A Lesson

A LESSON

Author : CEV

Main Cast : Lee Taemin, OC

Support Cast : Shinee Members, others

Length : Vignette

Genre : Romance (kind of), Angst

Rating : General

Summary : His first lesson to grow up. Lee Taemin finally got a chance to learn how to respect a chance.

Lee Taemin melangkahkan kakinya yang kelihatan rapuh. Rasa nyeri akibat latihan basket di sekolahnya sore tadi benar-benar melumpuhkan seluruh urat kakinya. Suara desah dari tenggorokannya yang terasa mulai kering menguap di udara. Choi Minho, kau gila. Memang masih hyung-nya, tapi ratusan set pushup dan pull-up tadi benar-benar tidak perlu.

Paling tidak, itu yang Taemin pikirkan sejak tadi.

Tim basket sekolahnya akan bertanding dengan tim basket sekolah lain, jadi coach memberikan serangkaian latihan intensif. Lee Taemin dan mungkin sebagian besar anggota tim mencium tanda bahaya ketika Minho-hyung menyatakan bahwa coach mereka absen untuk hari itu. Absen berarti substitute-coach, substitute-coach diambil dari ketua tim dan ketua tim adalah Choi Minho. Berarti Minho-hyung yang akan ambil alih dalam latihan intensif kali ini. Berarti neraka.

Remaja berbadan agak kurus itu menelusuri jalan komplek menuju rumahnya dengan tangan kiri berselimut di balik kantung celananya. One-longstrap duffel bag miliknya diselimpangkan di bahunya. Tangan kanannya sibuk membuka pesan di ponsel miliknya yang belum sempat ia buka karena latihan tadi. Sudut bibirnya naik-memberikan sebuah senyuman kecut.

17 new messages received

Umma, Kim Jonghyun, Lee Jinki, Kim Minjung (teman perempuan sekelas yang terobsesi dengan nya dan sudah pasti pesannya tidak akan ia balas), Im Sooyoung (astaga, bahkan sekarang temannya), dan Kim Kibum. Selebihnya pesan dari nomor-nomor tak dikenal, kebanyakan menyatakan rasa suka atau sekedar mengajak berkenalan. Entah dari mana mereka mendapat nomor ponselnya, Taemin tidak mau ambil pusing.

 

From: Umma. Received @ 08.00 PM.

Taem, Umma pergi menjenguk Seoguk. Jangan latihan terlalu malam. Aku kembali pagi besok, ada kimbap di kulkas. Arasseo?

 

From: Kim Jonghyun. Received @ 06.00 PM.

Yo. GTA, rumah Jinki hyung, malam ini. Kau ikut? ÙÙ

Taemin mengernyit. Mungkin.

From: Kim kibum. Received @ 07.17 PM.

YAH BBANKKU DDONGKKUS. I want my 15000won back, man. Kembalikan besok, aku butuh. Aku serius, Lee Taemin. Kembalikan besok.

Mungkin membolos sekolah besok bukan pilihan yang buruk…’ pikirnya.

Jemarinya yang lentik membantunya melanjutkan membaca pesan-pesan yang masih tersisa. Matanya mengedip beberapa kali, menangkap satu pesan. Taemin tersenyum, akhirnya senyum pertama untuk hari ini. Beberapa detik terbesit dalam benaknya, bagaimana mungkin ia tidak melihat pesan dari gadis itu. Dari seorang gadis yang semenjak setahun yang lalu menjadi pusat perhatiannya yang kedua setelah basket.

Tidak. Malah mungkin yang pertama.

Noona.

Noona, yang kepadanyalah setahun yang lalu Taemin menyatakan perasaannya. Noona, yang empat tahun lalu Jonghyun kenalkan padanya. Detik ketika Noona mengetuk pintu rumah Jonghyun-hyung, Taemin tahu perempuan itu akan menjadi sumber perhatiannya. Hebat, bahkan Banana Milk yang berada di tangannya waktu itu jatuh. Ia mendeham sembari meluruskan bahunya. Waktu itu, ia kelihatan seperti orang bodoh

Dan lagi, masih Noona yang sama, yang menerima perasaannya secara langsung. Pada saat malam hari di hari itu, Taemin tidak dapat memenjamkan mata sama sekali. Euphoria yang hebat menyelimuti kepalanya. Renggang umur empat tahun antara anak lelaki dan Noona-nya itu tak pernah menganggu pikirannya.

Walaupun dirasa tidak perlu, Taemin menghentikan langkahnya. Ia sempat berdebat sedikit pada pikirannya, ‘telepon atau tidak? Mungkin dia sudah tidur? Tidak, dia bilang hari ini dia ada tugas besar yang harus diserahkan. Mungkin dia sibuk?’

Pada akhirnya, Taemin dengan cekatan menekan-nekan tombol nomor di ponselnya. Dia menunggu pada dering pertama, kedua, dan seterusnya sampai akhirnya suara ‘klik’ di seberangnya terdengar.

“Halo?” Suara samar-samar terdengar, selang beberapa detik. “Oh, Taemin-ah,”

Noona? Maaf aku tidak membalas pesan  mu.” Taemin melanjutkan langkahnya. “Latihan tadi cukup lama…”

“Aku tahu, sekarang. Begini pertanyaannya, kau sendirian disana?” Suara kekasihnya menegas. Taemin tahu apa yang akan keluar selanjutnya. “Kau pulang sendirian ke rumah?”

Taemin sadar apa yang ia katakan selanjutnya akan memancing kekasihnya kesal. Absurd, tapi ia agak suka melihat Noona-nya marah. Itu lucu.

“Aku berjalan kaki, Noona.”

“Bukannya aku sudah bilang, jangan jalan sendirian di atas jam enam malam? Pembunuh tanpa wajah itu bisa saja menghampirimu!” Nah, itu dia. “Tidak bisakah kau mendengarku sedikit saja?!”

Yah, yah tenang! Aku tidak apa-apa. Lagi pula, aku ini laki-laki. Lain cerita kalau perempuan-“

“Aku dengar dia menyerang semua gender! Coba kau lihat di berita. Kau yang lebih tahu, kan? Kau kira aku bercanda?!”

Taemin menggeram. Ya, sudah selesai permainannya. Kini membuat perempuan ini marah sudah mulai mengganggunya. Ini bahkan tidak terdengar lucu lagi di telinga remaja berumur tujuh belas tahun itu. Setelah berargumen selama sekian menit, Taemin tertawa pahit. “Kau tahu Noona, kini aku agak muak dengan semua omelan-mu,” belum sempat kekasihnya menelan apa yang barusan dilontarkannya, Taemin menambahkan, “aku delapan belas tahun, jangan menganggap aku seperti dongsaeng, kau tahu? Aku pacarmu, bukan adikmu.”

Kalimat itu tidak diteruskannya. Keheningan telah memotong keduanya. Taemin dapat mendengar telepon bergeser sedikit, dan suara tarikan napas yang cepat. Tidak, itu terdengar seperti orang yang baru saja mengambil napas cepat setelah sekian lama ditenggelamkan di bawah air. Taemin, masih berada di atas rasa ego-nya, ikut menenggelamkan dirinya dalam keheningan.

“… kurasa hanya aku yang berusaha dalam hubungan ini, kan?” Jikalau bukan karena jalan yang terlalu sepi, Taemin mungkin tak dapat mendengar kalimat yang barusan diucapkan Noona-nya. Ia memperhatikan suaranya yang sedikit bergetar dan agak pecah, seperti ingin menahan tangis. “Arasso, kau terganggu. Memangnya siapa aku? Mungkin aku tidak berhak mengkhawatirkan keadaanmu. Lagi pula, kau bisa baik-baik saja tanpa aku…”

Aniyo Noona, maksudku bukan begitu-“

“Sudahlah, aku… aku masih ada tugas yang harus dikerjakan. Sampai nanti Taemin. Mian sudah mengganggumu.”

***

Taemin merasa seperti orang bodoh. Orang paling bodoh. Salah, orang paling bodoh sedunia. Kalau saja ia dapat menjaga mulutnya. Atau paling tidak jika ia memang tidak punya sesuatu yang bagus untuk dilontarkan kepada kekasihnya, seharusnya ia diam. Diam saja. Diam hingga ia sampai rumah.

Sudahlah, entah bagaimana caranya, ia akan menemukan cara untuk meminta maaf pada gadisnya.

Bicara tentang rumah, untuk suatu alasan ia masih belum mencapai rumahnya sama sekali. Tak pernah memakan waktu selama ini. Aneh. Ia menggumam pelan, menegapkan struktur tubuhnya, dan mempercepat langkahnya. Malam yang semakin larut di jalan yang sepi adalah hal yang terakhir yang diingikan olehnya. Bukan, bukan takut. Hanya saja, ia tidak ingin bertemu seorang penjahat yang akan mencegatnya, lalu karena ia melawan, penjahat itu menusuknya tepat di perut. Lalu ia berakhir di rumah sakit selama tiga bulan. Dia tak mau itu terjadi, dia ada pertandingan minggu ini. Taemin berlari kecil, berharap bisa sampai di rumah.

‘PLANG!’

Taemin terkejut. Tidak begitu keras, tetapi tetap, jantungnya berdebar kencang. Dia berhenti untuk melihat keadaan sekitar.

‘Tidak ada siapa-siapa… Mungkin cuma suara kucing’

Walaupun ia tahu benar, kucing tidak mungkin membuat suara itu. Ia kembali berjalan. Tidak, berlari kecil. Napasnya yang mulai memendek.

“Ini sama saja aku melakukan latihan malam,” ucapnya. Dia berhenti dengan napas yang sedikit tersenggal-senggal.

‘PLANG!’

Oke, itu bukan suara kucing. Tangannya mulai memegang erat tali tasnya. Ia mencoba menarik ponsel dari sakunya. Detik itu juga, ia merasa tangan dingin memegang tangannya keras, menahan ia mengeluarkan ponselnya. Taemin melihat kedepannya.

Sebuah wajah, sedikit meleleh karena terbakar, hancur, berantakan. Tersenyum didepannya.

Tidak sempat berteriak karena wajah yang begitu mengerikan, Taemin terkejut, mencoba melepaskan diri dari tangan dingin yang menjepit lengannya kirinya. Taemin melemparkan tangan kanannya, mencoba meletakkan pukulan panas ke wajah pria asing itu. Pria itu terhuyung kesamping karena pukulannya. Taemin meluruskan punggungnya, siap berlari. Tapi pria itu dengan cepat meraih rambutnya yang coklat, membuatnya tertarik kearah berlawanan. Taemin berteriak, teriakan paling kencang dan histeris yang bahkan pernah ia dengar. Ia mencoba menendang, memukul, semua terasa percuma. Pria itu akan terhuyung beberapa detik dan bagaikan monster, kembali bangun di detik selanjutnya.

Belum sempat ia menyadari, pria itu mengeluarkan sebuah benda. Taemin berusaha untuk tidak memikirkan apa yang ia pikirkan. Sebuah pisau. Remaja itu memejamkan mata, menunggu rasa sakit yang luar biasa di bagian tubuhnya. Monster itu mengayunkan lengannya, mata pisau yang tajam telah siap merobek bagian lambungnya. Taemin bahkan tidak peduli lagi ketika terdengar suara seseorang berteriak histeris dan berlari ke arahnya dengan cepat. Entah karena tidak takut atau memang ia sudah pasrah, anak lelaki itu tersenyum pahit dibalik rambutnya yang berantakan.

Lee Taemin, kau sungguh tamat.

***

“Taemin? Taemin, ayo bangun…”

Taemin tersentak dari tidurnya. Mengangkat kepalanya dari bantal putih yang terasa hangat walau sebenarnya dingin. Matanya mengedip beberapa detik-mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk. Ini semua terlalu putih.

“Kau tertidur disini lagi?” Seorang anak perempuan yang sepertinya sebaya dengannya, menggoda dengan nada tinggi, tetapi rasa simpati tersisipkan didalamnya. “…kau bukannya ada pertandingan basket hari ini?” Taemin menguap sebelum membalas. Pegal akibat tertidur dengan posisi duduk mengingatkan dirinya untuk meminta Minho-hyung untuk menyemprotkan pain reliever di punggungnya nanti.

“Sudah berapa lama aku disini?” Taemin bertanya, lebih kepada dirinya sendiri. “Sial, aku benar-benar terlambat untuk pertandingan besar kali ini!”

“Sudah kuliah dan kau masih saja takut kepada Minho-oppa? Daebak…” Anak perempuan itu melipat lengan bawahnya, menyandarkan dirinya di pinggir pintu. Senyum sinisnya dibalas lagi dengan senyuman sinis dari Taemin.

Pabo, Pangeran Kodok itu bahkan tidak membuatku takut. Tidak diizinkan bertanding karena selalu terlambat, HAL ITU yang membuatku takut.”

“Apakah akan membantu jika kukatakan bahwa Minho-oppa sudah mencoba menghubungimu sebanyak lima belas kali sedari tadi?”

Ia membalas dengan senyum kecut. Setengah bercanda. “Ha, terima kasih Luna… jinjja.”

Luna memutar bola matanya dan meninggalkan ruangan. Perhatian Taemin kembali ke tempat tidur putih tadi. Bukan, perhatiannya sebenarnya tertoreh ke badan lemas yang tidur diatasnya. Tidak hidup. Seakan ia sedang tertidur, tapi tidak, badan itu tak mau terbangun. Taemin melayangkan senyum. Berharap mungkin saja, pada detik itu ia mau terbangun dari tidurnya.

Mungkin.

Anak lelaki itu mencium dahinya, lalu kedua matanya, dan terakhir bibirnya. Ia bodoh untuk berpikir bahwa pasien koma yang terbaring di hadapannya itu akan bangun dengan beratus-ratus kecupan. Tetapi, dia lebih bodoh lagi jika terlalu takut untuk berharap. Taemin mencodongkan badannya lebih rendah lagi, hanya untuk menghirup lehernya-mencium aroma tubuhnya lagi. Pipinya yang pucat-tidak beremosi karena terlalu lelap dalam tidur panjangnya-basah oleh air mata Taemin yang menetes perlahan.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Lee Taemin tidak pernah merasa sesepi ini.

“Kau tahu? Ini adalah pertandingan pertamaku di universitas. Aku ingin kau selalu ada di setiap pertandingan pertamaku. Tidak, kau harus ada di setiap pertandingan pertamaku, kau sudah janji.”

Taemin mengusapkan pipinya ke wajahnya lalu kembali mencium bibirnya. Ia ingin merasakannya lagi, benar-benar ingin merasakannya lagi.

“Saranghae.

Sekali lagi hening.

Mianhae,” isaknya, “Noona mianhae… mianhae…”

Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Lee Taemin tidak pernah merasa menyesal seperti ini.

 

End

 

A.N:

Thanks for reading! Phew! My first-Indonesian-fanfic ever. I don’t know whether you might like it or not. Oh well, at least I’ve tried. So yeah, bear with me hehe. Feel free to comment you guys😀

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “A Lesson

    1. Terima kasih. Wah, bener nih feelnya dapet? makasih, makasih, makasih! Aku benar-benar kesel sama diri sendiri waktu buat oneshot ini. Terlalu picisan. Tapi, makasih ya sudah mampir!

    1. Ini fanfic pertama aku, jadi aku takut aku salah pilih kata atau mungkin lebih parah, aku salah pengertian sama beberapa kata. Terus, kalimatnya aneh. Terus, gagal. Oh well, i was overthinking. Thank you, a lot. I mean it :*

  1. lemme hope that this is one of my fave reader’s masterpiece
    hah ini udah bagus eh buat newbie
    debutku dulu bahkan jauh banget dari ini
    bahasanya udah rapi menurutku
    *jangan nanya punctuation karena aku buta masalah ini*

    entah kenapa menurutku masuk genrenya lebih ke life angst aja soalnya perihnya manis
    hah kenapa perihnya manis, karena ini cukup dekat dengan kehidupan *plis keinget dulu gaboleh lewat di jalan xxx sendirian waktu malem karena takut disabet/dibunuh*
    dan romance antara nuna taem enggak begitu kelihatan

    oh iya menurutku malah ini lebih ke regretnya si taem sih bukan langsung ke pelajaran gitu
    tapi ini pendapatku secara personal ya soalnya pemahaman orang kan rata2 parsial dan kurang bisa menyeluruh jangan dipercaya nanti dosa jarena jangan percaya selain sama Tuhan :p

    keep writing dear
    thanks for the drabble😀

    1. AKU FANSSS MUUUUUUUUU i was just being crazy at the moment you put your thoughts here. Thank you, forreal. Means HELLA much to me when it comes from you.

      About the genre, i’m sorry. I don’t even know what i am doing when i write this. Kau tahulah, ingin buat sesuatu yang cheesy, jadinya basi. Bleh.

      Hey you! Yeah you, chrysalis!

      Keep writing the drabble, please. Cause those are my babies🙂

      1. YEAAAYYY I GUESSED IT RIGHT!
        hiyah don’t be crazy yet, you should write a stack of stories before being crazy becomes legal

        then you have the same problem with me
        Let’s just write everything without purpose and forget about what kind of genre we should have
        Nentuin genre itu kadang berasa sama capeknya sama cari judul, biarkan tangan aja yang menentukan

        ah aku jadi tersipu diminta nulis drabble lagi
        nanti menyusul ya setelah sekuelnya selesai😀

        ps.
        we should keep in contact >//<

        1. *okay I dunno where to reply anymore*
          just visit my page The Hero page (sub-page main author chrysalis)
          and you’ll find some media😀
          *ceritanya promosi*

  2. hmmm otakku yang agak gimana atau apa ya? kenapa aku nggak nangkap maksud ff ini? jadi itu noona nya kenapa koma? dan kenapa taemin masih hdup? huhuhu dan kenapa aku ga mudeng cerita ini? ;;__;;

    1. Otak kamu gak kenapa-kenapa. Mungkin…otak aku yang kenapa. Kok, bisa nulis nonsense macam gini.

      Mungkin sedikit penjelasan, waktu si penjahat mau menikam si Taemin, Noona-nya ini datang tepat sebelum kejadian, jadi…instead of Taemin yang kena tikam, Noona-nya yang kena.

      Cliche, i know. I was laughing at myself when i re-read this story. Btw, maaf kalo balasannya terlalu lama. Sumpah, aku nggak ngeliat ini ada, coba. Maaf ya, dan makasih sudah mampir!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s