tidak. ‘Kau pasti bisa Jin Ki’  ia memantapkan hatinya kemudian mulai membuka mulutnya. “Apa yang membuatmu selalu termenung didepan jendela?”

“…” Hening. Jin Ki yang tidak mendapat jawaban memilih untuk melanjutkan pertanyaannya.

“Apa karena kejadian tiga bulan lalu saat di Jepang?”

Deg! Ji Na merasakan sesuatu meremas jantungnya. Tubuhnya seakan bergetar dan semakin mendingin “Apa itu yang membuatmu berubah?” Mulut Ji Na masih bungkam. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan meskipun ia tahu jawaban dari semua pertanyaan itu.

“Mianhae, aku yang bodoh. Aku yang telah lalai tidak bisa menjagamu seperti janjiku pada appa dulu. Bahkan aku bukanlah namja peka yang tahu apa yang sebenarnya mengganggu fikiranmu.”

Tes,

Setetes air jatuh dari mata Ji Na. Ji Na tidak berani menatap Jin Ki. Ia lebih memilih menatap rrumputan didepan sana yang bergerak tertiup angin. Berharap itu akan menenangkannya.

“Tapi, apa aku tidak bisa melakukan sesuatu? Aku akan melakukan apapun. Bahkan memberikan apapun termasuk nyawaku jika memang itu bisa mengembalikan senyummu. Membuatmu seperti dulu. Aku akan membantumu melupakan masa-masa kelam itu Na-ya. Aku akan berusaha membawa cahaya baru untukmu. Kau tidak perlu menanggung kenangan pahit itu sendirian Na-ya. Kita keluarga. Kau adikku dan aku oppamu. Kau boleh bercerita padaku sampai larut. Menangis dipelukanku sampai kau tertidur. Memintaku untuk menghajar namja yang sudah merobek hatimu. Memelukmu jika kau butuh kehangatan. Aku akan melakukannya untukmu.”

“Mungkin jika kau memintaku untuk membunuh namja-namja sialan yang telah menculikmu itu dengan tanganku,lalu membawa kepala mereka untuk digantung didepan jendela kamarku, aku akan senang hati melakukannya.”

Aliran air mulai keluar dari sudut sepasang matanya yang membulat. Ia tidak pernah menyangka oppanya akan mengeluarkan kata-kata manis namun sadis seperti itu. Dalam hati ia bersyukur, tak pernah meminta hal ‘gila’ macam itu pada Jin Ki.

“Na-ya lihat mata oppa,”

Ji Na memutar tubuhnya karena sepasang tangan Jin Ki yang memaksanya. Membuat Jin Ki bisa melihat aliran sungai kecil dipipi Ji Na. Jin Ki menangkup wajah Ji Na dengan kedua tanganya. Ibu jarinya bergerak mengusap aliran air yang menurutnya mengurangi kecantikan alami Ji Na.

“Ji Na tak perlu takut apapun. Tidak perlu menghindari apapun. Tak perlu ragu untuk melangkah kemanapun. Karena aku Lee Jin Ki putra dari Lee Ji Sun dan Lee Ha Na serta kakak laki-laki dari Lee Ji Na, berjanji, akan selalu ada didekatnya. Selalu bersamanya. Selalu ada untuknya. Selalu menjaganya, dan selalu menemaninya sampai Lee Ji Na menemukan seorang namja yang akan menjadi teman hidupnya.”

Ji Na kembali menangis. Bukan, bukan karena ia takut seperti biasanya. Tapi karena kata-kata Jin Ki yang terlalu indah didengarnya.

“Ji Na, percaya pada oppa kan?”

Ji Na mengangguk mantap. Perasaan takut yang selalu menghantuinya itu sekarang melayang entah kemana. Ia tersenyum pada Jin Ki. Senyuman manis dan tulus yang sangat di rindukan Jin Ki. Senyuman puas mengembang dibibir tipis Jin Ki. Perasaan legapun memenuhi hatinya. Dengan gerakan cepat ia membawa tubuh kecil Ji Na kedalam pelukannya. Menyalurkan semua kasih sayang yang ia punya pada adiknya.

Saranghae, Na-ya.”

Nado saranghae, oppa

~END~

Note: FF ini merupakan karya yang tidak lolos seleksi pada event FFP 2013 bulan Desember kemarin, namun masih mendapatkan dukungan beberapa juri.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “Trauma

  1. Baca ini sambil denger Moonlight nya Jinki, bikin nangis…
    Aku terharu dengan kata-kata Jinki di bagian akhir…

    Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada Ji Na/
    Maksudku, apakah dia sempat dijual ketika diculik?
    Atau dia sempat menjadi korban abuse ketika diculik???
    Aiiisshhh… Bodohnya aku…
    Diculik itu juga udah tindakan abuse, kan?
    Dan itu sudah cukup sangat banget mengerikan
    untuk bisa buat kita trauma
    (Maaf kalimatnya bener2 gak baku…)

    aku cukup ngerasa feelnya.
    Tapi agak sedikit bingung karena cerita dan endingnya yang rada nanggung.
    Kalau ditanya apa yang buat aku merasa begitu, aku juga kurng tahu
    Tapi itu yang aku dapet.

    Keep writing, ya…
    Bakalan banyak kemajuan dengan latihan dan
    karya-karya lainnya

  2. Waaah, si Jinki bener2 jadi Oppa yg baik .
    saya sempet mikir jauh ttg trauma yg dialami Jina..

    syukurlah Jina mendapatkan dukungan yg baik dari orang2 terdekatnya..

    Karina, saya suka ffnya🙂

  3. baca ff ini bikin aku makin kepengen punya kakak cowo’ :”)
    Jinki emang keren banget kalo dijadiin sosok kakak. Inti ceritanya bagus. mungkin karena alur ceritanya cepet, jadi kurang kerasa angst ‘trauma’ yang dialamin sama Ji Na, gimana ceritanya si Jina sampai diem ngurung diri di kamar. kalo emang diculik doang, aku pikir dia bakal lebih cepet pulihnya. mgkn penjelasan ttg kejadian 3 bulan yg lalu perlu ditambah dikit. ehehehehee…

    Tapi pas bagian Jinki-Jina itu aku suka banget. sweet bener kata2 Jinki buat ngeluluhin hati Jina. Top laah!!!

    tetep berlatih nulis ya Karina. Aku suka ceritanya. semoga cerita berikutnya makin bagus dan makin keren ^o^/

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s