Who I am? I am an Eve – SPY 15 (FINAL)

By           : ReeneReenePott

Cast       : Key, Jessica, Jung Yoogeun, Ariana Clearwater, Chase Lee

Minor cast : Hero, Taylor Kim, Gyuri, Elias, Madeleine, Baek Chan Gi

Genre   : Alternate Universe, Fantasy, Mystery, Sad, Romance

Length  : Sequel

Rating   : PG – 15

Credit poster by : cutepixie artposter/pinkhive.wordpress.com

Credit Spells : Any spells that mentioned in this fiction are belong to JK Rowling in her Harry Potter novel series.

Disclaimer : This plot of fiction and the concept of creature “Eve” are MINE, except the casts and some knowledges—ReeneReenePott

WARNING! TYPOS, GAJE, ABSURD.

SPY 15 – FINAL

Tubuh Gyuri kaku, nampak sebagian cairan tubuhnya hilang. Ia berbaring di atas ranjang dengan mata tertutup dan ekspresi seperti patung. Sayapnya lemah terkulai di bawah punggungnya, menampakkan beberapa patahan dan perutnya yang masih terlihat bekas remukan. Biasanya seorang Eve cepat memulihkan dirinya, tapi ini sudah hari kedua sejak kedatangan troll itu dan Gyuri sama sekali belum bisa membuka kedua matanya. Dan sekarang Taylor selalu duduk di samping ranjang, menatap Gyuri dengan tatapan khawatir.

Klek…

“Gyuri sudah bangun?” suara Madeleine terdengar ragu dari pintu. Taylor hanya menggeleng. Madeleine menghembuskan napas berat lalu masuk. Ia memang sudah mengira bahwa akan menjadi seperti ini. Tapi Gyuri bisa cepat bangun jika ia menggunakan sedikit sihir, dan bagusnya Elias dengan keras melarangnya. “Maaf, aku tak bisa melakukan banyak,”

Taylor hanya diam dan terus menatap Gyuri. “Bagaimana dengan Key?”

“Dia baik-baik saja,” jawab Madeleine kalem. Ia menoleh ketika merasa Hero berjalan masuk dari pintu yang terbuka.

“Aku ingin bicara pada Taylor,” ujar Hero dingin, membuat Madeleine keluar dalam diam. Kini di ruangan itu hanya tinggal Hero dan Taylor. “Gyuri akan baik-baik saja. Dan kalau kita merawatnya ia akan segera pulih. Tapi sepertinya ia harus pindah dari sini,”

Kening Taylor merenyit. “Apa maksudmu? Kenapa harus pindah?”

“Kau tahu serangan akhir-akhir ini?” tanya Hero balik. Taylor mengangguk ragu.

“Gyuri yang menceritakannya padaku. Ia yang dengar dari Elias,” sahut Taylor masih dengan wajah datar. “Kenapa?”

“Merek akan kesini lagi,”

“Troll-troll itu?”

Tapi Hero menggeleng. “Bukan. Nanti akan ada sebatalion tentara Angkatan Darat Korea Selatan menyerang kita,”

Kedua mata mata Taylor melebar. “Bagaimana bisa?”

“Kalau dilihat-lihat, Taylor, kau tahu penyebab semua kejadian ini?” tanya Hero dengan suara pelan. “Perkara kecil menjadi perkara besar. Ini semua karena gadis setengah Veela itu,”

“Dia?”

“Aku tidak tahu motifnya apa lagi. Tapi jelas ia tidak berusaha untuk mendapatkan Key. Dia ingin membunuhnya,”

Pandangan Taylor menerawang, lalu menghembuskan napas pelan. “Bagaimana keadaan Key? Apa dia baik-baik saja?”

Hero tersenyum tipis lalu mengangguk. “Bocah itu cukup kuat untuk menyerang,”

__

“El,” panggil Jessica saat melihat Elias sedang berlalu. Elf itu berhenti lalu menoleh menatap Jessica.

“Ada apa Jess?”

“Key dimana?”

Bukannya menjawab, Elias malah menatap Jessica sambil berpikir. “Sebaiknya kita bicara dulu, Jess,” ujar Elias pelan. Jessica mengerutkan keningnya, tapi akhirnya ia menurut mengikuti Elias, bergerak menuju teras belakang.

“Jadi ada apa?”

“Aku merasa, apa sebaiknya kau menjauhi Key dulu?” Elias bertanya ambigu, entah ia bertanya pada Jessica atau senag bergumam dengan diri sendiri. Jessica hanya menatap Elias datar.

“Memang apa yang kau tahu? Soal Ariana?”

Elias menggeleng pelan. “Hari ini akan terjadi lagi, Jess. Malam ini puncaknya. Aku melihat bintang dan memang benar, hari ini malapetaka besar akan dikirim ke sini. Hero juga sudah mengetahuinya, bahkan ia mengetahuinya dari pikiran penyusup yang mengintai sedari pagi,”

“Lalu?” tanya Jessica, pikirannya tidak ada di situ. Matanya menatap ke arah pepohonan dan pikirannya samar-samar ia kosongkan. “Jadi kita dikelilingi pengintai sekarang? Apa mereka juga dapat mendengar apa yang tengah kita ucapkan?”

Elias menatap Jessica, tahu kalau Eve itu tidak begitu mendnegarkan kata-katanya. “Mereka tidak bisa mendengarnya. Karena itu, kurasa kau harus sedikit menjaga jarak dari Key,”

“Kenapa aku harus?” tanya Jessica acuh.

“Nanti pasti ada Ariana, dan Key pasti mencoba menahannya. Jika kau terlalu mengumbar apa yang kau rasakan pada Key, Ariana akan tambah semangat mengejarmu. Dan aku yakin itu bukan yang diinginkan Key,” jawab Elias linglung. “Atau mungkin saja tidak,”

“Malam ini bulan purnama, El,” ujar Jessica santai. “Sebenarnya mereka salah jika ingin menyerang saat bulan purnama. Jika mereka mulai jam lima sore, mungkin mereka bisa selamat. Tapi kalau mereka stand by diatas jam delapan malam, mereka akan habis,” senyum licik Jessica mengembang. “Malam purnama adalah malam kejayaan Eve kan? Sayapku sudah menjadi sayap kelelawar, pasti nanti malam ada pertunjukan menarik,”

“Berarti Gyuri akan pulih malam ini,” gumam Elias. Jessica tersenyum lemah.

“Ya, seharusnya. Ramuan yang dipakai Madeleine cukup membantu, Gyuri pasti bisa cepat pulih,” ujar Jessica, memaksakan sebuah senyum di bibirnya. “Kalau Gyuri bisa cepat pulih, dia bisa menggunakan penglihatan inframerahnya. Itu akan banyak membantu jika aku bisa menyusup memasang beberapa ranjau yang ada di gudang,”

Elias menerjapkan matanya lalu benar-benar menatap Jessica. “Ranjau?”

“Ya, ranjau bekas perang. Masih ada beberapa dan berfungsi dengan sangat baik. Hero pasti akan sangat merelakannya untuk meledak malam ini,”

“Terkadang pikiranmu sulit ditebak, Jess,” gumam Elias.

“Oh ya, aku kan tadi mau lihat Key. Dimana dia?” tanya Jessica tiba-tiba. Elias mengangkat kedua bahunya dan Jessica merengut sedikit, lalu langsung berlalu pergi. “Kenapa dia jadi menyebalkan sih?” gumamnya kesal lalu membalikkan punggung dengan arah yang berlawanan dengan Elias.

“Jess,” panggil Elias tiba-tiba (lagi) dan membuat Jessica berhenti mendadak dan membalikkan tubuuhnya. “Malam ini siapapun bisa mati. Kumohon, bertahanlah,”

Jessica menatap Elias dalam diam kemudian berkata. “Kau juga,”

__

Siapa kira, kalau sekarang Key sedang berada di Seoul. Cowok Eve itu memakai kupluk dan kacamata hitam dan melenggang di sekitar kantor Yoogeun. Sebatang rokok yang di bakar terselip disela jarinya, hanya sebagai pengalih keadaan. Nyatanya, dia sama sekali tidak bisa menyesap rokok, kan?

Orang-orang berlalu-lalang ketika Key menghentikan langkahnya dan membiarkan bahunya beberapa kali ditubruk orang. Matanya terfokus ketika seorang gadis dengan pakaian kerja yang rapi tiba-tiba berjalan cepat dengan tatapan lurus padanya. Seo Joohyun. Key langsung mengenalinya ketika mencium baunya dari tempatnya berdiri. Kini, Joohyun sudah meraihnya dan trotoar trempat mereka berada sudah sepi, orang-orang sudah mulai menyebrang melihat lampu lalu lintas yang berganti hijau.

“Kau! Cowok brengsek!”

PLAKK

Tanpa ragu Joohyun langsung melayangkan tamparan terkerasnya ke pipi Key, namun yang ditampar tidak bergeming. “Kau cowok terbrengsek yang pernah ada!! Bisakah kau lenyap saja?! Kau cowok jahanam, apa yang kau lakukan pada kakakku, HAH?! Jangan kira aku tak tahu dasar brengsek!!” pekiknya keras dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.

Namun tatapan Key teramat sangat datar hingga membuat emosi Joohyun semakin meluap. “Memang ada apa dengan kakakmu?”

“Kau jangan pura-pura tidak tahu bangsat! Dia bunuh diri gara-gara kau!! Apa yang kau lakukan padanya hah hingga ia sampai hilang akal seperti itu?! Kemana kau saat pengkremasiannya?! HAAAH?!!” Joohyun menjerit histeris lalu melempari Key dengan tas tangannya dan ia terjatuh di lantai trotoar, menangis. Key hanya menatapnya dingin, ia memiringkan kepalanya sejenak lalu jongkok dan menatap Joohyun lurus.

“Itu sudah takdirnya, kau tak perlu marah-marah padaku seperti ini. Jangan menangis, orang-orang mulai menatapku aneh,” ujar Key santai sampil menatap Joohyun yang masih terisak.

“Apanya yang takdir, bangsat?! Kakakku harusnya masih bisa menjajaki karirnya, ia harusnya bisa menikah dan punya keturunan dengan orang yang pantas tapi semuanya hancur karena ia sudah terlanjur terpikat denganmu!! Kau pikir aku bisa terima begitu saja??” Joohyun kembali menatap Key dengan sorot mata penuh kebencian dan wajah yang basah.

“Berdirilah. Kita bicarakan ini di tempat lain,”

“Dasar brengsek!! Kakakku tiada dan hanya itu responmu?! Dia pernah menjadi salah satu klienmu setidaknya hargailah ia sedikit!! Apa kau begitu tak punya hati?” desis Joohyun dengan tatapan tak percaya. Namun Key malah berdiri, dan ikut mengangkat paksa tubuh Joohyun hingga ikut berdiri menghadapnya.

“Seo Joohyun, dengarkan aku. Semua orang memiliki takdirnya masing-masing, dan sayangnya kakakmu mengalami kesialan. Oke, aku tak bermaksud membuatnya sial—“

PLAKK

“Hentikan mulut kotormu itu,”

Key meraih kedua bahu Joohyun dan memandangnya lekat. “Seo Joohyun, kakakmu tidak bunuh diri,” ujarnya tenang lalu dengan sengaja tersenyum miring, menunjukkan sebelah taringnya dan Joohyun langsung membeku.

“Vampir?” lirih Joohyun tak percaya, namun Key justru memutar bola matanya.

“Kalian benar- benar sudah teracuni dengan serial Twilight ya? Mahkluk di dunia ini tidak hanya vampir dan manusia serigala saja,” ujar Key pelan lalu melepas tangannya dari bahu Joohyun. “Itu sudah takdir kakakmu, Seo Joohyun. Aku hanya akan membunuhnya jika sudah waktunya. Dan aku belum mendengar kabar tentang kematianmu, jadi kau kulepaskan,”

Tangan Joohyun bergetar dan menutup mulutnya. “Kau jahat,” katanya penuh ketakutan lalu berbalik dan berlari, meninggalkan Key yang masih menatapnya.

“Seo Joohyun! Aku belum selesai bicara!” teriak Key namun Joohyun terlanjur sudah hilang dari pandangan. Sesaat Key ingin mengejarnya, namun akhirnya ia mengurungkan niatnya. “Ck,”

Srakk

Sesosok wanita berambut blonde memerhatikan mereka sedari tadi. Dengan harapan Key tidak menyadari keberadaannya, ia menyelip di antara kerumunan orang yang sedang mengantri bus. Senyum yang biasa menghias wajahnya lenyap tak berbekas, diganti dengan sorot kaku setelah denting itu terdengar telinganya. Tak butuh waktu lama untuk menyadarinya, tapi butuh waktu untuk memikirkannya. Tadinya, Joohyun harus dimangsa olehnya malam ini pukul sebelas malam. Tapi ia terpaksa harus membatalkannya setelah melihat insiden ini. Denting itu kembali terdengar, seakan memberitahunya mangsa baru yang siap malam ini.

Flashback

“Tidak akan ada pertarungan,” ujar Hero dingin ketika Jessica baru masuk kastil dari pintu belakang. Mata Jessica membulat tak percaya.

“Tapi semua sudah bersedia!”

“Terlalu beresiko,”

“Tapi mereka tetap akan menyerang. Kau mau kita dibantai?!” pekik Jessica tak terima, namun bibirnya kembali terkunci ketika melihat sorot serius Hero.

“Yang perlu kita lakukan hanya menahan manusia-manusia itu. Biarkan Ariana yang masuk dan bertatap muka dengan kita,”

“Oho, mau membuat perundingan dengan wanita sinting itu?” tangan Jessica terlipat, berdecih pelan dan membuat Hero bingung dengan pikiran wanita yang itu tiba-tiba saling simpang-siur.

“Jess, hanya dengan Ariana saja kita semua bisa dibantai. Ada seorang penyihir dan werewolf di sisinya,” kepala Jessica terasa berdenyut mendengar penuturan Hero yang terdengar kalem itu. “Akan lebih baik menghindari pertarungan malam ini,”

Tapi malam ini purnama! Pekik Jessica dalam hati sambil memejamkan matanya. “Tapi aku butuh bicara dengan Yoogeun,” Jessica menatap Hero tajam. “Setidaknya?”

“Terserah. Mahkluk itu urusanmu, bukan urusanku,” gumam Hero. “Dan meskipun malam ini prunama, Jess, tetap sulit untuk kita. Ingat kondisi Gyuri,”

Masih buruk? “Kurasa aku butuh tenaga untuk malam ini,”

Hero hanya melirik Jessica sekilas lalu pergi.

Flashback end

__

“Kenapa tidak langsung siang hari saja?” pertanyaan dengan nada tidak sabar yang dilontarkan Yoogeun membuat Ariana memutar kedua bola matanya saat ia mengecek arlojinya.

“Kalau kita menyerang di siang hari tentu akan menarik perhatian,” balas Ariana makin jengkel.  “Kita tidak mungkin membuat orang-orang disekitar bingung dengan perang di siang hari. Ditambah mereka tidak tahu perang apa ini,”

“Aku lebih nyaman jika menyebutnya dengan serangan daripada perang,” gumam Yoogeun lagi ketika mengikuti Ariana memasuki pertahanan sihir di kastil kediaman Hero dan kawanannya. “Kata perang terdengar kuno sekali,”

Yoogeun pura-pura tidak melihat ketika Ariana meliriknya sinis dan kembali berkonsentrasi untuk menerobos sihir pelindung. “Satu jam empat puluh lima menit lagi. Jam empat kita menyerang. Apa orangmu sudah siap?”

Yoogeun mengecek ponselnya lalu mengedarkan pandangan dimana ia bisa mengamati orang-orangnya mulai bersiap di posisi masing-masing lalu mengangguk. “Aku hanya memanggil dua belas orang untuk hari ini,”

Madeleine celingak-celinguk di pintu belakang. Tadinya dia ingin mengajak Taylor bersamanya, tapi pria itu lebih memilih menemani Gyuri daripada melakukan tugas kecil ini. Lagi-lagi ia memutar bola matanya ketika menangkap sosok manusia yang jelas-jelas terlihat kikuk di balik belukar. Seperti ini manusia yang disiapkan Yoogeun? Huh, ternyata kata-kata Hero benar. Manusia-manusia itu hanya akan merepotkan jika sampai terlibat. Kata Hero juga, hanya Yoogeun yang boleh ia lewatkan. Yah, mau bagaimana lagi? Elias menghilang entah kemana, dan mereka hanya bertiga di kastil.

Dan sekarang… dia bingung. Bagaimana caranya mengalihkan pikiran manusia-manusia ini agar ngibrit dari sini? Halusinasi? Sepertinya tidak tepat. Melepaskan hewan? Kasihan hewannya kalau ditembak dengan Rocket Launcher yang ia sendiri bingung darimana mereka mendapat senjata mematikan yang sempat menjadi senjata andalan saat Perang Dunia kedua. Dia bukan pengoleksi senjata, tapi yah… sebagai pengetahuan, kan? Kepalanya bergerak lagi dan kini ia tersentak.

Ariana?

Madeleine menegakkan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam. Ia butuh bicara dengan Hero dan sekarang mahkluk itu sedang pergi…

Wush!

“Ada apa?” mata tajam dan rambut pirang itu tiba-tiba muncul, membuat Madeleine mundur beberapa langkah.

“Jess! Kau sudah kembali?”

“Ada apa diluar? Kenapa banyak sekali orang?” Jessica merenyit tak suka menatap keluar lewat jendela, “Mereka berisik,”

Madeleine meringis lalu mengelus tengkuknya sambil berpikir. “Yah, harusnya kau menyadari kalau ada seekor werewolf, dua penyihir dan dua puluh satu manusia di balik sana,” Jessica membelalak.

“Werewolf? Kenapa aku tidak merasakannya?” mulutnya setengah terbuka karena terkejut, sementara Madeleine hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Kerutan di kening Jessica semakin dalam. “Tahu siapa werewolf itu?”

Madeleine lagi-lagi mengangkat bahu. “Aku hanya tahu ada Ariana dan Yoogeun. Yang lainnya tidak,” lagi-lagi Jessica merenyit. Pandangannya kembali terarah keluar dan tetap bergeming meski menyadari kalau Taylor sudah keluar dari kamar Gyuri dan menatapnya bergantian dengan Madeleine.

“Dia sudah sadar,” suara Taylor terdengar tenang, membuat kedua wanita itu menoleh cepat menatapnya.

“Sudah?”

“Dan dia ingin bicara dengan kalian berdua,” Taylor mengatupkan rahangnya, terlihat dingin. Jessica berpandangan dengan Madeleine, dan kembali menatap Taylor.

“Kami akan menjaganya. Kau tenang saja dan beristirahatlah,” ujar Jessica sambil tersenyum dan menepuk pelan bahu Taylor sebelum masuk ke dalam kamar Gyuri, disusul Madeleine yang ikut tersenyum tipis.

Saat keduanya membuka pintu kamar Gyuri, bau-bau obatan yang tadi pagi diberikan Madeleine masih kuat tercium oleh penciuman mereka yang kelewat tajam. Hanya saja, kali ini Gyuri sudah tidak terbaring di ranjangnya, namun duduk menyender dengan bantal menjadi penopang punggungnya. Wajahnya yang nampak lemah berusaha tersenyum kendati ia tak bisa menyembunyikan rasa sakit yang belum sepenuhnya hilang itu. “Hai,” ia mencoba menyapa mereka berdua yang kelihatan bingung harus berkata-kata. “Aku bisa berdiri, tapi Taylor yang tidak memperbolehkan,”

“Kau kan memang belum kuat berdiri. Lukamu masih menganga,” sembur Madeleine lalu melipat tangannya dan menghempaskan diri di ujung ranjang Gyuri. “Tindakanmu sangat sangat bodoh. Kau tak tahu cemasnya anakmu melihat kondisimu waktu itu?”

“Madeleine… Gyuri baru sadar. Jangan ngomel-ngomel langsung begitu ah,” tangan Jessica menghampiri bahu Madeleine dan meremasnya gemas, membuat si empunya bahu sedikit meringis karena kekuatan remasan itu. Gyuri haya tersenyum kecil lalu berusaha menarik napas.

“Aku ingin mengatakan sesuatu tentang Key,” Gyuri berusaha memulai kalimatnya, namun nampaknya belum ada kata yang pas. “Melalui insting seorang ibu,”

Konsentrasi Jessica dan Madeleine langsung beralih menatap Gyuri. “Ada apa dengan Key? Bukankah dia baik-baik saja?” tanya Madeleine sedikit bingung, namun tidak dengan Jessica yang hanya membungkam mulutnya.

“Sangat baik malah. Jess, kau ingat kejadian dua puluh tahun lalu?” tanya Gyuri tiba-tiba, membuat Jessica meupun Madeleine sontak terkaget. Oho, sepertinya Madeleine tahu kemana Gyuri akan berbicara. Matanya melirik Jessica yang masih menatap Gyuri dengan kening berkerut.

“Sesuatu tentang Kibum-kah?” suara Jessica terdengar seperti mendesis mengingat meemori yang sudah ia kubur dalam-dalam itu. perutnya mulai merasakan gejolak tak enak, ditambah dengan Madeleine yang sepertinya menatap intens dirinya. Gyuri tersenyum dan mengangguk.

“Aku baru tahu sesuatu tentang Key beberapa bulan yang lalu,” ujar Gyuri sambil mendesah pelan, menunduk dan memerhatikan kulit pucatnya yang masih menunjukkan denyut lemah. “Dia reinkarnasi Kibum. Makanya kemiripannya dengan Kibum sangat luar biasa. Tak heran waktu itu kau diminta menyingkir darinya oleh Hero,”

Jessica memalingkan wajahnya. “Kalau itu, aku sudah tahu,” Madeleine menoleh mendengar kata-kata Jessica, namun ia lebih memilih diam dan mendengarkan kedua wanita yang sedang berbicara itu.

“Kau mendapat restuku, Jess,” ujar Gyuri lagi, lebih tegas. Mata Jessica membelalak, cepat-cepat menatap Gyuri yang memandangnya dengan sorot penuh keyakinan. “Aku bahagia kalau kalian bersama,”

“Tapi—“ Jessica memejamkan matanya sejenak sebelum kembali menatap Gyuri tajam, “Aku tidak bersayap bulu hitam. Aku kelelawar. Aku tak mungkin bersamanya,”

Gyuri tersenyum kecil. “Satu yang kau harus tahu, Jess. Setiap orang berhak atas cintanya,” ia kembali menatap Jessica lembut, “Jaga dia,”

__

“Hah! Sudah kuduga kalau kalian akan langsung ngerumpi begitu Gyuri bangun! Dan lihat, tidak ada satupun yang kalian lakukan kan! Coba saja kalau aku tidak berhasil menyusup ke sini, kalian bisa dimakan mentah-mentah!” Hero mulai mengoceh panjang lebar karena Madeleine belum menyelesaikan tugasnya. Menyingkirkan sejauh mungkin manusia-manusia itu dari sini, sehingga rencana Hero bisa membuat mereka hanya menghadapi Ariana dan kroninya yang bisa dibilang tak seberapa dengan mereka.

“Aku tidak tahu harus mengecoh mereka dengan apa. Ariana CS juga sudah di sana! Aku tak mungkin melepas seekor mahkluk aneh untuk mereka kejar-kejar karena rocket launcher yang mereka miliki masing-masingnya!” balas Madeleine merasa tak bersalah. “Aku tak bisa merapal mantra atas mereka, Key yang bisa karena jenis sihir yang digunakannya sama dengan Ariana, kan?”

Dihadapan mereka berdua hanya ada Taylor karena Jessica tengah menemani Gyuri dan berbincang banyak dengannya. Meskipun si penonton sama sekali tak terganggu, tetap saja akan mengesalkan kan ketika mendengar suara-suara yang mulai saling melengking itu? “Kalau begitu dimana Key?”

Madeleine mengendikkan bahunya tak acuh. “Aku tak tahu, aku kan bukan babysitter-nya. Mungkin dia pergi berburu,”Hero mengerang kesal, namun tak berani menatap Madeleine, karena suara lengkingan marahnya terdengar mengerikan—menurutnya. “Aku tidak melihat Elias seharian ini,”

“Oh, dia sedang ada urusan. Harusnya sebentar lagi dia sudah kembali,” jawab Hero sekenanya, lalu terdiam karena Madeleine ikut terdiam.  Hanya pikiran-pikiran Madeleine yang timpang tindih yang terdengar di telinganya. “Tak usah berpikir yang macam-macam. Elias akan kembali,”

Madeleine melirik sinis lalu memalingkan wajahnya. “Memangnya memikirkan yang aneh-aneh bagaimana?” gerutunya pelan sambil beranjak meninggalkan Hero yang mengeluarkan cengiran jahil tanpa sepengetahuannya. “Matahari mulai terbenam,”

“Bisa cemburu juga kau yah,” gumamnya pelan. “Hey! Mau kemana?”

“Menyalakan ranjau!” jawab Madeleine keras dan lantang tanpa menoleh ke arah Hero yang mulai terkekeh. Benar saja, tak sampai semenit kemudian, bunyi riuh mulai terdengar.

DUAR

DUAR

DUAR

Tentu saja, yang tidak kaget hanya Hero sementara seisi kastil langsung panik. Dari kejauhan Hero bisa melihat Key sedang melesat mendekat, mendekati Madeleine yang masih berpikir apakah ia harus menyalakan ranjau keempat dari total lima belas ranjau yang sudah terpasang. Setelah ikut terkekeh mendengar makian dan umpatan Madeleine pada Key, akhirnya Eve muda itu mau meng-Confundus para manusia yang ada untuk kabur secepatnya dari sekitar tempat itu. Tentu saja, dengan menyisakan Yoogeun.

“Gila, kenapa dinyalakan sekarang sih? Ariana asti langsung ngamuk dan here we go!” celoteh Jessica langsung keluar dari kastil dan berdiri tegap di halaman rumput depan. Kepalanya mengadah menatap langit, namun ia belum melihat tanda-tanda kemunculan bulan purnama yang ditunggunya.

“Butuh teman?” suara Gyuri terdengar dari belakang. Jessica mendesis kesal lalu berbalik secepat kilat. “Tidak, Gyuri. Kondisimu masih parah. Lihat Taylor yang sudah memelototimu di belakang sana,”

Gyuri mendengus pelan dan tetap menyejajarkan tubuhnya dengan Jessica. “Sebentar lagi purnama muncul,”

“Gyuri, masuk,” suara dingin Taylor mengalun dari balik punggung kedua wanita itu, membuat Jessica langsung merinding. “Kau mau membunuh dirimu sendiri?”

“Tuh, dengarkan kata soulmate-mu. Ada Hero, aku, Taylor, Key dan Elias. Madeleine juga pasti banyak membantu. Kau harus di dalam, Ariana hanya berempat,” sambung Jessica namun akhirnya melotot melihat Gyuri menggeleng dengan keras kepalanya.

“Aku ingin berpartisipasi. Apa tidak boleh?”

“Tidak, kalau ini masih menyangkut dengan kondisimu yang tidak siap bertarung,” lanjut Taylor dari belakang lagi. Gyuri menolehkan kepalanya dan melirik Taylor sejenak.

“Aku tidak apa-apa, sungguh,”

Mendengus menyerah, Jessica akhirnya terdiam. “Tunggu sampai anakmu ngamuk kalau kau ikut bertarung,”

“Gyuri!” suara Key terdengar lantang dari balik kastil. Jelas sekali dia barusan dari belakang untuk menyelesaikan beberapa urusan. “Kenapa kau disini? Jangan sok kuat deh,”

Jessica tersenyum puas. “Tuh kan, sudah kubilang,”

“Aku bisa Key, sungguh,” jawab Gyuri sungguh-sungguh namun nampaknya tak mungkin sanggup menggoyahkan Key.

“Kau tahu, aku mirip denganmu, kita sama-sama keras kepala. Nah, karena aku jauh lebih muda, maka kehendakku akan lebih kuat dan dominan. Masuk!” tegas Key mendekati Gyuri, berusaha meraih ibunya dan meenyerahkannya pada Taylor. Tapi belum sempat ia menyentuh Gyuri…

EXSPELLIARMUS!”

Semuanya kaget setengah mati mendengar suara lengkingan wanita yang menyerukan mantra dan kilatan biru kehijauan yang melayang di udara bagai sambaran komet. Tapi untung saja dengan refleks yang luar biasa, Key bisa berkelit dan langsung siaga berjaga melihat sosok yang datang dari arah asal kilatan tadi itu. Jessica langsung menarik Gyuri masuk, sementara Taylor bersiap di sebelah Key.

“JANGAN SEMBUNYI KAU PEREMPUAN JALANG!” suara Ariana yang menggelegar terdengar lagi, membuat Jessica jantungan setengah mati. Tunggu, bukannya dia tidak punya jantung, ya?

STUPEFY!” seru Key, namun sialnya Ariana bukan penyihir yang bodoh. Dengan mudah ia bisa menangkis serangan Key. “Kau mau bermain sihir, oke, kita bertarung sekarang!”

“SETH! BERESKAN YANG LAINNYA!” pekik Ariana saat melihat sekelebat baju yang dikenakan Madeleine dari balik kastil.

Degh!

Key membeku. “Seth… Seth Clearwater?”

Senyum licik kembali mengembang di bibir Ariana yang semerah darah itu. “Kau mencari masalah denganku, Kim Key, dan lihat apa yang bisa kuperbuat,” matanya berkilat melihat tangan Key yang memegang tongkat sihirnya sedikit turun, dan langsung kembali menyerangnya. “AVADA KEDAVRA!”

Lagi Key menangkis mantra kutukan mematikan itu. “SECTUMSEMPRA!” Ariana menangkis denga mudahnya, dan perhatian Key hampir teralih ketika melihat sosok sobat dekatnya semasa sekolah itu muncul dan langsung menyerbu bagian belakang kastil. “YANG BISA MELAWAN SIHIRNYA HANYA AKU! DIBELAKANG ADA DUA ELF!”

“Lalu apa peduliku? AVADA KEDAVRA!!”

DUAR

“Sialan, kalian menggunakan senjata perang. BAWA WANITA ITU KELUAR KEY! AKU TAK SABAR MEMBUNUH KALIAN BERDUA!” Key terus-terusan menyerangnya dan Ariana bisa menangkis dengan baik.

DUAR!

Kini ledakan berasal dari mantra yang dimuntahkan Ariana, bukan karena ranjau. “BOMBARDA MAXIMA!”

BOOM!!

“Sialan,” desis Key saat Ariana menghancurkan hampir separuh kastil. Serpihan gedungnya kemana-mana, dan seketika arena berubah menjadi lokasi hujan batu besar dadakan. Double sial. Tidak tidak, TRIPPLE SIAL! ITU KAMAR GYURI! “REDUCTO!” pekik Key mengarahkan tongkat sihirnya pada Ariana, bermaksud meledakkan wanita itu. Tapi Ariana sama lihainya dengan Auror beken. Astaga. Key kembali naik darah melihat senyum licik mengembang lagi di bibir wanita itu, membuatnya kembali menyerang Ariana dengan mantra-mantra verbal. Dan sialnya, ditangkis dengan lihainya oleh Ariana, wania itu sama sekali belum terkena efek dari mantra apapun.

AVADA KEDAVRA!”

“ELIAAS!”

DUAR

Madeleine memekik ketika melihat Elias dari balik pepohonan, karena di belakang Elf itu ada sosok yang menatap dengan tatapan mengerikan. Kalau tidak salah, Madeleine memutar otaknya, itu Chase, si manusia serigala yang Jessica pernah keceplosan menyinggungnya! Astaga, sekarang dia yakin seyakin-yakinnya kalau wanita bernama Ariana itu seratus persen gila. Sudah gila, bisa sihir pula! Habis perkara!

Sedari tadi ia hanya bisa menangkis sihir dari Seth, karena dia tahu sihir Seth tidak akan berpengaruh padanya, tapi tetap akan berefek pada Hero. Dan melihat Elias yang sedang memikirkan strategi tiba-tiba dijadikan target, membuat pikirannya terpecah belah. Sekarang malah Hero yang mengincar Chase. “Sihirmu tak berpengaruh padaku, Tuan Clearwater,” desis Madeleine menurunkan busur dan anak panahnya.

Namun yang diajak bicara tidak bisa menatap fokus Madeleine, hal yang sedari tadi membuatnya bingung. Pria bernama Seth ini mengerti bahasa manusia, kan? Nampaknya ia tak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Dia terus saja menyerang Madeleine, tak peduli bila sedari tadi mantranya hanya mental kesana-kemari, menyebabkan kerusakan yang cukup parah karena kuatnya efek dari mntra-mantra yang ia pakai. Sekarang Madeleine yakin kalau kroninya Ariana juga gila. Lihat saja pria aneh ini!

“HERO! AWAS!!” pekik Madeleine ketika pantulan mantra itu terarah pada Hero yang berkonsentrasi pada Chase.

BOOM!

Madeleine melotot begitu melihat pijaran api yang menyambar tubuh Hero. Tak terima begitu saja, ia menyambar tubuh Seth dengan tangan kosong dan memakunya di tanah, berusaha sekuat tenaga menyuntikkan cairan pembius yang kuat. Tapi seth bukan pria yang lemah, menyadari tongkat sihirnya yang entah dimana dia berusaha memiting tubuh Madeleine sementara Elias mulai kewalahan menghadapi Chase.

Langit mulai gelap namun awan tebal masih menyelimuti, menyembunyikan sinar purnama yang harusnya bersinar malam ini.

Elias tentu tahu kalau Chase itu manusia serigala—tapi kenapa dari tadi dia bertarung tidak dalam wujud buasnya? Itu yang membuat Elias bingung selama menangkis serangan Chase dan mendapat beberapa lebam disana-sini karena tenaga Chase juga lumayan. “Chase! Ikut aku! Berubahlah karena elf tengil itutidak akan kalau kalau kau melawannya dengan tenagamu sekarang!”

Elias menerjap mendengar suara yang berdengung dari kepala Chase. Melirik sedikit ke arah Madeleine yang sedang bertarung fisik dengan Seth yang—SIAL!

BUGH

Semua dalam pandangan Elias menjadi gelap, terakhir yang ia ingat kalau ia dan Chase bersama saling membenturkan tubuh mereka ke sebuah pohon ek besar  dan berakibat pohon itu setengah tercabut akarnya.

LEGILIMENS!” pekik Key mengarah pada Ariana. Dia sendiri bingung kenapa menggunakan mantra itu—yang sebenarnya tak terlalu dibutuhkan. Tapi raut terkejutnya berubah gelap ketika melihat tayangan di kepalanya, dimana Ariana menggunakan manta Imperius terhadap Chase lalu Seth…

BUGH!

BOOM!

AVADA KEDAVRA!”

AVADA KEDAVRA!”

Keduanya meneriakkan kutukan maut tersebut dan dari mata Key, semuanya tiba-tiba menjadi gelap.

__

Key menerjapkan matanya dan seketika rasa pusing langsung menyergapnya, punggungnya langsung menegak dari posisi terbaringnya dan metenya menyipit ketika menemukan dirinya sudah berada di sebuah ruangan yang serba putih, dan bau alkohol tercium di sana-sini. Bukan, tapi ruangan ini bau alkohol!

Ia memejamkan matanya mengabaikan bau yang menusuk itu, yakin sekali kalau seseorang—atau dua orang—membawanya ke rumah sakit seperti ini.

“Sudah sadar? Cepat juga ya,” Key membuka matanya legi dan menoleh, mendapati Madeleine yang masih memakai pakaian yang terakhir dilihatnya di perkarangan kastil. Tubuh Elf itu sudah bersih meski lengannya penuh dengan lebam biru dan wajahnya juga terdapat banyak luka. “Gyuri dan Jessica tidak apa-apa, kalau itu yang mau kau tanyakan,”

“Taylor?”

Madeleine tidak menjawab. Namun Key terus menatapnya, dan akhirnya Madeleine terpaksa menjawab. “Dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan ibumu. Tempat tinggal kita runtuh semua karena terkena mantra dua kali, jadi aku dan Elias memutuskan membawa kalian ke sini. Dan Hero…”

“Jam berapa sekarang?”

Madeleine menatapnya lalu duduk di kursi samping ranjang Key. “Setengah dua belas malam. Kalian tumbang sebelum purnama muncul tapi untungnya Ariana sudah kau tumpaskan,”

“Seth dan Chase dipaksa untuk dipihaknya,” gumam Key gusar.

“Pantas saja. Chase tidak bisa berubah ke wujud serigalanya. Dan Seth tidak menangkap apa yang kukatakan padanya,” sahut Madeleine lalu beranjak keluar. “Hero kritis. Kondisinya hampir sama seperti Taylor tapi lebih baik. Untung kau cepat sadar. Kau mau ikut melihatnya? Atau melihat Jessica?”

“Aku ingin melihat Hero,” Madeleine tersenyum tipis lalu mengantar Key menuju ke sebuah ruangan yang terletak tepat di sebelahnya, dimana Hero tergeletak dengan kondisi yang terbilang ‘parah’ untuk kaum mereka. Kulitnya menjadi sepucat salju, dan darahnya yang berwarna hitam nampak mengering di sana-sini.

“Seth langsung pergi begitu dia sadar bahwa dia terkena Kutukan Imperius—katanya? Aku sudah menawarkan untuk merawat lukanya namun dia galak sekali,” celoteh Madeleine saat key terdiam memandangi Hero. “Namun Chase bernasib hampir sama dengan Elias, jadi dia ada disini juga,”

“Aku ingin melihat Jessica, boleh?” tanya Key tiba-tiba. Madeleine membungkam mulutnya lalu mengangguk, membawa Key ke sebuah ruangan lagi. Key masih merenyit mencium bau alkohol dimana-mana, tapi dia bisa merasa lebih tenang melihat Jessica yang sudah duduk di ranjangnya, menatap keluar jendela lalu menoleh cepat merasakan kehadirannya. Seketika matanya bertemu dengan mata Jessica, menciptakan sensasi gelombang yang unik setiap melihat mata itu.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Key serak, dan tanpa diminta Madeleine meninggalkan keduanya dan menutup pintu dengan sangat perlahan. Jessica tersenyum lalu menepuk ranjang di sampingnya, membahasakan tubuh kalau dia ingin Key duduk di dekatnya.

“Baik-baik saja. Kau bagaimana? Apa masih sakit?” tanyanya balik sambil mengamati wajah Key. Namun yang diberi perhatian terkekeh dan menggeleng.

“Aku hanya melawan dengan sihir, jadi efeknya tidak seberat yang melawan dengan fisik atau yang mempertahankan diri,” Key meraih jemari Jessica dan meremasnya lembut, perlahan menrik wanita itu ke pelukannya dan menyandarkan kepala Jessica di dada bidangnya sambil mengelusnya pelan. “Aku bisa gila kalau sesuatu terjadi padamu,”

Mata Jessica menerjap namun ia tak bisa menolak pelukan Key yang hangat dan menenangkan itu. “Aku juga senang kau tak apa-apa,”

“Hey,” berada dalam posisi seperti ini, membuat Key berpikir lain. “Aku sudah menyatakan cintaku padamu, tapi kau belum menjawabnya,” ujar Key kalem, tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. Jessica mengerutkan keningnya namun tidak membuka mulutnya. “Kau masih tidak memberikan jawaban?”

“Apa aku harus mengatakannya?” tanya Jessica sebelum mencium kilat pipi Key.

Mata Key menerjap lalu menatap Jessica yang mengalihkan pandangan seakan-akan tak pernah melakukan apapun sebelumnya. “So… I guess it’s yes?”

“Gyuri yang memintaku untuk mengatakan ya, dia ingin aku menjaga—!” kedua matanya membelalak ketika merasakan bibir Key sampai di bibirnya.

FIN

Note:

Jessica tidak sempat berbicara dengan Yoogeun. Akhirnya, Elias mewakilkan dirinya dan berbicara pada Yoogeun, setelah itu  ia memantrai Yoogeun dan menghapus Jessica dari ingatannya.

Chase akhirnya kembali lagi ke Perancis setelah melihat Key dan Jessica. Tahu istilah imprint? Ya, sepertinya ia akan mendapatkan seseorang yang harus ia lindungi suatu saat nanti.

Gyuri jelas terpukul dengan kematian Taylor. Namun, setidaknya dia hidup dengan perasaan cinta Taylor yang selalu menghiburnya.

Elias dan Madeleine? Mereka memutuskan untuk pergi ke Finlandia. Setelah semuanya kembali normal, Elias memaksa Madeleine untuk menemaninya dan terus di sisinya.

END

TUTUP BUKU!! TUTUP BUKU!!! HOREEEEYYY!!!!

Sekuel panjang kedua saya yang selesai. Sumpah leganyaaaaaaaah!!!

Pertama aku minta maaf karena late post begini. Mau gimana lagi, Key mendadak mogok syuting, Jessica sering keluyuran *konser, maksudnya*, Minho yang baru mau syuting setelah beres Medical Top Team, cuma Onew yang mau hibur aku yang kalut. Huhuhu… (lebay lu ah! Bilang aja stuck, susah amat!)

Terus, maaf dengan ending yang aneh ini. Sebenernya aku udah nyiapin ending yang lain, tapi ternyata macet di kepala. Akhirnya beralih menulis ending yang seperti ini…. maaf ya -,- *deep bow* Aku tahu kok cerita ini tidak memuaskan TT^TT Maaf sudah mengecewakan TT^TT

Terimakasih yang sabar dengan fic abal dan absurd bin gaje ini tiap bulannya. Terimakasih yang mau menelan fic gak nyambung ini—jujur, aku bakal malu sendiri kalau disuruh baca dari awal cerita. Dan terimakasih karena mau baca. Aku bukan author yang bisa menyuguhkan fic yang layak (?) jadi harap sabar aja ya sama saya -_-!

Hanya ini yang bisa aku kasih untuk para reader SPY. Aku tahu ini absurd banget, iya, aku tahu. Fic ini abal, iya aku tahu. Dan kalau lihat-lihat, alurnya cepat-lambat-cepat-lambat sampe aku malu sendiri T^T Tapi tanggung jawab kan harus diselesaikan, padahal aku pernah loh ogah-ogahan ngelanjutin fic ini gara-gara bete sama diri sendiri, kok bisa sih bikin fic aneh begini -_-

Awalnya aku mau bikin epilog yang bakal menyatakan kondisi akhirnya, tapi kupikir gak usah deh, diganti sama note yang udah aku kasih. Pasti udah pada bosen dan aku mau secepatnya meluncur ke TCM!!

Special big thanks buat yang leave comment sepanjang cerita ini berlangsung, yang gak bisa aku sebutin satu-satu. Kalau gak ada kalian aku gak mungkin punya niat ngelanjutin fic ini, huweheheh xD

Sekali lagi terimakasih yang sedalam-dalamnya,

Sign,

reenepott

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3siOfficially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “Who I am? I am an Eve – SPY 15 (FINAL)

  1. akhhhiiirrrrnnnnnyyyaaaaa…… stelah berabad-abad Q mnunggu sampai lumutan, keluar juga finalnya….
    jd inget film harry potter wktu tarung ma voldemort saat baca bagian perang key ma ariana….
    walaupun Taylor mati, plying tidak key akhirnya mndapat kta yes dr jessica…
    walaupun endingnya agk kurang greget, tp sudh cukup memuaskan….
    good job Thor…
    ta tggu krya berikutnya…

    1. Iya, akhirnya setelah bermilenium aku berhasil menyelesaikan fic butut ini -,- wkwkwkwkwk
      Tuh kan, padahal aku mau bikin ending yang ‘lebih’ dari ini, tapi gak sampe euy -,- maap yak-,-
      Hehe, thank you yaaa ^^

  2. ffnya final juga! ^^
    dari dulu penasaran sama endingnya. hampir berapa tahun ya nungguinnya?? *ngitung dulu. pokoknya lama deh! *ampe aku melupakan ff ini
    endingnya emg gak terlalu gimana gitu…
    tapi secara keseluruhan bagus!!
    semangat ya thor! ^^

  3. Akhirnya ~~ seneng deh akhirnya dilanjut juga^^ walaupun end sih._. Tapi seperti biasa, ff ini keren banget masa’ ^^ seneng deh. Fighting for another ff’-‘)9

    1. Jangan bilang gitu lah, ini masih banyak kekurangannya haha😄
      Kalo gak end-end nanti key nya ngamuk dia capek syuting molo jadi mahkluk pencabut nyawa #dor xD
      Makasih yaa ^^

  4. Astaga!
    Bolak balik buka SF3I gak nyadar kalo ff ini udh di post.
    Ren, endingnya gak aneh kok, justru keren. ada typo kyknya diatas. Taylornya meninggal yaa? Kirain Key, soalnya kan kena avada. Gak percuma ngikutin ff ini dari awal. Bikin ff yg kere lagi ya Renee

  5. Astaga!
    Bolak balik buka SF3I gak nyadar kalo ff ini udh di post.
    Ren, endingnya gak aneh kok, justru keren. ada typo kyknya diatas. Taylornya meninggal yaa? Kirain Key, soalnya kan kena avada. Gak percuma ngikutin ff ini dari awal. Bikin ff yg keren lagi ya Renee

    1. Iya, banyak typo. Soalnya gak diedit #digebuk
      Naaahh… sebenernya waktu mereka berdua kena avada itu, Key duluan yang nembakin. Jadinya sepersekian detik kemudian Ariana mati deh ho ho ho #diinjek
      Trimakasih udah bilang ini keren, wkwkwkwk thank you ya ^^

  6. reneeeeee
    akhirnya ff ini ending juga. kupikir endingnya masih lama karena suasana pertarungan yg sebenarnya baru terasa di part yg lalu. overall this story is awesome, but honestly I don’t really like the ending…
    ada beberapa typo dsana-sini, nnt coba perbaiki lagi, y… trus, menurutku lbh bagus kalo pakai epilog supaya lebih terasa ceritanya. endingnya tuh masa gitu doang? #guling2. maunya kan lebih romantis atau lebih seru lagiiiiiii…. *reader banyak request*
    soalnya oneshot sebelum SPY ini kan sadis banget mati si Kibumnya. maunya kayak gitu juga feel sadisnya…. #abaikan

    pokoknya aku tungggu cerita selanjutnya, deh. thanks for this nice story.^^
    keep writing, Renee

    1. Nah itu dia. alurnya yang awal itu lambat banget, kan? makanya aku malu sendiri *tutup muka*
      Itu hemm… *kucek hidung* emang sama sekali gak kuedit. Aku sudah terlalu bingung dengan ending yang kubuat sendiri *hemmmm* jadi yah… you know lah. FF ini udah kelamaan bercokol dan ternyata setelah kupikir ulang ternyata hanyalah pikiran labil masa SMP semata… #digebuk masalahnya udah nyangkut sihir sih, jadi sadisnya kurang -,- Soalnya tanding fisiknya kurang, kan make tongkat wuahah xD
      Nah itu dia juga, kayak yang udah kusebut di atas. Aku sudah terlalu… hmm… lelah untuk cerita macam gini, yang fantasy-sadis gak ketulungan gini. Romantisnya… iya. emang kurang tapi mau gimana lagii._.
      Sebenernya ada ending yang beda dari ini, yang kupikir lebih baik dan oke. Tapi jariku gak mau kompromi#diinjek
      Btw, thanks ya udah baca. Hiks, sebenernya aku malu cerita abal gini dibaca olehmu X_X but really thanks laah. Thank you soo much!! ^o^

  7. Sisi indahnya para eve tetap hidup, sisi sedihnya, eve tetap akan memangsa sesuai dengan perintah, kasihan YooGeun.
    Hasil akhirnya keren author apalagi peperangannya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s