Worth Keeping

Worth Keeping

tumblr_mxq8txO1mh1siyrhqo1_500Written by Zika

Main Cast: Choi Minho, Lee Jinki

Minor Cast: Kim Kibum

Genre: Friendship, Bromance, Life

Length: Ficlet

Rating: G

Note: Happy Late Birthday, dear Minho & Onew ^^

Photo Declaimer: http://amixtapeforthesoul.tumblr.com/post/69851874322/when-the-sun-starts-to-set-a-mix-of-songs-for-the#notes

Summary:

There’s a reason, why some things are worth keeping. And there’s always a reason, why the-worth-keeping-things are often called secret.

|||

Jika semburat jingga langit gambarkan elegi. Jika kepulan asap kelabu lambangkan uapan beban. Jika hembusan angin hapuskan luka. Aku ingin membaur. Jingga nyanyikan duka, bara bakar beban, lantas terbang membawa luka. Untaian galur hitam pada lembar putih tak lagi gambarkan dunia. Kendati lintingan ini tak memberi jalan keluar. Aku tetap mencintainya. Barangkali telah hilang akalku.

Tak layak jadi contoh, tak pantas tunjukkan wajah pada publik. Mungkin aku sudah kebas. Bukan lagi soal etika, malainkan rasionalitas. Kutipan orang bijak terlampau jelas untuk dilaksanakan. Aku mengerti, lantas aku jaga diri. Apa boleh buat? Tungkaiku terlanjur salah pijak. Sengaja, aku sendiri yang pilih. Tak ada yang salah, hanya belum benar. Biasanya aku menghibur diri.

Bibirku membuat ulasan galur yang, mungkin, disebut senyum. Tak menemukan alasan untuk menyembunyikan sigaret penuh racun itu, dan justru menghisapnya terang-terangan. Paras jantan itu menatapku linglung sebentar, sejurus menghampiriku lantas mengaitkan alat bantu dengar yang melantunkan tembang klasik milik The Rembrandts di telingaku. Tak perlu jenius untuk tahu guna teman. Mungkin aku hanya butuh waktu untuk memanfaatkannya.

“Kibum bisa membunuhmu kapan saja, hyung.”

Aku mendengus. “Karena itu aku menikmati setiap detiknya.” Ia tertawa pelan, aku jadi merasa panutan yang tidak baik. Tapi ada benarnya juga. Mungkin aku bukan tidak siap mati di tangan Kibum karena nekat menghisap lintingan nikotin ini, justru aku terlalu siap. Barangkali nyawaku sudah hilang lebih dulu karena terlalu lama bercumbu dengan sigaret ini.

Detik-detik berikutnya kami duduk dalam diam. Menikmati deru angin dan hembusan nafas kami yang terdengar lebih jelas dari biasanya, juga tembang I’ll Be There yang masih mengalun. Saat seperti ini terlalu berharga jika digunakan untuk membicarakan hal tak penting, apalagi mempertanyakan alasanku yang nekat mengotori asupan oksigenku. Setiap kata dalam lagu yang bertahun-tahun menjadi lagu tema acara TV ternama, Friends, mendadak begitu ironi. Meratapi keadaan agaknya bukan pilihan, namun tak lantas membuatku berhenti mengeluh.

“Jika hidup memang sesederhana itu,”

Minho yang mulai mengeluh, tak salah jika aku melanjutkan.

“Barangkali dunia hanya hitam putih.” Aku menyahut seraya menggedikkan bahu ketika tatapannya terarah padaku. Bukan aku tak mengerti akan esensi kehidupan. Rasanya wajar jika manusia berharap hidup berjalan sesuai harapan, meski hasilnya bisa jadi tak seindah yang semestinya.

Jemarinya meraih kotak hitam yang berbaring, memberi jarak, di antara kami. Selalu ada alasan untuk setiap keputusanku ketika membakar puntung sigaretku, tapi rasanya tak lagi berarti. Dan ketika lelaki di sebelahku memutuskan untuk menyentuh batangan itu, agaknya ini bukan pertanda baik.

“Hey, aku tak pernah bilang kau boleh menyentuh barang ini.” Aku menepis tangannya. Otakku masih waras untuk tidak merusak anak orang lain, terlebih jika aku menyayanginya. “Kau boleh saja bilang aku tidak adil, atau lebih baik kita rusak bersama jika aku tidak mau berubah. Katakan aku munafik, tapi aku tak akan pernah mengizinkanmu mengotori paru-parumu. Kau berharga,”

“Kau juga, hyung.”

“Aku tahu, terlalu tahu hingga tak lagi merasa demikian, Jadi, jangan ikuti aku! Bukan tanggung jawabku, jika tahu-tahu Kibum datang lantas memenggal kepalamu.” Kami terkekeh, mungkin hanya sekian detik.

Anak-anak ini selalu bilang, akan lebih baik jika aku selalu berbagi dan berkeluh kesah kepada mereka. Aku tahu itu akan membuat mereka merasa dibutuhkan, tapi agaknya aku kurang pantas. Di saat mereka sendiri butuh sosok yang lebih dewasa untuk bersandar dan mendengar keluhan mereka, aku tidak mungkin malah balas bersandar dan balik mengeluh. Jadi, jangan salahkan jika aku terlampau tertutup. Untuk kebaikan kalian juga, anggap saja demikian.

“Aku ingin,” katanya, memulai dengan jeda yang menggantung dramatis. Tatapan matanya menerawang bangunan-bangunan pencakar langit, seolah menelisik jawaban di sana. “Mendengar masalahmu, meski hanya sekali, hanya garis besar. Aku sungguh ingin, menjadi berguna untukmu.”

“Tak perlu melakukan apapun, kau sudah sangat berguna.”

“Tidak, hyung. Aku ingin, mendengarnya. Meski hanya sekali ini, hyung. Aku ingin mengangkat beban itu dari pundakmu, meski hanya sedikit. Setelah itu, aku baru akan merasa lega. Kumohon,”

Jemari panjangnya menggenggam milikku, tanpa diduga terasa hangat di tengah deruan angin kencang yang menghasilkan kepulan uap dari mulut. Buku jarinya terasa lebih kasar dari biasanya, mungkin belakangan ini ia terlampau sibuk mengisi perannya sebagai bintang idola. Tapi kelembutan ajaib itu masih terasa, sesuatu dalam sentuhan dan tatapannya yang dalam. Maka aku tertunduk, memikirkan baik-baik keputusannya.

There’s always a reason, why some things are worth keeping. And there’s always a reason, why the-worth-keeping-things are often called secret.” Aku sendiri tak tahu di mana letak poin penting dalam kalimatku, terlalu cerdas jika lelaki itu mengerti. “Hubungan ini, kita, SHINee, sungguh sangat berharga. Aku akan lakukan apapun untuk menjaga lingkaran ini, karena hubungan ini berarti dan sepadan meski aku kehabisan darah.”

Tak ada perubahan yang berarti pada ekspresinya, menyimak tanpa menatapku sama sekali. Entah kenapa, agaknya ini terlalu nyaman. Kuselipkan lintingan sigaret kedua. Menghela musim salju, dan menghembuskan racun. “Termasuk bungkam. Kendati menjadi sakit sendiri atas hal lain yang lebih sepadan untuk dijaga. Tak apa, karena semuanya sepadan. Menjaga hal ini akan menjaga hubungan kita, menjaga kalian. Maka, aku tak akan pernah mengakuinya. Meski sudah sesak.”

Ia memejamkan mata, perlahan kerutan pada keningnya semakin dalam. Tak usah dirimu, aku pun tak mengerti apa yang sebenarnya kukatan. Bisa jadi, aku lupa bagaimana cara mencurahkan isi hati. Atau, aku kehilangan keahlian untuk menguntai kata-kata menjadi satu kalimat yang utuh dan sempurna. Atau mungkin, aku terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya dan mendapat reaksi yang tak mengenakkan darimu. Aku rela berlutut, jika lelaki ini berhasil menangkap maksudku.

Dan di saat seperti ini, aku berharap manusia punya keahlian untuk membaca pikiran. Sehingga aku tak perlu bergelut dengan daftar kosa kata untuk membuatmu mengerti. Atau sibuk membaca ekspresi pada wajahmu untuk tahu apa yang harus kukatakan, atau kulakukan. Untuk membuatmu mengerti lantas menerimaku, yang seperti ini.

“Maafkan aku—,“

“—Tak perlu—,“

“—jika aku lancang.” Wajahnya kini menghadap padaku, menatapku dengan mata bulatnya dan sejurus dunia menjadi begitu sempit sementara aku terjebak di tengahnya. Aku mengetuk pelan batang rokok, membiarkan baranya jatuh dan lenyap bersama angin. Tak mengerti maksud permintaan maafnya, namun enggan bertanya. Maka kutunggu kelanjutannya, hendak mencemari lagi asupan oksigenku ketika ia melanjutkan.

“Izinkan aku untuk menjaga hatimu. Percayalah padaku, dan aku akan selalu di sisimu. Menjadi satu-satunya orang yang berusaha mengerti keadaanmu, membuat hal-yang-sepadan-untuk-dijaga bernama rahasia itu menjadi lebih ringan untuk dijinjing.”

Puntung rokokku menggantung canggung, selagi jantungku berulah. Apakah karena udara yang terasa semakin dingin? Atau karena paru-paruku tak lagi mampu menerima racun itu? Boleh jadi, karena genggaman erat lelaki itu lantaran detaknya semakin cepat. Aku yang terlalu mudah terbaca, atau ia yang terlalu perhatian? Alih-alih mendapat jawaban, jutaan tanya itu hilang dalam kecupan. Sebentar lagi alam akan menertawai ketololanku.

“Jadi, berhenti berbagi rahasia dengan rokok bodohmu.” Tangannya meraih linitngan di ruas jemariku, melemparnya beserta sekotak lintingan lain. “Aku akan berada di sebelahmu mulai sekarang, sehingga kau tak perlu repot menjaga rahasia itu lantaran aku sendiri telah mengetahuinya sejak lama. Dan kita akan membuat rahasia juga hubungan ini menjadi sama berharga tanpa perlu sembunyi.”

“Hey, kalian!” aku reflek menoleh, sosok berambut hitam legam itu berkacak pinggang sembari jalan mendekat.

“Mungkin tidak sekarang,” bisikku, dibalas anggukannya. Kami mengulum senyum, memancing lelaki itu untuk merasa iri. “Mau apa kau?” tanyaku duluan.

“Kalian sedang apa di sini?” manik matanya menatap kami secara bergilir, hingga detik berikutnya ia memekik curiga. “Kau merokok! Astaga, kalian merokok!”

“Kau mau ikut juga?” Minho melongok dari bahuku, mengajaknya bergabung seolah kami tengah menikmati secangkir teh hangat. Tapi Kibum mengibaskan tangannya, lantas duduk di sisi kananku.

“Kalau si tua ini tidak merokok, kalian sedang apa di sini?”

“Sialan!” tanganku menggantung canggung di udara, lelaki itu sedetik lebih cepat rupanya. “Kau sungguh berpikir kami tidak merokok? Akhirnya.”

Well, kau bersama Minho, dan kau tidak mengelak. Artinya, kalian tidak melakukan hal menjijikan itu. Jadi, sekali lagi aku bertanya, kalian sedang apa di sini? Mencari penyakit?”

“Berbagi rahasia dan cinta.” Minho menyahut seraya melingkarkan lengan kekarnya pada leherku, menarik tubuh ini hingga merasakan hangat tubuhnya.

“Kau mau juga?” aku membuka lengan, mengajaknya untuk ikut berpelukan.

“Sakit jiwa, kalian.”

Boleh saja ia mencibir, tapi tubuhnya tetap bergerak mendekat lantas aku mendekapnya. Seperti tiga orang bodoh, kami berpelukan sembari menikmati musim salju yang merembes ke tubuh. Berbagi kehangatan, menanti semburat jingga berganti duka. Dalam tiap detak jantung kami, aku menyadarinya. The worth keeping thing called secret or this worth keeping thing called friendship, terkadang lebih pantas diumbar dan menjadi lebih berharga.

END

Note: Duh, aku sendiri gak ngerti ini apa. Hampir lima bulan dan aku kena writer block, akut banget. Tapi ide ini menghantui terus, sudah satu bulan dan baru dituang sekarang. Tapi tidak tahu ide ini larinya kemana, pasti sulit dimengerti. Jadi, maaf sekali OTL

©2012 SF3SI, Zikey.

Officially written by Zika, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “Worth Keeping

    1. Wiiiiii
      Makasih banyak yaaaa
      aku malah takut alurnya berantakan loh, karena kalau menurutku ini alurnya hampir gak jelas
      Sekali lagi terima kasih sudah mampir dan komen ^O^
      *kecup hyora*

    1. Iya… aku wajar, aku aja yang nulis sampe mikir “ini nulis apaan siihh ngaco banget” hoho
      Serius kamu ngerti jalan ceritanya? Tapi gak ngena yaaa~
      Makasih btw sudah baca dan komen ^O^ *kecup yasmin*

      1. yaaah, jadi beneran kl inti ceritanya itu onho homo???😦
        kirain aku yg salah tangkep maksudnya…
        tp kece bgt FFnya. bahasanya jg keren🙂

        1. Iya say hahaha
          aku pikir malah gak bakalan ada yang ngeh karena aku kurang bisa bawainnya ._.
          hehe… terima kasih yaaa sudah mampir ^O^

  1. ternyata ngerokok, iya, sejenis the best way to relieve the stress silently
    padahal kupikir di atep gitu si jinki bakal minum bareng sama minho trus end up wrestling sambil ketawa-ketawa trus diseret kibum balik #plakk

    tapi jinki tetep teguh pendirian meskipun minho berusaha nyari tau burden-nya jinki
    lucu, aku nggak tau kenapa ini kaya bagian dari komedi kehidupan gitu
    kaya dimana kita berusaha bantu orang lain tapi belum tentu orang lain itu mau nerima
    padahal sebenernya orang itu butuh bantuan tapi ada ganjelan tersendiri karena menganggap dirinya nggak pantas nerima bantuan itu

    but I love how they end up hugging each other sambil menikmati salju
    heartwarming banget TT____TT
    oiya sepertinya aku nemu typo
    Tak usah dirimu, aku pun tak mengerti apa yang sebenarnya ‘kukatan’

    semangat, semoga wb-nya cepat berakhir
    makasih atas ceritanya ^^

    1. Yes, somehow people think it is. But ihdk, for me it didn’t give any good side effect, and i still take issue:/
      hah? hahaha kok jadi minum-minum? xD

      wuaahh… kamu punya cara pandang yang beda ya *O*
      aku bahkan tidak lihat cerita ini melalui jendela itu, dan semacam tertampar sendiri ._.
      tapi iya sih, you’ve got the point yang bahkan aku gak sangka memasukkan poin itu di dalam cerita ini

      i actually lost for words, don’t know how to put the end for this story hoho
      dan yeah, seneng juga kalau adegannya terasa heartwarming🙂
      Oh ya? Wuah, aku bahkan baca berkali-kali gak nemu juga hahaha thanks ya

      Amiiinnn ^^
      terima kasih juga atas apresiasinya~

  2. ow..ow..ow,.onho hombreng,.
    ga kebayang,,

    ini ni…cerita model beginian yang aku suka,bukan soal homonya loh,🙂
    ga ketebak bikin ternganga pembaca. hehe

    kuharap sf3si rame lagi,

    1. hahaha
      aku pun pas nulis sulit banget bayanginnya

      aaaahhh iya iya hahaha
      tapi sepertinya ini bukan gak ketebak.. tapi ngambang TT_TT

      Amiiiinn ^O^
      terima kasih doanya, terima kasih atas komennya~

  3. Eheeeemm Onho *___*
    Maknanya dapet kok walau bahasanya ada yg bikin aku bingung. Tapi ini ficlet nya kereeen!!! Keep writing yaa :-):-):-)

  4. Aku baru sempet ninggalin komen deh ._.
    hasil dari wb aja worth to read gini? ckckck.. kapaaann aku bisa bikin ff kece gini
    btw eon, aku baru tahu dirimu juga bisa tulis ff bromance gini walaupun gak fokus ke bromance nya… tapi hahaha itu otak gak berasep?

    anyway, sebenernya sih kalau nilai inti ceritanya, kurang berasa feel-nya. Tapi ketutup sama gaya bercerita dan diksinya yang selangit. Jadi semacem bungkusnya udah terlalu mengalihkan untuk peduli soal feel pada ceritanya..
    apaaaa… aku aja yang bacanya kurang fokus? penilaianku aja sih heheh~

    1. Hallo bb, aku ada liat ff kamu tadi nanti aku mampir yaa~
      ah kamu, dari dulu bilangnya gitu terus ._.
      Hahaha kamu tahu aku lah, ini sulit banget. Tapi lebih baik maksa ngebayangin dari pada tiap mau nulis yang ada di otak cuma ide cerita ini huhuh

      ah iyaaa.. aku juga kemarin dapet komentar kayak gitu dari orang. Aku semacam mau mundur sebelum FF ini di publish, baru mau aku tarik tahu-tahu sudah di jadwal. Aku gak enak deh. Tapi feedback-nya lumayan, alhamdulillah deh ^^
      makasih Lana komennya.. komen di FF lain juga ya Lanaaa

  5. Sebenarnya udah baca dari kemarin cuma baru sekarang sempet ninggalin jejak, karena kemarin baca pake hp.

    oke, sebenernya ini itu … aduh, kok. keren tapi bingungin di ending. sebenernya Jinki itu suka sama Minho gtu? dan Minho nyadar gtu? atau gimana? ada kata “kecupan” dan “rahasia” serta “hubungan”. masalahnya aku nggak terlalu ngerti hal puitis, meski dibilang suka. tapi di atas nggak ditulis yaioi. aku bingung. tapi aku suka narasinya!

  6. eh, mau komen tapi komennya sama sama Lee Hana di atas.
    jadi masalah si Jinki teh masalah yang lain, masalah rokok, ato masalah hubungannya dengan Minho? #jengjengjengg
    kirain ttg rokok doang loh. trus mikir si jinki emang ada masalah berat gimanaa gitu, trus nyari pelarian ke rokok. udah melow2 gimanaa gitu suasananya
    (ampe kesel di tengah cerita karena browser tiba2 crash sendiri dan harus nata suasana hati dari awal lagi .—.)
    lanjut baca…dan…di ending, sebuah ‘kecupan’ membuyarkan semua pikiranku.
    alamak onho .—. #toyorsatusatu

    diksinya ketje punya kaaak!!! pengen bingit bisa nulis kayak gitu. huhuhu :”)
    ditunggu tulisan berikutnya kaaak!!!! ^o^/

  7. worth keeping ya..
    ada istilah jujur itu menyakitkan, tapi ada yang mikir juga, lebih baik jujur daripada harus di bohongi? bukan bohong juga si ya.. worth keeping. reasonable juga si jinki.. tapi namanya worth keeping itu ya emg lebih baik di simpen.. aku se pikiran sama jinki. melindungi mu.. mereka.
    dari worth keeping ke worth reading.. bagus!! makasih ya..

  8. God! Ini terlalu kereeen😄
    Mungkin karena secara pribadi ini ceritanya akuu banget, jadi otomatically bikin jatuh cinta
    Tapi diluar itu, ini bahasanya asik banget, berat tapi kerennya sukses mengalir

    Gue emang bukan fujoshi, tapi karena banyak author keren yang pake genre bromance akhirnya jadi open minded banget buat genre ini

    Pokoknya keren!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s