Finding The Lost Smile – Part 1

Finding The Lost Smile

Tittle                            : Finding The Lost Smile

Author                         : Lee Hana

Main cast                     : Kim Jonghyun and Lee Taemin

Support Cast               : Choi Minho, Choi Sulli, Jung Krystal

Genre                          : School Life, Shounen-Ai, Romance and Friendship

Length                         : Sequel

Rating: T

Summary         : Seorang lelaki, berambut hitam, berkacamata minus, berkulit cokelat, dan berparas dingin terdiam, terpekur dalam deret huruf-hurufnya, menghela setiap rasa sakit yang menerjangnya. Harusnya, mungkin harusnya ia biarkan saja perasaannya berkhianat pada logika. Mungkin harusnya ia biarkan saja nafsunya menggelayuti setiap ujung tubuhnya. Mungkin, harusnya biarkan saja ia tutup rapat-rapat kata hatinya. Tapi ia tidak begitu, Jonghyun tidak begitu. Ia tetap kuat, meski tak ada tersisa apapun lagi di hatinya kecuali rasa sakit, dan menyisakan setitik rasa cinta yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Note                : Aku nggak tahu hubungan antara mereka lebih ke arah mana makanya aku tulis tiga-tiganya. Dan, untuk para penggemar Shounen-ai/Yaoi atau justru yang agak anti sama Yaoi kalian bisa mendesah karena kecewa atau justru karena tenang, soalnya di sini ff nggak pake sesuatu yang bikin panas, jadi kalian nggak perlu ke kutub untuk baca ff ini, atau beli es, atau juga nyalain ac, klo nggak masuk ke kulkas. Semoga suka!

%%%%%%

Di kelas itu ia hanya sendiri. Duduk tepat di sebelah tembok putih pucat, diam dan tak bergerak, hanya sesekali menggerakkan tangan kanan untuk menggeser halaman dalam kesunyian kesukaannya, tapi bukan kesepian yang menghantuinya, yang dibencinya.

“Hyung!” Dan tiba-tiba saja sebuah malaikat muncul, dengan senyuman manis mengembang utuh, seseorang yang akan berkata dengan nada yang manja, yang tersenyum manis layaknya seorang gadis yang jatuh cinta, dan mengajaknya bermain seperti seorang pemaksa yang menyebalkan.

“Hyung, kenapa kau membaca terus?” tanyanya ketika duduk tepat di samping Jonghyun. Duduk manis sambil mengapit dua telapak tangan di antara paha kecilnya. Memandang Jonghyun dengan ekspresi menggemaskan miliknya.

Jonghyun tidak bergeming, hanya tetap seperti apa adanya tadi, diam dan terus membaca, hanya dengan sedikit kata pendek yang tak acuh dia berkata, “Kautahu aku suka membaca.”

“Geurae,” jawabnya dengan sabar dan nada pengertian, “tapi aku ingin bermain sekarang. Aku ingin bermain, Hyung! Bermain basket!” dan terdengar memaksa pada akhirnya.

“Bermainlah sendiri atau kauajak temanmu yang lain. Bukankah kau memiliki banyak teman, Taemin?” ucap Jonghyun masih tak mau membalas tatapan Taemin yang penuh harapan.

“Ani, ani. Aku hanya ingin bermain dengan Hyung,” balas Taemin teguh, lalu melipat tangan di depan dada dengan keras kepala.

Jonghyun menghela memandang buku yang tak bisa lagi memasukkan isinya ke kepala, lalu memandang Taemin dengan tatapan acuh tak acuh. “Kautahu aku sibuk. Kautahu aku—“

“Hyung, aku tahu. Aku tahu. Tapi aku ingin kau yang mengajariku karena kau adalah yang terhebat, tahu? Hanya bersamaku saja. Mau, ya?” rajuk Taemin dengan tatapan yang lembut, terlalu lembut untuk Jonghyun menolaknya.

Jonghyun menghela lebih keras lalu mengangguk mengiyakan.

Seketika Taemin berdiri dan melompat girang, dan tanpa disadari ada semburat kebahagian yang terselip di wajah Jonghyun, senyum kecil mengembang dan bahagia.

%%%%%%

Jadi, sekitar sepuluh menit kemudian mereka sudah berada di pinggiran lapangan basket indoor yang luas, dengan sebuah bola basket di tangan masing-masing, sebuah tempat dengan bangku tribun yang meninggi di salah satu sisi panjang lapangan. Lapangan itu sendiri terbuat dari kayu yang dihiasi dengan garis di tepian tengah dan beberapa bagian lain, tempat yang dikelilingi oleh tembok berwarna biru muda yang cerah.

Jonghyun melirik ke arah Taemin dengan sedikit senyum jahil. “Bagaimana jika kita berlomba men-drible[1] bola ke ujung sana, dan membuat slam dunk[2]?”

Mata Taemin membulat penuh. “Kau bisa melakukannya?”

Jonghyun terkikik kecil. “Tentu saja tidak. Tapi aku yang terbaik dalam hal men-drible.” Lalu merlirik Taemin lagi semakin jahil dan berteriak dengan tiba-tiba, “Mulai!”

Dengan sangat kaget Taemin melihat hyung-nya memulai lebih dahulu, dan dengan tergesa ia pun memulai, mencoba mengejar, mencoba lebih cepat lagi bersama pantulan bolanya, melihat lelaki itu semakin menjauh dan melambaikan tangannya sambil berteriak mengejek ketika berada di garis finish, “Cepat sedikit, Taemin! Kau terlalu lambat!”

Lelaki itu mencoba dan terus mencoba, mencoba secepat yang ia bisa tapi …, “Aww!” dia tersungkur dan bolanya melepaskan diri dari genggaman, berlari dalam pantulan, lalu menggelinding menjauh keluar garis lapangan.

Dengan terbelalak Jonghyun berteriak, “Taemin!” dengan sangat kaget dan juga khawatir. Ia melemparkan dan membiarkan bolanya begitu saja, berlari ke arah lelaki yang belum juga bisa bangun di tempatnya. Jonghyun bersimpuh dan melihat Taemin terduduk sambil meringis kesakitan. “Kau baik-baik saja? Kakimu sakit?”

“Hyung,” ucap Taemin di sela ringisannya yang tampak ditahan, “aku tidak apa-apa. Kakiku hanya sakit sedikit. Hanya sedikit.” Lalu mencoba berdiri sambil salah satu tangan ia tumpu pada lutut tapi jatuh kembali sambil mengerang sakit, “Aww!”

“Kakimu.” Jonghyun semakin mendekat dan memerhatikan pergelangan kaki kanan Taemin yang agak biru, sesuatu yang dalam sekejap membuat raut wajahnya berubah muram dan marah sekaligus. “Aku bilang aku tidak mau bermain basket, kan? Kenapa kau tidak mau mendengarkan aku?” bentaknya berang.

Taemin menggigit bibirnya, campuran sakit di kakinya dan sakit di dadanya. “Mianhae,” ucapnya lirih, merunduk dengan muram.

Jonghyun terdiam sebentar dengan mata bergerak liar, bibirnya bergetar pelan dan mengulumnya sebelum ia berkata, “Mianhae. Jeongmal mianhae, Taeminie. Ini …, ini salahku. Harusnya aku—”

“Hyung,”—Taemin memegang tangan Jonghyun dengan lembut dan menatapnya pula tak kalah lembut. Ringisannya sudah menghilang entah ke mana—“aku baik-baik saja. Sungguh, aku baik-baik saja.”

Jonghyun terdiam sebentar dan membalas tatapan Taemin, seolah mencari celah kebohongan yang disadarinya, tetapi lelaki itu tak bicara, ia bergerak, berjongkok dan bersiap, sedangkan Taemin terdiam dengan alis yang megerut nyata dan jelas.

“Taemin,” panggil Jonghyun, “apa yang kaulakukan? Cepatlah!” ucap Jonghyun masih dalam posisi yang sama.

“Apa yang akan kaulakukan, Hyung?”

“Naiklah ke punggungku.”

Taemin terhenyak  lalu menggeleng pelan dan ragu. “Tidak. Sungguh, tidak. Aku bisa jalan,” bohongnya. Kali ini ia mencoba berdiri lebih keras, meski pada kahirnya jatuh lagi dan menjerit lagi, “Aww!”

Segera saja Jonghyun berdiri dan menatapi Taemin dengan tatapan kecewa bercampur kesal. “Kau itu keras kepala sekali!” bentaknya. Hingga tiba-tiba menggendong Taemin ala bridal style, yang membuat Taemin terkejut bukan main, mata yang membelalak lebar dan mulutnya yang setengah mengaga, tapi tubuhnya sendiri seakan berkhianat padanya, dengan cepat—gerak reflek—mengalungkan lengan di leher Jonghyun dengan erat dan membiarkan lelaki itu merengkuhnya begitu saja.

“Hyung, Hyung, tolong turunkan! Aku takut jatuh!” pekik Taemin ketakutan.

“Aku tak selemah itu, Taemin,” balas Jonghyun masih dengan tatapan kesalnya yang belum juga memudar, atau juga berkurang.

“Tapi aku berat!” sanggah Taemin dengan penuh tekanan.

Tapi Jonghyun tak mendengar, lebih tepat dikatakan tak menggubris, bersikap seolah tak mendengar, berjalan begitu saja meski berulang kali lelaki di pelukannya meronta seperti anak kecil. Berjalan dan terus saja berjalan dengan tatapan lurus tanpa mendengar ocehan Taemin, berkata bahwa ia meminta diturunkan karena ia malu. Bahwa ia benar-benar malu, tetapi tetap saja, itu tak cukup kuat untuk mengubah pendirian seorang Kim Jonghyun.

Dalam perjalanan mereka menyusuri koridor penuh manusia, tak luput perhatian orang-orang itu dari mereka, memandangi dengan tatapan geli, jijik dan bingung, serta bertanya-tanya. Tetapi Jonghyun hanya berlalu tanpa membalas satu tatapan pun di sana. Ia terus berjalan dengan wajah dinginnya, berlalu seperti tak melihat apapun, sedangkan Lee Taemin justru membenamkan wajahnya pada dada bidang Jonghyun, menutupi semburat merah muda di pipinya yang chubby dari orang-orang dan juga lelaki yang merengkuhnya. Tak berani berkata-kata lagi atau meronta. Diam dan menjadi setenang boneka.

Pada akhirnya, Jonghyun meletakan Taemin secara hati-hati di atas ranjang yang beralaskan selembar seprei putih tua yang pucat. Di sana Taemin duduk di tepian dan melepaskan tangannya dari leher Jonghyun dengan malu-malu, terdiam dalam tundukkannya yang bisu, Jonghyun justru berjongkok dan menatap mata Taemin dengan tatapan seperti ingin memakannya bulat-bulat, tetapi sejurus kemudian lelaki itu merunduk melihat sambil memegang persendian kaki Taemin, membuat anak itu lagi-lagi menjerit, “Aww!” Dan Kim Jonghyun bergegas keluar tanpa berkata apa-apa.

Sejujurnya Taemin amat menyesal membuat lelaki itu marah. Tidak ada maksud seperti itu. Ia bahkan merutuki dirinya yang kelewat payah. Ia tidak suka Kim Jonghyun bersikap seperti itu padanya, tidak suka sama sekali. Sekarang ia hanya bisa menghela napas pasrah dan beristirahat sebentar untuk meredakan rasa nyeri di kakinya. Biru ungu yang menghiasi pergelangan kaki kanannya. Kau begitu payah, Lee Taemin! Menyedihkan! Bagaimana mungkin kau bisa menolongnya karena pada nyatanya kau bahkan tak bisa menolong dirimu sendiri.

 Tetapi dengan anehnya Kim Jonghyun muncul lagi, membuat Taemin tak bisa untuk tak berkerut kening. Lelaki itu datang begitu saja dari arah di mana ia keluar tadi, dengan sebuah baskom biru tua berisikan air es yang dingin juga handuk kecil putih.

“Diamlah dan tahan sedikit, oke? Ini akan sedikit sakit, tapi tidak apa-apa,” ucap Jonghyun dengan nada dingin tetapi begitu perhatian ketika mengompres kaki Taemin sambil berjongkok sabar.

Taemin menatap Jonghyun lekat-lekat meski lelaki itu tampaknya tak mau melihatnya sama sekali. “Hyung, maaf.”

“Sudah aku bilang, aku yang salah. Dan berhentilah membantah, Lee Taemin. Kautahu aku tak suka dibantah.” Suara Kim Jonghyun tidak meninggi, tak terdengar kesal, tetapi terasa sangat tidak peduli.

“Aku hanya merasa terlalu lemah. Andai aku bisa bermain lebih baik aku—“

“Sudahlah, Lee Taemin. Sudah! Bukankah aku tadi berkata diam?” kali ini suara Jonghyun barulah meninggi, lalu menggeleng lemah, tersenyum berusaha terlihat tenang kemudian. “Tidak apa-apa. Sungguh!”

Kali ini Taemin benar-benar diam dan melihat lelaki itu begitu serius mengurusi lukanya. Taemin tahu luka yang dideritanya di kaki, atau luka yang ditorehkan oleh Kim Jonghyun sendiri tidaklah berarti apa-apa. Luka itu hanya seperti setitik tinta dalam sebuah wadah derita. Taemin tahu apa yang diderita Jonghyun, tapi entah kenapa ia merasa lelaki itu menjauhinya, tak sama lagi, berbeda perasaannya. Ia ingin Kim Jonghyun yang dulu.

“Baiklah, sudah selesai,” ucap Jonghyun sambil berdiri dan tatapan Taemin mengikutinya. “Sebaiknya kau di sini dulu. Aku akan meminta izin pada guru yang mengajar jam selanjutnya untuk membiarkanmu beristirahat.”

“Tidak perlu, Hyung. Aku bukan tipe orang yang suka pecicilan di kelas, kok. Lagi pula Goo Seongsaengnim juga tak akan membiarkan aku berjalan ke mana-mana. Aku baik-baik saja.”

Jonghyun terdiam sebentar, mencari keyakinan di mata Taemin lalu tersenyum simpul sambil berkata, “Baiklah.”

“Tapi, Hyung …,” Taemin berhenti bicara dan Jonghyun sambil menanti kelanjutannya mengatakan, “Ya?”

“Tolonglah, jangan gendong aku seperti tadi lagi. Aku malu sekali.”

Jonghyun bisa melihat wajah lelaki yang kelewat manis menurutnya itu memerah seperti tomat masak, membuatnya terlihat jauh lebih manis lagi. “Tentu saja. Apa kau mau aku bawakan kursi roda?” candanya.

“Hyuuuung!” tapi Taemin segera memekik kesal. Mengerucutkan bibirnya seperti anak-anak dengan menggemaskan lalu tersenyum mengembang ketika Jonghyun mengacak rambutnya sambil berkata, “Aku akan memapahmu saja.”

%%%%%%

“Sulli! Sulliiii!” teriak seseorang yang baru saja memasuki kelas dan berlari ke arah seorang gadis manis yang sedang menulis sesuatu di atas selembar kertas berwarna merah muda yang cerah. “SULLIIII!” pekiknya lagi ketika berada di hadapan yang dipanggil, bukan saja mengambil perhatian gadis bernama Sulli itu, tetapi juga seluruh kelas, namun setelah itu terengah-engah hebat.

Yah, aku tidak tuli, Jung Krystal!” bentak Sulli kesal kemudian melipat kertas miliknya dan menyimpannya di antara lembar-lembar kertas di buku. Setelah itu melihat lekat-lekat sahabatnya dan bertanya dengan nada lebih rendah, “Ada apa, Krystal?”

“Oh, tidak! Tidak! Ada berita lagi, Sulli.”

“Duduklah! Ceritakan berita apa, tapi jangan katakan berita yang serupa.”

Krystal duduk dengan tampang khawatir dan sedih kemudian berseru dengan tegas, “Tapi kau tetap harus dengar.”

“Aku tidak akan percaya. Aku tahu mereka hanya terlalu membencinya,” balas Sulli tidak mau percaya.

“Oh, Sulli-ku yang malang,” ucap Krystal dengan tampang berduka.

Sulli menghela keras lalu berkata, “Baiklah, aku mau tahu apa yang terjadi.”

“Kim Jonghyun—“

“Ya, aku tahu. Lanjutkan ke intinya langsung.”

“Aku kira dia benar-benar gay!” ucap Krystal dengan nada penuh penekanan tetapi berusaha untuk tak terdengar siapapun.

“Tutup mulutmu! Aku kira kau benar-benar sahabatku,” bentak Sulli lalu bersidekap di dada sambil menatap Krystal marah, tetapi berlanjut dengan kalimat, “Bagaimana mungkin kaubicara seperti itu, Jung?”

Krystal menggedikan bahu. “Yah, karena aku melihat Jonghyun Sunbae menggendong seorang murid laki-laki.”

“Apa yang salah dengan itu? Semua laki-laki biasa melakukannya.”

“Tidak, tidak, tidak!” jawab Krystal cepat sambil menghentakkan tangannya ke depan, meminta Sulli membiarkannya menyelesaikan ucapannya. “Tidak jika ia menggendongnya seperti isterimu.”

“Apa maksudmu?” pekik Sulli kaget, dan tentu saja mengundang tatapan penasaran seluruh kelas. Gadis itu terdiam sebentar menerima tatapan lalu menggigit bibir dan berbisik sepelan mungkin. “Kau melihatnya sendiri?”

“Ya, dan juga setiap penghuni lorong beberapa menit yang lalu,” jawab Krystal yakin.

Sulli tampak sangat kecewa dan sedih, lalu menghela napas panjang dan terdiam beberapa lama, setelah itu menghela lagi.

“Kau baik-baik saja, Choi?” tanya Krystal khawatir.

“Tentu, tidak apa-apa. Kautahu siapa orang yang dibopongnya itu?” tanya Sulli terdengar lemah dan tak berarti.

“Aku tidak yakin, tapi aku pikir Lee Taemin. Entahlah, anak itu menyembunyikan wajahnya di dada Jonghyun.”

Dan dengan cepat wajah Sulli merah padam, seperti terbakar, ya, memang terbakar oleh api cemburu. “Apa yang dilakukan orang itu? Sialan! Tidak mengertikah ia bisa merusak nama baik, Jonghyun Oppa?” makinya geram. “Tapi jika itu Taemin, bukankah itu terdengar aneh? Setahuku dia berpacaran dengan seorang noona. Bukankah kau sendiri yang—“

“Oke, oke. Aku juga melihat hal itu. Dia berkencan. Oh, Tuhan, Sulli, bisakah kau tidak mengingatkanku tentang hal itu lagi? Kau bisa membunuhku pelan-pelan,” potong Krystal dengan lemas dan putus asa.

“Maaf, maaf. Aku sungguh khilaf.”

“Baiklah, sebaiknya kau harus cepat-cepat selesaikan suratnya. Aku merasa kau tidak punya banyak waktu lagi. Aku tidak mau kau sepertiku, seperti sahabatmu yang patah hati dan kalah dengan menyedihkan,” ucap Krystal nanar.

“Tenanglah, aku bahkan rela membayarnya dengan seluruh waktu tidurku, Jung Krystal,” jawab Sulli mantap sambil menepuk dan menatap dengan penuh keyakinan pada Krystal.

%%%%%%

Esoknya Taemin berada di ruangan yang sama, namun berada di tempat yang berbeda. Kali ini ia berada di bangku tribun, duduk dengan tenang sambil meletakkan kedua tanganya di atas paha. Lelaki itu melihat berjalannya permainan beberapa menit hingga akhirnya terlihat bosan, lalu berdiri, berniat mengundurkan diri sebagai penonton, atau sebagai patung yang hanya berguna untuk duduk diam tanpa bicara agar tempat itu terlihat lebih berisi. Tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat seseorang membuat slam dunk yang sangat bagus di atas ring; sesuatu yang tidak akan mungkin ia atau Kim Jonghyun lakukan; sesuatu yang hebat tetapi membuatnya miris.

Sekarang mata Taemin tak lagi terpaku pada bolanya, melainkan seorang pemain bertubuh tinggi yang atletis, putih dan tampan. Seseorang yang tersenyum girang terhadap kawan-kawannya yang menepuk-nepuk punggung atau menujukan kepalannya pada lengan berotot miliknya. Dan, dengan cepat pula tatapan Taemin beralih pada gadis-gadis yang berteriak tak jauh darinya karena merasa amat terganggu, terlalu terganggu karena menyerukan nama seseorang dengan begitu histeris dan gila, “Choi Minho sangat keren!  I love you, Oppa!” Tetapi Taemin hanya bisa menghela pelan sambil memutar bola matanya muak. Mereka sama saja. Pengkhianat! serunya dalam hati marah, terpekur diam lalu melihat papan waktu yang terus berjalan, setelah itu pergi dengan tergopoh-gopoh sambil memegangi sebelah kakinya yang terasa nyeri.

To Be Continued ….


[1] Drible            : menggiring bola dengan memantulkannya ke tanah

[2] Slam dunk     :Slam dunk (atau biasa hanya disebut Dunk) adalah suatu gaya didalam permainan olahraga bola basket, seorang pemain berusaha memasukkan bola ke dalam keranjang dimana muka telapak tangan menyentuh besi pada ring basket (satu atau dua tangan) setelah bola melewati tinggi dari ring besi basket.

37 thoughts on “Finding The Lost Smile – Part 1

    1. Ahahaha! Udah baca noteku di atas belum? Nggak ada macem-macem, kok. Bisa di bilang ffku sehat. Apa yang nggak kuat? Hahaha. Tenang aja buat part selanjutnya

      1. bukan soal ‘panas2an’ sebenarnya..
        Bisa dibilang aku kurang suka yaoi.. Tapi terlanjur buka dan terlanjur…mm…penasaran.. Hehe

  1. JONGTAEEEEE!!!!
    HAAAKKKK HANA NIH YA AMPUUUN!
    bentar mau napas dulu plis
    enggak tau mau ngomong apa tapi ini lucu sekaligus miris di saat bersamaan

    why people like to exaggerate something that seems wrong from the society perspective
    padahal ceritanya cuma mau nolong doang itu mau taem digendong gaya apa juga why so serious
    di awal cerita aku ngerasa ini agak kaya tipikal2 shounen ai english yg sering kubaca
    tapi aku tahu kau bakal nulis sesuatu yg lebih muhehehe *ketawa setan*
    may I?

    aku bakal merusuh di lanjutannya aja deh daripada digaprukin anak2 gegara ketawa happy di kelas
    ditunggu ya lanjutannya
    terima kasih ^^

    1. Aku sependapat, dan buat aku ini lebih miris dari pada yang terlihat.
      Yah, orang-orang nggak bisa disalahin gitu aja karena emang ada sesuatu hal yang buat mereka begitu.
      Tipikal shounen ai english? Aku pernah baca sekali dan gila-gilaan banget. Gerah! Yang dimaksud itu gaya bahasanya apa, ya?

      Aku tunggu komentmu di part selanjutnya!
      Sama-sama.

      1. jalan ceritanya, ya tipikal2 denial gitu
        kan takut kalo misalnya nggak diterima dan berasa aneh
        apalagi kalo au school begini ya biasanya mereka masih lemah dan terkucilkan *plis ini ngomong apaan*
        hah?! ada ya shounen ai yg gila-gilaan?
        setauku biasanya yang suka serem itu yaoi kan yg smut menggelora sampe ponsel kelempar2 pas baca hehehe

        1. aku justru nggak ngerti apa itu denial.
          ahahaha, yaoi maksudku, nyerempet dikit mohon dimaafkan. tapi kenapa ponsel bisa kelempar, ya? ini yang tidak dimengerti. #abaikan

    1. Kamu suka sama pasangan mereka, ya? Sejujurnya jongtae jarang banget.
      Tunggu yang sabar, ya? Aku tunggu komrntmu lagi.
      Makasih dah koment.

  2. Nice fic! Jongtae!!!! Kapan lgi coba ?? xD
    Aku pikir bakal one shoot . Eh ternyata sequel yaa ? ;;) okee ku tunggu next nya ;;)
    Masa aku geli baca kata ‘pecicilan’ dan ‘khilaf’ . Gtau knp chingu fokus nya jdi goyah. Hehehe. Tapi ceritanya baguss kok ;;) pas jong gendong taem aku ngebayangin nya lucu bgtxD

    1. iya, orang pasti mikir ini one shoot kalo nggak liat di length-nya. ada salah sedikit pas taruh ffnya di draft kayaknya aku. hehehe #garuk kepala
      geli? dikelitikin kali. klo aku bukannya lucu, tapi jadi pengen. hehehe
      thx, ya.

  3. yeah setuju sama komen diatas,dikirain one shoot~
    Btw jonghyun galak tapi perhatian ya,hehehehe..
    Disini aku penasaran sama apa yang terjadi sama krystal,yang dia bilang, “Baiklah, sebaiknya kau harus cepat-cepat selesaikan suratnya. Aku merasa kau tidak punya banyak waktu lagi. Aku tidak mau kau sepertiku, seperti sahabatmu yang patah hati dan kalah dengan menyedihkan,”
    Oke,sekian komen dari saya,lanjutin ceritanya yaa.. 😀

  4. EKA! Maaf ya signaturenya belum jadi, nanti kalau udah jadi langsung aku masukin ke postingan kamu😀

    btw… aku gak ngerti. Bukan, bukan ceritanya. Tapi… ini bromance kan ya? Aku… gak suka sih, tapi aku enjoy baca bromance. Dan.. kenapa ya aku gak bisa baca bromance-nya SHINee ._. aku baca bromance yang sampe intim banget malah pernah, tapi exo, group lain juga aku pernah baca, macem dbsk, big bang, atau yang lain-lain. Tapi kok aku bener-bener gabisa baca yang SHINee yaa?? huhuhuh aku kenapa siiiihhh
    apa karena dimata ku SHINee terlalu laki? ._. huhuuu~
    atau karena aku gak berusaha baca bromance. Well, mungkin aku harus maksain baca bromance kamu, supaya bisa ppfftt… jadi, untuk sekarang aku gak bisa komentar karena aku sedang berusaha membiasakan baca bromance nya SHINee huhuh

    1. emm, kelihatannya sih kayak bromance, tapi …. entahlah, sejujurnya aku juga bingung genre ff ini tuh apa. dan, kenapa kamu nggak bisa baca bromance karena mungkin nggak terbiasa. yah, mungkin.
      awalnya aku juga anti sama shounen-ai, tapi sekarang jadi lebih suka daripada romance. hehehe
      dan aku nyengir pas kamu bilang mereka terlalu laki. bagi aku itu lucu.

      dan masalah signature, aku mah slow aja. selama jadi ya aku tungguin, deh. asal jangan sampe setahun aja. karena selama itu nggak ngaruh sama ff-ku, ada atau nggaknya nggak terlalu dipikirin sih. tapi tetep ditunggu, loh.

  5. AKKK JONGTAEEEE!!
    Oh my god, akhirnya ada ff JongTae ;;;
    Uhh entah kenapa pas aku buka wp di andro dan aku scroll bagian ‘read’ title ff ini paling bersinar *apa
    Aku suka ffnya, diksinya, castnya, pairingnya, dan semuanya!
    Aku baca ff ini berulang-ulang karena aku suka sifat Jjong dan Taem dan aku juga sangat sangat suka permainan katanya yang bikin aku ketagihan sampe aku lupa comment……………

    Ok, segitu comment dari aku ._.
    Aku bakal negrusuh di chap berikutnya xD

  6. aku suka jongtae lebih suka 2min tapi juga suka jongtae
    eh ini aku iseng cari d google dan ketemu ff ini
    bahasa kamu aku suka banget
    dan aku juga penasaran banget sama kelanjutan ff ini
    udah lama ga baca ff yaoi yg mengarah ke bromance gini
    karena skg kebanyakan ff yaoi panas semua hehehe
    dilanjut ya author ^^

    1. wah ketemu di google. daebak!
      hmmm, nama kita sama, ya? hehehe
      dan, sejujurnya aku juga merasa kalo ff kebanyakan mengarahnya ke yaoi, bukan shounen-ai-nya, apalagi bromace and fluff. pengan deh sekali-kali baca juga.
      tenang aja, kok, dilanjut.
      makasih.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s